Untung-Rugi Konser Corona BPIP

Untung-Rugi Konser Corona BPIP
Suasana panggung dalam konser “Bersatu Melawan Corona”. (Foto: Istimewa)
3 minute read

“I guess I’m at a loss for words” – XXXTENTACION, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)


PinterPolitik.com

“Leiden is Lijden” atau yang memiliki arti “memimpin adalah menderita” kayaknya harus kembali dikampanyekan deh, gengs. Pasalnya, dalam konser amal bertajuk ‘Bersatu Melawan Corona’ yang digelar 17 Mei, kok kesannya kayak pemerintah kurang bisa nahan nafsu untuk kumpul-kumpul gitu lho?

Benar gak sih asumsi mimin? Coba simak polemik di mata netizen Indonesia ini. Beberapa mengapresiasinya tetapi selain yang ‘beberapa’ itu banyak yang menghujatnya.

Kritik gurih-gurih hot datang dari sesama pejabat, si aset speaker Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Serayang lagi jabat sebagai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang bilang begini, “Konser bisa jalan dengan masing-masing di tempat dan bisa beramal dari mana pun”.

Nah, karena kritik datang dari legislatif, maka Pak Bambang Soesatyo, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sekaligus juga pihak yang terlibat penuh dalam gelaran konser ini angkat suara. Doi bilang bahwa tidak ada kumpul-kumpul kok. Di dalam studio hanya ada Bimbo sama pembawa acara yang lain.


Hello, Pak Bamsoet, lha terus pejabat-pejabat yang duduk semeja itu namanya bukan kumpul-kumpul, ya? Baiklah, biarkan dua legislatif itu membicarakan hal ini di meja kerja aja ya, gengs. Kita gak perlu ikut ngomong. Lagian,mungkin, belum tentu didengar.

Tapi, kalau dicicipin sedikit, omongan Pak Mardani niatnya baik kok karena memang konser Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) ini mendatangkan kerumunan orang, sekalipun gak crowded banget.

Itu kalau dibaca pakai kacamata medis, kira-kira sesuai tidak dengan protokol kesehatan? Tentu saja tidaklah, cuy.

Ini juga sudah diakui sama Bamsoet sih, secara doi sadar atas kesalahan tidak mengindahkan protokol kesehatan.”Saya mohon maaf. Itu semua salah saya yang tidak bisa menolak permintaan spontan teman-teman kru TV untuk berfoto bersama” ucapnya tanpa meneteskan air mata. Hehehe.

Lebih dari sekadar mematuhi protokol kesehatan atau tidak, sebenarnya perkumpulan dalam konser itu layak untuk dikritik lho, gengs. Ini kan sama saja memberi contoh kepada masyarakat, kalau boleh berkumpul asal niat baik.

Lha, kalau begitu, andai tiba-tiba di masjid pada ngadain kumpulan buat pembagian zakat, baik dong. Ya, gak bisa gitu. Tentu saja, perkumpulan dalam bentuk apa pun semaksimal mungkin dihindarkan.

Pantes saja kalau perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil, Mbak Asfinawati, lempar komentar, “Mereka sendiri berkumpul saja sudah memberi contoh tidak benar kepada rakyat.”

Yang bikin geli, konser ini secara resmi sempat digadang-gadang bakal berjalan seperti layaknya konser yang pernah dibuat oleh mendiang The Godfather of Broken Heart, Alm. Didi Kempot. Duh, mimin jadi sedih lagi, kan. Pasalnya, Pakdhe – panggilan Didi Kempot – telah berhasil menggerakkan banyak orang untuk berdonasi dalam konser yang akhirnya mengumpulkan Rp. 5,3 miliar.

Tapi, memang jauh pasak dari tiang, jauh kenyataan dari impian. Nyatanya, konser BPIP ini cuma berhasil mengumpulkan donasi Rp 4 miliar saja, cuy.

Sebenarnya segitu pun harus disyukuri sih. Iya, mimin tahu. Namun, please deh, cuy, secara ini konser milik lembaga tinggi negara lho. masa kalah sama konser Pakdhe?

Kalau solusi mimin nih, mending kalau cuma bisa menghasilkan segitu, BPIP ambil saja dari pemotongan anggaran kelembagaannya. Lagian di masa pandemi, BPIP kerjaannya hampir minim, kan?

Masa memotong Rp 5 miliar (aja deh) dari total anggaran 217 miliar gak tega, sih? Mimin sih yakin BPIP pasti berani, secara mengamalkan Pancasila kan. Merdeka! (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.