Tanpa Vaksin, Corona Berakhir Alami?

Presiden Joko Widodo bersama dengan Menteri Kesehatan Terawan
Presiden Joko Widodo bersama dengan Menteri Kesehatan Terawan (Foto: Kabar24)
6 minute read

Baru-baru ini epidemiolog dari Universitas Oxford menyebutkan bahwa vaksin tidak harus menjadi syarat untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Lantas, mungkinkah berakhirnya pandemi Covid-19 sama dengan pandemi sebelumnya, seperti Flu Spanyol yang memang tidak menggunakan vaksin?


PinterPolitik.com

Dengan fakta bahwa vaksin paling cepat dapat diperoleh setelah 18 bulan, banyak pihak kemudian menatap cemas masa depan yang penuh tidak pasti akibat pandemi virus Corona (Covid-19). Bagaimana tidak, Covid-19 tidak hanya menjadi bencana kesehatan, melainkan juga menjadi bencana ekonomi yang mematikan berbagai sektor usaha.

Tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah pandemi sendiri menunjukkan statistika yang mengkhawatirkan. Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) bahkan mencatat setidaknya telah terjadi sebanyak 6-7 juta PHK sampai saat ini.

Pada April lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mewanti-wanti bahwa penyebaran Covid-19 dapat dihentikan secara keseluruhan setelah vaksin ditemukan. Atas hal tersebut, tidak heran kemudian berbagai pihak, bahkan negara berlomba-lomba untuk menjadi pemenang terkait siapa yang pertama kali menemukan vaksin Covid-19.

Akan tetapi, bagaimana apabila vaksin tidak benar-benar menjadi syarat mutlak untuk mengakhiri pandemi Covid-19?

Narasi semacam ini mungkin banyak kita dengar dari pegiat teori konspirasi Covid-19 yang menyebutkan virus ini tidak seberbahaya yang diberitakan. Sayangnya, pernyataan tersebut datang dari seorang ilmuwan yang tidak tanggung-tanggung kalibernya.

Adalah profesor sekaligus ahli epidemiologi dari Universitas Oxford, Sunetra Gupta yang menyebutkan bahwa vaksin bukanlah syarat mutlak untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Gupta bahkan menyebutkan bahwa Covid-19 bukanlah entitas yang berbahaya bagi mereka yang sehat, serta tidak memiliki komorbiditas.

Di sini, Gupta juga seolah memberikan prediksi bahwa Covid-19 akan menjadi bagian dari kehidupan, seperti halnya flu ataupun influenza.

Lantas, apakah prediksi Gupta tersebut akan menjadi kenyataan?

Flu Spanyol vs Covid-19

Jika membahas perihal pandemi yang patut dijadikan pembelajaran, pandemi Flu Spanyol tentu saja akan menjadi referensi yang sulit untuk dihindari. Flu Spanyol, jelas termasuk ke dalam kelompok pandemi yang begitu mematikan.

Tidak tanggung-tanggung, korban jiwa yang diakibatkan olehnya mencapai 50 juta jiwa. Bahkan, terdapat sumber yang menyebut kemungkinan jumlahnya menyentuh 100 juta jiwa.

Besarnya jumlah korban Flu Spanyol tidak hanya diakibatkan oleh ilmu kesehatan yang tidak semaju sekarang, melainkan juga karena pada saat itu tengah terjadi Perang Dunia I. Penyebaran prajurit secara besar-besaran untuk kebutuhan perang jelas telah mendorong percepatan penyebaran virus.

Selain kedua faktor tersebut, respon institusi kesehatan pada saat itu juga terbilang lambat. Getirnya, Flu Spanyol bahkan disebut sebagai flu biasa yang tidak mematikan. Ini misalnya terjadi di Philadelphia, Amerika Serikat (AS) pada 28 September 1918 ketika parade Liberty Loans justru digelar. Imbasnya, hanya dalam waktu 10 hari, 1.000 warga Philadelphia meregang nyawa, dan 200 ribu lainnya sakit.

Menariknya, dengan berbagai kekurangan yang ada, bahkan tidak terdapat tes dan vaksin, Flu Spanyol justru berakhir pada tahun 1920, atau setelah 2 tahun berselang. Berakhirnya pandemi ini sendiri sebenarnya masih menjadi perdebatan karena kurangnya informasi terkait penyebaran virus di berbagai negara.

Akan tetapi, para akademisi menemui kesepakatan untuk menyebutkan bahwa berakhirnya pandemi terjadi karena terbentuknya kekebalan kolektif terhadap Flu Spanyol. Ini kemudian dikenal sebagai herd immunity.

Beda halnya dengan kasus Flu Spanyol yang dihadapi umat manusia di tengah keterbatasan, pandemi Covid-19 berada pada situasi yang jauh lebih baik. Hal ini dapat disimpulkan setidaknya dari empat alasan berikut.

Pertama, saat ini tidak sedang terjadi Perang Dunia sehingga penyebaran prajurit, konflik hebat, serta keterbatasan informasi tidak terjadi.

Kedua, ilmu kesehatan telah jauh berkembang. Hal ini yang juga disorot oleh penulis buku Homo Sapiens Yuval Noah Harari dalam tulisannya The Biggest Danger is not the Virus Itself, dengan menyebutkan saat ini umat manusia telah memiliki semua pengetahuan ilmiah dan alat teknologi untuk mengatasi virus.

Ketiga, tidak seperti Flu Spanyol yang jamak direspon sebagai flu biasa, negara-negara di dunia telah menunjukkan respon yang begitu serius untuk menangani pandemi Covid-19.

Keempat, belajar dari Flu Spanyol, pandemi Covid-19 telah memperlihatkan bagaimana masifnya tes, baik rapid test ataupun PCR dilakukan. Saat ini, berbagai pihak juga tengah berlomba untuk menemukan vaksin Covid-19.

Akan tetapi, memang harus diakui, terdapat perbedaan mendasar antara Flu Spanyol dengan Covid-19. Mark Terry dalam tulisannya Compare: 1918 Spanish Influenza Pandemic Versus Covid-19 menyebutkan bahwa setidaknya terdapat dua perbedaan mendasar.

Pertama, Covid-19 bukanlah influenza, melainkan lebih seperti pneumonia akut kronis.

Kedua, Covid-19 tidak disebabkan oleh virus baru, melainkan oleh berbagai jenis virus dengan metode tindakan dan infeksi yang berbeda.

Population Bottleneck dan Gaia

Di luar perbedaan tersebut, tentu kita sepakat, bahwa dengan keterbatasan dan kondisi yang benar-benar tidak baik, nyatanya pandemi Flu Spanyol berakhir setelah 2 tahun tanpa adanya vaksin. Peristiwa tersebut sebenarnya dapat kita lihat dari salah satu teori evolusi yang disebut dengan population bottleneck.

Population bottleneck adalah peristiwa yang secara drastis mengurangi ukuran populasi. Population bottleneck dapat disebabkan oleh berbagai peristiwa, seperti bencana alam, perburuan spesies hingga titik kepunahan, perusakan habitat yang mengakibatkan kematian organisme, hingga wabah penyakit.

Setelah population bottleneck terjadi, populasi yang tersisa menghadapi tingkat penyimpangan genetik yang lebih tinggi sehingga menghilangkan variasi genetik. Karena hilangnya variasi genetik inilah, populasi baru dapat menjadi berbeda secara genetik dari populasi sebelumnya. Ini kemudian mengarah pada hipotesis bahwa population bottleneck dapat menyebabkan evolusi spesies baru.

John Hawks dan rekan-rekan penulisnya, dalam penelitian mereka yang berjudul Population Bottlenecks and Pleistocene Human Evolution, juga telah menemukan bukti bahwa population bottleneck telah berkonsekuensi pada evolusi manusia.

Kasarnya, population bottleneck dapat disebut sebagai bagian dari seleksi alam dalam teori evolusi. Penjelasan population bottleneck ini, tampaknya dapat kita gunakan untuk menjelaskan mengapa herd immunity dapat mengakhiri pandemi Flu Spanyol. Ini karena populasi yang tersisa atau tepatnya tersaring dari virus, telah mengalami perubahan genetika yang membuatnya kebal terhadap Flu Spanyol.

Elinor K. Karlsson dan rekan-rekan penulisnya, dalam penelitian mereka yang berjudul Natural Selection and Infectious Disease in Human Populations juga memberikan kesimpulan yang senada. Menurut mereka, sejarah evolusi kuno adalah salah satu referensi yang paling kuat untuk memahami perkembangan biologis yang menunjukkan peningkatan kesehatan manusia.

Kontrol populasi ini tidak hanya ditemukan dalam teori evolusi, melainkan juga ditemukan dalam hipotesis abstrak seperti dalam hipotesis Gaia. Hipotesis ini dipopulerkan oleh James Lovelock dalam bukunya Gaia: A New Look at Life on Earth (1979) dan Revenge of Gaia (2006).

Hipotesis Gaia menyebutkan bahwa bumi bertindak seperti halnya organisme hidup. Gaia sebagai kehidupan disebut dapat mengatur dirinya sendiri, memanipulasi lingkungan fisik dan kimia untuk mempertahankan bumi sebagai rumah yang cocok untuk kehidupan. Menurut Lovelock, ketika terjadi perubahan dalam sistem fisik bumi, sistem kehidupan Gaia merespons untuk memitigasi perubahan tersebut.

Dalam hipotesis ekstremnya, Gaia juga disebut dapat melakukan kontrol populasi. Katakanlah bumi tengah kelebihan populasi, ataupun manusia yang merupakan bagian dari bumi justru menjadi racun bagi kehidupan, maka Gaia akan berperan untuk mengembalikan titik keseimbangan. Itu misalnya dilakukan dengan membuat bencana alam ataupun wabah penyakit yang mengurangi populasi manusia.

Pada titik ini, kita mungkin dapat mencapai simpulan bahwa berakhirnya pandemi Covid-19 tanpa vaksin adalah hal yang mungkin terjadi seperti halnya dalam pernyataan Gupta. Sejarah telah menunjukkan, sehebat apapun suatu bencana yang mengancam keberlangsungan umat manusia, manusia selalu bertahan dan mempertahankan populasinya.

Singkatnya, kita mungkin dapat menyebutkan bahwa secara alamiah, pandemi ini dapat berakhir. Akan tetapi, dengan kemajuan ilmu pengetahuan seperti saat ini, kita tentu berupaya untuk mengurangi korban jiwa dalam pandemi Covid-19.

Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.