<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Wapres &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/wapres/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 29 Apr 2026 03:10:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/08/cropped-logo-p-32x32.png</url>
	<title>Wapres &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Pintu yang Tidak Selalu Terbuka</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/pintu-yang-tidak-selalu-terbuka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2026 02:57:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169069</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #21PinterPolitik.com Di sebuah rumah di kawasan selatan Jakarta, ada pintu kayu yang tidak selalu terbuka. Pada pertengahan Februari lalu, di balik pintu itu, Jusuf Kalla menyampaikan sembilan pesan untuk Presiden Prabowo Subianto — [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-3-1-p0m2xker-1.mp3"></audio></figure>



<p>Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong>KATA PEMRED #21</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p>Di sebuah rumah di kawasan selatan Jakarta, ada pintu kayu yang tidak selalu terbuka. Pada pertengahan Februari lalu, di balik pintu itu, Jusuf Kalla menyampaikan sembilan pesan untuk Presiden Prabowo Subianto — dengan satu syarat: jangan diumumkan ke publik. Beberapa minggu kemudian, suara dari rumah yang sama terdengar di hampir setiap layar kaca. Kontradiksi itu bukan kontradiksi politik. Ia kontradiksi tentang sifat pengaruh.</p>



<p>Saluran rahasia dipakai untuk hal yang serius. Saluran publik dipakai untuk hal yang membutuhkan tekanan kolektif. Mencampur keduanya adalah kebingungan struktural — bukan strategi. Hasilnya telah hadir di publik. Dalam hitungan minggu sejak nasihat itu bergulir di awal April, sejumlah pejabat di lingkar pemerintah — dari kabinet hingga parlemen — memilih jalur kebijakan subsidi yang berbeda. Mereka bukan oposisi. Mereka bagian dari koalisi yang seharusnya menjadi pendengar paling siap. Bila pendengar yang paling siap pun tidak terbawa, ada dua kemungkinan. Pertama, masalahnya pada medium. Kedua, dan ini yang lebih sulit dihadapi: masalahnya pada asumsi bahwa setiap suara dari masa lalu masih membawa bobot yang sama di struktur kekuasaan hari ini.</p>



<p class="has-text-align-center"><em>“Bila pendengar yang paling siap pun tidak terbawa, masalahnya bukan tentang isi pesan. Masalahnya tentang asumsi bahwa setiap suara dari masa lalu masih membawa bobot yang sama di struktur kekuasaan hari ini.”</em></p>



<p>Ada sesuatu yang jarang diakui dalam literatur kepemimpinan: setiap keberhasilan besar membawa serta beban epistemiknya sendiri. Malino, dengan segala keagungannya, mengandung satu beban yang jarang disadari oleh pembawanya — keyakinan bahwa konteks hari ini masih bisa dijawab dengan refleks dua dekade lalu. Yang menyelamatkan konflik komunal tidak tentu menyelamatkan pemerintahan. Republik bergerak dalam fase. Setiap fase punya pusat gravitasi dan kosakatanya sendiri. Kebijaksanaan seorang mantan tidak diukur dari seberapa lama ia masih bicara — melainkan dari seberapa jeli ia membaca kapan ia sedang berdiri di luar pusat gravitasi yang aktif.</p>



<p>Pasca-kekuasaan adalah jabatan yang tidak dilantik. Tidak ada upacara, tidak ada sumpah, tidak ada bingkai konstitusional yang mengaturnya. Ia bukan ruang kosong; ia ruang yang dipenuhi pilihan-pilihan kecil yang akan membentuk bagaimana seseorang dikenang dua dekade ke depan. Milan Kundera pernah menulis bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan kelupaan. Yang jarang dikatakan: perjuangan republik menjaga negarawan tuanya pun adalah perjuangan ingatan — terhadap dirinya sendiri. Republik kita, dalam delapan dekade kemerdekaan, belum pernah mengajarkan jabatan itu kepada siapa pun. Setiap negarawan tua dipaksa menjadi tukang kayu sendiri — membangun pintunya, sering kali terlambat.</p>



<p>Hannah Arendt menulis tentang dua mode keberadaan: <em>vita activa</em> dan  — dunia tindakan harian, dan dunia jarak tempat seseorang menarik diri bukan untuk hilang, melainkan untuk melihat. Albert Hirschman menambahkan: setiap aktor politik punya tiga mode — keluar, bersuara, atau bertahan setia. Suara yang terus-menerus tanpa modulasi berubah menjadi gangguan. Republik tidak membutuhkan lebih banyak suara. Ia membutuhkan lebih sedikit suara — yang tepat.</p>



<p class="has-text-align-center"><em>“Kebijaksanaan seorang mantan tidak diukur dari seberapa lama ia masih bicara, melainkan dari seberapa jeli ia membaca kapan ia sedang berdiri di luar pusat gravitasi yang aktif.”</em></p>



<p>Bandingkan tiga rumah dalam republik yang sama. Habibie, setelah meninggalkan istana, mendirikan <em>The Habibie Center</em> dan menulis <em>Detik-Detik yang Menentukan </em>— memilih jalan <em>vita contemplativa</em>. Otoritas moralnya bertahan hingga hari kematiannya, dihormati bahkan oleh lawan paling keras. Megawati memilih PDIP sebagai benteng dan Teuku Umar sebagai filter — diam yang panjang, tetapi diam yang berdaya karena memiliki struktur. SBY memilih menjadi pelukis. Kanvas menjadi mediumnya, warna menjadi bahasanya. Sejak masa sekolah menengah ia melukis; kini lukisan menjadi pernyataan publik tanpa pidato. Di Pacitan, museum miliknya bersama Ani Yudhoyono diam-diam mendokumentasikan jejak hidup yang sengaja tidak dikomentari setiap minggu. SBY berbicara tanpa berbicara. Lawan dan teman membaca lukisannya dengan saksama — sebagaimana mereka dulu membaca pidatonya. Tiga rumah, tiga pilihan, tiga bahasa berbeda.</p>



<p>Lee Kuan Yew, dari negara kota yang tidak lebih besar dari satu provinsi kita, menjelaskan ekonomi pasca-kekuasaannya dalam satu prinsip. Ia menulis buku — tetapi tidak berbicara setiap hari. Ia memilih medium yang membuat setiap kalimatnya dibaca dua kali: sekali oleh teman, sekali oleh lawan. Ia juga jujur tentang sesuatu yang sering disembunyikan: setiap intervensi publik dari masa pasca-kekuasaan tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu membawa serta dimensi <em>positioning</em> — bukan dalam arti pejoratif, melainkan struktural. Ada yang ingin menjaga relevansi. Ada yang ingin membentuk ulang warisan. Negarawan yang cerdik tidak menyangkal motif itu; ia mengelolanya.</p>



<p>Di sinilah Presiden Prabowo Subianto sedang membaca sesuatu yang tidak banyak terbaca. Dalam enam bulan pertama pemerintahannya, ia datang ke Cikeas, ke Teuku Umar, ke kediaman Brawijaya. Ia mengirim utusan, mendengarkan tanpa janji yang tergesa, menyimpan banyak yang ia dengar tanpa mengumumkan apa yang ia putuskan. Setiap kunjungan dipikirkan, setiap kalimat ditahan, setiap waktu dipilih dengan presisi yang tidak terlihat. Para pendahulunya tidak melakukan ini — tidak dalam derajat ini, dan tidak dengan sikap ini. Banyak yang membaca isyarat itu sebagai protokol. Mereka keliru. Yang sedang dibangun adalah arsitektur — kontrak baru dengan para negarawan senior republik ini, sebuah <em>template</em> yang belum pernah ditawarkan oleh pendahulunya.</p>



<p>Ini adalah <em>template</em> yang tenang. Dan karena ia tenang, ia hampir luput dari liputan. Ada keahlian yang jarang dibicarakan dalam literatur kepemimpinan modern: keahlian membangun arsitektur tanpa pernah menamainya. Sebab nama adalah beban — yang dinamai harus dibela, sementara yang dijaga dalam diam dirasakan sebelum dideklarasikan. Prabowo memahami apa yang tidak semua kepala negara modern memahami: republik tidak dijaga oleh siapa yang paling keras berbicara, melainkan oleh arsitektur yang membuat setiap suara punya tempatnya. Ia menawarkan jalan vertikal kepada para senior — saluran privat yang bermartabat, konsultasi struktural, panggung yang tidak menjebak. Tawaran itu, bagi yang membacanya dengan jeli, adalah pintu yang sedang dibuka dari sisi istana.</p>



<p>Pelajaran trilogi ini berhenti menjadi soal satu orang. Setiap pemimpin di republik ini akan menjadi mantan, suatu hari nanti — Prabowo sendiri suatu hari, generasi yang menjabat hari ini suatu hari. Mereka akan menemukan bahwa kursi pasca-kekuasaan tidak pernah ditata oleh negara. Sebagian akan memilih kanal harian, dan habis dalam kebisingan. Sebagian akan memilih jarak, dan dilupakan. Tetapi sebagian, yang langka, akan belajar membaca tawaran Prabowo seperti membaca puisi — bukan sebagai protokol, melainkan sebagai geometri.</p>



<p>Kembali ke pintu kayu di kawasan selatan itu. Pintu itu tidak ditutup oleh siapa pun; ia menunggu pemiliknya menemukan ritmenya. Apakah Jusuf Kalla masih akan membawa banyak ke depan, akan ditentukan bukan oleh seberapa sering pintunya terbuka — melainkan oleh seberapa jeli ia membaca kapan ia tidak perlu membuka. Yang sedang diuji hari ini bukan kebijaksanaannya — kebijaksanaan itu telah dibuktikan oleh tiga dekade kerja kenegaraan. Yang sedang diuji adalah kemampuannya membaca bahwa percakapan republik telah menemukan ruang baru, dan bahwa rumahnya yang dulu menjadi salah satu pusat utama kini berbagi panggung dengan rumah-rumah lain yang juga sah. Sembilan pesan, kadang, lebih kuat ketika tetap sembilan — daripada ketika ia bertumpuk dengan keramaian harian.</p>



<p>Republik bukan rumah yang dijaga oleh suara yang banyak. Republik adalah rumah yang dijaga oleh siapa yang tahu kapan membuka pintu, dan kapan duduk diam di belakangnya.</p>



<p>**********************</p>



<p><strong>Bagian 1 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/saksi-yang-harus-bersaksi-lagi/">Saksi Yang Harus Bersaksi Lagi</a></strong></p>



<p><strong>Bagian 2 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/empat-puluh-tujuh-detik/">Empat Puluh Tujuh Detik</a></strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-3-1-p0m2xker-1.mp3" length="3237500" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/whatsapp-image-2026-04-29-at-09.51.26-1024x682.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Empat Puluh Tujuh Detik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/empat-puluh-tujuh-detik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 01:15:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[brawijaya]]></category>
		<category><![CDATA[deepfake]]></category>
		<category><![CDATA[Jusuf Kalla]]></category>
		<category><![CDATA[Wakil Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169011</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #20PinterPolitik.com Di sebuah ruang tamu di Brawijaya, sup ikan diangkat ke meja ketika matahari mulai turun di Jakarta. Tiga lelaki yang pernah membantu menghentikan perang komunal makan malam tanpa kamera. Di luar rumah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-ok-1-1b0muao8.mp3"></audio></figure>



<p>Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong>KATA PEMRED #20</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p>Di sebuah ruang tamu di Brawijaya, sup ikan diangkat ke meja ketika matahari mulai turun di Jakarta. Tiga lelaki yang pernah membantu menghentikan perang komunal makan malam tanpa kamera. Di luar rumah itu, dalam empat belas hari, sebuah eksperimen sedang berjalan: bagaimana republik abad kedua puluh satu menghancurkan reputasi yang dibangun selama empat puluh tahun, hanya dengan dua jenis teknologi.</p>



<p><em>Eksperimen itu sedang menang.</em></p>



<p>Hitung dari kalender. Lima Maret, Jusuf Kalla memberi ceramah Ramadhan empat puluh tiga menit di masjid sebuah kampus Yogyakarta. Tiga puluh empat hari kemudian, sebelas April, sebuah video kurang dari satu menit beredar di media sosial — potongan yang dicabut dari konteks teologisnya. Dua belas dan tiga belas April, sembilan belas organisasi lintas-ormas melapor ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penistaan agama. Yang menarik bukan jumlah pelapornya, melainkan komposisinya: sebagian terhubung dengan lingkar politik tertentu, sebagian lagi terhubung dengan kelompok yang dalam peta formal seharusnya bermusuhan dengan lingkar itu. Pertanyaan-pertanyaan yang patut diajukan publik, dan yang belum dijawab media manapun: bagaimana komposisi pelapor yang seharusnya berbeda haluan bisa bertemu di satu target dalam jendela dua belas hari? Mengapa pemberitaan yang menjadi pemicu mulai beredar pada saat yang sama dengan polemik kebijakan publik yang sedang ramai? Siapa yang paling diuntungkan secara politis dari urutan peristiwa itu?</p>



<p>Lapis kedua serangan itu yang lebih meresahkan. Pada tujuh April, sebuah video terpisah menuduh Kalla mendanai pihak tertentu sebesar lima miliar rupiah. Pengunggah video itu sendiri, ketika ditelusuri media, mengakui bahwa video tersebut hasil rekayasa kecerdasan buatan. Pakar telematika Roy Suryo mengonfirmasi temuan yang sama: ciri-ciri sintesis suara dan kompresi visual menunjukkan video tersebut bukan asli. Indonesia, di pertengahan dua ribu dua puluh enam, sedang menyaksikan salah satu kasus <em>deepfake</em> politik paling menonjol yang menyasar tokoh publik nasional. Ini bukan kasus hukum biasa. Ini kasus keamanan informasi nasional. Pertanyaan yang harus dijawab Badan Siber dan Sandi Negara, dan yang belum mereka jawab: siapa yang punya kapasitas teknis untuk membuat <em>deepfake</em> setajam itu di Indonesia? Karena kalau pertanyaan ini tidak bisa&nbsp; di jawab, target berikutnya bukan lagi mantan wakil presiden. Bisa siapa pun, dari kalangan mana pun, yang berani bicara di luar arus.</p>



<p>Asimetri yang ganjil mulai terlihat dalam kasus ceramah itu. Pada delapan belas Maret di markas Palang Merah Indonesia, duta besar Iran&nbsp; yang negaranya sedang dihujani bom memakai istilah keagamaan yang sama persis dengan yang dipotong dari ceramah Yogyakarta — sebuah istilah dengan muatan teologis yang spesifik — untuk korban sipil di negaranya. Pernyataan itu disiarkan media nasional. Tidak ada satu organisasi pun yang melapor terhadap dubes itu. Pierre Bourdieu pernah mengingatkan bahwa tidak semua ucapan dinilai dari isinya; banyak yang dinilai dari posisi pengucapnya. Di Indonesia, konteks dihormati ketika pengucapnya warga negara asing, dan diabaikan ketika pengucapnya domestik. Yang membuat asimetri itu menarik bukan ketidakadilannya. Yang menarik adalah apa yang ia bongkar: bahwa standar hukum dan moral di republik ini ternyata bisa dipakai selektif, tergantung siapa yang sedang menjadi target politik pekan itu.</p>



<p>Yang berlangsung di Indonesia adalah versi domestik dari fenomena global. Pada dua ribu dua puluh dua, sebuah video <em>deepfake</em> menampilkan Presiden Zelensky meminta tentaranya menyerah — tujuh menit setelah video diunggah, ia sudah ditonton ratusan ribu kali sebelum sempat dibantah. Di Ukraina, <em>deepfake</em> dipakai untuk perang militer; di demokrasi seperti kita, ia dipakai untuk perang reputasi. Timothy Snyder pernah mengingatkan: ancaman modern terhadap demokrasi sering tidak datang sebagai larangan berbicara, melainkan sebagai kaburnya batas antara benar dan palsu. Yang sering beredar bukan kebohongan total, melainkan serpihan kebenaran yang dicabut dari tempat asalnya. Inilah kompresi kebenaran. Fakta panjang kalah dari emosi pendek. Biografi kalah dari fragmen. Rekam jejak kalah dari klip. Empat puluh tiga menit ceramah perdamaian tidak akan pernah mengejar kurang dari satu menit potongan kasar — bukan karena yang panjang kurang benar, tetapi karena yang pendek bergerak lebih cepat. Dan di linimasa, kecepatan adalah segalanya. Yang membayar harga atas asimetri kecepatan ini bukan satu pribadi. Yang membayar adalah kemampuan kolektif kita membedakan kebenaran dari penampilan kebenaran.</p>



<p>Lalu, bagaimana reaksi&nbsp; dari Istana? Presiden Prabowo Subianto, sampai pagi terakhir, belum mengucap satu kalimat pun tentang kasus ini. Diam seorang presiden selalu membuka banyak tafsir: kehati-hatian, jarak, atau kalkulasi agar negara tidak masuk ke perang simbolik yang lebih besar. Pada awal dua ribuan, ketika konflik komunal Indonesia paling membara, Prabowo Subianto adalah salah satu purnawirawan yang punya pengalaman langsung dalam jaringan keamanan negara. Generasi yang membantu memadamkan Poso dan Ambon adalah generasi yang ia kenal. Diam dalam situasi seperti ini, bila dibaca dengan sabar, bisa lebih banyak melindungi daripada satu pernyataan yang tergesa. Yang sedang terungkap dalam kasus ini bukan satu nama, melainkan satu kelemahan struktural republik: Malino dahulu efektif, tetapi sangat bergantung pada figur. Indonesia merayakan hasil damainya, namun gagal melembagakan metode damainya. Ketika pengetahuan disimpan di kepala, waktu menjadi ancaman politik.</p>



<p>Inilah yang harus diwaspadai dalam beberapa bulan ke depan. Bila pola dua minggu ini tidak diselidiki secara forensik — bukan oleh polisi semata, melainkan juga oleh BSSN dan Komdigi — Indonesia akan melihat eskalasi. Tokoh-tokoh senior republik ini, yang masih hidup dan masih bersuara, semuanya pernah membuat keputusan yang tidak populer di kalangan tertentu. Bila template potongan kurang dari satu menit dan template <em>deepfake</em> terbukti efektif untuk satu tokoh, barangkali&nbsp; ia akan dipakai ulang untuk tokoh lain. Pertanyaannya&nbsp; bukan barangkali, melainkan kapan. Negara modern tidak boleh menggantungkan ketenangan nasional pada stamina biologis para penengahnya, dan tidak boleh juga menggantungkan integritas informasinya pada kebetulan bahwa pelaku <em>deepfake</em> yang sekarang masih amatir. Republik ini memiliki teknologi distribusi abad kedua puluh satu, tetapi kadang memakai kedewasaan politik abad kesembilan belas. Itu jurang yang harus segera ditutup. Bukan dengan satu undang-undang, melainkan dengan jaringan: lembaga verifikasi forensik digital negara, kurikulum literasi media yang serius di sekolah, ruang dialog lintas kelompok yang aktif sebelum krisis, dan aparat yang dilatih membedakan pelaporan tulus dari pelaporan yang terkoordinasi.</p>



<p>Sup ikan akhirnya habis. Tamu-tamu pamit. Lampu di ruang depan dimatikan satu per satu. Tetapi pertanyaan yang ditinggalkan meja makan itu menggantung di udara Jakarta yang basah. Bukan tentang siapa yang akan menjadi tuan rumah berikutnya. Tentang berapa lama lagi republik ini akan beruntung punya pelaku-pelaku Malino yang masih bersedia datang ke ruang tamu pada Kamis malam, ketika negara seharusnya datang ke ruang publik pada hari kerja.</p>



<p>Negeri tidak rapuh ketika kehilangan tokoh besar.</p>



<p>Negeri mulai rapuh ketika kehilangan cara mengingat bagaimana tokoh-tokoh itu dulu menyelamatkannya.</p>



<p>Sebuah lembaga? Mungkin. Tetapi itu cerita berikutnya, pada bagian 3 tulisan ini.</p>



<p>**********************</p>



<p><strong>Bagian 1 Trilogi Jusuf Kalla : <a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/saksi-yang-harus-bersaksi-lagi/">Saksi Yang Harus Bersaksi Lagi</a></strong></p>



<p><strong>Bagian 3 Trilogi Jusuf Kalla :</strong> <strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/headline/pintu-yang-tidak-selalu-terbuka/">Pintu yang Tidak Selalu Terbuka</a></strong></p>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jk-ok-1-1b0muao8.mp3" length="3031004" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/jusuf-kalla_62291354.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>“Nyeriusin” Lawakan Pandji</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nyeriusin-lawakan-pandji/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2026 07:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabuming Raka]]></category>
		<category><![CDATA[Pandji Pragiwaksono]]></category>
		<category><![CDATA[Roasting]]></category>
		<category><![CDATA[Satir]]></category>
		<category><![CDATA[Standup Comedy]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166334</guid>

					<description><![CDATA[Ketika kritik lewat tawa dianggap otomatis benar, di situlah masalah bermula. Lawakan Pandji Pragiwaksono memantik refleksi: sejauh mana humor politik efektif tanpa mengorbankan empati, etika, dan tanggung jawab simbolik di ruang publik yang kian sensitif.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/pandji-pragiwaksono.mp3"></audio></figure>



<p>Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Ketika kritik lewat tawa dianggap otomatis benar, di situlah masalah bermula. Lawakan Pandji Pragiwaksono memantik refleksi: sejauh mana humor politik efektif tanpa mengorbankan empati, etika, dan tanggung jawab simbolik di ruang publik yang kian sensitif.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap">Dalam beberapa tahun terakhir, Pandji Pragiwaksono kerap muncul bukan hanya sebagai komika, tetapi juga sebagai figur opini publik.</p>



<p>Lawakan-lawakannya—yang membentang dari kritik kebijakan, sindiran elite politik, hingga satire sosial—sering kali memantik diskusi serius.</p>



<p>Bukan semata karena keberaniannya mengusik kekuasaan, melainkan karena batas tipis yang ia pijak: antara kritik yang komunikatif dan humor yang “pinggir jurang”.</p>



<p>Sejumlah respons publik memperlihatkan paradoks ini. Di satu sisi, kritik Pandji terhadap figur politik-pemerintahan dianggap menyegarkan, bahkan heroik.</p>



<p>Kritik yang dihantar lewat humor memang memotong resistensi psikologis; orang lebih mudah menerima teguran ketika ia datang sebagai cerita, analogi, atau ironi</p>



<p>&nbsp;Dalam masyarakat yang terpolarisasi, komedi kerap berfungsi sebagai “bahasa bersama”—bukan karena ia netral, tetapi karena ia komunikatif.</p>



<p>Namun di sisi lain, gelombang kontroversi juga mengikuti. Dari ucapan yang dinilai menyinggung budaya Toraja, gurauan soal narkotika yang menyerempet figur presiden, generalisasi terhadap kelompok tertentu, hingga penggunaan kata-kata kasar dalam roasting—semuanya memantik kritik balik.</p>



<p>Polanya berulang: kritik menguat, Pandji meminta maaf, diskursus mereda. Siklus ini menegaskan satu hal: komedi politik bukan ruang hampa nilai. Ia membawa perspektif, asumsi, dan preferensi moral pembuatnya.</p>



<p>Pertanyaannya bukan lagi “bolehkah komedian mengkritik?”, melainkan: sampai di mana kritik lewat humor tetap etis, empatik, dan bertanggung jawab—tanpa kehilangan daya gigitnya?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Komedi, Kuasa Simbolik Pandji?</strong></h2>



<p>Untuk memahami posisi Pandji dalam lanskap ini, penting menanggalkan mitos bahwa kritik—terlebih kritik humor—selalu netral.</p>



<p>Friedrich Nietzsche, melalui gagasan <em>perspectivism</em>, mengingatkan bahwa tak ada pandangan tanpa sudut. Setiap kritik adalah ekspresi perspektif; setiap lelucon adalah penilaian yang dipadatkan. Humor bukan sekadar alat, ia adalah bahasa nilai.</p>



<p>Di titik ini, Pierre Bourdieu membantu menjelaskan mengapa komedi begitu efektif sekaligus problematis.</p>



<p>Dalam konsep <em>symbolic power</em>, Bourdieu menekankan bahwa mereka yang menguasai bahasa—termasuk bahasa tawa—menguasai makna. Komika yang berhasil membuat publik tertawa memperoleh legitimasi simbolik.</p>



<p>Kritiknya terasa “wajar”, bahkan “benar”, bukan karena ia bebas bias, melainkan karena ia diterima secara emosional.</p>



<p>Slavoj Žižek melangkah lebih jauh. Menurutnya, humor sering kali mengungkap ideologi lebih jujur daripada pidato. Akhirnya, lelucon bukan sekadar pelapis, melainkan jendela asumsi.</p>



<p>Ketika sebuah <em>roasting</em> menggunakan kata kasar atau merendahkan kelompok tertentu, itu bukan sekadar teknik komedi—ia memproduksi normalisasi bahasa, membentuk kultur pergaulan, dan menggeser batas empati.</p>



<p>Di sinilah letak ketegangan utama pada lawakan “pinggir jurang”. Pandji kerap memainkan <em>easy game</em>: mengkritik <em>public enemy</em>—kekuasaan, elite, atau figur yang relatif aman untuk disasar. Secara paralel, merengkuh keuntungan materi dari hal tersebut.</p>



<p>Strategi ini efektif secara politik dan aman secara popularitas. Namun efektivitas itu membawa risiko etika, utamanya ketika targetnya meluas ke identitas, budaya, atau kelompok rentan, kritik berubah menjadi generalisasi. <em>Punchline</em> yang “kena” bisa sekaligus mengesampingkan sensitivitas dan empati moral.</p>



<p>Hannah Arendt, dalam refleksinya tentang judging, menyatakan bahwa menilai adalah tindakan politis. Maka, ketika komedian menilai realitas lewat humor, ia sedang berpolitik—tanpa mandat elektoral, tetapi dengan pengaruh simbolik.</p>



<p>Ini bukan celaan tetapi pengingat tanggung jawab. Komedi boleh tajam, tetapi ketajaman yang berulang tanpa refleksi dapat melukai ruang publik yang justru ingin diperbaiki.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1250" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji.jpg" alt="" class="wp-image-102776" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-259x300.jpg 259w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-885x1024.jpg 885w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-130x150.jpg 130w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-768x889.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-696x806.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-1068x1236.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/2-Infografis-Polemik-Kata-Kata-Pandji-363x420.jpg 363w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ada “Hisab” Moral?</strong></h2>



<p>Mengapa figur pengkritik kerap otomatis diposisikan sebagai “hero”? Di era media sosial, kritik telah menjadi identitas moral.</p>



<p>Siapa yang lantang mengkritik dianggap berpihak pada kebenaran. Namun logika ini menyederhanakan realitas: mengkritik tidak sama dengan paling objektif. Komedian bukan nabi; politisi bukan selalu iblis.</p>



<p>Dalam kasus Pandji, keberanian mengkritik patut diapresiasi. Ia konsisten menggunakan komedi sebagai medium refleksi publik. Ia juga berulang kali menunjukkan tanggung jawab personal dengan meminta maaf saat dianggap melampaui batas.</p>



<p>Namun justru di sinilah pentingnya evaluasi yang lebih dewasa: permintaan maaf yang berulang menandakan bahwa batas etika belum sepenuhnya menjadi bagian dari desain komedinya, melainkan koreksi pasca-reaksi.</p>



<p>Lawakan “pinggir jurang” mengandalkan ketegangan ekstrem untuk menghasilkan tawa. Secara artistik, ini sah. Secara sosial, ini berisiko. Ketika kata-kata kasar menjadi norma roasting, kultur bahasa publik ikut terpengaruh.</p>



<p>Saat identitas dijadikan alat, empati terkikis. Dalam jangka panjang, kritik yang dimaksudkan untuk memperbaiki justru dapat mereproduksi pola merendahkan yang sama dengan yang ia kritik.</p>



<p>Namun mengeritik Pandji tidak berarti meniadakan fungsi komedi politik. Justru sebaliknya, kritik ini bertujuan menguatkan komedi sebagai bahasa bersama.</p>



<p>Humor paling efektif bukan yang paling keras, melainkan yang paling tepat sasaran—menggugat struktur, bukan menyederhanakan manusia. Menertawakan kebijakan berbeda dengan menertawakan identitas.</p>



<p>Di tengah polarisasi, publik membutuhkan komedi yang komunikatif sekaligus beretika. Komedi yang berani, tetapi sadar akan kuasa simboliknya. Komedi yang mengundang tawa tanpa menutup pintu empati.</p>



<p>Pandji, dengan pengaruh dan kecakapannya, berada pada posisi strategis untuk memimpin arah itu—bukan dengan menumpulkan kritik, melainkan dengan mempertajam refleksi.</p>



<p>Penutupnya sederhana namun mendasar, “nyeriusin” lawakan bukan berarti mematikan humor. Ia adalah upaya menjaga agar tawa tetap menjadi jembatan, bukan jurang.</p>



<p>Jika kritik lewat komedi ingin bertahan sebagai kekuatan moral di ruang publik, ia perlu lebih dari sekadar keberanian, ia memerlukan kebijaksanaan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="juKLVhxaP8A"><iframe title="Kejagung Melesat, KPK Dibawa ke Mana?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/juKLVhxaP8A?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/pandji-pragiwaksono.mp3" length="2151620" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/pandji-pragiwaksono-1024x573.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Purbaya The Next Boediono?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/purbaya-the-next-boediono/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166149</guid>

					<description><![CDATA[Apakah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang menuju takdir politik ala Boediono? Di balik kinerja teknokratis dan kebijakan fiskal keras, tersimpan kemungkinan kompromi elite menuju 2029—atau justru jebakan konflik kekuasaan yang mengintai?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/purbaya-boediono.mp3"></audio></figure>



<p>Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Apakah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang menuju takdir politik ala Boediono? Di balik kinerja teknokratis dan kebijakan fiskal keras, tersimpan kemungkinan kompromi elite menuju 2029—atau justru jebakan konflik kekuasaan yang mengintai?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap">Dalam sejarah politik Indonesia pasca-Reformasi, figur teknokrat kerap muncul bukan sebagai aktor utama politik, melainkan sebagai penyeimbang sistem—hadir di saat elite politik membutuhkan stabilitas, kredibilitas kebijakan, dan kepercayaan pasar.</p>



<p>Boediono adalah contoh paling menonjol dari pola ini. Ia bukan politisi, tak memiliki kendaraan partai, bahkan minim basis massa konvensional. Namun justru karena itu, Boediono diterima sebagai titik temu kompromi elite dan dipercaya publik sebagai simbol rasionalitas negara.</p>



<p>Pertanyaan serupa kini mengemuka seiring menguatnya kinerja dan reputasi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Meski bukan aktor politik dan murni teknokrat, Purbaya justru memperoleh dukungan dari aktor politik tier-1 Indonesia.</p>



<p>Di tengah fragmentasi elite, polarisasi sosial, dan meningkatnya tuntutan efektivitas fiskal, figur seperti Purbaya menjadi relevan. Maka wajar bila muncul pertanyaan: apakah Purbaya berpotensi menjadi “Boediono baru”—bahkan kandidat RI-2 pada Pilpres 2029?</p>



<p>Pertanyaan ini tidak semata bersifat spekulatif, melainkan berangkat dari konteks struktural: kembalinya preferensi elite terhadap figur teknokrat yang mampu menjaga stabilitas ekonomi, menghadapi tekanan global, serta memberi legitimasi kebijakan yang kian tidak populer secara sosial.</p>



<p>Namun, relevansi elektoral seorang teknokrat tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan hasil pertemuan antara kinerja, persepsi publik, dan kalkulasi kekuasaan elite politik.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Teknokrat Tanpa Kendaraan</strong></h2>



<p>Dalam teori politik elite, khususnya pendekatan <em>elite compromise</em> dan <em>coalition brokerage</em>, figur tanpa basis politik justru memiliki nilai tawar tinggi. Ketika partai-partai besar saling mencurigai dan khawatir akan dominasi satu sama lain, sosok teknokrat non-partisan sering dipilih sebagai solusi “aman”.</p>



<p>Boediono pada 2009 adalah preseden paling jelas: ia bukan ancaman elektoral bagi partai, namun cukup kredibel untuk pasar dan publik.</p>



<p>Dalam kerangka ini, Purbaya memiliki kemiripan struktural yang signifikan. Ia tidak memiliki kendaraan politik, tidak berasal dari oligarki partai, dan tidak membawa beban faksi.</p>



<p>Justru karena itu, Purbaya berpotensi menjadi titik tengah kompromi antara koalisi besar dengan kandidat presiden yang kuat namun membutuhkan penyeimbang teknokratis. Absennya afiliasi politik bukan hambatan, melainkan aset dalam logika koalisi pragmatis.</p>



<p>Namun, perbedaan krusial antara Purbaya dan Boediono terletak pada karakter kebijakan. Boediono relatif “sunyi konflik”: ia bekerja dalam kerangka stabilisasi makro yang tidak langsung bersentuhan dengan kepentingan kelas atas secara konfrontatif. Purbaya justru sebaliknya.</p>



<p>Kebijakan fiskalnya—mulai dari penajaman pajak kelas atas hingga pemberantasan oknum di Direktorat Pajak dan Bea Cukai—menciptakan impresi politik yang lebih tajam. Ia tidak netral secara sosial; ia mengambil posisi.</p>



<p>Dalam teori <em>policy feedback</em>, kebijakan yang menyentuh kepentingan langsung elite ekonomi akan membentuk oposisi laten, bahkan jika secara makro dianggap benar.</p>



<p>Di titik ini, Purbaya berpotensi dipersepsikan sebagai “musuh” oleh segmen tertentu kelas atas dan birokrasi lama. Artinya, meski secara teknokratis unggul, ia menghadapi tantangan politik yang lebih keras dibanding Boediono.</p>



<p>Di sisi lain, justru dari sini muncul potensi elektoral baru. Dalam lanskap politik yang semakin sensitif terhadap isu ketimpangan dan keadilan fiskal, figur teknokrat yang berani bisa memperoleh legitimasi moral.</p>



<p>Jika dikelola dengan tepat, citra “teknokrat tegas” dapat diterjemahkan menjadi modal elektoral simbolik—terutama di tengah kejenuhan publik terhadap politisi transaksional.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1.png" alt="pacu purbaya untuk ekonomi indonesia 1" class="wp-image-164591" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara Kinerja, Elite, dan Momentum</strong></h2>



<p>Meski demikian, hipotesis “Purbaya sebagai The Next Boediono” tidak bersifat otomatis. Dalam politik elektoral, waktu dan dinamika kekuasaan jauh lebih menentukan dibanding sekadar kinerja teknis. Setidaknya ada tiga variabel penentu menuju 2029.</p>



<p><em>Pertama</em>, konsistensi kinerja dan stabilitas narasi publik. Teknokrat hanya relevan secara politik selama ia dipercaya publik dan elite sebagai solusi, bukan sumber masalah.</p>



<p>Jika kebijakan fiskal Purbaya mampu menjaga pertumbuhan, mengendalikan defisit, dan tetap diterima secara sosial, maka narasi “teknokrat penyeimbang” akan menguat. Namun jika kebijakan tersebut memicu resistensi sosial tanpa dukungan politik memadai, ia bisa terisolasi sebelum memasuki arena elektoral.</p>



<p><em>Kedua</em>, sikap kekuasaan terhadap Purbaya. Boediono berhasil karena ia sepenuhnya dilindungi oleh pusat kekuasaan saat itu. Dalam politik Indonesia, dukungan elite bukan sekadar <em>endorsement</em>, melainkan jaminan keberlangsungan.</p>



<p>Mengingat kebijakan Purbaya menyentuh kepentingan sensitif, sejauh mana aktor-aktor kekuasaan bersedia “pasang badan” akan sangat menentukan masa depannya. Tanpa perlindungan politik, teknokrat tegas mudah dijadikan kambing hitam.</p>



<p><em>Ketiga</em>, konfigurasi kandidat dan kebutuhan koalisi menjelang 2029. Cawapres bukan dipilih karena popularitas semata, melainkan karena fungsi. Jika kandidat presiden 2029 berasal dari latar politik atau militer yang kuat, kebutuhan akan figur ekonom teknokrat akan meningkat. Dalam konteks ini, Purbaya dapat menjadi jawaban struktural, bukan sekadar personal.</p>



<p>Dengan demikian, Purbaya tidak sedang berjalan menuju takdir Boediono, melainkan berada dalam kontingensi politik yang sangat cair. Ia bisa menjadi simbol rasionalitas negara di tengah turbulensi politik, atau sebaliknya, menjadi teknokrat “terlalu berani” yang terjebak dalam konflik elite.</p>



<p>Pada akhirnya, pertanyaan “Purbaya The Next Boediono?” bukan sekadar soal individu, melainkan cermin dari satu hal yang lebih besar: apakah politik Indonesia 2029 masih membutuhkan teknokrat sebagai penyangga kekuasaan, atau justru kembali sepenuhnya pada logika elektoral populis? Jawaban itu akan ditentukan bukan hari ini, melainkan oleh satu-dua tahun krusial menjelang Pilpres 2029. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="juKLVhxaP8A"><iframe loading="lazy" title="Kejagung Melesat, KPK Dibawa ke Mana?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/juKLVhxaP8A?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/purbaya-boediono.mp3" length="2001284" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/menkeu-menkeu_purbaya_yudhi_sadewa-1024x577.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Politik, “Ojol Elite” Sengaja Dilestarikan?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/politik-ojol-elite-sengaja-dilestarikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2025 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Buruh]]></category>
		<category><![CDATA[Gig Economy]]></category>
		<category><![CDATA[Ojol]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164235</guid>

					<description><![CDATA[Ojol seolah jadi spotlight dalam dinamika sosial-politik terbaru. Keterkaitannya dengan politik makin menghangat in this economy, serta bukan tidak mungkin menjadi salah satu variabel determinan untuk menggoyang pemerintah.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/ojol-1_yjz53o19.mp3"></audio></figure>



<p>Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Ojol seolah jadi spotlight dalam dinamika sosial-politik terbaru. Keterkaitannya dengan politik makin menghangat in this economy, serta bukan tidak mungkin menjadi salah satu variabel determinan untuk menggoyang pemerintah.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap">Fenomena pertemuan antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan perwakilan pengemudi ojek online (ojol) pada 31 Agustus 2025 segera menjadi sorotan publik.</p>



<p>Bukan hanya karena substansi pertemuan itu, melainkan juga karena simbolisme yang menyertainya. Terselip kejanggalan saat serikat pengemudi ojol (SPAI) menyangkal bahwa pengemudi yang hadir adalah bagian dari mereka.</p>



<p>Di sisi lain, pemerintah memang lumrah saja untuk mengundang perwakilan ojol tanpa melalui serikat resmi.</p>



<p>Sementara itu, publik menyoroti gaya hidup para pengemudi yang hadir—dengan jaket baru dan sepatu bermerek, seolah menegaskan adanya strata khusus dalam dunia ojol, mereka yang dekat dengan kekuasaan dan perusahaan aplikator, serta mereka yang hidup dalam realitas sehari-hari perjuangan di jalanan.</p>



<p>Di titik inilah istilah “ojol binaan” mencuat. Istilah ini merujuk pada kelompok pengemudi yang secara khusus dipilih atau difasilitasi oleh perusahaan aplikator untuk menjadi representasi resmi dalam forum kebijakan.</p>



<p>Fenomena ini tidak asing dalam kajian politik perburuhan, sejak lama negara dan korporasi kerap menciptakan <em>elite representation</em> di kalangan pekerja untuk mengendalikan aspirasi, mengurangi potensi konflik, serta menjaga stabilitas ekonomi.</p>



<p>Dalam konteks ojol, hal ini beroperasi di tengah situasi yang lebih kompleks. Mulai dari status kerja yang kabur, komisi yang menurun, serta minimnya jaminan sosial.</p>



<p>Jika dirunut lebih jauh, keberadaan ojol bukan sekadar solusi transportasi, melainkan cerminan dari transformasi besar dalam ekonomi perkotaan. Mereka adalah representasi dari kelas pekerja baru yang lahir di era digital platform—<em>gig workers</em> yang jumlahnya masif dan memiliki kedekatan sehari-hari dengan publik.</p>



<p>Tidak heran bila kemudian ojol perlahan muncul sebagai simbol gerakan masyarakat perkotaan yang memiliki potensi politik signifikan. Pertanyaannya, apakah keberadaan “ojol elite” tercipta sebagai instrumen untuk mengendalikan potensi kekuatan politik baru ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ojol, Politik Representasi?</strong></h2>



<p>Untuk memahami fenomena ini, literatur mengenai state–society relations dan politik kelas pekerja kiranya relevan jadi pijakan analisis. Dalam tradisi politik klasik, buruh pabrik di era Revolusi Industri merupakan aktor penting yang menekan negara untuk memberi ruang regulasi: dari upah minimum, hak cuti, hingga pembentukan serikat.</p>



<p>Karl Polanyi menyebut fenomena ini sebagai <em>double movement</em>, yakni ekspansi kapitalisme selalu diimbangi oleh gerakan masyarakat yang menuntut perlindungan sosial.</p>



<p>Di era sekarang, posisi itu ditempati oleh para pekerja gig, termasuk ojol. Mereka adalah bentuk “kelas pekerja baru” (<em>new working class</em>) yang tidak lagi berada di pabrik, tetapi tersebar di ruang kota digital.</p>



<p>Uniknya, meski bekerja secara individual, kesamaan nasib dan pengalaman membuat mereka mudah membentuk kesadaran kolektif. Potensi ini terlihat dalam berbagai aksi protes ojol di Indonesia, mulai dari menolak pemotongan insentif, memperjuangkan tarif minimum, menuntut perlindungan kecelakaan kerja, hingga solid turun menggedor penguasa saat isu sensitif mengemuka.</p>



<p>Namun di titik ini, negara dan korporasi juga belajar. Alih-alih menunggu lahirnya gerakan buruh ojol yang radikal, mereka menciptakan mekanisme representasi tandingan.</p>



<p>Lahirnya “ojol binaan” dapat dibaca sebagai strategi <em>co-optation</em>, yakni penyerapan sebagian elemen potensial untuk melemahkan gerakan kolektif yang lebih luas.</p>



<p>Strategi ini bukan hal baru. Pada masa Orde Baru, misalnya, negara melanggengkan sistem serikat tunggal (SPSI) untuk mengontrol buruh. Bedanya, kini kendali tidak hanya dilakukan negara, tetapi juga perusahaan aplikator yang memiliki data, akses, dan otoritas langsung terhadap pengemudi.</p>



<p>Fenomena ini juga sejalan dengan teori “managed participation” dalam kajian industrial relations. Negara dan korporasi kerap menciptakan forum representasi yang terlihat partisipatif, namun sebenarnya dirancang untuk meredam konflik.</p>



<p>Pertemuan Wapres dengan perwakilan ojol—yang tidak jelas keterkaitannya dengan serikat resmi—dapat dibaca sebagai bentuk <em>staging</em>, sebuah panggung politik yang lebih menekankan simbol keharmonisan ketimbang realitas keseharian ojol di jalanan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1200" height="1500" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1.jpg" alt="hari kebangkitan ojolartboard 1 1" class="wp-image-161613" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1.jpg 1200w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/hari-kebangkitan-ojolartboard-1_1-1068x1335.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1200px) 100vw, 1200px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Implikasi Politik</strong></h2>



<p>Fenomena di atas membawa pada pertanyaan kunci, apakah ojol benar-benar sedang menuju posisi “<em>the new buruh</em>” dalam sejarah politik Indonesia?</p>



<p>Jika melihat konteks regional, jawabannya cenderung iya. Malaysia, misalnya, baru saja mengesahkan undang-undang yang melindungi pekerja ojol dan kurir dari pemutusan hubungan sepihak.</p>



<p>Hal ini mengakui status mereka sebagai bagian penting dari struktur ketenagakerjaan modern. Di Indonesia, regulasi memang sudah melarang pemutusan mitra secara sewenang-wenang dengan penilaian tertentu, namun problem yang lebih mendasar belum terjawab, yakni rendahnya penghasilan, minimnya jaminan keselamatan, keterbatasan akses jaring pengaman sosial, serta relasi kuasa timpang dengan aplikator.</p>



<p>Jika persoalan-persoalan ini terus dibiarkan, besar kemungkinan gesekan sosial kembali terjadi. Demonstrasi ojol di berbagai kota sudah menjadi bukti bagaimana mereka mampu memobilisasi massa dengan cepat.</p>



<p>Apalagi, kini telah ada persinggungan isu dengan ihwal yang sensitif seperti gaji pejabat, kata-kata pejabat yang melukai hati rakyat, hingga kekerasan yang berujung fatal terhadap sosok yang ternyata adalah seorang ojol. In this economy.</p>



<p>Kekuatan mobilisasi ini berpotensi mengubah ojol menjadi kekuatan sosial-politik yang mirip dengan buruh pabrik pada abad ke-20. Bedanya, ojol memiliki kedekatan lebih luas dengan masyarakat perkotaan.</p>



<p>Setiap hari mereka berinteraksi dengan jutaan warga: mengantar, menunggu, dan hadir di ruang publik. Dengan demikian, daya resonansi sosial mereka bisa jauh lebih besar dibandingkan buruh industri yang terkonsentrasi di kawasan tertentu.</p>



<p>Dalam kerangka politik, hal ini menimbulkan ambivalensi bagi negara. Di satu sisi, pemerintah ingin memanfaatkan simbol ojol sebagai representasi kelas pekerja baru yang dekat dengan rakyat, sebagaimana terlihat dalam panggung pertemuan Wapres.</p>



<p>Namun di sisi lain, pemerintah juga menyadari risiko jika aspirasi mereka benar-benar dilepaskan dan berkembang menjadi gerakan independen. Maka, melestarikan “ojol elite” adalah jalan tengah, menciptakan kanal representasi yang terkendali, sembari menahan lahirnya kekuatan politik alternatif.</p>



<p>Implikasinya cukup besar. <em>Pertama</em>, relasi negara–ojol berpotensi membentuk pola baru politik patronase digital. Jika sebelumnya buruh dilibatkan melalui partai atau serikat, kini keterlibatan bisa berlangsung langsung melalui kanal aplikator yang bersimbiosis dengan negara.</p>



<p><em>Kedua</em>, potensi politisasi ojol dalam kontestasi elektoral kian terbuka. Dengan jumlah pengemudi yang mencapai jutaan, dukungan kolektif mereka dapat menjadi “<em>swing force</em>” dalam pemilu.</p>



<p><em>Ketiga</em>, keberadaan “ojol elite” akan terus menimbulkan dilema legitimasi, apakah mereka benar-benar merepresentasikan mayoritas, atau hanya kepanjangan tangan korporasi dan pemerintah?</p>



<p>Fenomena ojol hari ini adalah cermin perubahan struktural dalam politik ekonomi Indonesia. Dari sekadar profesi alternatif, mereka menjelma menjadi simbol kelas pekerja baru dengan daya tawar sosial yang tidak bisa diabaikan.</p>



<p>Namun di tengah potensi itu, negara dan korporasi tampaknya memilih untuk melestarikan “ojol elite” sebagai instrumen representasi terkendali. Pertemuan dengan Wapres Gibran hanyalah salah satu ilustrasi bagaimana politik representasi ini dijalankan.</p>



<p>Pertanyaannya, sampai kapan strategi ini efektif? Sejarah pergerakan buruh menunjukkan bahwa elite buatan hanya mampu bertahan selama basis sosial di bawah tetap pasif.</p>



<p>Begitu kesenjangan semakin tajam dan aspirasi tidak terakomodasi, gelombang gerakan akar rumput bisa melampaui elite yang direkayasa. Dalam konteks ini, ojol mungkin benar-benar akan menjadi “<em>the new buruh</em>” yang powerful di Indonesia—bukan sekadar di panggung politik, tetapi juga di jalanan, tempat asal mula mereka membangun kesadaran kolektif. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ghLEjsLRKYg"><iframe loading="lazy" title="DIKIT-DIKIT BLOK M… APA-APA BLOK M… PRAMONO KENAPA SIH?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ghLEjsLRKYg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/ojol-1_yjz53o19.mp3" length="3745012" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/083788600_1582879436-20200228-Pengemudi-Ojek-Online-Demo-di-DPR-tallo-7-1024x591.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gibran &#038; &#8220;Ojol Cosplay&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/gibran-ojol-cosplay/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2025 02:50:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[Gojek]]></category>
		<category><![CDATA[Grab]]></category>
		<category><![CDATA[indrive]]></category>
		<category><![CDATA[maxim]]></category>
		<category><![CDATA[Ojol]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164428</guid>

					<description><![CDATA[Ada ojol elite &#8220;binaan aplikator&#8221;?&#160; Yaa semoga sesama rekan satu profesi bisa saling mendukung secara konstruktif ya&#160; #gibran #wapres #ojol #grab #gojek #maxim #indrive #infografis #beritapolitik #politikindonesia #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-819x1024.png" alt="gibran &amp; ojol cosplay 1" class="wp-image-164431" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-819x1024.png" alt="gibran &amp; ojol cosplay 2" class="wp-image-164432" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>Ada ojol elite &#8220;binaan aplikator&#8221;?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f914/72.png" alt="🤔" /></figure>



<p>Yaa semoga sesama rekan satu profesi bisa saling mendukung secara konstruktif ya&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f64c_1f3fb/72.png" alt="🙌🏻" /></figure>



<p>#gibran #wapres #ojol #grab #gojek #maxim #indrive #infografis #beritapolitik #politikindonesia #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/gibran-ojol-cosplay-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Jan Ethes&#8221; &#038; Future Trah Wapres</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/jan-ethes-future-trah-wapres/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2025 01:31:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[gibranrakabumingraka]]></category>
		<category><![CDATA[ilhamhabibie]]></category>
		<category><![CDATA[kuntoariefwibowo]]></category>
		<category><![CDATA[puanmaharani]]></category>
		<category><![CDATA[sitinurazizah]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164197</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Mau jadi presiden kayak Mbah [Jokowi],&#8221; begitu kata Jan Ethes Srinarendra, putra Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka pada Agustus 2022 lalu. Saat itu, sang ayah masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. Sangat terlalu dini mungkin untuk Kakak Ethes, tapi udah ada beberapa nama putra-putri wapres yang berkiprah atau pun cukup potensial di politik-pemerintahan mendatang&#160; [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-819x1024.png" alt="jan ethes future trah wapres 1" class="wp-image-164200" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-819x1024.png" alt="jan ethes future trah wapres 2" class="wp-image-164201" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-819x1024.png" alt="jan ethes future trah wapres 3" class="wp-image-164202" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>&#8220;Mau jadi presiden kayak Mbah [Jokowi],&#8221; begitu kata Jan Ethes Srinarendra, putra Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka pada Agustus 2022 lalu. Saat itu, sang ayah masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.</p>



<p>Sangat terlalu dini mungkin untuk Kakak Ethes, tapi udah ada beberapa nama putra-putri wapres yang berkiprah atau pun cukup potensial di politik-pemerintahan mendatang&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p>#wapres #puanmaharani #gibranrakabumingraka #kuntoariefwibowo #sitinurazizah #ilhamhabibie #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/jan-ethes-future-trah-wapres-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>“Ethes” &#038; Kontes Trah Wapres</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ethes-kontes-trah-wapres/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabuming Raka]]></category>
		<category><![CDATA[Jan Ethes]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kunto Arief Wibowo]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekarnoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164177</guid>

					<description><![CDATA[Meski posisi wapres cukupstrategis, trahnya jarang mewariskan legitimasi politik kuat. Berbeda dengan trah presiden, jalan politik trah wapres dinilai tak sepopuler itu. Dari Ilham Habibie hingga Puan Maharani, bahkan simbol “Jan Ethes”, semua menunjukkan kontes legitimasi yang lebih berat ketimbang sekadar nama besar.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/ethes-1_ln9byn3w.mp3"></audio></figure>



<p>Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p><strong>Meski posisi wapres cukupstrategis, trahnya jarang mewariskan legitimasi politik kuat. Berbeda dengan trah presiden, jalan politik trah wapres dinilai tak sepopuler itu. Dari Ilham Habibie hingga Puan Maharani, bahkan simbol “Jan Ethes”, semua menunjukkan kontes legitimasi yang lebih berat ketimbang sekadar nama besar.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap">Dalam lanskap politik Indonesia, figur wakil presiden (wapres) selalu menempati posisi paradoksal. Di satu sisi, jabatan ini strategis karena secara konstitusional adalah orang kedua dalam struktur eksekutif negara.</p>



<p>Namun, di sisi lain, posisi wapres jarang menghasilkan kesinambungan politik yang kokoh untuk trah atau keluarganya.</p>



<p>Jika politik trah presiden lazim melahirkan penerus dengan modal elektoral dan simbolis yang besar, politik trah wapres seakan berjalan di jalur yang lebih sunyi dan penuh rintangan.</p>



<p>Fenomena ini kiranya tidak lepas dari karakteristik posisi wapres itu sendiri. Secara historis, keberadaan wapres di Indonesia lebih merupakan hasil kompromi elite ketimbang representasi langsung dari basis massa.</p>



<p>Berbeda dengan presiden yang seringkali membawa serta jaringan loyalis, simbol ideologi, dan kekuatan partai, wapres lebih sering dipilih sebagai “penyeimbang” politik.</p>



<p>Berkaca pada catatan sejarah demokrasi, posisi wapres pun biasanya berfungsi sebagai alat peredam konflik antar-elite atau perekat koalisi, bukan sebagai pusat gravitasi politik yang independen. Inilah yang membuat legitimasi politik trah wapres sering kali bersifat simbolis, bukan substantif.</p>



<p>Hanya sedikit contoh di Indonesia maupun dunia yang memperlihatkan bahwa anak atau keturunan wapres mampu menapak ke jenjang politik berkelanjutan.</p>



<p>Di Indonesia, figur seperti Puan Maharani berhasil menembus puncak politik, tetapi hal itu lebih karena garis keturunan Megawati—mantan wapres dan presiden sekaligus ketua umum partai besar.</p>



<p>Sebaliknya, figur seperti Ilham Habibie atau Siti Nur Azizah menunjukkan bahwa modal keluarga semata tidak cukup jika tidak didukung oleh kekuatan struktural partai, ideologi, atau jaringan massa.</p>



<p>Dengan demikian, politik trah wapres tampak menghadirkan jalan muram (<em>gloomy road</em>) yang mencerminkan keterbatasan simbolis mereka dalam membangun legitimasi elektoral.</p>



<p>Namun, dalam konteks politik Indonesia yang kini semakin cair dan penuh praktik dinasti, pertanyaan menarik muncul, mungkinkah generasi baru dari trah wapres mampu menembus stagnasi sejarah ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dinamika Legitimasi Trah Wapres</strong></h2>



<p>Dalam telaah <em>political capital</em> atau modal politik. Menurut Bourdieu, “modal” tidak hanya berupa modal ekonomi, tetapi juga modal sosial (jaringan), modal budaya (pendidikan, simbol, prestise), dan modal simbolik (nama besar keluarga, status, citra).</p>



<p>Jika ditelaah, trah wapres cenderung memiliki keterbatasan di modal sosial-massa dan simbolik, karena posisi wapres sendiri jarang melahirkan basis loyalitas yang melekat. Kendati dalam beberapa kasus mereka tak demikian.</p>



<p>Contoh di Indonesia menunjukkan pola ini. Ilham Habibie, meski putra B.J. Habibie, seolah kesulitan membangun karier politik yang signifikan.</p>



<p>Upaya maju di jalur elektoral, termasuk mendampingi Ahmad Syaikhu di Pilkada Jawa Barat 2024, berakhir dengan kekalahan. Modal intelektualnya sebagai teknokrat tidak otomatis diterjemahkan menjadi modal elektoral, karena tidak ada jaringan massa maupun partai yang menopang.</p>



<p>Siti Nur Azizah, putri Ma’ruf Amin, mengalami hal serupa. Ketika mencoba maju di Pilkada Tangerang Selatan 2020, hasilnya justru juru kunci. Meski membawa nama besar ulama sekaligus wapres, faktor itu tidak cukup kuat untuk menandingi kandidat yang memiliki partai dan basis elektoral solid.</p>



<p>Kasus ini menegaskan tesis <em>political inheritance gap</em> bahwa nama besar keluarga hanya relevan jika disertai perangkat struktural yang bisa mengonversi simbol menjadi suara.</p>



<p>Berbeda dengan itu, Meutia Hatta dan Puan Maharani adalah pengecualian. Mereka bukan hanya putri Mohammad Hatta serta putri Megawati plus cucu Soekarno, melainkan pewaris sah legitimasi dan nama besar Hatta maupun PDIP.</p>



<p>Dua hal yang memiliki basis ideologi dan loyalis yang jelas. Keberhasilan Meutia tampak dapat dibaca sebagai profesionalitas dan akomodasi, di sisi lain, Puan lebih tepat dilihat sebagai produk <em>dynastic succession</em> ala partai, bukan sekadar “trah wapres”.</p>



<p>Ada pula figur seperti Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, putra Try Sutrisno, yang mungkin saja menawarkan jalur berbeda. Dengan latar belakang militer, ia seolah telanjut menampilkan impresi modal politik melalui sikap kritis dan reputasi profesional.</p>



<p>Dengan catatan kritisnya mengenai Pemilu dan Pilpres 2024 dalam artikel berjudul “Etika Menuju 2024”, tanpa disengaja, Kunto agaknya menunjukkan potensi untuk mengisi ceruk kepemimpinan alternatif di sosial, politik, dan pemerintahan.</p>



<p>Dari sini kiranya terlihat, jalan politik trah wapres di Indonesia lebih sering dipengaruhi oleh kapasitas personal dan dukungan struktural ketimbang warisan simbolis. Tentu, ditambah dengan ambisi politik personal masing-masing, terutama yang sifatnya ideologis.</p>



<p>Inilah yang membedakan mereka dengan trah presiden, yang hampir selalu diwarisi aura kepemimpinan, loyalis, dan partai.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="2047" height="2560" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-scaled.jpg" alt="" class="wp-image-92683" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-scaled.jpg 2047w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-768x961.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-1228x1536.jpg 1228w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-1638x2048.jpg 1638w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-1068x1336.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-1920x2401.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dinasti-Politiknya-Sebelah-Mana-01-336x420.jpg 336w" sizes="auto, (max-width: 2047px) 100vw, 2047px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kontes Masa Depan?</strong></h2>



<p>Jika kita melihat ke luar negeri, ada pola serupa. Hubert Horatio Humphrey III, Theodore Mondale, atau Ben Quayle, semuanya putra wapres Amerika, hanya mencapai posisi politik menengah seperti jaksa agung negara bagian atau kursi senat.</p>



<p>Mereka jarang melompat ke panggung nasional dengan daya tarik setara presiden. Beau Biden, putra Joe Biden saat masih wapres, sempat menjadi harapan Partai Demokrat, namun kariernya terhenti akibat kematian dini.</p>



<p>Namun, ada pula pengecualian di negara lain. Gloria Macapagal Arroyo di Filipina berhasil menapak jalur politik hingga menjadi wapres dan presiden, sangat identik seperti sang ayah, Diosdado Macapagal, yang menjadi wapres dan presiden Filipina.</p>



<p>Demikian pula Xi Jinping di Tiongkok, yang mewarisi jaringan elite ayahnya, Xi Zhongxun, meski bukan langsung dari posisi wapres melainkan sebagai Vice Premier Tiongkok, yakni aristokrasi politik Partai Komunis.</p>



<p>Serangkaian <em>case</em> tersebut memperlihatkan bahwa ketika trah wapres berhasil, itu agaknya karena kombinasi kapasitas personal, dukungan partai/elite, dan momentum sejarah, bukan karena sekadar simbol keluarga.</p>



<p>Lalu satu yang menarik tentang bagaimana Jan Ethes, cucu Jokowi sekaligus putra Wapres RI saat ini Gibran Rakabuming Raka?</p>



<p>Dengan tetap memperhatikan etik bahwa Ethes masih terlalu dini dalam diskursus politik, simbol nama dirinya dalam tanda petik “Jan Ethes” sempat menghiasi media nasional dalam judul Trio “Jan Ethes” dan Politik Dinasti yang dipublikasikan Kompas pada 2023 lalu.</p>



<p>Dalam teori <em>symbolic capital</em>, “Jan Ethes“ merepresentasikan proyeksi masa depan politik dinasti Jokowi, dan Gibran. Namun, etisnya, ia tentu masih jauh dari kontestasi nyata. Lebih tepat memandang “Jan Ethes” sebagai metafora bagaimana publik membicarakan regenerasi politik dinasti di Indonesia.</p>



<p>Dengan demikian, masa depan trah wapres tetap menghadapi “kontes legitimasi”, yakni apakah mereka memiliki ambisi politik? Serta berikutnya, apakah mereka mampu membalik warisan simbolis yang lemah menjadi basis politik baru?</p>



<p>Di Indonesia, trah wapres mungkin tidak akan menjadi dominan seperti trah presiden. Namun, mereka tetap bagian penting dari mosaik politik dinasti yang terus berkembang.</p>



<p>Dan pada akhirnya, kontes “trah wapres” akan menjadi arena seleksi alam politik, hanya yang berambisi dan mampu mengonversi simbol menjadi legitimasi substantif yang akan bertahan.</p>



<p>Fenomena trah wapres adalah cermin paradoks politik Indonesia. Posisi wapres yang strategis tidak otomatis melahirkan warisan politik yang kuat.</p>



<p>Nama besar hanya menjadi modal awal, bukan tiket menuju kekuasaan. Sejarah Indonesia maupun dunia menunjukkan, hanya sedikit trah wapres yang berhasil menembus panggung nasional.</p>



<p>Namun, dalam politik yang kian cair, kemungkinan tetap terbuka. Pertanyaannya bukan sekadar siapa pewaris nama besar, tetapi siapa yang mampu menjawab tantangan zaman dengan kapasitas personal, basis sosial, dan momentum politik yang tepat.</p>



<p>Dan mungkin, di masa depan, akan ada figur yang berhasil membalik stigma trah wapres &#8220;B aja&#8221;, akan menjadi cerita sukses baru dalam sejarah politik Indonesia. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ghLEjsLRKYg"><iframe loading="lazy" title="DIKIT-DIKIT BLOK M… APA-APA BLOK M… PRAMONO KENAPA SIH?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ghLEjsLRKYg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/ethes-1_ln9byn3w.mp3" length="3764545" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/trah-wapres-1024x577.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gibran &#038; &#8220;Hakim Konstitusi Bayangan&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/gibran-hakim-konstitusi-bayangan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2025 01:50:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[forumpurnawirawan]]></category>
		<category><![CDATA[gibranrakabumingraka]]></category>
		<category><![CDATA[Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahfudmd]]></category>
		<category><![CDATA[Pemakzulan]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=162524</guid>

					<description><![CDATA[Menarik nih mantau kiprah dan kontribusinya Pak Mahfud ke depan. Apakah endingnya akan dirangkul juga masuk pemerintahan?&#160; #mahfudmd #gibranrakabumingraka #wapres #pemakzulan #dpr #forumpurnawirawan #konstitusi #infografis #beritapolitik #politikindonesia #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-819x1024.png" alt="gibran &amp; hakim konstitusi bayangan 1" class="wp-image-162527" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-819x1024.png" alt="gibran &amp; hakim konstitusi bayangan 2" class="wp-image-162528" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>Menarik nih mantau kiprah dan kontribusinya Pak Mahfud ke depan. Apakah endingnya akan dirangkul juga masuk pemerintahan?&nbsp;</p>



<p>#mahfudmd #gibranrakabumingraka #wapres #pemakzulan #dpr #forumpurnawirawan #konstitusi #infografis #beritapolitik #politikindonesia #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/gibran-hakim-konstitusi-bayangan-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Try Sutrisno&#8217;s Kunto Road to Four Star?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/try-sutrisnos-kunto-road-to-four-star/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 May 2025 09:33:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[KSAD]]></category>
		<category><![CDATA[kuntoariefwibowo]]></category>
		<category><![CDATA[pangkogabwilhan]]></category>
		<category><![CDATA[purnawirawan]]></category>
		<category><![CDATA[trysutrisno]]></category>
		<category><![CDATA[Wapres]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=160574</guid>

					<description><![CDATA[Next KSAD?&#160; #ksad #trysutrisno #kuntoariefwibowo #pangkogabwilhan #wapres #gibran #purnawirawan #infografis #beritapolitik #politikindonesia #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-819x1024.png" alt="try sutrisnos kunto 1" class="wp-image-160577" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-819x1024.png" alt="try sutrisnos kunto 2" class="wp-image-160578" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-819x1024.png" alt="try sutrisnos kunto 3" class="wp-image-160579" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p>Next KSAD?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p>#ksad #trysutrisno #kuntoariefwibowo #pangkogabwilhan #wapres #gibran #purnawirawan #infografis #beritapolitik #politikindonesia #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/try-sutrisnos-kunto-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
