Tukliwon, Sejarah Ilusi #BoikotNasiPadang

Tukliwon, Sejarah Ilusi #BoikotNasiPadang
Jokowi bersama Erick Thohir dan Wishnutama menyantap makanan khas Padang di Grand Indonesia. (Foto: Istimewa)
7 minute read

Warganet Indonesia kembali diramaikan oleh viralnya ajakan untuk memboikot rumah makan dan masakan Padang. Ajakan tersebut berakar pada kekecewaan seorang pendukung paslon nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin, atas perolehan suara jagoannya yang hanya sedikit di Sumatera Barat (Sumbar).


PinterPolitik.com

“If more of us valued food and cheer and song above hoarded gold, it would be a merrier world.” – J.R.R. Tolkien, penulis asal Inggris

Ajakan ini banyak tersebar di media sosial dalam bentuk tangkapan layar berisikan sebuah percakapan antara beberapa pendukung paslon 01. Para pendukung tersebut merasa kecewa atas kekalahan Jokowi-Ma’ruf di Sumbar dan ingin meluapkannya dengan berhenti membeli makanan di rumah-rumah makan masakan Padang.

Ungkapan boikot tersebut pun dikritik oleh pihak Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi Priyo Budi Santoso menilai ajakan tersebut sebagai hal yang keterlaluan bila memang disebabkan oleh kekalahan Jokowi di Sumbar.

Persoalan pemboikotan ini juga tidak luput dari perhatian Sandi dengan menganggap hal itu sebagai hal yang kekanak-kanakan. Mantan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut juga mengharapkan agar masyarakat Indonesia tidak bersikap juniperjulid, nyinyir, dan baper – dalam menanggapi Pilpres 2019.

Bila kita tilik kembali, paslon nomor urut 02, Prabowo-Sandi, memang unggul telak di Sumatera Barat. Berdasarkan hasil hitung cepat milik Poltracking, Prabowo-Sandi memperoleh suara sebesar 87,91 persen sedangkan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh suara sebesar 12,09 persen.


Menanggapi kekalahannya dan ajakan pemboikotan tersebut, Jokowi sendiri mengatakan bahwa dirinya tidak terlalu ambil pusing. Dalam wawancara yang dilakukan oleh Najwa Shihab, mantan wali kota Solo tersebut mengatakan bahwa dirinya tetap mengkonsumsi masakan Padang meskipun hanya memperoleh sedikit suara dan dukungan dari Sumbar.

Terlepas dari polemik #BoikotNasiPadang ini, apa sebenarnya maksud dan sejarah dari konsep boikot itu sendiri? Lalu, apakah pengaruh #BoikotNasiPadang terhadap masyarakat Indonesia?

Melawan Penindasan?

Aksi untuk melakukan pemboikotan sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru. Di berbagai belahan dunia, masyarakat juga sering kali menggunakan pemboikotan sebagai salah satu cara untuk melakukan protes.

Dalam tulisan Jill Klein dan timnya yang berjudul “Why We Boycott”, Monroe Friedman mendefinisikan pemboikotan sebagai upaya satu pihak atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu dengan membuat konsumen individu menahan diri dalam melakukan pembelian. Biasanya, boikot dilakukan dengan didasarkan pada isu-isu sosial dan etika.

Aksi boikot ini biasanya lebih sering digunakan oleh aktivis untuk melaksanakan protes. Lisa A. Neilson dari Ohio State University dalam tulisannya yang berjudul “Boycott or Buycott?” menjelaskan bahwa pemboikotan merupakan bentuk konsumerisme politik perilaku konsumen untuk memberikan hukuman kepada sasarannya.

Upaya pemboikotan memang sering digunakan oleh pihak-pihak atau kelompok-kelompok yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan di masyarakat. Klein dan tim penulisnya menjelaskan bahwa pemboikotan – sejak abad ke-14 – memainkan peran penting dalam kesuksesan kelompok-kelompok semacam ini guna memengaruhi perubahan sosial.

Dalam aktivisme lingkungan misalnya, pemboikotan banyak diserukan untuk memberikan hukuman kepada perusahaan-perusahaan yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Pemboikotan semacam ini juga ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas permasalahan-permasalahan lingkungan yang menghantui planet Bumi.

Jika ditilik kembali pada sejarahnya, banyak penggunaan taktik boikot monumental yang membawa perubahan penting. Klein dan timnya memberi beberapa contoh, seperti Boikot Bus Montgomery 1955 di Amerika Serikat (AS) yang menjadi awal perjuangan hak sipil komunitas Afrika-Amerika, boikot Mahatma Gandhi terhadap garam dan pakaian buatan Inggris, serta boikot Inggris terhadap Barclays Bank terkait isu apartheid di Afrika Selatan.

Upaya pemboikotan memainkan peran penting dalam kesuksesan kelompok-kelompok semacam ini guna memengaruhi perubahan sosial. Click To Tweet

Di Indonesia sendiri, taktik boikot juga pernah digunakan dalam upaya perjuangan kemerdekaan. Boikot bersejarah yang dikenal dengan istilah “Armada Hitam” ini pernah dilakukan oleh seorang pelaut Indonesia di Australia yang bernama Tukliwon.

Ceritanya, pada Agustus 1945, berita kemerdekaan Indonesia disebarluaskan oleh para pejuang melalui siaran radio. Pada saat itu, pelaut-pelaut Indonesia yang dipekerjakan oleh Belanda di Australia mendengar kabar kemerdekaan Indonesia melalui siaran radio di Serikat Pelaut Indonesia (Sarpelindo) Woolloomoolloo.

Kabar tersebut disambut dengan girang oleh Tukliwon dan ia pun memberitahu hal tersebut kepada kawan-kawan pelaut dan buruh Australia, serta mitra serikat kerja negara kanguru tersebut. Dukungan dan simpati pun diberikan oleh warga-warga Australia di sekitarnya.

Namun, kabar gembira tersebut disertai dengan kekhawatiran Tukliwon atas rencana Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) untuk membawa pulang pelaut-pelaut Indonesia melalui kapal-kapal Belanda – turut dicurigai bahwa akan membawa suplai persenjataan ke Indonesia. Tukliwon pun akhirnya didorong oleh E.V. Elliott dari Australia Seamen’s Union untuk melakukan pemboikotan terhadap kapal-kapal Belanda.

Aksi boikot dan mogok tersebut pun mendapat dukungan dari berbagai organisasi buruh Australia, seperti Australia Seamen’s Union dan Waterside Workers’ Federation. Akibatnya, 25 kapal Belanda tidak dapat berlayar dan berangkat dari pelabuhan Australia.

Berkaca dari peran pemboikotan yang penting sebagai protes di masa lampau, taktik ini tentunya berpengaruh besar dalam menghukum dan melemahkan sasarannya. Sejarah juga menunjukkan bahwa taktik boikot identik dengan perjuangan mulia dalam melawan penindas. Namun, pertanyaan lain kemudian timbul, apakah #BoikotNasiPadang memiliki semangat dan pengaruh yang serupa dengan Armada Hitam?

Ilusi Semu Pemboikotan

Di tengah-tengah kontestasi politik yang panas pasca-Pemilu 2019, ajakan boikot kembali muncul. Dalam beberapa tahun terakhir, ajakan-ajakan boikot memang tidak jarang bermunculan dari beberapa warganet, seperti ajakan untuk memboikot produk Sari Roti dan ajakan-ajakan untuk uninstall aplikasi Traveloka dan Bukalapak yang sempat mengemuka akibat gesekan politik beberapa tahun terakhir.

Ajakan boikot semacam ini juga pernah terjadi di negeri Paman Sam. Amerika Serikat (AS) yang kini dipimpin oleh Presiden Donald Trump juga pernah mengalami polarisasi dan ketegangan politik semenjak Pemilu 2016.

Salah satu gerakan boikot yang ramai di AS adalah #GrabYourWallet. Di tengah-tengah kontestasi Pemilu, gerakan ini muncul untuk merespon video yang berisikan percakapan antara Trump dan Billy Bush yang mempromosikan pelecehan seksual terhadap perempuan.

#GrabYourWallet yang hingga kini masih aktif mengajak masyarakat untuk memboikot berbagai perusahaan ritel yang menjual produk-produk Trump, seperti Nordstrom, Neiman Marcus, Hudson’s Bay, Jet, Carnival Cruise, dan Kawasaki. Salah satu pendiri #GrabYourWallet, Shannon Coulter, menyebut gerakannya sebagai upaya untuk menolak kebencian yang disebarkan oleh kepresidenan Trump.

Selain gerakan #GrabYourWallet yang anti-Trump, terdapat juga ajakan-ajakan boikot yang berasal dari presiden AS tersebut dan pendukungnya, seperti ajakan untuk memboikot National Football League (NFL).

Pemboikotan NFL berasal dari protes atas diskriminasi di AS yang dilakukan beberapa pemainnya dengan berlutut ketika lagu kebangsaan AS diperdengarkan. Trump pun merespon dengan mengajak para penggemar NFL untuk memboikot liga tersebut.

Selain NFL, Nordstrom juga sempat diboikot Trump dan pendukungnya akibat keputusannya menghentikan penjualan produk-produk milik Ivanka Trump.

Jika kita melihat rumitnya upaya saling boikot yang terjadi di AS, kita pun semakin bertanya-tanya, apa esensi boikot yang sebenarnya? Lalu, apa dampak dari upaya saling boikot ini?

Dalam tulisannya yang berjudul The Destructive Politics of Pseudo-Boycotts di Wall Street Journal, Adam Kirsch dari Columbia University menjelaskan bahwa boikot yang terjadi di era digital ini hanya sebatas berupa ekspresi politis di tengah-tengah polarisasi politik.

Pemboikotan yang sebelumnya menjadi taktik perjuangan berdasar akhirnya hanya menjadi instrumen politik identitas. Kirsch menjelaskan bahwa hal ini juga merupakan konsekuensi dari perbedaan kultural di antara polar-polar politik, seperti perbedaan musik, pakaian, dan simbol-simbol budaya lainnya.

Kirsch juga menjelaskan bahwa permasalahan dari pemboikotan yang semu ini adalah adanya upaya pengucilan terhadap kelompok lawan. Kirsch menilai, pada ujungnya, berbagai pemboikotan di era digital ini hanya merupakan ilusi identitas yang destruktif. Pengucilan tersebut tidak sesuai dengan realitas yang ada karena hal-hal yang diboikot berada di mana-mana secara fisik maupun geografis.

Jika kita tarik kembali pada ajakan #BoikotNasiPadang, esensi pemboikotan sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan dan persoalan-persoalan sosial lainnya menjadi hilang. Berbeda dengan apa yang dilakukan Tukliwon, pemboikotan kali ini hanya menjadi luapan kekecewaan yang tidak memiliki motivasi dasar yang jelas.

Penjelasan Kirsch terkait aksi-aksi pemboikotan di AS juga dapat menggambarkan ilusi pemboikotan ini. Polarisasi politik yang terjadi dalam Pemilu 2019 turut mendorong adanya aksi pemboikotan yang dilandaskan pada identitas kelompok sosial yang dituduh tidak membalas budi jasa Jokowi, yaitu identitas Minang di Sumbar.

Akibatnya, unsur-unsur budaya Padang dapat menjadi sasaran pemboikotan kali ini. Namun, pemboikotan masakan Padang ini, seperti yang dijelaskan oleh Kirsch sebelumnya, tentunya merupakan ilusi yang destruktif tanpa dasar yang jelas. Keberadaan budaya dan masakan Padang sendiri tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia.

Pada akhirnya, upaya pemboikotan ini hanya menjadi narasi yang memecah belah masyarakat. Seharusnya, narasi identitas tidak lagi perlu digunakan setelah pemungutan suara selesai dilakukan. Apalagi, narasi ini datang dari pendukung kubu paslon yang sering melontarkan tuduhan politik identitas terhadap kubu lawannya.

Mungkin benar apa kata Tolkien di awal tulisan. Jika kita lebih memiliki rasa cinta pada makanan, tentunya dunia ini akan terasa lebih indah dan menggembirakan. Lagi pula, siapa yang tidak suka makan berpiring-piring masakan Padang? (A43)