Takjil Rasa #2019GantiPresiden

Takjil Rasa #2019GantiPresiden
Istimewa
2 minute read

“Ini bukan soal takjilnya, berpolitik menggunakan idiom agama itu tidak tepat. Kalau sudah sampai kepada person, itu sudah pada tingkat politik praktis.” ~ Pengamat politik Lingkaran Madani (Lima), Ray Rangkuti.


PinterPolitik.com

Bagi kalian yang beragama Islam pasti tau lah ya esensi dari amal. Amal yang baik di mata Allah adalah yang dilakukan umatnya dengan keilklasan tanpa ada rasa riya’ sedikit pun dalam hati. Lalu bagaimana dengan pembagian takjil berbuka puasa yang disisipi stiker #2019GantiPresiden yang dibagikan Komunitas Relawan Sadar Indonesia (Korsa) beberapa waktu lalu?

Aksi bagi-bagi takjil berstiker #2019GantiPresiden itu dilakukan di Masjid Cut Mutia, Menteng, Jakarta Pusat. Kira-kira pahala berbagi takjil bagi orang yang sedang berpuasa itu diterima gak ya sama Allah? Secara kan ada unsur riya’ dalam bingkisan takjil yang dibagikan itu. Hadeuh.

Demi ambisi mempropagandakan gerakan #2019GantiPresiden, umat Islam rela membuang esensi dari keutamaan beramal. Apakah keinginan untuk menahan Jokowi agar gak lanjut dua periode sudah segitunya, sampai membutakan mata batiniah kita dalam beragama?

Boleh dung kalau eike beranggapan gerakan ini ingin meraih kesuksesan dengan mendompleng momentum keagamaan. Kok rasanya gak etis gitu ya. Umat berpuasa yang menerima takjil sih gak akan menolak jika diberikan hidangan berbuka, tapi jangan memanfaatkan mereka sebagai objek politik lah!


Gara-gara politik praktis para pendukung gerakan #2019GantiPresiden membuat umat Islam perlahan manampikan amalan ajaran agamanya sendiri. Coba kita flashback ke Pilkada DKI Jakarta tempo lalu di mana ada upaya menyerukan untuk tidak menyolatkan mayat jika ia memilih Gubernur kafir. Wadezig.

Pengusung gerakan ini sepertinya sedang berusaha memanipulasi pikiran umat Islam yang awam politik untuk membenarkan suatu tindakan (politik praktis) atas dasar agama dengan cara melanggar ajaran agama itu sendiri. Tindakan ini sebenernya gak baik loh. Karena dalam tahap ekstream bisa berbahaya.

Buktinya, paham Islam radikal yang bunuh diri atas dasar Jihad itu memiliki konsep yang serupa. Para pelaku membenarkan tindakannya atas dasar agama, namun mereka melakukan tindakan tersebut justru dengan melanggar ajaran agama itu sendiri. Jangan sampai politik praktis membutakan esensi beragama!

Kalau memang diri ini ingin beramal, ya fokuslah dengan amalannya untuk membantu sesama. Kalau dengan menyisipi unsur politis itu akan menimbulkan riya’, ya sebaiknya jangan dilakukan. Coba renungkan perkataan mengenai agama dan politik dari Talib Kweli: “Skip the religion and politics, head straight to the compassion. Everything else is a distraction.” (K16)