<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Sunk Cost &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/sunk-cost/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 31 Oct 2019 11:33:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Sunk Cost &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jebakan Psikologis, Yasonna Lanjutkan RKUHP?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jebakan-psikologis-yasonna-lanjutkan-rkuhp/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R53]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Oct 2019 11:33:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik & Figure]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Demonstrasi Mahasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Menkumham]]></category>
		<category><![CDATA[RKUHP]]></category>
		<category><![CDATA[Sunk Cost]]></category>
		<category><![CDATA[Yasonna Laoly]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=68041</guid>

					<description><![CDATA[Setelah adanya demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang menolak RKUHP, sejumlah pihak mulai menghujani Menkumham Yasonna Laoly dengan kritik untuk membatalkan atau merumuskannya ulang. Kini, Yasonna yang kembali ditunjuk sebagai Menkumham menimbulkan dugaan bahwa agenda pengesahan RKUHP ini akan kembali diteruskan. Benarkah demikian? PinterPolitik.com Rencana pengesahan Rancangan Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Setelah adanya demonstrasi besar-besaran mahasiswa yang menolak RKUHP, sejumlah pihak mulai menghujani Menkumham Yasonna Laoly dengan kritik untuk membatalkan atau merumuskannya ulang. Kini, Yasonna yang kembali ditunjuk sebagai Menkumham menimbulkan dugaan bahwa agenda pengesahan RKUHP ini akan kembali diteruskan. Benarkah demikian?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">R</span>encana pengesahan Rancangan Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP) oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada September 2019 lalu benar-benar menjadi salah satu faktor terbesar yang menyulut datangnya ribuan mahasiswa dari berbagai daerah untuk melakukan aksi demonstrasi di depan gedung DPR.</p>
<p>Aksi massa tersebut terbilang sangat mengejutkan. Pasalnya, itu adalah demonstrasi mahasiswa terbesar dalam dua dekade terakhir. Sontak saja, untuk menurunkan tensi publik, pemerintah memutuskan untuk menunda pengesahan RKUHP dalam tempo waktu yang belum ditentukan.</p>
<p>Berbagai pihak yang berwenang dalam merumuskan RKUHP tampak menjadi bulan-bulanan masyarakat ataupun warganet, menimbang terdapat berbagai pasal kontroversial yang ditemukan di dalamnya.</p>
<p>Menteri Hukum dan Ham (Menkumham) Yasonna Laoly selaku pihak yang memiliki andil besar dalam perumusan RKUHP tidak luput dari kritik. Bahkan, berbagai pihak meminta sang menteri <strong><a href="https://www.tribunnews.com/nasional/2019/09/25/yasonna-laoly-tak-mau-rombak-ulang-rkuhp-sampai-lebaran-kuda-enggak-akan-jadi-ini-barang">untuk</a> </strong>merevisi berbagai pasal kontroversial ataupun mengkaji ulang RKUHP yang telah disusun.</p>
<p>Sorotan publik nampak semakin intens kepada Yasonna setelah dirinya mengkritik keras artis Dian Sastro <strong><a href="https://www.tribunnewswiki.com/2019/09/25/kronologi-yasonna-laoly-sebut-dian-sastro-terlihat-bodoh-karena-komentari-revisi-rkuhp">pada</a></strong> 23 September 2019, dan para Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang hadir di acara Indonesia Lawyers Club <strong><a href="https://www.tribunnews.com/seleb/2019/09/25/yasonna-laoly-akui-malu-dengar-argumen-dari-mahasiswa-soal-rkuhp-haris-azhar-beri-pembelaan">pada</a></strong> 24 September 2019 karena dinilai tidak mengerti substansi serta tidak membaca produk hukum tersebut.</p>
<p>Kini, Yasonna kembali ditunjuk oleh Jokowi untuk jabatan yang sama. Penunjukannya kembali ini menguatkan spekulasi bahwa pemerintah, khususnya Yasonna, akan terus melanjutkan proses pengesahan RKUHP. Yasonna sendiri sempat menegaskan akan melanjutkan kembali <strong><a href="https://www.liputan6.com/news/read/4076747/jadi-anggota-dpr-yasonna-ngotot-lanjutkan-ruu-pemasyarakatan-dan-kuhp">pembahasan</a></strong> RKUHP yang telah disusun.</p>
<p>Ini tentu menjadi tanda tanya. Mengapa pemerintah, khususnya Yasonna akan terus menggodok RKUHP kendati telah menerima berbagai penolakan dari banyak pihak?</p>
<h4><strong><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-68040 aligncenter" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/10/Yasonna-Welcome-Back-RKUHP-.jpg" alt="" width="1080" height="1145" /></strong></h4>
<p><strong>Berkaca pada Partai Republik</strong></p>
<p>Pengangkatan kembali kebijakan politik “tidak populer” – istilah bagi kebijakan yang menuai banyak kritik ataupun penolakan – seperti RKUHP, sebenarnya juga terjadi di berbagai negara. Bahkan, ini juga terjadi di negara sekelas Amerika Serikat (AS) yang disebut sebagai salah satu negara yang paling menjunjung demokrasi.</p>
<p>Kala itu, <strong><a href="https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2018/01/11/why-has-the-republican-congress-chased-such-unpopular-policies/">dalam</a></strong> agenda Kongres Partai Republik pada tahun 2017, para anggota kongres memutuskan untuk tetap mendukung pencabutan UU Perawatan Terjangkau dan RUU Reformasi Pajak yang sebenarnya telah gagal diterima.</p>
<p>Kedua kebijakan tersebut, seperti yang dilaporkan The Washington Post, merupakan opini yang paling tidak populer dalam sejarah AS.</p>
<p>Lalu, untuk apa Partai Republik tetap menyuarakan keduanya?</p>
<p>Disebutkan bahwa para anggota parlemen Partai Republik percaya akan adanya kebijakan yang layak diperjuangkan, kendati merupakan kebijakan yang sangat tidak populer. Ya, ini tampak seperti jawaban ideologis atau normatif.</p>
<p>Akan tetapi, dalam tulisan yang <strong><a href="https://edition.cnn.com/2017/11/13/politics/tax-reform-republican-donor-backlash/index.html">dimuat</a></strong> CNN, disebutkan bahwa ternyata alasan kebijakan tersebut tetap diperjuangkan karena adanya kekhawatiran akan adanya <em>backlash</em> dari para pendonor dana pembahasan dua produk hukum tersebut jika mereka gagal.</p>
<p>Artinya, di balik usulan tersebut, Partai Republik sebenarnya tengah memperjuangkan kepentingan para pendonor – mereka yang tentunya akan mendapat keuntungan jika kebijakan tersebut terlaksana.</p>
<p>Tidak hanya karena motif ekonomi, kebijakan tersebut sepertinya juga didorong oleh motif psikologis.</p>
<p>Hal ini terlihat dari pernyataan Presiden AS, Donald Trump yang juga merupakan politikus Partai Republik kepada Senator Government Publishing Office (GOP) AS <strong><a href="https://www.politico.com/story/2017/07/17/obamacare-senators-turn-on-mcconnell-240646">pada</a></strong> tahun 2015 lalu.</p>
<p>Saat itu, Trump dengan tendensius mengutarakan: &#8220;Bagaimana mungkin kita tidak melakukan ini setelah menjanjikannya selama bertahun-tahun?&#8221;</p>
<p>Merujuk pada pernyataan Trump, investasi pengajuan kebijakan tersebut bukan hanya soal dana, melainkan juga pada tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan.</p>
<p>Melihat pada dua hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa Partai Republik tetap memperjuangkan pencabutan UU Perawatan Terjangkau dan RUU Reformasi Pajak karena menimbang telah adanya investasi besar yang telah dilakukan seperti dana dari para pendonor, ataupun waktu dan tenaga para anggota parlemen yang telah menjanjikannya selama bertahun-tahun.</p>
<p>Berkaca pada kasus Partai Republik, dalam kasus penunjukan kembali Yasonna sebagai Menkumham, sangat mungkin terdapat investasi-investasi yang membuat pemerintah enggan untuk mengkaji ulang RKUHP, kendati kebijakan ini sepertinya telah menerima label tidak populer.</p>
<p>Atas persoalan ini, sangat tepat sekiranya untuk melihat pernyataan peneliti Indonesian Corruption Watch (ICW) Kurnia Ramadhana yang kecewa atas penunjukan kembali Yasonna sebagai Menkumham.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B23zjhQJlvm/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B23zjhQJlvm/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B23zjhQJlvm/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Selain sempat sindir Dian Sastro, Menkumham Yasonna Laoly anggap para pemrotes RKUHP belum membaca draf dengan baik. Nantikan artikel selengkapnya di pinterpolitik.com #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-09-26T11:00:15+00:00">Sep 26, 2019 at 4:00am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p><strong><a href="https://nasional.kompas.com/read/2019/10/28/16434031/icw-heran-yasonna-laoly-kembali-ditunjuk-jadi-menkumham">Baginya</a>,</strong> Yasonna misalnya tidak menunjukkan sikap pro pemberantasan korupsi. Hal ini terlihat dari RKUHP yang menempatkan tindak pidana korupsi tidak lagi sebagai pidana luar biasa, melainkan sebagai tindak pidana umum.</p>
<p>Hal serupa juga diungkapkan oleh Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, <strong><a href="https://nasional.kompas.com/read/2019/09/20/10123341/pasal-korupsi-di-rkuhp-tak-sertakan-pidana-tambahan-uang-pengganti-dan">bahwa</a> </strong>pemuatan pasal-pasal korupsi tidak boleh mendegradasi statusnya sebagai tindak pidana luar biasa dan melemahkan KPK. Lanjut Fickar, dalam RKUHP juga tidak mengenal pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti.</p>
<p>Atas temuan tersebut, tentu saja tidak mengejutkan apabila berbagai pihak menghubungkan RKUHP dengan kepentingan para politisi karena muatannya yang memberi tendesi mendegradasi tindak pidana korupsi. Sebagaimana diketahui, tindak pidana korupsi memang menjadi tindak pidana umum yang menjerat para politisi.</p>
<p>Tidak hanya itu, perumusan RKUHP sendiri telah memakan biaya investasi yang tidak sedikit.</p>
<p>Dari segi anggaran, selama periode 2015-2019 saja, <strong><a href="https://tirto.id/dpr-2014-2019-malas-bekerja-tapi-boros-anggaran-dlQ8">dalam</a></strong> laporan ICW, jumlah anggaran DPR untuk pelaksanaan fungsi legislasi mencapai Rp 1,62 triliun yang sebagian besar dialokasikan pada perancangan Undang-Undang, yaitu sebesar Rp 307,112 miliar.</p>
<p>Kemudian, dari segi waktu dan tenaga, dalam proses perumusannya, seperti dalam pernyataan Yasonna di <strong><a href="https://www.youtube.com/watch?v=ICBc1BMujYM">acara</a></strong> ILC, telah berlangsung sejak era presiden-presiden sebelumnya. Bahkan tandasnya, ini adalah utang yang harus dibayarkan kepada profesor-profesor terdahulu, serta merupakan perjuangan panjang anak-anak bangsa untuk menggantikan hukum kolonial.</p>
<p>Merangkum variabel-variabel tersebut, kasus penerusan RKUHP ini terlihat begitu mirip dengan kasus Partai Republik yang terus menyuarakan pencabutan UU Perawatan Terjangkau dan RUU Reformasi Pajak. Keduanya, sama-sama telah memakan banyak biaya investasi besar yang meliputi dana, waktu, ataupun tenaga.</p>
<p>Melihat pada kedua fenomena politik tersebut, ini sebenarnya bisa disebut sebagai fenomena yang terjadi karena adanya efek <em>sunk cost fallacy</em>. Konsep apakah itu?</p>
<p><strong>Terjerat Jebakan Psikologis?</strong></p>
<p><em>Sunk cost fallacy</em> adalah kondisi ketika suatu putusan atau kebijakan tetap dilanjutkan karena telah melakukan banyak investasi, baik berupa uang, waktu, ataupun tenaga terhadap suatu hal.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B23l0ZZpRe-/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B23l0ZZpRe-/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B23l0ZZpRe-/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Kemenangan Jokowi di Pilpres 2019 disebut karena Big Data. Baca artikel selengkapnya di pinterpolitik.com #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-09-26T09:00:13+00:00">Sep 26, 2019 at 2:00am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Kondisi tersebut terjadi &#8211; seperti yang diterangkan oleh Rolf Dobelli dan Thomas Kelly &#8211; karena manusia sulit melupakan investasi besar yang telah dilakukan, sehingga senantiasa terjadi rasionalisasi untuk membenarkan keputusan atau kebijakan yang diambil.</p>
<p>Menurut Dobelli dan Kelly, ini adalah perilaku manusia yang begitu berbahaya dan sebenarnya tidak rasional.</p>
<p>Pada kasus Partai Republik dan RKUHP, terlihat jelas bahwa telah terdapat investasi besar yang dipertaruhkan. Atas hal ini, tentu saja tercipta efek psikologis bahwa kebijakan tersebut akan begitu berat untuk ditinggalkan kendati telah mendapat berbagai penolakan.</p>
<p>Pernyataan-pernyataan Yasonna di acara ILC terlihat begitu tendensius untuk kembali mengupayakan pengesahan RKUHP. Bahkan Yasonna sendiri mengakui tidak dapat menahan diri ketika terdapat berbagai pihak yang mengkritik RKUHP yang telah dirumuskan selama puluhan tahun.</p>
<p>Itu menunjukkan dengan jelas bahwa Yasonna memiliki ikatan emosional yang kuat dengan RKUHP. Atas dasar ini, besar kemungkinan <em>sunk cost fallacy</em> telah terjadi pada Yasonna karena telah merasakan keberatan yang “besar” apabila RKUHP ditolak.</p>
<p>Yasonna sendiri, sebagaimana diketahui, menolak dengan keras untuk mengkaji ulang RKUHP. Karena baginya, jika kaji ulang dilakukan, RKUHP tersebut tidak akan pernah berhasil diselesaikan.</p>
<p>Pada akhirnya, atas berbagai korelasi tersebut, publik dapat menebak bahwa pada periode kedua kepemimpinan Jokowi, pengesahan RKUHP akan kembali diusahakan. Terlebih lagi, Yasonna yang terlihat memiliki ikatan emosional yang kuat dengan RKUHP, terpilih kembali sebagai Menkumham.</p>
<p>Akan tetapi, opsi lain seperti penundaan RKUHP karena terdapat banyak pasal yang direvisi ataupun dikaji ulang adalah kemungkinan yang terbuka lebar pula. Atas kelanjutan nasib RKUHP ini, tentu sangat menarik untuk dinantikan. (R53)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="3WT8_nmztYE"><iframe title="Faldo pengen jadi gubernur?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/3WT8_nmztYE?start=753&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/10/Yasonna-1.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
