<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Xi Jinping &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/xi-jinping/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Jun 2026 09:34:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Xi Jinping &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Xi Jinping, the King of Games?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/xi-jinping-the-king-of-games/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2026 09:34:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Intelijen]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169725</guid>

					<description><![CDATA[Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-04-2026-4_07pm-1.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Coba perhatikan ponsel orang di sekitarmu. Di angkot, di kantin, di ruang tunggu — ada yang main Mobile Legends, ada yang buka Clash of Clans, ada yang sedang dalam antrian ranked di League of Legends. Pertanyaan yang hampir tidak pernah muncul adalah: sebetulnya, punya siapa game-game itu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya mengejutkan bukan karena dramatis, tapi justru karena begitu wajar terdengar: semua jalan itu mengarah ke Shenzhen. Di sanalah Tencent berkantor — perusahaan teknologi Tiongkok yang dalam dua dekade terakhir membeli, satu per satu, studio-studio di balik game paling populer di dunia. Riot Games — pembuat League of Legends — kini 100 persen milik mereka. Supercell, kreator Clash of Clans, 84 persen. Moonton, yang membangun Mobile Legends, penuh. Epic Games, rumah Fortnite, sebagian besar saham strategisnya pun ada di tangan yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angkanya tidak bisa diabaikan: dari 15 game mobile berpendapatan tertinggi global per Februari 2026, tujuh dimiliki perusahaan Tiongkok, menghasilkan 668 juta dolar dalam satu bulan saja. Tiga koma enam miliar pemain aktif di seluruh dunia. Kepemilikan ini tidak diumumkan dengan fanfare, tidak terasa seperti penaklukan — dan justru itulah yang membuat ceritanya menarik.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kekuatan yang Tidak Memerlukan Panggung</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada cara yang berguna untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan ia datang dari tiga pemikir yang jarang duduk dalam satu paragraf yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang pertama adalah Joseph Nye. Konsep <em>soft power</em> yang ia perkenalkan pada 1990 sederhana tapi tajam: kekuatan sejati bukan hanya soal siapa yang memiliki senjata paling besar, tapi siapa yang bisa membuat orang lain <em>menginginkan</em> apa yang kamu tawarkan. Hollywood, jazz, Levi&#8217;s — Amerika tidak menyebarkan itu dengan dekrit. Orang memilihnya karena mau. Nye menyebut soft power paling efektif adalah yang tidak terasa seperti pengaruh sama sekali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari situ, bayangkan seorang remaja di Makassar yang bermain Honor of Kings 15 jam seminggu — menyerap estetika, nama karakter, dan mitologi yang seluruhnya berakar pada peradaban Tiongkok. Tidak ada yang memaksanya. Tidak ada propaganda. Hanya game yang bagus, dengan desain visual yang indah, dan komunitas yang hidup. Inilah soft power dalam bentuknya yang paling murni: ia bekerja persis karena tidak terasa seperti bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Nye baru menjelaskan separuh ceritanya. Separuh lainnya ada pada Shoshana Zuboff, yang dalam bukunya <em>The Age of Surveillance Capitalism</em> (2019) berargumen bahwa platform digital tidak sekadar menjual produk kepada pengguna — mereka mengekstrak perilaku pengguna sebagai bahan baku. Setiap klik, setiap sesi bermain, setiap keputusan in-game adalah titik data. Game mobile adalah mesin ekstraksi yang sempurna karena ia mengumpulkan geolokasi, pola waktu harian, jaringan sosial, bahkan respons psikologis terhadap tekanan — bukan dengan memaksa, tapi dengan membuat penggunanya tidak mau berhenti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah konteks Tiongkok membuat segalanya menjadi berbeda. Revisi Undang-Undang Kontra-Spionase Tiongkok pada 2023 mewajibkan semua perusahaan di bawah yurisdiksi Beijing untuk menyerahkan akses data kepada pemerintah bila diminta — tanpa pengecualian. Artinya, tidak ada pemisahan tegas antara data komersial Tencent dan akses potensial negara. Ini bukan tuduhan; ini teks undang-undang yang bisa dibaca siapa saja. Dan ini pula yang membuat pemerintahan Trump pada awal 2026 mempertimbangkan pemaksaan Tencent melepas kepemilikannya di Riot Games dan Epic Games — bukan karena ada bukti penyalahgunaan, tapi karena <em>potensinya ada secara struktural</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerangka terakhir datang dari Susan Strange, ekonom politik yang memperkenalkan teori <em>structural power</em>: kekuasaan paling tahan lama bukan yang memaksa, melainkan yang menentukan aturan main. Siapa yang menguasai infrastruktur — energi, keuangan, komunikasi, pengetahuan — menentukan kondisi di mana semua orang lain harus bermain. Game, dalam kerangka Strange, adalah infrastruktur kultural abad ke-21. Menguasainya bukan berarti mengontrol apa yang dimainkan orang, melainkan menguasai platform tempat jutaan interaksi sosial, preferensi, dan jejak perilaku manusia terbentuk dan terekam setiap hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gabungkan ketiganya — soft power Nye, surveillance capitalism Zuboff, structural power Strange — dan gambaran yang muncul bukan sekadar kisah sukses bisnis. Ini arsitektur pengaruh yang bekerja di tiga lapisan sekaligus, diam-diam, melalui sesuatu yang orang nikmati.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Naga yang Tidak Lagi Tersembunyi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada ungkapan dalam tradisi strategi Tiongkok kuno: <em>crouching tiger, hidden dragon</em>. Harimau yang berjongkok bukan harimau yang lemah — ia sedang mengatur posisi. Naga yang tersembunyi bukan naga yang tidak ada — ia menunggu momen yang tepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama dua dekade, itulah yang Tiongkok lakukan di industri game. Masuk perlahan, akuisisi bertahap, bangun ketergantungan, dan biarkan ekosistemnya tumbuh. Dunia membacanya sebagai ekspansi bisnis biasa — karena memang, di permukaan, ia terlihat persis seperti itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang berubah sekarang adalah skalanya merembet ke mana-mana. Pola yang sama sedang berulang di industri film, musik streaming, dan platform konten global. Konglomerasi hiburan Tiongkok masuk ke distribusi sinema internasional. Platform streaming asal Tiongkok mulai menyaingi Netflix di pasar Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Apa yang dimulai dari game perlahan memb</p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">entuk ekosistem hiburan alternatif berskala planet — yang tidak berpusat di Los Angeles dan tidak tunduk pada asumsi-asumsi kultural Barat yang selama ini dianggap default.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amerika membangun dominasi kulturalnya lewat Hollywood dan Coca-Cola, dan ia berhasil karena orang-orang di seluruh dunia memilihnya secara sukarela. Tiongkok sedang membangun versi barunya melalui layar yang kita pegang setiap malam — melalui game, karakter, dan turnamen yang kita ikuti. Bedanya tipis tapi signifikan: kerangka hukum yang melingkupinya berbeda dari yang melahirkan Hollywood.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Indonesia, ini bukan pertanyaan abstrak. Dengan 155 juta gamer aktif dan lebih dari 70 persen game terpopuler berkapital Tiongkok, Indonesia adalah salah satu arena terbesar dari dinamika ini. Belum ada regulasi yang secara eksplisit mengatur dimensi kedaulatan data dari penguasaan asing atas platform hiburan digital. Pertanyaan-pertanyaan itu — soal data, industri domestik, kerangka kebijakan — sudah seharusnya masuk agenda, bukan sebagai kepanikan, melainkan sebagai bagian dari kecerdasan strategis yang wajar dimiliki negara besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Naga sudah mulai muncul dari persembunyiannya. Pertanyaannya bukan lagi apakah ini sedang terjadi. Pertanyaannya adalah: apakah kita tahu bahwa kita sedang berada di dalam permainannya? (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xO6VtqYYWzY"><iframe title="Kehebatan Uni Emirat Arab, Sosok Menteri Perempuan di Perang Iran" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xO6VtqYYWzY?start=2&amp;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-04-2026-4_07pm-1.wav" length="0" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/12-1-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Hormuz, dan Pena yang Berpindah Tangan</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/hormuz-dan-pena-yang-berpindah-tangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 May 2026 00:42:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Bretton Woods III]]></category>
		<category><![CDATA[Chokepoint Global]]></category>
		<category><![CDATA[Donald Trump]]></category>
		<category><![CDATA[Geopolitik Energi]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Selat Hormuz]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<category><![CDATA[Yuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169347</guid>

					<description><![CDATA[Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #27PinterPolitik.com Mata uang sesungguhnya di Zhongnanhai bukan dolar dan bukan yuan. Ia adalah Taiwan, ditukar diam-diam dengan akses kapal-kapal Tiongkok yang sudah mulai melintasi Hormuz di bawah aturan baru Tehran. Itulah pertukaran sejati di balik foto [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/hormuz-dan-pena-yang-berpindah-tangan_170526.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #27</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mata uang sesungguhnya di Zhongnanhai bukan dolar dan bukan yuan. Ia adalah Taiwan, ditukar diam-diam dengan akses kapal-kapal Tiongkok yang sudah mulai melintasi Hormuz di bawah aturan baru Tehran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Itulah pertukaran sejati di balik foto 15 Mei lalu, ketika Donald Trump dan Xi Jinping berjalan beriringan di taman Zhongnanhai. Komunike menyebut Hormuz dan Taiwan di paragraf terpisah, tetapi tautannya sengaja tidak dituliskan. <em>South China Morning Post</em> mencatat paket persenjataan 11 miliar dolar untuk Taipei, disetujui Kongres Desember 2025, hingga hari ini belum dikirim dari Pentagon. Beijing tidak memintanya dibatalkan; cukup memintanya tetap di rak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama dua bulan sebelumnya, Trump mencoba membuka Hormuz dengan kapal perang. Operasi <em>Project Freedom</em> bertahan kurang dari 48 jam sebelum dihentikan, setelah <em>United Kingdom Maritime Trade Operations</em> mencatat dua tanker terkena tembakan dari pantai Iran. Empat hari kemudian, <em>Air Force One</em> menuju Beijing. Bahasa yang jujur: hegemoni yang retak datang meminta tolong kepada saingannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada hal yang jarang diucapkan di Jakarta. Hormuz tidak ditutup. Ia dibagi-bagi. Sejak akhir April, <em>Bloomberg</em> dan <em>TankerTrackers</em> mencatat kapal-kapal Tiongkok melintasi selat di bawah “protokol manajemen baru” Iran, sementara kapal Yunani, Liberia, dan Marshall Islands tertahan — beberapa lebih dari tiga minggu. Yang membayar dalam yuan, asuransinya non-Barat — lewat. Yang lain antre. Vali Nasr dari <em>Johns Hopkins</em> menulis di <em>Foreign Affairs</em>: Iran tidak pernah memenangkan perang frontal, tetapi ahli memenangkan jeda. Dengan lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran diserap Tiongkok lewat skema non-dolar, selat itu berubah menjadi filter politik: yang punya yuan dan asuransi non-Barat, tahu antrian mana yang tiba lebih dulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trump tidak datang ke Zhongnanhai untuk membicarakan Iran; ia datang untuk membicarakan akses ke loket yang lebih baik. Aritmatika baru dunia ditukar dalam paket, bukan dolar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik citra rivalitas, Trump dan Xi punya kepentingan yang tidak boleh diakui di podium: keduanya butuh sistem energi global tetap bernapas. Trump butuh harga bensin Ohio tidak melompat menjelang November; Xi butuh kilang Shandong tetap menerima minyak Iran. Itulah paradoks Zhongnanhai — dua rival menjalankan <em>co-managed stability</em> di atas <em>chokepoint</em> yang sama, sambil pura-pura berseteru di hadapan kamera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada lapisan lebih dalam. Pada Maret 2022, Zoltan Pozsar di <em>Credit Suisse</em> menamai pergeseran besar: dunia berpindah ke <em>Bretton Woods III</em>. Dolar dari 1944-1971 ditopang emas; dari 1971, <em>Treasury</em>; kini, di air Persia, komoditas fisik. <em>Reuters</em> melaporkan 78 persen ekspor minyak Iran ke Tiongkok di kuartal pertama 2026 dibayar dalam yuan dan dirham UEA, dari 40 persen pada 2024. Brankas <em>Bretton Woods I</em> adalah lemari besi emas; di II, surat utang bank sentral; di III, selat sempit yang tankernya diawasi intelijen. Trump, di Zhongnanhai, sedang berdiri di pintu brankas itu, sambil pura-pura membicarakan kedelai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Abad ke-20 ditentukan oleh siapa yang memiliki minyak; abad ke-21 mungkin ditentukan oleh siapa yang mampu menjaga jalurnya tetap hidup tanpa memicu perang dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Helen Thompson di Cambridge, dalam <em>Disorder</em>, menyebut zaman kita kekacauan rangkap tiga — energi, moneter, demokrasi. Kontrak Kissinger-Faisal 1974 — Saudi menjual minyak dalam dolar, Amerika menjamin Hormuz — retak sejak revolusi <em>shale</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selalu ada pelajaran tentang <em>chokepoint</em>. Henry Farrell dan Abraham Newman, dalam <em>Underground Empire</em>, menyebutnya <em>weaponized interdependence</em>: globalisasi tidak meratakan dunia, ia menciptakan simpul-simpul yang dapat dipersenjatai. <em>SWIFT, clearing</em> dolar New York, Hormuz — semua simpul. Ketika Washington menyanksi kilang Tiongkok di Shandong pembeli minyak Iran, Beijing menghentikan ekspor tujuh kategori <em>rare earth</em> pada 4 April, lalu memblokir semikonduktor <em>Nexperia</em> pada 12 April. Hormuz dibalas dengan magnet motor listrik, dan efeknya bergetar sampai pabrik perakitan Volkswagen di Wolfsburg dan Tesla di Fremont. Beijing tidak menunggu Hormuz runtuh untuk membangun jalannya: jalur darat Asia Tengah, <em>strategic reserves</em>, <em>settlement</em> yuan, pelabuhan Gwadar dan Hambantota. Xi bukan importir energi pasif; ia <em>architect of energy resilience</em> yang sedang mendesain dunia pasca-<em>chokepoint</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada yang paling halus: bahasa. Februari, Trump membatalkan <em>“Board of Peace”</em> untuk Gaza setelah perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak pengawasan internasional. 14 Mei di Beijing, ia mengumumkan <em>“Board of Trade”</em> dipimpin Menkeu Scott Bessent dan Wamenlu He Lifeng. Arsitektur identik. Yang berubah satu kata. Dari <em>Peace</em> ke <em>Trade</em>. Pengakuan jujur bahwa permainannya sejak awal memang perdagangan — bukan perdamaian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tehran sudah belajar lebih dulu. Ketika menerbitkan proposal 14 poinnya pada 2 Mei melalui Tasnim, Iran memisahkan klausa Hormuz dari klausa nuklir. Juru bicara Baghaei: rencana itu fokus pada perang, tidak memuat isu nuklir. Tehran mengunci Hormuz lebih dulu. Jangan campur dua sumber <em>leverage</em> dalam satu paket.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekitar 20 juta barel per hari mengalir melalui Hormuz — hampir seperlima suplai dunia, 89 persen menuju Asia, Tiongkok menyerap 37,7 persen. Yang bergetar pertama adalah Timur. Di Beijing, ini konfirmasi kesabaran strategis. Di Tokyo dan Seoul, peringatan bahwa aliansi keamanan tradisional tidak menjamin akses energi — Jepang sudah melepas 23 juta barel <em>Strategic Petroleum Reserve</em> sejak Maret, level terendah sejak 2011. Di Washington, katalog pekerjaan rumah menjelang November dengan bensin 4,45 dolar per galon. Di Brussels, pengingat Eropa kini di urutan ketiga. Di Tehran, bukti bahwa negara yang dikepung dapat menulis ulang kitab perdagangan energi. Di Islamabad, <em>Field Marshal</em> Asim Munir menjadikan Pakistan jangkar diplomatik yang tidak diperhitungkan. Indonesia, sayangnya, masih membaca koran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal di atas meja Istana, ada peta yang sudah lama menunggu untuk dibuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada Alur Laut Kepulauan Indonesia II melalui Selat Lombok dan Selat Makassar, jalur tanker menuju Asia Timur ketika Hormuz panas dan rute Tanjung Harapan menambah 14 hari serta 1,2 juta dolar biaya bunker per <em>very large crude carrier</em>. Alfred Thayer Mahan, dalam <em>The Influence of Sea Power Upon History</em> (1890): kekuatan laut ditentukan oleh kontrol atas titik-titik penting jalur perdagangan, bukan besarnya armada. Singapura besar bukan karena geografi; ia besar karena menjual layanan. Lombok dan Makassar masih menunggu giliran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada rantai lebih sunyi, dirasakan lebih dulu oleh ibu-ibu yang mencatat harga di pasar. Setiap kenaikan 10 dolar pada <em>Brent</em> menambah sekitar 850 juta dolar beban impor amonia Indonesia tahunan, menekan margin PT Pupuk Indonesia, mengalir ke selisih subsidi APBN, lalu ke ruang fiskal pendidikan dan kesehatan tahun depan. Keputusan Zhongnanhai tiba di pasar-pasar tradisional Indonesia dalam 60 sampai 90 hari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada peluang diplomatik yang belum diambil. Pakistan menjadi mediator <em>de facto</em> Washington-Tehran sejak Munir menerima Menlu Abbas Araghchi di Rawalpindi 25 April. Tetapi Pakistan menanggung beban yang tidak ditanggung Indonesia. Indonesia satu-satunya negara Muslim mayoritas dengan demokrasi besar, hubungan bersih dengan Tehran sejak 1950, kursi G20 aktif. Presiden Prabowo, jenderal yang dihormati militer Iran, dapat menawarkan <em>Bali</em> <em>Track</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada lapisan asuransi maritim yang tidak masuk percakapan publik kita, padahal menentukan harga di pom bensin. Hormuz hari ini berfungsi sebagai <em>chokepoint tax</em> — pajak geopolitik yang dipungut tanpa parlemen, tanpa tarif resmi, dan tanpa batas waktu. Premi <em>war risk</em> Lloyd’s of London melonjak dari 0,125 persen nilai lambung sebelum Februari menjadi 0,8 persen pada awal Mei — enam kali lipat (<em>S&amp;P Global Commodity Insights</em>). Tiongkok punya Sinosure dan PICC; Teluk punya Takaful. Danantara dapat masuk sebagai mitra di fasilitas Asia, atau menggagas fasilitas ASEAN bersama Petronas, PetroVietnam, PTT Thailand.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Prabowo, dengan latar strategis yang dibentuk di medan operasi nyata, memahami bahwa kedaulatan energi tidak ditulis di kitab perdagangan global. Ia dirancang di dalam negeri. Di bawah langit daerah 3T, di pulau-pulau yang matahari di atasnya tidak pernah tahu apa itu Selat Hormuz, dan tidak pernah perlu tahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan Trump-Xi sudah berakhir kemarin. Indonesia mungkin tidak punya kursi di Zhongnanhai, tetapi kita punya keputusan: membaca Hormuz sebagai cuaca yang datang dan pergi, atau membacanya sebagai jam yang sedang dipasang ulang untuk satu generasi ke depan. Rapat sunyi yang sesungguhnya — di kementerian, di dewan komisaris Pertamina, di meja perancang kebijakan di Istana — baru dimulai pagi ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Hak cipta dilindungi berdasarkan Pasal 113 UU 28/2014 tentang Hak Cipta.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/hormuz-dan-pena-yang-berpindah-tangan_170526.mp3" length="3758588" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/chatgpt-image-may-17-2026-06_28_43-am-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Chip yang Belum Pernah Terbang</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/chip-yang-belum-pernah-terbang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 May 2026 01:18:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[AI Geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[Donald Trump]]></category>
		<category><![CDATA[H200 Chip]]></category>
		<category><![CDATA[Jensen Huang]]></category>
		<category><![CDATA[Kedaulatan Digital]]></category>
		<category><![CDATA[Nvidia]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169299</guid>

					<description><![CDATA[Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #26PinterPolitik.com Sore yang dingin di Anchorage, 12 Mei 2026. Sebuah pesawat singgah untuk mengisi bahan bakar. Di tangga Air Force One, seorang pria berjaket kulit hitam—tanda tangan visualnya—naik. Namanya tidak ada di manifes resmi Gedung Putih. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/web-chip.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #26</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Sore yang dingin di Anchorage, 12 Mei 2026. Sebuah pesawat singgah untuk mengisi bahan bakar. Di tangga <em>Air Force One</em>, seorang pria berjaket kulit hitam—tanda tangan visualnya—naik. Namanya tidak ada di manifes resmi Gedung Putih. Jensen Huang diundang di menit terakhir, lewat sambungan pribadi. Beberapa jam kemudian, di Beijing Capital International Airport, ia turun bersama Trump, Elon Musk, dan Tim Cook—disambut Wakil Presiden Tiongkok Han Zheng dan barisan 300 anak berseragam biru-putih yang melambaikan dua bendera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adegan itu indah. Tetapi ada satu fakta yang membuatnya jauh lebih menarik daripada protokol.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Chip</em> H200—produk yang sesungguhnya membuat Huang relevan dalam rombongan ini—telah disetujui untuk dijual ke Tiongkok sejak 8 Desember 2025. Skemanya: 25% pendapatan dibagi ke pemerintah AS, plafon 75.000 unit per pelanggan, lisensi individual untuk setiap pengiriman. Enam bulan berlalu. Hingga pesawat mendarat di Beijing, jumlah H200 yang benar-benar terkirim adalah nol.</p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Diplomasi besar tidak diukur dari pesawat yang mendarat, melainkan dari chip yang tidak pernah terbang.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunjungan 13 Mei 2026 perlu dibaca dengan presisi: ia bukan rekonsiliasi dagang, melainkan restrukturisasi arsitektur hegemoni. Belasan eksekutif yang duduk di sekitar Trump—<em>hardware</em> (Nvidia, Qualcomm, Micron), <em>hyperscaler</em> dan <em>device</em> (Apple, Meta), finansialisasi (Goldman Sachs, BlackRock, Blackstone, Citi, Mastercard), industri riil (Boeing, GE Aerospace, Cargill, Illumina, Coherent)—bukan rombongan dagang. Mereka adalah barisan kedaulatan digital Amerika yang sedang berjalan keluar negeri sebagai satu badan tunggal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada abad ke-20, kedaulatan datang dengan bendera, kapal induk, pangkalan militer, dan perjanjian pertahanan. Pada abad ke-21—dalam tesis yang dirumuskan Chris Miller dalam <em>Chip War</em>—ia datang dengan <em>GPU</em>, <em>cloud</em>, sistem pembayaran, pusat data, dan neraca <em>Wall Street</em>. Negara tidak lagi berjalan sendirian; ia berjalan bersama korporasi yang menguasai infrastruktur kehidupan sehari-hari. Kunjungan ini, pada level peradaban, adalah peresmian bentuk kekuasaan baru yang tidak lagi memisahkan negara dari korporasi, atau teknologi dari energi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang ditawarkan: akses terhadap <em>chip</em> yang sebenarnya sudah disetujui tetapi tetap terhambat. Yang ditahan: hak Beijing untuk menulis arsitektur <em>cloud</em>-AI sendiri tanpa diintervensi standar Washington. Beijing mendapat permintaan, Amerika mempertahankan rancangan. Dunia mendapat panggung, kedua sisi mempertahankan rem.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada paradoks yang jarang dibaca dengan jujur: industri AI Amerika tidak dapat mempertahankan valuasi trilyun-dolarnya tanpa pasar Tiongkok. Saham Nvidia sudah memperhitungkan pertumbuhan Tiongkok ke depan; tanpa akses itu, asumsi pertumbuhan menjadi rapuh—dan dengan rapuhnya asumsi, runtuhlah arsitektur pendanaan pusat data 5 gigawatt yang sedang dibangun dari Norwegia hingga Texas. Inilah retakan di jantung kapitalisme AI Amerika: secara finansial ia ingin membuka pasar, secara geopolitik ia ingin menahan teknologi. Dibaca terbalik, kunjungan ini bukan tentang membuka Tiongkok untuk AI Amerika; ia tentang menyelamatkan AI Amerika dari kontradiksi yang ia ciptakan sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi harga sebenarnya bukan <em>chip</em>. Ia adalah Selat Hormuz.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan ini semula dijadwalkan Maret 2026—ditunda karena perang Iran. Kini ia berlangsung saat blokade militer atas Selat Hormuz memasuki bulan yang menentukan. Edward Fishman, dalam <em>Chokepoints</em>, menyebut selat sempit dan rantai pasok kritis sebagai senjata diam yang menunggu diaktifkan—dan Hormuz minggu ini sedang aktif. Tiongkok adalah pembeli lebih dari 80% ekspor minyak mentah Iran; ia pemegang kartu paling besar untuk membuka kembali pintu yang Washington butuhkan. Permintaan Trump kepada Xi pada dasarnya bukan tentang <em>chip</em>, tarif, atau tanah jarang—melainkan tentang membuka kembali jalur darah ekonomi global. <em>Chip adalah pemanis di atas meja; Hormuz adalah jaminan di balik tirai.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi keluarga yang setiap pagi mengisi tabung gas 3 kilogram di Bandung atau Surabaya, Hormuz bukan istilah diplomatik. Sekitar 20% pasokan LPG nasional berasal dari Timur Tengah; pada Maret 2026, dua tanker Pertamina yang membawa minyak Saudi tertahan di Teluk menunggu izin Iran untuk melintasi selat. Hampir sepertiga perdagangan urea dunia—bahan baku pupuk yang menentukan harga beras Indonesia—juga lewat pita air yang sama. Bagi pemilik warung makan, UMKM kuliner, dan jutaan usaha kecil rumahan yang sebagian besar dijalankan perempuan, setiap kenaikan harga LPG dan tepung adalah pemotongan margin yang langsung dirasakan minggu itu juga. Diplomasi Trump–Xi di Beijing, dibaca dari meja makan Indonesia, adalah pertanyaan tentang berapa harga sebutir bawang merah dan sekiloan beras minggu depan. Geopolitik mendarat di dapur sebelum di kabinet; dan ia mendarat lebih dahulu pada para perempuan yang menjaga anggaran rumah tangga maupun usaha keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Jakarta, di sinilah radius geopolitiknya menjadi tajam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, jika kesepakatan Trump–Xi membuka selat, harga energi turun, fiskal Jakarta bernapas, rupiah menemukan kembali jangkar nominalnya. Instrumen fiskal baru—termasuk relokasi Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan pelat merah dan rencana penerbitan <em>Panda bonds</em> di pasar obligasi yuan—menemukan momentum terbaiknya. Jika tidak, tekanan APBN dan inflasi inti akan menumpuk pada paruh kedua 2026, mempersempit ruang Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan untuk membiayai <em>roadmap</em> AI nasional, hilirisasi mineral kritis, dan transisi energi yang sudah disiapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, jika rezim baru ekspor <em>chip</em> dan <em>hosting cloud</em> benar-benar lahir dari meja Beijing minggu ini, ruang kebijakan kedaulatan data Indonesia bisa terhimpit di antara dua konsorsium—Nvidia–Microsoft–Google–Meta di satu sisi, ekosistem <em>cloud</em> Tiongkok di sisi lain. Komitmen investasi pusat data <em>hyperscaler</em> global ke Jakarta dan Batam sudah dimulai, tetapi standar arsitektur, alur data, dan kerangka regulasi privasi yang menyertainya masih ditulis di luar yurisdiksi Indonesia. Indonesia tidak lagi sekadar memilih vendor; ia memilih siapa yang menulis ulang kontur kedaulatan digitalnya satu generasi ke depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap tiga dekade, Asia menghadapi pilihan kedaulatan dengan wujud yang berbeda. Tahun 1965 ia datang sebagai blok ideologis; 1997 sebagai arsitektur keuangan; 2026 sebagai <em>chip</em>, <em>cloud</em>, energi, dan data. Polanya konsisten: negara yang ikut mendesain memperoleh otonomi, negara yang hanya membeli menjadi pasar, dan negara yang terlambat membaca menjadi lokasi—bukan aktor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah Doktrin Tiga Lapisan Prabowo menemukan ujiannya yang paling tajam. Lapisan strategis—politik luar negeri bebas-aktif Indonesia yang tidak berbaris di belakang siapa pun—pada abad AI tidak cukup bila hanya berarti tidak memihak; ia harus berarti ikut mendesain. Lapisan operasional—diversifikasi mitra teknologi, pasokan energi, instrumen fiskal—memerlukan akselerasi paruh kedua 2026, terutama untuk pusat data nasional dan kerangka AI berdaulat. Lapisan taktis—respons harian pada gejolak rupiah, energi, pangan—membutuhkan kanal informasi langsung ke Beijing, Washington, dan Riyadh secara simultan, bukan berurutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prabowo, dalam arsitektur ini, bukan reaktor terhadap pesawat yang mendarat di Beijing. Indonesia memiliki kombinasi struktural yang langka—cadangan nikel dan mineral kritis untuk rantai pasok AI <em>hardware</em> global, posisi geografis di koridor energi dan data Indo-Pasifik, kepemimpinan moral di ASEAN—dan posisi diplomatik Prabowo memungkinkan kombinasi itu diterjemahkan menjadi arsitektur, bukan sekadar dimanfaatkan oleh pihak lain. Indonesia dapat menjadi aktor desain: bukan pasar yang diperebutkan, melainkan <em>node</em> yang ikut menulis aturan main.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para CEO yang turun dari <em>Air Force One</em> adalah simbol bahwa kedaulatan abad ini tidak lagi berhuruf besar pada bendera, tetapi pada konsorsium. Kembali ke Anchorage: pesawat singgah, seorang pria dengan jaket kulit hitam naik, dan <em>chip</em> yang ia bawa simbolnya—H200—masih belum benar-benar terbang ke Tiongkok. Antara Anchorage dan Beijing, dua belas jam waktu terbang. Antara Beijing dan dapur Bandung, jarak yang tidak terukur dalam mil laut, melainkan dalam kebijakan. <em>Diplomasi besar tidak diukur dari pesawat yang mendarat, melainkan dari chip yang tidak pernah terbang.</em> Dan dari Jakarta, yang harus dijaga bukan panggungnya, melainkan hak untuk ikut menggambar arsitekturnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Hak cipta dilindungi berdasarkan Pasal 113 UU 28/2014 tentang Hak Cipta.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/web-chip.mp3" length="4187756" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/chatgpt-image-may-15-2026-06_51_19-am-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Trump, Xi, dan Kartu Prabowo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/trump-xi-dan-kartu-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2026 03:39:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[krisis energi]]></category>
		<category><![CDATA[Minyak]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Trump]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168693</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #16PinterPolitik.com “Saudara-saudara, untuk mengamankan minyak, saya harus pergi ke mana-mana.” Kalimat itu diucapkan di podium Istana, 8 April, tanpa naskah. Bukan pidato. Bukan janji kampanye. Hanya seorang presiden yang bicara seperti seseorang yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/kartu-wowo-1-revisi-y34u81ya.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #16</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">“Saudara-saudara, untuk mengamankan minyak, saya harus pergi ke mana-mana.” Kalimat itu diucapkan di podium Istana, 8 April, tanpa naskah. Bukan pidato. Bukan janji kampanye. Hanya seorang presiden yang bicara seperti seseorang yang sudah menghitung seluruh risikonya — dan memilih bergerak. Empat hari kemudian, menjelang tengah malam tanggal 12 April, pesawat Garuda Indonesia membawanya lepas landas dari Halim Perdanakusuma menuju Moskow.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jarang sekali satu kalimat presiden dan satu keberangkatan tengah malam terhubung seterang ini. Prabowo Subianto terbang menemui Vladimir Putin karena Selat Hormuz — jalur seperempat perdagangan minyak dunia — praktis tertutup sejak akhir Februari. International Energy Agency menyebutnya gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. Cadangan nasional hanya cukup dua puluh hari. Dan inilah yang luput dari pemberitaan: krisis yang sama yang memaksa rasionisasi BBM justru memberikan Prabowo sesuatu yang tidak pernah dimiliki presiden Indonesia mana pun sejak Reformasi — alasan yang tidak bisa diserang untuk duduk di meja mana pun di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kelangkaan menjadi leverage. Kelemahan menjadi kartu.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perhatikan kronologinya, karena urutan ini bukan kebetulan. November 2024, Beijing: Xi Jinping menyambut Prabowo dengan komitmen US$10 miliar. Januari 2026, Davos: Indonesia duduk di forum Board of Peace inisiatif Trump — tanpa komitmen permanen. Februari, Washington: mega-deal US$38,4 miliar, sebelas MoU, tarif diturunkan dari 32 ke 19 persen. Maret, Tokyo: US$23,63 miliar. April, Seoul: US$10,2 miliar. Dan kemarin malam — Moskow. Dua pertemuan sebelumnya dengan Putin sudah meletakkan kerangka kerja sama energi dan nuklir. Kunjungan ini dirancang untuk mengkonversi kerangka itu menjadi kontrak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam enam bulan, Prabowo telah duduk di meja dengan lima kekuatan besar. Sejak era Reformasi, tidak ada presiden Indonesia yang bermain di papan seluas ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi arus utama menyebutnya hedging — Pembacaan itu terlalu kecil. Hedging itu pasif: kau menunggu dan mengurangi risiko. Prabowo justru sebaliknya — ia memperbesar taruhan di setiap sisi secara bersamaan, sehingga biaya kehilangannya menjadi lebih besar dari biaya mempertahankannya. Bagi siapa pun. Albert Hirschman menyebutnya ketergantungan asimetris: negara yang mendiversifikasi mitra bukan melemahkan diri — ia melipatgandakan daya tawarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap kunjungan dirancang agar kunjungan berikutnya memiliki daya tawar lebih besar. Komitmen dari Beijing membuat tawaran ke Washington lebih berharga. Deal dengan Amerika membuat posisi di hadapan Tokyo lebih kuat. Dan sekarang Moskow — yang duduk di atas cadangan minyak terbesar yang bisa diakses tanpa melewati Hormuz — membutuhkan pembeli yang tidak tunduk pada tekanan Barat. Duta besar Rusia untuk Indonesia sudah mengatakannya secara terbuka bulan lalu: jika Indonesia membutuhkan, katakan saja, dan kami akan menyediakannya. Tapi minyak bukan satu-satunya yang ada di meja. Desember lalu, Putin menawarkan sesuatu yang lebih permanen: reaktor nuklir pertama Indonesia, target operasi 2032. Minyak menyelamatkan hari ini. Nuklir menyelamatkan generasi. Satu meja bundar. Semua kursi saling terhubung. Prabowo duduk di pusat rotasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah paradoks sentral menyala. Prabowo duduk di forum Board of Peace Trump pada Januari, lalu terbang ke Putin pada April. Dalam kuartal yang sama. Normalnya ini akan dikecam sebagai inkonsistensi. Tapi Hormuz mengubah apa yang tampak sebagai kontradiksi menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan — karena kalimat “saya pergi ke mana pun yang menjamin rakyat saya punya minyak” adalah kalimat yang tidak bisa dilawan tanpa terdengar kejam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Charles-Maurice de Talleyrand memahami mekanisme ini dua abad lalu. Di Kongres Wina 1815, Prancis yang baru kalah perang seharusnya menerima syarat tanpa suara. Tapi Talleyrand datang dengan tangan terlemah — dan memanuver Austria, Rusia, dan Inggris saling curiga satu sama lain. Rahasianya bukan militer. Rahasianya: membuat dirimu tak tergantikan. Ia membawa koki dan pianis ke kongres agar lawan lupa bahwa mereka sedang dinegosiasikan. Prabowo membawa angka — US$38,4 miliar ke Washington, kebutuhan minyak ke Moskow. Bahasa berbeda. Tata bahasa sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ada keahlian yang jarang dibicarakan dalam literatur diplomasi: keahlian membuat tiga pihak yang saling mencurigai, masing-masing yakin bahwa kamulah yang akan memihak mereka.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi mari jujur pada argumen yang paling menggigit. Dari dua pertemuan sebelumnya dengan Putin, sekitar 30 persen target kesepakatan energi sudah tercapai — angka yang bagi sebagian orang terdengar lambat, tapi bagi siapa pun yang memahami diplomasi minyak di tengah perang, justru mencengangkan. Kunjungan kali ini dirancang untuk memperbesar angka itu secara signifikan. Tapi jarak antara kerangka dan kontrak selalu lebih panjang dari yang terlihat di foto jabat tangan. Dan 75 persen rantai pasok nikel masih bergantung pada teknologi China. Filipina tidak bisa ke Moskow — terlalu terikat Washington. Vietnam tidak bisa — minyak tersumbat. Tapi ketidakmampuan tetangga bukan bukti kemampuan sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat argumen skeptis itu tidak sepenuhnya menang adalah satu variabel yang mengubah seluruh aritmatika: setiap kenaikan satu dolar per barel menambah beban fiskal 400 juta dolar. Di harga 110 dolar, defisit bisa membengkak 3 miliar dolar sebelum Desember. Prabowo tahu apa artinya angka-angka seperti itu. Ia ada di sana pada 1998, ketika kenaikan BBM menjadi salah satu pemicu yang meruntuhkan sebuah rezim. Bukan sebagai penonton. Sebagai bagian dari arsitektur yang runtuh. Ketika ia berdiri di podium Istana empat hari sebelum keberangkatan dan berkata bahwa ia harus pergi ke mana-mana, itu bukan retorika. Itu ketakutan yang diolah menjadi strategi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kishore Mahbubani berargumen bahwa abad ini milik mereka yang mampu menjembatani Barat dan Timur. Prabowo bukan menjembatani dua sisi. Ia sedang mengubah Indonesia dari sekadar negara-bangsa menjadi platform — infrastruktur di mana Trump, Xi, Tokyo, Seoul, dan Moskow berkompetisi untuk mendapat akses, dan di setiap titik akses itu, Jakarta yang menentukan harga masuk. Daron Acemoglu dan James Robinson membedakan institusi ekstraktif dan inklusif dalam menjelaskan mengapa negara-negara gagal. Prabowo menguji proposisi ketiga yang belum ada dalam buku mereka: institusi transaksional — di mana setiap hubungan luar negeri dinilai bukan oleh ideologi mitra, melainkan oleh apa yang kembali ke tanah air. Jika eksperimen ini bertahan, literatur tentang mengapa negara berhasil atau gagal harus menambah satu kategori baru — dan untuk pertama kalinya, kategori itu lahir dari selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Talleyrand meninggalkan peringatan yang seharusnya menghantui setiap arsitek keseimbangan — termasuk Prabowo. Sistem yang ia bangun di Kongres Wina bergantung sepenuhnya pada kejeniusan personalnya. Tidak ada murid yang mewarisi instingnya. Tidak ada institusi yang mengkodifikasi metodenya. Ketika ia pergi, arsitektur itu layu. Belum ada Dewan Ketahanan Energi Nasional. Belum ada kerangka regulasi mineral kritis. Belum ada mekanisme diversifikasi minyak yang terlembaga melampaui satu masa jabatan. Jika seluruh permainan ini hanya bertahan selama satu orang mampu mengorkestrasinya, maka ini bukan strategi nasional — ini stress test apakah republik ini mampu menyulap kejeniusan personal menjadi memori institusional. Dan sejauh ini, republik itu belum menjawab.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertengahan Mei, Trump dan Xi akan duduk berhadapan di Beijing. Tarif, mineral tanah jarang, Board of Trade — semuanya di atas meja. Tapi di antara berkas-berkas itu, ada variabel yang tidak hadir secara fisik namun mustahil diabaikan: seorang presiden yang dalam tiga bulan terakhir telah duduk di meja dengan Washington, Beijing, Tokyo, Seoul, dan Moskow — dan di setiap meja, meninggalkan kursi yang cukup hangat untuk membuat tuan rumah bertanya-tanya ke mana ia pergi setelah ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sebuah ruangan di Kremlin, Senin siang kemarin, Prabowo duduk berhadapan empat mata dengan Putin. Dan kalimat yang ia ucapkan di podium Istana — “saya harus pergi ke mana-mana” — terdengar berbeda. Bukan lagi pembelaan diri. Melainkan pernyataan dari seseorang yang memahami bahwa di dunia yang sedang retak, satu-satunya posisi yang aman adalah posisi yang dibutuhkan semua orang — dan yang tidak sepenuhnya dimiliki siapa pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/kartu-wowo-1-revisi-y34u81ya.mp3" length="3442940" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/whatsapp-image-2026-04-14-at-10.21.35-1024x683.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Taiwan Kembali &#8220;ke Rumah Bapaknya&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/taiwan-kembali-ke-rumah-bapaknya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2026 11:50:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Taiwan]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168676</guid>

					<description><![CDATA[Pada 7–12 April 2026, Ketua KMT Cheng Li-wun mengunjungi Nanjing, Shanghai, dan Beijing atas undangan Xi Jinping. Di Balai Agung Rakyat, ia bertemu langsung dengan Xi — pertemuan pertama antara pemimpin KMT dan Partai Komunis Tiongkok dalam hampir satu dekade. Kunjungan ini terjadi menjelang KTT Trump-Xi pada Mei, menjadikannya momen geopolitik yang sangat krusial. Akankah ini momen awal berakhirnya ketegangan Taiwan dan Tiongkok?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-32-1.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI. </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pada 7–12 April 2026, Ketua KMT Cheng Li-wun mengunjungi Nanjing, Shanghai, dan Beijing atas undangan Xi Jinping. Di Balai Agung Rakyat, ia bertemu langsung dengan Xi — pertemuan pertama antara pemimpin KMT dan Partai Komunis Tiongkok dalam hampir satu dekade. Kunjungan ini terjadi menjelang KTT Trump-Xi pada Mei, menjadikannya momen geopolitik yang sangat krusial. Akankah ini momen awal berakhirnya ketegangan Taiwan dan Tiongkok?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/prabowo-dan-90-hari/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Pada Desember 1949, Chiang Kai-shek berdiri di dermaga Keelung, memandang laut yang memisahkan dirinya dari daratan yang baru saja ia kehilangan. Di belakangnya, dua juta orang — tentara, pejabat, intelektual, rakyat biasa — ikut menyeberang ke pulau kecil bernama Taiwan. Mereka membawa emas cadangan negara, koleksi seni Istana Terlarang, dan satu janji yang akan diulang-ulang selama beberapa dekade: &#8220;Kita akan kembali.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi mereka tidak pernah kembali. Tidak dengan senapan, tidak dengan tank. Daratan tetap milik Mao, dan Taiwan perlahan membangun identitasnya sendiri — dari otoritarianisme menuju demokrasi, dari provinsi pelarian menuju salah satu ekonomi paling maju di Asia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuh puluh tujuh tahun kemudian, pada 10 April 2026, seorang perempuan bernama Cheng Li-wun berdiri di Balai Agung Rakyat, Beijing — gedung yang sama tempat Mao Zedong memproklamasikan Republik Rakyat Tiongkok. Ia berjabat tangan dengan Xi Jinping. Bukan sebagai penakluk, bukan sebagai pemimpin negara, tapi sebagai Ketua Kuomintang (KMT) — partai yang sama yang dulu kalah perang dan menyeberangi selat itu dengan luka yang belum sembuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Chiang Kai-shek berjanji akan pulang dengan pasukan. Cheng Li-wun pulang dengan jabat tangan. Pertanyaannya tetap sama setelah hampir delapan dekade: siapa yang sebenarnya diuntungkan oleh kepulangan ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sang Pembelot yang Menjadi Jembatan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami signifikansi kunjungan Cheng Li-wun, kita perlu memahami dulu siapa dia — karena biografinya sendiri adalah sebuah alegori tentang Taiwan modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cheng lahir pada 1969 di Yunlin, dari ayah seorang tentara suku Yi asal Yunnan yang pernah bertugas di Pasukan Ekspedisi Tiongkok, dan ibu orang Taiwan asli dari Kouhu. Ia tumbuh di perkampungan veteran militer (juancun) di Tainan — sebuah lingkungan yang identik dengan nostalgia daratan dan identitas Republik Tiongkok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun alih-alih mengikuti jejak ayahnya, Cheng muda justru memilih jalan yang berlawanan. Di akhir 1980-an, ia menjadi aktivis Gerakan Bunga Lili Liar (Wild Lily Movement), meneriakkan kejatuhan KMT dan menyebut partai itu &#8220;kekuatan penguasa paling menjijikkan.&#8221; Ia bergabung dengan DPP, partai pro-kemerdekaan, dan duduk di Majelis Nasional pada usia 27 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, sesuatu berubah. Setelah konflik internal di DPP pada awal 2000-an, Cheng meninggalkan partai dan pada 2005 resmi bergabung dengan KMT — direkrut langsung oleh mantan Wakil Presiden Lien Chan. Ia bahkan ikut dalam kunjungan bersejarah Lien Chan ke daratan Tiongkok tahun itu. Dua dekade kemudian, pada Oktober 2025, perempuan yang dulu ingin menghancurkan KMT justru terpilih sebagai ketuanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Transformasi ideologis Cheng — dari separatis menjadi unionis, dari penentang KMT menjadi pemimpinnya — bukan sekadar oportunisme politik. Ia adalah cermin dari keretakan identitas Taiwan itu sendiri: sebuah masyarakat yang terus-menerus bernegosiasi antara kedekatan kultural dengan Tiongkok dan hasrat untuk menentukan nasibnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunjungannya ke Nanjing, Shanghai, dan Beijing pada 7–12 April 2026 — yang mencakup ziarah ke Makam Sun Yat-sen dan pertemuan puncak dengan Xi Jinping — adalah pertemuan pertama antara pemimpin KMT dan Partai Komunis Tiongkok sejak 2016. Ini bukan sekadar diplomasi partai. Ini adalah teater geopolitik dengan penonton yang duduk di Washington, Taipei, dan Beijing sekaligus.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jebakan Thucydides dan Ilusi Perdamaian</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah kita perlu melepaskan diri dari narasi permukaan dan masuk ke kerangka analitis yang lebih dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Graham Allison, profesor Harvard dan mantan Asisten Menteri Pertahanan AS, memopulerkan konsep Thucydides&#8217;s Trap — merujuk pada pengamatan sejarawan Yunani kuno Thucydides bahwa Perang Peloponnesos menjadi tak terhindarkan karena kebangkitan Athena menimbulkan ketakutan di Sparta. Allison menemukan bahwa dari 16 kasus dalam 500 tahun terakhir di mana kekuatan yang sedang naik menantang kekuatan dominan, 12 di antaranya berakhir dengan perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan AS-Tiongkok hari ini, menurut Allison, adalah kasus ke-17. Dan Taiwan adalah titik nyala yang paling berbahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun teori Allison saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa Cheng memilih jalan dialog, bukan deterensi. Untuk itu, kita perlu menoleh pada Power Transition Theory yang dicetuskan A.F.K. Organski pada 1958. Teori ini berargumen bahwa tatanan internasional dibangun oleh kekuatan dominan, dan perang paling mungkin terjadi bukan saat kekuatan yang menantang masih lemah, melainkan ketika ia mendekati kesetaraan — dan merasa tidak puas dengan tatanan yang ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiongkok hari ini berada tepat di titik transisi itu. Secara ekonomi, ia nyaris menyamai AS. Secara militer, khususnya di kawasan Indo-Pasifik, keseimbangan kekuatan telah bergeser drastis. Dalam logika Organski, inilah momen paling rawan — bukan karena perang pasti terjadi, tapi karena kalkulasi salah (miscalculation) paling mungkin terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cheng Li-wun, sadar atau tidak, sedang bermain di ruang sempit antara dua teori ini. Di satu sisi, ia berusaha menghindari jebakan Thucydides dengan membuka kanal dialog langsung — sesuatu yang absen sejak DPP berkuasa pada 2016. Di sisi lain, ia menggunakan retorika yang sejalan dengan logika power transition: bahwa Taiwan tidak boleh menjadi alat tawar AS dalam persaingannya dengan Tiongkok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam wawancara dengan Deutsche Welle, Cheng secara eksplisit menyebut ekspansi NATO ke timur sebagai penyebab utama perang Rusia-Ukraina — sebuah pernyataan yang menggemakan argumen kaum realis struktural seperti John Mearsheimer. Ia memperingatkan bahwa Taiwan bisa menjadi &#8220;Ukraina berikutnya&#8221; jika terus mengandalkan perlindungan militer AS tanpa membangun jalur komunikasi dengan Beijing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah posisi yang kontroversial, tentu saja. Bagi pendukung DPP dan banyak pengamat Barat, argumen Cheng adalah bentuk <em>appeasement</em> — penyerahan diri bertahap yang dibungkus retorika perdamaian. Tapi bagi Cheng dan basis pendukung KMT, ini adalah realisme: pengakuan bahwa dalam dunia di mana AS terdistraksi oleh perang di Ukraina dan Iran, dan di mana Trump secara terbuka mempertanyakan nilai aliansi keamanan, Taiwan perlu mencari jalan ketiganya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ryan Hass, mantan pejabat AS dan peneliti senior di Brookings Institution, mencatat bahwa publik Amerika yang sudah kelelahan oleh konflik-konflik global saat ini memiliki selera yang sangat rendah terhadap konfrontasi kekuatan besar. Jika itu benar, maka fondasi deterensi AS di Selat Taiwan mungkin lebih rapuh dari yang kita kira.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pulang, tapi ke Rumah Siapa?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke kisah 1949. Chiang Kai-shek meninggal di Taipei pada 1975, tidak pernah menginjakkan kaki lagi di daratan. Jasadnya hingga kini belum dimakamkan secara permanen — sesuai wasiatnya, ia ingin dikuburkan di tanah kelahirannya di Zhejiang ketika &#8220;pemulihan daratan&#8221; tercapai. Sebuah janji yang membeku dalam waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cheng Li-wun, tujuh dekade kemudian, memilih untuk tidak membawa janji perang. Ia membawa kata &#8220;rekonsiliasi.&#8221; Tapi apakah rekonsiliasi yang ia serukan adalah langkah tulus menuju perdamaian lintas-Selat, atau sekadar manuver politik menjelang Pemilu Presiden Taiwan 2028? Apakah Beijing benar-benar menginginkan dialog, atau hanya membutuhkan optics yang menunjukkan bahwa Taiwan masih memiliki suara-suara yang bersahabat dengan daratan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Xi Jinping sendiri tidak menyembunyikan tujuan akhirnya. Dalam pertemuan itu, ia menyebut reunifikasi sebagai &#8220;keniscayaan sejarah.&#8221; Cheng, dengan cermat, menghindari kata reunifikasi — memilih istilah &#8220;rekonsiliasi&#8221; yang lebih ambigu. Jarak semantik antara kedua kata itu mungkin tampak kecil, tapi di dalamnya tersimpan seluruh kompleksitas masa depan 23 juta penduduk Taiwan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jajak pendapat Taiwan Public Opinion Foundation pada Oktober 2025 menunjukkan realitas yang tidak bisa diabaikan: hanya 13,9 persen warga Taiwan mendukung unifikasi dengan Tiongkok, sementara 44,3 persen menginginkan kemerdekaan. Cheng Li-wun, dengan kata lain, sedang menjual sesuatu yang mayoritas pembelinya tidak inginkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi politik tidak selalu tentang apa yang diinginkan publik hari ini. Kadang ia tentang apa yang ditakutkan publik esok hari. Dan di tengah dunia yang semakin tidak pasti — di mana Ukraina telah mengajarkan bahwa janji keamanan bisa menguap, dan di mana tatanan berbasis aturan terasa semakin rapuh — ketakutan adalah mata uang politik yang paling kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ronald Reagan pernah berkata, &#8220;Peace is not absence of conflict, it is the ability to handle conflict by peaceful means.&#8221; Cheng Li-wun tampaknya ingin membuktikan bahwa ia mampu melakukan itu. Tapi sejarah juga mengajarkan bahwa mereka yang paling keras menyerukan perdamaian kadang justru sedang mempersiapkan panggung untuk kompromi yang paling mahal. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xO6VtqYYWzY"><iframe title="Kehebatan Uni Emirat Arab, Sosok Menteri Perempuan di Perang Iran" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xO6VtqYYWzY?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-32-1.mp3" length="2515244" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/825d4560-3188-11f1-99c7-55b1c6163ed9.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Poros Baru: Prabowo-Xi-Takaichi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/poros-baru-prabowo-xi-takaichi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Asian Union]]></category>
		<category><![CDATA[India]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[RCEP]]></category>
		<category><![CDATA[Sanae Takaichi]]></category>
		<category><![CDATA[Selat Hormuz]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167820</guid>

					<description><![CDATA[Konflik Iran-AS memukul urat nadi ekonomi negara-negara Asia. Mungkinkah krisis ini menyatukan benua Asia?
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/poros-baru-prabowo-xi-takaichi.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Konflik Iran-AS memukul urat nadi ekonomi negara-negara Asia. Mungkinkah krisis ini menyatukan benua Asia?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Security Dilemma sebagai situasi di mana upaya satu negara untuk meningkatkan keamanannya secara otomatis mengurangi rasa aman negara lain.&#8221; — John Herz (1950)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut, menyadari bahwa rudal balistik yang meluncur dari Dataran Tinggi Iran tidak sekadar menghancurkan bunker di Levant. Ia sadar betul bahwa gelombang kejut ledakan itu secara langsung membakar margin keuntungan di pabrik tempatnya bekerja di Cikarang, mengguncang bursa Shenzhen, dan membuat menteri keuangan terbangun di tengah malam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Cupin, realitas ini terasa amat pahit karena Timur Tengah mungkin adalah teater perangnya, namun Asia adalah kasir yang selalu dipaksa membayar tagihannya. Ada sebuah ironi kejam di mana kawasan Asia, yang menampung enam puluh persen populasi dunia dan menjadi mesin penghasil empat puluh persen PDB global, justru tidak memiliki suara berarti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik antara Iran dan Amerika Serikat bukan sekadar rivalitas bilateral, melainkan sebuah guncangan sistemik yang mengekspos pondasi rapuh kemakmuran Asia. Cupin mulai memahami bahwa keajaiban ekonomi negerinya beroperasi di atas kesepakatan rentan: Asia memproduksi barang, Amerika Serikat menjaga keamanan maritim, dan Timur Tengah memasok minyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Amerika Serikat perlahan bergeser peran dari seorang penjaga maritim menjadi kombatan yang aktif, seluruh struktur keamanan yang selama ini dipinjam oleh Asia itu ikut bergetar hebat. Fakta aritmatika yang menyesakkan dada ini bermula dari kendala geografi, tepatnya di Selat Hormuz yang lebarnya hanya tiga puluh tiga kilometer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setiap harinya, sekitar dua puluh hingga dua puluh satu juta barel minyak mentah harus melewati titik cekik utama peradaban tersebut. Data yang dibaca Cupin menunjukkan fakta mengkhawatirkan bahwa lebih dari tujuh puluh enam persen volume minyak itu mengalir deras menuju Asia, termasuk ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, berkat adanya revolusi minyak serpih, Amerika Serikat kini bisa membakar Timur Tengah sambil menikmati beban biaya energi yang jauh lebih rendah bagi perekonomiannya sendiri. Cupin kini merasakan langsung apa yang disebut oleh ekonom Nouriel Roubini sebagai polikrisis, sebuah situasi mencekam di mana berbagai krisis saling memperkuat menjadi putaran yang ganas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gelombang pertama menghantam dompet Cupin dalam bentuk kejutan komoditas, mengingat Asia mengimpor lebih dari tujuh puluh persen gas alam cair dunia. Pukulan ini segera disusul oleh depresiasi mata uang serentak yang melahirkan inflasi impor ganda bagi negara-negara berkembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disrupsi maritim melengkapi penderitaan operasional pabrik Cupin, di mana premi asuransi pengiriman rantai pasok kini melonjak tajam hingga empat ratus persen. Bagi negara tempat Cupin bernaung, setiap kenaikan sepuluh dolar harga minyak dunia akan langsung menambah beban subsidi energi APBN hingga enam puluh triliun rupiah per tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin hanya bisa mendesah, membayangkan bagaimana negerinya harus menelan pil pahit antara memotong subsidi yang berisiko memicu gejolak sosial atau mengorbankan anggaran pembangunan masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah rentetan krisis eksistensial akibat ulah negara adidaya ini akhirnya cukup kuat untuk memaksa kekuatan di kawasan Asia bersatu padu? Ataukah himpitan beban ekonomi yang masif ini justru akan semakin mencabik-cabik Asia yang secara struktural sudah rapuh sejak awal?</p>



<p class="wp-block-paragraph">IG</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Prabowo-Xi-Takaichi: Saatnya Poros Baru?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menghadapi ancaman eksternal yang sedemikian destruktif, naluri pertama yang muncul di benak publik adalah mempertanyakan absennya institusi kolektif sekuat NATO di Asia. Namun, kerentanan yang mencekik kawasan ini sejatinya paling akurat dibedah melalui konsep kerentanan asimetris dalam teori interdependensi kompleks karya dua pemikir besar, Robert Keohane dan Joseph Nye.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asia memiliki sensitivitas yang ekstrem terhadap lonjakan harga global, sekaligus kerentanan yang dalam karena ketiadaan alternatif struktural pengganti minyak Teluk secara instan. Kesulitan unifikasi di kawasan ini juga mengakar kuat pada patologi struktural yang oleh ilmuwan John Herz didefinisikan secara brilian sebagai sebuah dilema keamanan yang terlembagakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya satu negara untuk memoles dan mengamankan postur militernya secara otomatis akan menyusutkan rasa aman negara tetangganya, sebuah realitas yang mendarah daging di Asia. Bayangkan saja kemustahilan diplomatis apabila kekuatan raksasa seperti Tiongkok dan Jepang diwajibkan untuk berbagi komando militer di tengah sengketa historis yang belum pernah tuntas ditebus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berjalan tegak lurus dengan logika realisme ofensif yang digagas oleh John Mearsheimer, setiap kekuatan hegemonik di Asia beroperasi murni untuk memaksimalkan keamanan relatifnya sendiri. Alasan fundamental lainnya di balik perpecahan ini terletak pada absennya prasyarat krusial yang dikemukakan Michael Doyle dan Bruce Russett mengenai segitiga perdamaian Kantian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan Eropa, Asia sangatlah heterogen secara ideologi politik, miskin akan institusi internasional yang mengikat kedaulatan, serta tidak memiliki jaring interdependensi ekonomi yang simetris . Kemitraan dagang di Asia lebih sering menyerupai asimetri hierarkis antara patron dan klien, di mana embargo ekonomi rutin digunakan sebagai senjata penekan kedaulatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">ASEAN sendiri, yang kerap diagungkan sebagai mahkota diplomasi kawasan, beroperasi teguh dengan prinsip institusionalisme lunak yang sangat mendewakan non-intervensi dan konsensus mutlak. Desain institusional semacam ini sejak awal dirancang khusus guna mencegah terjadinya peleburan kedaulatan, menjadikannya antitesis sempurna dari sebuah persatuan supranasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di luar dinamika internal kawasan, Amerika Serikat secara aktif dan konsisten menerapkan strategi penyeimbangan lepas pantai seperti yang diuraikan secara lugas oleh Mearsheimer dan Walt. Grand strategy Washington adalah memastikan kekuatan besar Asia tetap berimbang dan saling menaruh curiga melalui jaring aliansi bilateral yang sistematis mencegah lahirnya koalisi independen .</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hambatan terakhir sekaligus yang paling sulit dijinakkan adalah amarah nasionalisme domestik, sebuah fenomena pelik yang direkam Robert Putnam melalui teori permainan dua tingkat. Tidak ada satu pun pemimpin di Asia, baik yang terikat doktrin otonomi strategis maupun penganut murni bebas-aktif, yang bisa membarter kedaulatannya tanpa dianggap sebagai pengkhianat oleh rakyatnya sendiri .</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika persatuan politik utuh ala Uni Eropa terbukti hanya merupakan sebuah delusi struktural belaka, lantas mekanisme bertahan hidup seperti apa yang sedang disiapkan oleh para raksasa Asia? Mungkinkah kawasan ini secara diam-diam tengah mendirikan sebuah dinding pelindung jenis baru yang murni bertumpu pada ego sektoral dan persenjataan ekonomi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">IG</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mungkinkah ‘Asian Union’?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai respons logis atas kemustahilan integrasi politik, arsitektur Asia perlahan bergeser menuju pembentukan benteng geoekonomi yang dipicu secara murni oleh insting evolusioner Darwinian. Alih-alih merajut solidaritas afektif antarnegara, poros-poros kekuasaan di Asia sesungguhnya sedang menyusun sebuah pakta kelangsungan hidup yang dikalkulasi secara teramat dingin dan transaksional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Manifestasi paling benderang dari manuver ini terlihat pada eskalasi RCEP yang perlahan berevolusi menyerupai konsep negara garnisun ekonomi yang pernah dilontarkan oleh Harold Lasswell. Blok raksasa yang mewakili tiga puluh persen populasi global ini mengakselerasi integrasi ekonominya bukan karena mimpi kemakmuran bersama, melainkan semata-mata demi membentengi diri dari guncangan eksternal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah operasional pertama dari benteng ini adalah tren dedolarisasi transaksional, sebuah taktik pragmatis untuk memangkas paparan mematikan dari volatilitas nilai tukar Dolar Amerika Serikat. Kesepakatan penyelesaian transaksi mata uang lokal antarnegara Asia kini menjamur pesat, bertransformasi wujud dari sekadar manuver moneter menjadi instrumen utama evolusi pertahanan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh lagi, orientasi rantai pasok industri manufaktur tidak lagi membentang ke pasar Barat, melainkan melipat tajam ke dalam untuk merajut ekosistem utuh di intra-Asia. Kekayaan bahan mentah dari suatu negara kini diproses sekaligus dirakit oleh negara tetangganya sendiri guna membangun imunitas kolektif terhadap maraknya disrupsi pelayaran internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah badai lanskap yang terfragmentasi ini, Indonesia mau tidak mau dipaksa mengadopsi doktrin penyeimbangan ke segala arah, persis seperti yang dianalisis oleh Steven David. Para pembuat kebijakan di Jakarta harus lincah menyeimbangkan intervensi geopolitik dari luar, sembari berusaha keras menjinakkan potensi instabilitas sosial akibat melonjaknya beban subsidi di dalam negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun secara paradoks, krisis energi global ini justru mendongkrak daya tawar diplomasi Indonesia berkat dominasinya atas nyaris separuh cadangan nikel di muka bumi. Memasuki era geoekonomi modern, mineral kritis bukan lagi sebatas komoditas bongkar muat, melainkan telah bermetamorfosis menjadi mata uang geopolitik yang daya tekannya sangat absolut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintahan transisi secara strategis tengah membangun titik cekik industri global yang pada akhirnya akan memaksa para raksasa Asia untuk merogoh kocek investasi demi jaminan kelangsungan pasokan. Posisi optimal Indonesia pada konstelasi ke depan bukanlah bersolek menjadi juru damai pertempuran di Timur Tengah, melainkan tampil beringas sebagai arsitek utama bagi ketahanan ekonomi regional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika membaca peta probabilitas ke depan, nasib kawasan ini kemungkinan besar akan berjalan di atas skenario koordinasi dingin yang sangat transaksional. Negara-negara Asia akan saling merajut jejaring pengamanan ekonomi tanpa pernah berniat membentuk institusi formal supranasional, menjadikan Asia sebuah benua yang dipersatukan murni oleh kalkulasi.Pada analisis akhirnya, tontonan konflik antara Amerika Serikat dan musuh-musuhnya tidak akan pernah melahirkan fajar bagi Uni Asia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Gemuruh perang tersebut hanya akan mencetak sebuah kawasan yang semakin sinis, secara ekonomi proteksionis, dan akan selalu terfragmentasi secara tajam dalam urusan politik kedaulatan. Di tengah panggung dunia yang secara brutal terus memecah belah dirinya sendiri ini, mengadopsi sikap pragmatisme yang berjarak dan dingin adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan untuk terus menyambung napas. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BJwCFaaCh-g"><iframe title="Netanyahu, Khomeini, dan Era Perdamaian Panas?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BJwCFaaCh-g?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/poros-baru-prabowo-xi-takaichi.mp3" length="4176980" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/poros-baru-prabowo-xi-takaichi-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Xi Jinping Ancaman Buat Putin?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/xi-jinping-ancaman-buat-putin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2026 03:25:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Vladimir Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167385</guid>

					<description><![CDATA[Pesona Tiongkok dalam politik internasional dinilai bisa berdampak pada erosi hubungannya dengan Rusia. Mengapa demikian?

Ilustrasi: AI-generated]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/download-6.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesona Tiongkok dalam politik internasional dinilai bisa berdampak pada erosi hubungannya dengan Rusia. Mengapa demikian?</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://Www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Beberapa bulan terakhir, lanskap politik internasional terasa seperti papan catur yang bidaknya tiba-tiba bergerak tidak sesuai prediksi. Tiongkok dan Amerika Serikat—yang selama ini dianggap sedang menuju rivalitas tanpa rem—justru menunjukkan sinyal komunikasi yang lebih hangat, dibuktikan dengan telepon yang terjadi antara Donald Trump dan Xi Jinping pada Februari ini, keduanya bahkan berencana bertemu pada April mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat yang sama, Beijing pun terlihat semakin aktif menerima kunjungan pemimpin negara besar Eropa dan mitra ekonomi utama dunia, dalam 2 bulan terakhir menemui kepala negara Prancis, Inggris, Hingga Kanada. Situasi ini memunculkan pertanyaan baru: jika Tiongkok berhasil memperluas ruang dialog dengan Barat, bagaimana dampaknya terhadap hubungan strategisnya dengan Rusia?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama beberapa tahun terakhir, Moskow dan Beijing kerap dipersepsikan sebagai poros tandingan terhadap status quo. Namun, hubungan antarnegara besar jarang benar-benar permanen. Sejarah menunjukkan bahwa kedekatan geopolitik sering kali bersifat situasional, bukan ideologis. Maka, wajar jika muncul spekulasi: apakah peningkatan fleksibilitas diplomasi Tiongkok akan mengubah posisi Rusia dalam kalkulasi strategis Beijing?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan ini penting bukan hanya untuk memahami hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga untuk membaca arah konstelasi global. Jika dinamika Tiongkok–Barat berubah, maka keseimbangan kekuatan Eurasia, pasar energi global, hingga strategi negara-negara berkembang bisa ikut terdampak. Untuk memahami potensi pergeseran tersebut, kita perlu melihat fondasi hubungan Rusia–Tiongkok secara lebih jernih—baik dari sisi ekonomi, geopolitik, teori hubungan internasional, maupun jejak sejarah panjang keduanya.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-819x1024.webp" alt="copyimage" class="wp-image-167389" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-819x1024.webp 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-240x300.webp 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-120x150.webp 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-768x960.webp 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-150x188.webp 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-300x375.webp 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-696x870.webp 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1068x1335.webp 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage.webp 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Apakah Fondasi Aliansi itu Kokoh?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, dari sudut pandang ekonomi, relasi Rusia–Tiongkok sebenarnya tidak sepenuhnya simetris. Rusia banyak bergantung pada ekspor energi dan komoditas ke Tiongkok, sementara Beijing memperoleh barang mentah sekaligus pasar baru bagi produk industrinya. Dalam beberapa tahun terakhir, posisi tawar Tiongkok terlihat meningkat, terutama karena Rusia kehilangan sebagian akses pasar Barat akibat sanksi internasional. Situasi ini menciptakan hubungan yang cenderung tidak seimbang—dan hubungan asimetris jarang stabil dalam jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, dari sisi geopolitik, ada beberapa wilayah yang berpotensi menjadi titik friksi. Asia Tengah, misalnya, merupakan kawasan yang secara historis berada dalam orbit keamanan Rusia, tetapi kini semakin terintegrasi dengan ekonomi Tiongkok melalui proyek infrastruktur dan investasi besar. Demikian pula Arktik, yang dilihat Moskow sebagai wilayah strategis, sementara Beijing mulai memposisikan diri sebagai pemain ekonomi penting melalui jalur pelayaran dan energi. Meski belum memicu konflik terbuka, tumpang tindih kepentingan ini bisa menimbulkan ketegangan laten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, teori hubungan internasional memberi kacamata tambahan. Dalam konsep Complex Interdependence, negara cenderung memprioritaskan mitra yang memberi akses teknologi tinggi, pasar luas, serta stabilitas finansial. Dari perspektif ini, Eropa dan Amerika Serikat tetap memiliki daya tarik ekonomi yang sulit digantikan Rusia. Kedekatan berlebihan dengan Moskow berisiko menimbulkan sanksi sekunder atau hambatan perdagangan, sehingga secara rasional Beijing memiliki insentif untuk menjaga hubungan yang seimbang dengan Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang sering terlupakan adalah faktor sejarah panjang hubungan Rusia–Tiongkok yang tidak selalu harmonis. Pada era Kekaisaran Rusia abad ke-19, kedua kekuatan pernah bersaing memperebutkan pengaruh di Asia Timur dan Asia Tengah. Perjanjian-perjanjian perbatasan pada masa itu bahkan dianggap sebagian sejarawan Tiongkok sebagai “perjanjian tidak adil” yang merugikan Beijing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketegangan berlanjut pada era Perang Dingin. Awalnya, Republik Rakyat Tiongkok dan Uni Soviet tampil sebagai sekutu ideologis, tetapi hubungan mereka pecah pada akhir 1950-an. Persaingan ideologi antara Mao Zedong dan Nikita Khrushchev berkembang menjadi konflik geopolitik terbuka. Puncaknya terjadi pada 1969, ketika bentrokan bersenjata di Sungai Ussuri hampir memicu perang besar antara dua negara komunis tersebut.<br>Menariknya, setelah hubungan dengan Soviet memburuk, Tiongkok justru mendekat ke Amerika Serikat pada awal 1970-an—sebuah langkah pragmatis yang mengubah keseimbangan global saat itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunjungan Richard Nixon ke Beijing menjadi simbol bagaimana Tiongkok mampu mengubah orientasi strategisnya ketika kepentingan nasional menuntutnya. Di ujung Perang Dingin, Beijing kembali menunjukkan fleksibilitas serupa dengan memperluas hubungan ekonomi global, termasuk dengan negara-negara Barat.<br>Jejak sejarah ini memperlihatkan pola konsisten: kebijakan luar negeri Tiongkok cenderung pragmatis dan berbasis kepentingan, bukan kesetiaan permanen terhadap satu blok. Artinya, kedekatan dengan Rusia saat ini tidak otomatis menjamin hubungan yang sama di masa depan—terutama jika lingkungan geopolitik berubah atau peluang ekonomi baru muncul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski demikian, penting dicatat bahwa hubungan Rusia–Tiongkok tetap memiliki kepentingan bersama yang kuat, seperti keinginan mengurangi dominasi sistem internasional yang dianggap terlalu berpusat pada Barat. Kepentingan inilah yang membuat keduanya tetap bekerja sama dalam berbagai forum internasional dan proyek energi besar. Karena itu, pembicaraan tentang “perpecahan total” masih terlalu prematur.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-819x1024.webp" alt="copyimage" class="wp-image-167390" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-819x1024.webp 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-240x300.webp 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-120x150.webp 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-768x960.webp 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-150x188.webp 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-300x375.webp 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-696x870.webp 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1-1068x1335.webp 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/copyimage-1.webp 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading">Belum Terjadi, Tapi ada Probabilitas?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Melihat semua faktor tersebut, kemungkinan yang lebih realistis bukanlah perceraian geopolitik yang dramatis, melainkan perubahan perlahan dalam hierarki hubungan. Tiongkok mungkin tetap menjaga kemitraan strategis dengan Rusia, tetapi secara paralel memperluas ruang kerja sama dengan Barat demi stabilitas ekonomi dan teknologi. Dunia bisa menyaksikan hubungan yang secara formal tetap erat, namun secara substansi menjadi lebih pragmatis dan selektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Rusia, tantangan utamanya adalah bagaimana mempertahankan posisi sebagai mitra strategis, bukan sekadar pemasok energi. Sementara bagi Tiongkok, menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi global dan kemitraan geopolitik menjadi kunci untuk menghindari isolasi. Kedua negara memiliki insentif untuk tetap bekerja sama, tetapi sejarah menunjukkan bahwa kepentingan nasional selalu menjadi faktor penentu utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, hubungan Rusia–Tiongkok mungkin lebih mirip dua kekuatan besar yang saling membutuhkan sekaligus saling waspada. Selama tekanan eksternal masih tinggi, keduanya cenderung mempertahankan kedekatan. Namun, jika lanskap global berubah—misalnya melalui perbaikan hubungan Tiongkok dengan Barat—keseimbangan internal kemitraan ini bisa ikut bergeser.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi pengamat geopolitik, pertanyaan menarik ke depan bukanlah apakah mereka akan berpisah, melainkan bagaimana bentuk hubungan baru yang mungkin muncul: apakah tetap menjadi aliansi pragmatis yang fleksibel, atau perlahan berubah menjadi rivalitas diam-diam di bawah permukaan kerja sama? Jawabannya akan sangat menentukan arah politik Eurasia dan dinamika kekuatan global di dekade mendatang. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/download-6.wav" length="21508410" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/20260208_0951_image-generation_simple_compose_01kgxjj8q5exta9v14eka15g17-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Emas, Kartu Truf Xi Jinping?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/emas-kartu-truf-xi-jinping/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Jan 2026 03:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[emas]]></category>
		<category><![CDATA[geopolitik]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166925</guid>

					<description><![CDATA[Belakangan muncul rumor bahwa Tiongkok menyimpan pasokan emas yang jauh lebih banyak dari data resminya. Mungkinkah ini dibuktikan?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/download-2-1.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Belakangan muncul rumor bahwa Tiongkok menyimpan pasokan emas yang jauh lebih banyak dari data resminya. Mungkinkah ini dibuktikan?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, pasar global diramaikan oleh satu rumor yang terus berulang dan sulit sepenuhnya diabaikan: Tiongkok diduga menyimpan cadangan emas jauh lebih besar dari angka resmi yang dilaporkan ke publik. Isu ini beredar di kalangan analis keuangan, pengamat geopolitik, hingga komunitas pasar emas internasional. Meski kerap diklasifikasikan sebagai spekulasi, rumor tersebut tidak pernah benar-benar menghilang—justru terus muncul dalam konteks krisis, de-dolarisasi, dan rivalitas kekuatan besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara resmi, cadangan emas Tiongkok tampak relatif terbatas jika dibandingkan dengan ukuran ekonominya. Angka yang diumumkan tidak mencerminkan posisi China sebagai negara dengan surplus perdagangan besar, cadangan devisa raksasa, dan ambisi global yang semakin tegas. Di sisi lain, perilaku Beijing di pasar emas justru memunculkan tanda tanya. Pembelian emas oleh bank sentral yang konsisten dan status Tiongkok sebagai produsen emas terbesar dunia menjadi anomali yang mengundang interpretasi lebih jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah rumor ini benar atau salah. Yang lebih penting adalah mengapa asumsi tersebut terasa masuk akal bagi sebagian pelaku pasar, dan apa implikasinya bagi tatanan ekonomi serta geopolitik global jika asumsi itu—sebagian atau seluruhnya—mendekati kenyataan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3.png" alt="image" class="wp-image-166929" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-3-696x870.png 696w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mengapa Kepemilikan Emas Tiongkok Penting?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu ditegaskan sejak awal bahwa klaim Tiongkok menyimpan cadangan emas jauh di atas data resmi adalah asumsi, bukan fakta terverifikasi. Tidak ada bukti publik yang dapat secara meyakinkan menunjukkan keberadaan “emas tersembunyi” dalam skala masif. Namun, asumsi ini muncul bukan dari ruang hampa. Ia lahir dari pembacaan terhadap pola perilaku ekonomi dan strategi negara yang konsisten dalam jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">People’s Bank of China (PBoC) tercatat rutin menambah cadangan emasnya hampir setiap tahun sejak awal 2020-an. Penambahannya memang tidak spektakuler dalam satu waktu, tetapi berlangsung stabil dan berkelanjutan. Pola ini berbeda dengan negara yang membeli emas secara sporadis atau reaktif. Di pasar moneter internasional, konsistensi semacam ini sering dibaca sebagai sinyal strategi jangka panjang, bukan respons sesaat terhadap fluktuasi harga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat yang sama, Tiongkok juga merupakan produsen emas terbesar dunia. Produksi domestiknya sangat besar, sementara ekspor emas relatif dibatasi. Artinya, sebagian besar emas yang ditambang tetap berada di dalam negeri, baik untuk konsumsi pasar domestik, investasi, maupun cadangan strategis. Kombinasi antara produksi besar, pembelian rutin oleh bank sentral, dan keterbatasan ekspor inilah yang memicu dugaan bahwa akumulasi emas Tiongkok mungkin lebih besar dari yang terlihat di permukaan data resmi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kacamata teori hubungan internasional, perilaku ini dapat dibaca melalui lensa Realisme Struktural sebagaimana dikemukakan John Mearsheimer. Dalam sistem internasional yang anarkis, negara besar cenderung memaksimalkan aset strategisnya untuk bertahan dan memperkuat posisi relatifnya. Transparansi bukan tujuan utama; keamanan dan keunggulan relatiflah yang menjadi prioritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Emas, dalam konteks ini, bukan sekadar komoditas. Dalam teori moneter klasik dan pemikiran Robert Triffin, emas berfungsi sebagai penyangga kepercayaan terhadap mata uang. Ia tidak harus menggantikan sistem fiat, tetapi berperan sebagai “jangkar psikologis” dalam situasi krisis. Ketika kepercayaan terhadap mata uang utama dunia—terutama dolar AS—mengalami tekanan, emas kembali memperoleh relevansinya sebagai aset lindung nilai terakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Tiongkok memang menyimpan cadangan emas lebih besar dari yang diumumkan, implikasinya signifikan. Pertama, hal ini akan memperkuat posisi yuan sebagai mata uang internasional, atau setidaknya meningkatkan kredibilitasnya dalam transaksi bilateral dan kawasan. Kedua, Beijing akan memiliki ruang manuver lebih luas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS tanpa harus melakukan konfrontasi terbuka. Ketiga, emas memberi fleksibilitas kebijakan moneter dalam menghadapi krisis global—baik krisis keuangan, sanksi ekonomi, maupun fragmentasi sistem pembayaran internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, justru karena implikasinya besar, kabar ini menjadi hampir mustahil untuk diverifikasi. Jika Tiongkok benar memiliki cadangan emas jauh lebih besar, rasional bagi Beijing untuk tidak mengungkapkannya. Transparansi penuh berpotensi memicu gejolak pasar, mengerek harga emas secara tajam, dan memancing reaksi geopolitik dari Amerika Serikat serta sekutunya. Dalam konteks rivalitas strategis, informasi sering kali lebih bernilai ketika disembunyikan daripada diumumkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerumitan bertambah ketika pasar global sempat diguncang oleh isu beredarnya emas palsu yang dikaitkan dengan rantai pasok dari Tiongkok. Terlepas dari akurasi dan skala isu tersebut, dampaknya nyata: kepercayaan terhadap data fisik emas semakin rapuh. Jika kualitas emas saja bisa diperdebatkan, maka verifikasi cadangan dalam skala negara menjadi semakin sulit dilakukan secara independen.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4.png" alt="image" class="wp-image-166930" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/image-4-696x870.png 696w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kalaupun Ada, Pasti Disembunyikan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan besar kerap menyembunyikan aset kunci hingga momen krisis tiba. Amerika Serikat, misalnya, baru sepenuhnya menampilkan dominasi industri dan finansialnya setelah Perang Dunia II berakhir. Dalam konteks keamanan, konsep “nuclear deterrence” justru bekerja efektif karena ambigu—lawan tidak pernah benar-benar tahu sejauh mana kekuatan yang dimiliki, tetapi cukup yakin bahwa risikonya terlalu besar untuk diabaikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Emas Tiongkok, jika memang ada dalam jumlah lebih besar dari data resmi, tampaknya berada dalam logika serupa. Nilainya bukan semata pada jumlah yang diumumkan, melainkan pada kemungkinan keberadaannya. Ketidakpastian itu sendiri sudah cukup untuk memengaruhi persepsi pasar, perhitungan strategis negara lain, dan arah diskusi tentang masa depan sistem moneter global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, rumor tentang “emas tersembunyi” Tiongkok tidak harus dibenarkan untuk dianggap relevan. Ia berfungsi sebagai cermin dari kondisi yang lebih dalam: ketidakpastian moneter global yang kian meningkat, menurunnya kepercayaan absolut pada satu mata uang dominan, dan munculnya dunia yang semakin multipolar secara ekonomi. Dalam lanskap seperti ini, emas—baik nyata maupun simbolik—kembali menjadi bahasa kekuasaan yang dipahami semua pihak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah Tiongkok benar-benar memegang kartu truf itu, mungkin tidak akan pernah kita ketahui. Namun fakta bahwa pertanyaan ini terus muncul sudah cukup untuk menunjukkan bahwa fondasi ekonomi global sedang bergerak, dan tidak lagi sepenuhnya stabil seperti yang selama ini diasumsikan. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe loading="lazy" title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/download-2-1.wav" length="21103290" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/20260121_1645_strategic-duel-unveiled_simple_compose_01kffz3nh0f9397r70fy0d0ek0-683x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Politik Kubis: “Senjata” Rahasia Tiongkok?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/politik-kubis-senjata-rahasa-tiongkok/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2025 10:21:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ketahanan Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166265</guid>

					<description><![CDATA[Kekuatan Tiongkok bukan cuma teknologi atau militer, tapi stabilitas harga pangan. Dari Vegetable Basket Program, kubis menjelma senjata geopolitik.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan audio ini</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/download-6.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kekuatan Tiongkok bukan cuma teknologi atau militer, tapi stabilitas harga pangan. Dari Vegetable Basket Program, kubis menjelma kekuatan geopolitik.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Dalam diskursus geopolitik global, kekuatan Tiongkok hampir selalu dibaca melalui tiga lensa besar: teknologi, manufaktur, dan militer. Dari kecanggihan AI hingga modernisasi angkatan bersenjata, Beijing tampak membangun hard power yang sulit disaingi. Namun, di balik semua itu, ada fondasi yang jauh lebih senyap—bahkan nyaris luput dari perbincangan publik: stabilitas harga pangan, terutama sayur dan kebutuhan harian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama beberapa dekade terakhir, fluktuasi harga sembako di Tiongkok relatif terjaga. Bukan berarti tanpa gejolak sama sekali, tetapi lonjakan ekstrem yang bisa memicu kepanikan publik jarang terjadi. Fakta ini menjadi semakin relevan ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Saat banyak negara mengalami gangguan pasokan dan lonjakan harga pangan, Tiongkok justru termasuk negara dengan tingkat keamanan pangan domestik yang relatif stabil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Tiongkok hari ini juga tercatat sebagai konsumen sayur terbesar di dunia. Bukan karena ketergantungan pada impor, melainkan karena pasokan domestik yang melimpah dan akses yang terjaga. Pertanyaannya kemudian bukan sekadar soal produksi, melainkan: bagaimana negara ini membangun sistem yang membuat pangan—sesuatu yang sangat sensitif secara politik—tetap terkendali?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jawabannya membawa kita pada satu kebijakan yang jarang disorot, tetapi berdampak struktural: Vegetable Basket Program.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8.png" alt="image" class="wp-image-166268" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-8-696x870.png 696w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kekuatan Vegetable Basket Program?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Vegetable Basket Program, atau Càilánzi Gōngchéng (菜篮子工程), diluncurkan pada 1988, sebuah periode penting dalam sejarah ekonomi Tiongkok. Saat itu, reformasi pasar ala Deng Xiaoping mulai mendorong pertumbuhan pesat, tetapi juga memunculkan persoalan klasik: inflasi pangan dan ketidakpastian pasokan, terutama di kota-kota besar. Krisis pangan yang berulang menjadi alarm politik yang serius.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Program ini memiliki karakter khas: pemerintah daerah—bahkan walikota—dibuat bertanggung jawab langsung atas pasokan dan harga pangan segar. Bukan hanya beras, tetapi sayur, daging, telur, ikan, dan kebutuhan harian lainnya. Negara tidak mengambil jalan ekstrem dengan mematikan mekanisme pasar, tetapi membangun arsitektur sistem pangan: produksi dekat pusat konsumsi, pengembangan logistik rantai dingin, pasar grosir yang terkontrol, serta insentif bagi petani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuannya jelas: harga pangan tidak boleh menjadi sumber instabilitas sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif geopolitik, pendekatan ini menjelaskan satu hal penting: ketahanan pangan adalah sumber kekuatan negara. Nicholas J. Spykman, salah satu pemikir geopolitik klasik, menyebut ketahanan material domestik sebagai nexus of power. Negara yang gagal memberi makan rakyatnya, sekuat apa pun militernya, akan rapuh dari dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Harga sayur memiliki karakter unik. Ia dikonsumsi setiap hari, dirasakan lintas kelas sosial, dan langsung memengaruhi emosi publik. Kenaikan kecil saja dapat terasa besar bagi jutaan rumah tangga. Karena itu, stabilitas harga pangan berfungsi sebagai peredam volatilitas sosial. Ketika perut relatif tenang, negara memiliki ruang bernapas untuk fokus pada agenda strategis lain: industrialisasi, teknologi, hingga proyeksi kekuatan militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah Performance Legitimacy Theory menjadi relevan. Dalam sistem politik seperti Tiongkok, legitimasi kekuasaan tidak bersumber dari pemilu kompetitif, melainkan dari kinerja nyata negara. Negara dianggap sah selama ia “berfungsi”—menjaga stabilitas, menyediakan kebutuhan dasar, dan menghindari krisis yang dirasakan langsung oleh publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pangan murah dan tersedia menjadi indikator performa yang paling kasat mata. Ia tidak memerlukan propaganda berlebihan; cukup hadir di pasar dan dapur rumah tangga. Ketika sistem pangan berjalan, legitimasi bekerja secara senyap.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Sejarah mencatat Romawi Kuno dengan konsep bread and circuses—subsidi gandum untuk menjaga ketertiban kota. Elit Romawi memahami bahwa ketidakpuasan jarang lahir dari ideologi abstrak, melainkan dari kelaparan dan harga pangan yang melambung. Mereka melihat bahwa se-idealis apapun sebuah pemerintahan, kesuksesannya akan kembali ke bagaimana mereka menjaga pasokan makanan untuk seluruh lapisan masyarakat</p>



<p class="wp-block-paragraph">Vegetable Basket Program dapat dibaca sebagai versi mutakhir dari logika yang sama: mengelola kebutuhan biologis sebagai bagian dari stabilitas politik. Ia bukan kebijakan populis sesaat, melainkan strategi jangka panjang menjaga kestabilan ekonomi dan politik.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9.png" alt="image" class="wp-image-166269" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/image-9-696x870.png 696w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ketahanan Pangan ala Indonesia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pembacaan ini menjadi relevan ketika ditarik ke konteks Indonesia. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, isu ketahanan pangan kembali ditempatkan sebagai agenda strategis nasional. Dari dorongan swasembada hingga penguatan desa melalui program seperti Koperasi Desa Merah Putih, negara mulai kembali menaruh fokus bahwa pangan bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan fondasi stabilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tantangannya, seperti yang ditunjukkan pengalaman Tiongkok, bukan hanya soal produksi masif. Produksi tinggi perlu didukung distribusi yang efisien agar tidak melahirkan paradoks: surplus di satu titik, kelangkaan di titik lain. Yang dibutuhkan adalah arsitektur sistem pangan—dari logistik, penyimpanan, tata niaga, hingga birokrasi. Untungnya, pola belakangan memperlihatkan tren yang cukup positif, seperti dengan produksi beras yang menjadi paling tinggi setelah puluhan tahun terakhir, dan sinergi antara produsen dengan Bulog yang kini secara strategis kembali disegarkan oleh Menteri Pertanian Amran Sulaiman, sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelajaran dari Vegetable Basket Program tentu bukan untuk disalin mentah-mentah. Indonesia memiliki konteks sosial, geografis, dan politik yang berbeda. Namun, prinsip dasarnya relevan: harga pangan yang stabil adalah kebijakan politik, bukan sekadar kebijakan teknis. Ia berfungsi sebagai bantalan sosial sekaligus indikator kinerja negara di mata rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika Tiongkok mampu menjaga stabilitas melalui pengelolaan pangan yang konsisten selama puluhan tahun, maka tantangan Indonesia ke depan adalah mengadaptasi logika tersebut secara kontekstual, memastikan bahwa pembangunan ekonomi tidak pernah terlepas dari kebutuhan paling dasar warga: perut yang kenyang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, kekuatan negara tidak selalu lahir dari misil, chip, atau angka pertumbuhan. Kadang, ia justru berawal dari sesuatu yang paling sederhana—kubis di pasar, harga di dapur, dan rasa aman di meja makan. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="PevHeiO9u7o"><iframe loading="lazy" title="Terbaik! Pasukan Baret Biru TNI Siap OTW Gaza" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/PevHeiO9u7o?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/download-6.wav" length="19436730" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/20251229_1714_xi-jinping-memegang-kubis_simple_compose_01kdmsjhzceedsmxmbh3v2ch7v-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Duel “Raja Game” MbS–Xi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/duel-raja-game-mbs-xi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2025 13:43:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Game]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164824</guid>

					<description><![CDATA[Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Arab Saudi dan Tiongkok kini tengah bertarung di medan baru: industri game global. Di era digital ini, perebutan pengaruh tak lagi lewat senjata atau minyak, melainkan lewat piksel dan budaya pop. PinterPolitik.com Dalam beberapa tahun terakhir, langkah investasi Arab Saudi di industri hiburan global tampak semakin agresif—dan kali ini, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/dalam-beberapa-tahun.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Arab Saudi dan Tiongkok kini tengah bertarung di medan baru: industri game global. Di era digital ini, perebutan pengaruh tak lagi lewat senjata atau minyak, melainkan lewat piksel dan budaya pop.</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://Www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, langkah investasi Arab Saudi di industri hiburan global tampak semakin agresif—dan kali ini, sasarannya bukan sepak bola, melainkan industri game. Setelah sebelumnya menggegerkan dunia dengan menghadirkan Cristiano Ronaldo ke Liga Arab Saudi, kini kerajaan di bawah kendali Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MbS) tampak ingin menaklukkan panggung digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui Public Investment Fund (PIF), Arab Saudi mengakuisisi saham di sejumlah raksasa industri game seperti EA Games, Take-Two Interactive, Nintendo, Activision Blizzard, hingga Capcom. Nilainya luar biasa: diperkirakan mencapai lebih dari Rp1.200 triliun dalam lima tahun terakhir. Langkah besar ini membuat Arab Saudi bukan hanya pemain baru di dunia game, tapi juga salah satu pemegang saham terbesar di beberapa studio paling berpengaruh di planet ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik deretan akuisisi tersebut, ada strategi besar yang mulai terlihat: apakah itu?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-819x1024.jpg" alt="17602745530257962043050834639125" class="wp-image-164828" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602745530257962043050834639125.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Di Balik Ambisi Game Arab Saudi</strong>?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa Arab Saudi tiba-tiba begitu tertarik menanam modal di industri game? Setidaknya ada tiga faktor utama yang menjelaskan fenomena ini: prospek bisnis, diversifikasi ekonomi, dan soft power geopolitik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">a. Prospek Bisnis yang Menjanjikan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Industri game kini menjadi sektor hiburan terbesar di dunia. Menurut laporan Statista, nilai pasar global game pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai sekitar Rp3.000 triliun, melampaui gabungan pendapatan industri film dan musik. Dengan pertumbuhan rata-rata di atas 9 persen per tahun, game bukan lagi sekadar hiburan remaja, melainkan arena bisnis strategis yang menghubungkan teknologi, budaya pop, dan ekonomi digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Arab Saudi tampaknya memahami potensi ini lebih cepat daripada banyak negara lain. Dengan mayoritas penduduknya berusia muda—sekitar 70 persen di bawah usia 35 tahun—game juga menjadi medium alami untuk menyerap kreativitas, inovasi, dan partisipasi generasi digital. Bagi MbS, ini bukan hanya investasi, tetapi juga cara membangun “ekosistem ekonomi masa depan” di luar minyak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">b. Diversifikasi Ekonomi dan Visi 2030</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor kedua adalah agenda diversifikasi ekonomi. Sejak 2016, Vision 2030 menjadi dokumen panduan utama arah pembangunan Arab Saudi. Salah satu tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap minyak, yang selama puluhan tahun menjadi sumber utama pendapatan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mencapai itu, MbS berupaya menciptakan “pilar-pilar ekonomi baru” di sektor pariwisata, hiburan, teknologi, dan digital. Investasi pada industri game, e-sports, dan creative media masuk dalam agenda besar tersebut. Arab Saudi bahkan telah membentuk Savvy Games Group, anak perusahaan PIF yang khusus berfokus pada investasi global di sektor gaming dan e-sports.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah ini tak hanya memperluas portofolio ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru bagi ribuan warga muda Saudi. Dalam jangka panjang, kebijakan ini bisa menjadi instrumen penting memperkuat legitimasi politik MbS di dalam negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">c. Game sebagai Alat Soft Power</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor ketiga—dan mungkin paling menarik—adalah penggunaan industri game sebagai instrumen soft power.<br>Dalam teori politik internasional, soft power mengacu pada kemampuan suatu negara memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan gaya hidup, bukan lewat tekanan militer atau ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menjadi pemilik saham besar di berbagai studio game global, Arab Saudi pada dasarnya sedang membeli panggung budaya digital dunia. Game modern seperti FIFA, GTA, atau Call of Duty bukan hanya produk hiburan; mereka adalah media yang membentuk persepsi, imajinasi, bahkan identitas generasi muda di seluruh dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui jalur ini, Arab Saudi bisa menanamkan citra baru: bukan lagi negara konservatif yang kaku, tapi negara modern yang terlibat aktif dalam budaya global. Strategi ini sejajar dengan kampanye branding nation lainnya—seperti pendirian kota futuristik NEOM atau penyelenggaraan konser dan festival internasional di Riyadh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam jangka panjang, kepemilikan atas narasi budaya digital bisa menjadi sumber pengaruh yang tak kalah kuat dibandingkan minyak atau diplomasi militer. Dunia mungkin sedang menyaksikan lahirnya bentuk baru diplomasi: game diplomacy.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-819x1024.jpg" alt="17602750550164656587880994497479" class="wp-image-164830" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/17602750550164656587880994497479.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Berhadapan dengan Tiongkok?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Arab Saudi bukan satu-satunya negara yang melihat potensi politik dan ekonomi di balik industri game. Di Asia Timur, Tiongkok di bawah kepemimpinan Xi Jinping juga tengah menguatkan posisi sebagai kekuatan besar di bidang yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiongkok selama bertahun-tahun telah menjadi rumah bagi raksasa industri seperti Tencent dan NetEase, dua perusahaan yang menguasai sebagian besar pasar game global. Tencent, misalnya, memiliki saham di Riot Games (pencipta League of Legends), Epic Games (Fortnite), hingga Supercell (Clash of Clans). Di sisi lain, NetEase terus memperluas pengaruhnya melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Amerika dan Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bedanya dengan Arab Saudi, Tiongkok tidak hanya berperan sebagai investor, tapi juga produsen dan regulator. Pemerintah Xi melihat industri game sebagai bagian dari keamanan budaya nasional (cultural security). Game di-manage agar selaras dengan nilai-nilai ideologis penting, sekaligus dijadikan instrumen export culture ke luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika pada masa Perang Dingin dulu pertarungan budaya terjadi antara Amerika Serikat dan Uni Soviet melalui film, musik, dan propaganda media, maka di era digital kini muncul babak baru: “perang budaya lunak” antara Tiongkok dan Arab Saudi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya menggunakan game sebagai senjata halus untuk membangun pengaruh global—Tiongkok lewat produksi dan ekspor konten, Arab Saudi lewat investasi dan kepemilikan modal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, muncul pertanyaan menarik: siapa yang akan menjadi “raja game” dunia di masa depan—MbS dengan kekuatan dananya, atau Xi dengan kekuatan industrinya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin jawabannya tidak sesederhana itu. Dunia digital tidak lagi mengenal batas negara seperti dalam geopolitik klasik. Namun satu hal pasti, industri game kini telah menjadi arena baru perebutan pengaruh global, tempat para pemimpin dunia tak lagi bertarung dengan senjata dan minyak, tetapi dengan piksel, budaya, dan imajinasi. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="poKhdxDXaoo"><iframe loading="lazy" title="Ini Alasan Prabowo “Pede” Masuk BRICS?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/poKhdxDXaoo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/dalam-beberapa-tahun.mp3" length="2768017" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/20251012_2001_bermain-game-bersama_simple_compose_01k7c82tqke9gstjybg9hgxcg0.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
