Wajah di Balik Setan Gundul

Wajah di Balik Setan Gundul
Siapa setan gundul di kedua kubu (Foto: Kompas)
8 minute read

Istilah “setan gundul” kini menjadi salah satu perbincangan utama di tengah sengkarut kondisi politik pasca Pemilu 2019. Istilah yang pertama kali diungkapkan oleh Andi Arief ini nyatanya menjadi wajah benturan yang terjadi di tataran elite, baik di kubu Prabowo-Sandi, maupun di kubu petahana Jokowi-Ma’ruf Amin – hal yang sempat pula diungkapkan oleh Fahrti Hamzah. Disebut sebagai pembisik, siapakah para setan gundul ini?


PinterPolitik.com

“Inside each of us, there is the seed of both good and evil. It’s a constant struggle as to which one will win. And one cannot exist without the other”.

:: Eric Burdon, musisi Inggris ::

Setan atau devil umumnya diartikan sebagai perwujudan atau personifikasi dari hal-hal yang jahat atau evil. Orang-orang Yunani menyebutnya dengan istilah diabolos yang diartikan sebagai slanderer dalam bahasa Inggris – artinya orang yang melakukan fitnah atau hasutan yang merusak reputasi seseorang.

Dengan kata lain, setan – sekalipun punya interpretasi yang beragam dalam banyak agama – secara umum bisa diartikan sebagai personifikasi yang menghasut, umumnya untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma, ajaran dan nilai tertentu, yang kemudian melahirkan apa yang disebut sebagai “dosa” sebagai simbol rusaknya reputasi.

Perbincangan tentang pemaknaan setan inilah yang saat ini hadir dalam narasi politik di tingkat nasional. Adalah istilah “setan gundul” yang menjadi makhluk halus beruntung yang mendapatkan sorotan pemberitaan di tingkat nasional tersebut.

Pernyataan Fahri Hamzah tentu menembak kebijakan orang-orang di sekitar Jokowi, semisal Wiranto, yang seringkali cenderung membuat suasana politik menjadi panas dengan wacana yang disampaikannya. Click To Tweet

Tentunya istilah setan gundul itu tidak dimaknai secara tersurat, melainkan menjadi metafora yang pertama kali diungkapkan oleh politikus Partai Demokrat, Andi Arief.


Dalam salah satu cuitan di akun Twitter-nya, Andi menyebutkan bahwa dalam koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang awalnya hanya berisi kekuatan partai-partai pendukung dan rakyat, kini muncul kelompok lain yang disebutnya sebagai setan gundul.

Secara spesifik, ia bahkan menyebutkan bahwa kelompok inilah yang menjadi pembisik Prabowo terkait klaim kemenangannya yang menyentuh angka 62 persen. Prabowo memang diketahui telah beberapa kali mendeklarasikan kemenangannya dalam Pemilu 2019, sekalipun semua lembaga yang melakukan hitung cepat atau quick count menempatkan pasangan lawan, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin sebagai jawara.

Sontak pernyataan tersebut mendatangkan beragam reaksi. Badan Nasional Pemenangan (BPN) Prabowo-Sandi lewat Andre Rosiade selaku juru bicara, menyebutkan bahwa pihaknya tak paham siapa yang dimaksudkan oleh Andi Arief dengan setan gundul tersebut. Andre menyebut dirinya bingung karena Partai Demokrat adalah bagian dari koalisi Prabowo-Sandi dan sejauh ini semuanya tampak solid.

Menariknya, karena arah tuduhan Andi Arief adalah kelompok bukan partai, tanggapan juga datang dari beberapa kelompok yang berasal dari luar partai, salah satunya dari Persaudaraan Alumni (PA) 212. Slamet Ma’arif selaku Ketua Umum PA 212 menyebut dirinya tak paham maksud Andi Arief dan tak paham soal dunia persetanan. “Kami bukan setan”, demikian ia menambahkan.

Sementara, PKS lewat salah satu petingginya, Hidayat Nur Wahid (HNW) justru menuduh Partai Demokrat yang memberikan informasi “kemenangan 62 persen” tersebut – hal yang kemudian ditepis oleh partai yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Selain Andi Arief, menariknya istilah setan gundul ini juga digunakan oleh Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Namun, Fahri justru mengarahkan istilah tersebut ke kubu Jokowi sebagai penguasa yang disebutnya dipengaruhi oleh setan gundul yang membisiki sang petahana dan mengarahkan kebijakan-kebijakan yang merampas kebebasan masyarakat.

Belakangan ini, kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan atau diwacanakan oleh pemerintahan Jokowi memang mengarah pada berbagai hal yang disinggung oleh Fahri Hamzah tersebut, katakanlah seperti wacana Menko Polhukam Wiranto terkait pengawasan terhadap tokoh-tokoh nasional, hingga kontrol terhadap media dan saluran aspirasi serta kebebasan berekspresi masyarakat.

Jika demikian, hal apa yang sesungguhnya bisa dilihat dari tuduhan-tuduhan setan gundul pasca Pemilu ini?

Demonisasi Bandul Setan Gundul

Politik dan dunia mistis – setan, hantu, dan lain sebagainya – memang adalah dua hal yang berbeda. Namun, pada titik tertentu, dua dunia ini dapat saling beririsan ketika dihadapkan pada kesamaan konteks dan pemaknaan .

Setidaknya, hal itulah yang terlihat dalam tulisan Susan Faludi di kolom opini The New York Times pada 2016 lalu, berjudul How Hillary Clinton Met Satan. Judul tersebut dipakai Faludi untuk menjelaskan bagaimana citra politik Clinton di mata lawan-lawan politiknya dianggap dan dikampanyekan sebagai “setan”, dalam hal kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap perempuan misalnya.

Hal serupa juga terjadi ketika mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez menuduh Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush sebagai devil atau iblis. Hal tersebut terkait dengan arah kebijakan negara tersebut di bawah Bush dengan segala perang yang diciptakan dan seolah-olah memposisikan diri “as if he owned the world” – seolah-olah dia yang empunya seluruh dunia.

Sementara, dalam tataran yang lebih kompleks, Hans J. Morgenthau dalam tulisannya yang berjudul “The Evil of Politics and The Ethics of Evil” di jurnal Ethics terbitan University of Chicago, menyebutkan bahwa politik dan evil atau hal-hal yang jahat, tidak bisa dipisahkan, terutama ketika moral dilepaskan dari politik.

Perdebatan tentang moral yang disebut Morgenthau ini memang menjadi akar pemikiran tokoh seperti Niccolo Machiavelli yang menyebutkan bahwa politisi yang sukses adalah mereka yang mampu membuang moral dari kebijakan atau keputusan politik yang dibuat.

Pandangan ini juga didukung oleh Thomas Hobbes yang menjadi bagian dari sejarah evaluasi moral dalam politik kekuasaan, yang menurut Morgenthau, adalah sejarah pemikiran politik itu sendiri. Sebagai catatan, salah satu karya Hobbes yang terkenal adalah Leviathan, diambil dari sebutan untuk monster laut, yang dalam tradisi Kristianitas sering diasosiasikan dengan setan atau iblis.

Artinya, setan dan politik adalah dua entitas yang memang tidak bisa dipisahkan. Lalu, seperti apa setan gundul dimaknai?

Sebutan “setan gundul” pernah dikaji oleh antropolog AS, Clifford James Geertz dalam bukunya yang berjudul Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa.

Geertz membuat klasifikasi terhadap mitologi tentang setan dan roh halus dalam budaya Jawa dan menulis bahwa setan gundul masuk dalam kategori memedi atau makhluk halus. Setan gundul dikelompokkan dengan hantu lain seperti uwil, sundel bolong dan genderuwo. Kelompok memedi ini umumnya disebut sebagai pembisik atau pengganggu semata.

Geertz juga menyebutkan dalam bukunya tersebut bahwa setan gundul memiliki ciri kepala gundul dengan rambut kuncung – potongan rambut yang meninggalkan sebagian kecil rambut saja di bagian atas dengan sisa kepala yang lain digunduli.

Dengan demikian, analogi setan gundul yang diungkapkan oleh Andi Arief dan Fahri Hamzah memang menjadi hal yang sepadan dengan konteks dampak yang ditimbulkan oleh tokoh atau kelompok yang diasosiasikan dengan istilah tersebut.

Kelompok ini tidak menimbulkan kerusakan secara langsung terhadap orang yang dibisiki atau yang diganggu, tetapi bisa berdampak pada arah atau cara orang tersebut bersikap terhadap orang lain.

Pada titik ini pula terjadi apa yang disebut demonisasi atau menginterpretasikan ulang sifat setan dan segala hal yang jahat dengan lembaga politik atau tokoh politik tertentu yang dianggap memiliki kemiripan sikap dan tingkah laku.

Serangan Politik di Tikungan Akhir

Charles Chaput dalam salah satu kolomnya di ABC Australia menyebutkan bahwa politik bekerja seperti virus, pun seperti setan yang menggoda. Sejak manusia diciptakan – katakanlah dalam manuskrip dan ajaran-ajaran agama – konteks pembisik atau setan dan yang sejenisnya, memang mengarah pada dosa, pelanggaran atau kesesatan.

Bahkan, ada istilah yang disebut sebagai devil theory yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1937 untuk menyebut konteks krisis sosial dan politik yang terjadi akibat pemimpin yang “jahat” atau “salah arah”.

Dalam konteks pernyataan Andi Arief, sangat mungkin hal tersebut disampaikan melihat kondisi politik nasional saat ini yang cenderung makin panas. Dua kubu yang bertarung memang ada pada posisi kukuh pada pendirian, sekalipun lobi-lobi politik yang cair masih berjalan.

Selain itu, posisi Partai Demokrat di koalisi Prabowo pun belakangan makin tergeser oleh kubu-kubu non partai, katakanlah seperti Gerakan Nasional Pembela Fatwa (GNPF) Ulama, Front Pembela Islam (FPI), PA 212, dan gerakan-gerakan kelompok Islam lainnya. Apakah kelompok-kelompok ini yang dimaksud Andi Arief?

Tidak ada yang tahu pasti juga. Selain itu, pemaknaannya juga menjadi kabur terkait apakah kelompok yang dimaksud hanya dilihat dari konteks fungsinya sebagai pembisik semata, atau dari ciri personifikasi “setan gundul” seperti yang ditulis oleh Geertz.

Sementara di kubu Jokowi, pernyataan Fahri Hamzah tentu menembak kebijakan orang-orang di sekitar Jokowi, semisal Wiranto, yang seringkali cenderung membuat suasana politik menjadi panas. Hal ini pernah pula disinggung oleh Prabowo dalam salah satu debat Pilpres 2019 – kala itu disebutnya sebagai pembisik.

Pada akhirnya, baik Andi Arief maupun Fahri Hamzah memang menggunakan demonisasi setan gundul sebagai cara untuk “menembak” kelompok atau orang tertentu. Walaupun demikian, pernyataan keduanya juga sebetulnya menggambarkan politik Indonesia secara keseluruhan, bahwasannya politik dan setan adalah hal yang tidak terpisahkan.

Sebab, seperti kata Eric Burdon di awal tulisan, setiap orang memiliki benih kebaikan dan kejahatan. Yang membedakan adalah bagaimana cara orang-orang tersebut meletakkan kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat umum. (S13)