<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Scott Morrison &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/scott-morrison/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 May 2022 09:39:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Scott Morrison &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Perlukah AUKUS Disikapi dengan Kekhawatiran?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/perlukah-aukus-disikapi-dengan-kekhawatiran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Jan 2022 05:43:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Boris Johnson]]></category>
		<category><![CDATA[Joe Biden]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=92296</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah pakta pertahanan yang dikenal sebagai AUKUS disepakati oleh tiga negara – Australia, Britania Raya (Inggris), dan Amerika Serikat (AS) – pada 15 September 2021 lalu. Perlukah AUKUS disikapi pemerintah Indonesia dengan kekhawatiran? PinterPolitik.com Pada 15 September 2021, negara Australia, Britania Raya (Inggris), dan Amerika Serikat (AS) bergabung dalam pakta pertahanan trilateral AUKUS yang merupakan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sebuah pakta pertahanan yang dikenal sebagai AUKUS disepakati oleh tiga negara – Australia, Britania Raya (Inggris), dan Amerika Serikat (AS) – pada 15 September 2021 lalu. Perlukah AUKUS disikapi pemerintah Indonesia dengan kekhawatiran?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Pada 15 September 2021, negara Australia, Britania Raya (Inggris), dan Amerika Serikat (AS) bergabung dalam pakta pertahanan trilateral AUKUS yang merupakan strategi pertahanan untuk memodernisasi Australia untuk beberapa dekade ke depan dalam menghadapi tantangan keamanan dan pertahanan di Indo-Pasifik. Meskipun tujuan utamanya adalah untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir, pakta tersebut juga menunjukkan kerja sama Indo-Pasifik dalam menangkal kebangkitan Tiongkok yang sejak dekade 1990-an lebih agresif untuk mengklaim kepemilikan wilayah di Laut China Selatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun pemerintah Australia telah mengklaim bahwa mereka tidak akan mempersenjatai kapal dengan nuklir, keputusan tersebut tetap ditentang oleh beberapa Indo-Pasifik – terutama Indonesia yang secara geografis dekat Australia dan merupakan bagian dari ASEAN. Pertentangan tersebut terjadi karena keraguan banyak negara bahwa kapal nuklir tersebut tidak memiliki prospek untuk dipersenjatai dengan nuklir di masa mendatang.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlebih lagi, Australia belum bergabung dalam&nbsp;<em>Treaty on the Prohibition of Nuclear Weapons</em>&nbsp;yang memastikan negara yang tergabung setuju untuk tidak mengembangkan, menguji, memproduksi, memperoleh, memiliki, menimbun, atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir. AS yang menyediakan kapal nuklir tersebut juga merupakan negara dengan kekuatan senjata nuklir.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara-negara di ASEAN juga khawatir AUKUS akan mengarah pada perlombaan senjata besar-besaran di kawasan Indo-Pasifik terutama karena Australia, Inggris, dan AS nampaknya menjadikan kawasan Laut China Selatan sebagai kawasan utama dalam kontestasi melawan Tiongkok.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut bertentangan dengan prinsip ASEAN untuk menjaga Asia Tenggara sebagai “zona perdamaian, kebebasan, dan netralitas” yang bebas dari adanya campur tangan dari kekuatan luar. Selain itu, negara anggota juga telah menandatangani&nbsp;<em>Asia Nuclear Weapon-Free Zone</em>, yang berkomitmen untuk menjauhkan senjata nuklir dari kawasan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemikir strategis dari Indonesia sendiri telah memberikan respons terkait dengan AUKUS. Beberapa melihat kondisi tersebut sebagai interaksi yang lebih tegas antara AS dengan Tiongkok. Namun, banyak masyarakat Indonesia yang menganggap AUKUS dapat berpotensi mengganggu stabilitas Indonesia dan negara di Asia Tenggara.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Indonesia telah memberikan respons resmi melalui juru bicara urusan luar negeri, Teuku Faizayah, yang menyatakan bahwa “Indonesia memberi keprihatinan yang dalam mengenai keberlanjutan perlombaan senjata dan proyeksi kekuatan di kawasan”. Dalam pernyataan lanjutannya, ia juga mengatakan bahwa Indonesia mendorong Australia dan pihak-pihak terkait untuk membawa dialog penyelesaian perbedaan tersebut secara damai guna memastikan Australia memenuhi kewajiban non-proliferasi nuklir dan komitmen terhadap perdamaian, stabilitas, dan keamanan regional mengikuti&nbsp;<em>Treaty of Amity and Cooperation</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun pemerintah Indonesia telah mengambil langkah dalam merespons kebijakan Australia, tanggapan pemerintah dalam upaya untuk menjaga pertahanan laut tersebut masih kurang tegas. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu anggota Komisi I DPR RI Fraksi Demokrat, Rizki Aulia, yang menyebutkan bahwa Konsel&nbsp;<em>peaceful approach&nbsp;</em>yang ditekankan oleh AS terhadap kawasan Indo-Pasifik telah kolaps sehingga Indonesia harus segera menggunakan&nbsp;<em>collective approach</em>&nbsp;sebagai upaya untuk mempertahankan kedaulatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anggota Komisi I DPR RI lainnya, TB Hasanuddin, menambahkan bahwa Indonesia sebagai anggota ASEAN harus tegas dalam menegakkan&nbsp;<em>Treaty On The Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone</em>. Oleh karena itu Indonesia&nbsp; harus menggunakan langkah baru dan lebih serius dalam menanggapi kasus ini untuk mempertahankan kedaulatan negara sekalipun menjadi penengah dalam konflik antara AS dan Tiongkok yang dijembatani oleh pakta AUKUS tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di samping kerugian, pakta pertahanan AUKUS sendiri dapat memberi keuntungan terhadap kondisi Indonesia saat ini. Indonesia memang sempat memperoleh ketegangan politik dengan Tiongkok terkait klaim kawasan Indonesia yaitu Laut Natuna.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Laut Natuna dianggap termasuk wilayah dalam garis imajiner&nbsp;<em>nine-dash line&nbsp;</em>yang menurut Tiongkok merupakan batas maritim mereka sehingga kebijakan AUKUS ini sebenarnya dapat membantu Indonesia untuk mengklaim kembali Natuna sebagai kawasan milik NKRI. Hal tersebut dipertegas oleh Sekretariat Kabinet yang menjelaskan bahwa Indonesia memang memiliki hubungan yang buruk dengan Tiongkok dalam konteks Laut China Selatan, dan mengakui bahwa Indonesia memiliki kecenderungan diplomatis untuk memihak AUKUS.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia dalam hal ini berupaya untuk mengambil jalan tengah yang lebih baik untuk memastikan kepentingan Indonesia dapat terpenuhi. Indonesia memanfaatkan situasi hubungan Indonesia dengan Tiongkok yang baik dalam bidang ekonomi, serta hubungan dengan negara-negara AUKUS dalam bidang pertahanan dan keamanan. Dengan hal ini diharapkan Indonesia tetap memiliki keseimbangan hubungan dan kekuatan dengan negara yang terlibat konflik sehingga Indonesia dapat memperoleh keuntungan sekaligus mencegah adanya perpecahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keseimbangan yang berusaha diperoleh Indonesia sesuai dengan teori&nbsp;<em>balance of power.&nbsp; Balance of power&nbsp;</em>merupakan teori dalam hubungan internasional yang menjelaskan adanya upaya suatu negara untuk mengambil strategi tertentu agar tercipta stabilitas dengan menyeimbangkan kekuatan dengan negara atau kelompok negara lain melawan negara/kelompok negara yang dianggap sebagai ancaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam menanggapi penggunaan kapal bertenaga nuklir Australia, Indonesia pada akhirnya memilih untuk menggunakan strategi yang realistis dalam menghadapi kekuatan negara-negara yang berpengaruh dalam pertahanan sehingga tidak menunjukkan langkah kolektif dalam menanggapi hal tersebut. Meskipun pada awalnya Indonesia sempat menunjukkan respon keprihatinan terhadap kebijakan AUKUS, Indonesia tetap mempertimbangkan&nbsp;<em>balance of power&nbsp;</em>yang dianggap lebih baik untuk dilakukan dibanding dengan politik bebas aktif yang cenderung tidak menunjukkan jalan keluar.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="211" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-1024x211.jpg" alt="Profil Ruang Publik - Athaya Reghina Budiman" class="wp-image-92303" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-1024x211.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-300x62.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-150x31.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-768x158.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-696x144.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman-1068x220.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Athaya-Reghina-Budiman.jpg 1377w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.</em></strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg" alt="Banner Ruang Publik" class="wp-image-91015" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-696x90.jpg 696w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1024x132.jpg" alt="Ebook Promo Web Banner" class="wp-image-91744" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1536x198.jpg 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-2048x264.jpg 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Perlukah-AUKUS-Disikapi-dengan-Kekhawatiran.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pandemi, Australia Pilih Ekonomi atau Kesehatan?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/pandemi-australia-pilih-ekonomi-atau-kesehatan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Dec 2021 06:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Morrison]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<category><![CDATA[Vaccination]]></category>
		<category><![CDATA[Vaccine]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=92321</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah pandemi, banyak negara dihadapkan pada dua pilihan yang sulit – yakni antara harus menjaga kesehatan masyarakat atau untuk menjaga aktivitas ekonomi agar tetap berjalan. Bagaimana dengan pemerintah Australia? Cara apa yang diambil oleh negara kanguru ini untuk menghadapi dilema ini? PinterPolitik.com Kurang lebih sudah dua tahun manusia di hampir seluruh dunia berusaha beradaptasi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di tengah pandemi, banyak negara dihadapkan pada dua pilihan yang sulit – yakni antara harus menjaga kesehatan masyarakat atau untuk menjaga aktivitas ekonomi agar tetap berjalan. Bagaimana dengan pemerintah Australia? Cara apa yang diambil oleh negara kanguru ini untuk menghadapi dilema ini?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Kurang lebih sudah dua tahun manusia di hampir seluruh dunia berusaha beradaptasi dengan kemunculan pandemi COVID-19. Tindakan yang bersifat proteksionis terhadap diri masing-masing juga terus diupayakan, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, menghindari kerumunan, hingga melakukan vaksinasi. Langkah yang demikian membuat banyak negara mulai melonggarkan segala pengetatan dengan tujuan agar bisa kembali seperti semula tetapi, dengan membentuk sebuah karakteristik baru, yakni bekerja di masa pasca pandemi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu negara yang berfokus dalam hal ini ialah Australia dengan klaim bahwa situasi yang mereka hadapi mampu membawa Australia memasuki kondisi&nbsp;<em>next normal</em>. Tercatat dari bulan Oktober-November 2021, kasus harian COVID-19 di Australia sudah berada di bawah angka 2.500 kasus, sehingga persiapan pembukaan kembali aktivitas ekonomi semakin digencarkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski data telah menunjukkan adanya kesempatan bagi pemerintah Australia untuk kian melonggarkan peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya, bukan berarti eksistensi dari pandemi COVID-19 dapat dikesampingkan begitu saja. Berbagai konsiderasi dilakukan dengan tujuan agar proteksi dapat diberikan kepada dua aspek, baik sosial maupun ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini pertanyaannya, di mana pemerintah Australia lebih menitikberatkan perlindungan? Apakah manusia atau uang? Untuk menjawab pertanyaan ini, dapat kita analisis secara singkat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Australia sebagai syarat bagi pelaku usaha untuk bisa kembali beroperasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Merujuk pada artikel yang dirilis oleh FairWork Ombudsman dengan judul&nbsp;<em>COVID-19 vaccinations: workplace rights and obligations</em>, dapat diketahui bahwa pemerintah Australia sangat menganjurkan – bahkan mewajibkan – para pengusaha untuk menjaga kesehatan serta keselamatan seluruh pihak yang terlibat dalam operasional bisnis mereka. Pihak tersebut termasuk pekerja maupun pengunjung di wilayah tempat bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kewajiban ini dilandaskan pada peraturan mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja (<em>Workplace Health and Safety&nbsp;</em>atau WHS), khususnya di masing-masing negara bagian dan wilayah. Dalam WHS, terdapat setidaknya empat poin yang menjadi sorotan utama, yakni (1) vaksinasi COVID-19, (2) jaga jarak, (3) kebersihan, dan (4) manajemen resko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di samping arahan untuk keempat poin tersebut, pemerintah Australia dengan syarat dan ketentuan juga turut menjamin perlindungan atas pekerjaan yang dimiliki warganya apabila harus mengajukan izin atau cuti dikarenakan sakit. Jaminan tersebut termasuk bahwa pekerja tidak akan kehilangan pekerjaannya dan tetap dapat menerima gaji apabila mengajukan mekanisme cuti dengan tetap dibayar. Peraturan yang merinci juga disusun oleh setiap negara bagian di Australia dengan menimbang kondisi sosial masyarakatnya masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski arahan dan persiapan ditujukan untuk bekerja dalam dunia luring, opsi bagi pelaku bisnis untuk melakukannya dengan metode daring tetap diutamakan. “<em>Remote is the new reality</em>”.&nbsp;<em>Remote working&nbsp;</em>atau kerja jarak jauh, sederhananya, merupakan istilah yang menggambarkan model kerja yang dianut oleh sebuah perusahaan dengan memperbolehkan karyawannya bekerja dari lokasi masing-masing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sistem bekerja yang demikian cukup marak digencarkan oleh perusahaan-perusahaan besar di Australia, seperti PwC yang terlihat dalam artikel rekomendasi yang bertujuan untuk memberikan sejumlah konsiderasi sebelum operasional bisnis luring benar-benar diberlakukan. Selain itu, pada aplikasi pencarian kerja, seperti LinkedIn, juga ditemukan banyak sekali lowongan kerja yang menerapkan sistem&nbsp;<em>remote working</em>. Hal yang demikian disampaikan langsung oleh Adam Gregory selaku direktur senior untuk LinkedIn&nbsp;<em>Talent Solutions</em>&nbsp;di Asia-Pasifik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan ini, dapat dikatakan bahwa meski pembukaan kembali aktivitas perekonomian di Australia mulai dilakukan karena melihat kondisi yang mulai kondusif tetapi perlindungan bagi masyarakatnya tetap menjadi prioritas. Secara normatif, komitmen pemerintah maupun perusahaan dapat terlihat pada kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing, walaupun tentu fakta di lapangan nantinya juga perlu untuk diperhatikan kesesuaiannya dengan perencanaan saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu, apresiasi layak diberikan untuk pemerintah Australia maupun pelaku bisnis di dalamnya karena membuka langkah awal dengan cukup baik. Hal yang demikian juga bisa menjadi contoh bagi negara-negara lainnya – baik yang baru akan memulai maupun yang sudah dalam proses pelaksanaan – bahwa kesehatan masyarakat tetap harus menjadi prioritas unggulan.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="212" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-1024x212.jpg" alt="Profil Ruang Publik - Ade Larassati Sugandhi" class="wp-image-92324" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-1024x212.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-300x62.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-150x31.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-768x159.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-1536x318.jpg 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-696x144.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-1068x221.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi-1920x397.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Profil-Ruang-Publik-Ade-Larassati-Sugandhi.jpg 2000w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.</em></strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg" alt="Banner Ruang Publik" class="wp-image-91015" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-696x90.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1024x132.jpg" alt="Ebook Promo Web Banner" class="wp-image-91744" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1536x198.jpg 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-2048x264.jpg 2048w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ebook-promo-web-banner-3-1920x248.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Pandemi-Australia-Pilih-Ekonomi-atau-Kesehatan.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bom Bali dan Hubungan Indonesia-Australia</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/bom-bali-dan-hubungan-indonesia-australia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2021 06:45:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Morrison]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=93729</guid>

					<description><![CDATA[Bom Bali 2002 menewaskan banyak warga asing, termasuk mereka yang berasal dari Australia. Insiden ini menjadi permulaan bagi menguatnya hubungan Indonesia-Australia. PinterPolitik.com “12 Oktober 2002 terjadi letusan bom di klub malam turis Australia yaitu Sari Club dan Paddy&#8217;s Club menewaskan 202 orang di antaranya 88 orang Australia, dan 38 orang Indonesia. Bom kedua meledak sepuluh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bom Bali 2002 menewaskan banyak warga asing, termasuk mereka yang berasal dari Australia. Insiden ini menjadi permulaan bagi menguatnya hubungan Indonesia-Australia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow"><p><em>“12 Oktober 2002 terjadi letusan bom di klub malam turis Australia yaitu Sari Club dan Paddy&#8217;s Club menewaskan 202 orang di antaranya 88 orang Australia, dan 38 orang Indonesia. Bom kedua meledak sepuluh menit setelah bom pertama meledak di Konsulat Jenderal AS di Bali, 10 mil dari lokasi bom pertama”&nbsp;</em>– Ford (2021)</p></blockquote>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Sudah 18 tahun berlalu, kasus bom bali 1 terjadi di Indonesia masih teringat dengan jelas. Tepat satu tahun satu bulan dan satu hari dari peristiwa 9/11 yang menjadi awal mula perkembangan terorisme dunia. Fenomena tersebut merupakan pertama kalinya Indonesia terancam oleh kelompok teroris dan menggegerkan dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampak besar dari kasus bom Bali yaitu memberikan&nbsp;<em>image&nbsp;</em>buruk dari dunia internasional terhadap Indonesia karena dianggap sebagai negara sarang teroris. Kasus bom bali 1 menjadi titik awal perkembangan terorisme berbasis agama di Indonesia dan menjadi bencana besar bagi negara Indonesia dan sekitarnya termasuk Australia.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="kerja-sama-keamanan-australia-indonesia-mempererat-hubungan"><strong>Kerja</strong><strong>&nbsp;S</strong><strong>ama Keamanan Australia-Indonesia Mempererat Hubungan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebelum kasus Bom Bali, hubungan Indonesia dengan Australia sempat terganggu akibat kasus HAM di Timor Timur pada tahun 1999. Hubungan antara Indonesia dan Australia sangatlah penting, walaupun sering kali mengalami konflik yang bertentangan. Hingga saat ini hubungan diplomatik kedua negara sudah mencapai 71 tahun sejak 1945 (Wibawa, 2020).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai negara dengan letak geografis yang dekat dengan Indonesia, Australia menganggap kerja sama dengan Indonesia dalam bidang pertahanan dan keamanan sangatlah penting. Hal ini tidak terlepas dengan adanya kepentingan nasional Australia untuk menjaga stabilitas di kawasan. Australia menganggap bahwa Indonesia adalah penyangga keamanan Australia sekaligus dapat menjadi negara yang memberikan ancaman bagi Australia (Ansari, 2016).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, terorisme sebagai kejahatan transnasional akan sangat sulit jika dilakukan oleh satu negara saja sehingga dibutuhkan kerja sama regional untuk membangun pertahanan dan keamanan kawasan. Sederet insiden pemboman yang terjadi di Indonesia telah memotivasi pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia untuk bekerja sama meningkatkan kerja sama kedua negara dalam melawan terorisme, guna menjaga stabilitas regional dan global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan kerja sama keamanan tersebut pertama kali terlaksana pada masa pemerintahan Megawati pasca bom bali 2002 dan terus berkembang hingga saat ini menjadi kerja sama yang paling erat di kawasan.</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="perkembangan-kerja-sama-keamanan"><strong>Perkembangan Kerja</strong><strong>&nbsp;S</strong><strong>ama Keamanan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setelah Bom Bali 2002 mengakibatkan 88 warga negara Australia menjadi korban dari aksi terorisme, Australia menganggap terorisme di Indonesia sebagai kepentingan utama mereka. Tidak lama setelah Bom Bali 2002, Australia mulai membantu pelaksanaan kontra-terorisme di Indonesia sebagai fasilitator dan pemberian dana karena kurangnya pengalaman militer Indonesia dalam memberantas terorisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Australia memberikan dana yang besar kepada polisi Indonesia untuk program empat tahun kontra-terorisme, yang bernilai 10 juta dolar Australia (Gyngell, 2008) dan juga implementasi kerja sama terlihat dengan&nbsp; dibentuknya detasemen khusus 88 anti-teror, yang sampai saat ini menjadi unit penanggulangan terorisme di Indonesia yang berjalan dengan efisien.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kerja sama tersebut antara lain operasi gabungan antara Polri dan AFD, pertukaran informasi dan intelijen, serta pembentukan kantor penghubung. Kemudian, dibentuk juga kesepakatan secara formal pertama Indonesia-Australia yang dinamakan&nbsp;<em>MoU on Combating international Terrorism</em>&nbsp;pada tahun 2002 sebagai langkah awal menjaga kawasan dari ancaman terorisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah Indonesia juga terus melakukan&nbsp; perbaikan dalam kebijakan penanggulangan terorisme sehingga ke depannya akan jauh lebih efektif dan efisien karena perbaikan birokrasi. Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),&nbsp;<em>Joint Declaration of Comprehensive Partnership Between Indonesia and Australia&nbsp;</em>ditandatangani pada tahun 2005 dengan tujuan menjaga hubungan baik antar kedua negara mengenai keamanan kawasan (Haryani, 2008).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada tahun 2006, kerjas ama semakin dikembangkan secara komprehensif yaitu dengan dibentuknya sebuah kerangka pada tanggal 13 November 2006 yang bertajuk&nbsp;<em>Framework Agreement on Security Cooperation Between the Republic of Indonesia and Australia</em>&nbsp;atau Perjanjian Lombok. Isi dari Perjanjian Lombok secara umum terdiri dari 21 elemen penting yang dirangkai dalam 10 bidang kerja, yaitu kerja sama pertahanan, kerja sama penegakan hukum, kerja sama pemberantasan terorisme, kerjasama intelijen, kerja sama keamanan maritim, kerja sama keselamatan dan keamanan penerbangan, kerja sama proliferasi senjata pemusnah masal, kerja sama dalam tanggap darurat, kerja sama di organisasi internasional yang terkait dengan masalah keamanan, pengertian antara masyarakat dan antar orang (Ansari, 2016).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasil dari perjanjian Lombok membuat polisi Indonesia memiliki sumber yang sangat besar dari Australia untuk memerangi terorisme. Bersama Australia, upaya penanganan terorisme yang dilakukan secara kuratif dan preventif melalui operasi gabungan, pertukaran informasi dan intelijen, pembentukan kantor penghubung dan penempatan perwira penghubung, serta pengembangan kapabilitas dalam institusi, infrastruktur organisasi, sumber daya manusia dan peralatan yang difasilitasi oleh JCLEC (Ansari, 2016). &nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="hasil-nyata"><strong>Hasil Nyata</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan dukungan Australia, penanggulangan terorisme di Indonesia bekerja sangat optimal dan efisien. Australia juga memberikan perhatian khusus kepada beberapa WNI yang diduga kuat sebagai teroris.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui operasi gabungan yang telah dilakukan selama periode 2005-2008, 800 orang anggota teroris JI telah ditangkap dan sekitar 600 di antaranya telah dinyatakan bersalah sejak Bom Bali 12 Oktober 2002. Penangkapan anggota JI Dulmatin dan Umar Patek yang bersembunyi di Filipina bersama jaringan terorisme Asia Tenggara DI dan JI yang ada di Mindanao, serta penangkapan Dr. Azhari dan kelompok jaringan JI Jawa Tengah juga terjadi (Haryani, 2008).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, seperti contohnya baru-baru ini, pemerintah Australia memberikan banyak perhatian pada&nbsp; kasus Abu Bakar Ba’asyir yaitu seorang ulama yang disebut merekrut banyak teroris terkemuka termasuk para pemimpin Bom Bali 2002. Pemerintah Australia selalu memberikan tanggapan sejak kasus bom bali hingga saat ini pada tahun 2021 adanya informasi pembebasan Abu Bakar Baasyir dengan mendesak Indonesia untuk selalu mengawasi – menandakan bahwa Australia selalu mengikuti perkembangan terorisme di Indonesia (Sihite &amp; Adrianja, 2021).</p>



<h2 class="wp-block-heading" id="kondisi-hubungan-kerja-sama-indonesia-australia-ke-depannya"><strong>Kondisi Hubungan Kerja</strong><strong>&nbsp;</strong><strong>S</strong><strong>ama Indonesia-Australia&nbsp;</strong><strong>k</strong><strong>e</strong><strong>&nbsp;D</strong><strong>epannya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sampai saat ini, kebijakan kerja sama Australia dengan Indonesia akan terus dilakukan untuk melawan terorisme. Kerja sama tersebut diwujudkan dalam bentuk tukar menukar informasi intelijen, penjagaan pelintas batas, menganalisis transaksi uang secara digital, pelatihan deradikalisasi dan sebagainya (Kominfo, 2019).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah juga terus secara konsisten bertemu dengan pemerintah Australia. Hingga saat ini, terdapat lima kali pertemuan dengan banyaknya perkembangan kerja sama untuk mendapatkan metode baru dalam melawan aksi-aksi terorisme (PPATK, 2018).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berhasilnya kerja sama keamanan tersebut menjadi titik balik Indonesia dan Australia untuk menjalani hubungan yang lebih baik lagi dalam jangka panjang. Selain itu, kerja sama tersebut diharapkan akan meningkatkan kemampuan untuk melawan terorisme dan dapat terjalin hubungan kerja sama dalam jangka panjang.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="has-text-align-right wp-block-paragraph"><strong>Tulisan milik Chalista Putri Romano, Mahasiswi S1 Ilmu Politik Universitas Indonesia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg" alt="Banner Ruang Publik" class="wp-image-91015" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-696x90.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Bom-Bali-dan-Hubungan-Indonesia-Australia.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Sukses Australia Tangani Covid-19</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/kisah-sukses-australia-tangani-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2020 07:23:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Morrison]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=93909</guid>

					<description><![CDATA[Australia menjadi salah satu negara yang dianggap sukses dan efektif dalam menekan tingkat penularan Covid-19 di negaranya. Ada apa di balik kisah sukses negara kanguru ini? PinterPolitik.com Pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan bagi berbagai sistem pemerintahan di seluruh dunia. Koordinasi dan kerja sama sinergis antar-stakeholder&#160;di pemerintahan menjadi salah satu kunci yang menentukan kesuksesan dalam penanganan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading" id="australia-menjadi-salah-satu-negara-yang-dianggap-sukses-dan-efektif-dalam-menekan-tingkat-penularan-covid-19-di-negaranya-ada-apa-di-balik-kisah-sukses-negara-kanguru-ini"><strong>Australia menjadi salah satu negara yang dianggap sukses dan efektif dalam menekan tingkat penularan Covid-19 di negaranya. Ada apa di balik kisah sukses negara kanguru ini?</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan bagi berbagai sistem pemerintahan di seluruh dunia. Koordinasi dan kerja sama sinergis antar-<em>stakeholder&nbsp;</em>di pemerintahan menjadi salah satu kunci yang menentukan kesuksesan dalam penanganan virus dan menekan angka infeksi dan kematian serta meningkatkan angka kesembuhan. Berbagai kebijakan pemerintah terkait kesehatan publik, pendidikan, ekonomi, dan keamanan ditetapkan dan dilaksanakan untuk mengatasi masalah kompleks dan multidimensi dari pandemi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun begitu, tentu tingkat keparahan angka infeksi Covid-19 berbeda-beda di setiap daerah di suatu negara, dan hal tersebut menjadi tantangan sendiri ketika pemerintah pusat menetapkan sebuah kebijakan yang belum tentu sesuai dengan kondisi di daerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal tersebut merupakan tantangan yang dihadapi oleh Australia. Secara global, Australia cenderung memiliki performa yang baik dalam menangani penyebaran Covid-19.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berdasarkan data dari Johns Hopkins University (2020), kasus kumulatif Covid-19 di Australia hingga 14 November 2020 ini mencapai 27.682 kasus. Namun, pada masa-masa awal pandemi, Australia terbelah menjadi pendukung pendekatan “<em>slowing the spread</em>” yang lebih moderat dalam kebijakan penanganan Covid-nya, serta pendukung pendekatan “<em>stopping the spread</em>” yang lebih ekstrem dalam bentuk&nbsp;<em>lockdown&nbsp;</em>negara bagian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika kita mendiskusikan tentang perbedaan pendekatan yang diambil oleh negara-negara bagian dan Persemakmuran dalam menangani pandemi di Australia, pertanyaan-pertanyaan seperti “Seberapa besar otonomi yang dapat dimiliki oleh negara bagian?” atau “Bagaimana hubungan negara federal dan negara bagian dalam federalisme dapat mendorong atau menghambat penyelesaian perdebatan kebijakan?” menjadi menarik untuk ditelusuri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Australia, pandemi memunculkan sebuah fenomena di mana politisi lintas partai dan ideologi, seperti&nbsp;<em>Premier&nbsp;</em>NSW (<em>New South Wales</em>) Gladys Berejiklian dari Partai Liberal dan&nbsp;<em>Premier&nbsp;</em>Daniel Andrews dari Partai Buruh, mengambil kebijakan yang keras dalam bentuk&nbsp;<em>lockdown&nbsp;</em>di negara bagian masing-masing. Lantas, perdebatan yang muncul bukanlah tentang perbedaan kebijakan yang dikeluarkan oleh satu partai dan partai lainnya, melainkan perdebatan dalam pendekatan yang diambil oleh negara bagian yang lebih ekstrem dengan pendekatan ala federal yang lebih gradual.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Perdana Menteri Scott Morrison, kebijakan terkait Covid-19 haruslah bersifat seimbang dalam menangani bukan hanya krisis kesehatan, namun juga krisis ekonomi. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika Morrison menolak kebijakan&nbsp;<em>lockdown&nbsp;</em>penuh yang ditetapkan secara unilateral oleh negara-negara bagian yang menurutnya dapat menghambat orang-orang untuk bekerja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam&nbsp;<em>Bush Regional Summit&nbsp;</em>pada 28 Agustus lalu, Morrison menyampaikan kekecewaannya terhadap pemerintah negara bagian dan berkata bahwa Australia, sebagai negara federal, tidaklah dibentuk untuk memiliki batas-batas (<em>borders</em>) internal, dan krisis multidimensi akibat pandemi ini tidak lantas membuat Australia harus memilih jalur provinsialisme dalam menyelesaikan masalahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Federalisme telah diadopsi dalam konstitusi Australia sejak 1 Januari 1901 ketika koloni-koloni yang dikenal sebagai “<em>original states</em>” yaitu NSW, Queensland, Australia Selatan, Tasmania, Victoria, dan Australia Barat berfederasi membentuk&nbsp;<em>Commonwealth of Australia.&nbsp;</em>Prinsip federalisme adalah memberikan kedaulatan yang non-sentralistis antara dua tingkat pemerintahan yang masing-masing memiliki otoritas dan bersifat&nbsp;<em>self-governing&nbsp;</em>dalam beberapa area isu. Umumnya, pemerintah federal berwenang dalam menentukan kebijakan di bidang luar negeri dan pertahanan, sedangkan “sisanya” menjadi kewenangan pemerintah negara bagian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Alan Fenna (2007:298), Australia merupakan negara federal yang paling sentralistis. Hal tersebut terlihat dari tingginya sentralisasi dan interpretasi yang luas dalam beberapa&nbsp;<em>enumerated powers&nbsp;</em>yang dimiliki Persemakmuran (federal) serta posisi finansial Persemakmuran yang begitu dominan. Penyebab utama federalisme yang begitu sentralistis ini adalah keputusan Mahkamah Tinggi (<em>High Court</em>) pada tahun 1920 yang kemudian melahirkan federalisme yang lebih “kooperatif” daripada federalisme “koordinatif.” Selain itu, federalisme yang sentralistis juga tidak dapat dipisahkan dari dinamika sejarah yang melahirkan tuntutan dan kebutuhan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hasilnya, federalisme kooperatif Australia melahirkan&nbsp;<em>Australian Loan Council&nbsp;</em>yang mengatasi kompetisi pasar utang antarpemerintah, koordinasi ekonomi dan kebijakan anggaran selama masa&nbsp;<em>The Great Depression,&nbsp;</em>serta pembentukan badan konsultatif bersama dalam bentuk majelis kementerian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perdebatan antara Persemakmuran dengan negara-negara bagian dalam pendekatan dan kebijakan penanganan Covid-19 di Australia merupakan perdebatan yang terbukti produktif dalam menekan angka kasus infeksi. Dalam federalisme Australia, pemerintah negara bagian memang memiliki kewenangan dalam menetapkan kebijakan kesehatan publik. Namun, Covid-19 juga merupakan krisis ekonomi, yang mana di dalam sistem Australia, kewenangannya cenderung lebih dominan berada di tangan pemerintah federal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski begitu, perdebatan ini dapat dipertemukan jalan tengahnya melalui hubungan federal-negara bagian dalam sebuah forum intra-pemerintah, yakni&nbsp;<em>Council of Australian Governments.&nbsp;</em>Melalui “Kabinet Nasional” ini, kepentingan federal dan negara bagian dapat dipertemukan, di mana beberapa negara federal dapat melaksanakan&nbsp;<em>lockdown,&nbsp;</em>namun kebijakan-kebijakan ekonomi seperti pembiayaan fasilitas kesehatan serta insentif bagi perusahaan dan pekerja diatur oleh pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keunikan, kecepatan, dan jangkauan dari pandemi beserta dampaknya merupakan sebuah tantangan yang sama sekali baru bagi seluruh pemerintahan di dunia, termasuk Australia. Meskipun begitu, Australia menjadi satu dari beberapa negara yang berhasil membuktikan efektivitasnya dalam beradaptasi dengan pandemi dan menekan angka kasus infeksi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perdebatan antara pendekatan yang diambil oleh negara federal di bidang ekonomi dan negara bagian di bidang kesehatan publik pada akhirnya menghasilkan&nbsp;<em>outcome&nbsp;</em>yang produktif, dan tidak lama lagi, Australia sudah siap untuk membuka kembali perbatasan-perbatasan dalam dan luar negerinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sinergi antar-<em>stakeholder&nbsp;</em>pemerintah dalam kerangka federalisme ala Australia ini memang merupakan sesuatu yang unik dan khas milik negara tersebut, namun negara-negara lain tentu dapat mengambil pelajaran dari penyesuaian dan adaptasi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang mempercepat penyembuhan masyarakat dari Covid-19.</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<h4 class="has-text-align-right wp-block-heading" id="tulisan-milik-nabila-humaira-yasmin-darmawan-mahasiswa-program-sarjana-ilmu-politik-universitas-indonesia"><strong>Tulisan milik Nabila Humaira Yasmin Darmawan, mahasiswa program sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia.</strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide"/>



<h6 class="wp-block-heading" id="opini-adalah-kiriman-dari-penulis-isi-opini-adalah-sepenuhnya-tanggung-jawab-penulis-dan-tidak-menjadi-bagian-tanggung-jawab-redaksi-pinterpolitik-com"><strong><em>Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.</em></strong></h6>



<p class="wp-block-paragraph">Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="132" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg" alt="Banner Ruang Publik" class="wp-image-91015" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-150x19.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/ruang-publik-banner-696x90.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Kisah-Sukses-Australia-Tangani-Covid-19-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dicekal, Akademisi Australia Berbahaya?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/dicekal-akademisi-australia-berbahaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Jun 2019 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Akademisi]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Australia-Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=60634</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa akademisi Australia ditolak masuk ke wilayah Indonesia oleh pihak imigrasi. Jika ditelusuri, akademisi-akademisi itu memang kerap punya tulisan yang cukup kritis tentang Indonesia dan secara khusus tentang pemerintah. PinterPolitik.com “Speech is very feared, mostly when it&#8217;s unpopular and free” – Lupe Fiasco, penyanyi rap asal Amerika Serikat Jika sebelumnya banyak jurnalis asing dilarang masuk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Beberapa akademisi Australia ditolak masuk ke wilayah Indonesia oleh pihak imigrasi. </strong><strong>Jika ditelusuri, akademisi-akademisi itu memang kerap punya tulisan yang cukup kritis tentang Indonesia dan secara khusus tentang pemerintah.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“Speech is very feared, mostly when it&#8217;s unpopular and free” – Lupe Fiasco, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">J</span>ika sebelumnya banyak jurnalis asing dilarang masuk ke beberapa wilayah seperti Papua, pemerintah Indonesia kini tampaknya menghadapi hal baru. Kali ini, giliran para akademisi Australia yang ditolak masuk ke wilayah Indonesia.</p>
<p>Beberapa akademisi Australia ini dicegat dan tidak diperbolehkan masuk oleh pihak imigrasi, padahal mereka bermaksud untuk melakukan penelitian. Ross Tapsell misalnya, disebut-sebut telah lama tinggal di Indonesia tetapi melakukan penelitian tanpa sepengetahuan dari Kemristekdikti.</p>
<p>Alhasil, sang akademisi perlu mengurus kembali visa khusus bila ingin melanjutkan penelitiannya di Indonesia. Pasalnya, akademisi-akademisi ini disebut-sebut menyalahgunakan visa turis yang seharusnya tidak diperuntukkan bagi keperluan penelitian.</p>
<p>Berdasarkan <a href="https://www.smh.com.au/world/asia/blocked-australian-academics-stopped-at-indonesian-border-20190625-p52148.html"><strong>laporan</strong></a> Sydney Morning Herald, akademisi-akademisi Australia sebenarnya sudah biasa menggunakan visa turis untuk bertandang ke Indonesia. Menurut para akademisi tersebut, proses untuk memperoleh visa akademis memakan waktu terlalu banyak, yaitu hingga enam bulan, serta sulit untuk didapatkan.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">Two Australian academics <a href="https://twitter.com/RossTapsell?ref_src=twsrc%5Etfw">@RossTapsell</a> and <a href="https://twitter.com/_DaveMcRae_?ref_src=twsrc%5Etfw">@_DaveMcRae_</a> are blocked to enter Indonesia. It&#39;s detrimental to the advancement of knowledge in Indonesia? <a href="https://t.co/sQIitwn27B">https://t.co/sQIitwn27B</a></p>
<p>&mdash; Andreas Harsono (@andreasharsono) <a href="https://twitter.com/andreasharsono/status/1143705709709684736?ref_src=twsrc%5Etfw">June 26, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Tentunya, keputusan imigrasi untuk menolak Tapsell dan David McRae tidak lepas dari kritik. Profesor Dewi Fortuna Anwar, peneliti politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) – lembaga yang sebelumnya berwenang dalam menyeleksi permintaan penelitian, menyayangkan peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah.</p>
<p>Menurut sang profesor, peraturan visa yang terlalu berat dapat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah perlu merevisi peraturan visa tersebut.</p>
<p>Terlepas dari persoalan visa tersebut, beberapa pertanyaan mengenai penolakan ini pun timbul. Mengapa pemerintah Indonesia menolak akademisi-akademisi dari Australia tersebut? Lalu, apakah hal ini ada kaitannya dengan pemerintah Australia?</p>
<h4><strong><em>For Knowledge is Power</em></strong><strong>&#8230;</strong></h4>
<p>Tindakan Ditjen Imigrasi yang menolak para akademisi ini boleh jadi memiliki alasan. Pasalnya, beberapa akademisi Australia tersebut ditengarai kerap membuat tulisan yang membahas perpolitikan Indonesia.</p>
<p>Tapsell misalnya, pernah menulis sebuah <a href="https://www.jstor.org/stable/10.5728/indonesia.99.0029"><strong>tulisan</strong></a> yang berjudul <em>Indonesia’s Media Oligarchy and the “Jokowi Phenomenon</em>.” Tulisan yang dibuat oleh akademisi dari Australian National University (ANU) tersebut membahas mengenai Jokowi yang banyak didukung oleh oligarki media, seperti Surya Paloh yang memiliki saluran televisi Metro TV.</p>
<p>Selain Tapsell, McRae juga pernah menulis mengenai pemerintahan Jokowi dalam sebuah <a href="https://www.insideindonesia.org/another-fork-in-the-road-for-democracy"><strong>artikel</strong></a> yang dirilis di Inside Indonesia. Dalam artikel tersebut, akademisi dari University of Melbourne tersebut menyinggung sedikit rekam jejak pemerintahan Jokowi yang buruk sebagai konsekuensi dari minimnya sokongan politik dan komitmen personal sang presiden.</p>
<p>Selain Tapsell dan McRae, akademisi-akademisi Australia lainnya juga pernah membuat tulisan yang tajam terhadap pemerintahan Jokowi. <a href="https://www.newmandala.org/jokowis-authoritarian-turn/" rel="nofollow"><strong>Tom Power</strong></a> dan <a href="https://www.eastasiaforum.org/2017/11/07/jokowi-in-indonesias-neo-new-order/" rel="nofollow"><strong>Tim Lindsey</strong></a> yang pernah dikutip oleh tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam gugatannya ke Mahkamah Konstitusi (MK) misalnya, menyebutkan bahwa pemerintahan Jokowi menggunakan cara-cara otoritarian dalam menghadapi lawan-lawan politiknya.</p>
<p>Bila kita tilik kembali, pada akademisi ini berasal dari perguruan tinggi yang sama. Tapsell dan Power misalnya, berasal dari ANU. Di sisi lain, McRae dan Lindsey berasal dari University of Melbourne.</p>
<p><hr /><p><em>Pengetahuan dan kekuatan (power) memiliki makna yang saling mengartikan dalam suatu diskursus.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fdicekal-akademisi-australia-berbahaya%2F&#038;text=Pengetahuan%20dan%20kekuatan%20%28power%29%20memiliki%20makna%20yang%20saling%20mengartikan%20dalam%20suatu%20diskursus.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Kedua kampus besar Australia tersebut tergabung dalam suatu kelompok yang bernama Group of Eight (<a href="https://go8.edu.au/about/the-go8"><strong>Go8</strong></a>). Kelompok ini merupakan kumpulan dari delapan kampus terbaik di negeri kanguru tersebut.</p>
<p>Sebagai kelompok yang didasari pada kepentingan penelitian, Go8 memiliki beberapa prinsip. Salah satu prinsip yang ditekankannya adalah kebebasan berpendapat. Dalam <a href="https://go8.edu.au/statement-from-the-group-of-eight-freedom-of-speech-is-fundamental-to-high-quality-universities"><strong>situsnya</strong></a>, Go8 menyatakan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak yang paling mendasar bagi kemajuan dan diskursus publik.</p>
<p>Kehadiran para akademisi ini dalam berkomentar mengenai perpolitikan Indonesia pun menjadi beralasan. Pasalnya, bila mengacu pada prinsip Go8 dalam Hefei Statement tersebut, debat publik merupakan hal yang lumrah guna menciptakan pemahaman dan pengetahuan baru.</p>
<p>Selain itu, dari tulisan-tulisan tersebut, keputusan pemerintah untuk menolak para akademisi Australia ini bisa saja menjadi beralasan. Pasalnya, pengetahuan para akademisi yang cakap dalam studi Indonesia tersebut tentu memiliki pengaruh tersendiri dalam diskursus politik di masyarakat.</p>
<p>Keterkaitan pengetahuan dengan diskursus ini pernah dibahas oleh filsuf asal Prancis yang bernama Michel Foucault. <a href="https://www.jstor.org/stable/41801502"><strong>Menurut</strong></a> sang filsuf, pengetahuan dan kekuatan (<em>power</em>) memiliki makna yang saling mengartikan dalam suatu diskursus.</p>
<p>Dengan didasari pengetahuan, timbul lah kekuatan untuk memengaruhi diskursus. Begitu juga dengan sebaliknya, kekuatan tersebut juga dapat digunakan untuk membentuk pengetahuan dan kebenaran yang diyakini oleh masyarakat.</p>
<p>Jika ditarik kembali pada kasus akademisi-akademisi Australia tersebut, hubungan konseptual antara kekuatan dan pengetahuan ala Foucault ini dapat menjelaskan bahwa diskursus politik Indonesia bisa jadi turut dipengaruhi oleh kekuatan para akademisi yang didasarkan pada pengetahuannya. Mungkin, pemerintahan Jokowi menyadari kekuatan para akademisi tersebut sehingga memutuskan untuk membatasi ruang gerak mereka.</p>
<h4><strong>Kemesraan Indonesia-Australia?</strong></h4>
<p>Uniknya, beberapa akademisi tersebut tampak tidak ingin turut campur dalam riuh Pilpres 2019 setelah tim Prabowo-Sandi mengutip mereka dalam gugatan yang diajukannya ke MK. Bagi Power dan Lindsey, pengutipan yang dilakukan tim paslon tersebut tidak relevan dengan hasil Pilpres 2019.</p>
<p>Padahal, Power dan Lindsey sebelumnya mengkritik Jokowi yang dianggap menggunakan cara-cara otoritarian dalam menghadapi lawan-lawan politiknya. Dalam tulisan Power di New Mandala, Jokowi dianggap telah menggunakan cara-cara iliberal guna melawan kekuatan-kekuatan iliberal, seperti Front Pembela Islam (FPI).</p>
<p>Sejauh ini, tak terungkap secara resmi dan utuh mengapa mereka belakangan justru bersikap berlawanan. Bisa jadi, mereka tidak ingin bernasib sama seperti Tapsell yang ternyata telah dicekal oleh pihak imigrasi semenjak awal April lalu.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-60636" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie.jpg" alt="" width="2250" height="2251" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie.jpg 2250w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/Imigrasi-tolak-akademisi-aussie-1920x1921.jpg 1920w" sizes="auto, (max-width: 2250px) 100vw, 2250px" /></p>
<p>Di luar itu, hubungan Indonesia-Australia bisa saja turut berkontribusi bagi gerak-gerik kedua akademisi tersebut. Pasalnya, hubungan pemerintahan Jokowi dengan pemerintahan Scott Morrison di Australia disebut-sebut sedang dalam fase yang mesra.</p>
<p>Mengacu pada <a href="https://www.abc.net.au/news/2019-05-21/jokowi-elected-what-will-second-term-look-like/11130074/" rel="nofollow"><strong>tulisan</strong></a> analisis milik jurnalis Max Walden di ABC News, kemenangan Jokowi dalam Pilpres lalu bisa saja disambut dengan baik oleh Canberra. Dengan mengutip pendapat beberapa ahli, Walden menjelaskan bahwa Indonesia dan Australia memiliki banyak kesamaan kepentingan.</p>
<p>Kesamaan kepentingan yang dimaksud ini berkaitan dengan kepentingan dagang antara kedua negara ini. Dalam tulisan Walden tersebut, dijelaskan bahwa proses ratifikasi kesepakatan dagang yang ditandatangani oleh Enggartiasto Lukita-Simon Birmingham pada Maret lalu bisa jadi lebih lancar seiring dengan terpilihnya kembali Jokowi dan Morrison.</p>
<p>Perjanjian dagang ini disebut-sebut <a href="https://www.scmp.com/news/asia/southeast-asia/article/2188484/australia-and-indonesia-sign-long-awaited-trade-deal-new/" rel="nofollow"><strong>sejalan</strong></a> dengan kepentingan Jokowi yang ingin meningkatkan keberhasilannya di bidang ekonomi. Dengan adanya perjanjian bilateral tersebut, diharapkan laju investasi dari Australia dapat meningkat.</p>
<p>Selain itu, kesamaan kepentingan disebut-sebut juga terjadi pada sektor pertahanan dan keamanan. Sambhi dalam tulisan Walden menjelaskan bahwa konsep Indo-Pasifik ala Indonesia memiliki keterkaitan yang erat dengan visi kawasan milik India dan Australia.</p>
<p>Berdasarkan <a href="https://www.brookings.edu/blog/up-front/2018/09/19/what-about-india-indonesia-australia-the-new-trilateral/" rel="nofollow"><strong>diskusi panel</strong></a> yang dilaksanakan oleh Brookings Institute, ketiga negara tersebut memiliki kekhawatiran yang konvergen dalam isu-isu pertahanan dan keamanan dalam menghadapi kekuatan Tiongkok yang terus bertumbuh, terutama dalam isu keamanan maritim. Pemerintahan Jokowi sendiri sempat khawatir dengan meluasnya pengaruh Tiongkok di Laut Natuna Utara.</p>
<p>Bisa jadi, alasan kemesraan Jokowi-Morrison inilah yang membuat Power dan Lindsey menolak pengutipan yang dilakukan oleh tim Prabowo-Sandi. Pasalnya, Go8 sendiri <a href="https://go8.edu.au/go8-media-release-group-of-eight-welcomes-the-newly-elected-morrison-government"><strong>menyambut</strong></a> terpilihnya Morrison sebagai Perdana Menteri Australia.</p>
<p>Mungkin, seperti pemerintahan Jokowi terkait Tapsell dan McRae, Go8 dan Morrison menyadari bahwa Power dan Lindsey sebagai akademisi memiliki pengetahuan yang dapat memengaruhi diskursus publik, apalagi bila mengancam hubungan mesra tersebut.</p>
<p>Bila benar begitu, lirik <em>rapper</em> Lupe Fiasco di awal tulisan pun menjadi relevan. Sebuah pendapat akan sangat ditakuti oleh penguasa ketika pendapat itu tidak populer dan bisa beredar bebas, apalagi jika pendapat itu didasari oleh pengetahuan yang mumpuni. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="Wlsl13h-L3E"><iframe loading="lazy" title="MENERKA JEJAK ALUMNI AMERIKA" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Wlsl13h-L3E?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/ac9e05a526a5ea8c487dd6540baefd8f-1024x576.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>What Do the Australian Elections Mean for Canberra’s Policies Toward Indonesia and the Rest of Southeast Asia?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/what-do-the-australian-elections-mean-for-canberras-policies-toward-indonesia-and-the-rest-of-southeast-asia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Foreign Liaison]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 12 Jun 2019 05:02:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=59801</guid>

					<description><![CDATA[In elections last month, Australia’s Liberal-National coalition won a surprising victory,&#160;defying pollsters&#160;who had almost uniformly predicted that the Australian Labor Party would triumph. The coalition’s victory was chalked up, by many, to the unpopularity of Labor leader Bill Shorten, who has&#160;since resigned&#160;as leader of Labor, and the Australian&#160;electorate’s cautiousness—the coalition had overseen continued economic expansion, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignleft size-full wp-image-48850" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/02/joshkurlantzick.jpg" alt="" width="332" height="500" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/02/joshkurlantzick.jpg 332w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/02/joshkurlantzick-199x300.jpg 199w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/02/joshkurlantzick-279x420.jpg 279w" sizes="auto, (max-width: 332px) 100vw, 332px" /><span class="dropcap dropcap2">I</span>n elections last month, Australia’s Liberal-National coalition won a surprising victory,&nbsp;<a href="https://www.nytimes.com/2019/05/17/world/australia/election-day.html">defying pollsters</a>&nbsp;who had almost uniformly predicted that the Australian Labor Party would triumph. The coalition’s victory was chalked up, by many, to the unpopularity of Labor leader Bill Shorten, who has&nbsp;<a href="https://www.smh.com.au/federal-election-2019/a-bit-of-a-mess-labor-devastated-at-shock-loss-20190518-p51opv.html">since resigned</a>&nbsp;as leader of Labor, and the Australian&nbsp;<a href="https://www.nytimes.com/2019/05/20/opinion/australia-election.html">electorate’s cautiousness</a>—the coalition had overseen continued economic expansion, and Labor had proposed a bold agenda that might have alienated some voters.</p>
<p>On domestic policy, the coalition’s victory likely presages continuity on key domestic issues like taxes. Morrison&nbsp;<a href="https://www.bloomberg.com/news/articles/2019-04-02/australia-s-windfall-surplus-buys-morrison-election-ammunition">promised tax cuts</a>&nbsp;before the election, for instance and seems&nbsp;<a href="https://thenewdaily.com.au/news/election-2019/2019/06/04/tax-cuts-2019/">likely to deliver</a>&nbsp;them. But the impact of the coalition’s victory on Australian policy toward Southeast Asia is somewhat less clear.</p>
<p>In the run-up to the election, as James Curran&nbsp;<a href="https://www.cfr.org/blog/how-morrison-won-and-what-his-win-means-us-australia-alliance">noted</a>&nbsp;for&nbsp;Asia Unbound, the parties did not&nbsp;<a href="https://theconversation.com/foreign-policy-should-play-a-bigger-role-in-australian-elections-this-is-why-it-probably-wont-115298">seriously debate</a>&nbsp;foreign policy. On China and the United States, two of Australia’s three most important foreign relationships, Morrison seems to have a predictable approach, Curran&nbsp;<a href="https://www.cfr.org/blog/how-morrison-won-and-what-his-win-means-us-australia-alliance">wrote</a>, but the Liberal-National coalition will find its policies challenged by regional and global dynamics—principally being pulled between the two giants—that could undermine Morrison’s attempt to have a coherent China policy.</p>
<p>And in dealing with Southeast Asia and the Pacific, the coalition’s approach seems somewhat more muddled, although there are important reasons for hope. On Indonesia, Morrison is poised to move relations forward, and has already taken steps, since becoming prime minister last year, to solidify ties with Jakarta.</p>
<p>In March, Indonesia and Australia signed a major free trade agreement, though it still has to be approved by parliaments in Canberra and Jakarta. This was a landmark in bilateral economic ties, and Morrison also went to Jakarta on&nbsp;<a href="https://www.aspistrategist.org.au/morrisons-symbolic-visit-to-indonesia-must-be-backed-by-action/">his first international trip</a>&nbsp;as prime minister last year.</p>
<p>In making Indonesia his first destination for an international trip, Morrison demonstrated the&nbsp;<a href="https://www.aspistrategist.org.au/morrisons-symbolic-visit-to-indonesia-must-be-backed-by-action/">high priority</a>&nbsp;he placed on the Australia-Indonesia relationship, historically a fraught one. Although ties between Canberra and Jakarta cooled briefly last year after Morrison raised the idea of moving the Australian embassy in Israel, Morrison formally&nbsp;<a href="https://www.timesofisrael.com/without-fanfare-australia-opens-trade-and-defense-office-in-jerusalem/">recognized West Jerusalem</a>&nbsp;as Israel’s capital yet his administration ultimately opened a defense and trade office in Jerusalem,&nbsp;<a href="https://www.timesofisrael.com/without-fanfare-australia-opens-trade-and-defense-office-in-jerusalem/">with little fanfare</a>. The trade agreement, too,&nbsp;<a href="https://www.thenational.ae/world/oceania/tensions-between-indonesia-and-australia-eased-by-trade-deal-1.833794">helped warm links</a>&nbsp;again between Jakarta and Canberra.</p>
<p>In his new term, Morrison is likely to push efforts to upgrade strategic ties with Indonesia, in addition to getting the trade deal passed through parliament. The bilateral relationship, like all of Indonesia’s foreign ties, also probably will benefit from more stability in Canberra, as Morrison’s election and new Liberal Party&nbsp;<a href="https://www.reuters.com/article/us-australia-politics-leadership/australian-ruling-party-toughens-rules-on-toppling-leader-idUSKBN1O214W">rules</a>that make internal party spills more difficult&nbsp;<a href="https://www.csis.org/analysis/morrisons-miracle-election-end-uncertainty">should stabilize</a>&nbsp;Australian politics and prevent the revolving chair prime minister problem that, in recent years, has unsettled regional allies.</p>
<p>The opportunity for closer strategic relations between Australia and Indonesia certainly exists: As I noted in a&nbsp;<a href="https://www.cfr.org/report/keeping-us-indonesia-relationship-moving-forward">Council Special Report</a>&nbsp;last year, the Jokowi administration has become increasingly worried about Beijing’s approach to the South China Sea and other regional challenges. Indonesians overall also have&nbsp;<a href="https://thediplomat.com/2019/06/understanding-indonesians-souring-sentiment-toward-china/">declining favorable</a>&nbsp;views of China.</p>
<p>Indeed, Jakarta has moved closer to Canberra’s hawkish views about China’s military assertiveness, although Jokowi needs&nbsp;<a href="https://www.voanews.com/a/indonesia-pacific-strategy/4897118.html">to woo Chinese investment</a>&nbsp;so badly that he will be reluctant to truly alienate Beijing. Still, there is a substantial chance for Morrison to build on the Comprehensive Strategic Partnership Australia signed with Indonesia last year, such as by expanding bilateral joint military exercises or making the new&nbsp;<a href="https://www.thehindu.com/news/international/us-japan-skorea-australia-hold-first-naval-drills-in-western-pacific/article27215820.ece">Japan-South Korea-Australia-Indonesia exercises</a>&nbsp;a regular practice.</p>
<p>Outside Indonesia, admittedly Canberra’s crucial Southeast Asian relationship, the coalition’s policies are less clear. Morrison seems more focused on China, Indonesia, and the Pacific, traditionally an Australian sphere of influence but increasingly an area of Chinese dominance, than on Southeast Asia other than Indonesia. Morrison’s&nbsp;<a href="https://www.aspistrategist.org.au/morrisons-pacific-pivot/">plan for a Pacific pivot is substantial,</a>&nbsp;and he has already moved&nbsp;<a href="https://www.theguardian.com/world/2019/jun/03/australia-pledges-250m-to-solomon-islands-as-chinas-influence-in-pacific-grows">to make good</a>&nbsp;on the strategy. His approach will balance China’s power in the Pacific, though the coalition’s&nbsp;<a href="https://www.theguardian.com/australia-news/2019/may/22/pacific-leaders-urge-scott-morrison-to-act-on-climate-emergency-following-election-win">general lack of action on climate change</a>&nbsp;will potentially undermine Pacific ties.</p>
<p>With mainland Southeast Asia, other than Vietnam, it will be difficult for the Morrison administration to convince any countries to go along with Canberra’s relatively tough approach toward China. And Canberra does not appear to have as clear a strategy toward mainland Southeast Asian states as it does toward the rest of the region. I will deal with Morrison’s approach to mainland Southeast Asia in the next blog post.</p>
<hr>
<p><em>This article was originally published by the Council on Foreign Relations and can be accessed at&nbsp;</em><a href="https://www.cfr.org/blog/what-do-australian-elections-mean-canberras-policies-toward-indonesia-and-rest-southeast-asia?utm_medium=social_share&amp;utm_source=tw"><strong><em>cfr.org</em></strong></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/06/fghfghf-1024x738.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Australia Dukung Jokowi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/australia-dukung-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Mar 2019 00:00:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[IA CEPA]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=49504</guid>

					<description><![CDATA[Kesepakatan perdagangan bebas yang ditandatangani oleh Indonesia dan Australia menjadi babak baru hubungan kedua negara. Dengan konteks kontestasi elektoral yang terjadi di Indonesia, kerja sama yang tertunda beberapa saat akibat isu perpindahan kedubes Australia dari Tel Aviv ke Yerusalem nyatanya punya dimensi yang berbeda. Apalagi, lembaga survei asal Negeri Kanguru itu, Roy Morgan baru merilis [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Kesepakatan perdagangan bebas yang ditandatangani oleh Indonesia dan Australia menjadi babak baru hubungan kedua negara. Dengan konteks kontestasi elektoral yang terjadi di Indonesia, kerja sama yang tertunda beberapa saat akibat isu perpindahan kedubes Australia dari Tel Aviv ke Yerusalem nyatanya punya dimensi yang berbeda. Apalagi, lembaga survei asal Negeri Kanguru itu, Roy Morgan baru merilis hasil survei yang mengunggulkan calon petahana. Sebuah kebetulan?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p><strong>“A secure Indonesia is Australia’s interest”</strong></p>
<p><strong>:: Buku Putih Pertahanan Australia 2016 ::</strong></p></blockquote>
<p>[dropcap]S[/dropcap]aat publik dalam negeri sibuk mengomentari kasus penangkapan Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Demokrat, Andi Arief terkait kasus narkoba, sebuah kesepakatan kerja sama penting yang melibatkan negara tetangga di wilayah selatan &#8211; Australia &#8211; terlihat seperti tenggelam dalam pemberitaan. Padahal, kerja sama ini menjadi hal yang cukup penting untuk disoroti dari berbagai sudut pandang.</p>
<p>Bukan tanpa alasan, pasalnya kesepakatan ini justru lebih banyak disoroti oleh media-media asing.</p>
<p>Portal berita Singapura, The Straits Times misalnya, <a href="https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/indonesia-australia-sign-trade-deal-after-months-of-tension"><strong>menurunkan</strong></a> tajuk peristiwa itu dalam bingkai Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sebagai ujung dari tensi hubungan yang sempat memanas pasca Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison mewacanakan pemindahan kedutaan besar negara tersebut di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem beberapa waktu lalu.</p>
<p><hr /><p><em>Narasi anti-asing yang kerap digembar-gemborkan oleh Prabowo selama kampanye sangat mungkin menggeser haluan kebijakan dan kepentingan banyak negara di Indonesia.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Faustralia-dukung-jokowi%2F&#038;text=Narasi%20anti-asing%20yang%20kerap%20digembar-gemborkan%20oleh%20Prabowo%20selama%20kampanye%20sangat%20mungkin%20menggeser%20haluan%20kebijakan%20dan%20kepentingan%20banyak%20negara%20di%20Indonesia.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Wacana tersebut memang sempat mendatangkan protes di dalam negeri, mengingat Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah salah satu negara yang mendukung penuh kemerdekaan Palestina, dan Yerusalem adalah salah satu wilayah yang masih manjadi basis konflik negara tersebut dengan Israel.</p>
<p>Konteks tersebut juga dipengaruhi oleh situasi dalam negeri jelang kontestasi elektoral Pilpres 2019 yang memang sensitif terhadap isu-isu berbasis identitas – hal yang linear dengan persaudaraan terhadap masyarakat Palestina.</p>
<p>Sementara, nada serupa juga <a href="https://www.straitstimes.com/asia/se-asia/indonesia-australia-sign-trade-deal-after-months-of-tension"><strong>diturunkan</strong></a> oleh portal berita yang berbasis di Hong Kong, South China Morning Post (SCMP), yang menyebut bahwa kebijakan IA-CEPA yang sudah digodok sejak tahun 2010 ini sangat mungkin menjadi awal kerja sama yang lebih intensif antara Indonesia dengan Australia.</p>
<p>Pasalnya, sekalipun pada tahun 2017 nilai perdagangan antara kedua negara menyentuh angka US$ 11,7 miliar (Rp 165,3 triliun), namun Indonesia hanya menjadi partner dagang terbesar ke-13 dari Australia.</p>
<p>Bagi publik di Indonesia, kesepakatan kerja sama ini mungkin dianggap biasa saja. Secara ekonomis, perjanjian ini bisa menguntungkan dua pihak karena <a href="https://www.inews.id/finance/makro/sah-indonesia-australia-sepakati-kerja-sama-perdagangan-bebas/476357"><strong>mengeliminasi</strong></a> 100 persen tarif barang asal Indonesia ke Australia, dan 94 persen tarif barang dari Australia ke Indonesia.</p>
<p>Namun, hal ini bisa dilihat dalam dimensi yang berbeda secara geopolitik, terutama dengan konteks kontestasi elektoral yang saat ini tengah berlangsung di Indonesia. Pasalnya, Negeri Kanguru itu selalu punya kepentingan terhadap Indonesia – hal yang bisa dilihat dari arah politik pertahanan negara tersebut dalam <a href="http://www.defence.gov.au/WhitePaper/Docs/2016-Defence-White-Paper.pdf"><strong><em>Defence White Paper</em></strong></a> atau Buku Putih Pertahan-nya.</p>
<p>“A secure Indonesia is Australia’s interest”, demikian salah satu kalimat dalam dokumen yang berisi rencana strategis pertahanan negara tersebut. Artinya, jika pergantian kekuasaan melahirkan pemimpin yang menjamin “keamanan” domestik Indonesia, maka kepentingan nasional Australia dengan sendirinya terwujud.</p>
<p>Konteks penandatangan perjanjian ini menjadi menarik karena beberapa hari lalu, lembaga survei ternama asal Australia, Roy Morgan, mengeluarkan hasil survei elektabilitas Jokowi dan Prabowo Subianto, dengan nama terakhir tertinggal cukup jauh dari nama pertama.</p>
<p>Jokowi memperoleh 58 persen suara, sementara Prabowo hanya 42 persen – terpaut hingga 16 persen. Bahkan dalam keterangan resmi lembaga tersebut, sang CEO, Michele Levine menyebut Indonesia akan memilih Jokowi untuk periode kekuasaannya.</p>
<p>Hal tersebut tentu membuat fenomena hubungan kerja sama yang disepakati menjadi hal yang menarik. Mengingat Roy Morgan adalah salah satu lembaga terpercaya, apakah mungkin mengatakan bahwa Australia merasa lebih nyaman jika Jokowi terpilih lagi dan secara tidak langsung menyiratkan adanya dukungan serta keberpihakan politik di dalamnya?</p>
<h4><strong>Antara Politik dan Kerja Sama Dagang</strong></h4>
<p>Setelah PM Morrison mengambil alih kekuasaan pada Agustus 2018, ia mendapat tantangan besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Australia. Pasalnya, di akhir tahun lalu, berbagai analisis <a href="https://www.businessinsider.com.au/australia-economy-q3-gdp-2018-12"><strong>menyebut</strong></a> pertumbuhan ekonomi negara tersebut mengalami perlambatan.</p>
<p>Konteks tersebut juga berkaitan dengan investasi dan neraca perdagangan. Pasalnya, partner dagang <a href="http://www.worldstopexports.com/australias-top-import-partners/"><strong>terbesar</strong></a> Australia di tahun 2018 adalah Tiongkok dengan persentase 29 persen dari total keseluruhan perdagangan negara tersebut dan total nilainya mencapai US$ 74 miliar.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/Bum_BarA8TH/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bum_BarA8TH/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bum_BarA8TH/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Akankah Jokowi 2 periode nantinya? Simak infografis kami lainnya di Pinterpolitik.com #jokowi #survei #surveiroymorgan #prabowo #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-03-05T02:02:13+00:00">Mar 4, 2019 at 6:02pm PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Jumlah tersebut hampir 3 kali lipat nilai perdagangan Australia dengan Jepang di urutan kedua yang hanya 10,3 persen (US$ 26,2 miliar), dan jauh di atas nilai perdagangan dengan Indonesia yang hanya 1,7 persen (US$ 4,3 miliar).</p>
<p>Persoalannya, Tiongkok dikabarkan tengah <a href="https://www.businessinsider.com.au/australia-property-chinese-investment-juwai-com-2018-9"><strong>menerapkan</strong></a> kebijakan pembatasan investasi luar negeri di beberapa sektor, dan salah satu yang terdampak adalah di bidang properti &#8211; yang nyatanya menjadi salah satu sektor terbesar dalam kerja sama ekonomi dengan Australia.</p>
<p>Akibatnya akan ada penurunan nilai yang diperkirakan mencapai 26 persen dari total investasi di sektor tersebut. Australia sudah merasakan dampak yang cukup besar dari kebijakan ini mengingat Tiongkok menguasai 38 persen dari total investasi properti di Negeri Kanguru tersebut.</p>
<p>Pembatasan ini juga berpeluang membuat proyek yang sudah dikerjakan menjadi <a href="https://www.news.com.au/national/china-cracks-down-on-foreign-investments-amid-fears-companies-are-racking-up-too-much-debt/news-story/bfb7fb7d6c474e052d2fee1a84ebea83"><strong>terbengkalai</strong> </a>dan merugi. Apalagi Australia masuk dalam <strong><a href="http://www.news.com.au/national/china-cracks-down-on-foreign-investments-amid-fears-companies-are-racking-up-too-much-debt/news-story/bfb7fb7d6c474e052d2fee1a84ebea83">10 besar</a> </strong>negara tujuan investasi properti warga Tiongkok. Beberapa analis dan media di Australia menyebut bahwa jika hal ini terus berlangsung, akan ada dampak yang cukup terasa bagi ekonomi negara persemakmuran Inggris tersebut.</p>
<p>Persoalan-persoalan tersebut memang menjadi tantangan Morrison dan ia tentu saja harus melihat peluang lain dari kebijakan luar negeri dengan partner yang bisa digarap, dalam hal ini salah satunya Indonesia.</p>
<p>Hal ini mungkin sesuai dengan apa yang <a href="https://www.themonthly.com.au/issue/2013/june/1370181600/hugh-white/rethinking-indonesia"><strong>ditulis</strong> </a>oleh Hugh White dari Australian National University yang menyebutkan bahwa Australia perlu mengubah cara pandangnya terhadap Indonesia.</p>
<p>Dari sisi pasar misalnya, Indonesia punya populasi yang cukup besar dan bisa menjadi target pasar komoditas yang masuk dalam <a href="https://www.independent.co.uk/voices/scott-morrison-malcolm-turnull-australia-prime-minister-liberal-party-a8505961.html"><strong>10 besar ekspor</strong></a> negara tersebut, misalnya produk daging dan susu. Selain itu, jarak kedua negara pun relatif lebih dekat. Artinya, ada potensi untuk meningkatkan kerja sama ekonomi tersebut.</p>
<p>Selain itu, <em>Defence White Paper – </em>Buku Putih Pertahanan – Australia tahun 2016 masih menyebut Indonesia secara khusus sebagai “sekutu”. Bahkan Indonesia disebut sebagai negara di Asia Tenggara yang harus dioptimalkan kerja sama pertahanan dan keamanannya, juga dari konteks ekonomi.</p>
<p>Australia juga menyebut Indonesia akan menjadi pemain utama dalam ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang. Konteks tersebut memang membuat kerja sama ekonomi yang melibatkan arus barang dan jasa menjadi hal yang bisa menguntungkan dua belah pihak.</p>
<p>Namun, sebagai negara berdaulat, Indonesia juga perlu waspada. Bukan tanpa alasan sosok semacam mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo kerap <a href="https://pinterpolitik.com/intervensi-asing/"><strong>menaruh</strong> </a>curiga terhadap Australia. Pasalnya, negara ini selalu punya kepentingan dalam konteks domestik di Indonesia dan menjadi bagian dari pertarungan <em>proxy </em>yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar lain di kawasan.</p>
<p>“A secure Indonesia is Australia’s interest”, seperti disinggung di awal tulisan, tentu bisa dimaknai secara beragam. Sebab, secara tradisional, Australia melihat Indonesia sebagai “ancaman” yang datang dari utara.</p>
<h4><strong>Tetangga Berpengaruh, Dukung Jokowi?</strong></h4>
<p>Memang cukup naif untuk melihat konteks survei Roy Morgan yang mengunggulkan Jokowi, dengan kesepakatan kerja sama yang berpotensi meningkatkan nilai keekonomian dua negara.</p>
<p>Apalagi, lembaga survei yang mencontoh Gallup – salah satu lembaga riset opini publik paling berpengaruh di dunia – itu punya rekam jejak yang tak bisa diragukan. Sebagai catatan, Roy Morgan – sang pendiri lembaga tersebut – pernah menghabiskan waktu beberapa tahun di Amerika Serikat dan belajar dari pendiri Gallup, George Gallup.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/Bot5SloAyQn/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bot5SloAyQn/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bot5SloAyQn/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Bersama Duta Besar Australia, H. E. Gary Quinlan.</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/prabowo/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> Prabowo Subianto</a> (@prabowo) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2018-10-09T15:18:27+00:00">Oct 9, 2018 at 8:18am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Artinya, dari sisi kredibilitas survei, memang lembaga itu agak sulit dibantah. Pada Pilpres 2014 lalu, Roy Morgan juga menyebut Jokowi akan memenangkan kontestasi dengan persentase 52 persen berbanding 48 persen milik Prabowo. Hasilnya terbukti dan bahkan marjin prediksi tersebut hanya terpaut 1,15 persen saja.</p>
<p>Sementara, dalam konteks yang lebih besar, sangat mungkin hasil survei tersebut menjadi acuan kebijakan-kebijakan Australia di sisa akhir masa waktu kekuasaan Jokowi – jika dugaan-dugaan tak berdasar macam intervensi Pemilu dikesampingkan.</p>
<p>Australia tampaknya lebih percaya dengan potensi dan program ekonomi di bawah Jokowi yang terlihat lebih menjamin kepastian hubungan dua negara, terutama di bidang ekonomi. Sementara, dengan Prabowo, mungkin saja hal tersebut tidak terjadi.</p>
<p>Publik mungkin ingat pada Oktober 2018 lalu, Prabowo sempat menemui Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan. Ia juga pernah membela Australia terkait wacana pemindahan Kedubes negara tersebut dari Tel Aviv ke Yerusalem.</p>
<p>Namun, narasi anti-asing yang kerap digembar-gemborkan oleh Prabowo selama kampanye sangat mungkin menggeser haluan kebijakan negara tersebut. Apalagi, Jokowi cenderung lebih akomodatif – hal yang bisa dilihat dari protes Australia terkait rencana pembebasan Abu Bakar Ba’asyir yang pada akhirnya tak jadi dilakukan.</p>
<p>Pada akhirnya, publik tentu menanti, apalagi hal yang akan terjadi antara Indonesia dan Australia di waktu-waktu yang akan datang. Yang jelas, sampai kapan pun, Australia akan selalu melihat ke utara. Sebab, bagi mereka, “keamanan” di Indonesia akan selalu jadi kepentingan nasionalnya. (S13)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="6WPooCPtHQA"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/6WPooCPtHQA?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/03/bnvncvc-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Di Balik Ba’asyir, Morrison dan Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/di-balik-baasyir-morrison-dan-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A37]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 22 Jan 2019 13:31:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar Ba'asyir]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=47405</guid>

					<description><![CDATA[Keputusan Jokowi untuk membatalkan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir semakin membuat bingung publik, setelah sebelumnya terkesan yakin untuk membebaskan tokoh Islam konservatif tersebut. Apakah Jokowi mengalami dilema? Atau ada “bisikan” asing? PinterPolitik.com  [dropcap]A[/dropcap]bu Bakar Ba’asyir tidak jadi dibebaskan. Keputusan itu didapat setelah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal (Purn) Wiranto menyampaikannya di hadapan pewarta. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Keputusan Jokowi untuk membatalkan pembebasan Abu Bakar Ba’asyir semakin membuat bingung publik, setelah sebelumnya terkesan yakin untuk membebaskan tokoh Islam konservatif tersebut. Apakah Jokowi mengalami dilema? Atau ada “bisikan” asing?</strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #cbde2a;">PinterPolitik.com</span> </strong></p>
<p>[dropcap]A[/dropcap]bu Bakar Ba’asyir tidak jadi dibebaskan. Keputusan itu didapat setelah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jenderal (Purn) Wiranto menyampaikannya di hadapan pewarta.</p>
<p>Isu tentang pembebasan Ba’asyir yang menggelinding sejak Jumat lalu memang belakangan menjadi bola liar. Akhirnya bola itu berhenti setelah pernyataan Wiranto disampaikan ke hadapan publik.</p>
<p>Bola liar ini bermula ketika Yusril Ihza Mahendra sebagai Penasihat Hukum pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin mendatangi Lapas Gunung Sindur, Bogor. Yusril disebut sedang mengkaji dan mempersiapkan pembebasan Ba’asyir.</p>
<p>Tak lama berselang, berita tentang pembebasan Ba’asyir tersebut beredar luas. Jokowi pun sempat menyinggung hal tersebut saat sedang berkunjung di Garut. Wacana ini pada akhirnya mendapat tanggapan beragam dari publik. Namun, mayoritas publik heran dengan keputusan Jokowi tersebut.</p>
<p>Tidak sedikit yang menyampaikan kritik karena Ba’asyir dianggap masih berbahaya. Hal itu salah satunya disuarakan oleh Perdana Menteri (PM) Australia, <a href="https://www.theguardian.com/world/2019/jan/22/bali-bombings-indonesia-reviews-abu-bakar-bashirs-release-after-morrisons-request"><strong>Scott Morrison</strong></a>. Ia menilai Ba’asyir merupakan tokoh yang berbahaya dan mereka berharap Jokowi memperhatikan “perasaan” Australia sebagai negara yang mayoritas warganya menjadi korban Bom Bali tahun 2002 lalu. Ba’asyir memang dianggap sebagai salah satu tokoh yang bertanggung jawab terhadap tragedi tersebut.</p>
<p>Kritik serupa dilontarkan oleh pengamat terorisme sekaligus pegiat studi konflik, <a href="https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/indonesia-releasing-abu-bakar-ba-asyir-wrong-all-counts"><strong>Sidney Jones</strong></a>. Bahkan Jones menilai Jokowi menunjukan tabiat politik Machiavellian – aliran politik yang dianggap mengabaikan moralitas.</p>
<p>Namun, akhirnya Jokowi membatalkan pembebasan Ba’asyir tersebut. Terlepas apakah hal ini akibat adanya tekanan dari pihak tertentu atau tidak, nyatanya publik dibuat bingung.</p>
<p>Ada apa sebenarnya dengan langkah Jokowi tersebut? Apakah karena Ba’asyir yang bersikukuh tidak ingin bersetia dengan Pancasila seperti yang dijelaskan oleh Wiranto atau ada pihak lain yang mendesak Jokowi untuk menarik keputusan tersebut?</p>
<h4><strong>Manuver Rebut Islam Konservatif</strong></h4>
<p>Ada anggapan bahwa kontestasi Pilpres 2019 kental diwarnai dengan dimensi agama dan ekonomi. Hal itu misalnya disampaikan oleh peneliti dari S. Rajaratman School of International Studies (RSIS), <a href="https://www.cnbc.com/2019/01/21/indonesia-politics-religion-economy-key-to-widodos-re-election.html"><strong>Alexander Raymond Arifianto</strong></a> yang memprediksi isu agama akan menjadi hal yang menonjol selama masa Pilpres berlangsung.</p>
<p>Lebih lanjut Alexander menyebut bahwa Jokowi sudah mengantisipasinya dengan memilih ulama konservatif Ma’ruf Amin sebagai wakilnya.</p>
<p>Dalam hal ini, pembebasan Ba’asyir bisa dianggap sebagai manuver lanjutan dari Jokowi untuk menggaet suara kelompok Islam konservatif yang dianggap masih jauh berpihak dari dirinya.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-47406" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir.jpg" alt="Di Balik Baasyir Morrison dan Jokowi" width="1080" height="1180" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir-275x300.jpg 275w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir-768x839.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir-937x1024.jpg 937w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir-696x760.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir-1068x1167.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/Infografis-Bola-Panas-Pembebasan-Ba’asyir-384x420.jpg 384w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Namun, pembebasan Ba’asyir bukanlah sesuatu yang sederhana dan memiliki nilai politis yang tinggi.</p>
<p>Ba’asyir, bagaimanapun masih dianggap sebagai sosok yang berbahaya dalam kapasitasnya untuk menyebarkan ajaran jihad. Hal itu seperti yang <a href="https://www.lowyinstitute.org/the-interpreter/indonesia-releasing-abu-bakar-ba-asyir-wrong-all-counts"><strong>dicemaskan</strong></a> oleh pengamat baik di dalam maupun luar negeri.</p>
<p>Pada titik ini, jika Jokowi memang menginginkan pembebasan seperti yang disampaikan sebelumnya, maka ada kontra posisi antara kebijakan yang diusulkan ini dengan pandangan yang beredar. Hal itu tentu menimbulkan tanda tanya besar.</p>
<p>Apakah Jokowi memang serius ingin memberikan keringanan hukuman kepada tokoh yang dipersepsikan dunia internasional sebagai “<a href="http://www.atimes.com/article/political-motives-behind-release-of-indonesian-high-profile-prisoners/"><strong><em>evil mastermind</em></strong></a>” dari aksi teror Bali 2002 silam?</p>
<p>Jokowi memang diberitakan sudah sejak lama ingin membebaskan Ba’asyir karena alasan kemanusiaan. Namun, pertanyaannya kemudian adalah kenapa hal itu benar-benar dilakukan saat ini di mana kontestasi politik tengah berlangsung?</p>
<p>Apalagi dilihat dari konteks hukum, ada kejanggalan dari rencana Jokowi tersebut. Misalnya seperti pendapat pakar hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar yang menyebut rencana membebaskan Ba’asyir tidak memiliki landasan hukum.</p>
<p>Oleh karena itu, bisa dinilai bahwa rencana Jokowi ini lebih kepada langkah politik untuk merebut suara kelompok Islam, terutama Islam konservatif.</p>
<p>Bagi Jokowi, membebaskan Ba’asyir akan membantunya memperbaiki citra politiknya di hadapan kelompok Islam. Jokowi mungkin sadar jika posisinya saat ini masih jauh dari kelompok Islam konservatif.</p>
<p>Apalagi, Ba’asyir masih dianggap sebagai salah satu pendakwah berpengaruh, pimpinan Ansharut Tauhid dan pendiri Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang masih memiliki pengikut yang setia.</p>
<p>Secara politik, langkah Jokowi terhadap Ba’asyir akan menentukan posisi politiknya. Hal ini sejalan dengan pendapat dari pengamat politik dari Universitas Indonesia, Hurriyah yang menyebut pembebasan “tanpa syarat” kepada Ba’asyir dilakukan Jokowi karena sang presiden tengah menyasar pemilih muslim konservatif.</p>
<p>Tapi apakah benar demikian? Tidak ada yang tahu pasti.</p>
<p>Namun, Jokowi tentu juga berhitung bahwa cara ini berpotensi menggerus suara pemilih ideologis Jokowi karena kecewa dengan strategi elektoralnya yang menargetkan suara pemilih Islam konservatif atau garis keras.</p>
<h4><strong>Ada Manuver Australia?</strong></h4>
<p>Salah satu pendapat dari batalnya rencana pembebasan Ba’asyir adalah karena ada peran Australia di balik keputusan Jokowi. Hal ini salah satunya ditulis oleh The Guardian yang menyebut pernyataan Jokowi diambil setelah PM Scott Morrison menyampaikan keberatannya dan menghubungi pemangku kebijakan di Jakarta.</p>
<p>Sangat mungkin keberatan yang disampaikan oleh Scott Morrison tersebut menjadi salah satu faktor penentu rencana pemerintah ini. Australia menganggap Ba’asyir sebagai tokoh yang bertanggungjawab dalam tragedi Bom Bali dan harus tetap menerima konsekuensi hukum atas tindakan tersebut.</p>
<p>Konteks kepentingan tersebut juga makin kompleks mengingat hingga saat ini, Australia masih menjadi salah satu sponsor utama pendanaan gerakan kontra-terorisme di Indonesia. Pendirian Detasemen Khusus 88 (Densus 88) juga merupakan salah satu sumbangsih Australia bersama sekutunya Amerika Serikat (AS).</p>
<p>Dalam cakupan yang lebih luas, pasca Bom Bali I, isu keamanan memang menjadi fokus utama kepentingan Australia di Indonesia. Hal ini berpengaruh pada alokasi anggaran bantuan, misalnya lewat AusAID. Densus 88 diperkirakan <a href="https://muslimvillage.com/2016/12/27/121534/indonesias-densus-88-effective-counter-terrorism-unit-world/"><strong>menerima bantuan</strong></a> sekitar US$ 200 juta (sekitar Rp 2,8 triliun) dari berbagai negara, dengan salah satu yang terbesar berasal dari Australia.</p>
<p>Indonesia juga masih menjadi negara penerima bantuan terbesar dari Australia. Antara 2008-2012 misalnya <strong><a href="https://www.theaustralian.com.au/news/bali-out-of-the-flames/news-story/61e17454d4a4f8560cfc7961f4cf09b8?sv=a6e45a1b7884c7410f0ce55b9c78eac">total bantuan</a></strong> dari Negeri Kanguru tersebut mencapai US$ 1 miliar (sekitar Rp 13 triliun), dengan salah satunya berfokus pada gerakan kontra-terorisme.</p>
<p>Bahkan, Adi Cahya Fahadayna dari Universitas Airlangga Surabaya menyebut Densus 88 mendapatkan pelatihan dari FBI, CIA, US Secret Service dan US Diplomatic Security Services (DSS) karena fasilitasi Australia dalam hubungannya dengan pemerintah Amerika Serikat.</p>
<p>Pada tahun 2006, Indonesia dan Australia juga menyepakati <a href="https://www.cla.asn.au/Submissions/Submission%20on%20the%20Indonesian%20and%20Australian%20(Lombok)%20Treaty.pdf"><strong>Lombok Treaty</strong></a> yang berisi kesepakatan pertukaran informasi intelijen di antara kedua negara.</p>
<p>Kepentingan keamanan Australia itu tentu berimplikasi terhadap kepentingan mereka yang lainnya. Di antaranya adalah pariwisata dan perekonomian Australia di Indonesia.</p>
<p>Australia adalah salah satu negara yang paling banyak mendatangkan warganya ke Indonesia. Hal itu setidaknya tergambar pada pariwisata di wilayah Bali. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (<a href="https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/10/10/kunjungan-wisatawan-mancanegara-ke-bali-2018-mencapai-72-dari-tahun-sebelumnya"><strong>BPS</strong></a>), kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan Januari hingga Agustus 2018 mencapai 4,09 juta kunjungan.</p>
<p>Dari jumlah itu, 763 ribu kunjungan di antara berasal dari Australia. Hal ini menempatkan Australia sebagai penyumbang wisman kedua terbanyak setelah Tiongkok dengan 962 ribu kunjungan.</p>
<p>Kunjungan pariwisata ini tentu memerlukan iklim keamanan yang kondusif. Dengan banyaknya jumlah wisatawan asal Australia di Indonesia, tentu mereka berkepentingan untuk memastikan kondisi keamanan di Indonesia terjamin. Apalagi, peristiwa Bom Bali 2002 dan 2005 merupakan momok traumatis yang dialami oleh warga Australia karena menjadi negara yang warganya menjadi korban terbanyak.</p>
<p>Selain itu, kerjasama ekonomi juga menjadi isu lain yang penting bagi kedua negara, khususnya untuk Indonesia. kerjasama yang termaktub dalam kerangka <em>Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement</em> (IA-CEPA) merupakan kesepakatan terbaru yang dinilai memberikan arti penting.</p>
<p>Selanjutnya, dilihat dari data perdagangan kedua negara, Indonesia dan Australia merupakan mitra yang penting. Data <a href="https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/08/31/berapa-perdagangan-indonesia-dengan-australia"><strong>Kementerian Perdagangan</strong></a> mencatat bahwa perdagangan Indonesia-Australia sepanjang Januari-Juni 2018 mencapai US$ 4,07 miliar setara Rp 58,55 triliun.</p>
<p><hr /><p><em>Ada Australia di balik batalnya pembebasan Ba&#039;asyir?</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fdi-balik-baasyir-morrison-dan-jokowi%2F&#038;text=Ada%20Australia%20di%20balik%20batalnya%20pembebasan%20Ba%27asyir%3F&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Sementara nilai investasi asing Australia ke Indonesia hingga semester I tahun 2018 mencapai US$ 295,5 juta atau setara Rp 4,26 triliun. Angka tersebut meningkat 43,45 persen dari semester I tahun sebelumnya sebesar US$ 206 juta.</p>
<p>Berdasarkan catatan-catatan tersebut, tentu Australia memiliki kepentingan yang besar di Indonesia. Apalagi persepsi masyarakat Australia terhadap Islam di Indonesia kurang baik. Artinya, rencana pembebasan Ba’asyir yang ditentang keras oleh Australia ini bisa membuat hubungan kedua negara semakin renggang yang bisa berakibat pada berbagai kerja sama yang telah terjalin.</p>
<p>Memang, hubungan Indonesia-Australia seringkali dihadapkan pada pasang surut. Menurut Tim Lindsey dan Dave McRae, terlalu banyak perbedaan di antara kedua entitas negara ini, sehingga hubungan yang terbangun kerap kali bergolak dan tidak mudah diprediksi.</p>
<p>Dalam konteks pembebasan Ba’asyir, sangat mungkin implikasi yang ditimbulkan bisa benar-benar serius seandainya pemimpin Ansharud Tauhid itu benar-benar dibebaskan.</p>
<p>Pada titik ini, Jokowi mengalami dilema politik. Posisinya kini menjadi serba tidak menguntungkan. Di satu sisi langkah tidak populisnya itu bertujuan untuk meraih simpati dari kelompok Islam konservatif – meski di sisi yang sama berpotensi mendapatkan kekecewaan dari kelompok nasionalis &#8211; sementara di pihak lain ada kepentingan Australia yang tidak ingin Abu Bakar Ba’asyir dibebaskan.</p>
<p>Lantas pertanyannya adalah apabila presidennya bukan Jokowi, apakah yang bersangkutan akan mengambil kebijakan serupa? (A37)</p>
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/8_C83y4V5tk?showinfo=0&amp;modestbranding=1&amp;autoplay=1&amp;mute=1&amp;loop=1&amp;autohide=1&amp;rel=0&amp;fs=0" width="640" height="360" frameborder="0"></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/kunjungan-kenegaraan-pm-australia-antarafoto-1_ratio-16x9-1024x577.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kampus Asing dan Liberalisme Pendidikan</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kampus-asing-dan-liberalisme-pendidikan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D38]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Sep 2018 12:39:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[GATS]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kampus asing]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisasi Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Neoliberalisme Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Bebas]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<category><![CDATA[WTO]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=39219</guid>

					<description><![CDATA[Rencana Jokowi untuk membangun kampus asing Australia di Indonesia adalah kebijakan turunan dari program perdagangan dunia oleh WTO PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]cott Morrison, Perdana Menteri baru Australia baru saja melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Indonesia. Kedatangan Scott Morrison langsung disambut oleh Jokowi, Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan Indonesia di Istana Bogor. Morrison datang membawa misi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Rencana Jokowi untuk membangun kampus asing Australia di Indonesia adalah kebijakan turunan dari program perdagangan dunia oleh WTO</strong></h4>
<hr />
<p><strong><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></strong></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]cott Morrison, Perdana Menteri baru Australia baru saja melakukan kunjungan luar negeri pertamanya ke Indonesia. Kedatangan Scott Morrison langsung disambut oleh Jokowi, Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan Indonesia di Istana Bogor.</p>
<p>Morrison datang membawa misi pemerintah Australia untuk membuka kerjasama perdagangan luar negeri dengan Indonesia. Maka kedatangan itu pun menandai babak baru kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Australia.</p>
<p><hr /><p><em>Rencana Jokowi untuk membangun kampus asing Australia di Indonesia adalah kebijakan turunan dari program perdagangan dunia oleh WTO</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fkampus-asing-dan-liberalisme-pendidikan%2F&#038;text=Rencana%20Jokowi%20untuk%20membangun%20kampus%20asing%20Australia%20di%20Indonesia%20adalah%20kebijakan%20turunan%20dari%20program%20perdagangan%20dunia%20oleh%20WTO&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Pada pertemuan kedua kepala negara, Indonesia dan Australia sepakat untuk mendongkrak hubungan perdagangan pada bidang mobil, peternakan, serta pelonggaran kontrol terhadap investasi dalam pendidikan.</p>
<p>Menariknya, dalam bidang pendidikan pemerintah Indonesia sudah sepakat untuk membuka kampus asing Australia ke Indonesia. Maka bukan tidak mungkin kampus-kampus ternama Australia seperti University of Melbourne ataupun University of Queensland akan segera berdiri di Indonesia.</p>
<p>Wacana pendirian kampus asing ke Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama. Pada Januari 2018, Menristek Dikti Mohamad Nasir sempat menyatakan akan ada sekitar 10 universitas asing yang bersiap beroperasi di Indonesia.</p>
<p>Jokowi membenarkan rencana itu. Ia mengatakan pembukaan kampus asing di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan inovasi dalam bidang pendidikan. Sejak lama Jokowi sudah memberikan rambu kepada Forum Rektor Indonesia (FRI) bahwa pemerintah akan mendirikan kampus asing sebagai kompetitor jika kampus-kampus dalam negeri tak kunjung berinovasi.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Sepekan jadi Perdana Menteri Australia, Scott Morrison ke Indonesia. Setiba di Bogor, kemarin, ia berkelakar: “Sepertinya akan menjadi tradisi bahwa kunjungan pertama setiap PM Australia adalah Indonesia.”</p>
<p>Kelakar itu adalah cermin hubungan yang kuat Australia dan Indonesia. <a href="https://t.co/XDqCVLZz6M">pic.twitter.com/XDqCVLZz6M</a></p>
<p>&mdash; Joko Widodo (@jokowi) <a href="https://twitter.com/jokowi/status/1035727341090009088?ref_src=twsrc%5Etfw">September 1, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Bisa dikatakan perizinan kampus Australia untuk beroperasi di Indonesia ini adalah upaya pemerintah Indonesia untuk mendorong inovasi pendidikan di tanah air. Sekaligus untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia yang unggul untuk menghadapi tantangan global.</p>
<p>Akan tetapi wacana ini tak setujui oleh semua pihak. Ada yang mengatakan bahwa datangnya kampus asing ke Indonesia ini adalah bentuk penjajahan model baru. Benarkah begitu?</p>
<h4><strong>Kampus Asing: Buntut Kerjasama dengan WTO </strong></h4>
<p>Darmaningtyas, dalam buku <em>Melawan Liberalisme Pendidikan </em>menyatakan bahwa neoliberalisme pendidikan adalah sebuah ide pembangunan global dimana tanggung jawab pemerintah terhadap pendidikan harus dihilangkan.</p>
<p>Ide-ide tersebut merupakan acuan dasar berbagai lembaga keuangan dan lembaga perdagangan internasional. Sebut saja IMF, World Bank dan WTO. Ketiga lembaga itu mewajibkan pemerintah dalam negara-negara anggota memperkecil intervensinya terhadap perdagangan bebas.</p>
<p>Untuk memberikan jaminan pada perdagangan bebas, <em>World Trade Organization </em>(WTO) pernah keluarkan kesepakatan perdagangan dunia yang disebut dengan <em>General Agreement on Trade  in Services </em>(GATS). Melalui GATS inilah semua transaksi perdagangan, dimana pendidikan ditetapkan termasuk di dalamnya, dapat diperjual-belikan dalam pasar global.</p>
<p>Indonesia termasuk salah satu negara yang menandatangani pembentukan WTO dan GATS. Risikonya adalah Indonesia harus tunduk pada ketentuan-ketentuan WTO/GATS untuk meliberalisasi sektor pendidikan.</p>
<p>Buntut kesepakatan internasional ini berperan dalam melahirkan UU BHP hingga UU Pendidikan Tinggi di mana pendidikan disulap sebagai lahan untuk penanaman modal asing. Itulah mengapa besaran biaya kuliah di kampus-kampus semakin mahal, karena lembaga pendidikan sudah tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai pusat pembangunan bangsa, melainkan sebagai pusat bisnis.</p>
<p>Rencana pemerintah Jokowi untuk membangun kampus asing di Indonesia bisa dimaknai sebagai produk kebijakan turunan dari program perdagangan dunia ala WTO. Hal itu bisa dilihat ketika Jokowi lebih memilih melempar permasalahan pendidikan kepada pasar ketimbang meningkatkan mutu kampus-kampus tanah air.</p>
<p>Pada pidatonya di depan Forum Rektor Indonesia, Jokowi mengeluhkan mutu pendidikan kampus dalam negeri yang tak kunjung membaik. Pertanyaannya, apakah melempar permasalahan pendidikan kepada pasar bebas merupakan keputusan tepat?</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="en" dir="ltr">Not just close neighbours &#8211; but great friends. Thanks for the warm welcome <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> <a href="https://t.co/qlGpdzGEWE">pic.twitter.com/qlGpdzGEWE</a></p>
<p>&mdash; Scott Morrison (@ScottMorrisonMP) <a href="https://twitter.com/ScottMorrisonMP/status/1035492731957563397?ref_src=twsrc%5Etfw">August 31, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Australia yang dalam beberapa tahun terakhir dipimpin oleh Partai Liberal, langsung menangkap peluang dagang di Indonesia. Ia mencoba menawarkan pendirian kampus Australia di Indonesia dengan dalih ingin membantu Indonesia memperbaiki kualitas pendidikan nasional.</p>
<p>Maka bisa dikatakan bahwa kerjasama antara Jokowi dengan Scott Morrison hanyalah kerjasama dalam bidang perdagangan: perdagangan antara pemerintah Indonesia yang sedang membutuhkan pendidikan bermutu dengan pemerintah Australia yang sedang mencari pasar untuk memperdagangkan jasa kampus-kampus mereka ke negara lain.</p>
<h4><strong>Angin Segar Pendidikan Berkualitas</strong></h4>
<p>Menristek Dikti Mohamad Nasir termasuk pihak yang optimis dengan kehadiran kampus asing. Ia mengatakan ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan ketika pemerintah mengizinkan kampus asing beroperasi di Indonesia.</p>
<p>Beberapa pihak sepeti Jusuf Kalla mendukung kehadiran kampus asing karena baginya dapat membantu peningkatan kualitas pendidikan dalam negeri. Bukan tidak mungkin juga bisa mendorong pelajar-pelajar Indonesia untuk mengurungkan niat belajar di luar negeri karena sudah tersedianya pendidikan berkualitas dalam kampus-kampus asing.</p>
<p>Mohamad Nasir menambahkan, peluang pelajar asing untuk belajar di Indonesia pun akan tinggi karena tersedianya kampus-kampus berkualitas di tanah air. Baginya, kedatangan pelajar-pelajar luar negeri itu bisa mendongkrak perekonomian masyarakat.</p>
<p>Jokowi sendiri mengaku optimis dengan kehadiran kampus asing. Ia berharap kehadiran itu akan berdampak pada kemajuan inovasi di berbagai bidang. Selain itu kehadiran kampus asing diharapkan mampu melahirkan sumber daya manusia unggul untuk menghadapi tantangan global.</p>
<p>Akan tetapi, pemerintah mengatakan perguruan tinggi asing yang beroperasi di tanah air akan bekerja sama dengan kampus swasta dari dalam negeri. Artinya bukan diatur oleh negara. Besar kemungkinan, orientasi dari praktik itu adalah keuntungan.</p>
<p>Harapan-harapan para pemimpin seperti disebut di atas seakan menjadi mimpi yang sulit terwujud ketika diketahui bahwa motif pembangunan kampus asing tidak lain hanyalah bentuk perdagangan bebas pada sektor pendidikan. Artinya, bukan tak mungkin akan ada dampak buruk sebagai konsekuensi dari beroperasinya kampus asing itu.</p>
<h4><strong>Kampus Asing Minim Dampak</strong></h4>
<p>Ketika menanggapi kritik terkait kehadiran kampus asing, pemerintah Indonesia kerapkali membandingkan Indonesia dengan Malaysia ataupun Singapura yang sudah lebih dulu mengizinkan kampus asing beroperasi di negara mereka.</p>
<p>Pemerintah mungkin lupa bahwa tingkat ekonomi masyarakat Indonesia jauh tertinggal dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura. Mayoritas masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada 2018 mencapai 25,95 Juta orang.</p>
<p>Dengan jumlah kemiskinan sebanyak itu bukan tidak mungkin kehadiran kampus asing di Indonesia tak akan memberikan dampak signifikan bagi kemajuan masyarakat. Pasalnya, masyarakat miskin akan semakin sulit merasakan pendidikan berkualitas karena pendidikan berkualitas dimonopoli oleh kampus-kampus asing yang biayanya sangat mahal.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-39220 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA.jpg" alt="kampus asing" width="1080" height="1174" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA-276x300.jpg 276w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA-768x835.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA-942x1024.jpg 942w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA-696x757.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA-1068x1161.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/UNTUNG-RUGI-KAMPUS-ASING-KE-INDONESIA-386x420.jpg 386w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<p>Saat ini mayoritas masyarakat miskin masih kesulitan mengakses pendidikan berkualitas di kampus-kampus ternama di Indonesia. Dalam <em>Buku Statistik Pendidikan Tinggi </em>disebutkan ada sekitar 2.211.668 mahasiswa kampus negeri yang putus kuliah karena tak sanggup menanggung biaya kuliah.</p>
<p>Jika kampus negeri yang dikelola oleh pemerintah saja sering menjerat masyarakat dengan biaya kuliah yang tinggi, apalagi dengan kampus-kampus asing yang sejak awal punya motif komersil? Ditambah Mohamad Nasir mengatakan kalau kampus asing itu bukan dikelola oleh pemerintah, melainkan oleh pihak swasta.</p>
<p>Di titik itu, dapat dikatakan bahwa terjadi praktik liberalisasi pendidikan tinggi. Menurut Philip Altbach, Liz Reizberg, dan Laura E. Rumbley, liberalisasi pendidikan tinggi disebabkan oleh pasar bebas dan sektor swasta yang berorientasi pada keuntungan.</p>
<p>Liberalisasi pendidikan dapat ditandai dengan berubahnya pendidikan dari barang publik yang tidak untuk diperdagangkan, menjadi barang privat yang dapat diperdagangkan.</p>
<p>Kehadiran kampus asing merupakan cerminan dari liberalisasi pendidikan yang mengejar untung dari hasil jual jasa. Dengan mempertimbangkan pasar, bukan tak mungkin kampus-kampus asing itu hanya didirikan di kota-kota besar. Ketimpangan akses pendidikan antara masyarakat di pusat dan daerah pun akan semakin terjadi.</p>
<p>Indonesia seharusnya belajar dari negara-negara seperti Iran dan Kuba. Kedua negara itu bukanlah negara yang tergabung dalam WTO, sehingga Iran dan Kuba mampu menjalankan roda pemerintahan tanpa intervensi dari WTO. Dalam bidang pendidikan, kedua negara ini mampu menciptakan kualitas pendidikan yang baik tanpa harus melemparnya ke pasar bebas.</p>
<p>Di Iran, Fakultas Kedokteran dan Fakultas Sastra menjadi fakultas dengan biaya termurah.  Jumlah kampus negeri disana juga lebih banyak dibandingkan dengan kampus swasta. Pendidikan Tinggi di Iran mampu menembus ranking 37 besar dari 359 negara. Sebuah pencapaian yang bahkan belum mampu dicapai oleh kampus di Indonesia.</p>
<p>Sementara itu, Kuba telah menggratiskan pendidikan dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi semenjak negara itu dipimpin oleh Fidel Castro. Walaupun tidak tunduk pada jalan pembangunan yang disarankan oleh WTO, Kuba tetap mampu memberikan pendidikan berkualitas ke warganya.</p>
<p>Sampai saat ini pendidikan Kedokteran di Kuba telah diakui dunia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kuba adalah contoh negara yang menerapkan sistem jaminan kesehatan terbaik di dunia. Sistem kesehatan di Kuba dikenal mampu memberikan layanan terbaik dan efisien. Kuba berhasil menjamin seluruh rakyatnya punya akses terhadap layanan kesehatan.</p>
<p>Pemerintah Indonesia bisa mencontoh kedua negara tersebut untuk membenahi masalah pendidikan di tanah air. Maka Indonesia tidak harus mengikuti resep pembangunan dari WTO dengan meliberalisasi sektor pendidikannya, apalagi sampai menghadirkan kampus asing untuk beroperasi di dalam negeri. (D38)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/09/2018_08_31_52840_1535704877._large-1024x695.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Big Questions in Australia-Indonesia Relations</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/big-questions-in-australia-indonesia-relations/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Foreign Liaison]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2018 07:19:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[ASEAN]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Scott Morrison]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=36148</guid>

					<description><![CDATA[[dropcap]T[/dropcap]he Australian-Indonesian free trade agreement is set to be big business. With a finalised report not expected until October at the latest, the details remain unknown. That both countries have gotten this far in negotiations alone is worthy of celebration. An FTA has long been touted as necessary, but has been bogged down in negotiation [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-36150 alignleft" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/bio-erin.png" alt="" width="332" height="500" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/bio-erin.png 332w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/bio-erin-199x300.png 199w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/bio-erin-279x420.png 279w" sizes="auto, (max-width: 332px) 100vw, 332px" />[dropcap]T[/dropcap]he Australian-Indonesian free trade agreement is set to be big business. With a finalised report not expected until October at the latest, the details remain unknown. That both countries have gotten this far in negotiations alone is worthy of celebration. An FTA has long been touted as necessary, but has been bogged down in negotiation rounds and shifting priorities in both countries. Australia’s newest Prime Minister Scott Morrison is using his first week in the top job to show just how serious Australia is. But is Australia serious enough to repair growing anti-Muslim sentiment in the community, or is it all about trade?</p>
<p>Close relations between Australia and Indonesia are vital regardless of which party holds power in Canberra and who occupies the Presidential Palace in Jakarta. Those relations, as we’ve seen in the years since Reformasi are prone to volatility and mistrust. Although they have mended significantly in recent years thanks to the great work Foreign Minister Retno Marsudi and her now former Australian counterpart Julie Bishop. Bishop was quickly replaced by former defence minister Marise Payne who has similarly worked closely with Indonesian counterparts over the course of government.</p>
<p>This relationship is a particularly peculiar one. Australia often navel gazes about the state of relations, the meaning of relations, how to improve relations – but forgets to ask any Indonesians. Indonesia looks to the Association of South East Asian Nations (ASEAN), China or India and treats Australia as an afterthought. Polling repeatedly shows the populations in both countries fundamentally misunderstand each other – less than a quarter of Australians believe Indonesia is a democracy, despite it being the third largest in the world.</p>
<p>This misalignment is one of the less pressing reasons why Australian lawmakers must lead on anti-racism and anti-Islamophobia. Protection of Australia’s minorities certainly comes first. Still, some long term, strategic thinking on what sort of reputation is being reinforced in favour of a handful of marginal seats in parliament is needed. Indonesia is increasingly moving to become a voice in defending marginalised Muslim minorities in the world, the West is not exempt from that.</p>
<p>Australian lawmakers must understand that their domestic maneuvering is not neutralised at the border. It does not exist in a vacuum. Senator Pauline Hanson is the most obvious. Her 25 years in Australian politics has been marred with far-right racism, particularly targeting Asian and Muslim migrants, all of which has been extensively covered in local media both here in Indonesia and further into the region. Her 2017 burqa ‘stunt’, in which she entered the Senate clad in a black burqa to make a point which remains unclear, was covered widely in Jakarta and rightly derided.</p>
<p>Largely, Australian prime ministers have, thankfully, distanced themselves from this sort of blatantly inflammatory Islamophobic rhetoric. The exception, of course, is former prime minister Tony Abbott who was saved by the savviness of his foreign minister and deputy leader, Julie Bishop. Scott Morrison, unlike recent Coalition and Labor predecessors, has faced accusations of weaponising anti-Muslim rhetoric within the community to secure his power.</p>
<p>During a 2010 meeting of what was then the opposition cabinet, Morrison as opposition immigration spokesman called for a campaign to exploit rising concerns in the electorate surrounding “<a href="https://www.smh.com.au/national/morrison-sees-votes-in-anti-muslim-strategy-20110216-1awmo.html">Muslims in Australia</a>.” Calls for Morrison to be thrown out of the cabinet went nowhere with opposition leader Tony Abbott supporting him. Six years later as treasurer when vying for reelection, Morrison walked back from these comments, at least publicly, saying immigration and trade must be <a href="https://www.smh.com.au/politics/federal/scott-morrisons-blunt-warning-embrace-immigration-and-trade-or-face-great-danger-20160929-grrmp6.html">embraced to ensure Australia’s future</a>.</p>
<p>This month, before the federal Liberal party turmoil erupted and saw him installed as prime minister, Morrison was among the most emphatic voices in condemning one of the most racist, vile speeches ever made in the Australian parliament. Queensland Senator Fraser Anning referred to a “final solution” in ending immigration to Australia, a phrase heavily-loaded with Nazi Germany references.</p>
<p>&#8220;What the terrorists do is they say to young people who live in Sydney, in suburbs and places like Lakemba&#8230; &#8216;come and fight with us, because all those Aussies don&#8217;t want you, don&#8217;t like you,&#8217;” <a href="https://www.afr.com/news/queensland-senator-fraser-anning-refuses-to-apologise-for-racist-final-solution-speech-20180814-h13zby">Morrison said</a> after calling the comments “dangerous.” And he’s certainly not wrong.</p>
<p>His change of heart is not a common one. Australia remains distrustful of Muslim migration, as it has of various waves of immigration since the dismantling of the White Australia Policy. At this stage it is very unlikely Morrison and his Coalition government will survive an election, which must be called by May next year, but until then he has a responsibility to change more hearts, to aid the country in having the same epiphany he appears to have had. With the <a href="https://www.sbs.com.au/news/very-black-record-refugee-groups-alarmed-about-morrison-prime-ministership">worst track record of any immigration minister in terms of ruthlessness</a> against some of the world’s most vulnerable, it looks unlikely.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/vxccvxvc-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
