<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>tiket pesawat mahal &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/tiket-pesawat-mahal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Aug 2022 15:47:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>tiket pesawat mahal &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tiket Pesawat Naik, Tiket PDIP Naik?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/tiket-pesawat-naik-tiket-pdip-naik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[I76]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2022 15:47:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[tiket pesawat mahal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=114243</guid>

					<description><![CDATA[“Kasus mahalnya tiket pesawat ini lebih ke soal politis, mau siapapun menteri atau presidennya enggak akan mampu memaksa perusahaan menjual rugi tiket pesawatnya. Kecuali subsidi avtur gratis. Ingat Garuda setiap tahun sudah rugi Rp3 triliun,” – Rudi Valinka, pengguna Transportasi Udara PinterPolitik.com Berita duka menghampiri konsumen setia transportasi udara. Sebagaimana diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>“Kasus mahalnya tiket pesawat ini lebih ke soal politis, mau siapapun menteri atau presidennya enggak akan mampu memaksa perusahaan menjual rugi tiket pesawatnya. Kecuali subsidi avtur gratis. Ingat Garuda setiap tahun sudah rugi Rp3 triliun,” – Rudi Valinka, pengguna Transportasi Udara</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com/"><strong><u><strong>PinterPolitik.com</strong></u></strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Berita duka menghampiri konsumen setia transportasi udara. Sebagaimana diketahui, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberikan izin maskapai untuk menaikkan harga tiket pesawat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebijakan ini tertuang pada Keputusan Menteri (KM) Nomor 142 Tahun 2022 yang berlaku mulai 4 Agustus 2022. Maskapai dapat menaikkan 15 persen tarif untuk pesawat jet atau 25 persen untuk pesawat jenis propeller atau baling-baling.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekadar info, kebijakan ini merupakan revisi dari KM 68 Tahun 2022, yang memperbolehkan biaya tambahan 10 persen untuk pesawat udara jenis jet atau 20 persen untuk pesawat udara jenis propeller.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Udara,&nbsp;Nur Isnin Istiartono mengatakan peraturan tersebut hanyalah sebuah pedoman yang tidak bersifat <em>mandatory</em>, artinya,&nbsp;penetapan biaya tambahan bersifat pilihan bagi maskapai.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Anyway</em>, bicara soal tiket,&nbsp;jadi teringat tiket dalam konteks politik ya. Dalam politik,&nbsp;istilah tiket juga digunakan untuk menggantikan istilah dukungan suatu partai kepada kandidat tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin masih ingat pernyataan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Masinton Pasaribu, yang mengatakan partai politik (parpol) jangan berubah menjadi pedagang tiket untuk kandidat yang ingin mencalonkan diri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="851" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-851x1024.png" alt="image 31" class="wp-image-114245" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-851x1024.png 851w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-249x300.png 249w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-125x150.png 125w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-696x838.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-1068x1286.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31-349x420.png 349w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/image-31.png 1080w" sizes="(max-width: 851px) 100vw, 851px" /><figcaption>Tiket Naik, Healing Makin Mahal?</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ungkapan Masinton ini sekaligus menjadi swabukti bahwa realitas tiket parpol itu memang nyata dalam panggung politik Indonesia. Hal ini juga tidak bisa disalahkan, karena semua itu terjadi disebabkan ada <em>supply and deman</em>d antara parpol dan kandidat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mau nanya sih ke Pak Masinton, PDIP&nbsp;kan&nbsp;punya tiket juga nih? Nah,&nbsp;tiket PDIP kira-kira&nbsp;ikutan naik juga gak ya seperti tiket pesawat? Upss.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hmm, kenaikan tiket pesawat ataupun tiket parpol membuat kita merenung tentang realitas bisnis penerbangan dan politik kita yang pada dasarnya memang mahal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi itu bukan masalah sih, soalnya kan nenek moyang kita seorang pelaut bukan pilot. Jadi kalau jalur udara mahal bisa pakai jalur laut yang penuh misteri. Hehehe. (I76)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="0ZoEFHPhz1I"><iframe title="SBY-JK-Paloh: Triumvirat Tumbangkan Megawati?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/0ZoEFHPhz1I?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div><figcaption>SBY-JK-Paloh: Triumvirat Tumbangkan Megawati?</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/08/bandara_purbalingga.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Politik Mahalnya Tiket Pesawat</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/ekonomi-politik-mahalnya-tiket-pesawat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2019 00:00:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Tiket Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tiket Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[tiket pesawat mahal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=61882</guid>

					<description><![CDATA[Harga tiket pesawat di Indonesia kini dinilai mahal oleh sebagian besar masyarakat. Boleh jadi, terdapat dimensi ekonomi politik di balik mahalnya tiket pesawat tersebut. PinterPolitik.com Industri penerbangan memiliki posisi yang cukup strategis di Indonesia. Posisi itu dilihat dari perannya dalam mendukung konektivitas masyarakat Indonesia dari daerah yang satu ke daerah lainnya dengan waktu yang lebih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Harga tiket pesawat di Indonesia kini dinilai mahal oleh sebagian besar masyarakat. Boleh jadi, terdapat dimensi ekonomi politik di </strong><strong>balik </strong><strong>mahalnya tiket pesawat tersebut.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">I</span>ndustri penerbangan memiliki posisi yang cukup strategis di Indonesia. Posisi itu dilihat dari perannya dalam mendukung konektivitas masyarakat Indonesia dari daerah yang satu ke daerah lainnya dengan waktu yang lebih efisien.</p>
<p>Akan tetapi, industri penerbangan di Indonesia memperoleh citra yang cukup negatif di mata masyarakat dewasa ini pasca melambungnya harga tiket pesawat domestik yang terjadi baik saat musim liburan (<em>peak season</em>) maupun harian (<em>low season</em>). Dampak dari mahalnya harga tiket pesawat domestik terlihat dari menurunnya jumlah penumpang transportasi udara pada tahun 2019.</p>
<p>Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat bahwa jumlah penumpang pesawat pada rentang bulan Januari hingga April 2019 hanya berjumlah 24 juta orang atau turun sebanyak 20,5% dibanding periode yang sama pada tahun 2018. Kunjungan wisatawan tercatat <a href="https://www.cnbcindonesia.com/news/20190409164455-4-65520/menpar-tiket-pesawat-mahal-kunjungan-wisatawan-anjlok-30/" rel="nofollow"><strong>anjlok</strong></a> sebanyak 30% sehingga pendapatan obyek-obyek wisata lokal dan usaha perhotelan tentunya juga ikut menurun.</p>
<p>Data-data tersebut telah menunjukkan suatu kekecewaan masyarakat atas tingginya harga tiket pesawat domestik sehingga peran pemerintah selaku pembuat kebijakan menjadi <a href="https://berkas.dpr.go.id/puslit/files/info_singkat/Info%20Singkat-XI-5-I-P3DI-Maret-2019-226.pdf"><strong>vital</strong></a> dalam mengawal keberlangsungan pelayanan penerbangan di Indonesia.</p>
<p>Untuk menanggapi problematika ini, pemerintahan Jokowi telah memberi beberapa respons melalui regulasi baru yang dibuat. Regulasi yang ada berkisar pada penentuan tarif batas atas dan bawah karena batas tarif tersebut merupakan pedoman bagi maskapai dalam menentukan besaran harga tiket yang dijualnya.</p>
<p>Pemerintah sempat <a href="https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190514124751-92-394729/percuma-tarif-batas-atas-turun-tiket-pesawat-masih-mahal/" rel="nofollow"><strong>memutuskan</strong></a> untuk menurunkan tarif batas atas sebanyak 12-16% melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.</p>
<p>Dalam implementasinya, maskapai penerbangan masih tetap menjual tiket dengan harga yang relatif cukup mahal meskipun masih dalam periode waktu <em>low season</em>. Berangkat dari situasi inilah muncul sebuah wacana dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengundang maskapai asing agar turut melayani penerbangan domestik di Indonesia. Harapannya, penjualan tiket pesawat akan lebih kompetitif sehingga harganya menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat.</p>
<h4><strong>Persaingan sebagai Solusi</strong></h4>
<p>Suasana persaingan usaha yang kompetitif memang menjadi salah satu indikator terjadinya pasar persaingan sempurna. Apabila melihat struktur pasar industri penerbangan di Indonesia, maka wujud persaingannya cenderung berbentuk pasar persaingan tidak sempurna. Dengan bergabungnya Sriwijaya Group ke dalam Garuda Group maka penguasaan pangsa pasar menjadi lebih sederhana.</p>
<p>Berdasarkan data dari <em>CAPA Centre For Aviation</em>, terdapat dua aktor yang dalam realitanya mendominasi persaingan industri penerbangan nasional, yaitu Garuda Group yang memiliki <em>mar</em><em>k</em><em>et share </em>sebesar 46% dan Lion Group yang memiliki <em>market share </em>sebesar 50%. Adapun empat persen lainnya <a href="https://kolom.tempo.co/read/1198659/lika-liku-harga-tiket-pesawat/" rel="nofollow"><strong>dimiliki</strong></a> oleh maskapai yang tidak tergabung dalam kedua kelompok tadi dan biasanya hanya melayani rute dengan jumlah yang lebih sedikit, seperti AirAsia, Xpress Air, dan sebagainya.</p>
<p>James A. Caporaso dan David P. Levine dalam <a href="https://books.google.com/books/about/Theories_of_Political_Economy.html?id=TllDu7ibouwC"><strong>bukunya</strong></a> yang berjudul <em>Teori-Teori Ekonomi Politik </em>menyatakan bahwa kondisi persaingan pasar yang tidak sempurna akan diwarnai dengan kekuasaan dari pelaku usaha dengan pangsa pasar yang besar untuk mempengaruhi pelaku usaha lain dan parameter-parameter ekonomi yang terdapat di dalamnya. Para penguasa pangsa pasar <a href="https://books.google.co.id/books/about/Industrial_Organization.html?id=sUe3AAAAIAAJ&amp;source=kp_book_description&amp;redir_esc=y"><strong>disebut</strong></a> sebagai pemilik kekuatan pasar (<em>market power</em>) sekaligus pembuat harga.</p>
<p>Perusahaan besar dapat memengaruhi harga produk yang diberlakukan dalam proses pertukaran dengan pelaku-pelaku pasar lainnya (konsumen dan perusahaan lain). Kekuasaan dalam pemahaman ini adalah kemampuan untuk menetapkan harga yang lebih tinggi sehingga menciptakan kondisi pertukaran yang kurang menguntungkan bagi pelaku ekonomi lainnya jika dibandingkan dengan kondisi pasar kompetitif.</p>
<p>Lantas, apakah praktik duopoli yang terjadi dalam industri penerbangan nasional benar memengaruhi peningkatan harga tiket pesawat?</p>
<p>Praktik duopoli tersebut bisa jadi merupakan biang dari problematika tersebut. Namun, akar permasalahan yang membuat para maskapai menaikkan harga tiket adalah kebutuhan keuangan akibat biaya operasional penerbangan yang notabenenya memang cukup besar.</p>
<h4><strong>Faktor Lain?</strong></h4>
<p>Kebutuhan operasional menjadi pemantik sedangkan duopoli dalam hal ini berperan sebagai instrumen untuk merealisasikannya. Praktik duopoli membuat Garuda Group dan Lion Group sebagai pemegang kekuatan pasar mampu menginisiasi dan mengatur naik turunnya harga tiket yang nantinya mempengaruhi pelaku ekonomi lain, terutama para konsumen sebagaimana wujud persaingan pasar tidak sempurna yang digambarkan oleh Caporaso dan Levine dalam bukunya.</p>
<p>Konsumen menjadi dirugikan karena harus membeli tiket pesawat dengan harga yang lebih mahal dibanding biasanya. Opsi bagi konsumen dalam memilih maskapai juga dipersempit karena jumlah maskapai yang memasang harga terjangkau cukup sedikit dan hanya melayani rute-rute tertentu saja, sedangkan maskapai yang melayani rute beragam telah tergabung dalam dua kelompok penguasa pasar yang serentak menaikkan harga tiket.</p>
<p>Perlu diketahui bahwa, di balik duopoli ini, terdapat biaya operasional penerbangan yang mahal dan sering kali menjadi faktor bagi banyak maskapai penerbangan untuk gulung tikar. Adapun komponen yang termasuk dalam biaya operasional adalah: avtur, biaya <em>leasing </em>pesawat, biaya perawatan pesawat, biaya pelayanan jasa bandara, dan gaji pegawai.</p>
<p>Besaran biaya operasional paling besar berasal dari kontribusi avtur. Data dari Indexmundi memang mencatat bahwa harga avtur sempat meningkat signifikan pada Oktober 2018 sebesar 2,25 dolar Amerika Serikat (AS) per galon. Tingginya harga avtur juga sering kali dikeluhkan karena ditambah dengan beban pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10% yang dibebankan oleh pemerintah.</p>
<p>PPN tersebut juga berlaku bagi aktivitas perawatan pesawat. Selain itu, gagalnya maskapai dalam melakukan efisiensi anggaran juga mempengaruhi, contohnya beban biaya <em>leasing </em>yang belum dapat dituntaskan karena bertambahnya jumlah armada yang dibeli pada realitanya tidak diiringi dengan jumlah penumpang yang diangkut.</p>
<p>Mahalnya kebutuhan operasional pada akhirnya membuat maskapai untuk meningkatkan harga tiket yang dijual. Praktik duopoli dalam hal ini berperan untuk mengendalikan naik turunnya harga tersebut.</p>
<p>Adapun aktor yang melakukan peran itu bisa jadi adalah para pelaku yang memiliki kekuatan pasar sehingga konsumen dituntut menyesuaikan diri terhadap dampak yang muncul. Fenomena seperti itu dapat menjadi salah satu indikator dari kegagalan pasar.</p>
<p>Adapun solusi untuk mengantisipasi hal tersebut adalah memaksimalkan ekonomi institusi. Ekonomi institusi berisi sekumpulan norma yang pada praktiknya akan ditegakkan oleh lembaga tertentu. Lembaga tersebut akan <a href="http://www.kppu.go.id/id/wp-content/uploads/2012/02/Buku-Negara-dan-Pasar.pdf"><strong>berperan</strong></a> mencegah perilaku anti-persaingan dan memberi sanksi kepada pihak-pihak yang dinilai melanggar norma yang ada.</p>
<h4><strong>Peran Pemerintah?</strong></h4>
<p>Keberadaan ekonomi institusi di Indonesia biasa dilihat melalui regulasi dan lembaga pengawas, seperti Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Fenomena duopoli yang terjadi dalam industri penerbangan nasional dapat dikawal melalui penegakkan implementasi dari regulasi dan optimalisasi peran dari KPPU.</p>
<p>Dalam tahap ini, dapat dilihat bahwa pemerintahan Jokowi perlu mengambil tindakan yang tepat untuk menengahi problematika tersebut. Pada satu sisi, pemerintah harus mampu menciptakan pelayanan publik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Sementara, pada sisi lainnya, juga harus menjaga keberlangsungan industri penerbangan yang berperan cukup strategis di tanah air.</p>
<p>Selain ekonomi institusi, kebutuhan operasional yang cukup tinggi perlu diringankan dengan bantuan kebijakan dari pemerintah. Kondisi seperti itu sempat dilakukan oleh pemerintah India pada tahun 2014 pasca kekuatan mata uang Rupee melemah dengan memberi subsidi bahan bakar avtur sekaligus mengurangi beban pajak. Dampaknya, harga avtur dapat <a href="https://economictimes.indiatimes.com/industry/energy/oil-gas/atf-price-cut-by-2-6-to-cost-less-than-petrol-diesel/articleshow/66161484.cms"><strong>terpotong</strong></a> 2,6%, lebih murah dibanding bensin dan solar.</p>
<p>Hal serupa sekiranya dapat dilakukan di Indonesia dengan melakukan subsidi pada avtur dan mengurangi PPN yang dibebankan menjadi 5%. Pihak maskapai juga harus mengiringi langkah tersebut dengan diversifikasi sumber pendapatan serta peningkatan kualitas pelayanan dan keselamatan sehingga banyak masyarakat yang memilih untuk menggunakan transportasi udara kembali.</p>
<p>Pada intinya, pemerintah selaku regulator dan maskapai selaku operator harus sama-sama menyelaraskan diri dengan tantangan yang ada. Jangan sampai kepentingan bisnis justru menyampingkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.</p>
<h6 style="text-align: right;"><strong>Tulisan milik</strong> <strong>Adam Janitra Valdy Savero, mahasiswa Ilmu Politik di Universitas Indonesia</strong></h6>
<hr>
<h6><strong><em>“</em></strong><strong><em>Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.</em></strong><strong><em>”</em></strong></h6>
<p><a href="https://pinterpolitik.com//panduan-tulisan"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-60765" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/web-banner-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/Hanggar-1024x682.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tiket Pesawat, Perang Menteri Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/tiket-pesawat-naik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 May 2019 07:05:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[Kementerian BUMN]]></category>
		<category><![CDATA[menhub]]></category>
		<category><![CDATA[Tiket Pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[tiket pesawat mahal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=56958</guid>

					<description><![CDATA[“Anda tidak akan bisa lari dari tanggung jawab pada hari esok dengan menghindarinya pada hari ini”. – Abraham Lincoln PinterPolitik.com [dropcap]G[/dropcap]engs, ngerasa gak sih harga tiket pesawat di negeri kita ini mahal banget? Saking mahalnya, banyak banget penumpang yang menggerutu dan mengeluh. Apalagi, ada pengaturan masalah bagasi juga. Beh, jadi tambah pusing kan. Apa tidak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“</strong><strong>Anda tidak akan bisa lari dari tanggung jawab pada hari esok dengan menghindarinya pada hari ini</strong><strong>”. – Abraham Lincoln</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><em>[dropcap]G[/dropcap]engs,</em> ngerasa gak sih harga tiket pesawat di negeri kita ini mahal banget? Saking mahalnya, banyak banget penumpang yang menggerutu dan mengeluh. Apalagi, ada pengaturan masalah bagasi juga. <em>Beh</em><em>,</em> jadi tambah pusing kan. Apa tidak kasihan dengan kaum milenial ya, kan butuh jalan-jalan cantik gitu. <em>Hehehe</em>.</p>
<h4>Padahal ya <em>gengs</em><em>,</em> dengan naiknya harga tiket yang tidak terkendali ini memberikan dampak buruk tersendiri loh kepada negara. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa jumlah wisatawan mengalami penurunan <em>cuy</em>. Menteri Pariwisata Arief Yahya juga mengatakan bahwa karena kenaikan harga tiket, kunjungan wisatawan domestik mengalami penurunan rata-rata sebesar 30 persen.</h4>
<p>Tidak hanya itu, ternyata melambungnya harga tiket sudah memberikan dampak kepada inflasi nasional sebesar 0,03 persen. Hal serupa juga terjadi di banyak daerah. Di Tual inflasi mencapai 32,14 persen, Bungo 27,38 persen, Ambon 20,83 persen, Malang 14,13 persen dan Manokwari  13,2 persen.</p>
<p><hr /><p><em>Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sudah menyerah dan tidak sanggup menangani kenaikan harga tiket pesawat ini cuy. Sehingga urusan tiket ini sekarang dibawa ke meja Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Ftiket-pesawat-naik%2F&#038;text=Menteri%20Perhubungan%20Budi%20Karya%20Sumadi%20sudah%20menyerah%20dan%20tidak%20sanggup%20menangani%20kenaikan%20harga%20tiket%20pesawat%20ini%20cuy.%20Sehingga%20urusan%20tiket%20ini%20sekarang%20dibawa%20ke%20meja%20Menteri%20Koordinator%20Bidang%20Perekonomian%20Darmin%20Nasution&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p><em>Waduh</em> bahaya ya <em>gengs</em>. Kalau dibiarkan terus, daya beli masyarakat bisa semakin anjlok tuh.</p>
<p>Gini <em>gengs</em>, dalam sengkarut kenaikan harga tiket penerbangan, koordinasi antar kementerian denger-denger masih a lot loh. Bahkan ada yang saling lempar bola panas <em>cuy</em>. <em>Wah</em>, gimana sih, kan mereka bekerja untuk kepentingan rakyat, kok malah saling lempar tanggung jawab?</p>
<p>Banyak yang ngomong Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sudah menyerah dan tidak sanggup menangani kenaikan harga tiket pesawat ini <em>cuy</em>. Sehingga urusan tiket ini sekarang dibawa ke meja Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.</p>
<p>Meski banyak yang mengatakan dia angkat tangan, tapi dia menampik anggapan itu. Dia malah mengatakan bahwa harusnya ada peran Kementerian BUMN sebagai pemegang saham maskapai pelat merah dan KPPU sebagai pengawas persaingan usaha. Dia menekankan bahwa seharusnya ada sikap yang tegas dari Kementerian BUMN.</p>
<p>Loh, kok malah saling menyalahkan seperti ini? <em>H</em><em>adeh</em>. Kita sebagai masyarakat biasa kan jenuh kalau disuguhkan pertikaian seperti ini terus.</p>
<p>Atau jangan-jangan ini hanya sebuah permainan kementerian? <em>Upsss</em>. Kan Garuda Indonesia dan Citilink sebagai maskapai pelat merah dinaungi BUMN. Belum lagi operasional Sriwijaya Group juga sudah diambil alih oleh Garuda Indonesia. Terus Pertamina yang punya hak monopoli avtur juga BUMN. Kan kenaikan harga tiket ini emang salah satu faktornya adalah harga avtur yang mahal sebagai komponen utama penentu harga. <em>Hmmm</em>, jadi mencurigakan ya <em>gengs</em>. <em>Hehehe</em>. (F46)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="_Sa0kP0tu-g"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/_Sa0kP0tu-g?feature=oembed&#038;enablejsapi=1&#038;enablejsapi=1&#038;origin=https://pinterpolitik.com/" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/tiket-pesawat-naik.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
