<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Rusuh &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/rusuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sat, 25 May 2019 05:22:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Rusuh &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Demo 22 Mei, Proyek Demokrasi Bayaran?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/demo-22-mei-proyek-demokrasi-bayaran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[N45]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 May 2019 05:12:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[22 Mei]]></category>
		<category><![CDATA[Demo Bawaslu]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kerusuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Mobokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Rusuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=58842</guid>

					<description><![CDATA[Demo 22 Mei di Bawaslu berakhir ricuh, banyak yang menduga disusupi provokator. Polisi menangkap 257 tersangka dengan barang bukti uang, batu, bom Molotov, serta pistol. Ini menuntun pada dugaan demo ini sudah direncanakan, massa pendemo diternak dan dipesan oleh pihak berkepentingan. PinterPolitik.com Dalam beberapa waktu terakhir, suasana politik terutama di ibukota terasa sangat panas. Di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<h4 class="wp-block-heading"><strong>Demo 22 Mei di Bawaslu berakhir ricuh, banyak yang menduga disusupi provokator. Polisi menangkap 257 tersangka dengan barang bukti uang, batu, bom Molotov, serta pistol. Ini menuntun pada dugaan demo ini sudah direncanakan, massa pendemo diternak dan dipesan oleh pihak berkepentingan. </strong></h4>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<p style="color:#cedb2a" class="has-text-color wp-block-paragraph"><strong>PinterPolitik.com</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Dalam beberapa waktu terakhir, suasana politik terutama di
ibukota terasa sangat panas. Di depan kantor Bawaslu para pendukung 02 menuntut
agar Bawaslu membatalkan penetapan kemenangan pasangan Jokowi-Ma’ruf, dan
memberikan trofi kemenangan Pemilu 2019 pada Prabowo-Sandi. Aksi ini berawal
dengan orasi biasa, makan takjil bersama, lalu salat tarawih di jalan MH
Thamrin. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Pukul 21.00 massa banyak diminta untuk meninggalkan lokasi. Tak
dinyana, selang beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 23.00 massa mulai
berdatangan, dari sanalah mulai terjadi provokasi, batu-batu mulai dilemparkan
mengenai aparat. Aparat kemudian membalasnya dengan menggunakan gas air mata
dan bom asap. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Eskalasi kericuhan ini makin menjadi-jadi, petasan disulut
dan dilempar ke polisi yang sedang berjaga, beberapa atribut dibakar di
jalanan. Kejadian tersebut menjadikan polisi memukul mundur mereka. Ketika
terus mundur, massa kemudian membakar deretan mobil yang terparkir di asrama
Brimob Petamburan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di <em>fly over</em> Slipi
juga terjadi bentrokan antara aparat dengan massa. Di Tanah Abang, kerusuhan
juga menjadi-jadi. Selasa pagi, Anies Baswedan mengumumkan 6 orang meninggal,
200 luka-luka. Beberapa video memperlihatkan bagaimana mereka tertembak oleh
peluru. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Polisi duga demo disusupi oleh provokator bayaran dan sudah
direncanakan. Kapolri Tito Karnavian menggelar jumpa pers dan membeberkan
beberapa jenis senjata yang massa aksi protes gunakan di malam harinya. Polisi kemudian
menangkap 257 tersangka provokator. Polisi menduga provokator datang dari luar
Jakarta, mulai dari Banten, Jawa Barat dan Jawa Tengah, hingga Jambi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Ditemukan juga mobil ambulance Gerindra berisi batu, alat
demo dan uang yang sudah disita oleh pihak berwajib. Amplop uang Rp 6 juta ditemukan
dikabarkan untuk membayar massa pesanan tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan ditemukan senjata M4, versi pendek dari M16. Senjata
yang biasa digunakan oleh non-infanteri, seperti ajudan. Selain itu, didapati revolver
jenis Taurus dan Glock, dengan dua dus peluru sebayak 50-60 butir. Senjata api
tersebut diamankan beberapa hari sebelum demo 22 Mei. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak hanya itu, pendemo juga didapati banyak membawa busur,
conblock, bom molotov, petasan dan bahan bakar. Polisi juga mengungkap bahwa pendemo
banyak yang bertato dan bernapas alkohol, dimana berseberangan dengan massa
kebanyakan yang cenderung islami. </p>



<h4 class="wp-block-heading"><strong>Mobokrasi Vs
Demokrasi</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Demo malam itu lah yang menjadi penanda penting dari apa
yang disebut sebagai demokrasi dan mobokrasi. Kericuhan yang terjadi, dan
didomplenginya gerakan massa oleh massa bayaran yang dipesan oleh kelompok
kepentingan tertentu menjadi gambaran dari hal tersebut. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mobokrasi adalah suatu pemerintahan oleh massa, atau sebuah upaya intimidasi terhadap kekuasan yang sah. Mobokrasi biasanya dipertukarkan secara konseptual dengan oklokrasi. Sebuah bentuk sistem yang setara dengan tirani dan oligarki, sebab ketiganya tidak mampu mengakomodir kepentingan seluruh komunitas yang ada. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Plato di bukunya
The Republic menyatakan keberatan dengan demokrasi sedari awal sebab akan
berbuah salah satunya berjenis moborkasi, yaitu semua orang tanpa kapabilitas
bisa berbicara apa saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mobokrasi selalu dikendalikan oleh demagog sumbu pendek dan kepanikan moral yang merebak. Di Amerika Serikat, Abraham Lincoln di tahun 1837 pernah menulis soal merajalelanya geng yang melakukan tindakan brutal di depan publik untuk menekan kelompok kekuasaan lain. </p>



<figure class="wp-block-embed-twitter wp-block-embed is-type-rich is-provider-twitter"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true"><p lang="en" dir="ltr">Mom and dad along with my big family are utterly worried as they heard rumours said there will be a riot resembling the one in 1998 on 22 May. Some of their friends have already booked tickets to neighboring countries.</p>&mdash; hohoho (@cchakung) <a href="https://twitter.com/cchakung/status/1128928065831096320?ref_src=twsrc%5Etfw">May 16, 2019</a></blockquote><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jesús Padilla Gálvez,
seorang filosof logika dan bahasa mengatakan dalam papernya berjudul ‘<em>Democracy in Times of Ochlocracy’</em> bahwa
beberapa kelompok memang menggunakan narasi ketidakpercayaan pada demokrasi,
mempertanyakan kemampuan demokrasi untuk merepresentasikan suara rakyat secara
sempurna. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Celah ini dipergunakan oleh
kelompok populis dengan menggunakan mobokrasi. Mobokrasi bekerja bagi
masyarakat yang kurang terdidik. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Demokrasi sebaliknya adalah sistem yang paling ‘fair’ bagi
semua pihak, sebab seluruh masyarakat bisa berpartisipasi tanpa pandang bulu
baik status kekayaan, keturunan maupun jabatannya. Sama-sama berasaskan pada suara masyarakat secara
umum, demokrasi sejatinya tidak memiliki pijakan ideologis, sehingga dia
dikritik akan melahirkan demokrasi massa atau mayoritarianisme yang di beberapa
sisi akan berakhir pada mobisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun kritik
tersebut sekiranya bisa ditanggulangi bahwa memang sedari ide pencetusan
demokrasi harus melandaskan diri pada rasionalitas. Bahwa rasionalitas adalah
pijakan utama yang digunakan dalam menentukan pilihan. Dan oleh demikian akan
tepilih kandidat yang paling rasional. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bayangannya
adalah, kandidat yang rasional mampu membuat satu bentuk pemerintahan dengan
sistem yang rasional pula, dengan demikian rasionalitas dalam demokrasi dapat
berguna untuk mensejahterakan dan mengatur masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sistem demokrasi
yang terbuka juga memberikan ruang kepada seluruh suara minoritas yang
sebelumnya tidak terwadahi, berbeda dengan mobokrasi yang bercorak tidak
rasional, cenderung populis dan mengabaikan kepentingan seluruh golongan,
demokrasi secara esensial dipastikan harus bisa memberikan ruang bersuara bagi
mereka yang tidak puas. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi bisa
disimpulkan bahwa demokrasi yang bercorak rasionalitas adalah demokrasi yang
sejatinya harus diaplikasikan. Rasionalitas ini yang abai dalam sisi
demonstrasi yang berlangsung di depan gedung Bawaslu 22 Mei lalu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, jika berbagai temuan polisi tentang polisi ini benar-benar terkonfirmasi, secara sempurna, kerusuhan yang terjadi di 22 Mei lalu dapat menjadi gambaran dari mobokrasi. Mereka bahkan tidak hanya sekedar mobokrasi, massa ini bisa jadi adalah massa yang dipesan dengan paket lengkap.</p>


<hr /><p><em>22 Mei kaya 98 gak nih? </em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fdemo-22-mei-proyek-demokrasi-bayaran%2F&#038;text=22%20Mei%20kaya%2098%20gak%20nih%3F%20&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />


<h4 class="wp-block-heading"><strong>Bandit, Massa Bayaran
dan Politik</strong></h4>



<p class="wp-block-paragraph">Penggunaan massa sebagai tekanan terhadap lawan politik
sejatinya kerap terjadi, dia sudah berlangsung sekurang-kurangnya yang mampu
ditelisik sebagai sebuah usaha untuk menernakkan massa bisa didapati di akhir
abad pertengahan saat itu. Kala itu, pertarungan antar kerajaan terjadi tidak
dengan menggunakan pasukan raja, namun menggunakan jasa bandit bayaran. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika hari ini
makna bandit hanya sekedar sebagai orang yang mencuri barang orang kaya,
dulunya bandit beroperasi layaknya militer. Mereka dilatih di kamp-kamp dan
dibiayai oleh sang pemiliknya. Hal ini terjadi sebab banyak kerajaan di eropa
yang tidak memiliki pasukan, jikapun ada tidak terlatih, sedang konflik antar
kerajaan terus terjadi memperebutkan kuasa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bandit, atau
massa bayaran ini banyak ditemukan di daratan tinggi Dalmatian antara Venice
dan Turki, juga di Hungaria, Catalonia, Pyrenees, dan di beberapa daratan
rendah Kerajaan Romawi, seperti Westerwald. Perusahaan-perusahaan penyedia
bandit ini mulai subur dari abad 15 hingga 18 Masehi. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bandit di Eropa, dulu dipergunakan kerajaan sebagai adu
kekuatan politik, memang diternak dan disengaja. Hal ini berlangsung sebelum kerajaan-kerajaan di
daratan eropa menandatangani Perjanjian Westphalia (1648) yang menjadi cikal
bakal dari negara modern. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Peternakan massa
yang brutal ini adalah sejatinya eksploitasi dari kondisi maysarakat yang ada.
Ada beberapa kalangan yang memang melihat potensi dari diberdayakannya mereka
untuk mereka yang memiliki kepentingan. Carsten Kuther menyatakan bahwa menjadi
bandit tidak hanya sekedar fakta adanya kelas, namun juga adanya upaya
perlawanan kebudayaan. Dan kegiatan menjadi bandit ini memiliki pertalian
sejarah yang panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sehingga
kemunculan bandit, massa yang rusuh tidak hanya fakta mereka dipesan, bahwa
memang ada satu gejala krisis politik yang sengaja kemudian diisi oleh kelompok
tertentu. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi massa
bayaran yang bertindak brutal dan dikelola orang tertentu tidak hanya kali ini
saja, sudah sejak lama ada di sejarah dunia. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Di abad modern
kita menengal gerakan bandit di Kuba, yang juga terjadi di Peru, juga Kolombia, di mana menewaskan sekitar 300.000 orang saat
itu di kurun waktu 1945-1965. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Anton Blok
mengungkapkan dalam penelitiannya bahwa bandit akan selalu dimiliki oleh sang
majikan, sebab jika tidak mereka sudah dipastikan akan diberangus oleh aparat
dan masyarakat, bukti kehadiran mereka dan beroperasinya mereka, sekaligus
menisbahkan akan adanya kekuatan aparat atau pihak tertentu yang menyokong
mereka, dan dari sinilah segala transaksi gelap bermula, mulai dari senjata
sampai pembocoran informasi kenegaraan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Modus bandit sedari
dulu selalu sama, yaitu dengan menggunakan cara-cara kekerasan, brutalitas, dan
penjarahan, semua hal ini dilakukan untuk menularkan teror kepada seluruh
masayarakat, terutama yang berkuasa. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari sini bisa saja tergambar bahwa massa pendemo tersebut menjadi pertanda ada permainan di balik ini semua, ada orang kuat dibelakang ini kejadian ini. Orang tersebut boleh jadi memerintahkan tindak kekerasan, dan jika itu terbukti, jelas ini semua bukan demokrasi yang berasaskan rasionalitas, ini adalah sebuah demokrasi jalanan alias mobokrasi. (N45)</p>



<figure class="wp-block-embed-youtube wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ZA_x-a0ezXI"><iframe title="WNI KETURUNAN ARAB PROVOKATOR, BENARKAH???" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ZA_x-a0ezXI?start=7&#038;feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>


<p><a href="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/web-banner-giveaway.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class=" td-modal-image aligncenter wp-image-58838 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/web-banner-giveaway.jpg" alt="Merchedes Keren Pinterpolitik" width="700" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/web-banner-giveaway.jpg 700w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/web-banner-giveaway-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/web-banner-giveaway-696x90.jpg 696w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a></p>]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/polis-1024x597.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
