HomeCelotehBisakah E-Commerce Diharapkan?

Bisakah E-Commerce Diharapkan?

Berbagai trik digalakkan pemerintah maupun pengusaha untuk mendorong perkembangan e-commerce di Indonesia. Lantas, benarkah e-commerce ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan sehingga begitu didorong?


PinterPolitik.com

Sudahkah Anda belanja di Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2019? Mungkin banyak dari kita yang akan menjawab iya. Betapa tidak, berbagai diskon turut ditawarkan untuk menggugah kita untuk berbelanja. Dengan adanya berbagai diskon tersebut, Ketua Indonesian E-Commerce Association (Idea), Ignatius Untung turut mengharapkan Harbolnas akan menciptakan transaksi sebesar Rp 8 triliun tahun ini.

Beberapa tahun terakhir ini, memang diketahui pemerintah begitu gencar dalam mendorong e-commerce, yang disebutnya dapat memberikan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi.

Akan tetapi, di tengah optimisme akan mampunya e-commerce memberikan dampak pertumbuhan ekonomi, sederet pihak justru memandang sinis karena dinilai memberikan efek ekonomi yang semu.

Staf Ahli Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Yongky Susilo misalnya, dalam acara Foreign Policy Community of Indonesia yang bertajuk Indonesia’s Economic & Political Outlook 2020 pada 13 Desember 2019, dengan lugas menuturkan bahwa e-commerce justru hanya memberikan manfaat ekonomi sebesar 3 persen.

Hal tersebut terjadi karena fake order atau order palsu yang disebut dengan brushing. Brushing adalah teknik menipu yang kerap digunakan dalam e-commerce untuk meningkatkan peringkat penjual dengan membuat pesanan palsu.

Teknik dilakukan misalnya dengan membayar seseorang untuk melakukan pemesanan palsu, ataupun dengan menggunakan informasi orang lain untuk memesan sendiri. Selain untuk meningkatkan peringkat e-commerce terkait, teknik ini juga dilakukan untuk membuat barang jualan akan muncul di bagian atas pencarian.

Di Indonesia, menurut Yongky, fake order juga terjadi karena sebagian besar barang yang didagangkan ternyata berasal dari Tiongkok, atau didominasi oleh barang impor.

Baca juga :  Korsel-Korut Bakal Damai?
- Advertisement -

Pada Januari 2018, mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla menyebutkan sebanyak 94 persen barang-barang yang dijual di situs jual beli daring (online) ternyata adalah produk Tiongkok. Hal ini juga berkaitan erat dengan fakta bahwa investor Tiongkok ternyata adalah penyokong utama bagi beberapa perusahaan e-commerce terkemuka di Indonesia, seperti Tokopedia (Alibaba), Shopee (Tencent), Lazada (Alibaba), JD ID (JD), dan AliExpress (Alibaba).

Artinya, tingginya perputaran uang masyarakat dalam e-commerce sejatinya justru mengalir ke negara asal barang ataupun investor, yang dalam kasus ini adalah Tiongkok.

Tidak hanya itu, Yongky juga menyorot bahwa tinggi konsumsi masyarakat atas e-commerce merupakan perilaku semu. Baginya, konsumsi itu tidak lebih karena kerapnya berbagai perusahaan e-commerce memberikan diskon ataupun cashback seperti Harbolnas misalnya.

Simpulnya, jika diskon dan cashback dihilangkan, maka itu akan membuat konsumsi masyarakat akan turun drastis. Artinya, keuntungan yang didapatkan dalam e-commerce pada dasarnya kecil karena perusahan harus menambal biaya diskon dan cashback yang dilakukan.

Lantas, dengan adanya fakta mengejutkan tersebut, tentu kita bertanya-tanya, apakah relevan pemerintah begitu mendorong perkembangan e-commerce di Indonesia? (R53)

https://www.youtube.com/watch?v=DVs9iT0DTaY

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_img

#Trending Article

Joe Biden Menginspirasi Prabowo?

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, KH Irfan Yusuf Hakim (Gus Irfan), menyebut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berucap bahwa Prabowo...

Mampukah Gus Yahya “Jatuhkan” Cak Imin?

Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, untuk pertama kalinya dalam sejarah terjadi hubungan yang tidak mesra antara PKB dengan PBNU. Jika ketegangan terus...

Megawati sang Profesor

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of The Arts (SIA), Korea Selatan. Apakah ini menunjukkan Megawati seorang politisi...

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Mengapa Jokowi Merasa Kesepian?

Rocky Gerung menyebut batin Jokowi kini tengah kesepian kala momen Hari Raya Idulfitri 1443H. Mengapa Jokowi merasa kesepian?

Kenapa Megawati Singgung BTS?

Ketika menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of the Arts (SIA) Korea Selatan (Korsel), Megawati Soekarnoputri menyebut tidak ingin kalah dari cucunya yang...

Jokowi Dijutekin Biden?

Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak dihiraukan atau...

Mencari Capres Ganteng ala Puan

Ketua DPR RI Puan Maharani sindir soal sosok capres potensial yang dapat dukungan karena ganteng. Siapa capres ganteng yang dimaksud Puan?

More Stories

Jokowi Dijutekin Biden?

Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak dihiraukan atau...

Anies Lagi, Anies Lagi

Beberapa pihak menyebut nama Jakarta International Stadium (JIS) melanggar undang-undang karena tidak menggunakan bahasa Indonesia. Apakah kritik ini terjadi karena yang merampungkan pembangunannya adalah...

Jokowi Setengah Hati Restui Prabowo?

Kantor Staf Presiden (KSP) mengingatkan para menteri untuk fokus dan disiplin membantu agenda Presiden Jokowi, bukannya bekerja untuk kepentingan pribadi. Menariknya, yang merespons pernyataan...