<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Standar Kecantikan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/standar-kecantikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 Sep 2023 10:08:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Standar Kecantikan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Beauty Standard Belenggu Perempuan? </title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/beauty-standard-belenggu-perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R94]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 Sep 2023 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Beauty Standard]]></category>
		<category><![CDATA[Isu Kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Standar Kecantikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=136518</guid>

					<description><![CDATA[socioloop.co Beauty standard atau standar kecantikan merupakan serangkaian norma dan kriteria yang digunakan oleh suatu masyarakat atau budaya untuk menentukan apa yang dianggap cantik atau menarik secara fisik.&#160; Konsep kecantikan ini dapat mencakup beberapa aspek, seperti bentuk tubuh, warna kulit, bentuk wajah, rambut, dan tutur fisik lainnya. Beauty standard sering kali dipengaruhi oleh faktor budaya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>socioloop.co</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph"><em>Beauty standard</em> atau standar kecantikan merupakan serangkaian norma dan kriteria yang digunakan oleh suatu masyarakat atau budaya untuk menentukan apa yang dianggap cantik atau menarik secara fisik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep kecantikan ini dapat mencakup beberapa aspek, seperti bentuk tubuh, warna kulit, bentuk wajah, rambut, dan tutur fisik lainnya. <em>Beauty standard </em>sering kali dipengaruhi oleh faktor budaya, media, dan industri kecantikan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Definisi<em> Beauty standard </em>itu merupakan pandangan atau citra yang dianggap ideal dalam kecantikan fisik oleh suatu masyarakat. Tentunya disetiap penjuru dunia memiliki definisi <em>beauty standard </em>masing-masing. Standar ini dapat berbeda dari satu budaya ke budaya lainnya dan berubah seiring waktu.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Beauty standard </em>digunakan sebagai acuan untuk menilai penampilan seseorang. Standar kecantikan yang selama ini beredar adalah berkulit terang, kurus, tinggi, memiliki rambut lurus dan lain sebagainya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan adanya standar kecantikan yang beredar tersebut, banyak perempuan yang merasa tidak memenuhi standar itu sehingga menjadi <em>insecure</em>. Perasaan cemas, minder hingga depresi bisa dialami perempuan karena persoalan ini.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, sudah banyak perempuan yang melakukan tindakan nyata untuk membantu para perempuan lain agar memiliki pemikiran bahwa cantik itu tidak harus berkulit terang, kurus, tinggi, memiliki rambut lurus dan lain-lain.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perempuan masih dalam budaya seksis dan melestarikan narasi cantik yang ideal. Perempuan memiliki peran untuk membuat konsep cantik supaya lebih beragam dan inklusif, serta merangkul perempuan lain yang merepresentasikan masyarakat tempat mereka berada.&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran persepsi tentang kecantikan telah terjadi.&nbsp; Dengan semakin banyak masyarakat yang menerima keragaman dan menyuarakan gerakan untuk bangunlah kecantikan dari dalam dengan kualitas kesehatan tubuh yang baik, dilengkapi otak yang ternutrisi, disempurnakan keluhuran budi pekerti, lalu dikemas dengan percaya diri, tentu Anda sebagai perempuan yang menawan.&nbsp;(R94)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/09/standar-kecantikan-1024x576.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Standar Kecantikan Sakiti Perempuan?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/standar-kecantikan-sakiti-perempuan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M78]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2023 08:38:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Beauty Standard]]></category>
		<category><![CDATA[berita politik]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Naomi Wolf]]></category>
		<category><![CDATA[Standar Kecantikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=123289</guid>

					<description><![CDATA[Pengamat menyoroti relasi antara standar kecantikan dengan pola konsumerisme. Kulit putih dan standar kecantikan mampu memberikan efek manipulasi psikologis pada industri kecantikan. Selain itu, adanya standar kecantikan pada pekerjaan tertentu mampu meningkatkan kesenjangan gender. Jika menilik lebih jauh dari zaman ke zaman, standar kecantikan mampu mendorong konsumerisme dimana perempuan terus menerus dituntut agar mampu memenuhi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed..jpg" alt="standar kecantikan sakiti perempuan ed." class="wp-image-123292" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed..jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed.-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed.-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed.-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed.-1920x2400.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed.-336x420.jpg 336w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Pengamat menyoroti relasi antara standar kecantikan dengan pola konsumerisme. Kulit putih dan standar kecantikan mampu memberikan efek manipulasi psikologis pada industri kecantikan. Selain itu, adanya standar kecantikan pada pekerjaan tertentu mampu meningkatkan kesenjangan gender. Jika menilik lebih jauh dari zaman ke zaman, standar kecantikan mampu mendorong konsumerisme dimana perempuan terus menerus dituntut agar mampu memenuhi standar ideal tersebut. Misalnya saja, pada abad ke-18 hingga 19 perempuan dituntut memiliki badan berbentuk <em>&#8220;hour glass&#8221; </em>untuk menunjukkan kesan feminin. Adapun, pada tahun 1950-an hingga sekarang <em>high heals </em>menjadi simbol feminin perempuan.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/standar-kecantikan-sakiti-perempuan-ed.-1024x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
