<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Video Call &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/video-call/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Feb 2022 07:41:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Video Call &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Video Call, Blusukan Baru Jokowi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/video-call-blusukan-baru-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2020 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[blusukan]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Penanganan Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Video Call]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=92421</guid>

					<description><![CDATA[Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghubungi seorang dokter, perawat, dan guru melalui&#160;video call&#160;dan saling berbagi kisah mengenai kehidupan profesional yang dilalui dalam menghadapi pandemi Covid-19. Apakah ini cara baru dari blusukan ala Jokowi? PinterPolitik.com “In Indonesia, walkin&#8217; and connecting with the people” – 6LACK, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS) Siapa yang sadar bahwa banyak teknologi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading" id="presiden-joko-widodo-jokowi-menghubungi-seorang-dokter-perawat-dan-guru-melalui-video-call-dan-saling-berbagi-kisah-mengenai-kehidupan-profesional-yang-dilalui-dalam-menghadapi-pandemi-covid-19-apakah-ini-cara-baru-dari-blusukan-ala-jokowi"><strong>Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghubungi seorang dokter, perawat, dan guru melalui&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;dan saling berbagi kisah mengenai kehidupan profesional yang dilalui dalam menghadapi pandemi Covid-19. Apakah ini cara baru dari blusukan ala Jokowi?</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p>“In Indonesia, walkin&#8217; and connecting with the people” – 6LACK, penyanyi rap asal Amerika Serikat (AS)</p></blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa yang sadar bahwa banyak teknologi baru yang umat manusia miliki saat ini sebenarnya berasal dari gagasan dan ide yang telah lama muncul? Bahkan, terkadang, ide-ide akan teknologi masa depan itu datang dari gambar layar lebar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejumlah teknologi – seperti telepon seluler (ponsel),&nbsp;<em>artificial intelligence</em>&nbsp;(AI), mobil nir-pengemudi, dan sebagainya – telah lama diprediksi oleh film-film yang dibuat oleh Hollywood.&nbsp;<em>Star Trek</em>&nbsp;(1966), misalnya, disebut-sebut&nbsp;<strong><a href="https://www.businessinsider.com/sci-fi-movie-predictions-2019-5?r=US&amp;IR=T#mobile-phones-star-trek-1966-5/">menjadi inspirasi</a></strong>&nbsp;bagi lahirnya ponsel beberapa dekade setelah seri dan filmnya diproduksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kabarnya, ponsel berantena yang digunakan di seri dan film tersebut menjadi inspirasi bagi insinyur Motorola yang bernama Martin Cooper. Cooper akhirnya membuat desain ponsel pertama di dunia pada tahun 1973.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, sejumlah fitur yang ada di ponsel juga sebenarnya telah ada dalam imajinasi para pembuat film. Salah satunya adalah&nbsp;<em>videophone</em>&nbsp;– atau yang sekarang lebih dikenal dengan istilah “<em>video call</em>”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih tua lagi, teknologi&nbsp;<em>videophone</em>&nbsp;telah muncul dalam sebuah film yang dirilis pada tahun 1927. Salah satu film yang menunjukkan teknologi serupa adalah&nbsp;<em>Metropolis</em>&nbsp;(1927).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam film itu, Joh Federsen tampak menggunakan sebuah mesin telepon yang disertai sebuah layar.&nbsp;<em>Videophone&nbsp;</em>tersebut dilakukan dengan berbicara di depan layar sambil memegang gagang telepon.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain&nbsp;<em>Metropolis</em>&nbsp;(1927), terdapat juga film yang berjudul&nbsp;<em>2001: A Space Odyssey</em>&nbsp;(1968) yang dianggap menunjukkan penggunaan&nbsp;<em>videophone</em>&nbsp;yang lebih mirip dengan masa kini. Dalam film tersebut,&nbsp;<em>videophone</em>&nbsp;dilakukan melalui sebuah komputer – mirip dengan aplikasi seperti Skype dan Zoom.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski telah lama berkembang di dunia nyata dan terintegrasi dalam ponsel yang kita bawa ke mana-mana,&nbsp;<em>videophone</em>&nbsp;tampaknya benar-benar mencapai tingkat penggunaan baru di tengah pandemi. Hampir setiap warga yang memiliki akses terhadap teknologi ini kini menggunakan&nbsp;<em>video call&nbsp;</em>sebagai medium komunikasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cara komunikasi dengan menampilkan wajah secara&nbsp;<em>real-time</em>&nbsp;ini pun juga digunakan oleh pemerintah Indonesia – dan tak terkecuali oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ketika rapat dengan para menteri, misalnya, Jokowi menggunakan aplikasi&nbsp;<em>video conference</em>&nbsp;agar protokol kesehatan Covid-19 tetap terjaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, mantan Wali Kota Solo tersebut tampaknya juga menggunakan teknologi&nbsp;<em>videophone</em>&nbsp;untuk menyapa warganya. Beberapa waktu lalu, Jokowi menghubungi sejumlah warganya yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan guru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa dari mereka membagikan kisah personal mereka dalam menjalani kehidupan profesionalnya di tengah pandemi. Bahkan, dalam salah satu&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;tersebut, dr. Faisal Rizal Matondang, Sp.P bahkan menyampaikan keluh kesahnya akan kurangnya tenaga kesehatan yang tersedia dalam menangani pasien-pasien Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sejumlah&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;yang dilakukan oleh Jokowi ini mengundang beberapa pertanyaan. Mengapa Sekretariat Presiden (Setpres) merasa perlu mengunggah percakapan-percakapan tersebut secara daring? Selain itu, apakah ini bagian dari straregi komunikasi politik ala Jokowi yang baru?</p>



<h4 class="wp-block-heading" id="dampak-psikologis"><strong>Dampak Psikologis</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;yang dilakukan Jokowi, guru, dokter, dan perawat tersebut saling membagikan kisah soal situasi pekerjaan dan pengalaman personal yang mereka alami dalam menghadapi pandemi Covid-19. Bukan tidak mungkin, dengan&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;tersebut, mereka yang profesinya bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 dapat merasa lebih didukung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimana pun, berbagi kisah dan cerita merupakan salah satu teknik psikologis yang mampu membantu seseorang dalam melalui perjuangan yang dihadapinya. Setidaknya, asumsi serupa dijelaskan oleh Elaine J. Lawless dalam&nbsp;<strong><a href="https://books.google.com/books/about/Women_Escaping_Violence.html?id=wIbYAAAAMAAJ&amp;source=kp_book_description">bukunya</a></strong>&nbsp;yang berjudul&nbsp;<em>Women Escaping Violence</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lawless menghubungkan bagaimana kisah-kisah kehidupan para perempuan yang menghadapi kekerasan dan dominasi budaya patriarkis dapat menimbulkan narasi (<em>narratives</em>) yang mampu menguatkan perasaan akan diri sendiri. Setidaknya, kisah yang mereka ceritakan mampu membawa dampak&nbsp;<em>therapeutic</em>&nbsp;terhadap para pencerita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan tidak mungkin, Jokowi ingin mereka mendapatkan efek&nbsp;<em>therapeutic</em>&nbsp;melalui&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;tersebut. Pasalnya, seperti yang banyak diperbincangkan, para tenaga kesehatan mulai kewalahan dalam menangani jumlah pasien yang terus meningkat setiap harinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, berbagi kisah pengalaman personal (<em>personal experience narratives</em>) juga dapat memotivasi para pendengarnya. Menurut Lawless, pembagi cerita secara tidak langsung meminta pendengar untuk memahami kesulitan yang dialaminya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah yang dibagikan dapat menjadi cara agar para pendengar “berpartisipasi” dalam perjuangan yang dilalui pembagi cerita. Bukan tidak mungkin, Jokowi ingin kisah mereka dapat tersalurkan melalui&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;yang diunggahnya di YouTube.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasalnya, sebagian masyarakat disebut masih belum memiliki kesadaran akan pengamalan protokol kesehatan – seperti mengenakan masker dan menjaga jarak. Cuplikan&nbsp;<em>video call&nbsp;</em>yang berisi narasi kisah guru, dokter, dan perawat tersebut bisa saja menjadi cara agar publik mau “berpartisipasi” dalam menghalau virus Corona (SARS-Cov-2).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, manfaat psikologis dari kisah mereka dapat menjadi hal yang positif. Namun, pertanyaan lanjutan pun tetap ada. Apakah mungkin ada dinamika politik yang melandasi&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;Jokowi tersebut? Apa dampak politiknya?</p>



<h4 class="wp-block-heading" id="strategi-blusukan-baru"><strong>Strategi&nbsp;<em>Blusukan</em>&nbsp;Baru?</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Selain memiliki manfaat psikologis, narasi juga dapat memiliki pengaruh politik. Bahkan, narasi dapat menjadi penguat terhadap&nbsp;<em>branding</em>&nbsp;dari seseorang atau kelompok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asumsi ini dijelaskan oleh Deborah N. Simorangkir dari Swiss German University dan Sigit Pamungkas dalam&nbsp;<strong><a href="https://prjournal.instituteforpr.org/asset/wp-content/uploads/03Jokowi-comic-article-FINAL.pdf">tulisan mereka</a></strong>&nbsp;yang berjudul&nbsp;<em>Strategic Political Communication through Storytelling</em>. Tulisan itu menjelaskan bahwa persona dari sebuah merek atau individu dapat diilustrasikan dalam narasi atau kisah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Simorangkir dan Pamungkas mencontohkan beberapa persona yang dapat terbentuk dari sebuah kisah, seperti&nbsp;<em>rebel</em>&nbsp;yang melawan otoritas,&nbsp;<em>mom</em>&nbsp;yang memelihara,&nbsp;<em>rugged individualist</em>&nbsp;yang terkesan egois,&nbsp;<em>champion</em>&nbsp;yang melawan kekuatan-kekuatan jahat, dan&nbsp;<em>underdog</em>&nbsp;yang terus berjuang meski selalu diremehkan atau dianggap lemah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan terciptanya&nbsp;<em>brand</em>&nbsp;atau persona tersebut, narasi dan kisah dianggap dapat menjadi taktik yang bermanfaat dalam strategi komunikasi politik. Bahkan, Simorangkir dan Pamungkas menyebutkan bahwa Jokowi kerap menggunakan kisah sebagai bagian dari strategi komunikasi politik – misal melalui komik yang biasa diunggah oleh Jokowi di akun-akun media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya,&nbsp;<em>video call</em>&nbsp;yang dilakukan Jokowi bisa jadi bukan hanya sebatas menciptakan narasi, melainkan juga bagaimana teknik komunikasi itu bisa dibilang mirip dengan apa yang biasa dilakukan oleh mantan Wali Kota Solo itu, yakni&nbsp;<em>blusukan</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Blusukan</em>&nbsp;sendiri berasal dari istilah dalam bahasa Jawa, yakni&nbsp;<em>blusuk</em>&nbsp;(masuk ke tempat-tempat kecil). Betty Gama dan timnya dalam&nbsp;<strong><a href="https://search.proquest.com/openview/ff35e3af69676f08c579f8ebdd1b66f0/1?pq-origsite=gscholar&amp;cbl=4477153">tulisan mereka</a></strong>&nbsp;yang berjudul&nbsp;<em>Blusukan Cultural as a Political Power in The Regional Head Election of Surakarta</em>&nbsp;menjelaskan bahwa&nbsp;<em>blusukan</em>&nbsp;adalah upaya untuk mencari tahu kondisi akan suatu tempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya&nbsp;<em>blusukan&nbsp;</em>ini kerap dilakukan oleh raja dan bangsawan Jawa. Beberapa raja dan bangsawan yang disebutkan oleh Gama dan timnya adalah Pakubuwono V, Mangkunegoro I, dan Sultan Hamengkubuwono IX.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Blusukan&nbsp;</em>yang dilakukan oleh Pakubuwono V, misalnya, terjadi ketika krisis pangan di Surakarta. Akhirnya, sang raja memutuskan untuk mencari asal muasal persoalannya dengan&nbsp;<em>anjajah desa milang kori</em>&nbsp;yang artinya adalah berkeliling layaknya orang biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya untuk mencari persoalan dengan terjun dan berkeliling dengan orang-orang biasa inilah yang bisa jadi dilakukan oleh Jokowi. Pasalnya, sang presiden juga berusaha mencari tahu bagaimana situasi penanganan pandemi Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, upaya&nbsp;<em>blusukan&nbsp;</em>daring ala Jokowi ini juga mengingatkan kita akan dinamika politik yang mengitari sang presiden, yakni kekuatan-kekuatan politik lain di kabinetnya. Pasalnya, dengan latar belakang sebagai&nbsp;<em>political outsider</em>&nbsp;(di luar lingkaran kuasa elite politik), pemerintahannya rentan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan elite politik dan oligarki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lemahnya pengaruh Jokowi ini, misalnya, mulai terlihat dari bagaimana sang presiden telah beberapa kali menunjukkan kemarahannya dalam rapat kabinet. Namun, aura krisis para menteri justru terkesan biasa-biasa saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, mirip dengan apa yang dilakukan oleh Pakubuwono V, Jokowi bisa saja menggunakan&nbsp;<em>blusukan</em>&nbsp;secara&nbsp;<em>online</em>&nbsp;itu guna kembali menekankan bahwa dirinya adalah bagian dari masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Marcus Mietzner dalam&nbsp;<strong><a href="https://www.eastwestcenter.org/publications/reinventing-asian-populism-jokowis-rise-democracy-and-political-contestation-in">bukunya</a></strong>&nbsp;yang berjudul&nbsp;<em>Reinventing Asian Populism</em>&nbsp;menjelaskan bahwa&nbsp;<em>blusukan</em>&nbsp;menjadi penting bagi Jokowi karena dapat memunculkan empati emosional antara dirinya dengan masyarakat. Hal inilah yang menjadikan mantan Wali Kota Solo tersebut berbeda dengan para politisi pada umumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski begitu, gambaran kemungkinan yang melandasi&nbsp;<em>video call&nbsp;</em>oleh presiden di atas belum tentu benar adanya. Yang jelas, pemerintahan Jokowi kini menghadapi tantangan yang berat dari pandemi Covid-19, baik itu tantangan kesehatan, ekonomi, maupun politik. (A43)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Penanganan Covid-19 DKI Jakarta vs Pemerintah Pusat: Bersama Ferdinand Hutahaean" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/010LGWCFldk?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Video-Call-Blusukan-Baru-Jokowi-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
