Tiongkok Sahabat Prabowo?

Gercep Kunker Prabowo ke Luar Negeri
Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Duta Besar RRT Xiao Qian menandatangani sebuah kesepakatan di kantor Kemhan pada Oktober 2019. (Foto: Twitter/@prabowo)
3 minute read

“That’s cool, ’cause my homies still” – Lil Wayne, penyanyi rap asal Amerika Serikat


PinterPolitik.com

Publik kini diramaikan oleh pemberitaan mengenai kapal-kapal asal Tiongkok yang dinilai telah menerobos zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Laut Natuna Utara. Banyak dari kita pasti marah nih kalau bagian dari kedaulatan kita terampas oleh perilaku negara-negara lain.

Hmm, sudah pastinya dong pemerintah perlu bergerak dan menolak tindakan Tiongkok. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) misalnya, mengirimkan nota protes, memanggil Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT), dan mengeluarkan sikap resmi yang menolak klaim negara tersebut atas Laut China Selatan.

Tak hanya Kemlu, mata harapan publik akan aksi pemerintah juga tertuju pada Kementerian Pertahanan nih. Pasalnya, kementerian tersebut memiliki misi untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia.

Pak Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sendiri juga pernah nih mengusung pentingnya upaya-upaya untuk menjaga kedaulatan Indonesia ketika masih berkampanye sebagai calon presiden dalam Pilpres 2019. Kala itu, Pak Prabowo mengkritik alat utama sistem senjata (alutsista) pertahanan negara yang dianggapnya terlalu lemah bila suatu saat harus menghadapi ancaman dari negara-negara asing.


Hmm, jelas dong publik akhirnya berharap Pak Prabowo bisa bertindak tegas terhadap ancaman negara lain kali ini, khususnya Tiongkok. Eits, tapi, ternyata, Pak Prabowo punya pendapat lain nih soal RRT.

Kata beliau beberapa waktu lalu, Tiongkok adalah negara sahabat dan berharap dapat menemukan solusi yang baik. Beliau pun menyarankan agar hubungan antara Indonesia dan Tiongkok tetap santai dan cool.

Lagi pula, sepertinya Pak Prabowo memang bersahabat dengan Tiongkok. Pada tahun 2018 misalnya, Pak Prabowo pernah dikunjungi oleh Dubes Tiongkok Xiao Qian di rumahnya di Hambalang.

Hmm, sontak, pernyataan Pak Prabowo mengenai Tiongkok sebagai sahabat menuai banyak tanggapan nih. Salah satunya datang dari partai politik mantan koalisinya di Pilpres, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Juru Bicara PKS Muhammad Kholid pun mempertanyakan sikap Pak Menhan yang dianggapnya terlalu santai soal kedaulatan negara. Kritik itu akhirnya ditanggapi oleh Pak Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai jubir Menhan.

Ya, PKS bukan tidak mungkin benar juga dong dalam mengingatkan pemerintah. Seperti kata Pak Kholid, sebagai sahabat, PKS ada baiknya perlu mengingatkan Pak Menhan nih.

Waduh, jadi kayak pertengkaran antarsahabat gini. Pak Prabowo nggak mau mengkritik sahabatnya, Tiongkok, seperti yang diminta oleh sahabat lainnya, PKS.

Hmm, jadi mirip dengan film Mean Girls (2004) juga kisahnya. Dalam film tersebut, Cady Heron memiliki sahabat-sahabat sekolah, Janis Ian dan Damian Leigh. Namun, seiring berjalannya waktu, Cady justru sering hangout nih dengan kelompok populer di sekolahnya yang dipimpin oleh Regina George.

Sedihnya nih, Regina dan Janis ini acap kali nggak sejalan. Janis sampai-sampai meminta Cady agar “menyerang” Regina tetapi Cady pun menolak karena menilai Regina sebagai sahabat baiknya juga.

Wah, bisa-bisa Pak Prabowo – seperti Cady – mengalami dilema nih dengan sikap dua sahabatnya yang berbeda. Kira-kira, bagaimana ya sikap Pak Menhan ke depannya?

Ya, mungkin, seperti  kata Pak Dahnil, beliau ingin persoalan ini diselesaikan secara diplomatis dengan Tiongkok. Lagi pula, Pak Prabowo dan Pak Xiao Qian udah sepakat pada Oktober 2019 lalu kalau kedaulatan antar dua negara adalah hal yang utama – entah versi siapa nih yang lebih utama. Hehe. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.