<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Sontoloyo &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/sontoloyo/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 May 2019 09:35:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Sontoloyo &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Misteri Setan Gundul Kubu Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/misteri-setan-gundul-kubu-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F46]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 May 2019 12:00:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Andi Arief]]></category>
		<category><![CDATA[Fahri Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[Genderuwo]]></category>
		<category><![CDATA[PA 212]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[politisi]]></category>
		<category><![CDATA[saling tuduh]]></category>
		<category><![CDATA[setan gundul]]></category>
		<category><![CDATA[Sontoloyo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=57221</guid>

					<description><![CDATA[“Malaikat tidak pernah salah, setan tidak pernah benar. Manusia bisa salah dan benar, maka kita dianjurkan saling mengingatkan bukan menyalahkan”. – Achmad Musthofa Bisri PinterPolitik.com [dropcap]D[/dropcap]alam politik praktis, narasi lucu dan nyeleneh memang sering menjadi trending topic tersendiri ya gengs. Sehingga membuat dunia politik yang sering distereotipkan sebagai hal yang penuh tipu daya dan menakutkan, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“</strong><strong>Malaikat tidak pernah salah, setan tidak pernah benar. Manusia bisa salah dan benar, maka kita dianjurkan saling mengingatkan bukan menyalahkan”</strong><strong>. – Achmad Musthofa Bisri</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]D[/dropcap]alam politik praktis, narasi lucu dan nyeleneh memang sering menjadi <em>trending topic</em> tersendiri ya <em>gengs</em>. Sehingga membuat dunia politik yang sering distereotipkan sebagai hal yang penuh tipu daya dan menakutkan, menjadi hal yang lucu dan menggelitik.</p>
<p>Kalau seseorang tiba-tiba dapat membuat narasi yang menohok dan lucu, maka biasanya doi langsung mempunyai andil besar dalam meramaikan jagat politik Indonesia <em>gengs</em>. Tapi bukan berarti Indonesia pantas menyandang label sebagai negara dagelan ya. Cukup para politikusnya saja yang dagelan, negaranya jangan. Kasihan rakyat biasa seperti kita ini nanti. <em>Hehehe</em>.</p>
<p>Baru saja Pemilu selesai, eh ternyata narasi lucu dan menggelitik terus bermunculan. Setelah judul politisi sontoloyo dan genderuwo tamat, ternyata sekarang muncul narasi baru lagi, yaitu “setan gundul”.</p>
<p>Kira-kira nanti akan menjadi <em>trending</em> seperti versi sebelumnya gak ya? Bisa jadi sih <em>gengs</em>, soalnya Fahri Hamzah dan Andi Arief lah yang menjadi politisi vokal yang menggaungkan narasi ini. Wah ada-ada saja ya. Memang ada apa sih sebenarnya?</p>
<p>Gini loh <em>gengs</em>, Fahri Hamzah yang merupakan salah satu pentolan ormas Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) ini menuduh ada setan gundul  yang menyebarkan ajaran menyesatkan tentang totalitarianisme kepada Presiden Jokowi.</p>
<p>Menurut doi, setan gundul ini yang ingin merampas kebebasan masyarakat di Indonesia, termasuk juga kebebasan media dan kebebasan orang berbicara serta berpendapat <em>loh</em>.</p>
<p><em>Waduh</em> yang bener nih? Kalau memang benar seperti ini, masa mau jadi seperti Orde Baru lagi? Kan serem, <em>gengs</em>.</p>
<p>Meski sudah mengeluarkan ucapan kontroversial, ternyata Fahri Hamzah tidak mau menjawab loh terkait siapa setan gundul yang doi maksud. Emang ya, ada-ada saja politisi yang satu ini. Jangan main api loh Bang Fahri, nanti kebakar <em>ente</em>. <em>Hehe</em>.</p>
<hr /><p><em>Kira-kira setan gundul bisa trending kayak sebelumnya gak ya? Bisa jadi ya cuy, soalnya Fahri Hamzah dan Andi Arief sebagai politisi vokal yang menggaungkan narasi ini.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Fmisteri-setan-gundul-kubu-jokowi%2F&#038;text=Kira-kira%20setan%20gundul%20bisa%20trending%20kayak%20sebelumnya%20gak%20ya%3F%20Bisa%20jadi%20ya%20cuy%2C%20soalnya%20Fahri%20Hamzah%20dan%20Andi%20Arief%20sebagai%20politisi%20vokal%20yang%20menggaungkan%20narasi%20ini.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Ternyata tidak hanya di Istana Negara <em>gengs</em>, narasi setan gundul ini juga ramai dibicarakan di internal tubuh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi loh. <em>Wadadaw</em>, kok bisa?</p>
<p>Kalau yang ini begini <em>gengs </em>ceritanya. Politikus Partai Demokrat Andi Arief menilai ada setan gundul yang memberikan informasi sesat terkait kemenangan Prabowo-Sandi sebanyak 62 persen di Pemilu kemarin.</p>
<p>Menurut Andi, setan gundul itulah yang selalu mendominasi di tubuh Koalisi Adil Makmur, sehingga mengakibatkan munculnya informasi sesat dan tidak rasional serta menyingkirkan posisi partai-partai koalisi.</p>
<p><em>Waduh</em>, berarti ada dua versi setan gundul ya <em>gengs</em>. Satu di Istana Negara dan yang satu lagi di tubuh Koalisi Adil Makmur. Tapi sebentar deh, padahal kan ini Bulan Suci Ramadan. Seharusnya setan pada dikerangkeng kan. Kok ini setan gundulnya lepas dua? Hayo ngaku siapa yang jadi setan gundulnya? (F46)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="OVk3QDcWOiI"><iframe width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/OVk3QDcWOiI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/Fahri-Hamzah-dan-setan-gundul-di-kubu-Jokowi-1.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ofensif, Jokowi Takut Kekuatan Prabowo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ofensif-jokowi-takut-kekuatan-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Nov 2018 15:52:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Genderuwo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Sontoloyo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=43740</guid>

					<description><![CDATA[Aksi-aksi politik Jokowi belakangan ini memang di luar dari biasanya. Ia cenderung lebih agresif “menyerang” lawan politiknya lewat pernyataan-pernyataan ofensif, misalnya lewat sebutan politisi sontoloyo dan genderuwo. Istilah-istilah itu berada di luar zona politik Jokowi yang biasanya halus dan santun, serta terkesan menjadi “serangan untuk bertahan”. Elektabilitas dirinya yang hanya tipis berada di atas 50 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Aksi-aksi politik Jokowi belakangan ini memang di luar dari biasanya. Ia cenderung lebih agresif “menyerang” lawan politiknya lewat pernyataan-pernyataan ofensif, misalnya lewat sebutan politisi sontoloyo dan genderuwo. Istilah-istilah itu berada di luar zona politik Jokowi yang biasanya halus dan santun, serta terkesan menjadi “serangan untuk bertahan”. Elektabilitas dirinya yang hanya tipis berada di atas 50 persen – angka yang tidak aman untuk petahana – sangat mungkin menjadi alasan Jokowi berani keluar dari zona politiknya yang nyaman.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p><strong>“Attack is the secret of defense; defense is the planning of an attack.”</strong></p>
<p><strong>:: Sun Tzu ::</strong></p></blockquote>
<p>[dropcap]S[/dropcap]trategi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) belakangan ini oleh beberapa pihak disebut cenderung makin ofensif dan terbuka menyerang lawan-lawan politiknya.</p>
<p>Perubahan sikap ini dianggap sebagai hal yang cukup mengejutkan karena keluar dari pakem politik Jokowi yang selama ini dianggap santun, sopan dan cenderung <em>sophisticated </em>atau rumit dengan segala simbol politiknya.</p>
<p>Beberapa waktu belakangan ini memang publik disuguhkan oleh beberapa istilah yang digunakan Jokowi sebagai bahasa komunikasinya. Sebelumnya publik mendengar istilah “politikus sontoloyo” yang digunakan oleh Jokowi untuk menyebut lawan-lawannya yang kerap menyinggung program pemerintah sebagai alat pencitraan dan mempengaruhi pemilih dalam konteks Pilpres yang sudah di depan mata.</p>
<hr /><p><em>Survei Kompas menunjukkan bahwa Prabowo mampu mengkapitalisasi isu politik dan meraih suara pemilih mengambang (swing voters) lebih banyak dibandingkan Jokowi.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fofensif-jokowi-takut-kekuatan-prabowo%2F&#038;text=Survei%20Kompas%20menunjukkan%20bahwa%20Prabowo%20mampu%20mengkapitalisasi%20isu%20politik%20dan%20meraih%20suara%20pemilih%20mengambang%20%28swing%20voters%29%20lebih%20banyak%20dibandingkan%20Jokowi.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Sementara, yang terbaru, aksi ofensif itu ditunjukkan lewat istilah “politikus genderuwo”. Istilah ini ia gunakan untuk menyebut lawan politiknya yang kerap menyebarkan ketakutan di tengah masyarakat.</p>
<p>Tentu saja dalam konteks tersebut, pihak yang paling sering menggunakan “politik ketakutan” itu adalah Prabowo Subianto yang akan menjadi lawan tempur Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Narasi politik Prabowo tentang kehancuran Indonesia di 2030, kebocoran kekayaan negara, ketimpangan sosial yang makin besar, serta harapan hidup sejahtera yang makin susah terpenuhi adalah bagian dari politik ketakutan yang disinggung Jokowi itu.</p>
<p>Tentu saja serangan-serangan politik yang tidak biasa dari petahana ini menimbulkan pertanyaan. Apakah Jokowi kini telah menggunakan pendekatan yang berbeda untuk melawan Prabowo? Atau ini hanya bagian lain dari ekspresi politik sebagai bentuk kekesalan sesaat saja?</p>
<h4><strong>Ofensif adalah Cara Bertahan Terbaik</strong></h4>
<p>Jika ditelusuri secara lebih mendalam, sejak pertama kali muncul ke hadapan publik sejak menjabat sebagai Wali Kota Solo, konstruksi citra politik Jokowi memang lekat dengan latar belakangnya sebagai bagian dari masyarakat Jawa yang cenderung sopan, halus, berusaha menghindari konfrontasi, dan suka akan simbol-simbol sebagai cara komunikasi yang tidak langsung.</p>
<p>F.X. Nadar dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta <a href="https://media.neliti.com/media/publications/11651-ID-the-prominent-characteristics-of-javanese-culture-and-their-reflections-in-langu.pdf"><strong>menyebutkan</strong></a> bahwa salah satu karakteristik yang umum muncul dalam masyarakat Jawa adalah kemampuan menyembunyikan rasa atau <em>hiding feelings. </em></p>
<p>Maka, tak heran jika konteks karakter politik Jokowi sangat dipengaruhi oleh karakter masyarakat Jawa yang tidak suka marah-marah, berbicara dengan nada yang lebih persuasif tanpa tekanan, serta menghindari konfrontasi.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BqHxoQqgRjt/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BqHxoQqgRjt/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BqHxoQqgRjt/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Mulai menyerang Bung Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #jokowi #ofensif #politiksontoloyo #politikgenderuwo #infografik #infografis #infographic #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2018-11-13T13:03:09+00:00">Nov 13, 2018 at 5:03am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Sangat jarang kita menyaksikan Jokowi marah-marah di depan publik, walau bukan berarti hal itu tidak pernah terjadi. Setidaknya, dalam konteks ini sifat Jokowi sangat jauh berbeda dibandingkan Prabowo yang kerap mengumbar amarah di panggung-panggung orasi politiknya.</p>
<p>Hal ini terlihat sangat jelas pada Pilpres 2014 lalu, di mana Jokowi memang tampil sebagai pemimpin yang halus, <em>soft spoken </em>dan menghindari konfrontasi. Hal ini juga <a href="https://www.eastwestcenter.org/system/tdf/private/ps072.pdf?file=1&amp;type=node&amp;id=35018"><strong>ditegaskan</strong></a> oleh Marcus Mietzner dari Australian National University (ANU).</p>
<p>Menurutnya, hal yang membedakan Jokowi dari tokoh lain – katakanlah dengan Prabowo – adalah sosoknya yang cenderung <em>soft spoken</em> dan tidak menawarkan konsep neo-otoritarian – yang cenderung konfrontatif – sebagai solusi terhadap <em>status quo</em> yang ada.</p>
<p>Mietzner menyebut kekuatan Jokowi terletak dari tawaran sikap politiknya yang rendah hati, sopan, mengedepankan etika kerja keras, spontan, serta kontra-naratif dengan arogansi – tanpa mengkonfrontasi hal tersebut.</p>
<p>Konteks ini membuat Jokowi dianggap lebih mampu merangkul semua pihak, berbeda dengan Prabowo yang justru menawarkan pembaharuan <em>status quo </em>dengan mengkonfrontir banyak kelompok – katakanlah yang ia sebut sebagai elite-elite yang “membocorkan kekayaan negara”.</p>
<p>Tentu saja jika berkaca dari istilah sontoloyo dan genderuwo, hal yang cenderung berbeda memang ditampilkan oleh Jokowi belakangan ini. Pasalnya, sebutan politikus sontoloyo dan politikus genderuwo adalah <em>direct critique </em>atau kritik langsung – sekalipun ia tidak menyebutkan siapa orang yang dikritiknya.</p>
<p>Hal ini tentu saja agak bertolak belakang dengan karakter Jokowi sebagai bagian dari masyarakat Jawa yang cenderung menggunakan <em>indirect critique </em>atau kritik tidak langsung ketika berhadapan dengan suatu persoalan tertentu.</p>
<p>Bagi banyak pihak, konteks ini mungkin dianggap biasa. Namun, bagi orang-orang yang mengikuti garis politik Jokowi, tentu saja timbul pertanyaan terkait perubahan sikap politik yang demikian.</p>
<p>Pihak oposisi misalnya menggunakan momentum kata-kata Jokowi itu sebagai jalan untuk mengkritiknya dan menyebutkan bahwa sang presiden sedang “menunjukkan sifat aslinya”. Konteks ini kemudian dijadikan sebagai jalan untuk menjustifikasi bahwa selama ini apa yang ditampilkan oleh Jokowi di hadapan publik adalah “pencitraan”.</p>
<p>Pandangan tersebut tidak bisa dipermasalahkan karena memang itu adalah garis perjuangan oposisi. Namun, yang menjadi persoalan adalah mengapa strategi ofensif yang tidak terjadi pada Pilpres 2014 ini kini digunakan oleh Jokowi?</p>
<p>Ada beberapa pandangan yang bisa dijadikan penjelasan mengapa kini Jokowi menggunakan strategi yang lebih ofensif, entah sebagai serangan balik atau memang ditujukan benar-benar untuk menyerang.</p>
<p>Salah satu yang paling mungkin adalah pandangan yang umumnya percaya bahwa strategi bertahan dalam politik yang terbaik adalah dengan menyerang. “Attack is the secret of defense; defense is the planning of an attack,” demikian kata ahli strategi perang legendaris asal Tiongkok kuno, Sun Tzu.</p>
<p>Ini salah satunya <a href="https://web.archive.org/web/20090528143708/http://media.www.dailylobo.com/media/storage/paper344/news/2001/10/17/Opinion/Column.Best.Defense.Is.A.Good.Offense-127063.shtml"><strong>ditulis</strong></a> oleh Craig A. Butler, seorang kolumnis untuk The Daily Lobo, sebuah surat kabar independen terbitan University of New Mexico, Amerika Serikat (AS). Konteks menyerang sebagai strategi untuk bertahan tersebut nyatanya punya akar sejarah yang cukup panjang, yang menurut Butler sudah ditulis oleh pemikir aliran realis macam Sun Tzu dan Niccolo Machiavelli.</p>
<p>Aplikasi konsep tersebut pun punya cakupan yang luas, mulai dari perang, kampanye politik, persaingan bisnis, hingga ke cabang olahraga seperti sepak bola. Untuk para penggemar bidang yang terakhir, tentu saja tidak asing dengan strategi ala pelatih Manchester City, Pep Guardiola yang menginternalisasi konsep “pertahanan terbaik adalah dengan menyerang” tersebut.</p>
<p>Beberapa pemimpin dunia pun sudah menerapkan hal ini, katakanlah seperti George Washington di AS dan Mao Zedong di Tiongkok. Konteks pemahaman terhadap strategi politik “bertahan lewat serangan” ini memang sangat aplikatif untuk menaklukan lawan-lawan politik maupun musuh di medan pertempuran.</p>
<p>Dalam konteks Jokowi, selama ini strategi kampanye yang ia pakai cenderung bersifat defensif. Jokowi selalu menggunakan strategi klarifikasi untuk meluruskan serangan-serangan isu yang dituduhkan kepada dirinya. Isu-isu seperti PKI, anti-Islam, anti-ulama, kegagalan ekonomi, dan lain sebagainya selalu ditangkis dengan penjelasan dan klarifikasi untuk meluruskan.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BpnpW8hgzV1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BpnpW8hgzV1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BpnpW8hgzV1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">[RALAT] &#34;..Hutang negara sudah 2,700 triliun..&#34;. . Curahan hati Jokowi Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #jokowicurhat #curhatjokowi #jokowidodo #infografik #infografis #infographic #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2018-11-01T01:35:11+00:00">Oct 31, 2018 at 6:35pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Jokowi sangat jarang menyerang secara langsung Prabowo misalnya, untuk mengulik kelemahan mantan Danjen Kopassus tersebut dan hal tersebut baru ia tunjukkan belakangan ini. Pertanyaannya, mengapa sekarang?</p>
<h4><strong>Jokowi Takut?</strong></h4>
<p>Alasannya sangat mungkin tergambar dari hasil survei Litbang Kompas beberapa waktu lalu. Hasil survei pada Oktober 2018 itu menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin hanya menyentuh angka 52,6 persen, berbanding 32,7 persen milik Prabowo-Sandiaga Uno.</p>
<p>Jika dibandingkan dengan survei Litbang Kompas pada Oktober tahun 2017, peningkatan dukungan terhadap Jokowi hanya menyentuh angka 6 persen. Bandingkan dengan dukungan untuk Prabowo yang mengalami peningkatan mencapai 3 kali lipat milik Jokowi dari 18 persen berdasarkan survei tahun lalu tersebut.</p>
<p>Artinya, Prabowo mampu mengkapitalisasi isu politik dan mampu meraih suara pemilih mengambang (<em>swing voters</em>) lebih banyak dibandingkan Jokowi. Gerakan #2019GantiPresiden, kritik-kritik di bidang ekonomi, dan serangan-serangan kampanye di akar rumput, nyatanya efektif mendongkrak elektabilitas Prabowo. Ini juga menunjukkan strategi kampanye defensif yang dilakukan oleh Jokowi tidak efektif meraih suara pemilih mengambang.</p>
<p>Apalagi, angka 52,6 persen ini belum tergolong aman untuk calon petahana. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjelang Pilpres 2009 misalnya, memiliki elektabilitas di atas 71 persen. Hal itu menjamin kemenangannya dengan perolehan suara di atas 60 persen saat pemungutan suara berlangsung.</p>
<p>Dengan demikian, Jokowi memang butuh strategi kampanye baru untuk mengamankan peluangnya terpilih lagi di Pilpres nanti. Strategi menyerang ini pun sangat mungkin dipilih untuk mengkapitalisasi keunggulan dirinya dibanding Prabowo dengan menggunakan hal-hal yang negatif dari kampanye politik sang jenderal, ketakanlah yang disebutnya sontoloyo dan genderuwo-is itu.</p>
<p>Ini sekaligus juga menunjukkan bahwa Prabowo masih sangat kuat secara politik, sehingga memaksa Jokowi menggunakan cara yang keluar dari zona citra politik dirinya.</p>
<p>Namun, Jokowi juga perlu berhati-hati pada titik ini. Bagaimanapun juga, citra politik ke-Jawa-annya adalah salah satu faktor yang membuatnya unggul dibandingkan Prabowo pada Pilpres 2014 lalu.</p>
<p>Artinya, jika terjebak terlalu jauh dengan strategi sontoloyo genderuwo-is yang ofensif ini, sangat mungkin justru Jokowi-lah yang akan dirugikan karena kehilangan pemilih loyalnya.</p>
<p>Pada akhirnya, publiklah yang akan menentukan apakah strategi ofensif Jokowi ini berhasil atau tidak. Yang jelas, seperti kata Sun Tzu, menyerang adalah salah satu cara untuk bertahan dan memenangkan pertarungan. Oleh karena itu, menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/11/fddfd-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mengintip Isi Kepala Fadli Zon</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengintip-isi-kepala-fadli-zon/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M39]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Oct 2018 10:26:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Fadli Zon]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[puisi sontoloyo]]></category>
		<category><![CDATA[Sontoloyo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=42642</guid>

					<description><![CDATA[Bagaimana seharusnya menilai sikap Fadli Zon yang terkesan vokal di media sosial terkait kritik dan pemikiran politiknya? PinterPolitik.com SONTOLOYO! kau bilang ekonomi meroket padahal nyungsep meleset sontoloyo! utang numpuk bertambah rupiah anjlok melemah harga-harga naik merambah hidup rakyat makin susah kau jamu tuan asing bermewah-mewah rezim sontoloyo! [dropcap]B[/dropcap]egitulah sepenggal puisi ciptaan politisi Partai Gerindra, Fadli [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Bagaimana seharusnya menilai sikap Fadli Zon yang terkesan vokal di media sosial terkait kritik dan pemikiran politiknya?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><em>SONTOLOYO!</em><br />
<em>kau bilang ekonomi meroket</em></p>
<p><em>padahal nyungsep meleset</em></p>
<p><em>sontoloyo!</em></p>
<p><em>utang numpuk bertambah</em></p>
<p><em>rupiah anjlok melemah</em></p>
<p><em>harga-harga naik merambah</em></p>
<p><em>hidup rakyat makin susah</em></p>
<p><em>kau jamu tuan asing bermewah-mewah</em></p>
<p><em>rezim sontoloyo!</em></p>
<p>[dropcap]B[/dropcap]egitulah sepenggal puisi ciptaan politisi Partai Gerindra, Fadli Zon sebagai ekspresi menanggapi kata sontoloyo yang terlontar dalam pidato presiden Joko Widodo beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Tingkah polah wakil ketua DPR ini memang kerap kali mengundang kehebohan di ruang publik. Dengan gaya kritik yang sering memancing kontroversi, Fadli Zon bisa dibilang menjadi salah satu politisi <em>iconic</em> jebolan Gerindra, terutama menyoal komentar-komentarnya di media sosial.</p>
<p>Ada banyak yang mencibir, namun tidak sedikit pula yang mengagumi sosok politisi jebolan <em>London School of Economics and Political Science</em> (LSE) ini. Ia bahkan memiliki pengikut sebanyak 985 ribu di twitter dan 139 ribu di instagram. Tentu bukanlah jumlah yang sedikit.</p>
<p>Lalu bagaimana seharusnya menilai sikap Fadli Zon yang terkesan vokal di media sosial terkait kritik dan pemikiran politik dalam kacamata psikologi politik?</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-42656" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon.jpg" alt="Mengintip Isi Kepala Fadli Zon" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/Kontroversi-Puisi-Sontoloyo-Fadli-Zon-420x420.jpg 420w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<h4><strong>Fadli Zon Muda, Sang Intelektual</strong></h4>
<p>Semasa muda, tidak bisa dipungkiri Fadli Zon adalah sosok yang memiliki kecerdasan intelektual di atas rata-rata teman sebayanya. Sejak SMA Fadli merupakan sosok unggulan secara kapasitas intelektual.</p>
<p>Setelah belajar selama dua tahun di SMA Negeri 31, Jakarta Timur, ia pernah mendapat beasiswa dari AFS (American Field Service) ke Harlandale High School, sebuah sekolah menengah umum yang terletak di kota San Antonio, Texas, Amerika Serikat.</p>
<p>Tak main-main, sekolah ini pun diklasifikasikan sebagai sekolah unggulan oleh lembaga pemeringkat University Interscholastic League atau UIL.  Fadli pun berhasil lulus dari sekolah ini dengan predikat <em>summa cum laude</em>.</p>
<p>Memilih kembali ke Indonesia ,ia melanjutkan studinya di program studi Sastra Rusia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.</p>
<p>Rekam jejaknya juga menunjukkan ia aktif dalam aktivisme politik kampus dengan memimpin berbagai demonstrasi dan menghidupkan kelompok-kelompok studi di dalam kampus UI era awal 1990-an.</p>
<p>Dalam hubungan di luar kampus, ia juga memiliki taring aktivisme dengan menjadi Sekjen dan Presiden <em>Indonesian Student Association for International Studies</em> (ISAFIS) pada tahun 1993 hingga 1995, salah satu organisasi prestisius di kalangan mahasiswa.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">2019 bukan cuma terjadi pergantian presiden, melainkan juga cara berpolitik.<br />Dari sontoloyo ke berakal.</p>
<p>&mdash; Rocky Gerung (@rockygerung) <a href="https://twitter.com/rockygerung/status/1055049744936882176?ref_src=twsrc%5Etfw">October 24, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Secara mengejutkan, ia pun juga terlibat dalam kepengurusan pusat Gerakan Pemuda Islam di tahun 1996 hingga 1999, dan bahkan menjadi anggota <em>Asian Conference on Religion and Peace</em> (ACRP) sejak tahun 1996.</p>
<p>Dalam konteks akademik, ia juga pernah terpilih menjadi Mahasiswa Berprestasi  I Universitas Indonesia,  Mahasiswa Berprestasi III tingkat Nasional dan memimpin delegasi mahasiswa Indonesia dalam ASEAN Varsities Debate IV di Malaysia di tahun 1994.</p>
<p>Berkat kecemerlangan intelektual sosok Fadli Zon, ia juga berhasil mengenyam pendidikan di <em>London School of Economics and Political Science</em> (LSE), salah satu universitas terbaik dunia, di bawah bimbingan John Harris, salah satu professor politik terkemuka dunia dan Robert Wade, juga salah satu Professor <em>Global Political Economy</em> terkemuka dunia.</p>
<p>Dalam konteks publikasi, ia pun juga memiliki <em>track record</em> cemerlang. Ia pernah menerbitkan buku yang berjudul <em>The IMF Game: The Role of the IMF in Bringing Down the Suharto Regime in May 1998</em>, <em>Politik huru-hara Mei 1998</em>, dan <em>Gerakan etnonasionalis: bubarnya imperium Uni Soviet</em>.</p>
<p>Menariknya, semasa muda ia juga memiliki selera sastra yang terbilang cukup tinggi. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatanya dengan Teater Sastra UI. Beberapa publikasi tentang sastra pun pernah ditelurkan politisi Gerindra ini.</p>
<p>Di antaranya adalah buku yang berjudul <em>Idris Sardi: Perjalanan Maestro Biola Indonesia</em>, kumpulan puisi <em>Mimpi-mimpi yang kupelihara: 1983-1991</em>, <em>Setelah Politik Bukan Panglima Sastra: Polemik Hadiah Magsaysay bagi Pramoedya Ananta Toer</em>, dan <em>Menyusuri Lorong Waktu</em>. Fadli bersama seniman Basuki Teguh Yuwono juga pernah menerbitkan buku berjudul <em>Keris Minangkabau</em>.</p>
<p>Dengan melihat rekam jejak intelektual sosok Fadli Zon, tentu publik terheran-heran, mengapa kini ia lebih sering muncul dengan kritikan yang terkadang asal bunyi dan tak substansial. Ada apa dengan Fadli Zon?</p>
<h4><strong>T</strong><strong>erjangkit Superioritas Ilusif?</strong></h4>
<p>Dalam konteks politik Indonesia hari ini, Fadli Zon yang kini menjabat sebagai wakil ketua DPR RI lebih sering tampil kontroversial dalam panggung politik nasional. Dengan menyerang pemerintah melalui kritik, sering kali nyinyiran Fadli dianggap sebagai retorika omong kosong oleh kubu pemerintah karena isinya yang sering kali tak substansial.</p>
<p>Sebuah kritikan pedas terlontar dari sosok politisi partai NasDem, Teuku Taufiqulhadi menyoal tanggapan puisi sontoloyo yang di ciptakan Fadli Zon. Ia menyebut bahwa Fadli terserang penyakit gejala sarumpaetisme.</p>
<p>Anggota Dewan Pakar NasDem tersebut menjelaskan bahwa gejala ini adalah sebuah sikap yang merasa benar sendiri, enggan menerima pandangan orang lain dan untuk memaksa kehadiran pikirannya dalam masyarakat, mau melakukan apa saja, termasuk berbohong.</p>
<p>Lalu benarkah Fadli Zon kini terjangkit gejala sarumpaetisme?</p>
<p>Dalam ilmu psikologis, David Dunning dan Justin Kruger dalam jurnalnya yang berjudul <em>Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One&#8217;s Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments</em> menyebut kondisi ini sebagai bentuk bias kognitif yang mendorong munculnya superioritas ilusi atau yang dikenal sebagai efek Dunning-Kruger. Keadaan pikiran ini akan membuat seseorang gagal mengenali ketidakmampuan mereka sendiri dan keliru untuk menilai kemampuan kognitif mereka di luar kemampuan itu sendiri.</p>
<p>Seseorang yang menderita gejala ini akan selalu melihat orang lain inferior dan gagal tanpa melakukan diskusi yang mendalam. Dengan demikian, efek Dunning-Kruger dapat dikatakan sebagai keadaan otak manusia yang terus bekerja di bawah kesalahan logika.</p>
<p>Celakanya, kondisi ini sering terjadi pada masyarakat yang memiliki intelejensi tinggi misalnya dalam dunia akademis. Kecenderungan ketidakmampuan seseorang untuk menanggapi perbedaan pola pikir, paradigma dan kepercayaan bisa menjadi indikator kuat efek Dunning-Kruger.</p>
<p>Seseorang dikatakan gagal mengenali ketidakmampuan mereka sendiri karena ketidakmampuan itu membawa kutukan ganda. Jika seseorang tidak memiliki keterampilan untuk menghasilkan jawaban yang benar, ia juga dikutuk dengan ketidakmampuan untuk mengetahui kapan jawabannya, atau jawaban orang lain benar atau salah.</p>
<p>Pada akhirnya, seseorang itu tidak dapat mengenali argumen sendiri sebagai kesalahan, atau argumen orang lain lebih inferior dari argumentasi sendiri. Kini, efek Dunning-Kruger menjadi masalah serius di dunia akademis, bahkan dalam interaksi sosial saat ini.</p>
<p>Berdasarkan penjelasan diatas, bisa jadi lebih tepat menyebut Fadli Zon selama ini terjangkit gejala superioritas ilusif dibandingkan dengan sarumpaetisme jika merujuk pada perilaku politiknya yang terkadang tidak mencerminkan intelektualitas nya selama ini.</p>
<p>Mungkinkah superioritas ilusif ini terbentuk secara alami dalam diri Fadli Zon? Apakah kondisi ini terbentuk sebagai dampak dari relasi politiknya selama ini bersama Prabowo dan Gerindra?</p>
<h4><strong>Fadli Zon di Pusaran Politik Kekuasaan</strong></h4>
<p>Fadli Zon memulai perjalanan politiknya pada saat ia menduduki kursi MPR perwakilan dari Utusan Golongan pada periode 1997 hingga 1999.</p>
<p>Namun, sebelumnya ia juga sempat mencicipi dunia jurnalistik dengan bergabung sebagai wartawan di beberapa media. Salah satunya ia menduduki posisi redaktur dan Dewan Direksi Majalah Horison di tahun 1993.</p>
<p>Pasca lengser dari kursi MPR pada tahun 1999, inilah momentum dimana Fadli mulai membangun kedekatan dengan sosok Prabowo Subianto. Ia kemudian menjabat sebagai direktur di beberapa perusahaan seperti Nusantara Energy Resources, Ltd, PT Tidar Kerinci Agung, Komisaris Utama PT Tambang Sungai Suir, PT Padi Nusantara, serta Komisaris PT Susu Nusantara yang kesemuanya merupakan gurita bisnis milik Prabowo Subianto bersama dengan adiknya, Hashim Djojohadikusumo.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Ini puisi terbaru sy berjudul &quot;Sontoloyo&quot; <a href="https://t.co/1nFNT50EGm">pic.twitter.com/1nFNT50EGm</a></p>
<p>&mdash; Fadli Zon (@fadlizon) <a href="https://twitter.com/fadlizon/status/1055349470588747777?ref_src=twsrc%5Etfw">October 25, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Fadli Zon memang dikenal cukup lama sebagai tangan kanan Prabowo. Sehingga bisa jadi telah terbentuk relasi patron-klien antara Prabowo dan Fadli Zon. Bahkan dalam menanggapi tindakan kontroversial Fadli Zon pun, Prabowo bahkan memberikan pembelaan terhadapnya dengan menganggap demokrasi di Indonesia butuh sosok kontroversial seperti Wakil Ketua DPR tersebut.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan teori patron klien menurut James Scott dimana relasi ini digambarkan sebagai hubungan di mana seorang individu dari status sosio-ekonomi yang lebih tinggi (patron) menggunakan pengaruh dan sumber daya untuk memberikan perlindungan dan manfaat untuk orang dengan status yang lebih rendah (klien).</p>
<p>Si klien pada akhirnya harus membalas perlindungan dari sang patron dengan memberikan dukungan dan bantuan umum, termasuk layanan pribadi.</p>
<p>Nampaknya, terjunnya Fadli Zon ke pusaran politik kekuasaan juga tak bisa terlepas dari relasi patron kliennya dengan Prabowo. Hal ini ditandai pada 6 Februari 2008, ia membantu Prabowo dan Hashim mendirikan partai Gerindra.</p>
<p>Sehingga, bagaimanapun keadaan dan kondisinya, duet sejoli Prabowo-Fadli ini akan terus menempatkan kepentingan keduanya sebagai fundamental sikap politik, meskipun itu kontrovesial dan berpotensi mengundang kegaduhan politik.</p>
<p>Dengan melihat latar belakang pendidikannya, Fadli Zon diharapkan menjadi sosok intelektual murni. Akan tetapi, pada kenyataannya ia seperti terjangkit sindrom superioritas ilusif. Bisa jadi motif pragmatisme politik akibat relasi patron-kliennya dengan Prabowo  memainkan peran yang lebih dominan bagi sikapnya. Terlepas dari apapun, lontaran-lontaran kata-kata dari Fadli tetap menarik ditunggu. (M39)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="IKS-o945Kvg"><iframe width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/IKS-o945Kvg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/fadli-zon_20170512_113714.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Sontoloyo&#8221;, Panutan Rakyat Jokowi </title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/belajar-politik/sontoloyo-panutan-rakyat-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G42]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 25 Oct 2018 09:16:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Belajar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sontoloyo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=42531</guid>

					<description><![CDATA[“Adalah ambisiku untuk mengatakan dalam sepuluh kalimat apa yang orang lain tulis dalam satu buku.” PinterPolitik.com [dropcap]K[/dropcap]ata “sontoloyo” adalah sebuah umpatan yang cenderung kasar, baik itu disampaikan dengan gaya pengucapan yang santai maupun keras. Mungkin lebih baik Jokowi jangan menggunakan kata itu bila kesal dengan kubu oposisi, alangkah eloknya jika Jokowi bilang seperti ini: “Woi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Adalah ambisiku untuk mengatakan dalam sepuluh kalimat apa yang orang lain tulis dalam satu buku.”</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]ata “sontoloyo” adalah sebuah umpatan yang cenderung kasar, baik itu disampaikan dengan gaya pengucapan yang santai maupun keras. Mungkin lebih baik Jokowi jangan menggunakan kata itu bila kesal dengan kubu oposisi, alangkah eloknya jika Jokowi bilang seperti ini:</p>
<p>“Woi rakyat sekalian! Kalian jangan percaya dengan beberapa gossip yang beredar tentang rezim saya! Hati-hati, sekarang ini banyak sekali politisi yang “cengceremen” asal ngomong enggak berdasarkan data. Sekalinya ada data juga datanya enggak valid.”</p>
<p>Begitu <em>gengs, </em>gimana menurut kalian? Apa ada saran lain lagi untuk Jokowi mengumpat lawan politiknya?</p>
<p>Ketua DPP Partai Demokrat Jansen Sitindaon  menanggapi pernyataan Presiden Jokowi melalui akun Twitternya dan menyebut katakata “politisi sontoloyo” yang diucapkan Jokowi saat membagikan sertifikat tanah sangatlah tidak pantas diungkapkan.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Menurut saya: Sontoloyo dgn gaya pengucapan seperti apapun adl umpatan. Kasar! Apalagi keluar dr seorang pemimpin diruang publik. Di ruang privat utk marahin anak buah, silahkan saja. Pemimpin akan ditiru! Jadi jgn salahkan jika sejak hari ini akan banyak yg mengumpat Sontoloyo. <a href="https://t.co/fjZkTD7bpX">pic.twitter.com/fjZkTD7bpX</a></p>
<p>&mdash; JANSEN SITINDAON (@jansen_jsp) <a href="https://twitter.com/jansen_jsp/status/1055066031578705921?ref_src=twsrc%5Etfw">October 24, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Menurutnya Jansen, pernyataan itu kasar. Apalagi keluar dari mulut seorang pemimpin negara dan dilakukan di ruang publik. Jansen juga mengingatkan kepada Jokowi bahwa pemimpin merupakan panutan rakyatnya. Jika kini Jokowi mengumpat “sontoloyo”, maka bukan tidak mungkin rakyat akan mengikuti dan saling mengumpat satu sama lain.</p>
<hr /><p><em>Aduh bener juga sih gengs, seharusnya nih yang disalahkan itu bukan Jokowinya, tapi yang disalahkan adalah yang mempublikasikannya! Kenapa bisa gitu? Bisa coy!</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fbelajar-politik%2Fsontoloyo-panutan-rakyat-jokowi%2F&#038;text=Aduh%20bener%20juga%20sih%20gengs%2C%20seharusnya%20nih%20yang%20disalahkan%20itu%20bukan%20Jokowinya%2C%20tapi%20yang%20disalahkan%20adalah%20yang%20mempublikasikannya%21%20Kenapa%20bisa%20gitu%3F%20Bisa%20coy%21&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Coba deh kalian perhatikan kembali siaran-siaran di televisi terkait pengunaaan kata-kata kasar dan pakaian yang tidak senonoh. Pasti deh kalian akan mendengar bunyi “tiiit” di saat para pemeran itu ngomong gini:</p>
<p>“Dasar kamu Anjtiiit, bangstiiit atau tatiiit”.</p>
<p>Nah, seharusnya kan para pimpinan media ikut menyertakan bunyi “tiiit alias sensor itu di ceramahnya Jokowi. Jadi kan kalau anak-anak atau ABG yang dengar enggak ikut-ikut apa yang dikatakan Jokowi! Betul apa betul?</p>
<p>Okelah ya, jadi kalian ngerti kan kalau Jokowi itu enggak salah, tapi yang salah itu medianya kenapa enggak ngasih sensor di pidatonya Jokowi! Kalau kalian setuju dengan ungkapan <em>eyke,</em> lantas jangan bikin demo di depan gedung KPAI ya <em>gengs. </em>Soalnya kan <em>eyke</em> bercanda <em>ehehehe. </em>(G35)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Rt0yKLkIsGo"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Rt0yKLkIsGo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/jokowi-halal-bihalal-dengan-artis-pendukung-konser-salam-2-jari.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kader PAN Lawan Prabowo-Sandi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/kader-pan-lawan-prabowo-sandi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G42]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2018 10:43:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[PAN]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sontoloyo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=42495</guid>

					<description><![CDATA[“Saya menyukai teman yang memiliki pikiran terbuka karana mereka akan melayanimu untuk melihat segala masalah dari berbagai sudut pandang.” PinterPolitik.com [dropcap]W[/dropcap]akil Sekretaris TKN Jokowi-Ma&#8217;ruf, Raja Juli Antoni menilai ada kerapuhan dalam koalisi yang mengusung pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Hmm, yakin kah kalian dengan ungkapan Juli ini? Menurut Juli, kerapuhan koalisi Prabowo-Sandi sangat kentara saat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Saya menyukai teman yang memiliki pikiran terbuka karana mereka akan melayanimu untuk melihat segala masalah dari berbagai sudut pandang.”</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]W[/dropcap]akil Sekretaris TKN Jokowi-Ma&#8217;ruf, Raja Juli Antoni menilai ada kerapuhan dalam koalisi yang mengusung pasangan Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019. Hmm, yakin kah kalian dengan ungkapan Juli ini?</p>
<p>Menurut Juli, kerapuhan koalisi Prabowo-Sandi sangat kentara saat semua kesempatan memimpin negeri ini diborong oleh satu partai. Presiden, wakil presiden, sekretaris, bendahara, ketua OSIS, sampai ketua kelas pun semua dari Partai Gerindra. <em>Wkwkwk, </em>partai apa sekolahan bang?</p>
<hr /><p><em>Selain itu juga ada hal lain yang memperkuat kerapuhan koalisi Prabowo, yaitu saat kita mendengar kabar deretan gubernur yang berasal dari kubu Prabowo lebih memilih mendukung Jokowi.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fterkini%2Fkader-pan-lawan-prabowo-sandi%2F&#038;text=Selain%20itu%20juga%20ada%20hal%20lain%20yang%20memperkuat%20kerapuhan%20koalisi%20Prabowo%2C%20yaitu%20saat%20kita%20mendengar%20kabar%20deretan%20gubernur%20yang%20berasal%20dari%20kubu%20Prabowo%20lebih%20memilih%20mendukung%20Jokowi.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Gubernur yang berasal dari partai koalisi yang mendukung Jokowi di antaranya Gubernur Maluku Utara Abdul Gani Kasuba yang berasal dari PKS, kemudian ada nama Gubernur Papua Lukas Enembe yang juga terang-terangan menyatakan seluruh kader Partai Demokrat di Papua mendukung pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma&#8217;ruf Amin di Pilpres 2019.</p>
<p>Lukas Enembe yang berasal dari Partai Demokrat juga mengakui bahkan sudah menyampaikan kepada Sekjen partainya bahwa semua kader Demokrat, baik dirinya juga bupati lainya di Papua semua bertekad mendukung Jokowi untuk kembali memimpin di periode kedua.</p>
<p>Selain itu kerapuhan juga muncul dari caleg PAN yang ogah mengampanyekan Prabowo-Sandi. Dalam sebuah kesempatan Sekretaris Jenderal PAN, Eddy Soeparno mengatakan ada calegnya yang enggan mengkampanyekan Prabowo-Sandi. Alasannya, tidak ada keuntungan bagi PAN. <em>Weleh-weleh.</em></p>
<p>Bahkan ada ungkapan yang sangat mengejutkan bahwa di antara caleg PAN yang berjuang di daerah, ada yang mengungkapkan permohonan maafnya kepada ketum dan sekjen partai karena tidak bisa ikut serta dalam menwujudkan pemenangan Prabowo. Sebab, konstituen di daerah tidak sejalan dengan arahan pimpinan pusat PAN. <em>Weleh-weleh.</em></p>
<p>Dan yang terakhir <em>gengs,</em> kecurigaan rapuhnya koalisi Prabowo-Sandi hadir dari Presiden PKS, Sohibul Iman yang mengaku tidak ingin mendukung Prabowo. PKS hanya ingin mengkampanyekan nama Sandi bukan Prabowo! <em>Weleh-weleh.</em></p>
<p>Jangan bilang persoalan PKS malas dukung Prabowo gara-gara enggak dapat jatah Wakil Gubernur DKI Jakarta lagi<em> gengs. Ckckck. </em>Belum apa-apa aja Prabowo-Sandi sudah menunjukkan perpecahan dukungan, gimana mereka terpilih jadi presiden dan wakil presiden ya <em>gengs?</em></p>
<p>Bisa jadi bubar ini negara seperti Uni Soviet dulu!<em> Ckckck, btw </em>kalau menurut kalian gimana<em> gengs? </em>Apa mungkin Prabowo-Sandi bisa menang di Pilpres 2019 meski dukungannya tidak sepenuhnya solid? Atau kalian yakin sama apa yang pernah diungkapkan Amien Rais, bahwa intinya semua kan kuasa langit, jadi kalau langit sudak meridhoi kenapa enggak mungkin Prabowo-Sandi jadi pemimpin RI? (G35)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="dwgieSUKfdM"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/dwgieSUKfdM?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/prabowo-subianto-kiri-didampingi-sandiaga-uno_20180810_103712.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
