<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Transgender &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/transgender/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Mar 2023 13:25:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Transgender &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sisi Gelap Transgender ala Nong Poy</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sisi-gelap-transgender-ala-nong-poy/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2023 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[crazy rich Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[LGBT]]></category>
		<category><![CDATA[Nong Poy]]></category>
		<category><![CDATA[Transgender]]></category>
		<category><![CDATA[transpuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=125500</guid>

					<description><![CDATA[Publik dihebohkan dengan pernikahan aktris transgender Thailand bernama Nong Poy. Namun, ada sisi gelap di balik kehebohan "transgender" ini.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Publik dan warganet Indonesia dibuat heboh oleh kabar pernikahan aktris transgender asal Thailand, Treechada Petcharat alias Nong Poy, dengan Oak Phakwa Hongyok. Namun, di balik kehebohan ini, ada sisi gelap di kalangan komunitas transgender.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Transgender yang bikin media se-Asia kompak bicara tentangnya, Treechada Petcharat (Nong Poy). Wajah sampai gerak-geriknya sempurna seperti layaknya perempuan pada umumnya. Mungkin krn itu juga salah satu anak konglomerat Thailand melamarnya.” – @zoelfick</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Tanggal 1 Maret 2023 bisa dibilang menjadi hari paling bahagia bagi pasangan populer di <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/thailand/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Thailand</strong></a>, yakni Treechada Petcharat dan Oak Phakwa Hongyok. Sepasang suami dan istri ini akhirnya resmi menikah setelah Treechada yang juga dikenal sebagai Nong Poy itu mengumumkan pertunangan mereka pada 3 Februari 2023.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wajarnya, kabar pernikahan seperti ini disambut dengan ucapan selamat dan doa agar pernikahan mereka bertahan selama waktu mengizinkan. Namun, fokus publik dan media justru berfokus pada <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/nong-poy/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Nong Poy</strong></a> sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Warganet di Indonesia justru lebih suka membicarakan identitas Nong Poy yang merupakan transgender. Di Twitter, misalnya, seperti cuitan di awal tulisan, orang-orang lebih suka membahas keheranan mereka pada penampilannya yang begitu cantik dengan label-label seperti “bukan <em>cewek </em>tulen”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya soal penampilannya, sejumlah warganet bahkan membahas mengenai seksualitas dari Nong Poy dan sang suami. Sejumlah pengguna Twitter ikut angkat bicara mengenai neo-vagina – istilah untuk organ Nong Poy yang merupakan hasil transformasi kelamin dan gender.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa bahkan mempertanyakan apakah neo-vagina Nong Poy mampu bekerja layaknya vagina alami seorang perempuan. Bahkan, sejumlah pihak ikut membanding-bandingkan Nong Poy dengan figur-figur transpuan lainnya – seperti Lucinta Luna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa bertanya-tanya mengapa Lucinta tidak bisa menjadi layaknya Nong Poy yang begitu cantik. Ada juga yang bahkan menyebutkan bahwa transformasi gender Nong Poy telah sukses dan berhasil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlepas dari bagaimana persepsi soal Nong Poy di publik atau kondisi medis organ yang dimilikinya, publik seakan-akan melakukan penilaian mengenai “lulus atau tidaknya” Nong Poy atas transformasi gender yang dilakukannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironinya, sejumlah individu sampai bertanya-tanya dan mencari-cari alasan sebenarnya mengapa akhirnya konglomerat “<a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/crazy-rich-thailand/"><strong><em>crazy rich Thai</em></strong></a>” Oak bersedia menikahi Nong Poy. Tentu, Oak jelas memiliki alasannya sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/p/CpZQP4jP8C3/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/AYsswxLjGrUYhXXx-uCTKSVrjY0O2ZKrSfshcy-6CgeXRNx-G-IRtLS4Q1aMYpn4wc6JeEyGRibFi0RHXOeHymdSecIUaTnGHS7NCleMHyAkIZkPX3zOw2byx33Z1en9yGwgx1Q9ZpdzRQumWxHtTg" alt="Mengenal Nong Poy Transgender Tercantik di Dunia"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, mengapa publik sampai begitu bertanya-tanya, mengevaluasi, bahkan berasumsi soal individu yang bahkan tidak berada di Indonesia ini? Mengapa kebanyakan di masyarakat merasa begitu berhak untuk melakukan hal-hal itu pada Nong Poy?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Semua-semua Heteronormatif?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penilaian masyarakat terhadap sosok Nong Poy ini sebenarnya berangkat pada norma yang diyakini. Berbasis pada norma gender, masyarakat melakukan atribusi gender kepada individu yang tidak mereka kenal – layaknya Nong Poy dan Lucinta Luna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk mencari jawaban dan alasan mengapa publik begitu getol menilai Nong Poy, kita perlu memahami bagaimana cara kerja masyarakat. Di dalam bermasyarakat, ada konsep atau istilah yang disebut sebagai “norma”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Norma inilah yang akhirnya menjadi acuan bagi setiap individu di masyarakat bersikap dan menilai individu lain. Sederhananya, norma ini semacam nilai yang diyakini soal apa dan bagaimana yang benar, serta apa dan bagaimana yang salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini sejalan dengan penjelasan Jack P. Gibbs dalam tulisannya yang berjudul <em>Norms: The Problem of Definition and Classification</em>. Gibbs setidaknya menjelaskan norma menjadi tiga dimensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimensi <em>pertama</em> adalah evaluasi kolektif atas perilaku dalam hal apa yang seharusnya. Misalnya, menjadi wajar apabila kita melihat seorang pengemudi berhenti saat melihat lampu lalu lintas menyala merah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, dimensi <em>kedua</em> adalah ekspektasi kolektif atas perilaku di masa depan. Dalam hal ini, ketika lampu sudah menyala hijau, pengemudi tersebut diekspektasikan untuk melaju kembali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terakhir, dimensi <em>ketiga</em> adalah reaksi khusus terhadap perilaku. <em>Nah</em>, ketika pengemudi malah tetap berhenti saat lampu sudah menyala hijau, dia akan mengganggu pengemudi lainnya dan telah melanggar peraturan lalu lintas – sehingga reaksi seperti sanksi tilang atau <em>omelan</em> pengemudi lain pun timbul.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, bayangkan kalau rangkaian norma ini bukan membahas hanya soal lalu lintas, melainkan juga soal identitas gender. Norma ini jadinya malah mengatur soal identitas setiap individu – entah individu itu laki-laki, perempuan, atau lainnya.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/pOoZRtCLYXcXZBUIxlTE2PbZDBiTBOhXsOjHHNMnP3uyzyW8JNKQ1kZCFfLmFiJ_bivaSqPJUlkRlq8P_Ylnt85ha3UllOn9hK635cmz2hqdj5LGzRUncb22gxAMRzsO5ylBKKtqic3wUvJwFyUpUQ" alt="Dorce Gamalama Sang Ikon Transgender"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Norma gender pun menjadi semakin eksklusif ketika nilai-nilai tertentu menjadi acuan dominan. Inilah yang disebut sebagai heteronormativitas oleh Janice Mary Habarth dalam disertasinya yang berjudul <em>Thinking ‘Straight’: Heteronormativity and Associated Outcomes Across Sexual Orientation</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sederhananya, heteronormativitas adalah norma yang disesuaikan dengan pemahaman gender dalam koridor heteroseksualitas – kerap menyasar kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (<a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/lgbt/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>LGBT</strong></a>). Artinya, ada ekspektasi dan evaluasi tertentu yang didasarkan pada identitas gender laki-laki dan perempuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat Lucinta Luna berbicara menggunakan suaranya yang berat, misalnya, ada evaluasi di masyarakat bahwa Lucinta Luna bukanlah seorang perempuan sebenarnya karena suara perempuan dianggap seharusnya bernada ringan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Evaluasi semacam inilah yang akhirnya mendasari mengapa transpuan layaknya Nong Poy dianggap sebagai “laki-laki yang berubah jadi perempuan layaknya perempuan asli” – apalagi banyak orang menilai dirinya begitu anggun dan cantik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, dengan evaluasi heteronormatif seperti ini, apakah lantas kita bisa mengatakan bahwa Nong Poy telah “lulus” untuk menjadi perempuan? Mengapa penilaian ini sebenarnya bisa menjadi problematis?&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Nong Poy “Lulus” Jadi Perempuan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Layaknya ujian pada umumnya, bisa jadi ada juga “kelulusan” yang disematkan pada “ujian” identitas gender. Dalam kasus Nong Poy, misalnya, banyak individu berkomentar mengenai kecantikannya yang menjadi alasan Oak untuk menikahinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah isu sensitif yang kerap muncul di kelompok <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/transgender/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>transgender</strong></a>. Thomas J. Billard dalam tulisannya yang berjudul <em>“Passing”and the Politics of Decption</em> sebagai “<em>passing</em>” atau “lulus” – seakan-akan ada kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang harus dilalui. Jika “KKM” itu tidak tercapai, maka muncul persepsi bahwa individu transgender itu belum berhasil sepenuhnya bertransformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di kalangan transgender, seorang transgender bisa dianggap “lulus” bila individu tersebut “terlihat” sepenuhnya layaknya mereka yang telah memiliki jenis kelamin sesuai saat lahir.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/VoouF7EEHzqdhbRD9eOLeHyb8EdT-i4W32MNcGBWvi6ZlQt6EMBpUL3VnDkGlrBVdptJY2Pxl7ktnrq7Zm0Z_jK6QNYAi2DGlXVzsfNm0IGiwHagaHqamA1oTmCyyFf-RMOTTlDve7U9v7EUXjC8GA" alt="Saatnya Transgender Diakui"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apa “KKM” yang mereka harus penuhi untuk dinyatakan “lulus”? Jawabannya adalah ciri fisik dan penampilan yang mereka miliki – tentu harus sejalan dengan heteronormativitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu, bagi sejumlah <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/transpuan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>transpuan</strong></a> yang memiliki sumber untuk menjangkau “kelulusan”, upaya untuk mendapatkan ciri fisik dan penampilan tertentu masih memungkinkan. Nong Poy, misalnya, sebagai selebriti yang cantik, boleh jadi telah dianggap sebagai transgender yang telah “lulus” oleh sebagian besar orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, persoalan menjadi rumit apabila seorang transgender tersebut tidak memiliki akses dan sumber yang memadai untuk mendukung transformasinya. Terdapat banyak faktor yang membuat transformasi gender mereka menjadi lebih sulit – mulai dari status sosio-ekonomi, dukungan lingkungan, hingga kemajuan dunia medis di negara masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Individu-individu di Indonesia yang sedang dalam proses bertransformasi soal identitas gendernya, misalnya, masih banyak tidak memiliki akses ke kebutuhan-kebutuhan dasar. Banyak dari mereka masih kesulitan – bahkan hanya untuk – mencari makan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belum lagi, pengucilan masih dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap kelompok transgender ini. Untuk kartu identitas – seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), misalnya, masih mensyaratkan para transgender untuk menggunakan identitas gender mereka saat lahir meskipun pemerintah akhirnya sudah berusaha menjemput bola ke individu-individu transgender saat pandemi Covid-19 menerjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini membuat akses mereka untuk mendapatkan hak identitas menjadi sulit. Padahal, dokumen kependudukan seperti KTP penting untuk digunakan agar mereka bisa mendapatkan manfaat kebijakan-kebijakan sosial dari pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meledaknya sosok Nong Poy di media massa dan media sosial (medsos) di negeri ini sebenarnya menimbulkan ironi tersendiri bagi komunitas transgender Indonesia. Tidak semua transgender memiliki privilese “<em>passing</em>” layaknya Nong Poy.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di saat publik Indonesia dihebohkan dengan kecantikan Nong Poy, kita masih tidak sadar akan teman-teman kita sendiri yang tidak memiliki akses untuk bisa “lulus” sepenuhnya untuk memiliki identitas gender yang mereka inginkan – bahkan untuk hanya sekadar hidup. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="4D31TsY1f3Y"><iframe title="Women&#039;s March: Melawan Kekerasan LGBT di Indonesia" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/4D31TsY1f3Y?start=1&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/Sisi-Gelap-Transgender-ala-Nong-Poy.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Transgender Tercantik di Dunia</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/mengenal-transgender-tercantik-di-dunia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Mar 2023 03:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[crazy rich Thailand]]></category>
		<category><![CDATA[Nong Poy]]></category>
		<category><![CDATA[Oak Phakwa Hongyok]]></category>
		<category><![CDATA[Transgender]]></category>
		<category><![CDATA[Treechada Petcharat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=125385</guid>

					<description><![CDATA[Treechada Petcharat alias Nong Poy menikah dengan crazy rich Thailand, Oak Phakwa Hongyok]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1200" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1.jpg" alt="infografis mengenal transgender tercantik di dunia1" class="wp-image-125388" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1-768x853.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1-1068x1186.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1-1920x2133.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1-378x420.jpg 378w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Treechada Petcharat alias Nong Poy menikah dengan crazy rich Thailand, Oak Phakwa Hongyok</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/infografis-Mengenal-Transgender-Tercantik-di-Dunia1-1024x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dorce Gamalama: Sang Ikon Transgender</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/dorce-gamalama-sang-ikon-transgender/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M78]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Feb 2022 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Dorce gamalama]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Transgender]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=94671</guid>

					<description><![CDATA[Selebriti Dorce Gamalama Meninggal Dunia Pada 16 Februari 2022]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="837" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-837x1024.jpg" alt="" class="wp-image-94673" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-837x1024.jpg 837w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-245x300.jpg 245w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-123x150.jpg 123w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-768x940.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-696x852.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-1068x1307.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-343x420.jpg 343w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender.jpg 1080w" sizes="(max-width: 837px) 100vw, 837px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Selebriti Dorce Gamalama Meninggal Dunia Pada 16 Februari 2022</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Dorce-Gamalama-Sang-Ikon-Transgender-837x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pilu Transpuan di Tengah Pandemi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/pilu-transpuan-di-tengah-pandemi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jul 2021 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Pandemi Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Transgender]]></category>
		<category><![CDATA[transpuan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=98987</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="885" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-885x1024.jpg" alt="" class="wp-image-98966" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-885x1024.jpg 885w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-259x300.jpg 259w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-130x150.jpg 130w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-768x889.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-696x806.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-1068x1236.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-363x420.jpg 363w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 885px) 100vw, 885px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/infografis-Pilu-Transpuan-di-Tengah-Pandemi-885x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Saatnya Transgender Diakui?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/saatnya-transgender-diakui/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2021 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[e-KTP]]></category>
		<category><![CDATA[Kemendagri]]></category>
		<category><![CDATA[LGBT]]></category>
		<category><![CDATA[Transgender]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=89576</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-819x1024.jpg" alt="" class="wp-image-89567" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-336x420.jpg 336w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /><figcaption>Kemendagri bakal fasilitasi KTP untuk transgender</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Saatnya-Transgender-Diakui-819x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tuntutan Women’s March di Jakarta</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tuntutan-womens-march-di-jakarta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S21]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Mar 2017 07:53:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Biseksual]]></category>
		<category><![CDATA[Ekualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[Gender]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan Seksual]]></category>
		<category><![CDATA[Komnas Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Lesbian]]></category>
		<category><![CDATA[LGBT]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Seks]]></category>
		<category><![CDATA[Transgender]]></category>
		<category><![CDATA[Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[Women's March]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=6519</guid>

					<description><![CDATA[“Data lain Komnas Perempuan sepanjang 1998–2013 menunjukkan, hampir seperempat dari 93.960 kasus adalah kasus kekerasan seksual. Ini berarti, dalam kurun waktu tersebut ada 35 perempuan setiap hari menjadi korban kekerasan seksual atau setiap 2 jam tiga perempuan menjadi korban.” pinterpolitik.com [dropcap size=big]S[/dropcap]ekitar 1,000 orang, kebanyakan perempuan mengenakan baju pink dan ungu, melakukan aksi berjalan kaki [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“Data lain Komnas Perempuan sepanjang 1998–2013 menunjukkan, hampir seperempat dari 93.960 kasus adalah kasus kekerasan seksual. Ini berarti, dalam kurun waktu tersebut ada 35 perempuan setiap hari menjadi korban kekerasan seksual atau setiap 2 jam tiga perempuan menjadi korban.”</strong></p>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]S[/dropcap]ekitar 1,000 orang, kebanyakan perempuan mengenakan baju pink dan ungu, melakukan aksi berjalan kaki <em>(long march) </em>dari Sarinah menuju Monas, Sabtu (4/3/2017). Aksi “Women’s March in Jakarta”, yang mendapat dukungan dari 34 organisasi hak asasi manusia, aktivis perempuan dan lesbian, gay, biseksual, transgender (LBGT). Women Long March ini, berhasil mendapat perhatian dari begitu banyak para kawula muda, masyarakat awam, serta berbagai kalangan artis. Acara yang di sisi dengan orasi, tarian dan nyanyian ini, panitia Women’s March membawa 8 tuntutan yang cukup serius kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia.</p>
<p><figure id="attachment_6531" aria-describedby="caption-attachment-6531" style="width: 1600px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-6531 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39.jpeg" alt="Tuntutan Women’s March" width="1600" height="1600" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39.jpeg 1600w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-696x696.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-1068x1068.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-420x420.jpeg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-135x135.jpeg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-150x150.jpeg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-300x300.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-768x768.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-1024x1024.jpeg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-02-27-at-12.49.39-125x125.jpeg 125w" sizes="auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px" /><figcaption id="caption-attachment-6531" class="wp-caption-text">8 Tuntutan Women’s March – Resmidari Women’s March di Jakarta</figcaption></figure></p>
<p>Salah satu tuntutan Women’s March adalah pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. RUU ini sekarang berada di Prolegnas dan diharapkan akan disahkan tahun 2017. Namun muncul kekhawatiran dimana RUU ini akan tersendat di Prolegnas mengingat RUU ini juga pernah masuk Prolegnas 2016 namun belum bisa disahkan karena adanya perbedaan pendapat dari beberapa fraksi.</p>
<p>Aktifis perempuan mendesak bahwa RUU ini krusial untuk segera disahkan dan dijadikan undang-undang secepatnya karena hukum yang ada di Indonesia saat ini belum cukup untuk memproteksi perempuan dari kekerasan.</p>
<p>UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga hanya mengatur kekerasan dalam perkawaninan. Sementara di KUHP 285; hanya mengatakan:</p>
<blockquote><p>“Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun.”</p></blockquote>
<p>Alhasil menurut acuan KUHP ini maka hukum hanya berlaku apabila ada penetrasi alat kelamin pria ke dalam alat kelamin perempuan. Sementara aduan-aduan yang banyak diterima oleh lembaga-lembaga aktifis perempuan dan Komnas Perempuan, para pelaku pemerkosaan melakukan kekerasan tidak hanya dengan kekerasan penetrasi alat kelamin saja, tetapi juga dengan berbagai cara lain termasuk menggunakan kekerasan secara psikis. RUU Penghapusan Kekerasan <a href="http://www.jurnalperempuan.org/blog2/ruu-penghapusan-kekerasan-seksual-refleksi-negara-yang-abai-terhadap-perlindungan-perempuan-dan-anak">dirancang agar ada landasan hukum yang adil</a>, berpihak pada korban dan mencakup semua jenis dan kompleksitas kekerasan seksual. Disamping itu RUU ini ingin membuat  kewajiban proses penyidikan dan peradilan yang berpihak pada korban.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6529" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07.png" alt="" width="2184" height="1183" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07.png 2184w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-696x377.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1068x579.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-775x420.png 775w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1920x1040.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-300x163.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-768x416.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1024x555.png 1024w" sizes="auto, (max-width: 2184px) 100vw, 2184px" /></p>
<p><strong>Indonesia Gawat Kekerasan Terhadap Perempuan? </strong></p>
<p>Urgensi RUU ini adalah karena semakin gawatnya kekerasan terhadap perempuan. Menurut <a href="http://www.komnasperempuan.go.id/wp-content/uploads/2016/03/KOMNAS-PEREMPUAN-_-CATATAN-TAHUNAN-2016edisi-Launching-7-Maret-2016.pdf">catatan tahunan</a> Komnas Perempuan pada 2016, lebih dari 321.000 kekerasan terhadap perempuan terjadi di Indonesia. Data lain Komnas Perempuan sepanjang 1998–2013 menunjukkan, hampir seperempat dari 93.960 kasus adalah kasus kekerasan seksual. Jika dibagi kurun waktu, hal ini berarti,  35 perempuan setiap hari menjadi korban kekerasan seksual. Artinya, setiap 2 jam tiga perempuan menjadi korban.</p>
<p>Proyek <a href="https://www.facebook.com/menghitungpembunuhanperempuan/">Menghitung Pembunuhan Perempuan</a> yang dibuat oleh Kate Walton menghitung ada 165 pembunuhan yang dicatat  oleh media massa pada 2016. Artinya,setiap 2 hari ada 1 wanita yang dibunuh, dimana pada umumnya mereka dibunuh oleh suami atau pasangannya.</p>
<p>Sementara itu, temuan Multi Country Study on Men and Violence in Asia and the Pacific yang di-<em>publish</em> di jurnal media terkemuka <a href="http://thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS2214-109X(13)70069-X/abstract"><em>The Lancet</em></a>, yang dilakukan PBB pada  2013, menunjukkan bahwa di Indonesia 16,6% dari lelaki di Jayapura (Papua) 6,6%  di Jakarta mengaku pernah memperkosa pasangannya.</p>
<p>Sementara pada saat ditanya apakah mereka pernah memaksa kehendaknya saat pasangannya tidak menghendaki hubungan intim, jumlah ini naik dari 16,6% ke 48,6% di Jayapura dan dari 6,6%  ke-26,2% di Jakarta. Artinya ada masalah mendalam tentang persepsi lelaki tentang apa itu kekerasan seksual sebenarnya.</p>
<p>Lebih jauh, studi ini juga melaporkan bahwa hanya sedikit sekali lelaki,yaitu hanya 20% dari yang mengatakan pernah memperkosa perempuan ditangkap, dan hanya 14% dari itu yang dikirim ke penjara. Banyak perempuan yang mengatakan susahnya melaporkan kekerasan seksual di Indonesia, karena rasa malu dan takut tidak dianggap serius. Tidak sedikit laporan bahwa sering kali polisi atau aparat negara tidak menganggapi kekerasan seksual sebagai problema yang serius dan sering kali malah harus diselesaikan secara kekeluargaan.</p>
<p>Artinya, instrumen hukum yang ada saat ini masih belum berpihak kepada perempuan dan tuntutan Women’s March di Jakarta, ini layak dituntut kepada pemerintahan dan masyarakat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6530" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1.png" alt="" width="2250" height="1180" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1.png 2250w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-696x365.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-1068x560.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-801x420.png 801w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-1920x1007.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-300x157.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-768x403.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-07-1-1024x537.png 1024w" sizes="auto, (max-width: 2250px) 100vw, 2250px" /></p>
<p><strong>Toleransi LBGT di Indonesia? </strong></p>
<p>Di acara Women’s March, hak komunitas transgender pun secara <em>visible </em>didukung. Pemenang Miss Transchool 2017, suatu kompetisi yang diadakan oleh Sanggar Swara Mahardika, organisasi tempat berkumpul waria remaja di Jakarta, mengatakan dalam orasinya bahwa separuh kaum waria dan transgender di Ibukota kerap mengalami kekerasan.</p>
<p>Oleh karena itu, ajakan terhadap masyarakat ini kemudian dinilai penting untuk dilaksanakan agar semua kalangan berhenti memperlakukan kaum perempuan dan komunitas minoritas gender lainnya secara diskriminatif atau malah menjadikan mereka sasaran tindakan kekerasan.</p>
<p>Seperti yang ditulis sebelumnya di artikel <span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span> <em><a href="https://pinterpolitik.com/rainbow-over-the-moonlight/">Rainbow Over the Moonlight</a>, </em>LBGTQ+ telah ada sejak sebelum masuknya Islam maupun Kristen ke Indonesia. Syakila, salah satu peserta aksi Women’s March yang mengenakan kebaya yang dinodai darah,berasal dari Sulawesi Selatan, dimana kaum trans memiliki kedudukan terhormat, yakni sebagai “penyambung lidah” rakyat dan raja, dengan para dewa. Mereka menyebutnya sebagai Bissu. Sangat keramatkan kedudukan Bissu pada jaman dulu sehingga memangil hujan untuk panen Bissu akan dipanggil.</p>
<p>Sebenarnya, pada akhir tahun 1960, komunitas trans lebih ‘diterima’ masyarakat saat lahirnya organisasi waria pertama di Indonesia, Himpunan Wadam Djakarta (Hiwad), yang didukung Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (saat itu). Namun, penggunaan istilah wadam (wanita-adam) kemudian mendulang protes, karena kelompok agama tidak setuju nama Adam yang ada dalam kitab suci agama Islam maupun agama Kristen digunakan kelompok transgender. Belakangan ini banyak dari komunitas LBGT merasa ruang geraknya di Indonesia makin terbatas.</p>
<p>Belakangan, penolakan terhadap keberadaan kaum LGBT pun sudah masuk ke dalam ranah hukum. Sekelompok orang yang tergabung dalam Aliansi Cinta Keluarga (AILA), Mei 2016, mendaftarkan uji materi Pasal 284 (perzinahan), 285 (perkosaan) dan 292 (pencabulan sejenis orang dewasa terhadap anak) KUHP ke Mahkamah Konstitusi. AILA menginginkan agar ada perluasan makna terhadap masing-masing pasal tersebut. Mereka ingin agar pidana perzinahan tidak lagi terbatas kepada hubungan seksual pasangan yang sudah menikah saja, tapi juga menyasar pada pasangan tidak menikah. Pidana pencabulan juga diperluas maknanya dengan membidik hubungan seksual sejenis sesama orang dewasa. Para anggota AILA melihat, maraknya LGBT di Tanah Air merupakan pengaruh dari negara luar, khususnya Barat yang tidak berbasis kepada sejarah nusantara Indonesia.</p>
<p><strong>Otonomi Tubuh dan Kekerasan terhadap Wanita</strong></p>
<p>Banyak pula poster yang menyuarakan keinginan perempuan untuk tidak diatur tubuhnya. Dari poster yang mengatakan ‘Jangan Atur Tubuhku’ hingga ‘Pakai celana pendek di negara tropis itu wajar’, otonomi tubuh merupakan salah satu tema utama dalam Women’s March ini. <em>Cat calling </em>atau <em>sexual harassment </em>sering dianggap sebagai isu tidak penting. Salah satu kritik Women&#8217;s March Irfan Prawiradinata konsultan dari Boston Consulting Group dalam Instagram post-nya yang menjadi viral, menyebutkan, Women’s March ini seperti ikut-ikutan Women’s March on Washington. Menurut dia, edukasi lebih penting.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-6560" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32.jpeg" alt="" width="1000" height="1233" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32.jpeg 1000w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32-324x400.jpeg 324w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32-696x858.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32-341x420.jpeg 341w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32-243x300.jpeg 243w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32-768x947.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-07-at-15.17.32-830x1024.jpeg 830w" sizes="auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px" /></p>
<p>Namun, sebenarnya <em>sexual harassment </em>dan otonomi tubuh adalah sesuatu yang erat terkait. <em>Sexual harassment </em>dan <em>cat calling </em>adalah upaya yang kerap membuat perempuan tidak merasa aman berada di ruang publik.</p>
<p>Menurut sebuah <a href="http://edition.cnn.com/2008/LIVING/personal/05/14/lw.catcalls/index.html?iref=allsearch">survei</a> psikologis yang berbasis di New Jersey, <em>cat calling</em> dapat menyebabkan korban tanpa sadar melakukan penilaian atas diri sendiri, seperti layaknya menilai benda (<em>self-objectification</em>), membuat sang korban menilai dirinya sebagai objek, bongkahan daging bukan sebagai manusia. Hal ini juga memberikan relasi kuasa, yang membuat lelaki yang melakukan hal ini melihat perempuan sebagai obyek.</p>
<p>Banyak lelaki menganggapi hal ini dengan tidak serius, karena mereka sendiri tidak akan pernah melakukannya atau melakukan tindak kekerasan. <em>Cat calling </em>sebenarnya menimbulkan perasaan takut dan tidak aman, karena korban (biasanya dalam hal ini perempuan) tidak pernah bisa yakin apakah ini hanya kata-kata atau akan tereskalasi menjadi tindak kekerasan.</p>
<p><strong>Apa ke Depan untuk Women’s March?</strong></p>
<p><figure id="attachment_6533" aria-describedby="caption-attachment-6533" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-6533 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24.jpeg" alt="" width="1280" height="720" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24.jpeg 1280w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24-696x392.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24-1068x601.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24-747x420.jpeg 747w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24-300x169.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24-768x432.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-04-at-18.33.24-1024x576.jpeg 1024w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-6533" class="wp-caption-text">Performatif Aksi Die In Kebaya + Darah untuk memprotes kekerasan terhadap perempuan dan komunitas LBGTQ  foto oleh Kate Walton.</figcaption></figure></p>
<p>Menurut Olin Monteiro, Ketua Aksi Women’s March, aksi ini membuatnya bangga karena 30-40 anak muda ikut berpartisipasi dalam perencanaan. Walau banyak aktivis veteran dan organisasi aktivis yang sudah lama berada di Indonesia, bagi Olin partisipasi anak muda, dan banyaknya remaja yang datang, menunjukan <em>spirit </em>baru sebagai generasi penerus perjuangan perempuan di Indonesia. Aksi yang bagian dari International Women’s Day ini akan juga mendukung Aksi Pokja Buruh Perempuan dan Aksi Bersama Komite IWD 2017 pada 8 nanti.</p>
<p>Sekarang, para <em>organizer</em> Woman’s March sudah makin membara. Panitia sudah sering membuat acara lain terkait feminisme dan isu perempuan, dan ingin acara tersebut menjadi lebih rutin. Melalui Jakarta Feminist Discussion Group, panitia akan mengadakan diskusi regular serta acara  pemutaran film, diskusi buku, lokakarya, dan aksi jalanan. Salah satu idenya adalah membuat pameran poster Women’s March yang disertai Feminist Festival dimana akan ada acara dimana peserta March yang baru-baru bisa mengenal dengan lebih baik organisasi perempuan dan HAM yang mereka bisa ikut bantu. Artinya, Women’s March hanyalah rangkaian dari aksi pertama bagi para pendukung yang ingin terus memperjuangkan hak perempuan dan komunitas LGTQ+ di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/IMG_4927-1-1-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
