<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Standar Ganda &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/standar-ganda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 May 2023 07:43:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Standar Ganda &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bakar Al-Quran, Bukti Kemunafikan Barat?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/bakar-al-quran-bukti-kemunafikan-barat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z81]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2023 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Bakar Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Islamfobia]]></category>
		<category><![CDATA[Kebebasan Berekspresi]]></category>
		<category><![CDATA[Standar Ganda]]></category>
		<category><![CDATA[Swedia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=123167</guid>

					<description><![CDATA[Aksi pembakaran Al-Quran menuai berbagai sorotan, terutama kaum muslim di dunia. Kendati demikian, pemerintah Swedia menganggap aksi tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun secara berasamaan tidak membenarkan aksi tersebut. Lantas, mengapa pemerintah Swedia seolah memiliki standar ganda dalam menilai fenomena tersebut? PinterPolitik.com Fenomena pembakaran Al-Quran oleh sekelompok ekstrimis sayap kanan Swedia-Denmark di Stockholm menuai sorotan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Aksi pembakaran Al-Quran menuai berbagai sorotan, terutama kaum muslim di dunia. Kendati demikian, pemerintah Swedia menganggap aksi tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi, namun secara berasamaan tidak membenarkan aksi tersebut. Lantas, mengapa pemerintah Swedia seolah memiliki standar ganda dalam menilai fenomena tersebut?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Fenomena pembakaran Al-Quran oleh sekelompok ekstrimis sayap kanan Swedia-Denmark di Stockholm menuai sorotan global dan dianggap sebagai aksi yang tidak bersifat humanis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Swedia melalui cuitan Perdana Menteri (PM) Swedia Ulf Kristersson menyatakan aksi ekstermis tersebut merupakan bagian dari kebebasan berekspresi. Pernyataan Ulf disiratkan sebagai bentuk dalam mempertahankan keputusannya untuk mengizinkan aksi tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalih kebebasan berekspresi seolah digunakan sebagai “tameng” untuk tetap melazimkan tindakan yang berdasar pada kebencian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ulf lebih lanjut menyatakan tindakan membakar kitab yang dianggap suci bagi banyak orang merupakan tindakan yang sangat kasar sekaligus memberi simpati kepada seluruh umat muslim yang merasa terhina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Swedia Tobias Billstrom menyatakan tindakan provokasi Islamofobia semacam ini dianggap sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Senada dengan Ulf, dirinya juga mengamini kebebasan berpendapat yang luas, namun menyatakan pemerintah Swedia maupun dirinya sendiri mendukung pendapat yang diungkapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemimpin sayap kanan Stram Kurs Denmark – yang dinilai sebagai golongan garis keras – itu mendapat izin dari pemerintah Swedia untuk membakar Al Quran di depan Kedutaan Besar (Kedubes) Turki di Stockholm.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, benarkah demokrasi mampu menjamin kebebasan berekspresi yang merujuk pada provokasi Islamofobia semacam itu?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1920" height="2311" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-82.png" alt="image 82" class="wp-image-123171" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-82.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-82-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-82-696x837.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-82-1068x1285.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-82-348x420.png 348w" sizes="(max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Demokrasi Hanya “Pengantar”?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, terdapat salah satu hal yang menarik dari cuitan PM Swedia Ulf Kristersson yaitu mengenai kebebasan berekspresi yang dianggap sebagai salah satu bentuk implementasi demokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Francis Fukuyama dalam tulisannya berjudul <em>Liberalism and Its Discontents: The Challenges from The Left and The Right</em> menyatakan banyak orang telah keliru dalam memaknai demokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fukuyama berpendapat demokrasi yang selama ini dimaknai sebagian besar orang bukan merupakan demokrasi murni, melainkan liberalisme ala Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Istilah-istilah seperti kebebasan berpendapat, egalitarian, kesetaraan, serta pengawasan fungsi pemerintah alias <em>checks and balances</em> merupakan hasil dari perkawinan liberalisme dengan demokrasi pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 di Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fukuyama mengatakan demokrasi sejatinya merupakan bentuk pemerintahan di mana masyarakat memiliki kewenangan dan kesadaran penuh untuk memilih pemimpin negara serta pembuat undang-undang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fukuyama lebih lanjut menjelaskan dalam tulisannya yang berjudul <em>Infrastructure, Governance, and Trust,</em> demokrasi bisa jadi mampu melahirkan ekspektasi yang terlalu berlebihan sehingga mampu menimbulkan bias bahwa pemerintah hanya menampilkan demokrasi sebagai “pengantar” belaka untuk menarik keberpihakan publik melalui sosok representatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, sistem demokrasi beserta prinsip liberalisme di dalamnya akan memiliki relasi dengan argumen moral yang mendukung liberalisme. Argumen tersebut berkaitan dengan otonomi individu dimana masyarakat percaya martabat manusia dilindungi oleh liberalisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu diyakini atas kemampuan manusia untuk memilih berdasarkan hak asasi manusia (HAM) yang dimiliki manusia untuk bebas memutuskan pilihan hidup mereka, utamanya dalam hal kebebasan berekspresi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adanya keterkaitan antara prinsip demokrasi yang seakan diagungkan sebagian besar orang dengan prinsip liberalisme di dalamnya, terutama terkait kebebasan berekspresi, mampu mendorong para politisi – terlepas memiliki kepentingan partai politik (parpol) atau tidak – untuk tetap menjadikan kebebasan itu sebagai modal utama dalam berpolitik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, penjelasan tersebut agaknya perlu mempertanyakan makna kebebasan yang dilihat dari perspektif HAM. Apakah ada batasan bagi kebebasan berekspresi maupun kebebasan berpendapat?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83.png" alt="image 83" class="wp-image-123172" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83-1920x2400.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-83-336x420.png 336w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bebas, tapi Terbatas?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut jurnal berjudul <em>Justifying Limitations on the Freedom of Expression</em>, yang ditulis oleh Gehan Gunatilleke negara mampu memberi batasan atas kebebebasan berekspresi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Organisasi seperti United Nations (UN) bahkan membenarkan seseorang memiliki batasan terhadap kebebasan berekspresi dan berpendapat sesuai dengan izin otoritas, misalnya jika seseorang mengungkapkan pandangan yang mendorong kebencian terhadap ras atau agama tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembatasan itu kemudian dapat dibahas lebih lanjut pada jurnal yang ditulis oleh Gehan. Dia mengutip pernyataan Joseph Raz dalam bukunya berjudul <em>The Morality of Freedom,</em> seseorang memiliki hak ketika dirinya memiliki alasan rasional yang mendasari kebebasan berekspresi yang mencakup mengapa kita harus dan memang mengakui hak tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ras selanjutnya mengungkapkan dalam buku yang berjudul <em>Practical Reason and Norms</em> faktor utama yang digunakan untuk mempertimbangkan alasan rasional itu yakni pembenaran dalam melakukan, mempercayai, atau merasakan sesuatu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya, John Rawls dalam bukunya yang berjudul <em>Political Liberalism: Expanded Edition</em> menyatakan salah satu alasan utama mengapa kebebasan berekspresi diterima sebagai hak asasi yakni didasari oleh persetujuan publik. Dia menyebutnya dengan sebutan “nalar publik”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuatu dapat dikatakan sesuai dengan “nalar publik” mensyaratkan pembenaran keputusan politik melalui nilai dan standar yang dapat diterima oleh publik. Alasan tersebut dapat dicirikan ketika warga negara mampu menerimanya sebagai suatu hal yang valid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan itu dengan kata lain dapat diinterpretasikan sebagai kemampuan negara untuk mengandalkan konsepsi moral mayoritas dalam membatasi ekspresi maupun pendapat tertentu yang dianggap bertentangan dengan konsepsi tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Misalnya, ketika Pengadilan HAM Eropa, Handyside v. The United Kingdom pada tahun 1976 yang menangani kasus penyitaan buku pendidikan yang membasa seks. Jika merujuk pada Pasal 10 ECHR kasus tersebut tidak melanggar kebebasan ekspresi, namun pembatasan dilakukan atas dasar moral masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karenanya, tidak mengherankan jika pembakaran Al-Quran di Swedia tidak mendapatkan kecaman dari pemerintah mengingat adanya sensitivitas terhadap Islam oleh masyarakat Swedia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana konsekuensi yang ditanggung oleh pemerintah Swedia dalam menyikapi fenomena pembakaran Al-Quran sekaligus Islamfobia secara bersamaan?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84.png" alt="image 84" class="wp-image-123173" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84-696x837.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84-1068x1285.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84-1920x2311.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-84-348x420.png 348w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Utopia Kesetaraan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adanya pembatasan terhadap kebebasan berekspresi dan berpendapat dapat mengindikasikan bahwa sejatinya manusia memiliki batasan-batasan dalam konteks HAM.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali kepada makna demokrasi yang diungkap Fukuyama, Swedia agaknya tidak benar-benar menerapkan prinsip liberalisme bagi kaum minoritas. Salah satu faktor yang menjadi penentu pada demokrasi kebanyakan saat ini yakni kontrol elite.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pernyataan tersebut selaras dengan inteprestasi pada jurnal yang ditulis oleh Gehan sebelumnya dimana bisa jadi kebebasan dan kesetaraan dalam konteks berpendapat dan berekspresi hanya bersifat utopis alias hanya berupa khayalan belaka bagi kaum minoritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yuval Noah Harari dalam bukunya yang berujudul <em>Sapiens: A Brief History of Humankind</em>, bahkan menyebutkan salah satu sifat manusia pada dasarnya yaitu bergosip untuk menjalin kerja sama sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan itu merupakan salah satu kunci bertahan hidup dan melakukan reproduksi karena pada dasarnya manusia adalah “binatang sosial”.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai perumpamaan, menurut Harari, tidak cukup bagi laki-laki dan perempuan untuk tahu keberadaan singa dan bison. Yang jauh lebih penting bagi mereka adalah tahu siapa membenci siapa, siapa tidur dengan siapa, siapa yang jujur, dan siapa yang penipu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan nalar tersebut, kasus pembakaran Al-Quran bisa jadi sentimen negatif masyarakat Swedia terhadap kaum minoritas Muslim, karena itu sanggup jadi presedensifat manusia sebagai binatang sosial yang diungkapkan Harari.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, tidak heran jika pemerintah Swedia seakan memiliki standar ganda dan dinilai hipokrit dalam menyikapi fenomena pembakaran Al-Quran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di satu sisi, standar ganda pemerintah Swedia agaknya merupakan strategi diplomatis untuk tetap memilih keberpihakannya terhadap masyarakat sekaligus mempertahankan hubungan dengan negara-negara Muslim. (Z81)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="l8C48Ymz25c"><iframe loading="lazy" title="Jika Jepang Tak Ikut Perang Dunia II" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/l8C48Ymz25c?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/pm-swedia-ulf-kristersson_169.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BPJS Kesehatan dan Sense of Crisis Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bpjs-kesehatan-dan-sense-of-crisis-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2020 12:06:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[BPJS Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Double Standard]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kenaikan BPJS]]></category>
		<category><![CDATA[reshuffle]]></category>
		<category><![CDATA[Sense of Crisis]]></category>
		<category><![CDATA[Standar Ganda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=80505</guid>

					<description><![CDATA[Hari ini menandai tambahan beban masyarakat di tengah kesulitan dampak pandemi Covid-19 berupa kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial  (BPJS) Kesehatan. Sempat menyinggung soal sense of crisis dalam amarahnya kepada para Menteri, kepekaan serupa seolah tak tercermin pada “kengototan” kebijakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya. Lantas, apakah dampak dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Hari ini menandai tambahan beban masyarakat di tengah kesulitan dampak pandemi Covid-19 berupa kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial  (BPJS) Kesehatan.</strong> <strong>Sempat menyinggung soal <em>sense of crisis</em> dalam amarahnya kepada para Menteri, kepekaan serupa seolah tak tercermin pada “kengototan” kebijakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang diteken Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelumnya. Lantas, apakah dampak dari kontradiksi tersebut?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">T</span>ak hanya dipertanyakan soal <em>timing</em> dan kesan terskenario, substansi kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di hadapan anak buahnya dalam sebuah dokumentasi yang ramai diperbincangkan beberapa hari terakhir juga dianggap menjadi bumerang tersendiri ketika direfleksikan berbagai kebijakan sebelumnya dari mantan Gubernur DKI Jakarta itu sendiri.</p>
<p>Sialnya, singgungan soal <em>sense of crisis</em> atau kepekaan dalam situasi krisis oleh Presiden Jokowi dalam pidato tersebut tak berselang lama dengan momentum kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang ia teken sendiri melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas Perpres Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.</p>
<p>Ya, hari ini, 1 Juli 2020 bertepatan dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang seolah menandai tambahan baru beban masyarakat akibat pandemi Covid-19. Pentingnya s<em>ense of crisis</em> yang disinggung Presiden Jokowi sebelumnya seakan menjadi tak relevan dan bahkan terkesan bualan belaka.</p>
<p>Stephanie Howarth dalam <a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/26390872/"><strong><span style="color: #cedb2a">publikasinya</span></strong></a> yang berjudul <em>The Logic-Bias Effect: The Role of Effortful Processing in the Resolution of Belief-Logic Conflict</em> menyebutkan konsep <em>belief bias</em> atau bias kepercayaan yang merupakan kecenderungan untuk menghasilkan kesimpulan maupun keputusan berdasarkan kepercayaan mereka sendiri dibandingkan mengacu pada struktur penilaian yang lebih komprehensif.</p>
<p><em>Belief bias</em> yang disebutkan Howarth itulah yang dinilai terjadi pada pola penentuan kebijakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan oleh Presiden Jokowi. Dalam hal ini paradigma orang kepercayaannya dalam bidang finansial, yakni Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani diduga hanya digunakan sebagai satu-satunya basis penentu kengototan menaikkan iuran jaminan sosial kesehatan rakyat yang diandalkan itu.</p>
<p>Ide pokok yang menjadi paradigma landasan kenaikan iuran dari Menkeu ialah bahwa kenaikan iuran sebagai upaya menjaga kesinambungan BPJS Kesehatan itu sendiri.</p>
<p>Paradigma berujung <em>belief bias</em> inilah yang disinyalir membuat Presiden Jokowi seolah mengakali putusan pembatalan kenaikan iuran BPJS Kesehatan oleh Mahkamah Agung (MA) dengan menerbitkan Pepres kenaikan iuran BPJS Kesehatan “jilid kedua”.</p>
<p>Faktanya, dalil tersebut telah dibantah oleh MA dengan sangat jelas, bahwasanya <a href="https://tirto.id/alasan-kenapa-pemerintah-perlu-cabut-perpres-soal-iuran-bpjs-naik-ftv5"><strong><span style="color: #cedb2a">beban</span></strong></a> keuangan BPJS Kesehatan tidak bisa dibebankan kepada peserta lewat iuran. Hakim Pengadilan Negara Tertinggi itu bahkan berpandangan bahwa BPJS Kesehatan-lah yang justru harus memperbaiki masalah manajemen dan <a href="https://finansial.bisnis.com/read/20200630/215/1259709/bpjs-kesehatan-defisit-ini-lima-pihak-yang-diduga-lakukan-fraud"><strong><span style="color: #cedb2a"><em>fraud</em></span></strong></a> internal.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CCDzPX3lYsj/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CCDzPX3lYsj/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CCDzPX3lYsj/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">PKS tantang Presiden Jokowi reshuffle kabinet dalam waktu dekat #pks #partaikeadilansejahtera #reshuffle #jokowi #corona #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #cucitangan #stayhealth #pakemasker #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-06-30T12:33:43+00:00">Jun 30, 2020 at 5:33am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Padahal, berdasarkan <a href="https://majalah.tempo.co/read/investigasi/160658/investigasi-penyebab-sebenarnya-bpjs-kesehatan-selalu-defisit"><strong><span style="color: #cedb2a">temuan</span></strong></a> Tempo, problematika masalah manajemen dan <em>fraud</em> internal tersebut jika berkenan dibenahi dengan serius dapat menghemat nominal BPJS sekitar Rp 47,59 triliun dalam setahun.</p>
<p>Pada spektrum berbeda, kengototan Presiden Jokowi dalam kenaikan iuran BPJS Kesehatan di tengah pandemi ini dinilai akan kontraproduktif terhadap gaung <em>sense of crisis</em> yang ditujukan kepada para menteri yang ia kemukakan sendiri belum lama ini. Mengapa demikian?</p>
<h4><strong>Impresi Standar Ganda</strong></h4>
<p>Bradley Dowden dalam <a href="https://www.iep.utm.edu/fallacy/"><strong><span style="color: #cedb2a">tulisannya</span></strong></a> yang berjudul <em>Fallacies</em> menyebutkan salah satu bentuk dari kekeliruan fundamental dalam penilaian terhadap konteks tertentu yaitu <em>double standard fallacy</em>. Ini merupakan situasi ketika seseorang memberikan penilaian terhadap satu konteks yang sama atau saling terkait namun dengan tolok ukur, panduan atau standar yang berbeda.</p>
<p>Presiden Jokowi dalam hal ini terlihat, bahkan secara kasat mata, melakukan <em>double standard fallacy</em> ketika menilai krisis pandemi Covid-19 dengan standar <em>sense of crisis</em> yang berbeda. Dalam hal ini, postulat yang disampaikan oleh Dowden tersebut menggambakan kontradiksi situasi wejangan Presiden Jokowi itu dengan kengototan realisasi kenaikan iuran BPJS Kesehatan di tengah pandemi Covid-19 sebelumnya.</p>
<p>Bagaimana tidak, pada rekaman video yang seolah menjadi mahakarya Istana itu, tampak Presiden Jokowi dengan berapi-api menekankan kepada para menteri agar bekerja dengan berlandaskan <em>sense of crisis</em> atau kepekaan merespon krisis pandemi Covid-19 beserta dampak turunannya. Ini karena mantan Walikota Solo tersebut menganggap tak ada langkah luar biasa yang dilakukan anak buahnya itu saat krisis membuat rakyat semakin kesulitan.</p>
<p>Tiga aspek utama yang disoroti Presiden Jokowi agar mengedepankan <em>sense of crisis</em> lebih dalam pidato tersebut ialah yang terkait langsung dengan problematika masyarakat saat ini yakni aspek perekonomian, kesehatan, dan sosial.</p>
<p>Entah Jokowi sadari atau tidak, tiga aspek esensial yang ditekankan harus berlandaskan <em>sense of crisis</em> itu akan menjadi bumerang baginya berselang tiga hari setelah diunggah. Datangnya hari di mana kenaikan iuran BPJS Kesehatan menjadi kenyataan, seketika menegaskan bahwa Presiden Jokowi seperti memiliki <em>double standard </em>atau standar ganda dalam merespon krisis serta kesulitan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CCDX_LuhbdJ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CCDX_LuhbdJ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CCDX_LuhbdJ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Anggarannya sudah ada, Menkes Terawan menunggu apa ya? #menkes #menkesterawan #jokowidodo #srimulyani #terawanagusputranto #danacovid19 #anggarancovid19 #corona #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #cucitangan #stayhealth #pakemasker #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-06-30T08:35:35+00:00">Jun 30, 2020 at 1:35am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Bahkan standar ganda ini tak hanya relevan untuk dikaitkan dengan kenaikan iuran BPJS Kesehatan semata, melainkan juga merembet pada kebijakan “personal” Presiden Jokowi lainnya yang kontradiktif dengan eksistensi <em>sense of crisis</em>.</p>
<p>Sebut saja <a href="https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/pr-01394254/kontroversi-pp-tapera-di-tengah-pandemi-covid-19-ekonom-indef-motif-terselubungnya-kelihatan-jelas?page=2"><strong><span style="color: #cedb2a">kebijakan</span></strong></a> Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), yang oleh ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yusdhistira dianggap janggal karena penerapannya justru disaat krisis ekonomi dan pandemi sehingga memberatkan pengusaha maupun pekerja yang sedang kalang kabut akibat pandemi Covid-19. Terlebih ada pasal sanksi berupa denda yang semakin memberatkan.</p>
<p>Belum lagi polemik disisipkannya Kartu Pra Kerja ke dalam bantuan sosial (bansos) yang isunya entah mengapa belakangan ini meredup. Padahal terdapat anggaran negara yang sangat besar dan dinilai tak efektif bahkan cenderung tak relevan dibandingkan <a href="https://money.kompas.com/read/2020/06/17/135359926/awal-mula-program-kartu-prakerja-mendadak-jadi-kursus-online?page=all"><strong><span style="color: #cedb2a">urgensi</span></strong></a> bansos lainnya.</p>
<p><em>Double standard fallacy</em> yang dilakukan oleh Presiden Jokowi tersebut agaknya akan menimbulkan konsekuensi tersendiri, baik bagi reputasinya secara personal maupun bagi para menteri, yang bukan tidak mungkin menyadari kesan standar ganda sang pimpinan. Lalu, bagaimanakah konsekuensi atas hal tersebut?</p>
<h4><strong>Perkeruh Situasi?</strong></h4>
<p>Tak bisa dipungkiri bahwa ungkapan amarah Presiden Jokowi beberapa waktu lalu memiliki signifikansinya tersendiri. Tak sedikit kalangan yang mengapresiasi dan mengharapkan ada perubahan berarti yang konkret untuk diimplementasikan pada berbagai aspek yang saat ini membutuhkan penanganan dengan langkah luar biasa.</p>
<p>Namun di sisi lain, impresi standar ganda Presiden Jokowi yang telah dijelaskan sebelumnya dinilai memiliki konsekuensi tersendiri. Kimmo Eriksson <a href="http://journal.sjdm.org/18/181130/jdm181130.pdf"><strong><span style="color: #cedb2a">dalam</span></strong></a> <em>Political Double Standards in Reliance on Moral Foundations</em> menyatakan bahwa ketika orang-orang bergantung pada <em>fairness</em> atau keadilan sebagai prinsip umum dalam penilaian objektif dua arah, keberadaan standar ganda yang mereka rasakan akan membuat hal tersebut kontradiktif dan membuat <em>feedback</em> penilaian maupun reaksi konkret cenderung negatif.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/CBnK8dzhRPW/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CBnK8dzhRPW/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/CBnK8dzhRPW/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Rizal Ramli singgung kebijakan new normal ##rizalramli #newnormal #herdimmunity #corona #coronavirus #covid19 #pandemicorona #jagajarak #cegahcorona #cucitangan #stayhealth #pakemasker #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-06-19T09:42:53+00:00">Jun 19, 2020 at 2:42am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Mengacu pada intisari tulisan Eriksson tersebut, standar ganda yang tersirat dari instruksi penggunaan <em>sense of crisis </em>Presiden Jokowi justru dikhawatirkan akan berimplikasi kontraproduktif terhadap kualitas kinerja anak buahnya sendiri.</p>
<p>Hal yang tentunya tak diinginkan tersebut memang harus diakui cukup masuk akal untuk terjadi, mengingat instruksi tersebut keluar dari sosok yang bahkan tidak mengimlementasikan <em>sense of crisis</em> dengan paripurna selama pandemi Covid-19.</p>
<p>Apalagi ketika Presiden Jokowi mengiringi instruksi tersebut dengan “ancaman” <em>reshuffle</em> saat legitimasi politiknya sendiri sedang dipertanyakan ketika jamak kebijakannya yang tak terartikulasi dengan baik hingga bermuara pada munculnya <a href="https://www.gatra.com/detail/news/480571/politik/refly-harun-sah-diskusikanwacanakan-pemberhentian-presiden"><strong><span style="color: #cedb2a">diskursus</span></strong></a> pemberhentian presiden yang sempat ramai beberapa waktu lalu.</p>
<p>Kemudian jika mengamati respon publik, tendensi <a href="https://duta.co/presiden-marah-kok-malah-pada-mati-rasa"><strong><span style="color: #cedb2a">skeptis</span></strong></a> masyarakat terpampang pada berbagai reaksi di linimasa. Mulai dari mempertanyakan momentum publikasi video kepada khalayak, anggapan hanya membuat heboh sehingga fokus lain teralihkan, hingga tak sedikit yang mati rasa atas berbagai pernyataan presiden, termasuk konteks <em>sense of crisis</em> yang terkesan berstandar ganda.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, pernyataan sekecil apapun dari sosok pemimpin kala krisis akibat dampak pandemi Covid-19 saat ini akan menjadi sorotan tersendiri. Dan jika diresapi, jutaan orang menaruh harapan dari untaian berbagai pernyataan tersebut.</p>
<p>Bagaimanapun, segala kalimat telah terucap dan Presiden Jokowi harus mempertangungjawabkan dan merealisasikan setiap i’tikad baik serta instruksi konstruktif tersebut, termasuk kepada dirinya sendiri. Bukankah dalam kesempatan yang sama Presiden Jokowi menegaskan akan mempertaruhkan reputasi politiknya demi hal tersebut? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)</p>
<p><div class="youtube-embed" data-video_id="KpZ4tTgGmC4"><iframe loading="lazy" title="WTC Dibom AS untuk Fitnah Tiongkok?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/KpZ4tTgGmC4?start=3&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</p>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik</p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/07/presiden-joko-widodo.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
