<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Sudrajat-Ahmad Syaikhu &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/sudrajat-ahmad-syaikhu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Mar 2019 09:23:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Sudrajat-Ahmad Syaikhu &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Politik Gerilya Ancam Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/politik-gerilya-ancam-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2018 13:16:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgub Jabar 2018]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Serentak 2018]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Sudrajat-Ahmad Syaikhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=32136</guid>

					<description><![CDATA[Suksesnya gerakan politik gerilya Gerindra-PKS di Jabar, diwarnai dengan adanya intimidasi seorang guru di Bekasi. Dedi Mulyadi pun memandang gerakan itu bisa membahayakan Jokowi, mengapa? PinterPolitik.com “Jika Anda ingin mengontrol seseorang, satu-satunya yang bisa Anda lakukan adalah dengan membuatnya takut.” ~ Paulo Coelho [dropcap]B[/dropcap]agi penulis buku The Alchemist ini, hanya orang-orang kuat dan pemberani saja [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Suksesnya gerakan politik gerilya Gerindra-PKS di Jabar, diwarnai dengan adanya intimidasi seorang guru di Bekasi. Dedi Mulyadi pun memandang gerakan itu bisa membahayakan Jokowi, mengapa?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Jika Anda ingin mengontrol seseorang, satu-satunya yang bisa Anda lakukan adalah dengan membuatnya takut.” ~ Paulo Coelho</strong></p>
<p>[dropcap]B[/dropcap]agi penulis buku <em>The Alchemist</em> ini, hanya orang-orang kuat dan pemberani saja yang mampu tetap tegar walau harus menghadapi badai gurun sekalipun. Ungkapan Paulo Coelho tersebut, mungkin bisa juga diberikan pada Rabiatul Adawiyah, guru SD di Bekasi yang dipecat yayasan sekolah hanya karena memilih calon gubernur berbeda.</p>
<p>Beberapa hari lalu, berita mengenai pemecatan dirinya akibat memilih pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat lalu, sempat ramai diberbagai media. Apa yang terjadi pada Robiatul, mengingatkan kembali pada persekusi yang juga pernah terjadi di Pilkada Jakarta 2017.</p>
<p>Sayangnya, respon kurang simpatik datang dari Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani yang mengibaratkan Robiatul sebagai “kambing salah masuk ke kandang ayam”. Atau dengan kata lain, <a href="http://politik.rmol.co/read/2018/07/01/345905/Guru-Di-Bekasi-Dipecat-Pilih-RK,-Kambing-Jangan-Masuk-Kandang-Ayam..-"><strong>Muzani</strong> </a>menganggap Rabiatul tidak sadar tempat mengingat Bekasi merupakan basis pemilih PKS.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Rabiatul Adawiyah, datang ke rumah Ridwan Kamil di Bandung, kemarin (Minggu, 1/7/2018). Warga Jatiasih, Kota Bekasi, itu dipecat pihak sekolah lantaran berbeda pilihan pada pilgub Jawa Barat. Rabiatul datang atas undangan Emil untuk bersilaturahim.<a href="https://t.co/M7iv2u8m8k">https://t.co/M7iv2u8m8k</a> <a href="https://t.co/PCiEo5LWEG">pic.twitter.com/PCiEo5LWEG</a></p>
<p>— mikomunitas (@mikomunitas) <a href="https://twitter.com/mikomunitas/status/1013607133160488960?ref_src=twsrc%5Etfw">July 2, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Sikap Muzani yang seolah mewajarkan intimidasi pada Rabiatul, dengan alasan kalau masyarakat masih belum terbiasa dengan perbedaan, tentu tak dapat disetujui begitu saja. Sebab menurut Direktur Riset Populi Center Usep S. Ahyar, praktik intimidasi ini menunjukkan adanya <a href="https://news.okezone.com/read/2018/06/30/338/1916111/guru-dipecat-karena-pilih-ridwan-uu-pengamat-praktik-kemunduran-demokrasi"><strong>kemunduran</strong> </a>demokrasi.</p>
<p>Memaksakan hak pilih orang lain apalagi yang memaksa adalah sebuah lembaga pendidikan, bagi Ahyar, merupakan tindakan yang tidak mencerdaskan. Karena seharusnya, dalam demokrasi semua orang memiliki hak untuk memilih berdasarkan keinginannya sendiri dan berdasarkan program kerja kandidat tersebut.</p>
<p>Terkait Pilkada Jabar lalu, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang juga cagub Jabar dari Partai Golkar memandang fenomena politik gerilya yang dilakukan secara masif oleh Gerindra dan PKS bisa <a href="https://www.merdeka.com/politik/dedi-mulyadi-pilgub-jabar-akhiri-tren-politik-citra-jadi-politik-gerilya.html"><strong>membahayakan</strong></a> Golkar maupun Jokowi yang selama ini lebih banyak memainkan politik citra. Mengapa politik gerilya berbahaya bagi Jokowi?</p>
<h3><strong>Politik Gerilya Membangun Paradigma Baru</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Internet memungkinkan terjadinya praktik-praktik menakutkan seperti ancaman dan intimidasi – ancaman kekerasan dan kematian yang tak terucapkan.” ~ Joan Wallach Scott</strong></p>
<p>Sejarawan Prancis asal Amerika Serikat, Joan Wallach Scott yang juga merupakan aktivis gender ini, melihat internet – terutama media sosial (medsos), telah berubah menjadi media yang dipergunakan sebagai alat untuk mengancam dan mengintimidasi. Persis dengan yang terjadi pada Rabiatul, yaitu melalui aplikasi pesan lintas di telepon seluler.</p>
<p>Kehadiran medsos yang mampu menembus ruang dan waktu lebih cepat dibanding media lainnya, saat ini memang telah banyak dijadikan ajang sebagai sosialisasi, propaganda, bahkan penyebaran berita bohong (<em>hoax</em>). Belakangan, medsos pun mulai dijadikan sebagai ajang kampanye para kandidat calon kepala daerah maupun partai politik.</p>
<p>Salah satu partai yang paling rajin memanfaatkannya adalah PKS. Fakta ini dibenarkan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP PKS, Abdul Hamid yang mengatakan kalau berkampanye di medsos mampu menekan biaya politik menjadi lebih <a href="http://pontianak.tribunnews.com/2018/02/26/pks-kalbar-nilai-kampanye-medsos-tekan-biaya-politik"><strong>murah</strong></a> dan fleksibel, sehingga mereka pun memilih untuk melakukan strategi kampanye gerilya.</p>
<p>Kampanye gerilya, menurut Teori Pemasaran Gerilya Jay Conrad Levinson, merupakan strategi yang menitikberatkan pada kreativitas. Metode ini, umumnya memang ditujukan pada perusahaan atau organisasi yang memiliki dana terbatas. Sehingga kampanye yang dilakukan, sebagian besar melalui medsos, <em>buzzer</em>, maupun komunitas-komunitas.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter wp-image-32138 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/sohibul-iman.jpg" alt="" width="700" height="393" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/sohibul-iman.jpg 700w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/sohibul-iman-300x168.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/sohibul-iman-696x391.jpg 696w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<p>Tindakan Sudrajat-Syaikhu (Asyik) di arena debat kedua sebelumnya, yaitu strategi untuk mengasosiasikan diri dengan gerakan #2019GantiPresiden, dipercaya banyak pihak berhasil menaikkan elektabilitas pasangan ini. Gerakan yang masif dilakukan di medsos ini, dipercaya juga mampu membuat pergeseran paradigma di masyarakat.</p>
<p>Bergesernya pemilih Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (2DM) ke Asyik, diakui Dedi, akibat adanya pergeseran paradigma masyarakat mengenai siapa yang lebih pantas dipilih. Bila merujuk pada teori pergeseran paradigma (<em>paradigm shift</em>) Thomas Khun dalam buku <em>“The Structure of Science Revolution</em>”, pergeseran ini timbul akibat beberapa faktor.</p>
<p>Salah satunya ketika masyarakat menganggap paradigma lama telah gagal menjawab masalah yang ada, sehingga lebih condong pada paradigma baru sebagai alternatif. Sebagai pasangan pengusung Prabowo sebagai capres, bisa jadi gerakan #2019GantiPresiden yang diusung Asyik memang mulai diminati masyarakat.</p>
<p>Namun yang mengejutkan, pergeseran paradigma ini mampu dilakukan sangat cepat. Inilah yang Dedi katakan, kalau Gerindra-PKS lebih menggunakan Politik Gerilya yang menurut Henry W. Degenhardt,  merupakan perang gagasan politik oposisi, di mana tujuannya untuk merongrong atau secara terselubung meraih keinginan politiknya.</p>
<h3><strong>Bahaya Terselubung Kampanye Gerilya</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Jika tekanan luar biasa (dari masyarakat) ini tidak ada, saya tidak akan mungkin terpilih. Bisa jadi yang terpilih satu dari para kandidat lama.” ~ Emmanuel Macron</strong></p>
<p>Sebagai Presiden Prancis termuda di negaranya, keterpilihan Emmanuel Macron tak lepas dari bagaimana pria berusia 40 tahun ini mampu menggerakkan kampanye gerilya di medsos. Selain citranya yang kharismatik, masyarakat Prancis pun memilihnya karena terkesan pada program-program yang ia tawarkan.</p>
<p>Macron memang menjadi salah satu kisah sukses dari strategi kampanye gerilya, metode kampanye yang ditemukan Jay pada 1984. Gaya <em>Guerrilla Marketing</em> yang lebih banyak bergerak di bawah tanah (<em>underground</em>) dan menyerang diam-diam ini, juga terbukti berhasil menaikkan suara pasangan Asyik – walau gagal memenangkannya.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-32139 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif-.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif-.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Kampanye-Gerilya-Efektif-atau-Intimidatif--135x135.jpg 135w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Seperti juga Macron yang mampu memicu ‘gempa’ politik di Prancis, naiknya posisi Asyik yang awalnya jauh tertinggal dari pasangan Rindu dan 2DM, membuat banyak pihak terkesima. Namun bedanya, bila Macron lebih menyodorkan pesan-pesan yang positif, pasangan Asyik lebih suka menyebarkan pesan negatif mengenai pemerintahan saat ini.</p>
<p>Gaya <em>marketing</em> yang menekankan pada kampanye interaktif inilah, isu-isu sensitif dan kabar yang menyerang pemerintah dilontarkan. Untuk mempercepat pergeseran paradigma pemilih, sosialisasi psikologis pun ikut dimainkan, sehingga secara tidak langsung membuat orang yang tidak sependapat merasa terintimidasi.</p>
<p>Berdasarkan teori sosialisasi, intimidasi terselubung yang dirasakan oleh Rabiatul bisa jadi disebabkan oleh efek dari konsep dirinya yang merasa diintervensi orang lain, terutama dalam grup pesan instan lembaganya. Seperti yang dikatakan Muzani sebelumnya, Rabiatul pada akhirnya menjadi ‘kambing’ yang di <em>bully </em>oleh para ‘ayam’.</p>
<p>Kondisi ini, menurut Charles Horton Cooley melalui Teori <em>Looking Glass Self</em> (bercermin di gelas), ada tiga tahapan yang harus dilalui seseorang sehingga menjadi merasa terintimidasi oleh pandangan orang lain. Pertama ia membayangkan dirinya di mata orang lain, membayangkan dirinya dinilai orang lain, dan terganggu dengan penilaian itu.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-32140 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Riset.jpg" alt="" width="680" height="680" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Riset.jpg 680w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Riset-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Riset-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Riset-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Riset-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 680px) 100vw, 680px" /></p>
<p>Walau tidak menyebabkan kekerasan layaknya persekusi, namun intimidasi tak langsung ini tentu sangat disayangkan. Karena pada akhirnya, seperti yang terjadi di Pilkada DKI lalu, masyarakat tidak mampu memilih calon berdasarkan program kerja dan visi misinya, namun lebih akibat tekanan masyarakat terhadap pilihannya.</p>
<p>Di sisi lain, politik gerilya yang mampu menciptakan pergeseran paradigma masyarakat dan adanya intimidasi kelompok ini, bila tidak segera diantisipasi sangat mungkin akan mengancam kekuatan koalisi pemerintah (umumnya) dan Jokowi (khususnya). Terutama bila isu-isu yang dimainkan pihak oposisi, seperti perekonomian, tidak segera dibenahi.</p>
<p>Tak main-main, peringatan ini datang dari beberapa lembaga survei mengingat elektabilitas Jokowi masih di bawah 50 persen. Walaupun tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi di atas nilai 70 persen, namun belajar dari Pilkada DKI Jakarta lalu, angka tersebut tetap tidak menjamin petahana dapat kembali berkuasa.</p>
<p>Sehingga apa yang dikatakan Dedi, bahwa politik gerilya yang dimainkan oleh pihak oposisi – dalam hal ini Gerindra dan PKS, bisa saja benar akan menggerus suara pemilih Golkar dan Jokowi. Pilpres 2019 nanti tentu akan menarik, mengingat Jokowi juga berkampanye gerilya melalui <em>blusukan</em>. Jadi, siapa kiranya yang lebih kuat? (R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/07/Joko-widodo.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ricuh, ‘Ide Brilian’ Gerindra?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/ricuh-ide-brilian-gerindra/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 May 2018 10:35:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[#2018AsyikMenang]]></category>
		<category><![CDATA[#2019GantiPresiden]]></category>
		<category><![CDATA[Kaos 2019 Ganti Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Mayjend Sudrajat]]></category>
		<category><![CDATA[PDI Perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pilgub Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Sudrajat-Ahmad Syaikhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=29059</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Apa salahnya? Itu sangat demokratis dan sangat etis. Itu menurut saya brilian kok itu idenya.&#8221; ~ Fadli Zon PinterPolitik.com [dropcap]D[/dropcap]ebat Kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat kali ini diwarnai aksi yang nyeleneh dari salah satu pasangan calon yang memancing keriuhan. Pada saat itu, setiap pasangan calon diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan politiknya. Tapi, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Apa salahnya? Itu sangat demokratis dan sangat etis. Itu menurut saya brilian kok itu idenya.&#8221; ~ Fadli Zon</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]D[/dropcap]ebat Kandidat calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat kali ini diwarnai aksi yang <em>nyeleneh</em> dari salah satu pasangan calon yang memancing keriuhan.</p>
<p>Pada saat itu, setiap pasangan calon diberikan kesempatan untuk menyampaikan pesan politiknya. Tapi, saat pesan politik disampaikan pasangan nomor urut 3 Sudrajat – Ahmad Syaikhu, para audiens matanya terbelalak.</p>
<p>Bukan terkesima karena retorika yang memukau, tapi kelakuan Sudrajat dan Ahmad Syaikhu yang membentangkan kaos dengan bertuliskan tagar #2018AsyikMenang dan #2019GantiPresiden.</p>
<p>Akibat kelakuannya yang <em>nyeleneh</em>, KPU Jawa Barat akhirnya berencana memberikan teguran tertulis kepada Sudrajat &#8211; Ahmad Syaikhu karena telah melakukan pelanggaran administrasi tentang prosedur dan tata cara debat.</p>
<p>Lagian udah tahu kontroversial masih aja dipamerkan begitu, ini kan momentum Pilgub Jawa Barat ngapain masih bawa <em>embel – embel</em> Pilpres, <em>hadeuuhh</em> kayak memancing di air keruh aja.</p>
<p>Udah tahu melanggar begitu, para pendukungnya masih aja melakukan pembenaran. Lebih parahnya lagi, dua politikus Partai Gerindra Fadli Zon dan Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan kalau tingkah Sudrajat itu adalah ide yang sangat brilian, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Brilian dari mananya coba? Gagal paham, <em>weleeeh weleeeh. </em>Brilian karena sukses memancing amarah lawan politik, atau sukses jadi cibiran banyak orang? <em>Hadeuuuh.</em></p>
<p><em>Huusstt</em>, udah diputuskan melanggar, jadi ga usah melakukan pembenaran lagi ya, apalagi mau diulangi lagi, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Kalaupun pembentangan kaos dua tagar itu atas inisiatif sendiri karena terbawa euforia kaum oposan yang ingin mengganti Presiden, tentunya salah.</p>
<p>Lebih baik Sudrajat &#8211; Syaikhu lebih fokus untuk pemenangan aja deh, dibandingkan latah dan ikut &#8211; ikutan arus tagar, yang ada malah jadi kena teguran kan, <em>weleeeh weleeh.</em></p>
<p>Kalau begini ya udah mau diapain lagi, jadi senjata makan tuan kan? <em>Ehmm, </em>emangnya enak jadi cibiran, salah siapa? Malah jadi rugi sendiri kan? Rasakan itu!</p>
<p>Nah makanya kata Arthur Miller, apa yang dilakukan oleh semua orang mungkin hanya berharap sesuatu yang bisa berakhir dengan penyesalan yang tepat.</p>
<p>Tapi sayang sekali, teguran tertulis dari KPU sudah akan melayang, kalaupun Sudrajat &#8211; Syaikhu mau menyesal, sudah tak berguna lagi, <em>ehmm. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/05/sudrajat-syaikhu-1-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>ASYIK ‘Provokator’ Pilkada Jabar</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/asyik-provokator-pilkada-jabar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 May 2018 07:49:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[#2018AsyikMenang]]></category>
		<category><![CDATA[#2019GantiPresiden]]></category>
		<category><![CDATA[Debat Pilgub Jabar]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Sudrajat-Ahmad Syaikhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=28886</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Kalau kami terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, 2019 kita ganti Presiden,&#8221; ~ Calon Gubernur Jawa Barat, Sudrajat. PinterPolitik.com [dropcap]P[/dropcap]artai Gerindra, PKS dan PAN sepertinya gak henti-hentinya mempromosikan gerakan #2019GantiPresiden. Sebagai pasangan Calon Gubernur Jawa Barat yang diusung oleh ketiga partai ini, Sudrajat dan Ahmad Syaikhu juga gak ketinggalan mempromosikan gerakan ini disetiap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Kalau kami terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, 2019 kita ganti Presiden,&#8221; ~ </em>Calon Gubernur Jawa Barat, Sudrajat.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]artai Gerindra, PKS dan PAN sepertinya gak henti-hentinya mempromosikan gerakan #2019GantiPresiden. Sebagai pasangan Calon Gubernur Jawa Barat yang diusung oleh ketiga partai ini, Sudrajat dan Ahmad Syaikhu juga gak ketinggalan mempromosikan gerakan ini disetiap kesempatan. Bahkan slogan ini sempat didengungkan keduanya sebagai kalimat penutup saat debat Gubernur Jawa Barat di Balairung Universitas Indonesia tempo lalu.</p>
<p>Ibarat tayangan ditelevisi, seperti biasa akan ada iklan titipan sponsor. Begitulah rasanya saat pasangan ASYIK ini mendengungkan kalimat ‘2019 ganti Presiden’ di tengah suasana debat Pilkada Jawa Barat. Apa coba urusannya Pilkada dengan Pilpres? Eike rasa slogan ini gak relevan ah kalau dibawa ke Pilkada. <em>Gaje!</em></p>
<p>Kalau dalam debat itu Paslon saling mengutarakan visi-misi, ya ok lah. Mengkritik visi-misi kandidat lain juga masih esensial. Lah kalau malah mengangkat slogan 2019 Ganti Presiden. Gak penting, u<em>nfaedah</em> banget tau gak sih. Ini mah sama aja gak bisa menjual potensi diri kepada masyarakat pemilih. <em>Norki ah.</em></p>
<p>Nah, <em>gegara</em> syahwat untuk mendengungkan slogan 2019 Ganti Presiden ini, suasana debat kian memanas. Yang memanas sih bukan sesama kandidat, tapi audiens yang menghadiri debat Pilkada Jawa barat itu sendiri. Nah, kan kalau udah kayak gitu salah siapa coba? Malah keliatan kayak ‘provokator’ yang memperkeruh suasana.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="und" dir="ltr"><a href="https://t.co/coLWIaQ9pI">pic.twitter.com/coLWIaQ9pI</a></p>
<p>&mdash; IG: @radenrauf (@radenrauf) <a href="https://twitter.com/radenrauf/status/996047199476764673?ref_src=twsrc%5Etfw">May 14, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Sepertinya pasangan ASYIK ini memang mau mengidentifikasikan diri sebagai sosok calon pemimpin daerah yang juga mendukung gerakan ganti Presiden. Jadi diharapkan jika masyarakat yang memiliki pandangan sama nantinya akan termobilisasi untuk memilih Paslon nomor tiga ini. <em>Sa ae lau</em> ASYIK.</p>
<p>Sambil menyelam, minum air, begitulah kira-kira ya strategi kampanye Paslon ini. Tapi ketimbang sebuah strategi yang jitu, di sisi lain strategi ini juga terlihat picik karena keinginan menjabat dibarengi upaya merongrong posisi jabatan pihak lain. Kan jadinya malah gak etis secara politik. <em>Hadeuh, aya aya wae ah</em>.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Suasana ricuh di Debat Kandidat Pilgub Jabar 2018 di UI Depok, Senin 14 Mei 2018. <a href="https://t.co/3AUvXZvHZY">pic.twitter.com/3AUvXZvHZY</a></p>
<p>&mdash; Pikiran Rakyat (@pikiran_rakyat) <a href="https://twitter.com/pikiran_rakyat/status/996063911987183616?ref_src=twsrc%5Etfw">May 14, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Ya tapi untuk sebagian pemilih Jawa Barat pasti melihatnya biasa-biasa aja. Gak ada yang salah tuh kalau ada Paslon dalam Pilkada yang juga membawa semangat 2019 Ganti Presiden. Tapi kalau eike pikir-pikir lagi, tetap aja gak ada korelasinya gerakan ini dengan semangat 2018 ASYIK Menang.</p>
<p>Lucu gak sih kira-kira kalau kalian diminta membeli mie ayam di satu toko tertentu hanya karena si pemilik toko itu menyerukan bahwa makanan di restoran cepat saji tidak menyehatkan? Kalau eike sih beli mie ayam karena rasanya yang enak. Kalau gak enak, ya gak usah dibeli, beli pecel lele aja. Ngapain juga <em>ngerempongin</em> diri beli mie ayam tertentu hanya karena sama-sama gak menyukai makanan cepat saji? Situ sehat? (K16)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="KJTNFtIDikA"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/KJTNFtIDikA?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/05/Sudrajat-Ahmad-Syaikhu.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Visi Muluk Paslon Pilgub Jabar</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/visi-muluk-paslon-pilgub-jabar/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Mar 2018 11:46:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anton Charliyan]]></category>
		<category><![CDATA[Debat Pilgub Jawa Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi]]></category>
		<category><![CDATA[Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum]]></category>
		<category><![CDATA[Sudrajat-Ahmad Syaikhu]]></category>
		<category><![CDATA[Tb Hasanuddin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=23620</guid>

					<description><![CDATA[Debat Pemilihan Gubernur Jawa Barat berlangsung lancar tanpa riak ketegangan seperti di Pilgub DKI Jakarta tahun lalu. PinterPolitik.com [dropcap]D[/dropcap]ebat Kandidat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat baru saja diselenggarakan pada Senin 12 Maret, malam. Rasanya begitu adem ayem, kening pun seakan tak diijinkan untuk berkerut. Gimana gak, atmosfear debat malam itu begitu berbeda [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Debat Pemilihan Gubernur Jawa Barat berlangsung lancar tanpa riak ketegangan seperti di Pilgub DKI Jakarta tahun lalu.</strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #ccdb00;">PinterPolitik.com</span></strong></p>
<p>[dropcap]D[/dropcap]ebat Kandidat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat baru saja diselenggarakan pada Senin 12 Maret, malam. Rasanya begitu <em>adem ayem,</em> kening pun seakan tak diijinkan untuk berkerut. Gimana gak, atmosfear debat malam itu begitu berbeda dengan Pilkada DKI Jakarta sebelumnya. Pemirsa yang menonton tampak cukup menikmati apa yang disajikan.</p>
<p>Debat Politik itu kan gak melulu selalu harus diidentikkan dengan perang urat syaraf, sesekali disisipi dengan <em>dagelan</em> akan jauh lebih menarik. Begitulah yang disajikan masing-masing pasangan calon (Paslon): Ridwan Kamil–Uu Ruzhanul Ulum, Tubagus Hasanuddin–Anton Charliyan, Sudrajat-Ahmad Syaikhu, dan Deddy Mizwar–Dedi Mulyadi. Lalu apa aja sih visi misi mereka, yuk kita kupas satu persatu.</p>
<p>Ridwan Kamil &amp; Uu Ruzhanul Ulum memaparkan mengenai visi &#8216;Jabar Juara Lahir Batin&#8217;. Menurutnya nih, Jawa Barat itu butuh perubahan, keadilan, pembangunan, dan juga kebahagiaan masyarakatnya. Kalau hanya pembangunan tapi mengenyampingkan kebahagiaan masyarakatnya, ya percuma lah ya. Semacam mendahulukan pembangunan infrastruktur jalan, tapi trotoar pejalan kakinya diabaikan. Mmmm, jangan sampai kayak Jalan Margonda Depok lah ya. <em>Hadeuh</em>.</p>
<p>Tb Hasanuddin &amp; Anton Charliyan, memaparkan tujuh program unggulannya. Salah satu yang digarisbawahi adalah masih banyaknya warga Jawa Barat yang tidak memiliki pekerjaan. <em>Toh</em> buat apa pembangunan daerah secara masif, kalau masyarakat setempatnya gak bisa bekerja di daerahnya sendiri. Bisa-bisa mereka ini nantinya malah <em>ngelirik </em>ibukota sebagai tempat mencari peruntungan. Gak kebayangkan 1,8 juta orang akan eksodus ke Jakarta cari kerja. Udah padet <em>atuh</em> Jakarta.</p>
<p>Sudrajat &amp; Ahmad Syaikhu bertekad untuk menjadikan Jawa Barat sebagai provinsi termaju. Untuk mewujudkan itu, latar belakang masyarakat yang takwa menjadi bekal utama. Sedikit kurang sinkron sih antara tujuan dan latar belakangnya. Jawa Barat bisa maju dengan dasar takwa gitu maksudnya? <em>Wedew.</em> Tapi masih mendinglah karena ada visi pendukung lain yang mendambakan koneksitas seluruh daerah Jawa Barat dengan internet. <em>Wuih,</em> jadi lebih mudah jual produk kreatif Jawa Barat nih.</p>
<p>Deddy Mizwar &amp; Dedi Mulyadi menuturkan pihaknya akan mewujudkan Jabar yang adil, sejahtera, dan berkarakter. Dimulai dari tata pemerintahan yang baik dan bersih, SDM berkualitas. Kemudian tata kelola ruang, infrastruktur, dan SDA yang berkeadilan. Meningkatkan iklim investasi, dan mendata kehidupan sosial Jabar yang berbudaya dan agamis. Diantara paslon yang lain, visi Deddy-Dedi memang paling lengkap. Tapi sih sedikit berkesan muluk ya. Jadi kalian warga Jawa Barat, sudah menentukan pilihan belum nih? <em>Yuk</em> pilih pasangan yang terbaik untuk Jawa Barat lebih baik! (K16)</p>
<p><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/lbYD8FOKXCA?feature=oembed" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Pasangan-Calon-Pilgub-Jawa-Barat.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Prabowo ASYIK di Jawa Barat</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/prabowo-asyik-di-jawa-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Mar 2018 08:34:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[PAN]]></category>
		<category><![CDATA[Pilkada Jawa Barat 2018]]></category>
		<category><![CDATA[PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Sudrajat-Ahmad Syaikhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=22826</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Saya juga besar di Jawa Barat. Waktu jadi prajurit hampir bisa dikatakan seluruh pengabdian di Jawa Barat. Saya dulu di Pasukan Kujang. Sekolah militer di Jawa Barat. Jadi saya punya utang sama masyarakat Jawa Barat.&#8221; ~ Prabowo Subianto. PinterPolitik.com [dropcap]A[/dropcap]yo siapa di sini yang fans beratnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto? Kabar gembira nih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Saya juga besar di Jawa Barat. Waktu jadi prajurit hampir bisa dikatakan seluruh pengabdian di Jawa Barat. Saya dulu di Pasukan Kujang. Sekolah militer di Jawa Barat. Jadi saya punya utang sama masyarakat Jawa Barat.&#8221; ~ Prabowo Subianto.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;">PinterPolitik.com</span></p>
<p>[dropcap]A[/dropcap]yo siapa di sini yang fans beratnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto? Kabar gembira nih untuk kalian warga Jawa Barat, saat Kampanye Pilkada nanti kalian nanti bisa ketemu langsung loh dengan si doi.</p>
<p>Karna Prabowo baru aja menegaskan akan &#8216;turun gunung&#8217; membantu pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu dari koalisi ASYIK (Gerindra, PKS, PAN) di Pilkada Jawa Barat 2018. Siapin <em>smartphone</em> kalian ya <em>guys</em> untuk photo bareng. Sapa tau jodoh, bisa ketemu di lokasi. Terus<em> jepret-jepret</em> deh.</p>
<p>Prabowo seperti gak mau kalah dengan langkah Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang ‘turun gunung’ untuk Pilkada Jawa Timur. <em>Toh</em> politik eksistensi tetap harus ada menjelang Pilpres 2019 nanti. Ya kali mo nyapres tapi ga pernah eksis di publik.</p>
<p>Kalau ada kesempatan eksis diliput media secara intens hingga Pilpres, kan ok banget tuh. Emangnya anak milenial yang eksisnya cuma bisa di sosmed. Ga <em>level</em> lah ya. Prabowo sih mainnya langsung ke lapangan. Maklum, kan mantan Danjen Koppassus. Keren abis emang Prabowo.</p>
<p>Nah pertanyaannya, kira-kira popularitas Prabowo bisa gak nih buat dongkrak suara para pendukung Sudrajat-Ahmad Syaikhu nanti di Jawa Barat? Bisa iya, bisa juga gak loh. Kenapa? Bukannya ragu sih, tapi eh tapi Jawa Barat itu wilayahnya luas banget.</p>
<p>Ada enam wilayah basis suara pemilih di Jawa barat. Yakin nih, Prabowo bisa cukup punya pengaruh di enam lokasi itu? Wilayah-wilayah itu ada di Bandung Raya; Priangan Timur; Priangan Barat; Pantura; Cirebon Raya; serta wilayah Suburban DKI Jakarta.</p>
<p>Nah, baru keliatan kan kalau Jawa Barat guede banget. Yakin nih bisa ngalahin kandidat lain dengan figur Prabowo? Ya gampang-gampang susah sih. <em>Toh</em> faktor memilihnya seseorang itu bisa berbeda-beda. Apa lagi ditambah wilayah pemilihan yang luas <em>ajib</em> kayak Jawa barat ini.</p>
<p>Alasan memilih Paslon itu, bisa karna visi-misi Pasangan Calon (Paslon), atau bahan faktor idola. Semacam ego, dimana ada Pak Prabowo, di situ saya <em>nyoblos</em> paslonnya. Asal jangan <em>cap cip cup</em> kancing aja pas nyonblosnya, nanti meleset ke paslon lain loh. Hahaha. Terus kamu tipe pemilih yang mana <em>guys</em>? (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/Prabowo-Pilkada-Jawa-Barat.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
