<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Raja Willem-Alexander &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/raja-willem-alexander/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Mar 2020 09:41:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Raja Willem-Alexander &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Di Balik Kata Maaf Belanda</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/di-balik-kata-maaf-belanda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2020 09:41:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[hubungan internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Neo-kolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[Raja Willem-Alexander]]></category>
		<category><![CDATA[Shell]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=75424</guid>

					<description><![CDATA[Kunjungan Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Máxima ke Indonesia disertai dengan permohonan maaf atas kekerasan pasca-Proklamasi. Dinamika ekonomi dan politik apa yang bisa mendasari di balik kata maaf tersebut? PinterPolitik.com “I&#8217;m afraid the whole game would be colonized” – JAY Z, penyanyi rap asal Amerika Serikat Mungkin, sudah menjadi hal yang wajar apabila kunjungan kepala [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Kunjungan Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Máxima ke Indonesia disertai dengan permohonan maaf atas kekerasan pasca-Proklamasi. Dinamika ekonomi dan politik apa yang bisa mendasari di balik kata maaf tersebut?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“I&#8217;m afraid the whole game would be colonized” – JAY Z, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>ungkin, sudah menjadi hal yang wajar apabila kunjungan kepala negara atau negara pemerintahan dilakukan dalam hubungan antarnegara. Presiden Joko Widodo (Jokowi) misalnya, sempat <a href="https://www.liputan6.com/news/read/4032503/bahas-kerja-sama-ekonomi-jokowi-terbang-ke-malaysia-hari-ini/" rel="nofollow"><strong>berkunjung ke Malaysia</strong></a> pada Agustus 2019 lalu.</p>
<p>Dalam kunjungan tersebut, Presiden Jokowi tampak akrab dengan Perdana Menteri (PM) Malaysia kala itu, yakni Mahathir Mohamad. Selain itu, mereka juga membicarakan berbagai kemungkinan kerja sama ekonomi di antara dua negara.</p>
<p>Tak hanya Mahathir, Presiden Jokowi juga pernah bertemu dan menerima <a href="https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190827180701-92-425120/jokowi-dan-raja-malaysia-bersatu-lawan-diskriminasi-sawit/" rel="nofollow"><strong>kunjungan Raja Malaysia</strong></a> Al-Sultan Abdullah Ri&#8217;ayatauddin Al Mustafa Billah Shah ke Indonesia. Polemik diskriminasi sawit pun menjadi salah satu pembahasan di antara keduanya.</p>
<p>Namun, bisa dibilang, pertemuan dengan Mahathir dan kunjungan dari Raja Malaysia Sultan Abdullah memiliki nuansa yang berbeda dengan kunjungan tamu ke Indonesia baru-baru ini.</p>
<p>Pasalnya, dalam kunjungan Raja Willem-Alexander Claus George Ferdinand dan istrinya – Ratu Màxima Zorreguieta Cerruti – dari Belanda, Yang Mulia tidak hanya menyampaikan sepatah dua kata mengenai kerja sama dan hubungan Indonesia-Belanda ketika bertemu Jokowi, melainkan juga menyampaikan penyesalan dan permohonan maaf atas kekerasan berlebih yang pernah dilakukan Belanda pasca-Proklamasi Kemerdekaan.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Kunjungan Sri Baginda Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Máxima menjelang Indonesia memasuki usia 75 tahun ini akan dicatat oleh sejarah sebagai kunjungan yang bersahabat, produktif, menatap masa depan tanpa harus melupakan sejarah masa lalu. <a href="https://t.co/9dsSs5GPCz">pic.twitter.com/9dsSs5GPCz</a></p>
<p>&mdash; Joko Widodo (@jokowi) <a href="https://twitter.com/jokowi/status/1237328283995238408?ref_src=twsrc%5Etfw">March 10, 2020</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Permohonan maaf itu tidak hanya disampaikan dengan tangan kosong. Bersamaan dengan kunjungan Keluarga Kerajaan ini, Belanda juga memulangkan sebuah objek bersejarah yang dianggap sebagai Keris Naga Siluman milik Pangeran Diponegoro.</p>
<p>Mungkin, permohonan maaf atas masa lalu inilah yang membuat kunjungan Raja dan Ratu Belanda memiliki nuansa yang berbeda dengan kunjungan Sultan Malaysia pada 2019 silam. Bisa dibilang, Indonesia dan Belanda memiliki ikatan masa lalu yang terlampau panjang dalam lini sejarah.</p>
<p>Namun, terlepas dari perbedaan nuansa itu, apakah permohonan maaf tersebut dapat mengakhiri duka Indonesia di masa lampau? Apa motivasi Belanda mengajukan permintaan maaf tersebut?</p>
<h4><strong>Politik Reparatif</strong></h4>
<p>Permohonan maaf yang dilontarkan oleh Raja Willem-Alexander sebenarnya bukanlah hal pertama yang pernah terjadi. Dalam beberapa kesempatan, pemerintah Belanda juga pernah mengajukan permohonan maaf dan mengakui secara resmi bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi pada 17 Agustus 1945 – sebelumnya hanya mengakui kemerdekaan pasca-Konferensi Meja Bundar.</p>
<p>Robert Aldrich – profesor sejarah Eropa di University of Sydney – dalam <a href="https://www.oxfordhandbooks.com/view/10.1093/oxfordhb/9780198713197.001.0001/oxfordhb-9780198713197-e-39"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Apologies, Restitutions, and Compensation</em> menjelaskan bahwa pemerintah Belanda melalui Duta Besar Tjeerd de Zwaan menyampaikan permohonan maaf atas kekerasan yang pernah dilakukan Belanda pada September 2013 silam.</p>
<p>De Zwaan mengaku bahwa pemerintahnya menyesal atas kekerasan yang dilakukan negaranya kala ingin memberlakukan kembali penjajahan di Indonesia pasca-Perang Dunia II. Dubes Belanda untuk Indonesia itu juga mengakui adanya pembunuhan oleh pasukan Belanda atas 1.500 pejuang gerilya di Sulawesi Selatan.</p>
<p>Apa yang dilakukan oleh De Zwaan dan Raja Willem-Alexander ini disebut oleh Aldrich sebagai politik reparatif (<em>reparative politics</em>). Politik reparatif ini setidaknya dapat dilakukan melalui tiga bentuk tindakan, yakni permohonan maaf dan penyesalan, pengembalian objek warisan, serta kompensasi moneter atas kejahatan kolonial yang pernah dilakukan.</p>
<p>Dari penjelasan Aldrich tersebut, menjadi wajar apabila Belanda memutuskan untuk mengembalikan pusaka keris milik Pangeran Diponegoro yang selama ini tersimpan di Museum Nasional Etnologi Leiden. Restitusi ini juga melambangkan adanya upaya politik reparatif dari negeri kincir angin tersebut.</p>
<p>Upaya politik reparatif seperti ini juga pernah dilakukan oleh Inggris terhadap beberapa negara bekas jajahannya, seperti Kenya. Pada tahun 1950, pemberontakan kelompok Mau Mau terhadap pemerintah kolonial Inggris terjadi yang mana menewaskan ribuan orang.</p>
<hr /><p><em>Permohonan maaf oleh Raja Willem-Alexander ini dapat disebut sebagai politik reparatif (reparative politics).</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fdi-balik-kata-maaf-belanda%2F&#038;text=Permohonan%20maaf%20oleh%20Raja%20Willem-Alexander%20ini%20dapat%20disebut%20sebagai%20politik%20reparatif%20%28reparative%20politics%29.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Peristiwa masa lampau ini akhirnya membuat kelompok Mau Mau pada tahun 2009 menuntut pemerintah Inggris melalui sistem hukum negara yang kini dipimpin oleh PM Boris Johnson itu. Pemerintah Inggris akhirnya mengajukan permintaan maaf dan menawarkan bantuan dana.</p>
<p>Namun, apa yang diputuskan oleh Inggris ini menyisakan beberapa pertanyaan. Reparasi – khususnya kompensasi – seperti apa yang diperlukan? Situasi apa yang mendasari tindakan reparatif tersebut?</p>
<p>Perdebatan semacam ini sepertinya tak terselesaikan dengan adanya negara-negara eks-jajahan yang selalu meminta adanya tindakan reparatif – seperti yang kini dilakukan India kepada Inggris.</p>
<p>Terlepas dari itu, Aldrich menjelaskan bahwa politik reparatif kerap didasarkan pada situasi yang terjadi di masa kini. Beberapa faktor – seperti kepentingan politik, sektarianisme, nasionalisme, kondisi geopolitik, disparitas kekuatan antarnegara, dan lain-lain – kerap mendasari munculnya permintaan dan pemberian reparasi kolonial.</p>
<h4>Lantas, bagaimana dengan politik reparatif yang dilakukan oleh Belanda kepada Indonesia? Apa yang mendasari Belanda melakukan reparasi kolonial?</h4>
<h4><strong>Untuk Siapa?</strong></h4>
<p>Politik reparatif yang dilakukan oleh Raja Willem-Alexander kepada Indonesia bukan tidak mungkin didasari oleh beberapa faktor. Setidaknya, kunjungan Kerajaan Belanda ini disertai dengan beberapa penawaran kerja sama dan investasi di Indonesia.</p>
<p>Raja dan Ratu Belanda tersebut dikabarkan membawa <a href="https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4933126/ri-belanda-sepakati-kerja-sama-bisnis-rp-14-triliun/" rel="nofollow"><strong>investasi</strong></a> senilai satu miliar dollar Amerika Serikat (AS) – atau senilai Rp 14,3 triliun. Beberapa di antaranya adalah pengembagan Tanjung Priok (khususnya Terminal Vopak), pengembangan pabrik susu Friesland Campina, dan investasi Shell (Royal Dutch Group) di sektor hilir minyak dan gas.</p>
<p>Terminal <a href="https://www.vopak.com/terminals/asia/vopak-terminal-jakarta/" rel="nofollow"><strong>Vopak</strong></a> sendiri merupakan terminal pelabuhan Tanjung Priok yang didesain untuk menangani produk-produk minyak dan gas bersih. Terminal tersebut dikelola oleh PT Jakarta Tank Terminal yang merupakan <em>joint venture</em> PT AKR Corporindo asal Indonesia dan Royal Vopak dari Belanda.</p>
<p>Investasi-investasi ini bisa jadi berhubungan dengan politik reparatif Belanda. Pasalnya, di beberapa negara eks-jajahan – khususnya di Afrika, reparasi kolonial berupa investasi dan bantuan dana kerap dianggap sebagai bentuk baru penjajahan di era kontemporer, yakni neo-kolonialisme.</p>
<p>Sheriff Folarin dalam <a href="https://www.researchgate.net/publication/294143106_Reparation_or_Recolonisation_MNCs_Foreign_Investors_and_the_New_Euro-African_Relations/" rel="nofollow"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Reparation or Recolonization</em> menjelaskan bahwa reparasi kolonial semacam itu kerap dianggap sebagai bentuk neo-kolonialisme. Neo-kolonialisme sendiri merupakan upaya dominasi pengaruh suatu negara atas negara lain dalam hal ekonomi dan budaya – tanpa kontrol secara langsung seperti penjajahan di masa kolonial.</p>
<p>Hal yang menjadi unik adalah kehadiran investasi Shell dalam kunjungan Raja Willem-Alexander. Pasalnya, selama ini, Keluarga Kerajaan Belanda dianggap mempunyai kepemilikan bisnis di perusahaan tersebut.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B9jkMFEF62k/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9jkMFEF62k/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9jkMFEF62k/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Menorehkan luka di masa lalu, akhirnya Belanda minta maaf?⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-03-10T14:00:58+00:00">Mar 10, 2020 at 7:00am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Shell – dulu bernama Koninklijke Olie – sendiri merupakan perusahan minyak dan gas Inggris-Belanda yang berbasis di Den Haag, Belanda. Perusahaan ini juga menjadi salah satu perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia.</p>
<p>Di Indonesia, kehadiran <a href="https://www.shell.co.id/in_id/tentang-kami/what-we-do.html"><strong>Shell</strong></a> sudah ada sejak tahun 1884 ketika perusahaan ini ingin memperoleh lisensi penggalian sumur minyak di Sumatera. Sumur itu menjadi Telaga Tunggal 1 di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.</p>
<p>Pasca-Pilpres 2019 lalu, perusahaan migas ini sempat dikabarkan akan hengkang dari Indonesia. Meski begitu, hingga kini, Shell tampaknya masih menjadi pemilik saham dominan di Blok Masela.</p>
<p>Uniknya, Philip Dröge – jurnalis investigatif asal Belanda – pernah <a href="https://www.businessinsider.nl/willem-alexander-een-oranje-expert-legt-uit-hoe-de-koning-aan-zijn-geld-komt-en-waar-hij-het-aan-uitgeeft/" rel="nofollow"><strong>menjelaskan</strong></a> dalam bukunya bahwa Keluarga Kerajaan Belanda dikenal kaya dengan kepemilikan bisnisnya yang luas. Salah satunya adalah Shell.</p>
<p>Apa yang disebutkan oleh Dröge bisa jadi benar. Adanya laporan kepemilikan Keluarga Kerajaan Belanda di Shell juga <a href="https://www.forbes.com/2001/06/26/0626queens.html#308363ad4270"><strong>pernah ditulis</strong></a> oleh Forbes pada tahun 2001.</p>
<p>Sebagian besar kekayaan Ratu Beatrix dan Keluarga Orange berasal dari kepemilikan perusahaan minyak dan gas yang dikenal sebagai Shell. Pada suatu waktu, kepemilikan keluarga ini sempat mencapai 25 persen.</p>
<p>Berkaca dari penjelasan Forlain, bukan tidak mungkin Keluarga Orange ingin memperluas pengaruh ekonomi dan bisnisnya di Indonesia melalui politik reparatif. Apalagi, Keluarga Kerajaan Belanda disebut-sebut memiliki kepemilikan di perusahaan itu.</p>
<p>Meski begitu, kebenaran akan adanya maksud tersebut juga belum dapat dipastikan. Walau hingga kini masih dikabarkan memiliki kepemilikan yang besar, beberapa sumber menyebutkan bahwa Raja Willem-Alexander tidak lagi memiliki kepemilikan dominan di Shell.</p>
<p>Kini, keluarga tersebut <a href="https://nltimes.nl/2018/04/20/dutch-king-shares-royal-companies/" rel="nofollow"><strong>diestimasi</strong></a> hanya memiliki 2 persen kepemilikan. Pihak kerajaan (Koninklijk Huis) sendiri mengumumkan bahwa Raja Willem-Alexander tidak lagi memiliki saham atas Shell guna menanggapi dugaan publik di dalam dan luar negeri.</p>
<p>Terlepas dari benar atau tidaknya kabar itu, bukan tidak mungkin politik reparatif tersebut disertai dengan dinamika ekonomi politik lainnya. Boleh jadi, kunjungan tersebut dapat memperluas pengaruh perusahaan-perusahaan multinasional tersebut di Indonesia. Mari kita nantikan saja kelanjutannya. (A43)</p>
<hr />
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B9gEXR4FLqD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9gEXR4FLqD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B9gEXR4FLqD/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Angka kekerasan terhadap #perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari #KomnasPerempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki di #Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: http://bit.ly/TalkShowPinterPolitik ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #EventPinterPolitik #TalkShowPinterPolitik #komnasperempuan #rockygerung</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2020-03-09T05:25:07+00:00">Mar 8, 2020 at 10:25pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>► Ingin lihat video-video menarik? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/03/2020_03_10_88752_1583825864._large-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
