<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>TOKO ONLINE &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/toko-online/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Mar 2019 08:37:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>TOKO ONLINE &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Toko Online Gulung Toko Offline?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/toko-online-gulung-toko-offline/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K32]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Nov 2017 08:59:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Daya Beli Menurun]]></category>
		<category><![CDATA[TOKO OFFLINE]]></category>
		<category><![CDATA[TOKO ONLINE]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=16911</guid>

					<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, beberapa department store harus menutup gerainya. Apakah ini karena daya beli yang murung atau karena digulung toko online? PinterPolitik.com [dropcap]K[/dropcap]isah tutupnya toko-toko yang beroperasi secara offline kian bertambah. Ada yang menduga ini akibat menurunnya daya beli masyarakat. Apa itu benar? Sebab cukup mengherankan juga, karena saat mall tersebut mendiskon barang-barangnya, pembelinya malah membludak, bahkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Akhir-akhir ini, beberapa <em>department store</em> harus menutup gerainya. Apakah ini karena daya beli yang murung atau karena digulung toko <em>online</em>?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb31;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]isah tutupnya toko-toko yang beroperasi secara <em>offline</em> kian bertambah. Ada yang menduga ini akibat menurunnya daya beli masyarakat. Apa itu benar? Sebab cukup mengherankan juga, karena saat <em>mall</em> tersebut mendiskon barang-barangnya, pembelinya malah membludak, bahkan sampai ada yang cakar-cakaran segala.</p>
<p>Beberapa hari belakangan ini, beredar kabar kalau ada satu <em>mall</em> lagi  bakal menutup gerai ritelnya. Kali ini gerai yang ditutup berada di pusat perbelanjaan Taman Anggrek, Jakarta Barat dan Lombok City Center, Nusa Tenggara Barat (NTB). Masing-masing bakal ditutup per 3 Desember 2017 dan 31 Desember 2017.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Matahari Tutup Gerai di Mal Taman Anggrek, Begini Curhat Pegawai <a href="https://t.co/yIDmIIwPou">https://t.co/yIDmIIwPou</a></p>
<p>&mdash; Koran Tempo (@korantempo) <a href="https://twitter.com/korantempo/status/933569603241893888?ref_src=twsrc%5Etfw">November 23, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Penutupan itu menyusul beberapa gerai ritel tersebut lainnya yang sudah lebih dulu tutup, seperti di Pasaraya Manggarai dan Blok M tahun ini karena tidak mencapai target penjualan yang ditetapkan oleh perseroan.</p>
<p>Kabar tentang rencana penutupan gerai tersebut, membuat Taman Anggrek berubah menjadi lautan manusia. Soalnya, banyak barang yang di-<em>diskon </em>besar-besaran di sana<em>.</em></p>
<p>Kalau begini kejadiannya, apa kita masih mengklaim tutupnya toko <em>offline </em>karena pengaruh daya beli masyarakat menurun? Saya pikir tidak demikian, karena buktinya banyak orang masih datang untuk belanja ke <em>mall</em>. Lalu apa alasannya?</p>
<p>Sebenarnya daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan, hanya mengalami pengalihan. Beralih dari toko <em>offline </em>ke toko <em>online.</em> Ini yang diduga menyebabkan banyak toko hingga bahkan <em>department store</em> harus menutup gerainya.</p>
<p>Alasan masyarakat lebih memilih toko <em>online</em> karena dinilai lebih praktis, lebih bervariasi, dan harga yang ditawarkan jauh lebih murah dibandingkan kalau beli di <em>mall.</em></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">4 Department Store Ini Gulung Tikar Karena Alasan yang Sama <a href="https://t.co/Wio64eVkDn">https://t.co/Wio64eVkDn</a> <a href="https://t.co/ozuJerUZ0t">pic.twitter.com/ozuJerUZ0t</a></p>
<p>&mdash; Bella (@Erwin63888781) <a href="https://twitter.com/Erwin63888781/status/926376672688988160?ref_src=twsrc%5Etfw">November 3, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Kehadiran situs-situs jual-beli <em>online </em>membuat toko-toko <em>offline</em> terpaksa gulung tikar. Kalau mau dipertahankan pun, mereka pasti kalah saing dan malah merugi.</p>
<p>Sebenarnya kehadiran toko-toko <em>online</em> ada <em>plus-minus-</em>nya. Tapi <em>mau gimana lagi, skema dagangnya </em>sudah berhasil mencuri hati <em>netizen.</em> Maka, jangan heran banyak <em>mall </em>sepi pengunjung di zaman digital ini. Kira-kira, apa yang perlu dilakukan agar toko<em> offline </em>dan<em> online </em>saling sinergi? <strong>(K-32)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/IMG-20170824-WA0018-1024x616.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jurusan Toko Online Ala Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jurusan-toko-online-ala-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K32]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Oct 2017 07:00:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[TOKO ONLINE]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=14870</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Kenapa tidak ada fakultas ekonomi digital? Jurusannya toko online,&#8221; kata Jokowi. PinterPolitik.com Jokowi: Kenapa Tidak Ada Fakultas Ekonomi Digital? Jurusannya Toko &#34;Online&#34; https://t.co/gzV2nxfl3H &#8212; Kompas.com (@kompascom) October 23, 2017 Memang sekarang adalah zaman milenial. Itu tak bisa dibantahkan. Di mana perkembangan teknologi digital mempengaruhi segala lini kehidupan. Termasuk daya beli dan pangsa pasar. Masyarakat masa kini [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>&#8220;Kenapa tidak ada fakultas ekonomi digital? Jurusannya toko <em>online</em>,&#8221; kata Jokowi.</h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb31;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550">
<p lang="in" dir="ltr">Jokowi: Kenapa Tidak Ada Fakultas Ekonomi Digital? Jurusannya Toko &quot;Online&quot; <a href="https://t.co/gzV2nxfl3H">https://t.co/gzV2nxfl3H</a></p>
<p>&mdash; Kompas.com (@kompascom) <a href="https://twitter.com/kompascom/status/922495338719485953?ref_src=twsrc%5Etfw">October 23, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Memang sekarang adalah zaman milenial. Itu tak bisa dibantahkan. Di mana perkembangan teknologi digital mempengaruhi segala lini kehidupan.</p>
<p>Termasuk daya beli dan pangsa pasar. Masyarakat masa kini lebih tertarik berbelanja <em>online</em> ketimbang <em>offline</em>. Dari hal ini terlihat bahwa tingkat konsumsi masyarakat telah mengalami perubahan.</p>
<p>Jangan heran kalau kita dicap sebagai bangsa yang terbagi dalam ras <em>blibli,</em> ras <em>tokopedia, </em>ras <em>bukalapak, </em>ras <em>lazada </em>hingga ras <em>alibaba. </em>Maka, sudah pasti Glodok jadi mentok dan Mangga dua tak lagi ‘berbuah’.</p>
<p>Saat membuka acara Rembuk Nasional 2017, di JIExpo Kemayoran, <em>Pakde Joko </em>sempat mengeluarkan <em>sentilan</em> terkait dunia pendidikan terutama kampus. Menurutnya, kampus bisa dijadikan sebagai sarana untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat.</p>
<p>Bahkan yang <em>kocak</em>, ia menyarankan kalau perlu ada <em>fakultas</em> <em>ekonomi digital</em>, dengan <em>jurusan toko online</em>. Ini mungkin karena efek dari turunnya minat dan daya beli masyarakat terhadap pasar <em>offline?</em></p>
<p>Kalau fakultas dan jurusan tersebut terealisasi, <em>mall-mall </em>akan jebol dan Toko Boneka Kawan Lama di Kampung Melayu hanya tinggal kayu-kayu <em>doang.</em></p>
<p>Mungkin ada benarnya, konsumsi masyarakat kian meningkat. Akan tetapi, <em>toko online</em> bukanlah solusi satu-satunya. Karena bisa mematikan peluang usaha para pedagang kecil yang <em>nota bene </em>masih <em>manut </em>dengan mekanisme pasar rakyat dan pasar <em>offline.</em> Boleh saja <em>toko online </em>menjadi alternatif untuk sementara, agar pangsa pasar rakyat dan <em>pasar offline</em> tak sepi pengunjung.</p>
<p>Apalagi belanja secara <em>online </em>belum tentu 100 persen aman dan terjamin kualitasnya. Bisa <em>aja </em>barang yang terlihat di internet tak sesuai dengan asli setelah diterima pembeli. Bahkan ada yang rusak, <em>tidak ori dan bahkan dicolong </em>kurir.</p>
<p>Maka, sebenarnya masyarakat Indonesia belum siap untuk merambah <em>pasar online. </em>Karena manajemen hingga mekanisme pengelolaannya kurang profesional dan belum mendapat perhatian secara optimal dari pemerintah.</p>
<p>Oleh karena itu, <em>pakde Joko nggak usah mikir </em>untuk <em>ngadain fakultas ekonomi digital </em>dengan<em> jurusan toko online </em>untuk saat ini. karena masyarakat belum sampai ke sana pemikiranya. Mungkin perut dan matanya <em>udah nyampe, </em>tapi tidak dengan pikiran dan hatinya.</p>
<p><em>Mending</em> <em>Pakde </em>pikirkan bagaimana caranya agar nasib para pedagang kecil dan pemilik <em>toko</em> <em>offline </em>bisa sejahtera dan bisa <em>melek</em> dengan mekanisme <em>toko online</em>. Bukan begitu? <strong>(K-32)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/10/rembuk-nasional.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
