<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Sepakbola &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/sepakbola/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Mar 2026 04:08:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Sepakbola &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Elegi di Atas Kaca Como: Saat Alpen Merunduk untuk Kudus</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/elegi-di-atas-kaca-como-saat-alpen-merunduk-untuk-kudus/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2026 04:08:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[alpen]]></category>
		<category><![CDATA[bridge]]></category>
		<category><![CDATA[cengkeh]]></category>
		<category><![CDATA[como]]></category>
		<category><![CDATA[Italia]]></category>
		<category><![CDATA[kudus]]></category>
		<category><![CDATA[michael bambang hartono]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[serie a]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168276</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #10PinterPolitik.com In Memoriam Michael Bambang Hartono “Beliau datang bukan untuk menjajah identitas kami dengan uang, melainkan untuk membelai sejarah kami dengan hormat. Di Como, ia bukan lagi seorang taipan; ia adalah napas yang menghidupkan kembali harapan yang nyaris mati.” [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/como-1-e6eehpv0.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #10</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em><strong>In Memoriam</strong></em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em><strong>Michael Bambang Hartono</strong></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>“Beliau datang bukan untuk menjajah identitas kami dengan uang, melainkan untuk membelai sejarah kami dengan hormat. Di Como, ia bukan lagi seorang taipan; ia adalah napas yang menghidupkan kembali harapan yang nyaris mati.”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kau berdiri di sana. Atau mungkin itu bukan kau, melainkan bayanganmu yang memanjang menyentuh riak Danau Como. Di pegunungan Alpen yang beku, kabut tipis merayap turun seperti ingatan yang enggan beranjak. Kau melihat air itu, hijau dan dalam, membawa hanyut angka-angka, statistik, dan imperium yang selama ini kau panggul di pundakmu. Di tepi ini, semua itu menguap. Hanya tersisa kau, sebatang pinus yang sunyi, dan sebutir air mata yang jatuh tanpa suara ke dalam cermin raksasa Lombardia—seperti sapuan kuas tinta di atas kertas sutra dalam fragmen ingatan Gao Xingjian. Di sini, di mana air danau menyentuh dermaga tua dengan kelembutan sasmita, dunia seolah menahan napas. Namun hari ini, keheningan Lombardia yang agung itu pecah. Bukan oleh guruh badai, melainkan oleh isak kolektif yang merambat pelan dari gang-gang sempit Viale Geno hingga ke tribun kurva Stadion Giuseppe Sinigaglia. Kota ini sedang belajar mengeja arti kehilangan seorang “Ayah” yang jiwanya dipinjamkan Tuhan dari sebuah kota kecil bernama Kudus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti Jalaluddin Rumi yang melihat perpisahan sebagai jembatan menuju penyatuan yang lebih agung, rakyat Como kini sedang menari dalam duka mereka. Lihatlah wajah-wajah suporter Italia—pria-pria dengan tangan kasar yang biasanya hanya mengenal amarah terhadap “asing”—kini berdiri mematung dengan mata sembab. Keangkuhan Eropa itu runtuh di hadapan sebuah kerendahan hati yang subtil. Di kedai-kedai kopi Bar Baradello, para buruh tidak sedang membicarakan angka triliunan; mereka sedang meratapi perginya “Kakek” mereka. Inilah kebajikan tertinggi dari kemakmuran: bukan seberapa besar yang kau miliki, melainkan seberapa dalam kau meninggalkan bekas di hati yang tak pernah memintamu datang. Di saat pemilik klub lain datang dengan gemerlap jet pribadi untuk menjajah harga diri lokal, Michael Bambang Hartono hadir dalam “ketiadaan” yang berisi. Beliau tidak menjajah identitas mereka; beliau membelainya dengan jemari yang tak terlihat. Beliau memperbaiki stadion yang rusak tanpa menghapus kenangan di dalamnya, menghidupkan kembali nadi ekonomi kecil yang hampir mati, dan menyapa sejarah Como dengan respect yang tulus. Air mata masyarakat Como hari ini adalah kristalisasi dari rasa syukur yang perih—sebuah pengakuan bahwa harta paling murni adalah kemampuan untuk merasa “kecil” di hadapan cinta yang tak bersyarat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di meja Bridge, ia adalah pemain yang tahu kapan harus menyimpan kartu trufnya dan kapan harus membiarkan dirinya menjadi <em>vulnerable</em>—terbuka, tanpa perisai, demi harmoni yang subtil. Bukan kemenangan yang bising yang ia kejar di atas papan catur takdir, melainkan satu gerakan kecil yang mengubah keseimbangan seluruh permainan. Lihatlah Cesc Fabregas—sang legenda yang telah menggenggam semua kemegahan dunia—kini berdiri dengan bibir yang gemetar hebat di depan kamera. Dalam istilah Bridge, ini adalah kondisi <em>vulnerable</em> yang absolut. Seorang maestro dunia yang biasanya dingin dalam kalkulasi, kini tersedu karena menyadari bahwa kartu truf hidupnya telah ditarik kembali oleh Sang Pencipta. “Kemenangan ini untuk keluarga Hartono,” ucapnya dengan suara yang pecah. Di titik itulah, ruh dari tulisan ini berdenyut paling kencang. Tidak ada kontrak profesional yang sanggup melahirkan loyalitas sedalam itu. Hanya kasih seorang bapak, seorang <em>Grandfather of Como</em>, yang mampu membuat panggung megah Serie A berubah menjadi ruang duka keluarga yang intim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jauh sebelum ia menatap Alpen, ia adalah anak dari tanah Kudus yang dibasahi aroma cengkeh dan doa-doa sunyi di lereng Muria. Ada benang merah yang magis antara ketenangan mistis Jawa dan kemegahan melankolis Lombardia. Ia membawa sasmita dari timur—sebuah kearifan yang mengajarkan bahwa untuk memenangkan hati dunia, seseorang tidak perlu berteriak. Cukup dengan bekerja dalam senyap, membangun fondasi di atas reruntuhan, dan menghormati setiap jengkal tanah yang ia pijak. Orang-orang Italia itu, yang semula bertanya-tanya siapa lelaki Asia ini, akhirnya menemukan jawaban bukan di dalam dompetnya, melainkan di dalam cara ia memperlakukan warisan mereka. Di bawah bayang-bayang gereja tua dan vila klasik, ruh dari Jawa itu menetap, mengajarkan para suporter yang pernah memandang Asia dengan curiga bahwa cinta tidak butuh paspor—hanya butuh pengabdian yang tanpa suara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keajaiban yang ditinggalkan Michael Bambang Hartono adalah sebuah wahyu filosofis tentang arti “pulang”. Beliau berangkat dari Kudus, membawa ketenangan yang subtil, dan menanamnya di tanah Italia hingga berbunga menjadi cinta yang tulus. Seperti pendaran cahaya di atas salju dalam karya Yasunari Kawabata, keberadaan beliau di Como adalah sebuah estetika kesederhanaan yang menghujam jantung sejarah. Apa yang tersisa ketika kau pergi? Bukan stadion yang megah, bukan pula posisi keempat di klasemen. Yang tersisa adalah “harapan” yang kau tiupkan ke dalam paru-paru kota yang sesak. Warisannya adalah keberanian rakyat Como untuk kembali percaya bahwa mereka berharga. Di sudut jalan, seorang suporter tua meletakkan setangkai bunga mawar biru di depan gerbang stadion, berbisik pada angin bahwa hari ini, Kota Como merasa lebih miskin karena kehilangan orang terkaya di dunia yang paling sederhana. Air mata yang jatuh ke dalam danau hari ini telah menyatu dengan sejarah Como, menjadi satu dengan doa-doa tulus dari mereka yang merasa hidupnya berubah sejak tangan beliau menyentuh kota mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, Michael Bambang Hartono telah melampaui papan catur dan meja Bridge dunia. Beliau telah meletakkan kartu terakhirnya dengan keanggunan seorang sufi yang tahu kapan harus kembali ke pelukan Kekasih Abadi. Namun di setiap sorak-sorai suporter saat lagu Liga Champions bergema nanti di tepi danau, di situ ada pendar ruh beliau yang tersenyum tipis dalam keheningan. Di pelataran itu, di mana bayangan Alpen masih setia menunggu pagi, sebuah tanya puitis berdesir bersama angin, mengikuti arus air mata masyarakatnya yang tak kunjung kering: <em>“Jika keberadaan kita hanyalah sekejap pendar di atas air, bukankah kau telah memilih untuk menjadi pendar yang paling bening, yang cahayanya menembus hingga ke dasar kalbu kami?”</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><em><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/como-1-e6eehpv0.mp3" length="2706092" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/20260327_0919_kontemplasi-di-danau-como_remix_01kmphd1c2ehe9zqwbga3nbj3v-1024x683.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Alat Politik, Sepak Bola “Disepak”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/alat-politik-sepak-bola-disepak/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 29 Dec 2023 07:07:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[infografis]]></category>
		<category><![CDATA[politikdisepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[sepakboladipolitik]]></category>
		<category><![CDATA[sepakbolaindonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=141990</guid>

					<description><![CDATA[Habis manis, sepah dibuang?&#160; Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, sektor olahraga atau secara khusus sepak bola seakan terlupakan. Hal ini terlihat dari tidak adanya tema olahraga, khususnya sepak bola dalam debat atau visi misi para kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Padahal sepak bola sering dijadikan alat politik untuk tingkatkan elektabilitas para [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1018" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-1018x1024.jpg" alt="alat politik sepak bola disepak" class="wp-image-141995" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-1018x1024.jpg 1018w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-298x300.jpg 298w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-150x151.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-768x772.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-300x302.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-696x700.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-1068x1074.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1018px) 100vw, 1018px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Habis manis, sepah dibuang?&nbsp;<img decoding="async" alt="🤨" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f928/32.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, sektor olahraga atau secara khusus sepak bola seakan terlupakan. Hal ini terlihat dari tidak adanya tema olahraga, khususnya sepak bola dalam debat atau visi misi para kandidat calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal sepak bola sering dijadikan alat politik untuk tingkatkan elektabilitas para kandidat. Dengan massa yang cukup besar, sepak bola mempunyai pengaruh yang signifikan bagi para kandidat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">#sepakbola #politikdisepakbola #sepakbolaindonesia #sepakboladipolitik #infografis #pinterpolitik #politikindonesia #beritapolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/alat-politik-sepak-bola-disepak-1018x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Intelijen Israel ‘Tunggangi’ Piala Dunia U-20?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/intelijen-israel-tunggangi-piala-dunia-u-20/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2023 13:52:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Mossad]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia U-20]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=127027</guid>

					<description><![CDATA[Di balik ramainya penolakan timnas U-20 Israel, publik dibanjiri informasi hubungan Indonesia dan Israel yang ternyata cukup intens dalam beberapa dekade terakhir. Mungkinkah ada motif politik di balik fenomena ini?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di balik ramainya penolakan timnas U-20 Israel, publik dibanjiri informasi hubungan Indonesia dan Israel yang ternyata cukup intens dalam beberapa dekade terakhir. Mungkinkah ada motif politik di balik fenomena ini?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Kalian mungkin setuju kalau belakangan Israel sepertinya sedang sering-seringnya dibicarakan warga Indonesia. Bagaimana tidak, beberapa hari lalu perdebatan soal tim nasional (timnas) sepak bola U-20 Israel diduga kuat menyebabkan batalnya penyelenggaraan Piala Dunia U-20 di negara kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, walaupun topik inti dari perdebatan soal Israel belakangan ini lebih ke persoalan pemisahan antara olahraga dan politik, ada satu hal menarik yang juga ikut muncul tapi sepertinya tidak terlalu disadari orang-orang. Dan itu adalah upaya warganet dan media untuk membuktikan bahwa di balik amarah yang ditunjukkan sejumlah masyarakat kita pada Israel, sebenarnya negara kita memiliki hubungan ‘rahasia’ dengan negara Zionis tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu hal yang sangat menarik adalah informasi bahwa Indonesia ternyata memiliki hubungan perdagangan yang cukup kuat dengan Israel. Diperoleh dari beberapa sumber, kuatnya perdagangan kedua negara ini bisa dilacak setidaknya sampai tahun 1970-an. Saat itu, Israel membutuhkan impor batu bara dari negara kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semenjak itu, data dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) menunjukkan bahwa setiap tahunnya nilai perdagangan Indonesia-Israel selalu mencapai angka ratusan juta dollar. Data terakhir tahun 2022 menunjukkan total perdagangan kita dengan Israel mencapai US$185,6 juta (Rp2,8 triliun).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain perdagangan, publik juga akhirnya mengetahui bahwa Indonesia ternyata kerap memesan senjata dan alutsista dari Israel, contohnya pesawat jet A-4 Skyhawks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun data-data yang diungkapkan antara Indonesia dan Israel tidak semata-mata bisa kita artikan bahwa Indonesia diam-diam merupakan negara ‘sahabat’ Israel, terungkapnya informasi ini setidaknya mampu membuat banyak rakyat sadar bahwa hubungan dengan Israel mungkin tidak perlu kita benci secara berlebihan. Ini kemudian dibuktikan dengan adanya kubu yang tidak mempermasalahkan bila timnas Israel datang ke Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tidak ada salahnya jika kita bertanya, mungkinkah ada motif politik tersembunyi yang menunggang di balik hebohnya kabar tentang penolakan timnas U-20 Israel?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1068" height="1335" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-4.png" alt="image 4" class="wp-image-127030" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-4.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-4-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-4-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-4-1920x2400.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-4-336x420.png 336w" sizes="(max-width: 1068px) 100vw, 1068px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Aksi Intelijen Media Israel?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Puluhan tahun setelah Perang Dunia II berakhir, dunia kita masih dibayang-bayangi persaingan geopolitik yang sewaktu-waktu bisa pecah menjadi perang terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain Ukraina yang saat ini sedang berperang melawan Rusia, sejumlah negara-negara Timur Tengah (Timteng) terlebih dahulu senantiasa terancam konflik mematikan. Tentunya, satu perselisihan antar negara di Timteng yang pantas untuk kita jadikan contoh adalah antara Israel dan Palestina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina memiliki konteks yang lebih luas dari sekadar kawasan Timteng semata. Seperti yang diketahui, negara-negara di dunia juga kerap dikubukan menjadi dua sisi, yakni sisi yang mendukung Israel dan sisi yang mendukung Palestina. Oleh karena itu, citra internasional menjadi variabel yang sangat penting bila Israel ataupun Palestina ingin mendapatkan dukungan yang lebih besar dari satu sama lain</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah,</em> di era yang modern seperti sekarang ini, mungkin tidak ada hal yang lebih krusial dalam citra internasional selain media. Terkait itu, penting untuk kita ketahui bahwa badan intelijen Israel, Mossad kebetulan memiliki sebuah konsep komunikasi publik yang bernama <em>hasbara</em>. Konsep ini bertujuan menciptakan operasi-operasi intelijen Israel agar komunitas internasional, khususnya negara Islam, bisa menoleransi keberadaan Israel dalam politik internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dugaan salah satu operasinya yang bisa dengan mudah kita curigai adalah penekanan sejumlah sisi baik tentang Israel kepada publik. Strategi ini diduga dilakukan dengan cara melakukan <em>boosting</em> penyebaran informasi bahwa negara yang sedang ditargetnya ternyata tidak seantagonistik yang awalnya dikira mayoritas masyarakatnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini salah satunya dikonfirmasi oleh seorang jurnalis bernama Ramzy Baroud dalam artikel I<em>srael targets media because it wants its propaganda campaign to continue</em>, yang mengatakan bahwa selama beberapa dekade ke belakang, pemerintah Israel selalu melihat pertempuran memenangkan persepsi publik sebagai salah satu hal yang paling penting untuk mendapatkan dukungan internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dugaan ini benar, maka intelijen Israel sepertinya mendalami strategi propaganda yang disebut <em>fabrication of consent</em> atau fabrikasi persetujuan, yang dipopulerkan oleh Edward S. Herman dan Noam Chomsky, dalam buku mereka berjudul <em>Manufacturing Consent</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Singkatnya, strategi ini mengandalkan pembentukkan opini publik melalui media massa agar masyarakat secara tidak sadar mewajarkan hal-hal fundamental dari suatu agenda politik agar nantinya bila agenda tersebut digerakkan, masyarakat akan melumrahkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu indikator yang membuat kita pantas mencurigai peran intelijen di balik terkuaknya hubungan Indonesia-Israel dalam isu Piala Dunia U-20 juga adalah karena ia muncul saat Indonesia sedang dilanda perdebatan besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ruben Durante dalam karya ilmiahnya <em>Attack When the World Is Not Watching? U.S. News and the Israeli-Palestinian Conflict</em>, menyebutkan bahwa Israel memang sering menunggangi kepentingannya ketika dunia sedang disibukkan dengan berita lain. Hal ini dilakukan agar informasi mendasar yang sebenarnya ingin disampaikan intelijen Israel bisa ‘menyelinap’ di balik isu yang saat itu dianggap lebih penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Amerika Serikat (AS) misalnya, Durante menemukan bahwa perbincangan tentang Israel kerap meningkat ketika public sedang terfokus pada isu skala nasional seperti <em>event </em>olahraga SuperBowl, inflasi, dan bencana alam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, dalam konteks perdebatan Piala Dunia U-20, kita bisa lihat sendiri bagaimana mayoritas dari kita mungkin hanya melihat fakta-fakta hubungan rahasia Indonesia-Israel sebagai informasi suplementer saja untuk mendukung argumen bahwa timnas Israel sebetulnya layak diterima untuk bertanding di Indonesia. Secara tidak sadar, taktik seperti ini mampu membuat orang-orang menyetujui nilai positif Israel secara sedikit demi sedikit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam jangka panjang, informasi yang didapatkan ini bisa menjadi <em>top of mind</em> atau pikiran pertama yang terlintas dalam benak masyarakat Indonesia ketika nantinya kembali muncul perdebatan soal Israel. Bisa jadi, tujuan besarnya sebetulnya adalah menciptakan rasa persetujuan bila Indonesia nantinya dihadapkan perbincangan tentang normalisasi hubungan diplomasi dengan Israel. Satu hal yang memang kerap dianggap sebagai misi besar Israel hingga saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kalau dugaan-dugaan ini memang benar, mungkinkah strategi ala <em>fabrication of consent</em> ini berjalan efektif?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1068" height="1285" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-5.png" alt="image 5" class="wp-image-127031" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-5.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-5-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-5-696x837.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-5-1920x2310.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-5-349x420.png 349w" sizes="(max-width: 1068px) 100vw, 1068px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Hampir Sudah Pasti Efektif?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut data dari DataReportal, pada tahun 2023 ini Indonesia adalah negara yang peringkat keempat dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia dengan angka 212 juta orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari angka tersebut menurut survei Kementerian Informasi dan Komunikasi (Kominfo), 66,31 persen masyarakat Indonesia menggunakan gawai sebagai perangkat internet dan media sosial. 70,95 persen di antara para pengguna gawai tersebut berusia antara 20 sampai 29 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Jennyfer dalam tulisannya <em>Bagaimana Media Sosial Bisa Mengubah Pola Pikir Orang?</em>, menyebutkan bahwa usia ternyata sangat mempengaruhi pembentukan pola pikir seseorang dalam media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, orang-orang usia muda adalah pengguna media sosial yang paling rentan dipengaruhi oleh informasi yang beredar di sosial. Karena pengalamannya yang minim, seringkali pengguna usia muda terkagum-kagum pada hal-hal yang sifatnya komplementer dibandingkan esensial sari informasi yang tersampaikan. Sebagai contoh, kita kerap lebih tertarik mengetahui <em>fun facts</em> tentang sesuatu yang disampaikan melalui video pendek dibanding video sejarah yang panjangnya bisa sampai satu jam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai dampak tidak langsungnya, orang-orang usia muda yang menjadi mayoritas dari penduduk digital juga sering jadi kelompok yang paling vokal dalam menyuarakan pendapatnya di media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, kembali pada konteks dugaan operasi intelijen media Israel, dengan adanya fenomena ini, bisa kita artikan bahwa probabilitas suksesnya infiltrasi kepentingan Israel dalam menciptakan <em>fabrication of consent</em> di masyarakat Indonesia sesungguhnya sangat besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anak-anak muda mungkin menganggap informasi baru yang didapatkannya membuat dirinya sebagai seseorang yang progresif, tapi di saat yang bersamaan mereka tidak akan pernah tahu informasi yang diperolehnya itu mungkin sebenarnya bagian dari sebuah bahan propaganda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai dampaknya, kelompok pada level usia muda Indonesia pun bisa menjadi ‘agen’ yang paling efektif dalam menyebarkan konten-konten yang mampu membuat orang melumrahkan hubungan Indonesia dan Israel. Kalau sudah begitu, sepertinya misi normalisasi kedua negara ini tidak lagi jadi suatu hal yang mustahil, karena bisa saja akhirnya rakyat menyetujuinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, pada akhirnya penting untuk kita catat bahwa semua ini hanyalah dugaan semata. Kita tidak bisa secara pasti menyebut fenomena terkuaknya hubungan Indonesia-Israel adalah akibat peran intelijen, tapi kita pun tidak bisa membantah bahwa hal ini adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang jelas, internet dan media sosial adalah dunia yang penuh dengan propaganda. Hanya diri kita yang bisa kita andalkan untuk memisahkan mana informasi yang benar-benar berguna untuk kita dan mana yang tidak. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="nr5Sm7p1lxY"><iframe loading="lazy" title="TNI Jauh Lebih Kuat, GFP Tak Akurat?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/nr5Sm7p1lxY?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/xxl-1200x630-1024x538.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kasus Israel, Indonesia Standar Ganda?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kasus-israel-indonesia-standar-ganda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R87]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Apr 2023 01:13:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[FIFA]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[Palestina]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia U-20]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=126831</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa hari lalu, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi membatalkan Piala Dunia U-20 di Indonesia. Pembatalan ini diduga karena penolakan timnas Israel untuk datang ke Indonesia, yang dilakukan sejumlah ormas, parpol hingga pejabat daerah. Lalu, kenapa kita sampai berani untuk menolak timnas Israel? Dan apakah tindakan tersebut tepat?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Beberapa hari lalu, Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) resmi membatalkan Piala Dunia U-20 di Indonesia. Pembatalan ini diduga karena penolakan timnas Israel untuk datang ke Indonesia, yang dilakukan sejumlah ormas, parpol hingga pejabat daerah. Lalu, kenapa kita sampai berani untuk menolak timnas Israel? Dan apakah tindakan tersebut tepat?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><strong>“Kebutuhan politik terkadang berubah menjadi kesalahan politik”- George Bernard Shaw</strong></p>
</blockquote>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Mimpi untuk menyaksikan timnas berlaga dalam ajang piala dunia seketika sirna, setelah Federasi Sepak Bola Internasional<strong> (</strong>FIFA) lewat <em>website</em> resminya menyatakan Indonesia tidak lagi menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Walaupun hanya dalam level junior, tentu ini adalah sebuah kesempatan besar bagi timnas kita untuk memiliki pengalaman bermain di level dunia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun keanggotaan Indonesia perlu disyukuri karena statusnya sebagai tuan rumah, kesempatan ini adalah kesempatan yang begitu nyata. Justru karena timnas kita belum sanggup menjadi tim papan atas di level Asia, pembatalan ini menjadi semakin menyakitkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Awal dari bencana ini dimulai semenjak FIFA membatalkan <em>drawing </em>untuk kompetisi tersebut. Pembatalan yang hanya berjarak beberapa hari saja dari jadwal<em> drawing</em> pada 31 Maret, merupakan sinyal kuat atas kemungkinan pembatalan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditarik ke belakang, gelombang penolakan atas kedatangan timnas Israel diduga kuat adalah penyebab utamanya. Terlebih, ketika Gubernur Bali dan Jawa Tengah kompak menyuarakan penolakan, padahal daerah mereka adalah tempat penyelenggaraan juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan FIFA ini tentu dapat dipahami, karena keselamatan dari timnas Israel yang mungkin sangat riskan. Terlebih, jika kita berkaca pada tragedi Kanjuruhan, maka potensi kerusuhan dapat dipertimbangkan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, pertanyaannya adalah, kenapa ada beberapa pihak yang begitu keras menolak timnas Israel?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1300" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1.png" alt="image 1" class="wp-image-126835" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1-696x837.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1-1068x1285.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1-1920x2311.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1-348x420.png 348w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sebuah Sikap Primordialisme?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Penolakan atas timnas Israel sendiri bisa diasumsikan didasari alasan kemanusiaan dan alasan historis yang berkaitan dengan konflik Israel dan Palestina. Rekam jejak penolakan itu sudah tercermin di masa Orde Lama, dimana Presiden Soekarno memang sangat anti terhadap Israel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, sikap tegas bung karno ditunjukkan ketika Indonesia rela gagal lolos ke Piala Dunia karena menolak untuk bertanding dengan Israel pada kualifikasi Piala Dunia 1958. Kemudian bung karno juga menolak untuk mengundang Israel dalam Asian Games tahun 1962, yang berujung ditangguhkannya keanggotaan Indonesia di IOC (<em>International Olympic Committee</em>).&nbsp;&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, bung karno bahkan membuat Indonesia keluar dari keanggotaan IOC dan membuat olimpiade tandingan, yaitu GANEFO (<em>Games of New Emerging Force</em>), yang sayangnya tidak bertahan lama.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena alasan-alasan diatas, para penolak itu mendasarkan sikapnya, akan tetapi kalau memang demikian, maka di satu sisi sebenarnya bisa dibilang masih banyak masyarakat Indonesia yang terjebak dalam “kehebatan” Indonesia di masa lalu, yang sebenarnya tidak sepenuhnya benar.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perlu kita sadari bersama bahwa kondisi dunia saat ini semakin kompleks, terlebih untuk isu Palestina dan Israel. Bahkan banyak negara-negara Arab dan Islam yang justru menormalisasikan hubungan dengan Israel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, sikap penolakan terhadap timnas Israel bisa dibilang lahir dari primordialisme agama yang telah berkembang lama. Primordialisme sendiri adalah sebuah sikap atau pandangan yang memegang teguh nilai nilai yang dibawa sejak lahir, yang bersumber dari adat, tradisi atau agama. Menurut William G. Sumner, primordialisme adalah rasa persaudaraan yang muncul dalam sebuah kelompok, dan ditunjukkan dengan saling membantu dan menunjukkan rasa solidaritas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Isu Palestina di Indonesia sendiri memang lebih melekat kepada kaum Muslim. Meski nyatanya konflik di sana bukanlah sebuah konflik agama, namun motivasi yang dibawa oleh sebagian besar pembela Palestina di Indonesia didasarkan pada rasa ke-Islaman yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin bagi sebagian orang pandangan yang primodialistik ini bisa dibenarkan, tapi, apakah kita bisa wajarkan sentimen seperti ini?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image.png" alt="image" class="wp-image-126834" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-1920x2400.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/image-335x420.png 335w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Standar Ganda Indonesia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dibentuknya sebuah organisasi internasional tentunya didasari oleh tujuan untuk menciptakan perdamaian dan keadilan diantara negara negara anggotanya. Namun dalam prakteknya, akan selalu hadir kekuatan dominan yang lebih superior. Kondisi ini nantinya akan membawa kepada “diskriminasi” pada pihak lain, dan <em>privilege</em> lebih bagi kekuatan dominan tersebut.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini juga terjadi di FIFA, yang dalam banyak hal masih terdapat perbedaan perlakuan terhadap negara negara anggotanya. Kelompok Barat yang merupakan kekuatan dominan di FIFA memiliki lebih banyak pengaruh pada organisasi tersebut. Contoh paling nyata adalah antara Rusia dan Israel, di mana terjadi standar ganda dalam perilaku agresif mereka kepada negara lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Standar ganda sendiri adalah sebuah pandangan atau sikap berbeda dalam memandang dua kasus yang sama. Dalam hal Rusia dan Israel misalnya,&nbsp; FIFA melakukan standar ganda dengan mengenakan sanksi pada Rusia ketika Piala Dunia Qatar 2022, akan tetapi Israel tetap diberikan izin selama bertahun-tahun seakan politik memang terpisah dari olahraga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun tidak adil, tapi itu adalah realitas dari sebuah organisasi internasional, dengan kekuatan dominan di dalamnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, bukankah sejatinya semua pihak menerapkan standar ganda dalam hidupnya? Contoh kecil adalah ketidakmampuan orang tua untuk mengakui anaknya salah, padahal jika orang lain yang melakukan, maka dialah yang paling lantang berkata salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenarnya, Indonesia pun melakukan standar ganda dalam memandang Rusia dan Israel. Meski faktanya sama-sama pihak agresor, dibandingkan dengan Israel yang mendapat kesan negatif, Rusia justru dipandang sebagai pahlawan yang membela kehormatan dan kepentingan nasionalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Radityo Dharmaputra, peneliti studi Rusia dan Eropa Timur jurusan Hubungan Internasional Universitas Airlangga, kecenderungan beberapa masyarakat Indonesia tersebut didasari oleh sikap anti-Israel dan anti-Barat. Sikap tersebut semakin besar pasca kampanye “perang melawan teroris” yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam memandang Israel sendiri, Indonesia juga melakukan “tebang pilih”. Dalam beberapa sektor, Indonesia justru menjalin hubungan dengan Israel. Pada tahun 2022 saja, nilai impor Indonesia dari Israel menyentuh angka USD47,8 juta, dan nilai impor menyentuh angka USD185, 6 juta. Sedangkan pada zaman Orde Baru, TNI AU pernah melakukan operasi Alpha untuk membeli A4 Skyhawk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi olahraga, atlet Israel di kejuaraan sepeda dan bulutangkis juga pernah datang untuk berlaga di Indonesia. Sehingga penolakan ini yang didasarkan pada standar ganda FIFA tidak relevan, jika kita sendiri melakukan standar ganda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, sudah seharusnya kita beradaptasi dengan kondisi dunia saat ini, di mana Indonesia tidak bisa memaksakan pendiriannya tanpa pertimbangan yang jelas. Sikap Bung Karno di masa lalu memang perlu terus kita ingat, tapi kita juga harus sadar bahwa perkembangan zaman terus terjadi, contohnya saat beberapa negara Arab saat ini justru melakukan normalisasi dengan Israel.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sepertinya benar jika kita memang harus bisa menempatkan pembelaan Palestina di bawah kepentingan nasional kita sendiri. Karena dampak positif dari penyelenggaraan Piala Dunia U-20 bagi rakyat kita amatlah besar. Bahkan, bagi perjuangan bagi Palestina itu sendiri juga sangat besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, sepatutnya kita bisa lebih cermat dalam memperjuangkan Palestina dan kepentingan Indonesia dalam dunia internasional yang telah didominasi dan terkonstruksi oleh Barat. Memperjuangkan kepentingan negara lain, tak harus mengorbankan kepentingan negara kita. (R87).&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="wUWS8IBVdIs"><iframe loading="lazy" title="Ini Cara Partai Buruh Berkuasa" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/wUWS8IBVdIs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/04/Kasus-Israel-Indonesia-Standar-Ganda.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Chelsea Jadi Benih &#8216;Revolusi&#8217; Inggris?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/chelsea-jadi-benih-revolusi-inggris/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Mar 2023 13:50:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[chelsea fc]]></category>
		<category><![CDATA[Chelsea Foundation]]></category>
		<category><![CDATA[Clash of Civilization]]></category>
		<category><![CDATA[Islamphobia]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=126744</guid>

					<description><![CDATA[Acara iftar terbuka yang digelar Chelsea disoroti publik lantaran klub sepakbola elite Inggris tersebut jadi yang pertama menggelar acara buka puasa di Premier League. Bagaimana kacamata politik melihat fenomena ini?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Acara iftar terbuka yang digelar Chelsea disoroti publik lantaran klub sepakbola elite Inggris tersebut jadi yang pertama menggelar acara buka puasa di Premier League. Bagaimana kacamata politik melihat fenomena ini?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Bulan suci Ramadan telah tiba! Buat kalian yang merayakannya, mungkin suasana bulan puasa ini mampu memunculkan rasa nostalgia yang hangat, karena bulan yang sangat spesial untuk umat Muslim ini identik dengan acara-acara kebersamaan seperti buka bersama (bukber) dan <em>sahur on the road</em> (SOTR). Tidak lupa, acara kumpul keluarga yang kerap dilakukan setelah Idul Fitri nanti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan tentu, rasa kebersamaan tersebut tidak hanya dirasakan di negara-negara mayoritas Muslim saja. Di Inggris misalnya, beberapa hari lalu ramai dibicarakan acara iftar terbuka yang digelar salah satu klub sepakbola top liga Premier League, yakni Chelsea Football Club (FC).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam acara tersebut, Chelsea tidak hanya mengundang penggemarnya yang beragama Islam, tetapi juga komunitas-komunitas Muslim secara keseluruhan di Inggris untuk santap bersama setelah azan Magrib di Stadion Stamford Bridge.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang paling menarik dari acara tersebut adalah Chelsea secara resmi telah menjadi klub sepakbola pertama di Premier League yang menggelar acara buka puasa bersama di stadionnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lord Daniel Finkelstein OBE, Ketua Chelsea Foundation, mengatakan hal ini dilakukan demi mempromosikan inklusivitas antara penggemar Chelsea. Pergelaran iftar bersama ini juga menjadi bagian dari kampanye inklusivitas mereka yang berjudul <em>No To Hate</em>, yang bertujuan memperkenalkan sisi-sisi yang sebenarnya dari kehidupan masyarakat beragama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di satu sisi, acara iftar yang digelar oleh Chelsea ini juga menyimpan makna sosio-politis yang cukup mendalam, mengingat Inggris adalah salah satu negara Eropa yang memiliki catatan sejarah diskriminasi terhadap kaum Muslim. Bahkan, menurut analisis yang dilakukan Universitas Birmingham dan lembaga analisis data YouGov pada tahun 2022, komunitas Muslim adalah komunitas yang paling sering mendapatkan diskriminasi di Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu dari beberapa alasan munculnya diskriminasi tersebut adalah karena banyak orang asli Inggris yang melihat meningkatnya imigran Muslim sebagai ancaman terhadap berbagai aspek kehidupan mereka, contohnya seperti lapangan pekerjaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Yap</em>, Islamofobia di Inggris memang telah menjadi permasalahan yang kerap disoroti publik dan beberapa kali terselip melalui cerita-cerita yang disampaikan para diaspora Indonesia yang berkiprah di negara kepulauan Eropa tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, bagaimana kita bisa mengambil makna dari pergelaran Iftar yang dilakukan Chelsea, dan korelasinya dengan persoalan Islamofobia di Inggris?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-32-1024x1024.png" alt="image 32" class="wp-image-126748" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-32-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-32-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-32-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-32-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-32-2048x2048.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pembuktian Teori Huntington?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Populasi umat Muslim di Inggris semakin bertambah banyak.&nbsp; Menurut survei yang dilakukan British Religion in Numbers (BRIN), jumlah populasi Muslim pada tahun 1961 hanya 50.000 orang, tapi pada tahun 2021 umat Muslim di sana sudah mencapai angka 3.868.133 atau 6,5 persen dari total populasi Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara sekilas, mungkin wajar saja jika kita berasumsi bahwa iftar yang digelar Chelsea adalah respons alamiah terhadap semakin bertambahnya populasi Muslim, akan tetapi, sepertinya pergelaran tersebut memiliki makna yang lebih mendalam dari sekadar reaksi terhadap populasi semata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ilmuwan politik, Samuel P. Huntington dalam tulisannya <em>The Clash of Civilizations</em>, sempat memprediksi bahwa latar belakang kultural dan identitas keagamaan akan jadi fitur utama dari dinamika peradaban di masa depan. Dalam bukunya tersebut, Huntington bahkan menyebutkan perang-perang di masa depan akan terbentuk dari aliansi yang didasarkan pada preferensi budaya dan agama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Huntington pun menjelaskan setidaknya beberapa alasan kuat mengapa hal itu bisa terjadi. <em>Pertama</em>, adalah karena signifikansi identitas agama mendahului ide dari negara-bangsa itu sendiri. Selama ribuan tahun, identitas manusia terbentuk oleh agama yang dianutnya, sementara, konsep negara-bangsa baru dilegitimasi pada abad ke-17 melalui Perjanjian Westphalia. Akibatnya, masyarakat akan selalu merasa lebih terikat pada agama dibanding negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, karena modernisasi ekonomi dan perubahan sosial, masyarakat dunia semakin terpisah dari identitas lokal yang sudah lama ada. Sebaliknya, agama semakin mampu mengisi kesenjangan tersebut, yang kemudian juga menjadi dasar bagi identitas yang melampaui batas-batas negara dan mempersatukan peradaban beberapa bagian peradaban di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, adalah yang Huntington sebut sebagai kemunculan <em>civilization consciousness</em> atau kesadaran peradaban. Di era yang semakin terbuka dan terkoneksi ini, orang-orang semakin menyadari bahwa makna perbatasan sebuah negara semakin tidak relevan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara terbukti kehilangan sejumlah kekuatannya di beberapa sektor, seperti ekonomi misalnya, dan aktor-aktor negara memiliki pengaruh politik yang semakin kuat. Oleh karena itu, muncul-lah sebuah fenomena sosial di masyarakat di mana orang menyadari bahwa identitas yang perlu diperjuangkan adalah identitas kultural dan agama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, faktor-faktor yang mendorong semakin populernya identitas agama ini sepertinya bisa kita refleksikan ke fenomena iftar terbuka yang digelar Chelsea.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diskriminasi yang sedemikian tingginya di Inggris akhirnya justru malah membuat sebuah entitas yang diisi orang-orang multikultural seperti Chelsea untuk mengesampingkan sentimen hiper-nasionalis, dan mempromosikan identitas agama sebagai sesuatu yang mungkin posisinya bisa dilihat ‘di atas’ perseteruan berbasis nasionalisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa jadi, apa yang dilakukan Chelsea adalah sebagai bukti dari munculnya benih-benih kemuakan masyarakat Inggris terhadap batasan-batasan yang selama ini memisahkan sejumlah elemen warga yang hidup di sana. Dengan bertaruh pada narasi persatuan umat beragama, Chelsea Foundation akhirnya memilih untuk mengesampingkan sekat-sekat tersebut demi meraup dukungan pada tim sepakbola mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu, kita tidak bisa dengan gamblang menyebut bahwa ini adalah bukti kuat bahwa apa yang diprediksi Huntington telah menjadi kenyataan, tapi setidaknya kita bisa mengambil makna bahwa mungkin saja hal kecil yang dilakukan Chelsea ini akhirnya akan memicu semacam <em>butterfly effect </em>atau efek beruntun yang juga bisa mendorong klub-klub Premier League lain untuk melakukan hal yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam skema yang lebih besar, ini bisa menjadi sebuah gerakan sosial besar di Inggris, terlebih lagi olahraga adalah salah satu aspek kehidupan yang paling berpengaruh di sana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kalau hal itu memang benar, maka ada satu hal penting lain yang juga perlu kita perhatikan, yakni mungkinkah fenomena ini akhirnya memantik sebuah konflik sosial?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1068" height="1285" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-31.png" alt="image 31" class="wp-image-126747" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-31.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-31-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-31-696x837.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-31-1920x2310.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/image-31-349x420.png 349w" sizes="auto, (max-width: 1068px) 100vw, 1068px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bentuk Baru Demokrasi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu fitur yang paling disoroti Huntington dalam tulisannya <em>Clash of Civilizations</em> tadi adalah ia memprediksi bahwa menguatnya sentimen identitas kultural dan agama akan mengesampingkan kepentingan politik tradisional dalam eskalasi konflik. Hal ini karena adanya hukum alamiah konflik sosial, yakni perjuangan masyarakat untuk mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau prediksi Huntington itu memang benar, maka fenomena menguatnya identitas keagamaan di Inggris bisa saja akan mengakibatkan gesekan-gesekan sosial, terlebih lagi pada kelompok konservatif sayap kanan di Inggris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Amartya Sen dalam tulisannya <em>Democracy as a Universal Value</em>, mengkritisi prediksi Huntington tadi. Sen mengatakan bahwa memang betul perbedaan identitas akan terus ada di masyarakat, tetapi&nbsp; ia melihat itu malah sebenarnya akan menjadi salah satu bentuk transformasi demokrasi modern. Dengan berefleksi pada Revolusi Industri dan Era Pencerahan, Sen menilai bahwa selama ada struktur demokrasi yang kuat, perselisihan identitas akan tetap terjaga dengan baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut karena Sen menilai demokrasi pada dasarnya akan selalu memiliki nilai sebagai unsur kehidupan yang universal. Perbedaan identitas tidak lain hanyalah akan menjadi tantangan terbaru dalam peradaban manusia yang akhirnya akan terlintas dengan begitu saja meskipun mungkin pada awalnya terlihat akan penuh dengan benturan keras.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, kembali melihat fenomena iftar terbuka oleh Chelsea dan menguatnya identitas Muslim di Inggris, sangat wajar bila suatu saat dinamika sosial tersebut akan mendapat semacam penolakan dari lapisan masyarakat tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, merefleksikan dengan apa yang dikatakan Sen, mungkin kita jangan melihatnya dari sisi buruknya saja, tapi sebagai sisi positif di mana perbedaan berlandaskan ide yang begitu rentan kekerasan seperti identitas lokal akhirnya mendapatkan kesempatan untuk digantikan dengan ide yang lebih universal seperti identitas kultural.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, pada akhirnya tentu ini hanya interpretasi belaka. Yang jelas, memang menarik bila kita ikuti perkembangan sosial dan budaya di Eropa saat ini. Sejumlah pengamat memprediksi bahwa era keemasan budaya dan agama di Eropa akan bangkit kembali. <em>Hmm</em>, benarkah hal tersebut? Kita simak saja. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="wUWS8IBVdIs"><iframe loading="lazy" title="Ini Cara Partai Buruh Berkuasa" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/wUWS8IBVdIs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/03/chelsea-mulai-revolusi-inggris-1024x770.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kenapa FIFA Mudah Dipolitisasi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/kenapa-fifa-mudah-dipolitisasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2022 08:53:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[FIFA]]></category>
		<category><![CDATA[Korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[Piala Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=119675</guid>

					<description><![CDATA[Piala Dunia Qatar 2022 diterpa banyak isu. Unsur politik begitu kuat di belakangnya. Mengapa politisasi bisa dengan mudah terjadi di FIFA? ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Piala Dunia Qatar 2022 diterpa banyak isu. Unsur politik begitu kuat di belakangnya. Mengapa politisasi bisa dengan mudah terjadi di FIFA?</strong>&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PinterPolitik.com</a>&nbsp;</p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Piala Dunia! <em>Event</em> olahraga terbesar di dunia itu akhirnya tiba juga. Miliaran&nbsp;pasang mata kini terfokus pada Qatar untuk melihat aksi serta hiburan dari Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Kylian Mbappe, dan kawan-kawan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sayangnya, acara yang digelar oleh Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) kali ini tampak lebih panas dibanding <em>event</em> Piala Dunia sebelum-sebelumnya. Kalau liat media sosial, pasti kalian sadar bahwa acara yang sedang digelar di Qatar saat ini diterpa isu-isu besar, seperti pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pemojokkan terhadap kaum LGBTQ+, terlalu besarnya biaya yang digelontorkan, dan lain-lain. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang lebih menariknya, banyak pihak justru&nbsp;mempertanyakan alasan pertama kenapa Qatar bisa terpilih jadi tuan rumah Piala Dunia, karena umumnya seorang tuan rumah adalah negara yang tim nasionalnya (timnas) pernah bertanding di acara tersebut, lalu memiliki penggemar yang besar dan –meskipun tidak wajib- punya liga domestik yang terkenal dan ‘prospektif’ secara ekonomi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi, pemilihan Qatar sebagai tuan rumah membantah semua poin itu. Mantan Bos FIFA, Sepp Blatter pada tahun 2013 bahkan pernah membocorkan pada publik bahwa keputusan Dewan Eksekutif FIFA memilih Qatar ketika&nbsp;tahun 2010 adalah karena mereka memiliki kepentingan ekonomi yang besar di sana.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yap, Piala Dunia di Qatar lagi-lagi&nbsp;jadi bukti bahwa sepertinya FIFA dan penyelenggaraan Piala Dunia sangat kental dengan unsur politisasi. Kira-kira mengapa ya asosiasi sepakbola terbesar dunia tersebut bisa sampai demikian?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="851" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128.png" alt="image 128" class="wp-image-119678" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128.png 851w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128-249x300.png 249w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128-125x150.png 125w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128-768x924.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128-696x837.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-128-349x420.png 349w" sizes="auto, (max-width: 851px) 100vw, 851px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph"></p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Rentan Korupsi Sejak Awal?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum kita jawab pertanyaan di atas,&nbsp;kita perlu telusuri dulu sejarah FIFA. Ketika awal didirikan pada tahun 1904, FIFA hanya diniatkan sebagai asosiasi yang mengurus persepakbolaan negara-negara Eropa dan Amerika Selatan (Amsel) karena saat itu hanya negara-negara di kawasan ini yang punya antusiasme tinggi terhadap sepakbola.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Piala Dunia pertama kemudian diselenggarakan pada tahun 1930 di Uruguay. Kemudian, dalam beberapa dekade, posisi tuan rumah digilir antara negara-negara Eropa dan Amsel. Iyess, Piala Dunia pada awalnya tidak pernah dijadikan sebagai suatu <em>event</em> global.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, semua itu berubah ketika Piala Dunia ditampilkan melalui&nbsp;televisi pada tahun 1950-an. Sejak itu, negara-negara dari berbagai benua ikut tertarik menjadi bagian dari sebuah acara olahraga internasional. Apalagi Piala Dunia secara historis terbukti memberikan keuntungan ekonomi yang luar biasa, utamanya dari <em>ticketing</em>, akomodasi, dan pemasaran.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari situlah bibit korupsi FIFA dimulai. Penyelenggaraan Piala Dunia tidak hanya memberikan citra kekuatan yang besar pada negaranya, tapi juga pada orang yang membuat hal itu menjadi kenyataan. Oleh karena itu, dorongan menjadi tuan rumah FIFA juga terjadi akibat ambisi politisi negara yang mendaftarkannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Agar suatu negara bisa terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia,&nbsp;mereka harus dipilih oleh suatu&nbsp;badan eksekutif di FIFA yang disebut <em>FIFA Council </em>atau Dewan FIFA. Jumlah anggota dewan ini hampir berubah setiap beberapa periode, tapi untuk sekarang mereka berjumlah 37 orang termasuk dengan Presiden FIFA. Dewan inilah yang kemudian sering dijuluki “dewa-dewa sepakbola”.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jurnalis kawakan sepakbola Inggris, James Corbett, menyebutkan bahwa dalam menentukan siapa yang jadi tuan rumah Piala Dunia tidak pernah ada yang namanya kontestasi adil, karena segala keputusannya pasti&nbsp;sudah diputuskan di balik layar oleh para anggota dewan tadi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini bisa terjadi karena agar para “dewa” tersebut mengamini keputusan negara yang menawarkan diri jadi tuan rumah, mereka tidak hanya bisa menawarkan antusiasme terhadap sepakbola yang ada di negaranya, tapi juga&nbsp;perlu membuat Dewan FIFA kagum. Ini kemudian dilakukan dengan melakukan sejumlah kampanye hubungan masyarakat yang menelan biaya jutaan dollar, pembangunan&nbsp;stadium dan hotel yang mewah, dan eksposur televisi/media. Hal ini umumnya disebut sebagai <em>public bid</em>.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Proses <em>bidding</em> ini pun tidak main-main. Setiap kali FIFA menggelar pembukaan penawaran tuan rumah Piala Dunia, tokoh- tokoh politik besar dari seluruh dunia juga kerap&nbsp;hadir. Ini dibuktikan ketika pemilihan Piala Dunia 2018 dan 2022 yang diselenggarakan pada tahun 2010, yang dihadiri mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Bill Clinton, Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte, dan Pangeran William dari Inggris.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, meski pada saat itu acara dihadiri oleh para tokoh politik besar negara-negara Barat, Piala Dunia 2018 dan 2022 akhirnya malah dimenangkan oleh Rusia dan Qatar. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, kalau memang benar kemudian pemilihan tuan rumah Piala Dunia ditentukan oleh kepentingan politik dan ekonomi, kira-kira mungkinkah serangan kritik terhadap Piala Dunia Qatar 2022 muncul dari&nbsp;pihak-pihak yang kalah dalam proses pemilihan tuan rumah pada 2010? <em>Well,</em> kita serahkan jawabannya ke penalaran masing-masing saja ya. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="saXER7ZOMFg"><iframe loading="lazy" title="Hendropriyono Kunci Kuat Intelijen Megawati dan Jokowi?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/saXER7ZOMFg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/KENAPA-FIFA-MUDAH-DIPOLITISASI.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tragedi Kanjuruhan, Tanggung Jawab Siapa?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tragedi-kanjuruhan-tanggung-jawab-siapa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S82]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2022 04:15:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Aremania]]></category>
		<category><![CDATA[FIFA]]></category>
		<category><![CDATA[Kanjuruhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kepolisian Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pasebaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Tragedi Kanjuruhan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=117438</guid>

					<description><![CDATA[Duka mendalam atas tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Tragedi ini mengundang perhatian dunia dan dianggap sebagai insiden kerusuhan suporter terbesar dalam sejarah sepak bola. Bagaimana pemerintah bisa mengambil makna dari tragedi mengerikan ini? PinterPolitik.com Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober usai pertandingan sepak bola Arema FC dengan Persebaya Surabaya menewaskan 132 orang dan ratusan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Duka mendalam atas tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Tragedi ini mengundang perhatian dunia dan dianggap sebagai insiden kerusuhan suporter terbesar dalam sejarah sepak bola. Bagaimana pemerintah bisa mengambil makna dari tragedi mengerikan ini?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober usai pertandingan sepak bola Arema FC dengan Persebaya Surabaya menewaskan 132 orang dan ratusan sisanya mengalami luka-luka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semula, pertandingan sepak bola berjalan dengan lancar hingga pada akhir pertandingan sejumlah suporter dari pendukung Arema merasa kecewa atas kekalahan dalam pertandingan dan beberapa di antara mereka melakukan aksi turun ke lapangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aparat polisi dan petugas keamanan yang melihat hal tersebut melakukan upaya pencegahan. Namun, hal tersebut tidak dapat terkendali dengan baik melainkan memicu kerusuhan makin menjadi dikarenakan aparat kepolisian melepaskan tembakan gas air mata ke arah suporter di dalam tribun penonton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tindakan polisi tersebut disebut dimaksudkan untuk meredakan kericuhan dan melakukan penertiban kepada para suporter.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut menambah kerusuhan makin menjadi dikarenakan&nbsp; situasi panik para suporter yang berada di tribun yang mencoba untuk menyelamatkan diri dengan menghindari tembakan gas air mata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Situasi rusuh karena panik menyebabkan banyaknya&nbsp; korban dari para suporter yang terluka hingga kehilangan nyawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas kejadian tersebut tragedi Kanjuruhan menelan banyak korban sehingga diperlukan adanya tim investigasi yang diperuntukan mengusut secara tuntas dan menguak kebenaran atas tragedi nahas tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Mochamad Iriawan (Iwan Bule), Ketua Umum (Ketum) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Zainudin Amali, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepak bola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraan di Stadion Kanjuruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) tragedi Kanjuruhan kemudian dibentuk untuk menindak lanjut instruksi Jokowi yang menyerukan agar jajarannya menuntaskan tragedi Kanjuruhan dan mengevaluasi penyelenggaraan sepak bola di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jokowi juga memerintahkan Iwan dan Zainudin untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepak bola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sembari berkembangnya investigasi, berkembang suatu perdebatan tentang aturan gas air mata di lapangan pertandingan. Jika mengikuti aturan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA), seharusnya gas air mata sangat dilarang dalam pertandingan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, apakah aparat telah salah total karena tidak mengikuti aturan FIFA tersebut?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="832" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72.png" alt="image 72" class="wp-image-117442" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72.png 832w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72-244x300.png 244w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72-122x150.png 122w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72-768x945.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72-324x400.png 324w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72-696x857.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-72-341x420.png 341w" sizes="auto, (max-width: 832px) 100vw, 832px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Aturan FIFA atau Hukum Nasional?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tragedi Kanjuruhan yang menghilangkan banyak korban hingga saat ini masih ditelusuri kebenarannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bersamaan dengan itu, tindakan polisi dinilai tidak tepat saat melakukan penembakan gas air mata ke arah suporter di tribun, meskipun dengan dalil untuk mengalihkan kericuhan serta melakukan penertiban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disamping itu, FIFA sebagai federasi sepak bola internasional, mempunyai <em>Lex Sportiva </em>atau sistem hukum sendiri bidang olahraga yang berdaulat secara penuh menyelesaikan&nbsp; perkara yang terjadi dalam olahraga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penggunaan gas air mata oleh kepolisian dalam menangani kerusuhan di dalam stadion tersebut menjadi permasalahan karena melanggar aturan keselamatan FIFA.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penggunaan gas air mata dilarang oleh FIFA dalam <em>FIFA Stadium Safety and Security Regulations</em> pasal 19b, “<em>No fire arms or crowd control gas shall be carried or used</em>,” yang artinya tidak boleh membawa atau menggunakan senjata api atau gas air mata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pasal 19 tersebut dibahas tentang aturan petugas lapangan dan polisi dalam menjaga ketertiban stadion saat pertandingan berlangsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, seharusnya penggunaan gas air mata untuk mengontrol kerusuhan dalam stadion saat pertandingan harus diperhatikan lebih hati-hati oleh aparat kepolisian. Tidak dibenarkan apabila ada kesewenangan yang semena-mena dalam penanganan ketertiban atas kericuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adanya <em>lex sportiva </em>FIFA <em>&nbsp;</em>sebagai aturan dalam bidang olahraga sepertinya cukup “berkonflik” dengan adanya hukum pidana yang menjadi hukum positif dalam kedaulatan negara Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia sebagai negara yang berdaulat memiliki hak dan kewajiban untuk mengatur hukum yang berlaku di negaranya. Negara yang berdaulat ini memiliki kekuasaan yang tinggi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sehingga dalam tragedi Kanjuruhan ini, hukum pidana adalah yang seharusnya diutamakan sebagai hukum yang berlaku untuk menangani perkara yang terjadi. Hukum ini pun bisa diaplikasikan karena adanya unsur tindak pidana yang dilakukan oleh petugas keamanan dan aparat kepolisian dalam penanganan melakukan penertiban saat kericuhan terjadi di dalam stadion.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atas kelalaian aparat kepolisian tersebut, Kapolri resmi mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat serta melakukan penonaktifkan terhadap sembilan anggota Brimob. Kepolisian memeriksa 18 anggotanya yang bertanggung jawab menggunakan senjata pelontar gas air mata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kepolisian juga telah menetapkan enam orang telah ditetapkan sebagai tersangka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di antaranya adalah, Direktur Utama PT LIB Ahkmad Hadian Lukita, Ketua Panitia Pelaksana Arema FC Abdul Haris, dan Security Officer Suko Sutrisno. Ketiga orang tersebut dikenakan Pasal 359 KUHP dan atau Pasal 360 KUHP dan atau Pasal 130 ayat 1 Jo Pasal 52 UU Nomor 11 Tahun 2022.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi, serta Komandan Kompi Brimob Polda Jawa Timur AKP Hasdarman. Mereka dikenakan dengan Pasal 359 KUHP dan atau Pasal 360 KUHP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Deputi direktur Asia Human Rights Watch (HRW), Phil Robertson, penting dalam investigasi ini adanya sebuah tim independen yang temuannya nanti harus diumumkan secara terbuka kepada publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Organisasi Amnesty International Indonesia secara khusus juga menyerukan investigasi independen dan sesegera mungkin mengusut atas penggunaan gas air mata di dalam stadion.</p>



<p class="wp-block-paragraph">HRW dan Amnesty mengatakan investigasi independen diperlukan untuk mencegah kejadian serupa tidak terjadi di masa mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menko Polhukam Mahfud MD mengatakan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang dibentuk terkait Tragedi Kanjuruhan bertujuan untuk mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan secara objektif dalam penegakan hukum serta secara transparan kepada publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mahfud MD yang juga selaku ketua TGIPF menjanjikan investigasi atas tragedi Kanjuruhan ini dilakukan dalam waktu kurang dari sebulan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diharapkan TGIPF dapat menyelidiki dan&nbsp; mengungkap berbagai temuan dalam mengusut tragedi Kanjuruhan. Berbagai temuan yang akan menjadi fakta hukum untuk penyelidikan demi adanya keadilan sosial bagi korban dan masyarakat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sembari berjalannya investigasi, mungkin terdapat pertanyaan besar di benak kita siapa yang paling harus bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="922" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73.png" alt="image 73" class="wp-image-117444" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73.png 922w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73-270x300.png 270w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73-135x150.png 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73-768x853.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73-696x773.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/image-73-378x420.png 378w" sizes="auto, (max-width: 922px) 100vw, 922px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Siapa yang Bertanggung Jawab?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak bosan-bosannnya perlu disebutkan bahwa tragedi Kanjuruhan yang telah menghilangkan korban dalam jumlah banyak adalah salah satu insiden kerusuhan suporter terbesar di dunia.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena fakta itu sendiri, sudah sepantasnya pemerintah tergerak untuk menangani persoalan yang terjadi dalam tragedi Kanjuruhan ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, hal buruk yang mulai jadi kebiasan publik dan pemerintah adalah, terkadang kita melihat suatu tragedi hanya melalui angka semata. Maksudnya, dalam tragedi ini jumlah angka kematian korban menjadi perhatian pemerintah dan sebagai pemicu pemerintah untuk bergerak menangani perkara ini lebih serius, padahal secara prinsip suatu peristiwa dengan korban jiwa sedikit apapun tetap perlu dapat perhatian utama pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sama halnya seperti pemerintah dalam menangani kasus Covid-19 di Indonesia. Pada awalnya, pemerintah bergerak secara komprehensif apabila angka kenaikan Covid-19 sudah melonjak tinggi. Namun, apabila angka kasus covid-19 sudah menurun seperti saat ini maka sudah tidak&nbsp; terdengar lagi upaya pencegahan dari pemerintah walaupun kasus covid-19 masih ada dalam kehidupan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kematian dalam sebuah tragedi bukan hanya soal angka dan tidak pantas dipeyorasikan dengan menampilkan angka-angka kematian korban semata. Angka tidak bisa hanya untuk menjadi alasan perhatian pemerintah dalam keseriusannya menangani suatu tragedi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang telah diketahui, melalui beberapa pernyataan, aparat kepolisian selalu berusaha membenarkan diri atas tindakannya dalam melakukan penembakan gas air mata ke arah tribun penonton.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seharusnya, polisi tidak perlu berupaya membela diri dengan dalih sudah ada anarki terlebih dahulu dan melakukan penembakan gas air mata&nbsp; dengan maksud untuk mengendalikan kerusuhan. Hal tersebut justru mengindikasikan bahwa kematian bukan jadi perhatian yang utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, pemerintah melihat suatu kejadian bukan dikarenakan adanya problem moral melainkan adanya problem statistik yang diketahui oleh publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal terkait ini dijelaskan dalam teori <em>face to face relation </em>dari<em> </em>Emmanuel Levinas, yang membahas konsep wajah yang berimplikasi pada suatu tanggung jawab etis terhadap orang lain. Dalam teori ini menjelaskan adanya moralitas dikarenakan suatu tanggung jawab etis seseorang terhadap kehidupan orang lain<em>.</em>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tanggung jawab etis ini mengandung sensibilitas yang mendasar bagi kepedulian seseorang terhadap rasa kemanusiaan dengan adanya sikap menghargai atau respek terhadap kehidupan orang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tragedi Kanjuruhan yang melibatkan aparat kepolisian dalam melaksanakan tugas pengamanan dan penertiban atas kerusuhan di stadion Kanjuruhan ini. Diharapkan aparat kepolisian dapat mempertanggung jawabkan tindakannya atas insiden yang merampas kehidupan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diharapkan pemerintah dan aparat penegak hukum dapat menyelidiki dan menindaklanjuti tragedi ini dengan baik dan terbuka atas kebenaran yang terjadi kepada masyarakat dengan mempertimbangkan keadilan sosial bagi korban serta masyarakat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Diharapkan pula, negara dan pemerintah dalam melihat suatu kejadian atau tragedi tidak hanya terfokus dalam statistik angka kematian saja melainkan adanya rasa tanggung jawab dalam kemanusiaan dan etika moral yang dikedepankan demi keadilan bagi masyarakat. S82</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="PMSE1_KHOjA"><iframe loading="lazy" title="Mobokrasi, Putin Pakai Jasa Mafia?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/PMSE1_KHOjA?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/10/2-polisi-tersangka-pemberi-perintah-tembak-gas-air-mata-tragedi-kanjuruhan_169.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anies-Risma ala Persebaya vs Persija?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/anies-risma-ala-persebaya-vs-persija/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Feb 2020 00:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur DKI Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Risma]]></category>
		<category><![CDATA[Sepak Bola]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Rismaharini]]></category>
		<category><![CDATA[Wali kota Surabaya]]></category>
		<category><![CDATA[Walikota Risma]]></category>
		<category><![CDATA[Walikota Surabaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=74101</guid>

					<description><![CDATA[“F**k all the opps and the shots that they send” – Drake, penyanyi rap asal Kanada PinterPolitik.com Siapa sih yang tidak menggemari olahraga sepak bola? Sebagian besar dari kita pasti memiliki tim favorit dalam cabang olahraga satu ini, entah itu dari dalam negeri maupun tim di negara-negara lain. Kali ini, salah satu pertandingan penting di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“F**k all the opps and the shots that they send” – Drake, penyanyi rap asal Kanada</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">S</span>iapa <em>sih</em> yang tidak menggemari olahraga sepak bola? Sebagian besar dari kita pasti memiliki tim favorit dalam cabang olahraga satu ini, entah itu dari dalam negeri maupun tim di negara-negara lain.</p>
<p>Kali ini, salah satu pertandingan penting di Indonesia akan digelar dalam beberapa waktu ke depan. Setelah melalui beberapa tahapan turnamen Piala Gubernur Jawa Timur 2020, Persebaya Surabaya dan Persija Jakarta lah yang akhirnya lolos untuk bertanding di laga final yang akan dilaksanakan di Gelora Bung Tomo, Surabaya.</p>
<p>Kabarnya <em>nih</em>, pertandingan final ini bukanlah hanya pertandingan yang dianggap isapan jempol. Beberapa pengamat sepak bola menilai pertemuan Macan Kemayoran dan Bajul Ijo ini adalah <a href="https://www.tribunnews.com/superskor/2020/02/19/prediksi-persebaya-surabaya-vs-persija-jakarta-duel-tim-bertabur-bintang-di-final-gubernur-jatim"><strong>duel antara dua tim bertabur bintang</strong></a>.</p>
<p>Pasalnya <em>tuh</em>, kedua tim tersebut memiliki <em>line</em>&#8211;<em>up</em> pemain yang tak bisa diremehkan. Makan Konate – gelandang serang Persebaya – misalnya, dianggap sebagai salah satu pemain yang dikenal paling produktif dalam menghasilkan gol. Di sisi lain, Persija disebut memiliki Evan Dimas yang dianggap esensial dalam menjaga keseimbangan antar-lini di lapangan.</p>
<p>Selain itu, kedua tim ini juga memiliki pendukung-pendukung yang loyal. Dalam sejarahnya, Bonek dan Jakmania memiliki <a href="https://www.tribunnews.com/superskor/2019/12/16/bonek-dan-the-jak-mania-diharapkan-bisa-segera-berdamai"><strong>rivalitas</strong></a> tersendiri. Pasalnya, kedua kelompok pendukung ini juga sempat bentrok beberapa tahun lalu.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B7X-2y0AAPU/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B7X-2y0AAPU/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B7X-2y0AAPU/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Surabaya dikabarkan turut dilanda banjir.⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-01-16T09:00:19+00:00">Jan 16, 2020 at 1:00am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p><em>Hmm</em>, kalau pertandingan final kali ini disebut-sebut bakal ramai, bagaimana dengan perseteruan yang terjadi antara kubu pendukung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan kubu pendukung Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Risma) ya?</p>
<p>Sejak Bu Risma disebut-sebut akan menjadi calon penantang Pak Anies di Pilkada DKI Jakarta 2020, media sosial mulai bertabur serangan antara kedua kubu <em>tuh</em>. Ada yang menganggap Risma hanya jago pencitraan saja. Ada juga yang menilai kinerja Pak Anies di Jakarta kalah saing bila dibandingkan dengan Bu Risma di Surabaya.</p>
<p>Namun, bila Persebaya dan Persija memperebutkan Piala Gubernur Jatim 2020, Bu Risma dan Pak Anies bisa jadi akan memperebutkan gelar juara yang berbeda, yakni gelar sebagai Gubernur DKI Jakarta. Selain itu, persaingan antara Bu Risma dan Pak Anies tampaknya tak akan tuntas dalam waktu dekat.</p>
<p>Bisa <em>aja</em>, persaingan Bu Risma dan Pak Anies ini melahirkan “pertempuran” lanjutan antara dua kubu yang paling bersaing di Pilpres 2019 kemarin, yakni <a href="https://www.pinterpolitik.com/anies-vs-risma-cebong-kampret-baru/"><strong>cebong dan kampret</strong></a>. Ya, kita saksikan saja lah perdebatan-perdebatan baru ini – yang mungkin tak akan benar-benar hilang dalam beberapa tahun ke depan. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="p0qORi7VHDg"><iframe loading="lazy" title="Sejak Zaman Raja Tarumanegara, Jakarta Sudah Sering Banjir!" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/p0qORi7VHDg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Risma-Anies-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Timnas Arab Saudi Tolak Heningkan Cipta</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/timnas-arab-saudi-tolak-heningkan-cipta/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Jun 2017 11:44:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Arab Saudi]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepakbola]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=11363</guid>

					<description><![CDATA[Aksi tersebut akhirnya mendatangkan komentar dan kritikan terhadap tim sepakbola Arab Saudi. Banyak yang menyayangkan dan menganggap Arab Saudi tidak punya simpati pada para korban teror London. PinterPolitik.com [dropcap size=big]P[/dropcap]emandangan menarik terjadi pada laga sepak bola kualifikasi Piala Dunia 2018 antara tim nasional Australia melawan Arab Saudi di Adelaide, Australia pada Kamis, 8 Juni 2017. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Aksi tersebut akhirnya mendatangkan komentar dan kritikan terhadap tim sepakbola Arab Saudi. Banyak yang menyayangkan dan menganggap Arab Saudi tidak punya simpati pada para korban teror London.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]P[/dropcap]emandangan menarik terjadi pada laga sepak bola kualifikasi Piala Dunia 2018 antara tim nasional Australia melawan Arab Saudi di Adelaide, Australia pada Kamis, 8 Juni 2017. Hal tersebut terjadi karena para pesepakbola  tim nasional Arab Saudi mengabaikan ajakan mengheningkan cipta untuk para korban serangan teroris di London.</p>
<p>Teror London Bridge dan Borough Market yang terjadi pada Sabtu lalu juga menewaskan 2 orang warga Australia. Kedua warga Australia tersebut adalah Sara Zelenak (21) dari Brisbane dan Kirsty Boden dari Australia Selatan (28). Zelenak bekerja di London sebagai pengasuh dan Boden adalah seorang perawat.</p>
<p>Oleh karena itu, undangan mengheningkan cipta ini disampaikan untuk mengenang dua warga Australia tersebut. Namun, biasanya kalau kita menyaksikan pertandingan sepakbola di berbagai negara dan ada ajakan mengheningkan cipta, maka kedua tim yang bertanding akan berada di tengah lapangan dan membentuk barisan penghormatan. Hal yang berbeda terjadi pada pertandingan ini. Ketika para penonton dan pemain timnas Australia mengheningkan cipta, pemain Arab Saudi malah terus melakukan jogging dan melakukan pemanasan. Berikut adalah penggalan video kejadian tersebut seperti dikutip dari <strong><em>The Guardian.</em></strong></p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="fNUo8Khfxsk"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/fNUo8Khfxsk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></div>
<p>Bahkan, sebuah gambar dari pertandingan tersebut menunjukkan satu pemain Saudi, Salman al-Faraj, berdiri berhadapan dengan anggota timAustralia dengan berkacak pinggang. Presenter Fox Sports Australia, Adam Peacock, mengatakan bahwa Konfederasi Sepak Bola Asia telah menyetujui ritual mengheningkan cipta yang berbeda dengan kehendak tim Arab Saudi. Peacock mengatakan Federasi Sepakbola Australia sudah mencoba mendekati tim Arab untuk ambil bagian dalam penghormatan itu, namun tetap gagal.</p>
<p>Aksi tersebut akhirnya mendatangkan komentar dan kritikan terhadap tim sepakbola Arab Saudi. Banyak yang menyayangkan dan menganggap Arab Saudi tidak punya simpati pada para korban teror London. Apalagi hal tersebut dilakukan dalam sebuah pertandingan olahraga yang seharusnya menunjukkan sportifitas dan penghormatan terhadap kemanusiaan.</p>
<p>https://twitter.com/mateowo/status/872813775015030786</p>
<p>Tidak sedikit yang menyebut dan mengait-ngaitkan aksi tersebut dengan tuduhan bahwa Arab Saudi ikut terlibat dalam berbagai aksi teror di seluruh dunia, termasuk yang terjadi di Inggris.</p>
<p>Namun, ada pula yang membela ulah timnas Arab Saudi ini dengan menyebutkan bahwa ritual mengheningkan cipta bukanlah prosesi yang diakui dalam memberikan rasa hormat atau pun belasungkawa. Menurut mereka mengheningkan cipta semacam itu bukan menjadi budaya di Arab Saudi, dan bahkan secara lebih luas bukan menjadi budaya Islam.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">I think they didn&#39;t refuse. Many people in Saudi Arabia are not familiar with minute&#39;s silence, thats why</p>
<p>&mdash; Fahad (@AlkhaliwiF) <a href="https://twitter.com/AlkhaliwiF/status/872797376490205185?ref_src=twsrc%5Etfw">June 8, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Keterangan itu tentu bertentangan dengan pemandangan serupa yang pernah ada dalam kasus-kasus yang terjadi di negara-negara Teluk dan Timur Tengah. Prosesi mengheningkan cipta bahkan pernah terjadi saat menghormati kematian mantan Raja Arab Saudi, King Abdullah.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">1st match of the Silver Cup Zedan v UAE paying a respectful minute of silence for late King Abdullah of Saudi Arabia <a href="http://t.co/NhObtDAggJ">pic.twitter.com/NhObtDAggJ</a></p>
<p>&mdash; PoloLine (@Pololine) <a href="https://twitter.com/Pololine/status/558656848245452802?ref_src=twsrc%5Etfw">January 23, 2015</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Hal yang sama juga terjadi ketika tim sepak bola Arab Saudi, al-Ahli Saudi FC, berdiri dalam keheningan sesaat sebelum pertandingan pada laga Qatar Airways Cup melawan Barcelona di bulan Desember 2016.</p>
<p><figure id="attachment_11364" aria-describedby="caption-attachment-11364" style="width: 1920px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11364 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702.jpg" alt="Arab Saudi Tolak Heningkan Cipta" width="1920" height="1152" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702-696x418.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702-1068x641.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702-700x420.jpg 700w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702-300x180.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702-768x461.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/3702-1024x614.jpg 1024w" sizes="auto, (max-width: 1920px) 100vw, 1920px" /><figcaption id="caption-attachment-11364" class="wp-caption-text">Mengheningkan cipta saat pertandingan antara klub sepakbola Arab Saudi, al-Ahli FC saat berhadapan dengan Barcelona FC (Foto: theguardian.com)</figcaption></figure></p>
<p>Tentu publik bertanya-tanya, ada apa di balik aksi tersebut? Mungkin kebiasaan mengheningkan cipta tidak sering terjadi di Arab Saudi dan karenanya asosiasi sepak bola Arab Saudi telah meminta maaf. Namun, kejadian ini menyebabkan banyak orang membuat praduga. Apa pun itu, olahraga sudah sewajarnya menjunjung tinggi sportifitas. (Berbagai Sumber/S13)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/2.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
