<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Remisi Pembunuhan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/remisi-pembunuhan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 Jan 2019 04:45:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Remisi Pembunuhan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Terantuk Cacat Retorika Hukum Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/terantuk-cacat-retorika-hukum-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2019 11:45:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Radar Bali]]></category>
		<category><![CDATA[Remisi Pembunuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Retorika]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=47739</guid>

					<description><![CDATA[Remisi yang diberikan kepada terpidana kasus pembunuhan wartawan Radar Bali menuai protes dari berbagai kalangan. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemenkumham ini dianggap menjadi preseden yang buruk bagi perlindungan terhadap kerja-kerja dunia jurnalistik. Konteks tersebut seolah menjadi paradoks dalam retorika hukum yang dibangun oleh Presiden Jokowi sepanjang kampanye Pilpres 2019. Faktanya, retorika telah mengambil bagian yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Remisi yang diberikan kepada terpidana kasus pembunuhan wartawan Radar Bali menuai protes dari berbagai kalangan. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemenkumham ini dianggap menjadi preseden yang buruk bagi perlindungan terhadap kerja-kerja dunia jurnalistik. Konteks tersebut seolah menjadi paradoks dalam retorika hukum yang dibangun oleh Presiden Jokowi sepanjang kampanye Pilpres 2019. Faktanya, retorika telah mengambil bagian yang dominan dalam proses politik dan tidak jarang hanya berujung pada janji-janji manis semata.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p><strong>“Rhetoric is the art of ruling the minds of men.”</strong></p>
<p><strong>:: Plato ::</strong></p></blockquote>
<p>[dropcap]S[/dropcap]ebagai alat untuk meyakinkan orang lain, retorika sudah digunakan sejak bahasa ditemukan dan dipakai sebagai alat komunikasi. Namun, catatan tertulis paling tua dalam konteks penggunaannya ditemukan di Mesopotamia sekitar 4500 tahun lalu – demikian yang ditulis oleh Roberta Binkley dalam bukunya berjudul <em>The Rhetoric of Origins and the Other: Reading the Ancient Figure of Enheduanna.</em></p>
<p>Penggunaan retorika kemudian <a href="https://www.artofmanliness.com/articles/history-of-rhetoric/"><strong>dipopulerkan</strong></a> di era Yunani Kuno setelah menjadi salah satu inti dari tujuh seni liberal atau <em>liberal arts</em>. Retorika bersama grammar dan dialektika disebut sebagai <em>trivium </em>yang menjadi level paling rendah dalam kurikulum pendidikan kuno – demikian disebutkan oleh Plato dalam dialog-dialognya.</p>
<hr /><p><em>Retorika cenderung buruk ketika kata-kata yang dipakai tidak jujur dan bertujuan untuk membohongi.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fterantuk-cacat-retorika-hukum-jokowi%2F&#038;text=Retorika%20cenderung%20buruk%20ketika%20kata-kata%20yang%20dipakai%20tidak%20jujur%20dan%20bertujuan%20untuk%20membohongi.&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Penggunaan retorika sebagai bagian dari seni mempersuasi orang lain, nyatanya inheren dengan politik dan kekuasaan. Harold D. Laswell menyebut kekuasaan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dan tentu saja ini sesuai dengan konteks penggunaan retorika. Hal itulah yang membuat perdebatan tentang retorika belakangan mencuat ke permukaan, terutama dalam kampanye-kampanye politik jelang Pilpres 2019.</p>
<p>Salah satu yang kini disoroti adalah retorika hukum Presiden sekaligus capres petahana, Joko Widodo (Jokowi). Kebijakan yang kini banyak diprotes adalah terkait keputusan pemerintah memberikan remisi kepada terpidana kasus pembunuhan AA Gde Bagus Narendra Prabangsa, seorang wartawan Radar Bali.</p>
<p>Retorika hukum yang berkeadilan dan melindungi – termasuk dalam konteks demokrasi dengan jurnalisme sebagai salah satu jiwanya – yang digaung-gaungkan oleh Jokowi dalam kampanye politiknya selama ini, kini mendapatkan tantangannya.</p>
<p>Aksi protes dan demonstrasi terkait keputusan remisi tersebut muncul di beberapa tempat, termasuk di depan Istana Merdeka, dan meminta Jokowi mencabut remisi untuk I Nyoman Susrama – sang terpidana, otak kasus pembunuhan tersebut – yang divonis seumur hidup pada 2010 lalu. Dengan remisi tersebut hukuman Susrama diketahui berkurang menjadi 20 tahun penjara.</p>
<p>Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebut keputusan remisi yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) itu akan menjadi preseden buruk bagi kekerasan terhadap wartawan dan pekerja pers.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Saya jadi paham mengapa pak <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> memberikan Grasi kepada Otak Pembunuhan wartawan di Bali itu. Mungkin karena dia adik dr Bupati Bangli saat itu. Bupati Bangli ini dr PDIP.</p>
<p>Jadi tak perlu heran lagi atas Grasi itu..!</p>
<p>&mdash; FERDINAND HUTAHAEAN (@Ferdinand_Haean) <a href="https://twitter.com/Ferdinand_Haean/status/1087978137089163264?ref_src=twsrc%5Etfw">January 23, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Bahkan hal ini menjadi ancaman bagi kebebasan pers karena negara tidak lagi memperhitungkan efek hukuman yang serat-beratnya terhadap kasus-kasus pembunuhan wartawan. Padahal, kebebasan pers adalah salah satu pilar demokrasi yang utama.</p>
<p>Terkait hal tersebut, Menkumham Yasonna Laoly beralasan bahwa yang bersangkutan telah berperilaku baik selama masa tahanannya. Selain itu, kasus yang menimpa Susrama dianggap bukan <em>extraordinary crime </em>atau kejahatan luar biasa, pun menurut Yasonna ada faktor perimbangan kapasitas lapas yang membuat pemerintah harus memberikan remisi tersebut. Sementara, Presiden Jokowi melempar persoalan ini kembali ke Yasonna ketika ditanya.</p>
<p>Konteks kasus ini tentu saja menjadi wajah yang buruk untuk pemerintahan Jokowi. Beberapa cendikiawan dan pemerhati hukum menyebut hal ini sebagai ironi penegakan hukum di era Jokowi.</p>
<p>Dengan konteks kampanye politik jelang Pilpres 2019, persoalan ini pun bisa berdampak bagi tingkat keterpilihan Jokowi sebagai petahana. Apalagi, retorika hukum yang kerap dibangun Jokowi selama kampanye ini sangat muluk dan menjadi janji-janji yang sangat manis. Tentu pertanyaannya adalah akankah persoalan remisi ini menjadi batu sandungan untuk Jokowi di Pilpres nanti?</p>
<h4><strong>Pradoks Retorika Hukum Jokowi</strong></h4>
<p>“Jokowi memang raja retorika”. Demikianlah penggalan kata-kata yang disampaikan oleh Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean menanggapi keputusan pemberian remisi tersebut.</p>
<p>Konteks raja retorika ini memang masuk akal jika melihat beberapa kasus lain, misalnya yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan yang hingga kini belum jelas ujungnya.</p>
<p>Jika diperhatikan secara seksama, baik kasus remisi terhadap terpidana pembunuh wartawan, maupun kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel, faktanya punya hubungan terhadap demokrasi dengan supremasi dan penegakan hukum yang berkeadilan sebagai intisari di dalamnya.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BtDrok8AfMY/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BtDrok8AfMY/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BtDrok8AfMY/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Kedua paslon juara retorika Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #capres #jokowi #prabowo #retorika #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-01-25T12:27:59+00:00">Jan 25, 2019 at 4:27am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Kebebasan pers dalam konteks perlindungan terhadap wartawan sebagai rohnya adalah pilar keempat dalam demokrasi. Maka, hukuman seberat-beratnya untuk penghilangan nyawa terhadap wartawan adalah jaminan terhadap kebebasan per situ sendiri, sekaligus jaminan terhadap berjalannya demokrasi.</p>
<p>Sementara, kasus korupsi adalah salah satu kelemahan utama yang menjadi ancaman demokrasi yang menjamin kepentingan masyarakat. Pemerintahan yang bersih dari korupsi adalah salah satu indikator sehatnya demokrasi di sebuah negara.</p>
<p>Hal ini ditegaskan oleh Ina Kubbe dari Tel Aviv University dan Anika Engelbert Ruhr University Bochum yang <a href="https://link.springer.com/content/pdf/10.1007%2Fs10611-017-9732-0.pdf"><strong>menyebutkan</strong></a> bahwa korupsi adalah salah satu ancaman terhadap demokrasi.</p>
<p>Konteks dua kasus ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh Jokowi saat debat perdana Pilpres beberapa waktu lalu. Kala itu sang presiden menyebut akan memperkuat lembaga-lembaga penegak hukum – hal yang tentu kontras dengan perlakuan terhadap kasus Novel Baswedan.</p>
<p>Sedangkan dalam kasus pembunuhan wartawan Radar Bali, memang kebijakan remisi dikeluarkan oleh Kemenkumham – sesuai dengan yang diatur dalam <a href="https://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl1425/prosedur-pemberian-remisi-/"><strong>ketentuan</strong></a> perundang-undangan. Namun, presiden tentu punya hak dan tanggung jawab untuk mengarahkan, apalagi jika ada protes yang terjadi serta keputusan tersebut punya dampak terhadap demokrasi dan perlindungan atas kebebasan pers.</p>
<p>Kekerasan dan terutama pembunuhan terhadap wartawan adalah hal yang sangat bertentangan dengan intisari demokrasi. Bahkan untuk negara tanpa demokrasi seperti Arab Saudi sekalipun masih <a href="https://edition.cnn.com/2018/11/15/middleeast/jamal-khashoggi-saudi-prosecutor-death-penalty-intl/index.html"><strong>memberikan</strong></a> tuntutan hukuman mati bagi para pembunuh jurnalis Jamal Kashoggi beberapa waktu lalu – sekalipun tentu saja kasus ini punya banyak intrik dan efek lain di belakangnya.</p>
<p>Yang jelas, Jokowi telah menunjukkan bahwa ada ironi dalam retorika hukum yang ia bangun. Ini sekaligus membenarkan pemburukan makna dari retorika itu sendiri. Konsep yang sangat positif dan masuk dalam kurikulum pendidikan kuno itu nyatanya belakangan identik dengan janji-janji manis politik yang hanya sekedar bertujuan untuk menarik pemilih.</p>
<p>Profesor Bahasa Inggris dari University of Michigan, Anne Curzan <a href="http://www.michiganradio.org/post/rhetoric-postive-negative-or-both"><strong>menyebutkan</strong></a> bahwa retorika yang menjadi <em>trivium </em>pengetahuan dasar mendapatkan pemburukan makna sejak abad ke-17. Kala itu, retorika cenderung dimaknai sebagai <em>overblown speech </em>atau kata-kata yang berlebihan, dan sering kali tidak didasari pada fakta atau kenyataan.</p>
<p>Sementara dalam dunia politik modern, Curzan menyebut tahun 1960-an sebagai awal penggunaan retorika menjadi sangat populer dan berlanjut di tahun 1980-an hingga 2000. Menurutnya, retorika bisa menjadi hal yang negatif ketika apa yang disampaikan itu kosong dan tidak ada isinya.</p>
<p>Terkait hal tersebut, memang retorika hukum Jokowi dengan sendirinya bermakna buruk dalam konteks ini. Bagaimanapun juga, apa yang disampaikan mantan Wali Kota Solo dalam kampanye politik cenderung bertentangan dengan kenyataan yang selama ini terjadi.</p>
<h4><strong>Pilpres 2019: <em>The War of Rhetoric</em></strong></h4>
<p>Pilpres 2019 memang akan dipenuhi pertarungan kata-kata dan retorika – demikian kata pengamat politik Rocky Gerung. Tak hanya Jokowi, Prabowo Subianto sebagai lawannya pun menggunakan retorika sebagai senjatanya.</p>
<p>Prabowo misalnya pernah menyebutkan tentang kepunahan bangsa Indonesia pada tahun 2030, tetapi mendasarkan hal tersebut pada sebuah novel berjudul <em>Ghost Fleet</em>. Akurasi data dalam beberapa bagian kampanye politiknya pun kadang tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya ketika menggarisbawahi soal pendapatan kepala daerah dengan menyebut Jawa Tengah lebih luas dibandingkan Malaysia – hal yang tentu saja tidak tepat.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Robert Tantular dapat remisi 77 Bulan. Fakta bahwa rejim Jokowi hanya retorika terkait pemberantasan korupsi. </p>
<p>Otak pembunuhan Wartawan dan otak pembunuhan almh Nasrudin jg diberi Grasi. </p>
<p>Saya harus katakan, Jokowi mmg raja retorika.</p>
<p>&mdash; FERDINAND HUTAHAEAN (@Ferdinand_Haean) <a href="https://twitter.com/Ferdinand_Haean/status/1088409220951638021?ref_src=twsrc%5Etfw">January 24, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Konteks retorika sebagai janji manis untuk mempersuasi pemilih memang digunakan baik oleh Jokowi maupun Prabowo. Persoalannya adalah jika yang disampaikan adalah kata-kata kosong yang hanya berfungsi sebagai penarik hati pemilih, maka hal tersebut tidak ada bedanya dengan menyebar kebohongan.</p>
<p>Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh penulis buku <em>An Uprising of Angels</em>, Marc D. Baldwin yang menyebutkan bahwa retorika cenderung buruk ketika kata-kata yang dipakai tidak jujur dan bertujuan untuk membohongi. Ia juga menyebutkan bahwa memiliki pemikiran yang kritis adalah salah satu cara untuk melihat sebuah retorika secara lebih proporsional.</p>
<p>Konteks pemikiran kritis yang disebut Baldwin tersebut memang sudah selayaknya menjadi sikap yang harus dimiliki oleh masyarakat dalam menghadapi Pilpres 2019. Mengkritisi retorika masing-masing kandidat adalah cara terbaik untuk menilai kandidat mana yang lebih layak dipilih.</p>
<p>Yang jelas, retorika hukum Jokowi dalam kasus remisi pembunuh wartawan dan tidak jelasnya kasus Novel Baswedan adalah hal yang memprihatinkan. Bagaimanapun juga, penegakan hukum yang berkeadilan adalah cita-cita luhur dari demokrasi itu sendiri, sekalipun memang seperti kata Plato di awal tulisan, retorika hanyalah alat untuk menguasai pikiran orang lain. (S13)</p>
<p><iframe type="text/html" width="640" height="360" src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/xfH0qGvNUE0?showinfo=0&#038;modestbranding=1&#038;autoplay=1&#038;mute=1&#038;loop=1&#038;autohide=1&#038;rel=0&#038;fs=0" frameborder="0" allow="autoplay" ></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/01/dsasda-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
