<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Remah-remah Rengginang &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/remah-remah-rengginang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Nov 2022 10:13:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Remah-remah Rengginang &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Puan Disokong &#8220;Remah-remah Rengginang&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/puan-disokong-remah-remah-rengginang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[I76]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2022 10:03:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[Remah-remah Rengginang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=118735</guid>

					<description><![CDATA[“Kalau bahasa Jermannya ini saya termasuk remah-remah rengginang di partai ini, tapi kan boleh dong&#160;punya kesukaan. Orang kan punya relawan. Ya, saya relawan lah kira-kira begitu yang mendukung Mbak Puan,” – Johan Budi, Anggota DPR RI Fraksi PDIP PinterPolitik.com Mendengar ungkapan, “Aku&#160;tuh cuma&#160;remahan&#160;rengginang,” memunculkan pengertian kalau ini adalah bentuk ungkapan merendah.&#160;Ini seolah-olah orang yang mengucapkannya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>“Kalau bahasa Jermannya ini saya termasuk remah-remah rengginang di partai ini, tapi kan boleh <em><strong><em>dong</em></strong></em>&nbsp;punya kesukaan. Orang kan punya relawan. Ya, saya relawan lah kira-kira begitu yang mendukung Mbak Puan,” – Johan Budi, Anggota DPR RI Fraksi PDIP</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com/"><strong><u><strong>PinterPolitik.com</strong></u></strong></a></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Mendengar <ins>ungkapan</ins>, “Aku<em>&nbsp;tuh </em>cuma<em>&nbsp;</em>remahan<em>&nbsp;</em>rengginang<ins>,</ins>” memunculkan pengertian kalau ini adalah bentuk ungkapan merendah.<ins>&nbsp;Ini s</ins>eolah-olah orang yang mengucapkannya sedang ingin berkata, <ins>“</ins>dia adalah sesuatu yang <em>remeh </em>dan tidak perlu dikenang.<ins>”</ins></p>



<p class="wp-block-paragraph">Seben<ins>a</ins>rnya<ins>,</ins>&nbsp;<em>nggak</em>&nbsp;masalah <em>sih</em><ins>&nbsp;jika</ins>&nbsp;perkataan tersebut dimaksudkan untuk merendah, bahkan terkesan bagus karena menunjukkan sikap orang Timur yang terkenal rendah hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, maknanya akan kontras jika yang dirasakan adalah sebaliknya<ins>, yakni ketika</ins>&nbsp;<ins>k</ins>ita ucapkan kalimat itu dengan perasaan rendah diri atau merasa <em>insecure.</em>&nbsp;B<ins>u</ins>kan hanya berbahaya, perasaan ini akan menjadi penghalang untuk kita berlaku kreatif dalam hidup.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, persoalan seperti ini rupanya tidak hanya tampak dalam kehidupan sehari-hari. Dalam politik<ins>,</ins>&nbsp;misalnya, ungkapan “remah-remah rengginang” diucapkan oleh Anggota DPR RI Fraksi PDIP Johan Budi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sedikit memberikan konteks, peristiwa ini berawal ketika Johan <ins>Budi </ins>bersama rekan-rekannya membentuk Dewan Kolonel<ins>&nbsp;</ins><ins>–</ins>&nbsp;sebuah gerakan yang bertujuan meningkatkan citra serta elektabilitas Ketua DPR Puan Maharani sebagai <ins>calon presiden (capres) potensial </ins>di 2024.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, gerakan itu tak berlanjut usai mendapatkan sanksi berupa teguran dari DPP PDIP. Merespons <ins>sanksi dan teguran </ins>tersebut, <ins>akhirnya </ins>terlepaslah kalimat “remah-remah rengginang di PDIP”.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="940" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-940x1024.png" alt="image 41" class="wp-image-118740" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-940x1024.png 940w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-275x300.png 275w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-138x150.png 138w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-768x837.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-696x759.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-1068x1164.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41-385x420.png 385w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/image-41.png 1080w" sizes="(max-width: 940px) 100vw, 940px" /><figcaption class="wp-element-caption">Pendukung Puan Hanya Remah-remah Rengginang?</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Anyway</em>, dalam politik<ins>,</ins>&nbsp;frasa kiasan yang merupakan bagian dari majas seperti ini rupanya sering digunakan oleh tokoh-tokoh politik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ungkapan “Remah-remah Rengginang” mungkin hanya candaan<ins>&nbsp;tapi </ins>bisa saja punya makna politik. Sebuah <ins>u</ins>ngkapan <ins>perasaan</ins>&nbsp;seseorang yang sudah bekerja keras <ins>tetapi </ins>tak pernah dianggap karena bukan siapa-siapa atau orang yang berpengaruh.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks bahasa, ungkapan ini termasuk bagian dari majas <ins>l</ins>itotes <ins>d</ins>an<ins>,</ins>&nbsp;layaknya alat perang lainnya, majas juga menjadi salah satu instrumen perang wacana dalam&nbsp; panggung politik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ulin Nuha Masruchin dalam bukunya <em>Buku Pintar: Majas, Pantun, dan Puisi</em>&nbsp;menjelaskan bahwa majas litotes adalah ungkapan menyatakan perlawanan dari kenyataan atau <ins>realitas</ins>&nbsp;sosial. <ins>Majas ini b</ins>iasa digunakan untuk merendahkan diri kepada lawan bicara.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Litotes sebagai salah satu entitas majas<ins>&nbsp;–</ins>&nbsp;tak cukup paripurna jika hanya diterjemahkan secara leksikal kebahasaan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti halnya majas-majas lain, semestinya dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih luas<ins>&nbsp;dan</ins>&nbsp;lebih mendalam, yang<ins>&nbsp;mana</ins>&nbsp;dalam kajian termutakhir dimasukkan kategori analisis wacana kritis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di panggung politik Indonesia, ungkapan menggunakan majas pernah diperlihatkan oleh mantan Ketua Umum<ins>&nbsp;(Ketum)</ins>&nbsp;Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Ia pernah mengatakan, “ibarat bayi yang lahir, Anas adalah bayi tidak diharapkan<ins>.</ins>”&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, bahkan dalam setiap fase-fase Anas lengser dari kepemimpinan Partai Demokrat, ia <ins>mengibaratkan</ins>&nbsp;kalau drama itu layaknya <ins>episode</ins>&nbsp;dengan banyak bab-bab yang belum ditulis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, dari sini kita mampu mendapatkan gambaran kalau ungkapan politisi itu rupanya akan terlihat berkelas, jika ia mampu merangkai kalimat dengan indah, <ins>mengombinasikan</ins>&nbsp;ide atau gagasannya dengan majas untuk menjadi sebuah kalimat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>By the way,</em>&nbsp;muncul pertanyaan, apakah betul Johan Budi sebenarnya hanya remah-remah rengginang? Bukannya mendukung Puan-notabene anak dari Ketum PDIP Megawati Soekarno Putri- lebih berkelas dari rengginang?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, Agak ragu sih Dewan Kolonel itu hanya remah-remah rengginang. Pesaingnya Dewan Kopral yang bisa jadi remah-remah rengginang sebenarnya. Kalau <ins>Dewan</ins>&nbsp;Kolonel lebih cocok disebut<ins>&nbsp;kue</ins>&nbsp;<em>Red Velvet</em>&nbsp;kali ya? <em>Uppsss. Hehehe.</em>&nbsp;(I76)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="4GNX_-jgxm0"><iframe title="Deklarasi Terlalu Cepat: Anies Akan Dijegal?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/4GNX_-jgxm0?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div><figcaption class="wp-element-caption">Deklarasi Terlalu Cepat: Anies Akan Dijegal?</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/11/6360edb243753.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
