<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Thaksin Shinawatra &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/thaksin-shinawatra/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Apr 2025 04:30:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Thaksin Shinawatra &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jeffrey Sachs: Danantara Names Dropping?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Mar 2025 14:26:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Danantara]]></category>
		<category><![CDATA[F. Chapman Taylor]]></category>
		<category><![CDATA[Jeffrey Sachs]]></category>
		<category><![CDATA[Ray Dalio]]></category>
		<category><![CDATA[Thaksin Shinawatra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=159749</guid>

					<description><![CDATA[Apakah kehadiran tokoh-tokoh dunia ini akan berdampak besar bagi Danantara? Atau hanya sekedar untuk dapatkan kepercayaan internasional?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-819x1024.jpg" alt="jeffrey sachs danantara names dropping 1" class="wp-image-159752" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1.jpg 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-819x1024.jpg" alt="jeffrey sachs danantara names dropping 2" class="wp-image-159753" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-2.jpg 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah kehadiran tokoh-tokoh dunia ini akan berdampak besar bagi Danantara? Atau hanya sekedar untuk dapatkan kepercayaan internasional?</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/jeffrey-sachs-danantara-names-dropping-1-819x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bicara Politik Melalui Kaus</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bicara-politik-melalui-kaus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2018 11:53:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kaus politik]]></category>
		<category><![CDATA[Thaksin Shinawatra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=26186</guid>

					<description><![CDATA[Apa langkah yang harus ditempuh supaya kaus warna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden berhasil menemui asanya? PinterPolitik.com [dropcap]W[/dropcap]alau tak lama, tagar #2019GantiPresiden sempat bertahan bahkan kini berkembang dalam bentuk berbagai medium, salah satunya kaus. Benar sekali, kaus warna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden ramai menjadi perbincangan di dunia maya. Keberadaan medium kaus tersebut di dunia maya, boleh saja disebut sepele. Tetapi, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><b>Apa langkah yang harus ditempuh supaya kaus warna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden berhasil menemui asanya?</b></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d1db00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400">[dropcap]W[/dropcap]alau tak lama, tagar #2019GantiPresiden sempat bertahan bahkan kini berkembang dalam bentuk berbagai medium, salah satunya kaus. Benar sekali, kaus warna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden ramai menjadi perbincangan di dunia maya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Keberadaan medium kaus tersebut di dunia maya, boleh saja disebut sepele. Tetapi, Presiden Jokowi tetap tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Tengok saja pidatonya beberapa waktu lalu, di mana ia berucap, “Masa bisa kaus mengganti presiden? Kalau rakyat berkehendak, ya bisa. Tapi kalau rakyat tidak mau, ya tidak bisa,” tukas Jokowi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Singgungan itu, dinilai oleh pengamat politik Ubaidillah Badrun sebagai sikap reaktif sekaligus khawatir, “Sebetulnya, kalimat itu menunjukan kekhawatiran. Semacam ekspresi agar gerakan itu tidak meluas,” jelasnya. Mestinya, seperti yang ditambahkan oleh Ubaidillah Badrun, keberadaan kaus berwarna-warni dengan tagar demikian dilihat sebagai fakta demokrasi saja, tak lebih. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Namun begitu, bila mengetahui bagaimana sebuah gerakan menggunakan medium kaus bisa berhasil menancapkan pengaruh dan kekuasaan, kekhawatiran dan sikap reaktif yang ditunjukkan Jokowi, tidaklah berlebihan sama sekali. </span></p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p dir="ltr" lang="in">MASA KAOS BISA GANTI PRESIDEN?YG BISA GANTI PRESIDEN ITU YA RAKYAT! ?</p>
<p>kaos tersebut betul2 dapat mengganti presiden ditahun 2019. Kenapa bisa begitu? karena yang memakai kaos tersebut adalah rakyat yang berkuasa mampu mengganti Presiden&#8230; <a href="https://t.co/qr99P9HZMc">pic.twitter.com/qr99P9HZMc</a></p>
<p>— #2019GANTIPRESIDEN (@Al_Fatih1453__) <a href="https://twitter.com/Al_Fatih1453__/status/983230344508796929?ref_src=twsrc%5Etfw">April 9, 2018</a></p></blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-weight: 400">Di Thailand, sebuah gerakan menggunakan medium kaus berwarna merah berhasil mempopulerkan seorang figur hingga mampu menancap dengan kuat popularitas dan kekuasaannya selama bertahun-tahun. Jokowi sendiri pun bisa populer dan mendapat angka elektabilitas tinggi karena ikon busana kotak-kotaknya yang membuat ia mudah diingat oleh rakyat kebanyakan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Lantas, strategi apa yang dilakukan di Thailand sana? Apakah gerakan kaus berwarna-warni bertuliskan #2019GantiPresiden punya peluang sebesar apa yang terjadi di Thailand? </span></p>
<h4><b>Fashion dan Politik, Bergerak Selaras</b></h4>
<p><span style="font-weight: 400">Strategi yang dilancarkan di Thailand tentu tak bergerak semalam suntuk saja, tetapi sudah mengambil tempo jauh-jauh hari. Thaksin masuk ke dunia politik di tahun 1998 melalui partai yang dibangunnya sendiri, yakni Partai Thai Rak Thai (Rakyat Thai Mencintai Sesama Rakyat Thai). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Ia juga membangun basis massanya di daerah selatan dan berada di luar Bangkok. Massanya terdiri dari petani di daerah rural pedesaan, pengusaha, mahasiswa, hingga penduduk yang punya ideologi politik kiri. Selama bertahun-tahun, ia menjaga basisnya ini dan memberi ‘tanda’. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Warna merah dipilih sebagai ‘tanda’ karena melambangkan rakyat kebanyakan. Warna yang dipilihnya serta ideologi yang berada di belakangnya tersebut, akhirnya menjadi sebuah </span><a href="https://www.aljazeera.com/indepth/interactive/2014/05/interactive-politics-clothing-thailand-201452715415289574.html"><i><span style="font-weight: 400">setting trend </span></i></a><span style="font-weight: 400">yang tak disadari, namun terus dimainkan oleh Thaksin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Entah tanpa disadari atau tidak, Thaksin sudah menjalankan langkah pertama dalam hukum </span><i><span style="font-weight: 400">fashion politic, </span></i><span style="font-weight: 400">yaitu menciptakan sebuah </span><i><span style="font-weight: 400">vibe</span></i><span style="font-weight: 400"> atau gelombang suasana yang terasosiasi dengan warna merah. Selanjutnya, permainan warna tersebut diperkuat lagi dengan bantuan figur dan tokoh-tokoh penting. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Strategi tersebut didukung dan dikembangkan oleh <a href="https://www.thaizer.com/politics/who-are-the-yellow-shirts-and-red-shirts/">dua kelompok</a>, yakni UDD (</span><i><span style="font-weight: 400">United for Democracy Againts Dictatorship</span></i><span style="font-weight: 400">) dan DAAD (</span><i><span style="font-weight: 400">Democratic Alliance Against Dictatorship</span></i><span style="font-weight: 400">). Gerakan kaus merah dikembangkan dan terus dipakai dalam berbagai kesempatan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Kelompok pendukung Thaksin memang tak memiliki figur atau tokoh berpengaruh yang melebarkan gerakan kaus merah. Namun jumlah rakyat yang sangat banyak mendukung Thaksin, membuat </span><i><span style="font-weight: 400">catwalk strategy </span></i><span style="font-weight: 400">di ruang publik Bangkok dan sekitarnya, mengeluarkan dampak yang tak kecil. Kini, di Thailand, permainan warna merah sangatlah <a href="http://www.bbc.com/news/world-asia-pacific-13294268">sensitif</a> dan kontras, karena sudah terafiliasi dengan sosok Thaksin. Bila memakai kaus berwarna merah, maka itu berarti berbagai hal, yaitu sebagai identitas rakyat kebanyakan dan/atau pendukung Thaksin. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Di masa akhir tahun 1990-an tersebut pula, Thaksin Shinawatra masih berhubungan dekat dengan Shondi Limthongkul yang juga seorang pengusaha di bidang media (media mogul). Shondi saat itu baru mendirikan koran </span><i><span style="font-weight: 400">Manager Daily</span></i><span style="font-weight: 400"> dan juga satelit ASTV. Dari media tersebut, selama dua tahun Shondi membantu Thaksin meluaskan personanya dengan warna merah lewat media yang digawanginya.</span></p>
<p><figure id="attachment_26188" aria-describedby="caption-attachment-26188" style="width: 680px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-26188 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/201162994715559734_20.jpg" alt="" width="680" height="450" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/201162994715559734_20.jpg 680w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/201162994715559734_20-300x199.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/201162994715559734_20-635x420.jpg 635w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /><figcaption id="caption-attachment-26188" class="wp-caption-text">Basis massa Thaksin melakukan setting trend (sumber: Al Jazeera)</figcaption></figure></p>
<p><span style="font-weight: 400">Empat langkah tersebut, yakni menciptakan tren atau </span><i><span style="font-weight: 400">vibe</span></i><span style="font-weight: 400">, mengasosiasikannya dengan kelompok masyarakat (</span><i><span style="font-weight: 400">setting trend</span></i><span style="font-weight: 400">), menggunakan sosok artis, maupun figur politik dalam tiap kesempatan (</span><i><span style="font-weight: 400">catwalk strategy</span></i><span style="font-weight: 400">), lantas disebarkan melalui media, berhasil membuat Thaksin Shinawatra secara psikologis sudah diterima dan familiar di mata masyarakat kebanyakan. Inilah batu loncatan Thaksin masuk ke dunia politik dan menjadi figur yang berpengaruh. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Saking berpengaruhnya, ia menjabat sampai dua periode dan mendapat pembelaan keras dari massa ‘merah’-nya saat mengalami kudeta dari pihak militer. Tak lupa, Thaksin juga tetap dibela habis-habisan saat kelompok kaus kuning, yang menasbihkan sebagai pihak oposisi dan dipimpin oleh Shondi Limthongkul, mencoba mengkudetanya. Hingga akhirnya, kekuasaan Thaksin harus lengser di tangan militer Thailand di tahun 2006. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Walau demikian, Thaksin hingga saat ini masih dianggap menjadi sosok pemimpin berkharisma. Lebih tepatnya, persona pemimpin yang dibenci sekaligus dicinta, melekat pada diri Thaksin dalam kacamatan rakyat Thailand hingga kini. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Strategi menggunakan pakaian dan warna tertentu sebetulnya pernah pula diterapkan di Indonesia. Siapa yang lupa dengan pakaian kotak-kotak ala Jokowi dan Ahok yang populer pada Pilkada DKI Jakarta 2012? Sama halnya dengan Thaksin, pakaian dengan motif kotak-kotak juga memiliki strategi dan pola bergerak yang sama. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Jokowi pernah berkata bahwa motif kotak-kotak dipilih karena menyimbolkan pluralitas dan kerja keras. Motif tersebut di-</span><i><span style="font-weight: 400">setting</span></i><span style="font-weight: 400"> dalam suasana Pilkada DKI Jakarta 2012. Lalu, pakaian kotak-kotak tersebut pun ikut di-</span><i><span style="font-weight: 400">endorse</span></i><span style="font-weight: 400"> oleh figur atau tokoh terkenal. Sebagai contoh, saat itu banyak artis Ibukota berbondong-bondong memakai pakaian motif kotak-kotak dalam berbagai kesempatan untuk menyatakan dukungan kepada Jokowi. Mereka adalah Sophia Latjuba, Cinta Laura, hingga Luna Maya. Dari sana, pakaian motif kotak-kotak Jokowi sudah berubah menjadi sebuah pernyataan politik bagi pemakainya dan bertambah </span><i><span style="font-weight: 400">moncer</span></i><span style="font-weight: 400"> pula popularitasnya.</span></p>
<p><figure id="attachment_26190" aria-describedby="caption-attachment-26190" style="width: 475px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-26190 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/download.jpg" alt="" width="475" height="271" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/download.jpg 475w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/download-300x171.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 475px) 100vw, 475px" /><figcaption id="caption-attachment-26190" class="wp-caption-text">Jokowi dan Ahok dengan pakaian kotak-kotak legendarisnya (sumber: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p><span style="font-weight: 400">Dengan bantuan media, popularitas pakaian kotak-kotak semakin luas dan menjadi sebuah </span><i><span style="font-weight: 400">brand</span></i><span style="font-weight: 400"> tersendiri bagi pasangan Jokowi &#8211; Ahok kala itu. Hasilnya apa? Selain menjadi </span><i><span style="font-weight: 400">trendsetter fashion</span></i><span style="font-weight: 400">, Jokowi dan Ahok sebagai pasangan Pilgub saat itu  keluar sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. Dalam langkah panjangnya, Jokowi malah makin bersinar menjadi Presiden RI ke-7. Dengan demikian, politik </span><i><span style="font-weight: 400">fashion</span></i><span style="font-weight: 400"> yang dijalankan Jokowi dan Thaksin, tak main-main dampaknya bila sungguh-sungguh dilancarkan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Nah, bila kembali menghubungkan dengan gerakan ingin-ganti-presiden-tahun-2019 melalui kaus beraneka ragam yang sempat viral di sosial media, apa yang patut dicontoh dan dilakukan supaya bisa menemui asanya? Mampukah mereka menghasilkan dampak signifikan seperti halnya Thaksin dan Jokowi dengan medium busana? </span></p>
<h4><b>Mampu Terwujud? </b></h4>
<p><span style="font-weight: 400">Hal yang bisa disepakati dari politik dan </span><i><span style="font-weight: 400">fashion</span></i><span style="font-weight: 400"> yang sudah dijabarkan di atas adalah, persepsi politik ternyata bisa ditangkap melalui penampilan. Dari sana, keberadaan busana (</span><i><span style="font-weight: 400">fashion</span></i><span style="font-weight: 400">) menjadi poin penting dan efektif sebagai bahan pertimbangan mendukung kelompok atau tokoh politik. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Seperti yang disebutkan dalam buku </span><i><span style="font-weight: 400">The Politics of Dress in Asia and The America’s, </span></i><span style="font-weight: 400">busana menjadi perwakilan simbol, identitas, dan pernyataan politik pemakainya. Disadari atau tidak, para tokoh politik atau figur tertentu memang menggunakan pakaiannya sebagai sarana kampanye dan pernyataan politik.</span></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-26192 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--1024x1024.jpg" alt="" width="696" height="696" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik--420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Kaos-dan-Dukungan-Politik-.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400">Nah, kelompok yang menyuarakan #2019GantiPresiden pun sudah jelas memiliki pernyataan politiknya, mereka tak ingin Jokowi kembali naik menjadi presiden di tahun 2019. Namun, asa yang diimpikan oleh kelompok tersebut, sepertinya masih sangat jauh panggang dari api. Apa sebab? </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Waktu Pilpres 2019 hanya tinggal setahun lagi, tentu saja ini masih belum cukup membangun familiaritas sehingga masyarakat kebanyakan bisa menerima ‘pernyataan politik’ mereka secara psikologis. Selain itu, bila menengok busana Thaksin dan Jokowi, busana yang mereka gunakan hanya berbasis motif dan warna. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Mereka tidak menyertakan jargon atau slogan apapun dalam kaus atau pakaiannya. Inilah hal yang terlewat oleh pendukung gerakan #2019GantiPresiden. Alih-alih fokus pada identitas warna atau motif, sehingga dapat dihubungkan pada ideologi tertentu, sebuah tagar ‘sangar’ nan ‘keras’ malah mencuat besar. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Dengan adanya slogan tersebut, akan sulit menjaring tokoh atau figur untuk ikut meng-</span><i><span style="font-weight: 400">endorse</span></i><span style="font-weight: 400"> atau mendukungnya. Boleh dikatakan, slogan yang ada bukannya memperkuat pernyataan, malah merusak intensi yang ada. Dengan demikian, kaus bertagar #2019GantiPresiden tidak mengikuti </span><i><span style="font-weight: 400">theory of fashion and politic</span></i><span style="font-weight: 400"> yang dijalankan Thaksin maupun Jokowi sama sekali. Bisa dipastikan, gerakan ini akan segera tenggelam dan hanya berakhir menjadi </span><i><span style="font-weight: 400">gimmick</span></i><span style="font-weight: 400"> yang menghiasi pemberitaan saja. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400">Padahal bila mengutip pernyataan Umberto Eco, penulis buku masyhur </span><i><span style="font-weight: 400">In the Name of Rose</span></i><span style="font-weight: 400"> yang mengatakan, “Aku berbicara melalui pakaianku”, kaus ini sudah bicara banyak. Tetapi, apa daya, slogan kaus tersebut hanya menjadi kebisingan yang tak sudi didengar siapa pun karena tidak mengikuti alur </span><i><span style="font-weight: 400">fashion theory  </span></i><span style="font-weight: 400">yang tepat. (A27)  </span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-11-HEADER-Bicara-Politik-Melalui-Kaus-A27.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
