<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>totalitarian &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/totalitarian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Jun 2019 10:21:01 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>totalitarian &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Patroli WhatsApp, Menuju Totalitarian?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/patroli-whatsapp-menuju-totalitarian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R50]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jun 2019 10:20:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[KEMENKOMINFO]]></category>
		<category><![CDATA[Patroli WhatsApp]]></category>
		<category><![CDATA[Ranah Privat]]></category>
		<category><![CDATA[Ranah Publik]]></category>
		<category><![CDATA[totalitarian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=60187</guid>

					<description><![CDATA[“Sebab kalau kamu mengurusi urusanmu sendiri, kamu tidak akan mengurusi urusanku” – Hank Williams, Musisi Amerika Serikat. PinterPolitik.com Mulai ada isu yang beredar kalau katanya polisi mau mengadakan patroli ke grup-grup WhatsApp (WA). Jadi kemungkinan nanti kita nggak hanya lihat polisi keliling di jalan raya, tapi mungkin ada juga polisi yang tiba-tiba nimbrung bales chat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Sebab kalau kamu mengurusi urusanmu sendiri, kamu tidak akan mengurusi urusanku” – Hank Williams, Musisi Amerika Serikat.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>ulai ada isu yang beredar kalau katanya polisi mau mengadakan patroli ke grup-grup WhatsApp (WA). Jadi kemungkinan nanti kita nggak hanya lihat polisi keliling di jalan raya, tapi mungkin ada juga polisi yang tiba-tiba nimbrung bales <em>chat </em>kamu di grup WA. Asal bukan buat nawarin belanja online atau kredit dan pinjaman duit ya pak. <em>Hehehe.</em></p>
<p>Dengan menggunakan alasan untuk mencegah peredaran hoaks dan tindak kriminal di dunia maya, Kemenkominfo pun sudah mendukung wacana ini.</p>
<p>Padahal keberadaan <em>jarkoman</em> atau jaringan komunikasi hoaks-hoaks paling banyak itu adanya kalau gak di grup keluarga, ya di grup ibu-ibu arisan. Berarti nanti ada kemungkinan kalau masalah-masalah keluarga <em>aing</em> dan curhatan-curhatan <em>aing </em>ke grup gak jadi rahasia lagi dong? <em>Hehehe.</em></p>
<div id="fb-root"></div>
<p><script async="1" defer="1" crossorigin="anonymous" src="https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&amp;version=v3.3"></script></p>
<div class="fb-post" data-href="https://www.facebook.com/pinterpolitikdotcom/photos/a.1186487481431015/2306420982770987/?type=3&amp;amp;theater" data-width="696">
<blockquote cite="https://www.facebook.com/pinterpolitikdotcom/photos/a.1186487481431015/2306420982770987/?type=3" class="fb-xfbml-parse-ignore">
<p>Kemenangan koalisi Duterte dianggap sebagai kemenangan Tiongkok di Filipina. Selengkapnya dalam tulisan berjudul &quot;Jokowi-Duterte, Kemenangan Beruntun Tiongkok?&quot; di Pinterpolitik.com</p>
<p>Posted by <a href="https://www.facebook.com/pinterpolitikdotcom/">Pinter Politik</a> on&nbsp;<a href="https://www.facebook.com/pinterpolitikdotcom/photos/a.1186487481431015/2306420982770987/?type=3">Tuesday, May 28, 2019</a></p></blockquote>
</div>
<p>Tapi sepertinya alasan untuk menekan hoaks atau kriminalitas bukanlah tujuan utama Polri yang sebenarnya deh. Sambil menyelam minum air, diam-diam para polisi WA pasti berencana untuk mencuri <em>jokes </em>bapak-bapak dari grup-grup WA keluarga kan. Iya kan? Ngaku aja deh. <em>Hehehe.</em></p>
<p>Hmm. Kalau dipikir-pikir, ada berapa banyak ya jumlah keluarga dan kelompok-kelompok arisan di seluruh Indonesia. Nggak capek apa sih polisi keliling dari satu grup ke grup lain.</p>
<p>Nah, kalau menurut Menkominfo, Rudiantara, grup WhatsApp itu masuk di antara ranah publik dan privat. Oleh karena itu, Kemenkominfo mendukung patroli tersebut selama ada dasar hukumnya.</p>
<p>Tapi ada beberapa pihak juga yang kecewa terhadap kebijakan polisi siber ini, salah satunya adalah Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.</p>
<p>“Kita semua sekarang sebagai bangsa tidak memahami arti dari privasi dan kerahasiaan pribadi karena kita ini adalah bangsa yang tidak punya kultur privasi, kita kulturnya komunal, sehingga ketika negara mau mengambil semua data-data pribadi kita, kita relatif tidak berani membuat bantahan, tidak berani membuat kritik,” begitu kata Fahri Hamzah.</p>
<p>Iya sih, soalnya, kalau ranah privat juga dikontrol oleh negara, ini mah sama aja kayak negara totalitarian. Contohnya ya yang terjadi di Tiongkok. Kan ngeri juga kalau pemerintah sampai ngatur-ngatur semuanya.</p>
<p>Kalo kamu sendiri di tim yang mana nih, tim WA ranah tengah-tengah atau tim WA ranah privat? (R50)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Ycp-w4NLfmU"><iframe title="JOKOWI, PRABOWO, DAN MACHIAVELLI" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Ycp-w4NLfmU?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Nasional-Kompas.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Wiranto Kangen Soeharto?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/wiranto-kangen-soeharto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 May 2019 23:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Orba]]></category>
		<category><![CDATA[polhukam]]></category>
		<category><![CDATA[Said Didu]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[totalitarian]]></category>
		<category><![CDATA[Wiranto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=57248</guid>

					<description><![CDATA[“Menolak pemenuhan hak asasi manusia berarti menantang kemanusiaan itu sendiri” . – Nelson Mandela Pinterpolitik.com [dropcap]S[/dropcap]emua hal di dunia ini memang berpasang-pasangan ya gengs. Ada kanan-kiri, atas-bawah, baik-buruk, juga pria-wanita. Tapi kalau sampai saat ini masih jomblo, berarti nasib baik memang belum berpihak sama kamu ya gengs. Hehehe. Dalam membuat kebijakan sebuah negara juga tidak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“</strong><strong>Menolak pemenuhan hak asasi manusia berarti menantang kemanusiaan itu sendiri</strong><strong>” . – Nelson Mandela</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>Pinterpolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]emua hal di dunia ini memang berpasang-pasangan ya <em>gengs</em>. Ada kanan-kiri, atas-bawah, baik-buruk, juga pria-wanita. Tapi kalau sampai saat ini masih jomblo, berarti nasib baik memang belum berpihak sama kamu ya <em>gengs</em>. <em>Hehehe</em>.</p>
<p>Dalam membuat kebijakan sebuah negara juga tidak jauh berbeda dari itu semua <em>loh</em>. Pasti ada yang setuju, tapi juga ada yang menolak. Namanya juga ngurus orang banyak, memang gak gampang <em>cuy</em>.</p>
<p>Nah ini terjadi pada Menko Polhukam Wiranto yang berinisiatif untuk membentuk tim hukum nasional. Niatnya sih mungkin ingin memberikan kado terindah sebelum berahirnya masa jabatan. Eh ternyata malah banyak kekurangannya dan dikritik oleh banyak pihak. Seperti diberitakan, Wiranto ingin membentuk tim nasional yang akan mengkaji ucapan, tindakan, dan pemikiran para tokoh yang melanggar hukum pasca Pemilu. Tidak hanya itu, kebijakan ini juga berisi aturan untuk menangkap siapa saja yang memunculkan ujaran kebencian dan cacian kepada presiden yang secara sah masih menjabat.</p>
<p><em>Waduh</em>, kalau ceritanya seperti ini, dapat dipastikan akan memunculkan polemik yang bikin gaduh. Tapi, kalau sudah gaduh dan banyak yang protes, nanti malah dibilang makar. <em>Hadeh</em>.</p>
<p>Kebijakan yang masih dalam gagasan ini memang mendapat tanggapan dari berbagai pihak loh <em>gengs</em>. Mereka menganggap bahwa kebijakan ini akan mencederai, bahkan mengebiri sistem demokrasi di Indonesia. Bahkan, praktiknya mirip-mirip dengan yang terjadi di era Orde Baru. Hmm, kangen Soeharto nih pak? <em>Upppss.</em></p>
<hr /><p><em>Menko Polhukam Wiranto berinisiatif membentuk tim hukum nasional. Niatnya sih ingin memberikan kado terindah sebelum berahirnya masa jabatan. Eh malah banyak kekurangan dan dikritik oleh banyak pihak.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Fwiranto-kangen-soeharto%2F&#038;text=Menko%20Polhukam%20Wiranto%20berinisiatif%20membentuk%20tim%20hukum%20nasional.%20Niatnya%20sih%20ingin%20memberikan%20kado%20terindah%20sebelum%20berahirnya%20masa%20jabatan.%20Eh%20malah%20banyak%20kekurangan%20dan%20dikritik%20oleh%20banyak%20pihak.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Protes keberatan ini salah satunya dikeluarkan oleh Fahri Hamzah selaku Wakil Ketua DPR. Doi mengatakan bahwa sejak awal, pemerintah mengalami kegagalan dalam memahami narasi demokrasi, sehingga muncul kesesatan berfikir dalam merumuskan sebuah kebijakan.</p>
<p>Bahkan nih <em>gengs</em>, Fahri juga mengusulkan agar dibentuk tim rakyat agar bisa berimbang. Ada tim hukum nasional, juga ada tim rakyat yang berfungsi sebagai penilai ucapan pejabat pemerintah yang melanggar hukum dan merongrong dari dalam. <em>Waduh</em>, ibaratnya membentuk tim tandingan ya <em>cuy</em>.</p>
<p>Tidak jauh berbeda dengan Fahri, mantan pejabat di Kementerian ESDM, Said Didu juga memberikan respon keras terhadap rencana Wiranto tersebut loh <em>gengs</em>. Doi menganggap bahwa apa yang dicanangkan oleh Wiranto merupakan sebuah bentuk ancaman nyata terhadap para tokoh dan media.</p>
<p>Tuh kan, jadinya banyak yang menolak dan protes. Lagian nih, seharusnya sebagai Menko Polhukam, Wiranto sadar bahwa kebijakan yang akan dibuat itu bertentangan dengan prinsip kebabasan dan demokrasi. Lha kalau pengen kembali ke era Orde Baru mah nggak gini-gini juga kali caranya pak. Ini namanya pengingkaran reformasi 1998. (F46)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="1kBJw40fRck"><iframe width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1kBJw40fRck?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/Wiranto-dan-Kebijakan-Tim-Pengkaji-Nasional.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
