<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>survivorship bias &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/survivorship-bias/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Jun 2020 10:09:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>survivorship bias &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jokowi Terjebak Survivorship Bias?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-terjebak-survivorship-bias/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2020 10:09:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[coronavirus]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Korea Selatan]]></category>
		<category><![CDATA[Selandia Baru]]></category>
		<category><![CDATA[survivorship bias]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=79472</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) yang belum sepenuhnya usai, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk bersiap menerapkan kebijakan normal baru (new normal) seiring dengan pelonggaran lockdown di berbagai negara lain. Mengapa pemerintah melaksanakan kebijakan tersebut? PinterPolitik.com “Tell the young high school kids keep dreamin&#8217; because they sure do come true” – Drake, penyanyi rap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Di tengah pandemi virus Corona (Covid-19) yang belum sepenuhnya usai, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) memutuskan untuk bersiap menerapkan kebijakan normal baru (<em>new normal</em>) seiring dengan pelonggaran <em>lockdown</em> di berbagai negara lain. Mengapa pemerintah melaksanakan kebijakan tersebut?</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“Tell the young high school kids keep dreamin&#8217; because they sure do come true” – Drake, penyanyi rap asal Kanada</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">K</span>isah inspiratif yang berasal dari kesuksesan orang-orang lain boleh jadi menjadi motivasi bagi banyak orang dalam menjalani rumitnya kehidupan. Terkadang, kesuksesan orang lain menjadi acuan agar senantiasa berpacu dengan mengikuti langkah mereka.</p>
<p><strong><a href="https://www.cnbc.com/2017/05/10/10-ultra-successful-millionaire-and-billionaire-college-dropouts.html">Kisah sukses</a></strong> yang dimiliki oleh Bill Gates misalnya kerap menjadi salah satu inspirasi keberhasilan meskipun Gates melakukan keputusan yang tidak umum, yakni berhenti berkuliah di Harvard University. Hal itu dilakukannya guna memulai salah satu perusahaan teknologi yang paling sukses di dunia, yakni Microsoft.</p>
<p>Selain Gates, muncul juga nama yang lebih muda, yakni Mark Zuckerberg. Pada usia 20 tahun, Zuckerberg juga memutuskan untuk berhenti dari pendidikan Harvard yang dienyamnya. Kini, ia memimpin salah satu perusahaan media sosial yang paling populer.</p>
<p>Kisah sukses Gates dan Zuckerberg ini boleh jadi menunjukkan bahwa keberhasilan tak harus dituju dengan langkah dan jalan yang biasa ditempuh oleh orang pada umumnya. Setidaknya, kisah mereka menjadi bekal inspirasi bagi banyak orang lainnya.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">KTT ASEAN Plus Three sore tadi, juga membahas  tantangan pandemi Covid-19 dan pelemahan ekonomi. </p>
<p>Mengingat Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan termasuk yang pertama menghadapi Covid-19, pengalaman mereka menangani wabah ini perlu dibagi dengan negara-negara ASEAN. <a href="https://t.co/B0rLoKyBRy">pic.twitter.com/B0rLoKyBRy</a></p>
<p>&mdash; Joko Widodo (@jokowi) <a href="https://twitter.com/jokowi/status/1250040856624545792?ref_src=twsrc%5Etfw">April 14, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Mungkin, upaya untuk mencari inspirasi kesuksesan orang lain ini tak hanya terbatas pada persoalan karier, melainkan juga persoalan kebijakan. Presiden Joko Widodo (Jokowi) misalnya menyebutkan bahwa negara-negara lain yang dianggap sukses dalam menangani pandemi virus Corona (Covid-19) perlu dijadikan percontohan bagi Indonesia.</p>
<p>Beberapa negara yang sempat dikutip oleh Jokowi adalah Korea Selatan (Korsel) dan Selandia Baru. Menurut mantan Wali Kota Solo tersebut, negara-negara tersebut telah menggunakan teknologi berbasis <em>Global Positioning System</em> (GPS) guna melacak perpindahan orang-orang yang bisa saja diduga terinfeksi Covid-19.</p>
<p>Mungkin, terinspirasi dari kisah sukses Korsel dan Selandia Baru, Jokowi berharap Indonesia dapat mengikuti langkah mereka. Soal aplikasi berbasis GPS misalnya, presiden berharap jajarannya dapat meniru langkah negara-negara tersebut.</p>
<p>Boleh jadi, bak kisah-kisah inspiratif ala Gates dan Zuckerberg, Presiden Jokowi merasa akan berhasil bila mengikuti jejak Korsel dan Selandia Baru. Bukan tidak mungkin, pemerintah Indonesia nantinya dapat melakukan pelacakan (<em>tracking</em>) serupa melalui aplikasi PeduliLindungi buatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).</p>
<p>Tentunya, harapan yang belum pasti akan terjadi tersebut masih menyisakan pertanyaan. Mungkinkah Indonesia bisa mengikuti langkah Korsel dan Selandia Baru? Mengapa Jokowi merasa perlu mengikuti jejak negara-negara itu?</p>
<h4><strong><em>Survivor</em></strong><strong><em>ship</em></strong><strong><em> Bias</em></strong></h4>
<p>Tidak ada salahnya memang bila terinspirasi oleh keberhasilan orang lain. Bukan tidak mungkin, dengan mengikuti langkah mereka, Indonesia juga bisa berjalan keluar dari bayang-bayang pandemi Covid-19.</p>
<p>Selandia Baru misalnya kini telah mencatatkan <strong><a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-52961539/" rel="nofollow">nol kasus baru</a></strong> di wilayahnya. Kebijakan untuk membuka aktivitas ekonomi di negara yang dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Jacinda Ardern pun telah dijalankan beberapa waktu lalu.</p>
<p>Tak hanya dianggap sukses oleh Jokowi, negara-negara lain juga memandang Selandia Baru sebagai contoh kesuksesan dalam melawan pandemi Covid-19. Nama Andern juga <strong><a href="https://republika.co.id/berita/qbm1ls409/jacinda-ardern-contoh-sukses-pemimpin-perangi-covid19/" rel="nofollow">melambung tinggi</a></strong> karena dianggap sebagai pemimpin perempuan yang mampu bekerja lebih baik dibandingkan kepala pemerintahan di negara-negara lainnya.</p>
<p>Keberhasilan melawan pandemi ini ternyata juga dilakukan oleh pemerintah Korsel. Negara yang kini dipimpin oleh Presiden Moon Jae-in disebut-sebut telah berhasil mendatarkan kurva penularan Covid-19 meski menjadi salah satu pusat pandemi baru di luar Republik Rakyat Tiongkok (RRT).</p>
<hr /><p><em>Survivorship bias membuat seseorang hanya berfokus pada mereka-mereka yang berhasil tanpa memerhatikan pihak lain yang justru gagal.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fjokowi-terjebak-survivorship-bias%2F&#038;text=Survivorship%20bias%20membuat%20seseorang%20hanya%20berfokus%20pada%20mereka-mereka%20yang%20berhasil%20tanpa%20memerhatikan%20pihak%20lain%20yang%20justru%20gagal.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Tak sedikit media akhirnya membandingkan keberhasilan Korsel ini dengan penanganan pandemi yang dilakukan oleh negara-negara lain – khususnya Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump. Negara yang menjadi tempat asal budaya populer K-pop tersebut dianggap mampu belajar dari pengalaman masa lalunya ketika menghadapi epidemi yang mirip, yakni Middle East Respiratory Syndrome (MERS-Cov) pada tahun 2015 silam.</p>
<p>Saking <strong><a href="https://www.youtube.com/watch?v=BE-cA4UK07c&amp;t=192s/" rel="nofollow">berpengalamannya</a></strong>, Korsel pun dinilai unggul dalam menjalankan tes hingga pelacakan kontak (<em>contact tracing</em>) bagi siapa-siapa saja yang pernah bertemu dengan pasien yang terinfeksi. Informasi mengenai lokasi yang menjadi tempat infeksi juga dibuka secara umum agar masyarakat dapat menghindari tempat tersebut.</p>
<p>Keberhasilan seperti di Korsel dan Selandia Baru memang terdengar menjanjikan bila langkah yang sama dapat dilakukan di Indonesia. Harapannya, Indonesia dapat keluar dari bayang-bayang Covid-19 seperti negara-negara tersebut.</p>
<p>Namun, dijadikannya Korsel dan Selandia Baru sebagai percontohan ini bukan tidak mungkin membuat pemerintahan Jokowi “terjebak” dalam sebuah bias kognitif yang biasa dikenal sebagai <em>survivorship</em> atau <strong><em><a href="http://www.scientificamerican.com/article/how-the-survivor-bias-distorts-reality/" rel="nofollow">survivor bias</a></em></strong>.</p>
<p>Bias ini membuat seseorang hanya <strong><a href="https://youtu.be/_Qd3erAPI9w/" rel="nofollow">berfokus</a></strong> pada mereka-mereka yang berhasil tanpa memerhatikan pihak lain yang justru gagal. Dengan bias ini, seseorang akhirnya meyakini bahwa, dengan mengikuti langkah keberhasilan orang lain, keberhasilan yang serupa diharapkan dapat tercapai – meski sebenarnya banyak faktor lain turut memengaruhi seperti keberuntungan dan <em>privilege</em>.</p>
<p>Kisah Gates dan Zuckerberg misalnya bisa saja menjadi inspirasi akan langkah seseorang menuju kesuksesan. Meski begitu, banyak faktor lain – seperti fasilitas dan keberuntungan – yang membuat keberhasilan itu tak tercapai walau telah mengikuti langkah kesuksesan yang sama.</p>
<p>Lantas, dengan adanya bias <em>survivor</em> seperti ini, apakah Indonesia mampu meraih kesuksesan yang sama dengan Korsel dan Selandia Baru? Adakah faktor-faktor lain yang memengaruhi meskipun Jokowi mendorong jajarannya untuk mengikuti langkah Ardern dan Moon?</p>
<h4><strong>Beda Kondisi?</strong></h4>
<p>Bias <em>survivor</em> bukan tidak mungkin memengaruhi saran-saran yang diberikan oleh Presiden Jokowi. Pasalnya, tantangan dan hambatan yang tidak hadapi oleh Korsel dan Selandia Baru bisa saja malah harus dihadapi oleh pemerintah Indonesia.</p>
<p>Kesuksesan Selandia Baru misalnya <strong><a href="https://time.com/5824042/new-zealand-coronavirus-elimination/" rel="nofollow">dinilai sulit diikuti</a></strong> oleh negara-negara lain – khususnya negara-negara besar dengan aktivitas ekonomi yang tinggi. Ardern sendiri merupakan salah satu pemimpin yang dengan tegas mendorong kebijakan karantina wilayah (<em>lockdown</em>) lebih awal – kebijakan yang pemerintahan Jokowi keberatan untuk terapkan.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CA6vv5wB4gc/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CA6vv5wB4gc/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CA6vv5wB4gc/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">New normal, Indonesia tidak takut akan seperti Korea Selatan? #newnormal #newnormal2020 #koreaselatan #gelombangkedua #corona #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #cucitangan #tetapsehat #pakemasker #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-06-02T03:38:39+00:00">Jun 1, 2020 at 8:38pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Opsi kebijakan yang dipilih oleh Ardern bisa dibilang wajar karena kerugian ekonomi yang menjadi beban Ardern tak seberat beban ekonomi yang dimiliki negara-negara seperti Indonesia. Selandia Baru merupakan sebuah negara pulau di mana warganya cukup makmur.</p>
<p>Selain itu, Selandia Baru merupakan negara kecil yang tak memiliki penduduk sepadat Indonesia – khususnya Pulau Jawa. Selain itu, lokasi geografis Selandia Baru dinilai lebih terisolasi dibandingkan negara dengan wilayah yang menjadi pusat bisnis – di mana banyak warga asal negara terinfeksi lebih banyak berkunjung.</p>
<p>Bila perbedaan kondisi ini ada di Selandia Baru, perbedaan juga eksis antara Indonesia dan Korsel. Boleh jadi, berdasarkan pengalaman masa lalu dalam menghadapi wabah MERS-Cov.</p>
<p>Meski begitu, terdapat pula perbedaan budaya masyarakat yang membuat Indonesia dan Korsel berbeda. Di Korsel dan kebanyakan negara Asia Timur lainnya, budaya Konfusianisme yang disebut <em>family-state</em> turut membekas di masyarakat.</p>
<p>Dalam budaya sosial tersebut, negara memegang peran sebagai bapak (atau orang tua) bagi masyarakat (sebagai anak-anak yang perlu dibesarkan dengan baik). Hal ini jugalah yang membuat warga Korsel lebih patuh kepada pemerintahnya.</p>
<p>Hal ini juga terlihat dari bagaimana masyarakat mementingkan kepentingan yang sama, yakni kesehatan publik. Meski pelacakan yang dilakukan pemerintah Korsel dapat melanggar <em>privacy</em>, masyarakat dianggap <strong><a href="https://www.youtube.com/watch?v=BE-cA4UK07c&amp;t=192s/" rel="nofollow">lebih mementingkan</a> </strong>kesehatan publik.</p>
<p>Sementara, di Indonesia, publik justru terlihat masih tidak patuh dengan protokol kesehatan. Penutupan McDonald’s Sarinah, Jakarta, beberapa waktu lalu misalnya justru membuat banyak orang berkumpul dalam satu tempat dan waktu – membuat kemungkinan penularan semakin besar.</p>
<p>Dengan perbedaan-perbedaan kondisi seperti ini, bukan tidak mungkin terdapat faktor-faktor penghambat bagi pemerintahan Jokowi bila ingin mengikuti jejak Korsel dan Selandia Baru. Lagi pula, bukannya pemerintahan Jokowi sendiri mengakui bahwa cara setiap negara berbeda-beda pada awal mula pandemi Covid-19? (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="LlZuNSlFvIg"><iframe title="10 Wabah Epidemi dan Pandemi Terdahsyat" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/LlZuNSlFvIg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/06/Jokowi.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi Akhiri Corona di Akhir Tahun?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/jokowi-akhiri-corona-di-akhir-tahun/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2020 02:09:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Corona berakhir akhir tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[survivorship bias]]></category>
		<category><![CDATA[Virus Corona]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=77190</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah kerisauan publik akan pandemi virus Corona (Covid-19), baru-baru ini Presiden Jokowi memberikan pernyataan optimis bahwa pandemi tersebut akan berakhir akhir tahun ini. Akan tetapi, mungkinkah hal tersebut berhasil dilakukan? PinterPolitik.com Dalam sebuah konferensi pers terkait virus Corona (Covid-19) di Gedung Putih pada Maret lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapat sorotan setelah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Di tengah kerisauan publik akan pandemi virus Corona (Covid-19), baru-baru ini Presiden Jokowi memberikan pernyataan optimis bahwa pandemi tersebut akan berakhir akhir tahun ini. Akan tetapi, mungkinkah hal tersebut berhasil dilakukan?</strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span> </strong></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">D</span>alam sebuah konferensi pers terkait virus Corona (Covid-19) di Gedung Putih pada Maret lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendapat sorotan setelah <a href="https://thehill.com/homenews/media/488674-nbcs-alexander-i-gave-trump-a-softball-question-as-opportunity-to-reassure"><strong>memotong</strong></a> pertanyaan koresponden Gedung Putih Peter Alexander terkait apa yang dipikirkan politisi Partai Republik tersebut terhadap masyarakat AS yang tengah ketakutan karena meledaknya kasus Covid-19.</p>
<p>Yang membuat fenomena tersebut mendapatkan pemberitaan khusus adalah karena Trump menyematkan istilah seperti <em>terrible reporter</em> (reporter yang mengerikan) hingga <em>nasty</em> (menjijikkan) kepada pertanyaan Alexander.</p>
<p>Setelah pemotongan tersebut, Trump menyebutkan bahwa masyarakat AS tengah mencari “jawaban” dan “harapan” di tengah pandemi Covid-19. Apa yang dimaksudnya sebagai jawaban dan harapan dalam konferensi tersebut adalah pada klaimnya bahwa obat Malaria, <em>chloroquine</em>, dapat menyembuhkan Covid-19.</p>
<p>Akan tetapi, berbagai pihak justru membantah Trump karena obat tersebut <a href="https://www.cnbc.com/2020/03/26/trumps-claim-that-malaria-drug-can-treat-coronavirus-gives-hope-but-little-evidence-it-will-work.html"><strong>belum</strong></a> memiliki bukti yang kuat dapat digunakan sebagai obat Covid-19. Tidak hanya itu, Trump bahkan disebut telah menyebarkan <a href="https://www.wgbh.org/news/national-news/2020/03/25/harvards-dr-thomas-tsai-says-president-trump-is-giving-americans-false-hope-on-coronavirus-timeline"><strong>harapan palsu</strong></a><strong>, </strong>misalnya oleh Dr. Thomas Tsai dari Harvard University karena menilai kondisi Covid-19 di AS memang tengah dalam kegentingan.</p>
<p>Di luar kontroversi tersebut, hal menarik yang dapat dilihat dari Trump adalah ia memiliki konsistensi untuk memberikan pesan harapan kepada pendengarnya. Suka atau tidak, di tengah situasi genting akibat pandemi Covid-19, pesan-pesan harapan semacam itu memiliki sisi positif sebagai penenang psikologis publik.</p>
<p>Uniknya, upaya Trump dalam memberikan pesan optimis tersebut sepertinya tengah dilakukan pula oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru-baru ini. Di tengah lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia yang telah menyentuh angka 5.923 per 17 April, mantan Wali Kota Solo tersebut tiba-tiba memberikan pernyataan bahwa pandemi Covid-19 akan <a href="https://news.detik.com/berita/d-4980299/prediksi-jokowi-corona-berakhir-di-akhir-tahun"><strong>berakhir</strong></a> akhir tahun ini.</p>
<p>Tidak hanya itu, Jokowi bahkan menyebutkan bahwa pada tahun 2021 akan terjadi ledakan pariwisata karena penduduk dunia akan berlibur setelah menjalani <em>social distancing</em> dalam waktu yang relatif lama. Dengan tegas Jokowi menyebutkan bahwa optimisme harus diangkat agar tidak terjebak dalam pesimisme karena masalah Covid-19 yang tengah terjadi.</p>
<p>Tentu pertanyaannya, mungkinkah Jokowi mampu mewujudkan optimismenya terkait berakhirnya pandemi Covid-19? Atau justru sama halnya dengan Trump, yang mana ia terjebak dalam pemberian harapan palsu?</p>
<p><img decoding="async" class="size-full wp-image-77162 aligncenter" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/Infografis-Pesan-Optimis-Jokowi-Soal-Corona.jpg" alt="" width="768" height="818" /></p>
<h4><strong>Politik Optimisme </strong></h4>
<p>Optimisme tersebut sepertinya dapat kita lacak dari pernyataan peraih hadiah Nobel untuk bidang kimia Michael Levitt yang menyebutkan pandemi Covid-19 akan segera <a href="https://www.jpost.com/health-science/israeli-nobel-laureate-coronavirus-spread-is-slowing-621145"><strong>berakhir</strong></a> setelah menemukan adanya perlambatan tingkat infeksi di Tiongkok.</p>
<p>Atas temuan Levitt tersebut, boleh jadi telah tercipta gelombang harapan di Indonesia, yang misalnya terlihat dari adanya berbagai pemberitaan tentang temuan tersebut oleh berbagai media <a href="https://www.suara.com/news/2020/03/28/184845/peraih-nobel-michael-levitt-sebut-corona-segera-berakhir-asal-mau-isolasi"><strong>dalam negeri</strong></a>.</p>
<p>Tidak hanya Levitt, berbagai peneliti dalam negeri juga telah membuat berbagai <em>modeling</em> untuk menentukan kapan sekiranya pandemi Covid-19 akan berakhir di Indonesia. ILUNI Matematika Universitas Indonesia (UI) misalnya, telah mempublikasikan tiga buah skenario terkait berakhirnya pandemi tersebut.</p>
<p>Dalam skenario terburuk, yakni jika per 1 April pemerintah tidak mengambil tindakan tegas terkait <em>physical distancing</em>, maka berakhirnya pandemi <a href="https://www.suara.com/news/2020/03/31/201442/prediksi-alumni-matematika-ui-puncak-wabah-corona-16-april-berakhir-juni"><strong>diprediksi</strong></a> akan terjadi pada akhir Agustus sampal awal September 2020.</p>
<p>Selain prediksi tersebut, progresivitas penemuan vaksin Covid-19 juga turut menambah angin harapan tersebut. Perusahaan produsen obat-obatan, peralatan medis, dan barang konsumsi multinasional asal AS Johnson &amp; Johnson misalnya, pada Maret lalu telah mengumumkan bahwa mereka telah siap untuk <a href="https://fortune.com/2020/03/31/johnson-johnson-ceo-on-the-race-to-make-a-coronavirus-vaccine/"><strong>menguji</strong></a> vaksin Covid-19 pada manusia pada bulan September, serta menyebutkan kemungkinan vaksin sudah dapat digunakan pada awal tahun 2021.</p>
<p>Kendatipun tidak pernah disebutkan secara tegas, boleh jadi prediksi dan progresivitas penemuan vaksin tersebut telah menjadi landasan atas optimisme Jokowi untuk menyebutkan pandemi Covid-19 akan berakhir pada akhir tahun ini.</p>
<p>Tidak hanya pada kasus Covid-19 Jokowi memberikan pesan harapan atau optimisme, melainkan pesan tersebut memang telah menjadi ciri khas dari bahasa politik mantan Wali Kota Solo tersebut.</p>
<p>Yang paling kentara untuk menunjukkan hal tersebut adalah ketika ia menanggapi pidato Prabowo Subianto tentang Indonesia dapat bubar pada tahun 2030 kala kampanye Pilpres 2019 lalu. Tegas Jokowi, tidak boleh ada lagi yang mengatakan Indonesia akan bubar karena seharusnya masa depan ditatap dengan penuh <a href="https://news.detik.com/berita/d-4411840/jokowi-bubar-punah-saja-sendiri-jangan-ajak-rakyat-indonesia"><strong>optimisme</strong></a>.</p>
<p>Charles Vallance dalam tulisannya <em>The Politics of Optimism</em> menyebutkan bahwa strategi menebar pesan harapan atau optimisme tersebut memang terbukti telah membawa keberhasilan dalam mendulang <a href="https://www.campaignlive.co.uk/article/the-politics-optimism/1664439"><strong>simpati publik</strong></a>. Vallance misalnya mencontohkan pesan optimis “Make America Great Again” dari Trump ketika kampanye Pilpres AS lalu telah menjadi salah satu faktor keberhasilannya terpilih sebagai presiden.</p>
<p>Mengacu pada Vallance, boleh jadi Jokowi bermaksud untuk mendulang simpati publik di tengah kekecewaan berbagai pihak terkait penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia yang dinilai tidak sigap sedari awal. Selain itu, ancaman sosial dan ekonomi juga turut menghantui seiring dengan terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena berhentinya aktivitas ekonomi.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-77154 aligncenter" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/Poster-Ada-Apa-dengan-Kita.jpg" alt="" width="768" height="924" /></p>
<h4><strong><em>Survivorship Bias</em></strong></h4>
<p>Pada titik ini, mungkin mudah untuk memahami bahwa Presiden Jokowi memang hendak menyebarkan pesan optimis guna menenangkan psikologis publik. Akan tetapi, bagaimana jadinya jika pesan optimis tersebut justru mendapat <em>backlash</em> atau reaksi negatif seperti halnya pada kasus Trump?</p>
<p>Pasalnya, optimisme Jokowi tersebut bak bertepuk sebelah tangan dengan upaya penanganan pandemi Covid-19 yang dipertontonkan pemerintah selama ini. Hal tersebut misalnya terlihat dengan pemerintah yang belum mengeluarkan larangan mudik Lebaran 2020.</p>
<p>Andrew Wight <a href="https://www.forbes.com/sites/andrewwight/2020/04/08/will-the-coronavirus-follow-when-20-million-indonesians-go-home-for-mudik/#75254b3cfc13"><strong>dalam</strong></a> tulisannya <em>Will The Coronavirus Follow When 20 Million Indonesians Go Home For Mudik?</em> turut memberikan sorotan tajam atas hal tersebut. Mengacu pada data tahun 2019, yang mana terdapat 20 juta pemudik, jika belum terdapat larangan mudik, besar kemungkinan tradisi tahunan tersebut akan menjadi bom ledakan kasus Covid-19 di berbagai daerah.</p>
<p>Konteksnya menjadi semakin rumit karena fasilitas kesehatan di daerah dinilai tidak begitu memadai untuk merawat pasien Covid-19. Dengan adanya ketimpangan pembangunan antara ibu kota dan daerah, mudah untuk menyimpulkan, apabila fasilitas medis di Jakarta saja dirasa masih belum mencukupi untuk menangani banyaknya pasien Covid-19, lantas bagaimana mungkin fasilitas di daerah sanggup?</p>
<p>Harapan akan berakhirnya pandemi Covid-19 juga seolah berada di arah yang tidak tentu setelah ditemukannya prediksi akan adanya <a href="https://www.theguardian.com/world/2020/apr/02/asian-countries-face-possible-second-wave-of-coronavirus-infections"><strong>gelombang kedua</strong></a> Covid-19 di Asia. Kepala tim ahli klinis Covid-19 di Shanghai, Zhang Wenhong, juga telah memprediksi bahwa gelombang kedua tersebut akan terjadi pada bulan <a href="https://www.indiatoday.in/coronavirus-outbreak/story/china-may-be-hit-second-wave-coronavirus-november-chinese-expert-1667656-2020-04-16"><strong>November</strong></a> mendatang.</p>
<p>Apalagi, dengan adanya berbagai temuan di mana pasien sembuh Covid-19 dapat terjangkit lagi seperti yang terjadi pada <a href="https://www.liputan6.com/health/read/4227186/116-pasien-di-korsel-positif-covid-19-usai-dinyatakan-sembuh-ada-potensi-virus-aktif-lagi"><strong>116 pasien</strong></a> di Korea Selatan, membuat harapan akan berakhirnya pandemi tersebut sepertinya hanya akan terwujud jika vaksin telah ditemukan. Getirnya, berbagai pihak justru menyebutkan vaksin Covid-19 baru akan siap dalam waktu 12-18 bulan ke depan.</p>
<p>Lantas, dengan berbagai faktor tersebut, mungkinkah Jokowi telah terkena bias kognitif yang disebut dengan <em>survivorship bias</em>?</p>
<p><em>Survivorship bias</em> adalah tendensi psikologis di mana seseorang cenderung menaksir kesuksesannya terlalu tinggi atau melebihi kemungkinan yang ada. Bias tersebut umumnya ditemukan dalam aktivitas bisnis seperti investasi.</p>
<p>Pada konteks pesan optimis Jokowi, dengan menimbang pada berbagai faktor penghambat yang ada, boleh jadi bias kognitif tersebut memang tengah mendera orang nomor satu RI tersebut. Pasalnya, tidak hanya memprediksi berakhirnya pandemi, Jokowi juga menyebut akan adanya ledakan pariwisata yang akan melanda Indonesia pada 2021 mendatang. Atas itu pula, ia telah memberikan perintah kepada menteri untuk menyiapkan stimulus ekonomi kepada pelaku bisnis pariwisata dan ekonomi kreatif.</p>
<p>Menariknya, <em>survivorship bias</em> tampaknya tidak hanya terjadi pada kasus Covid-19, melainkan juga pada visi pembangunan infrastruktur Jokowi. James Guild <a href="https://www.newmandala.org/jokowinomics-gambles-with-indonesias-democratisation/"><strong>dalam</strong></a> tulisannya <em>Jokowinomics Gambles with Indonesia’s Democratisation</em> menyebutkan bahwa Jokowi sepertinya percaya bahwa pembangunan infrastruktur dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Atas dasar itu, Guild menyebut bahwa Jokowi akan meningkatkan skala pembangunan infrastruktur pada periode kedua kepemimpinannya.</p>
<p>Pada akhirnya, mungkin kita dapat memetik dua simpulan atas pesan optimis Jokowi tersebut. <em>Pertama</em>, boleh jadi pesan tersebut semacam bahasa komunikasi politik untuk menenangkan psikologis publik. <em>Kedua</em>, jika tendensinya bukan politik, maka boleh jadi Jokowi telah mengalami <em>survivorship bias</em>.</p>
<p>Akan tetapi, skenario ketiga, seperti pandemi Covid-19 benar-benar akan berakhir pada akhir tahun ini juga mungkin saja untuk terjadi, dan itu memang menjadi harapan kita semua. Tentunya, jika pemerintah memang serius ingin mengakhiri pandemi ini secepat mungkin, langkah-langkah terbaik menjadi suatu keharusan untuk dilakukan. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)</p>
<p><iframe loading="lazy" title="Salahkah Pemerintah Sembunyikan Informasi Corona?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/3BAcx0u2CsY?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/jok-p.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
