<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Universitas Riau &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/universitas-riau/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 05 Jun 2018 13:37:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Universitas Riau &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Radikalisme Mahasiswa, Salah Siapa?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/radikalisme-mahasiswa-salah-siapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 05 Jun 2018 13:37:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Densus 88 Anti-teror]]></category>
		<category><![CDATA[Radikalisme di Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Riau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=30402</guid>

					<description><![CDATA[Ditemukannya empat bom siap ledak di Universitas Riau, membuktikan radikalisme mahasiswa dan kampus sudah sangat mengkhawatirkan. Bagaimana bisa terjadi? PinterPolitik.com “Untuk menjadi radikal adalah untuk memahami hal-hal dari akar.” ~ Karl Marx [dropcap]S[/dropcap]ebagai filsuf modern, Karl Marx dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang radikal. Walau namanya melegenda sebagai tokoh sosialis yang memperjuangkan revolusi kelas, sebelum bertemu Friedrich [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Ditemukannya empat bom siap ledak di Universitas Riau, membuktikan radikalisme mahasiswa dan kampus sudah sangat mengkhawatirkan. Bagaimana bisa terjadi?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Untuk menjadi radikal adalah untuk memahami hal-hal dari akar.” ~ Karl Marx</strong></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]ebagai filsuf modern, Karl Marx dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang radikal. Walau namanya melegenda sebagai tokoh sosialis yang memperjuangkan revolusi kelas, sebelum bertemu Friedrich Engels, sebenarnya Marx merupakan pemikir liberal radikal. Melalui Engels lah, Marx mendapatkan pengaruh pemikiran sosialis.</p>
<p>Meski keduanya bersahabat dekat, Engels bukan hanya donatur tapi juga mentor bagi Marx. Diakui Marx, Engels lah yang menerjemahkan pemikiran-pemikirannya sehingga dapat dipahami masyarakat luas. Bagi Marx, keberadaan Engels membawa perubahan ke arah positif. Namun keberadaan mentor, juga bisa membawa pengaruh yang sebaliknya.</p>
<p>Contoh saja apa yang terjadi di Universitas Riau (UnRi), Sabtu (2/6) lalu. Tiga alumnus kampus tersebut, malah membawa nama buruk bagi almamaternya karena disergap oleh Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti-teror dan Brimob Polda Riau, karena diduga tengah merencanakan aksi teror.</p>
<p>Berdasarkan pemberitaan di berbagai media, temuan empat bom siap ledak di universitas negeri tersebut cukup menghasilkan polemik. Pasalnya, aparat keamanan terpaksa memasuki kawasan kampus agar dapat menyergap tiga mantan mahasiswa yang bersembunyi di Gelanggang Mahasiswa kampus UnRi.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-30404 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2017-11-02-2.-hantu-bernama-radikalisme-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Walaupun dari barang bukti yang ada, tindakan aparat keamanan ini dapat disebut sebagai upaya preventif, namun tetap saja menghasilkan <a href="https://nasional.tempo.co/read/1095067/fahri-hamzah-kritik-densus-88-masuk-kampus-polri-sodorkan-bukti"><strong>komentar negatif</strong></a> dari anggota Dewan, Fahri Hamzah. Mantan aktivis 98 ini, bahkan tidak peduli kalau Kepolisian berhasil menggagalkan rencana para mahasiswa yang ingin meledakkan gedung DPR, tempat dirinya bertugas.</p>
<p>Sebagai institusi pendidikan, masuknya aparat keamanan ke kampus UnRi memang kurang dapat diterima. Namun, bagaimana kalau kampus yang dianggap sebagai “tempat suci” kaum terpelajar, juga telah dinodai oleh paham-paham radikal yang mengarah pada upaya terorisme? Apakah aparat kemudian harus menutup mata, walau buktinya nyata?</p>
<p>Namun terlepas dari polemik tersebut, keberadaan bom di kawasan kampus juga menjadi bukti bahwa paham radikalisme memang benar telah menjalar di berbagai perguruan tinggi – terutama di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tapi, bagaimana paham radikal ini bisa berkembang di lingkungan akademisi berkumpul?</p>
<h3><strong>Generasi Muda dan Radikalisme</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Romantisme masa muda menuntut kita untuk selalu mengambil sikap radikal.” ~ Paulo Coelho</strong></p>
<p>Masa muda penulis asal Rio de Janeiro ini, memang tergolong radikal bila dibandingkan anak-anak muda “kebanyakan” di zamannya. Akibat <em>keukeuh</em> ingin menjadi penulis, Paulo Coelho harus terima bolak balik dijebloskan ke rumah sakit gila oleh ayahnya sendiri yang menginginkan dirinya menjadi pengacara.</p>
<p>Bukan itu saja, Coelho pernah tiga kali melarikan diri dari penjara, dan alat kelaminnya disetrum listrik oleh paramiliter yang menculiknya. Coelho juga sempat terjerat Narkoba di tahun 1970-an, mempelajari ilmu hitam, ajaran setan yang lebih berbahaya dari satanik dan halusinogen, mengikuti berbagai sekte agama, serta tiga kali kawin cerai.</p>
<p>Semua itu Coelho jalani dengan prinsip, “lebih baik kalah dengan mengikuti kata hatimu, ketimbang membiarkan orang lain memutuskan takdirmu”. Sayangnya, prinsip ini pula yang kemungkinan dianut oleh 39 persen mahasiswa generasi Milenial, sehingga dengan sadar mengambil sikap mendukung tindakan radikal.</p>
<p>Berbeda dengan Coelho yang tindakan radikalnya tidak menyakiti orang lain, tindakan radikal para mahasiswa ini, bertujuan untuk mengganti falsafah negara dengan keyakinannya sendiri. Bahkan bagi para penganut <em>takfiri,</em> membunuh orang yang tak sepaham dengan dirinya pun bukan perbuatan dosa lagi.</p>
<p>Ajaran radikal yang cenderung mengarah pada intoleransi dan terorisme ini, menurut Mohammad Iqbal Ahnaf, Peneliti Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS) UGM Yogyakarta, sebenarnya terbentuk dari <a href="https://fakta.news/berita/ppim-uin-jakarta-pengaruh-intoleransi-dan-radikalisme-telah-menjalar-ke-banyak-sekolah-dan-universitas"><strong>sistem</strong> <strong>pendidikan</strong></a> yang mereka terima di bangku sekolah menengah atas (SMA) dan dikembangkan di perguruan tinggi.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-30420 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-05-07-INFOGRAFIS-Radikalisme-Tinggi-Di-Kalangan-Mahasiswa-S13-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Ahnaf menemukan, ajaran intoleransi banyak diterima pelajar dari buku pelajaran maupun dari gurunya. Fakta ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Nasional (UIN) Syarif Hidayatullah. Mereka menemukan, sekitar 58,5 persen siswa dan mahasiswa setuju dengan paham intoleransi dan radikalisme.</p>
<p>Bahkan Guru Besar UIN, Azyumardi Azra, mengalami sendiri<a href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160519_indonesia_lapsus_radikalisme_anakmuda_sekolah"><strong> fenomena</strong></a> ini. Walau sekolah putrinya tergolong bagus, elit, dan cukup mahal di Jakarta Selatan, namun ia menemukan ada satu atau dua guru yang kerap menyisipkan ajaran Salafi (pemikiran Islam yang hitam putih) dan paham pro-radikalisme kepada murid-muridnya.</p>
<p>Kenyataan miris ini ternyata juga diamini oleh Pierre Bordiue, Sosiolog asal Prancis. Dari hasil penelitiannya yang dilakukan di negara Eiffel tersebut, ditemukan kalau paham intoleransi dan radikalisme kebanyakan berasal dari kegiatan-kegiatan keagamaan di sekolah, seperti kegiatan kerohanian dan lainnya.</p>
<p>Radikalisme, bagi Teolog David Lochhead dari Vancouver School of Theology, bukanlah monopoli agama tertentu. Menurutnya, dalam tradisi setiap agama selalu terkandung benih-benih yang disebut isolasionis (terpisah dari yang lain), konfrontasionis (mencurigai kelompok lain), dan bahkan kebencian (memandang musuh harus ditaklukkan).</p>
<p>Pada kelompok tertentu, benih radikalisme ini meningkat menjadi ideologi yang bisa dengan mudah berubah menjadi kekerasan. Inilah yang menurut Sosiolog AS, Mark Juergensmeyer disebut sebagai kultur kekerasan. Sehingga upaya melawan radikalisme melalui <em>koersi</em> (tekanan), malah melahirkan mata rantai kekerasan tak berkesudahan.</p>
<h3><strong>Tren Paradoks Demokrasi</strong><strong> Global</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Revolusi akan gagal jika tidak diadakan perubahan radikal.” ~ Soe Hok Gie</strong></p>
<p>Entah apa yang akan dikatakan oleh Soe Hok Gie, mengenai jalannya reformasi yang telah bergulir selama 20 tahun ini. Walau reformasi tidak menciptakan perubahan radikal layaknya revolusi yang ia harapkan, namun perubahan sistem pemerintahan memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat.</p>
<p>Hanya saja, perubahan politik tersebut tidak disertai dengan perubahan sosial yang membawa kemajuan. Bahkan sebaliknya, terbukanya demokrasi di mana masyarakat bebas menggunakan hak berpendapat dan beraktivitas, lambat laun menciptakan fragmentasi sosial atau perpecahan dalam masyarakat.</p>
<p>Terbukanya keran kebebasan, pada akhirnya dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok berideologi radikal yang di masa Orde Baru sengaja ditekan. Atas nama hak warga negara, di era reformasi, kelompok ini tak butuh waktu lama untuk dapat menyusup ke berbagai lapisan masyarakat, baik di lembaga pendidikan maupun pemerintahan.</p>
<p>Kondisi ini, menurut Peneliti LIPI Ahmad Najib Burhani Ph.D, disebut sebagai <a href="http://www.gusdurian.net/id/article/kajian/Menangkal-Radikalisme-dengan-Pendekatan-Lokal/"><strong>paradoks demokrasi</strong></a>. Sebab keterbukaan alam demokrasi yang diperjuangkan saat reformasi, malah memunculkan intoleransi. Sehingga berbanding terbalik dengan cita-cita dasar demokrasi yang menghargai dan melindungi kelompok tersebut.</p>
<p>Najib melihat, sikap radikalisme ini juga merupakan paradoks yang muncul akibat masif-nya globalisasi. Sistem yang seharusnya menciptakan pola pikir terbuka ini, justru direspon dengan ketakutan kelompok agamis, sehingga timbul penolakan atas realitas yang ada serta menuntut sistem bernegara berdasarkan keyakinannya.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-30421 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Mengapa-Mahasiswa-Rentan-Radikalisme-1-135x135.jpg 135w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Ketakutan globalisasi ini, pada akhirnya juga menciptakan ciri radikalisme yang lebih bersifat acak. Dalam bukunya, <em>Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence</em>, Juergensmeyer mengatakan kalau sebelumnya kelompok radikal identik dengan keyakinan agama, berasal dari masyarakat termarjinalkan, dan bertempat tinggal di wilayah pinggiran, sehingga mudah diidentifikasi dan diantisipasi.</p>
<p>Saat ini, kelompok radikal dan intoleran cenderung sulit diidentifikasi karena tidak lagi memiliki ciri seperti di atas. Menurutnya, aktor radikal bisa muncul dari kalangan menengah ke atas, berpendidikan tinggi, memahami atau bahkan berlatar belakang pendidikan agama. Sehingga radikalisme menjadi bagian dari kemajuan teknologi informasi, akibatnya sulit untuk dideteksi.</p>
<p>Perubahan kelompok radikal tersebut, menurut Sosiolog Inggris Anthony Giddens, sebagian besar disebabkan oleh merosotnya kepercayaan masyarakat kepada partai politik dan elitnya. Kelompok tersebut, memandang demokrasi sebagai sistem yang korup dan hanya mementingkan diri sendiri. Keyakinan ini, kemudian diinduksi pada para mahasiswa yang pemikiran kritisnya dipenuhi dengan ide dan gagasan utopis.</p>
<p>Meski begitu, Giddens mengatakan kalau radikalisme akibat paradoks demokrasi tak hanya terjadi di Indonesia saja, namun juga di negara maju sekalipun. Bedanya hanya di tingkat kekerasan saja, karena munculnya kekerasan sangat tergantung dari tradisi, perlindungan, dan kemampuan negara dalam melindungi warganya.</p>
<p>Konteks melindungi warga inilah yang seharusnya lebih dipikirkan oleh Fahri Hamzah, sebelum sibuk mengkritik keputusan Kepolisian yang menyergap mahasiswa UnRi di kampusnya. Sebab, bagaimana Pemerintah mampu menindak tegas kelompok radikal dan intoleransi, bila pimpinan legislatifnya sendiri tidak memiliki sikap toleransi? (R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Basmi-Radikalisme.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Fahri: Ini Polri atau Kompeni?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/fahri-ini-polri-atau-kompeni/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2018 13:01:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[BNPT]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[Jamaah Ansharut Daulah]]></category>
		<category><![CDATA[Radikalisme di Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Universitas Riau]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=30301</guid>

					<description><![CDATA[“Apakah ada teroris bersenjata dalam kampus? Apakah mereka bikin markas teroris di kantor Menwa? Kenapa senang menampakkan pasukan bersenjata masuk kampus? Ini Polri atau Kompeni?” ~ Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah. PinterPolitik.com [dropcap]A[/dropcap]yo, ada yang tau persamaan penyakit kulit panu pada tubuh dengan radikalisme di Indonesia? Yup, keduanya sama-sama dapat menjalar melalui media yang dihinggapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Apakah ada teroris bersenjata dalam kampus? Apakah mereka bikin markas teroris di kantor Menwa? Kenapa senang menampakkan pasukan bersenjata masuk kampus? Ini Polri atau Kompeni?” </em>~ Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]A[/dropcap]yo, ada yang tau persamaan penyakit kulit panu pada tubuh dengan radikalisme di Indonesia? Yup, keduanya sama-sama dapat menjalar melalui media yang dihinggapi dan bisa memperluas area yang terinfeksi. Bayangin aja rasanya kalau panu gak segera diobati di awal kemunculannya, <em>beh,</em> bisa jadi tambah luas tuh panu di kulit.</p>
<p>Apalagi kalau panu itu dengan sengaja dipelihara, yang ada nanti seluruh tubuh ini bisa jadi putih <em>cling-clin</em>g kayak <em>boyband</em> Korea, <em>hahaha</em>. Nah, begitu juga dengan paham radikalisme di Indonesia. Paham ini kan gak serta-merta muncul bak hujan saat teriknya sinar matahari di siang hari. Jadi gak <em>ujug-ujug nongol</em>.</p>
<p>Radikalisme bisa tetap eksis di Indonesia hingga kini, ya karena ada pihak-pihak yang memang dengan sengaja menanam bibit ini dengan berbagai upaya. Salah satunya yang dianggap cukup efektif dalam pembibitan paham radikalisme yaitu dengan memanfaatkan lembaga pendidikan seperti kampus. <em>Wew</em>.</p>
<p>Hal itu terbukti saat Densus 88 menangkap tiga orang terduga teroris jaringan <em>Jamaah Ansharut Daulah</em> (JAD) di kawasan Universitas Riau pada Sabtu lalu. Ketiganya merupakan alumni kampus tersebut. Waduh, ini kampus kok udah kayak produsen teroris aja sih. Yang kayak gini nih yang justru ngerusak citra kampus.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Saya mendapat gambar ini, dan saya mendapat beberapa link: <br />1. <a href="https://t.co/mE9zQ7cd9T">https://t.co/mE9zQ7cd9T</a><br />2. <a href="https://t.co/rNvdnATeKh">https://t.co/rNvdnATeKh</a><br />Ini bukankah cara menghadapi kampus. Ini merusak iklim yang kita harapkan tumbuh. <a href="https://t.co/eEFuvaZ4BG">pic.twitter.com/eEFuvaZ4BG</a></p>
<p>&mdash; #2019HayyaAlalFalah (@Fahrihamzah) <a href="https://twitter.com/Fahrihamzah/status/1002985807861329920?ref_src=twsrc%5Etfw">June 2, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Tiga terduga teroris  itu tertangkap berikut barang bukti bom rakitan, senapan angin dan satu buah granat tangan rakitan. Penangkapan pelaku ini merupakan pengembangan atas keterangan dua terduga teroris yang diringkus sebelumnya. Keduanya juga mantan mahasiswa di univesitas yang sama dengan pelaku.</p>
<p>Nah kan, dari kasus ini terbukti kalau kampus itu pranata paling efektif untuk menanam bibit radikalisme. Tapi, uniknya nih ya, ternyata masih ada aja loh pihak-pihak yang menampik fakta ini. Salah satunya adalah Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.</p>
<p>Entah kenapa kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini justru menyayangkan sikap Polri yang agresif menangkap terduga teroris itu di dalam kampus. Menurutnya tindakan tersebut hanya bentuk represif terhadap terhadap aktivis Islam. Fahri berani jamin, kampus bukan sarang teroris seperti yang Polri duga.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Dari ujung ke ujung kita tahu arti semua ini. Maka kebenaran tidak boleh hanya satu versi. Tuduhan yang dibuat oleh pemerintah dan sejenisnya tentang radikalisme di kampus itu yang dimaksud adalah aktifis Islam. <a href="https://twitter.com/hashtag/SaveKampus?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#SaveKampus</a></p>
<p>&mdash; #2019HayyaAlalFalah (@Fahrihamzah) <a href="https://twitter.com/Fahrihamzah/status/1002972239942127617?ref_src=twsrc%5Etfw">June 2, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Lah, ini Bang Fahri gak bisa bedain individu bibit terorisme dengan aktivis Islam? Apa dia gak percaya sama yang dilakukan Polri dalam menumpas terorisme di Indonesia? Wakil rakyat kok malah <em>nyinyirin</em> langkah Polri ini sih? Di sisi lain argumen Bang Fahri ini malah seakan melindungi terduga teroris itu atas nama aktivis Islam.</p>
<p>Aktivis Islam dari Hongkong? Justru adanya penangkapan berikut barang bukti di TKP, membuktikan jika sebagian pemeluk Islam telah terkontaminasi dengan paham radikal. Siapa mereka? Ya lebih spesifiknya yang tergabung dalam <em>Jamaah Ansarut Daulah.</em> Jadi gak usah malu untuk mengakui fakta ini. Apalagi malah menuding Polri melakukan upaya represif terhadap aktivis Islam. Jadi Bang Fahri, bela teroris apa gimana sih? (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/Fahri-Hamzah.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
