<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>R.A Kartini &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/r-a-kartini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 May 2022 07:15:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>R.A Kartini &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kartini dan Suara Ibu Indonesia</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kartini-dan-suara-ibu-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[I76]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 May 2022 07:15:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Sekolah Pertama]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=109690</guid>

					<description><![CDATA[Suara Raden Ajeng Kartini adalah suara perlawanan. Melawan tradisi yang sudah mengakar, menentang apa yang dianggap tabu yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur, sumur, dan kasur. Lantas, seperti apa memahami pentingnya suara Kartini ini, dan dampaknya bagi perempuan dan Ibu di Indonesia? PinterPolitik.com Tanggal 2 Mei merupakan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan jika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Suara Raden Ajeng Kartini adalah suara perlawanan. Melawan tradisi yang sudah mengakar, menentang apa yang dianggap tabu yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur, sumur, dan kasur. Lantas, seperti apa memahami pentingnya suara Kartini ini, dan dampaknya bagi perempuan dan Ibu di Indonesia?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com"><strong><u><strong>PinterPolitik.com</strong></u></strong></a><strong></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Tanggal 2 Mei merupakan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), dan jika hitung mundur sedikit kebelakang, kita akan bertemu dengan peringatan Hari Kartini pada tanggal 21 April. Dua peringatan hari besar ini punya pertalian pada semangat seorang tokoh, yaitu <a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kartini-visioner-pembangkang/" data-type="URL" data-id="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kartini-visioner-pembangkang/">Raden Ajeng Kartini</a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semangat Kartini yang berjuang membela hak-hak kaum perempuan melalui pemikiran yang tertuangkan dalam tulisan-tulisannya, banyak membahas soal perjuangan kaum perempuan agar memperoleh kebebasan, persamaan hukum, dan pendidikan yang layak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fauzi Mohamad dalam tulisannya <em>Kartini dan Politik (Partai) Wanita</em>, menggambarkan bagaimana perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia terkesan lebih feminim. Hal ini merupakan argumentasi yang berseberangan dengan pendapat umum tentang sifat perjuangan yang maskulin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Argumentasi Fauzi diperkuat dengan mengutip pendapat sejarawan George McTurnan Kahin, yang mengatakan Budi Utomo bukanlah pelopor pembaruan pendidikan, melainkan perempuan asal Jepara yang bernama Kartini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tulisan Kartini dalam bentuk surat-surat maupun esai Nota Kartini&nbsp;menjadi bahan bacaan yang populer. Bahkan pada April 1903 beredar tulisan yang fokus berbicara tentang pendidikan, yang di kemudian hari&nbsp;menjadi rujukan para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya kondisi sosio-politik di era Kartini menjadi latar belakang munculnya semangat perjuangan pendidikan, khususnya kaum hawa. Karena untuk menjadi perempuan yang berpendidikan sebelum tahun 1900-an adalah hal yang sangat sulit dicapai oleh perempuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kartini dalam bukunya <em>Habis Gelap Terbitlah Terang</em>, menulis bahwa jika hendak memajukan peradaban, maka haruslah kecerdasan pikiran dan kecerdasan budi sama-sama dimajukan. Keseimbangan dua kecerdasan ini cermin dari nilai pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baik pendidikan keilmuan (kecerdasan berpikir), maupun pendidikan karakter (kecerdasan budi), kedua semangat ini masih sangat relevan dengan kondisi kita hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, seperti apa memahami sejarah dan pemikiran Kartini yang lebih mendalam tentang pendidikan di Indonesia yang perlu digali kembali?</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Refleksi-di-Hari-Kartini-819x1024.jpg" alt="" /><figcaption>Refleksi di Hari Kartini</figcaption></figure>



<h2 class="has-large-font-size wp-block-heading"><strong>Pendidik Pertama Adalah Ibu</strong><strong></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kartini adalah salah satu pahlawan perempuan nasional yang memperjuangkan emansipasi perempuan di Indonesia, terutama dalam hal pendidikan. Pemikiran Kartini soal emansipasi perempuan sangat dipengaruhi oleh konteks zamannya saat itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhir abad ke-19, kaum perempuan tidak bisa bebas melakukan aktivitas di luar rumah karena mereka terbelenggu adat istiadat dan budaya kehidupan bangsawan pada masanya. Saat itu, kaum perempuan yang sudah dianggap dewasa wajib dipingit sehingga terbatas dalam berkegiatan di luar rumah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rahel Narda Chaterine dalam tulisannya <em>Dilema Kartini, Perempuan yang Menuntut Pendidikan Setara dan Pentingnya Peran Ibu</em>, menceritakan Kartini dipenjara tradisi yang mengakar itu sejak ia berusia 12 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh ayahnya, Kartini dilarang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Lingkungan sekitarnya memandang kaum perempuan tidak setara dengan laki-laki, namun Kartini meyakini perempuan di Hindia Belanda justru harus mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi Jawa saat itu yang menuntut Kartini untuk menuliskan kritik-kritiknya melalui surat. Surat-surat yang Kartini tulis berisi kondisi perempuan di Indonesia. Ia menuliskan penderitaan perempuan Jawa seperti harus menjalani pingit, tak bisa bebas berpendapat dan menempuh pendidikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak catatan sejarah yang menceritakan bahwa latar belakang perlawanan Kartini dipengaruhi oleh bacaannya tentang berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa Belanda. Selain itu,&nbsp;ia juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul <em>Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski pengaruh ide-ide feminisme mengalir dalam pemikirannya, tapi Kartini lebih menitikberatkan nafas perjuangan pada konteks kaum perempuan yang seharusnya memiliki pendidikan sebagai modal kehidupan anak-anaknya kelak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Kartini, kaum perempuan akan memiliki pengaruh dan tugas besar sebagai seorang ibu yang juga menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Kartini menolak akses pendidikan bagi kaum perempuan sebagai wujud egosentris untuk menyaingi kaum laki-laki. Inilah titik pembedanya dengan perjuangan feminisme lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu adalah seorang&nbsp; pendidik manusia yang paling utama. Sejak dilahirkan, anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama ibu. Karena itu, seorang perempuan harus memiliki kecakapan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu dan pendidik bagi anaknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep ini senada dengan ungkapan penyair ternama Hafiz Ibrahim,&nbsp;yang&nbsp;mengatakan <em>Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq</em>, yang bermakna Ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika dipersiapkan dengan baik, maka sama halnya mempersiapkan landasan bangsa yang baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ibu adalah madrasah pertama yang nantinya akan memberikan keteladanan bagi sikap, perilaku,&nbsp;dan kepribadian anak. Secara emosional,&nbsp;ibu adalah orang terdekat bagi anaknya. <em>Well</em>, bagi Kartini begitu penting arti ibu sebagai media pendidikan pertama. Namun, perjuangan Kartini kerap bertentangan dengan pendapat umum tentang kodrat perempuan dan laki-laki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, seperti apa memahami pertentangan kodrat yang masih menjadi isu emansipasi perempuan?</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/Semangat-Kartini-di-Tengah-Corona.jpg" alt="Corona berdampak pada perempuan" /><figcaption>Semangat Kartini di tengah Corona</figcaption></figure>



<h2 class="has-large-font-size wp-block-heading"><strong>Etika Kepedulian</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika menelisik perjuangan perempuan di Indonesia, sebenarnya Kartini tak sendiri dalam hal memperjuangkan pendidikan pribumi. Dalam catatan sejarah dikenal nama-nama seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan sebagainya. Mereka para perempuan yang berpikir maju, jauh melampaui cara berpikir perempuan pada zamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjuangan mereka melawan tradisi yang sudah mengakar. Menentang apa yang dianggap tabu, tradisi yang hanya mengenal perempuan berkutat antara dapur, sumur, dan kasur. Perempuan dianggap sebagai pelengkap kehidupan laki-laki yang superior.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perjuangan mereka yang&nbsp; menolak tradisi di zamannya, menjadikan perempuan Indonesia saat ini bebas bersekolah ke mana saja mereka suka. Sesuai dengan keinginan dan kemampuannya, perempuan bebas berkarya, menyuarakan pendapat, memiliki pekerjaan dan karier seperti halnya laki-laki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam filsafat, uraian&nbsp; perbedaan cara pandang gender ini diulas secara mendalam dalam konsep-konsep etika, khususnya etika yang mencoba menolak kemapanan cara pandang superioritas laki-laki dalam menerjemahkan perilaku manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teori etika yang dimaksud, menggunakan sifat keibuan (maternal) yang dimiliki oleh perempuan. Etika ini lebih mendasarkan teorinya pada unsur kepedulian yang berdasarkan emosi ketimbang unsur rasionalitas. Pendekatan etika ini disebut dengan etika kepedulian&nbsp;(<em>ethics of care</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Etika kepedulian merupakan etika yang dilatarbelakangi oleh munculnya berbagai pandangan tentang manusia dari berbagai perspektif. Teori etika yang dicetuskan Carol Gilligan ini berlandaskan kepedulian (<em>care</em>) sehingga etika ini disebut sebagai <em>ethics of care</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Gilligan, perempuan cenderung mendasarkan perilakunya pada kepedulian yang berupa kemampuan mendengarkan kisah-kisah orang lain dan diri sendiri. Paham etika ini menekankan pentingnya hubungan antar sesama manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan ini menolak pendekatan absolut, objektif,&nbsp;dan imparsial (tidak memihak) yang diciptakan oleh kaum laki-laki. Dari&nbsp; sini kita dapat melihat kesamaan konsep etika ini dengan dasar pemikiran Kartini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kartini pada dasarnya mengharapkan tercipta suatu keselarasan antara kepentingan sendiri dengan kepentingan pihak lain, disamping mengembangkan hubungan yang didasarkan pada rasa peduli dan kasih&nbsp;sayang kepada sesama. Kesadaran akan hal tersebut&nbsp;membuat Kartini memandang seorang perempuan yang menjadi seorang ibu dibebankan secara tidak langsung dengan pekerjaan memajukan peradaban, karena pendidikan adalah basis utama peradaban sebuah bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, agar kemajuan peradaban bisa berjalan dengan cepat, maka seorang perempuan harus mendapatkan akses pendidikan yang baik agar memiliki kemampuan mendidik anak-anaknya dengan baik. (I76)</p>



<hr class="wp-block-separator is-style-wide" />



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1LIYI56QCRQ"><iframe title="Sejarah Sosok R.A Kartini" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1LIYI56QCRQ?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div><figcaption>Sejarah Kartini</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/05/202204211701-main.cropped_1650537149-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Haji Agus Salim: Tolak Diberi Beasiswa oleh RA Kartini?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinpol-tv/sejarah-haji-agus-salim-tolak-diberi-beasiswa-oleh-ra-kartini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G64]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2021 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[PinPol TV]]></category>
		<category><![CDATA[KH Agus Salim]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=84781</guid>

					<description><![CDATA[Agus Salim memang dikenal sebagai salah satu diplomat ulung dan pemikir cemerlang yang pernah dimiliki oleh Indonesia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Sejarah Haji Agus Salim: Tolak Diberi Beasiswa oleh RA Kartini?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/U8e8y9kf6fU?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption>Agus Salim memang dikenal sebagai salah satu diplomat ulung dan pemikir cemerlang yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Kiprahnya lewat Sarekat Islam serta tulisan-tulisannya di surat kabar menampilkan sisi perjuangan dan kritik terhadap pemerintahan kolonial. Lalu seperti apa sejarah tokoh yang menguasai 9 bahasa asing dan disebut-sebut pernah menolak tawaran beasiswa yang ingin dialihkan oleh Raden Ajeng Kartini ini?</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2021/07/maxresdefault-5-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Kartini</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/selamat-hari-kartini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2020 11:30:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=77369</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/hari-kartini-2020-1.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-77370" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/hari-kartini-2020-1.jpg" alt="" width="1080" height="1080" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/04/hari-kartini-2020-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kartini dan Ancaman Anti-Feminisme</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kartini-dan-ancaman-anti-feminisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[M39]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Apr 2019 12:00:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Anti Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Tanpa Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Pileg 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=55657</guid>

					<description><![CDATA[Di Hari Kartini 21 April ini, cita-cita kesetaraan gender masih menjadi ilusi bagi perempuan di Indonesia. Menguatnya gerakan anti-feminisme dianggap menjadi salah satu alasan yang mencederai cita-cita keadilan gender tersebut. PinterPolitik.com “Women are half the society. You cannot have a revolution without women. You cannot have democracy without women. You cannot have equality without women. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Di Hari Kartini 21 April ini, cita-cita kesetaraan gender masih menjadi ilusi bagi perempuan di Indonesia. Menguatnya gerakan anti-feminisme dianggap menjadi salah satu alasan yang mencederai cita-cita keadilan gender tersebut.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p><strong>“Women are half the society. You cannot have a revolution without women. You cannot have democracy without women. You cannot have equality without women. You can’t have anything without women.” ~ Nawal el Saadawi</strong></p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">S</span>ebagai simbol bebasnya perempuan dari keterkungkungan, setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia selalu memperingatinya sebagai Hari Kartini. Kehadiran wanita bernama lengkap Raden Adjeng Kartini itu memang fenomenal. Ia merupakan tokoh perempuan yang bersinar di zamannya, bahkan hingga zaman-zaman berikutnya. Hal ini karena Kartini membawa semangat emansipasi terhadap kaumnya yang hidup dalam keterpurukan budaya patriarki.</p>
<p>Dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul <em>Panggil Aku Kartini</em> saja, dikisahkan bahwa Kartini merupakan sosok yang mampu menginsafkan setiap perempuan untuk bersuara. Melalui surat kepada kawannya, Estella Zeehandelaar, ia tuangkan segala benang kusut ketertindasan budaya yang dialami perempuan. Ia juga menyimpulkan bahwa pengetahuanlah yang membuat perempuan merana atas ketertindasan oleh laki-laki.</p>
<p>Namun, sudahkah Hari Kartini yang diperingati tahun ini menandakan kerja emansipasi di Indonesia berjalan sesuai dengan yang diharapkan?</p>
<p>Tentu sangat sulit untuk menjawab hal tersebut. Segudang persoalan yang dihadapi kaum perempuan di Indonesia seolah tak ada habisnya dan bahkan tak menemui titik temu. Segenap persoalan perempuan masih membelenggu kaum perempuan itu sendiri. Kekerasan dan marginalisasi misalnya, menjadi isu yang tak pernah terselesaikan, baik oleh masyarakat secara umum maupun negara.</p>
<p>Sayangnya, perempuan di Indonesia tidak serta merta mau untuk hidup tercerahkan oleh apa itu yang disebut sebagai ilmu pengetahuan. Hal ini tercermin dengan adanya gerakan anti-feminisme yang menguat beberapa waktu terakhir di Indonesia.</p>
<p>Portal New Mandala misalnya, merilis sebuah artikel berjudul <em>An Anti-Feminist Wave in Indonesia’s Election</em>? yang membahas tentang kehadiran gelombang anti-feminisme dalam konteks politik di negeri ini.</p>
<p>Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa pada Pemilu 2019, meningkatnya pengaruh kandidat perempuan dari kelompok-kelompok anti-feminis ini merupakan ancaman serius bagi gerakan feminisme di Indonesia. Gerakan ini bahkan memiliki keterampilan kepemimpinan yang sangat baik serta tahu bagaimana menyebarkan argumen yang jelas dan meyakinkan, dan bekerja secara luas di tingkat akar rumput.</p>
<p>Artikel yang ditulis oleh Dyah Ayu Kartika dari Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina ini menyebutkan bahwa munculnya politik identitas dan Islam politik, khususnya sejak Pilkada DKI Jakarta 2017, menunjukkan ada tantangan baru bagi kaum feminis dan mereka yang berharap untuk tindakan afirmatif yang lebih besar bagi perempuan dalam politik.</p>
<p>Kaum feminis akhirnya harus siap untuk memperebutkan narasi mereka karena para kandidat ini dan para aktivis anti-feminisme ini mengikuti kontestasi elektoral pada tahun 2019 ini. Jika menang, tentu mereka akan memiliki pengaruh yang luas dalam wacana kebijakan di parlemen nantinya.</p>
<p>Tentu pertanyaannya adalah seperti apa ancaman tersebut harus dimaknai dalam konteks pemberdayaan perempuan Indonesia?</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/Bu76BM5AV4k/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bu76BM5AV4k/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/Bu76BM5AV4k/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Di Indonesia, perempuan masih belum sepenuhnya aman Simak infografis kami lainnya di Pinterpolitik.com #perempuan #indonesiatakramahperempuan #pelecehanperemuan #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_medium=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-03-13T05:02:33+00:00">Mar 12, 2019 at 10:02pm PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<h4><strong>Ancaman Konservatisme</strong></h4>
<p>Media sosial telah berubah menjadi saluran utama penyebar pesan anti-feminis. Baru-baru ini, gerakan Instagram Indonesia Tanpa Feminisme menjadi viral dan menargetkan para perempuan muda dengan tagar #UninstallFeminisme dan mempromosikan pesan “tubuhku bukan milikku, tetapi milik Allah”untuk melawan konsep feminisme tentang otonomi tubuh.</p>
<p>Ini adalah bagian dari serangkaian kampanye online oleh kelompok perempuan konservatif yang menargetkan kaum muda, termasuk pengikut gerakan seperti Pemuda Hijrah, Indonesia Tanpa Pacaran, dan Ayo Poligami.</p>
<p>Meningkatnya gerakan anti-feminisme ini sesungguhnya sinyal yang buruk bagi upaya kesetaraan dam keadilan gender di Indonesia. Bahkan gerakan ini bisa dibilang sebagai bentuk kemunduran perjuangan progresifitas perempuan di Indonesia. Mengapa demikian ?</p>
<p>Jika merujuk pada pendapat Dyah Ayu Kartika di New Mandala, gerakan anti-feminisme tidak menempatkan perempuan sebagai subyek yang mandiri secara pemikiran politik. Mereka malah mengkritik konsep kesetaraan gender dan otonomi ketubuhan karena mendasarkan pada hukum Islam yang menempatkan perempuan sebagai sebuah kodrat dengan segala konsekuensi peran domestiknya.</p>
<p>Sayangnya, hukum Islam selama ini seringkali dijadikan rujukan oleh kaum laki-laki dalam melakukan penindasan baik secara fisik maupun mental terhadap perempuan. Misalnya dalam kasus poligami, meskipun menyakiti perempuan secara psikis, sering kali para laki-laki melakukan praktek ini dengan mendasarkannya pada dalil agama.</p>
<p>Dalam konteks ini, konservatisme agama tidak serta merta memberikan ruang bagi perempuan dalam konteks kebebasan politik, tapi justru sebaliknya telah membunuh aktivisme perempuan itu sendiri.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr"><a href="https://twitter.com/hashtag/mybodyismyauthority?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#mybodyismyauthority</a> adalah narasi feminisme bahwa dia bisa mengambil keputusan ttg tubuhnya.</p>
<p>Dibelokin Indonesia Tanpa Feminis jd <a href="https://twitter.com/hashtag/mybodyisnotmine?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#mybodyisnotmine</a>. Thx <a href="https://twitter.com/n_rofiah?ref_src=twsrc%5Etfw">@n_rofiah</a> meluruskannya kembali ???</p>
<p>&quot;Setelah Allah, perempuan milik dirinya sendiri.&quot; Muslims feminists unite ❤️ <a href="https://t.co/3H1GEzVv7G">pic.twitter.com/3H1GEzVv7G</a></p>
<p>&mdash; Ligwina Hananto (@mrshananto) <a href="https://twitter.com/mrshananto/status/1114712843918532616?ref_src=twsrc%5Etfw">April 7, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Kontsruksi pemahaman konservatisme ini cenderung tertutup dan mematikan progresifitas, sehingga menyebabkan perempuan mengalami hegemoni dari laki-laki secara pemikiran dan berdampak pada melemahnya daya kritis.</p>
<p>Hal ini sejalan dengan temuan Susan Blackburn dalam bukunya&nbsp;<em>Women and the State in Modern Indonesia</em>&nbsp;yang menyebut bahwa revivalisme atau kebangkitan Islam dalam politik justru menambah beban dan memperlihatkan wajah diskriminatifnya terhadap perempuan.</p>
<p>Dalam konteks ini, ada dampak psikologis yang cukup kuat dari adanya hegemoni konservatisme ini. Hal itu yang di sebut sebagai&nbsp;<strong><span style="color: #cedb2a;"><em><a style="color: #cedb2a;" href="http://kirwaninstitute.osu.edu/research/understanding-implicit-bias/">implicit bias</a></em></span></strong>, juga dikenal sebagai kognisi sosial implisit yakni kondisi yang mengacu pada sikap atau stereotip yang mempengaruhi pemahaman, tindakan, dan keputusan perempuan secara tidak sadar.</p>
<p>Bias-bias ini, yang mencakup penilaian yang baik dan buruk, diaktifkan di alam bawah sadar perempuan dan tanpa kesadaran individu. Sehingga, bisa dikatakan bahwa perempuan yang menolak ide-ide feminisme (yang dianggap produk barat dan asing) telah nyaman dalam kondisi&nbsp;<em>status quo</em>&nbsp;patriarki.</p>
<h4><strong><em>Quo Vadis</em> Feminisme?</strong></h4>
<p>Feminisme sendiri sesungguhnya telah menjadi&nbsp;<em>magnum opus</em>&nbsp;atau karya besar bagi perempuan-perempuan di dunia yang mengilhami kesadaran untuk melawan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi berbasis gender.</p>
<p>Ide ini sesungguhnya cukup relevan dengan ide Kartini tentang kesetaraan gender dan penghapusan penindasan kepada perempuan.</p>
<p>Namun sayangnya, sudut pandang, posisi pekerjaan, peran sosial, dan kekerasan semuanya yang masih sangat <em>masculine-centric</em> atau berpusat pada laki-laki, sehingga masih membelenggu sebagian perempuan hingga hari ini.</p>
<p>Ada permasalahan mendasar yang harus ditinjau dan direfleksikan dari sejarah peran perempuan di Indonesia dalam konteks sosial-politik. Narasi sejarah telah membuktikan bahwa terdapat tata kelola gender yang timpang, di mana terdapat sejarah penindasan yang telah dilanggengkan berabad-abad lamanya.</p>
<p>Akar penindasan itu bermula dari sistem feodalisme yang berlangsung sangat lama sejak abad pertengahan dan berlanjut dengan adanya aksi kolonialisme barat yang tergambar dalam kisah-kisah Kartini tentang feodalisme dalam karya Pram.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Memperingati Hari Kartini 21 April kemarin, sekedar mengingatkan bahwa betapa ironisnya apabila pendukung &quot;Indonesia Tanpa Feminisme&quot; datang dari kalangan perempuan berpendidikan dan orang-orang yang telah hidup dari hasil jerih payah Ibunya yang bekerja mencari uang. <a href="https://t.co/QALKAPIuQ8">pic.twitter.com/QALKAPIuQ8</a></p>
<p>&mdash; Sekar (@Skrmentari) <a href="https://twitter.com/Skrmentari/status/1120014101902544897?ref_src=twsrc%5Etfw">April 21, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Dalam praktik feodalisme, laki-laki dianggap sebagai pemeran utama dalam tatanan masyarakat dan selalu mengidentikkannya sebagai simbol kekuasaan dan kekuatan, sedangkan perempuan sebagai pemeran pelengkap yang bekerja di ruang domestik.</p>
<p>Sehingga, anggapan bahwa perempuan adalah the <em>second sex</em> yang sempat diutarakan filsuf Prancis Simone de Beauvoir ternyata tertanam kuat dalam jejak sejarah masyarakat Indonesia.</p>
<p>Dalam kasus gerakan anti-feminisme ini, sayangnya perempuan-perempuan yang akan maju menjadi kandidat politik justru melanggengkan narasi-narasi pro feodalisme tersebut. Menurut Dyah, caleg perempuan konservatif menggunakan dua strategi kampanye untuk mendulang suara pada Pemilu 2019 kali ini, yakni melalui &nbsp;Majelis Taklim&nbsp;atau pengajian dan media sosial.</p>
<p>Seiring dengan berkembangnya Islam politik di Indonesia, Majelis Taklim memang telah berubah menjadi arena yang signifikan untuk berkampanye politik.</p>
<p>Realitas ini merupakan sebuah ironi bagi perjuangan emansipasi politik perempuan di Indonesia. Jika kini Indonesia memiliki sosok sekelas Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti, hingga Rini Soemarno yang mampu duduk di kursi pemerintahan dan menjadi ikon bagi Kartini masa kini, sayangnya adanya caleg-caleg perempuan yang menggunakan narasi gerakan anti-feminisme ini menjadi sebuah paradoks perjuangan Kartini selama ini.</p>
<p>Pada akhirnya, perempuan Indonesia akan sulit menciptakan Kartini-Kartini progresif jika narasi-narasi patriarki agama masih menjadi belenggu perempuan untuk berkiprah secara independen. (M39)</p>
<p><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1LIYI56QCRQ?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/04/kartini-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pelopor Feminis Eksistensialis Bangsa</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/pelopor-feminis-eksistensialis-bangsa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2018 14:57:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan Feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Maria Walanda Maramis]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Rohana Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Simone de Beauvoir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=27186</guid>

					<description><![CDATA[Di era 1880-an, gerakan feminisme awal bergolak di Eropa dan Amerika. Tak terkecuali di Nusantara. RA Kartini hanyalah salah satunya. PinterPolitik.com “Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki.” ~ RA Kartini [dropcap]M[/dropcap]embuat sejarah, memang itulah yang kemudian [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Di era 1880-an, gerakan feminisme awal bergolak di Eropa dan Amerika. Tak terkecuali di Nusantara. RA Kartini hanyalah salah satunya.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Kita harus membuat sejarah. Kita mesti menentukan masa depan yang sesuai dengan keperluan sebagai kaum perempuan dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki.” ~ RA Kartini</strong></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]embuat sejarah, memang itulah yang kemudian dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini sehingga namanya pun terus menerus dikenang sebagai pembela kaumnya dari tahun ke tahun. Namun sebenarnya, Kartini bukanlah satu-satunya perempuan Indonesia yang memperjuangkan pendidikan dan emansipasi perempuan di zamannya.</p>
<p>Di wilayah Nusantara lainnya, juga ada perempuan-perempuan berjiwa “Kartini” yang ikut memperjuangkan hak perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan pengetahuan. Sebab di zaman kolonialisme, budaya primordial lebih menempatkan laki-laki di posisi lebih tinggi dari segi status dan pendidikan, dibandingkan perempuan.</p>
<p>Di bagian Barat Sumatera, tercatat pula perempuan yang tak kalah cerdasnya dengan Kartini. Dialah Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama yang juga dikenal sebagai pejuang pendidikan bagi perempuan di wilayahnya. Begitu juga di wilayah Timur, ada Maria Walanda Maramis yang terkenal atas upayanya meningkatkan derajat para perempuan di Sulawesi Utara.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-27192" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1.jpg" alt="" width="789" height="592" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1.jpg 960w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1-300x225.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1-768x576.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1-265x198.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1-696x522.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/grafis-1-560x420.jpg 560w" sizes="auto, (max-width: 789px) 100vw, 789px" /></p>
<h3><strong>Rohana, Jurnalis Perempuan Pertama</strong></h3>
<p>Terlahir di Kota Gadang, Sumatera Barat, pada tahun 1884, usia Rohana Kudus hanya terpaut lima tahun lebih muda dari Kartini. Dari segi latar belakang, Rohana pun berasal dari keluarga yang terpelajar. Ayahnya, Mohamad Rasjad Maharadja Soetan berprofesi sebagai Jurnalis. Tak heran bila Rohana memiliki akses literasi yang cukup banyak, walau tidak mengenyam pendidikan formal.</p>
<p>Melalui ayahnya, Rohana tak hanya belajar baca tulis, tapi juga mampu menguasai berbagai bahasa sekaligus, seperti Bahasa Arab, Arab Melayu, Latin, dan Belanda. Bahkan ayahnya juga selalu membawakan buku untuknya setiap pulang kerja. Namun hasrat untuk memperjuangkan nasib kaumnya, baru terpicu ketika mereka pindah ke Batavia dan bertetangga dengan keluarga Belanda.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-27189 aligncenter" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/8-300x232.jpg" alt="" width="491" height="379" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/8-300x232.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/8-544x420.jpg 544w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/8.jpg 593w" sizes="auto, (max-width: 491px) 100vw, 491px" /></p>
<p>Seperti juga Kartini yang dekat dengan Nyonya Marie Ovink-Soer, hubungan Rohana dengan tetangga Belandanya tersebut terjalin sangat akrab. Bahkan, ia mendapatkan keahlian tambahan, yaitu menjahit, merajut, dan menyulam. Termasuk pinjaman majalah-majalah Belanda yang membuat wawasannya bertambah, matanya pun akhirnya terbuka mengenai kehidupan modern Eropa, termasuk dari sisi pendidikan dan politiknya.</p>
<p>Ketika keluarganya kembali ke kampung halaman, kakak tiri Soetan Sjahrir ini langsung menikah dengan seorang notaris bernama Abdul Kudus. Meski begitu kehidupan rumah tangga tidak membuatnya terkungkung, sebab suaminya malah mendukung keinginan Rohana untuk mendirikan surat kabar sendiri, yaitu Sunting Melayu. Surat kabar perempuan pertama yang semua penulisnya juga perempuan.</p>
<p>Tak hanya itu, pada 1911-1912, Rohana juga mendirikan Yayasan Kerajinan Amai Setia dan Rohana School yang hingga kini pun masih berdiri. Sudah tak terhitung berapa banyak keluarga yang terbantu melalui keahlian menjahit, menyulam, dan merajutnya tersebut. Sayangnya, surat kabar Sunting Melayu tak mampu berlanjut setelah ditutup oleh Pemerintah Hindia Belanda, akibat tulisan-tulisannya yang kerap mengkritik kolonial.</p>
<p>Walau sepupu KH Agus Salim ini telah meninggal di tahun 1972, namun perjuangannya yang bahkan dianggap lebih gigih dari Kartini, membuat banyak pihak setuju untuk menempatkan namanya bukan hanya sebagai Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia, namun juga sebagai Pahlawan Nasional atas jasa-jasanya memajukan perempuan di wilayahnya dan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.</p>
<h3><strong>Maria, Pejuang Hak Suara Perempuan</strong></h3>
<p>Maria Josephine Catherine Maramis yang kemudian dikenal sebagai Maria Walanda Maramis, lahir di Minahasa Utara pada tahun 1872 atau tujuh tahun lebih tua dari Kartini. Berbeda dengan Kartini dan Rohana, sejak masih berusia enam tahun, Maria sudah ditinggal kedua orangtuanya saat desa mereka terserang wabah penyakit kolera. Sehingga ia dan kedua saudara kandungnya menjadi yatim piatu.</p>
<p>Walau perlakuan Paman Ezau dan istrinya, Johana, sangat baik dan penuh kasih sayang pada mereka. Namun adanya kesenjangan status sosial dan gender yang ia alami setelah lulus sekolah dasar, membuat mata Maria terbuka. Berbeda dengan adik laki-lakinya, Maria dilarang melanjutkan sekolah. Walau saat itu ia menentang perbedaan tersebut, namun upayanya hanya berakhir sia-sia.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-27190 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/maria.jpg" alt="" width="480" height="415" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/maria.jpg 480w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/maria-300x259.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 480px) 100vw, 480px" /></p>
<p>Kesempatan untuk mengembangkan diri, ternyata malah Maria dapatkan setelah menikah dengan Josef Frederik Calusung Walanda, seorang guru yang menempuh pendidikan di Ambon. Dari suaminya lah, Maria akhirnya bisa berbahasa Belanda. Tak hanya itu, Josef bahkan membelikan buku-buku yang ia anggap penting bagi Maria dan mendukungnya mendirikan perkumpulan perempuan, yaitu PIKAT.</p>
<p>Melalui organisasi yang berdiri pada 1917 ini, Maria berupaya membebaskan kaumnya dari cengkeraman adat serta pola pendidikan Belanda yang ikut melestarikannya. Organisasi yang awalnya menitikberatkan pada permasalahan rumah tangga ini, ternyata mampu berkembang pesat sehingga memiliki banyak cabang. Baik di Minahasa, Gorontalo, Poso, Donggala, Makassar, bahkan di Pulau Jawa dan Kalimantan.</p>
<p>Pemahamannya yang semakin tinggi tentang penjajahan yang terjadi pada bangsanya, membuat nasionalisme Maria tumbuh kuat. Walau bisa berbahasa Belanda, namun Maria menganjurkan semua teman dan anak didiknya untuk berbahasa Melayu – walau saat berpidato maupun berbicara dengan orang asing. Satu kalimat yang selalu dikenang hingga akhir hayatnya adalah “Pertahankan bangsamu”.</p>
<p>Sama seperti Kartini dan Rohana, Maria pun mulai menyuarakan opininya melalui tulisan di koran setempat. Perhatiannya terutama mengenai hak pilih dan dipilih perempuan, sehingga perempuan memiliki perwakilan di Dewan Kota. Berkat kegigihan Maria, akhirnya pada 1921, Pemerintah Kolonial memperbolehkan perempuan memberi suara dalam pemilihan anggota Minahasa Raad.</p>
<p>Maria meninggal karena sakit pada 22 April 1924 dalam usia 52 tahun. Meski begitu, PIKAT semakin mengalami kemajuan, bahkan pada 1930-an perempuan diberi kesempatan untuk duduk dalam Locale Raden atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Maria diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969.</p>
<h3><strong>Gerakan Feminisme Eksistensialis</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain.” ~ RA Kartini</strong></p>
<p>Berjuang membebaskan diri dari keterkungkungan dan ketidaktahuan, dapat kita lihat dari upaya yang tak hanya dilakukan oleh Kartini, tapi juga Rohana maupun Maria. Di era yang nyaris bersamaan, ketiganya tanpa sengaja mempelopori bermulanya pergerakan emansipasi perempuan di wilayahnya masing-masing. Pada waktu yang bersamaan pula, di belahan dunia lain, khususnya Eropa dan Amerika, gerakan feminisme tengah bergolak.</p>
<p>Pada era 180o hingga 1900-an, di negara-negara Barat seperti di Amerika maupun Eropa, gelombang feminisme pertama yang menjadi dasar dari pergerakan emansipasi perempuan berikutnya, tengah dimulai. Menurut Simone de Beauvoir dalam bukunya, <em>The Second Sex</em>, pada masa itu tengah mulai muncul pertanyaan dalam diri perempuan mengenai keberadaan dirinya di tengah-tengah masyarakat.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-27191" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Simone.jpg" alt="" width="558" height="558" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Simone.jpg 630w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Simone-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Simone-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Simone-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Simone-420x420.jpg 420w" sizes="auto, (max-width: 558px) 100vw, 558px" /></p>
<p>Pertanyaan perempuan mengenai posisi dirinya ini, terang Beauvoir, mengacu pada teori eksistensialisme milik Jean Paul Sartre. Ada tiga modus yang menurut Filsuf Kontemporer tersebut dapat mendorong seseorang mempertanyakan eksistensi dirinya di tengah masyarakat, yaitu pertanyaan apakah ia ada pada dirinya (<em>etre en soi</em>), ada bagi dirinya (<em>etre pour soi</em>), dan ada untuk orang lain (<em>etre pour les autres</em>).</p>
<p>Tindakan Kartini, Rohana, maupun Maria yang menularkan pengetahuannya pada perempuan lain di lingkungannya, bagi Sartre, lebih dekat pada pertanyaan “aku ada untuk orang lain”. Kesadaran ini pula yang sebenarnya merupakan inti dan awal mula dari gerakan feminisme itu sendiri. Melalui kesadaran itu pula lah, ketiga pahlawan perempuan tanah air tersebut memulai perjuangannya.</p>
<p>Bila dirunut dari perjalanan wawasan pikiran ketiganya pun, tidak bisa dipungkiri bahwa pergolakan feminisme di Eropa yang terekam dalam majalah maupun buku-buku Belanda yang mereka baca, ikut memicu munculnya perjuangan emansipasi di tanah air. Seperti yang juga pernah dikatakan Kartini, gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya. Selamat Hari Kartini!  (R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/headerEZ.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jaringan Intelektual Eropa Kartini</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/belajar-politik/jaringan-intelektual-eropa-kartini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Apr 2017 08:20:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Belajar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik & Figure]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[feminis]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Perspektif]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Siswa]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=9127</guid>

					<description><![CDATA[Dua dekade sebelum kelahiran Kartini, Pangeran Diponegoro memecah Perang Jawa dari tahun 1825-1830. Keadaan ini, membuat Belanda mulai merangsek memasuki Pulau Jawa, terutama di wilayah Barat dan Timur. Menasbihkan diri sebagai kolonial. PinterPolitik.com [dropcap size=big]S[/dropcap]ebelumnya, Belanda hanya dikenal sebagai sekumpulan pelaut dan serdadu pelayar yang menduduki timur jauh Hindia. Sejak pengerahan personil Perang Jawa itu, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Dua dekade sebelum kelahiran Kartini, Pangeran Diponegoro memecah Perang Jawa dari tahun 1825-1830. Keadaan ini, membuat Belanda mulai merangsek memasuki Pulau Jawa, terutama di wilayah Barat dan Timur. Menasbihkan diri sebagai kolonial. </strong></em></p>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]S[/dropcap]ebelumnya, Belanda hanya dikenal sebagai sekumpulan pelaut dan serdadu pelayar yang menduduki timur jauh Hindia. Sejak pengerahan personil Perang Jawa itu, tanah-tanah subur para penguasa tradisional direbut dan dijadikan perkebunan. Pencaplokan itu dipimpin oleh Johannes van den Bosch, seorang arsitek Tanam Paksa sekaligus Gubernur Jendral Hindia.</p>
<p>Kebangsawanan tradisional terus merosot secara ekonomi, politik, dan militer. Mereka menjadi tak lebih dari pegawai birokrasi kolonial yang disebut <em>Binnenland Bestuur.</em> Kebangsawanan tak lagi berdasar pada genealogi keturunan, tetapi lebih kepada loyalitas seseorang kepada kolonial atau gubernur Belanda yang berpusat di Batavia.</p>
<p>Atas loyalitas itulah, ayah Kartini mendapatkan jabatan bupati dengan gelar Raden Mas Arya Adipati. Jabatannya ini harus dibayarnya pula dengan kesediaannya menikahi anak seorang bupati, sehingga dirinya memiliki lebih dari satu istri.</p>
<p><figure id="attachment_9129" aria-describedby="caption-attachment-9129" style="width: 440px" class="wp-caption alignright"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9129 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/440px-RM_Sosroningrat.jpg" alt="" width="440" height="615" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/440px-RM_Sosroningrat.jpg 440w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/440px-RM_Sosroningrat-300x420.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/440px-RM_Sosroningrat-215x300.jpg 215w" sizes="auto, (max-width: 440px) 100vw, 440px" /><figcaption id="caption-attachment-9129" class="wp-caption-text">RM Sosroningrat, Ayahanda Kartini (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p>Kartini sendiri lahir tahun 1897, dan sepanjang hidupnya harus menghirup atmosfir masyarakat yang terbiasa menempatkan perempuan dalam posisi kedua di ruang publik. Menginjak umur 12 tahun, ia harus rela dipingit hingga usianya 20 tahun. Namun, selama masa pinitan Kartini getol belajar dan membaca banyak buku. Mulai dari sastra, sejarah, ilmu sosial, hingga esai-esai berbahasa Belanda.</p>
<p>Tahun 1899, genap 20 tahun dan berakhir masa pingitnya. Ia memasang iklan di sebuah majalah wanita populer asal Belanda bernama, <em>De Hollandsche Lelie. </em>Kalimat perkenalannya dikenang hingga sekarang, ia menulis “Panggil saya Kartini saja.”</p>
<p><figure id="attachment_9134" aria-describedby="caption-attachment-9134" style="width: 1024px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9134 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-1024x676.jpg" alt="" width="1024" height="676" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-1024x676.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-696x460.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-1068x705.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-636x420.jpg 636w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-300x198.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-768x507.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-100x65.jpg 100w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited-759x500.jpg 759w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kompas-edited.jpg 1169w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-9134" class="wp-caption-text">Kartini beserta keluarga (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p>Bak gayung bersambut, seorang feminis militan Belanda, Estella ‘Stella’ Zeehandelar merespon suratnya. Mereka bertukar surat selama tiga tahun penuh sejak saat itu.</p>
<p><strong>Berpena Sampai Jauh</strong></p>
<p>Kartini menyapanya dengan Stella dalam surat-suratnya. Stella adalah anggota dari <em>Social-Democratische Arbeiders Partij </em>(SDAP) atau Partai Buruh Sosial Demokrat. Dalam lingkungan organisasinya, Stella juga bersahabat dengan pembesar partai-partai berhaluan politik kiri lain, seperti Ir. H. Van Kol, wakil ketua Partai Sosialis Belanda (SDAQ). Pada perkembangannya, Kartini juga berteman baik dengan Ir. Van Kol dan istrinya, Jacoba Maria Petronella (memiliki nama lain Nelie Van Kol). Keduanya akrab pula bersurat dengan Kartini.</p>
<p><figure id="attachment_9131" aria-describedby="caption-attachment-9131" style="width: 1024px" class="wp-caption alignright"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9131 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-1024x755.jpg" alt="" width="1024" height="755" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-1024x755.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-696x513.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-1068x788.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-569x420.jpg 569w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-300x221.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol-768x566.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/nellie-dan-henry-van-kol.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-9131" class="wp-caption-text">kiri-kanan: Henry van Kol dan Neliie van Kol (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p>Pada perempuan keturunan Yahudi tersebut, Kartini menulis, “<em>I have so longed to make the acquaintance of a modern girl”</em> atau saya sudah lama ingin berkenalan dengan sosok ‘gadis modern’. Sosok Stella, langsung saja memenuhi imajinasi Kartini akan perempuan mandiri ala Amsterdam. Ia berumur lebih dari 25 tahun dan belum menikah, serta aktif bekerja. Kekaguman satu sama lain juga diikat melalui kesamaan semangat dan persaudaraan. Perasaan antusias terhadap satu sama lain membuncah setiap mereka membahas sastra dan politik.</p>
<p>Dalam <em>On Feminism and Nationalism: Kartinis’s Letter to Stella Zeehandelaar</em>, disebutkan koneksi inteletual Kartini pada Stella menapaki level yang berbeda. Dalam diri Stella, ia menemukan sosok feminis tegas (<em>unapologetic)</em> yang memiliki komitmen tinggi pada pergerakan sosial dan politik untuk perempuan kelas pekerja Amsterdam. Padanya, Kartini bebas mengemukakan pendapat dan berbagai topik mengenai pergerakan perempuan, kondisi perempuan di Jawa dan Eropa, serta berkirim majalah dan karya sastra feminis. Kartini juga menyampaikan rasa solidaritasnya terhadap perjuangan para wanita kulit putih.</p>
<p>Selain tokoh sosialis Belanda, Kartini juga sangat dekat dengan Rosa Abendanon, seorang liberal yang juga merupakan istri dari direktur pendidikan dan keagamaan Hindia, J.H. Abendanon. Rosa dan suaminya adalah orang yang membukukan surat-surat Kartini hingga bisa dibaca oleh dunia. Terlepas dari polemik pengeditan surat Kartini, mereka berdua memiliki andil tentang bagaimana nilai emansipasi Kartini bisa disebarluaskan hingga mendorong gerakan progresif, baik di dalam maupun luar negeri.</p>
<p><figure id="attachment_9130" aria-describedby="caption-attachment-9130" style="width: 1024px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9130 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-1024x676.jpg" alt="" width="1024" height="676" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-1024x676.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-696x460.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-1068x705.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-636x420.jpg 636w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-300x198.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-768x507.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-100x65.jpg 100w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon-759x500.jpg 759w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/2017-04-25-JUMPER-Jacques-Abendanon-dan-Abendanon.jpg 1169w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-9130" class="wp-caption-text">kiri-kanan: Rosa Abendanon dan J.H Abendanon (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p><strong>Pergolakan di ‘Barat’</strong></p>
<p>Kita tidak bisa begitu saja mengatakan Kartini menelan bulat-bulat pandangan politik dan sosial dari rekan-rekan Eropanya. Ia sendiri bukan kertas kosong yang naif, namun seorang pembaca yang giat dan tekun. Segala pandangan baik dari Stella, Van Kol, hingga Adriani, dibalasnya sesuai dengan pengalaman disiplin membaca dan refleksi bertahun-tahun lamanya.</p>
<p>Di sisi lain, pergolakan yang terjadi di Eropa Barat sedikit banyak membawa pengaruh padanya. Jika di Hindia, para penguasa tradisional dan feodal tersingkir di tanah sendiri, hal demikian terjadi pula di Eropa Barat. Di Paris, Perancis, pemerintahan monarki <em>Bourbon</em> Napoleon III berhasil dipukul mundur oleh kelompok buruh dan masyarakat miskin. Revolusi ini terjadi berlangsung pada delapan tahun sebelum kelahiran Kartini ke dunia, 1871, dan memberi pengaruh politik dan pergerakan yang tak sedikit di negara monarki Eropa lainnya.</p>
<p><figure id="attachment_9133" aria-describedby="caption-attachment-9133" style="width: 1400px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9133 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b.jpg" alt="" width="1400" height="704" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b.jpg 1400w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b-696x350.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b-1068x537.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b-835x420.jpg 835w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b-300x151.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b-768x386.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/d0a206bb15107261babe44a45c60e95b-1024x515.jpg 1024w" sizes="auto, (max-width: 1400px) 100vw, 1400px" /><figcaption id="caption-attachment-9133" class="wp-caption-text">Penggambaran Revolusi Perancis (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p>Di Jerman, seorang ekonom berlatar belakang hukum, Karl Marx, menuliskan dukungannya pada gerakan Komune Paris. Sontak, pendirian partai dan organisasi berbasis buruh dan kelas pekerja terbentuk di masing-masing negara Eropa. Di Belanda, inisiatif pembentukan pergerakan terbentuk dalam <em>Social-Democratische Arbeiders Partij (</em>SDAP) atau Partai Buruh Sosial Demokrat. Nah, para tokoh dan beberapa anggota partai inilah yang menjalin hubungan sangat dekat dengan Kartini sebagai sahabat pena.</p>
<p>Namun, perbedaan yang terjadi di Hindia sangat bertolak dengan Eropa. Ketika di Eropa semangat politik yang dimotori rakyat berhasil mendominasi pergerakan politik Eropa, justru di negara dunia ketiga praktek kolonialisasi sedang gencar dan sangat berkembang. Liberalisasi dibawa oleh para kolonial Belanda ke Hindia dengan kebijakan-kebijakan kontra-rakyat. Tentu, rakyat yang dimaksud di sini bukanlah penguasa tradisional berupa raja dan pemilik tanah, namun tentu saja rakyat jelata.</p>
<p><strong>Sumbangan Feminis untuk Hindia dan Eropa</strong></p>
<p>Feminisme Belanda berkembang di abad ke-19 Belanda dalam iklim yang konservatif, jika tidak reaksioner. Cirinya, oleh konsepsi patriarkis dan religius seorang peran perempuan dan banyaknya organisasi perempuan sayap gereja. Lingkungan reaksioner ini jelas direleksikan (tercermin) dalam sikap oposisi terhadap hak pilih perempuan setelah penolakan terhadap hak elektoral perempuan tahun 1877. Antara tahun 1877 dan 1919, partai politik berbasis gereja merangkai suatu &#8220;serangan moral&#8221; melawan empat isu feminisime di Belanda: emansipasi perempuan di <em>civil society</em>, rekognisi kesetaraan sosial dan psikologis perempuan, ukuran dan kualitas keluarga, dan regulasi seksualitas. Perjuangan untuk mendapat pengakuan elektoral, bahkan kemenagan simbolik terakhir gerakan feminis dan tidak berlaku di Belanda sampai tahun 1919, mengindikasikan seberapa lama tuntutan radikal para feminis untuk melakukan penetrasi arena politik yang didominasi pria di kelas mereka untuk mengakui pelebaran hak pilih.</p>
<p>Organisasi wanita di Belanda di pertengahan abad ke-19 bertekad melakukan reformasi kelas pekerja, khususnya dengan memberikan pertolongan praktis untuk mereka yang &#8220;terpuruk&#8221;: ibu yang tak menikah, anak-anak haram, dan keluarga ibu-kepala miskin. Setelah 1870, mereka berfokus pada pelindungan anak-anak perempuan dan perempuan muda di tempat publik, dengan beberapa organisasi didirikan untuk memberantas prostitusi dan membina pekerja seks. Organisasi paralelnya juga dibentuk di Batavia dan tempat urban lainnya di masyarakat kolonial untuk menjaga ras-campuran yang tinggal di pusat perkantoran dan miiter kolonial.</p>
<p>Sampai dengan 1880-an, Belanda secara perlahan terindustrialisasi, sehingga ada fokus baru pada pekerja perempuan di pabrik dan buruh anak-anak. Ide pergerakan perempuan tersebar melalui media. Di Belanda misalnya, satu novel, <em>Hilda van Suylenburg</em>, diakui sebagai pembangun kasus feminis untuk publik kelas menengah Belanda.</p>
<p>Dua jalur Feminisme Belanda menjadi tampaknya jelas di akhir abad ke-19, yang satu, &#8216;saintifik&#8217; dan radikal, sedangkan satunya, &#8216;kultural&#8217; dan liberal. Yang terakhir itu direpresentasikan oleh Helene Mercier dan Annete Versluys-Poelman, yang mencoba untuk menguasai gerakan perempuan dari dalam lingkaran liberal dan progresif di metropolitan Belanda dan ibukota kolonial, Batavia.</p>
<p>Pada 1912, Aletta Jacobs, yang diakui sebagai pemimpin feminis radikal Belanda, pergi ke Hindia Belanda sebagai bagian dari tur dunia untuk memberi ceramah sekaligus mencari dukungan terkait hak pilih bagi wanita. Di tempat pertama, banyak perempuan-perempuan Eropa tidak pernah suka untuk dikunjungi. Kedua, dia mempunyai sesuatu untuk ditawarkan kepada &#8216;saudara perempuan&#8217;-nya, orang-orang pribumi Indonesia.</p>
<p><figure id="attachment_9135" aria-describedby="caption-attachment-9135" style="width: 1024px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9135 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-1024x674.jpg" alt="" width="1024" height="674" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-1024x674.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-696x458.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-1068x703.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-638x420.jpg 638w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-300x197.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-768x505.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-100x65.jpg 100w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-260x170.jpg 260w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539-759x500.jpg 759w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Aletta-Jacobs-e1430232345539.jpg 1196w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-9135" class="wp-caption-text">Aletta Jacobs (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p>Sebagai seorang turis dan musafir, dia mengamati perempuan-perempuan Indonesia yang dia lewati dengan perspektif evolusionis feminis yang berbeda-beda yang menggolongkan perempuan-perempuan pribumi ke dalam oposisi biner gerak-terbelenggu, merdeka-terjajah.</p>
<p><strong>Bergaung Sampai Hindia</strong></p>
<p>Pergerakan kaum feminis di Eropa Barat, melalui Kartini bergaung hingga Hindia. Kartini menjadi perempuan pertama yang mengkritisi poligami dan lantang mengkampanyekan pendidikan untuk perempuan. Perhatian Kartini pada dua isu ini, membuat para reformis turut memperhatikan hak berdemokrasi untuk perempuan, modernisasi pendidikan melalui Politik Etis, serta eradikasi poligami. Ketika dirinya meninggal, perjuangannya dilanjutkan sampai di seluruh Hindia.</p>
<p>Perjuangannya diakomodir melalui Politik Etis, yakni pendidikan, pengairan, dan emigrasi, hingga pada awal abad 20 perubahan terjadi pada kelas menengah yang menyandang predikat sebagai kaum intelegensia. Pada tahun 1908, Budi Utomo didirikan. Menyusul organisasi sejenis yang berangkat dari pandangan Kartini, seperti <em>Indische Partij</em>, yang bercita-cita mendapat kemerdekaan dari kolonial. Taman Siswa Ki Hadjar juga turut didirikan dengan basis pendidikan yang mengadopsi modernitas Barat tanpa melupakan kejawaan.</p>
<p>Gerakan kaum perempuan pada saat itu juga mulai terbentuk dan umumnya mengkritisi poligami melalui dua sudut pandang, yakni mereka yang sama sekali menentang poligami dari kaum Kristen dan organisasi non-agama, sementara kaum perempuan muslim menuntut keadaan poligami dapat berubah menjadi lebih baik, tetapi mereka tidak menentang sama sekali poligami.</p>
<p><figure id="attachment_9136" aria-describedby="caption-attachment-9136" style="width: 1169px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-9136 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited.jpg" alt="" width="1169" height="772" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited.jpg 1169w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-696x460.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-1068x705.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-636x420.jpg 636w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-300x198.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-768x507.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-1024x676.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-100x65.jpg 100w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-ra-kartini-edited-759x500.jpg 759w" sizes="auto, (max-width: 1169px) 100vw, 1169px" /><figcaption id="caption-attachment-9136" class="wp-caption-text">Sekolah Kartini (foto: istimewa)</figcaption></figure></p>
<p>Hingga Perang Dunia II, kritik dan usaha Kartini dapat menginspirasi kaum muda kelas menengah dalam tataran yang jauh lebih progresif. Organisasi kaum muda dengan berbagai tujuan berdiri. Walaupun pada saat itu gerakan perempuan mengkritisi poligami, mereka belum benar-benar mengkritisi sistem patriarkis yang berada dalam tubuh, baik kolonilisme Belanda maupun budaya tradisional feodal Jawa. Namun tetap saja, pergerakan perempuan dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia dan menjaga negeri dari intervensi negara Barat, memainkan peran yang tak main-main. <strong>(Berbagai Sumber/A27)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-edited-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kartini, Visioner Pembangkang</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kartini-visioner-pembangkang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Apr 2017 07:13:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan Nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=9009</guid>

					<description><![CDATA[Dari tahun ke tahun, perayaan Hari Kartini seakan kehilangan maknanya. Bahkan status kepahlawanan Kartini pun masih banyak yang mempertanyakan. Seperti apa sosok Kartini sebenarnya? PinterPolitik.com “Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Dari tahun ke tahun, perayaan Hari Kartini seakan kehilangan maknanya. Bahkan status kepahlawanan Kartini pun masih banyak yang mempertanyakan. Seperti apa sosok Kartini sebenarnya?</h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2e;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<blockquote><p><em>“Kami berikhtiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup berdiri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih sukar dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula.”</em></p></blockquote>
<p>[dropcap size=big]M[/dropcap]enjelang Hari Kartini, hampir seluruh perempuan Indonesia sepertinya berlomba-lomba mengenakan pakaian tradisional mereka. Tak lupa pula berbagai adu ketangkasan pun digelar. Dari mulai lomba memasak, lomba berbusana terbaik, hingga lomba merias wajah.</p>
<p>Seakan, Hari Kartini  adalah hari di mana para perempuan merayakan peran domestiknya. Di hari itu, perempuan harus tampil cantik, <em>chick</em>, dan pandai meracik. Sebab sejak zaman Orde Baru dulu, citra Kartini memang dipatri sebagai perlambang perempuan ayu, lemah lembut, dan penurut. Apakah benar sosok Raden Ajeng Kartini seperti itu?</p>
<p>Sungguh, tak ada yang salah dengan menjadi cantik. Bukan pula sesuatu yang salah bila kita pandai memasak. Pakaian tradisional Indonesia pun, memang harus kita banggakan dan lestarikan. Tapi apakah kegiatan-kegiatan itu menjadi esensi dari perayaan Hari Kartini? Ataukah kita hanya sekedar merayakan, tanpa peduli dengan apa sebenarnya yang diperjuangkan Kartini berabad lalu?</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Sampul <a href="https://twitter.com/hashtag/buku?src=hash">#buku</a> &#8220;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8221; PT Balai Poestaka thn 1938. Surat pertama ditulis <a href="https://twitter.com/hashtag/Kartini?src=hash">#Kartini</a> 25 Mei 1899. <a href="https://t.co/cZtljuFai3">pic.twitter.com/cZtljuFai3</a></p>
<p>— Arsipongang (@arsipongang) <a href="https://twitter.com/arsipongang/status/733567082650947585">May 20, 2016</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, mengakui kalau gagasan pemikiran Kartini sebenarnya lebih dari sekedar identifikasi yang selama ini dibudayakan, yaitu perempuan berpakaian kebaya, rambut dikonde, dan mendirikan sekolah. “Kita sempat terbangun <em>image</em> kalau Hari Kartini itu artinya pakai kebaya dari anak PAUD sampai dewasa, dan di kantor-kantor pakai kebaya,” katanya di Jakarta, Selasa, 11 April lalu.</p>
<p>Tapi, kita semua sebetulnya teredukasi dari buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’. Frasa &#8216;gelap&#8217; dan &#8216;terang&#8217; pada buku terbitan Balai Pustaka yang diterjemahkan oleh Armijn Pane itu, menurut Khofifah, mesti dipahami lagi lebih dalam. Dari surat-surat yang dikirimkan Kartini kepada sahabat penanya di Belanda, dia menangkap kedalaman pengetahuan, pemikiran, dan keingintahuan Kartini tentang dunia luas.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-9013 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/RA-Kartini-bersama-keluarga.jpg" alt="" width="700" height="566" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/RA-Kartini-bersama-keluarga.jpg 700w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/RA-Kartini-bersama-keluarga-696x563.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/RA-Kartini-bersama-keluarga-519x420.jpg 519w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/RA-Kartini-bersama-keluarga-300x243.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 700px) 100vw, 700px" /></p>
<h4><strong>Kartini, Sang Putri Priyayi </strong></h4>
<blockquote><p><em>“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun, lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orangtua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.” (25 Mei 1899).</em></p></blockquote>
<p>Setiap orang Indonesia pasti sudah tahu, siapa Kartini. Perempuan Jawa kelahiran 21 April 1879 ini, berasal dari keluarga ningrat. Ayahnya Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, menjabat sebagai Bupati Jepara dan sangat menyayangi putri kelima dari sebelas putra putrinya ini.</p>
<p>Sebagai seorang priyayi, RM Adipati Ario tergolong moderat karena memperbolehkan Kartini bersekolah hingga usia 12 tahun. Pendidikan yang diperoleh pun tak tanggung-tanggung, yaitu di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus untuk kaum ningrat dan keluarga kolonial Belanda. Jadi tak heran, bila Kartini sangat fasih berbahasa Belanda.</p>
<p>Kedekatan Kartini dengan sang ayah, juga tak lepas dari kegemaran mereka berkeliling desa. Ayahnya bahkan tak segan-segan mengajak Kartini untuk ikut berdialog dengan rakyat jelata. Sehingga bukan hal yang sulit baginya untuk mendapatkan kepercayaan warga, ketika mengajak anak-anak desa ikut belajar membaca dan menulis.</p>
<p>Bagi Kartini, meneruskan sekolah adalah hal yang paling ia idam-idamkan. Bahkan ketika usianya menginjak 12,5 tahun, ia pernah menangis memohon pada sang ayah agar diizinkan untuk ikut meneruskan sekolah ke HBS di Semarang, bersama kakak-kakaknya yang laki-laki. Kala itu, Kartini berjanji  belajar sekuat tenaga, agar tidak mengecewakan mereka.</p>
<p>Tapi sesayang dan semoderat apapun ayahnya, sebagai seorang Bupati, ia juga tak mampu mendobrak tradisi yang telah mengakar kuat di tanah Jawa. Dengan penuh kasih, sang ayah terpaksa menolak keinginan putrinya tersebut. Namun, ia tetap memberikan sedikit kelonggaran bagi buah hatinya. Walau statusnya dipingit, namun Kartini masih boleh ‘berkeliaran’ di luar rumah hingga usianya menginjak 16 tahun.</p>
<p>Kesedihan Kartini, pernah ia ungkapkan pada Stella.</p>
<blockquote><p><em>“Telah berlalu! Semuanya telah berlalu! Pintu sekolah telah tertutup di belakangnya dan rumah ayah menerimanya dengan penuh kasih sayang. Rumah itu besar. Halamannya pun luas sekali. Tetapi begitu tebal dan tinggi tembok yang mengelilinginya.”</em></p></blockquote>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-9017 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-1024x837.jpg" alt="" width="1024" height="837" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-1024x837.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-696x569.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-1068x873.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-514x420.jpg 514w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-300x245.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal-768x628.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/tiga-gadis-berandal.jpg 1221w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<h4><strong>Sahabat Pena Pembuka Wawasan</strong></h4>
<blockquote><p><em>“Saya ingin sekali berkenalan dengan seorang &#8216;gadis modern&#8217; yang berani, mandiri, menarik hati saya sepenuhnya. Yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang, dan gembira, penuh semangat dan keceriaan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kebahagiaan dirinya saja, tetapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan banyak sesama manusia.”</em></p></blockquote>
<p>Kutipan di atas, dipetik dari buku “Surat-surat Kartini. Renungan tentang dan untuk Bangsanya”, tahun 1979. Ajakan berkenalan sebagai sahabat pena ini, termuat di surat kabar Belanda, De Hollandshce Lelie. Pada masa-masa dipingit, Kartini memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku, majalah, dan surat kabar berbahasa Belanda.</p>
<p>Marie Ovink-Soer, istri pegawai administrasi kolonial Hindia Belanda di Jawa Tengah, mengenalkan Kartini kepada pergerakan feminisme di Belanda, termasuk jurnal De Hollandshce Lelie. Jurnal tempat Kartini mencari sahabat pena di Belanda untuk bertukar pikiran. Dari sinilah, Kartini mendapat tanggapan dari pegawai pos bernama Estella Zeehandelar.</p>
<p>Estella atau yang kerap disapa Stella, sebenarnya adalah salah satu pendiri Partai Buruh Sosial Demokrat atau <em>Social-Democratische Arbeiders Partij</em>  (SDAP). Sosoknya yang penuh semangat dan pola pikir Stella yang juga menganut paham feminis revolusioner, memberikan pengaruh cukup besar bagi pemikiran-pemikiran Kartini di masa datang. Bisa dibilang, Stella memberi ruang bagi Kartini untuk bermimpi meraih cita-citanya.</p>
<p>Kartini yang belum pernah pergi keluar Jawa, bahkan dilarang keluar dari pekarangan rumahnya sendiri, tentu saja iri dengan kemajuan perempuan Eropa yang saat itu telah dapat menentukan nasibnya sendiri. Namun, Kartini juga bukan seorang yang naif dan mengunyah apa yang terjadi di dunia luar begitu saja.</p>
<p>Tidak dapat disangkal bahwa segala kemajuan yang terjadi telah memberikannya pandangan kritis terhadap sistem feodal yang ada dalam kehidupan sekitarnya. Tetapi Kartini juga menyadari, bahwa di bawah kekuasaan Belanda, ada sebuah relasi kekuasaan timpang yang menjadi belenggu kehidupan masyarakatnya, yaitu sistem kolonialisme itu sendiri. Salah satu kutipan dalam suratnya kepada Stella mengungkapkan pandangan itu.</p>
<blockquote><p><em>“Dengan duka cita, banyak orang Eropa di sini melihat orang-orang Jawa, bawahan mereka, perlahan-lahan maju. Dengan cara yang halus sekali mereka membuat kami merasakan hal itu. ‘Saya orang Eropah, kamu orang Jawa’ atau dengan kata lain ‘Saya memerintah, kamu saya perintah’. Oh, sekarang saya mengerti, mengapa orang tidak setuju dengan kemajuan orang Jawa. Kalau orang Jawa berpengetahuan, ia tidak akan lagi mengiakan dan mengamini saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan oleh atasannya.” (12 Januari 1900)</em></p></blockquote>
<p><a href="https://pinterpolitik.com/kartini-visioner-pembangkang/"><img loading="lazy" decoding="async" class=" td-modal-image aligncenter wp-image-9014 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-1024x653.png" alt="Kartini Visioner Pembangkang" width="696" height="444" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-1024x653.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-696x444.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-1068x682.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-658x420.png 658w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-300x191.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-768x490.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini-100x65.png 100w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/sekolah-Kartini.png 1111w" sizes="auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
<h4><strong>Pendidikan Awal Kebebasan</strong></h4>
<blockquote><p><em>“Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata &#8216;Emansipasi&#8217; belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” (Suratnya kepada Stella, 25 Mei 1899)</em></p></blockquote>
<p>Walau terpasung pingitan, semangat dalam pemikiran Kartini sebenarnya masih terus menggelora. Wawasannya tentang dunia yang lebih bebas dan merdeka bagi siapa saja, selalu menguasai pemikirannya. Dari semua pengetahuan dan berdasarkan kenyataan di masyarakat, akhirnya Kartini pun menyimpulkan bahwa ia harus bergerak. Bertindak dengan cara memperluas pendidikan membaca dan menulis bagi rakyat jelata.</p>
<p>Dengan memperluas pendidikan, ia berharap cita-citanya akan sistem masyarakat yang lebih liberal bisa terbuka, suatu saat nanti.</p>
<blockquote><p><em>“Bagi saya, pendidikan itu merupakan pembentukan budi dan jiwa. Dan saya bertanya kepada diri saya sendiri: dapatkan kiranya saya menjalankan tugas itu? Saya, saya masih perlu juga lagi dididik ini? Kerapkali saya mendengar orang mengatakan, bahwa dari yang satu dengan sendirinya akan timbul yang lain. Oleh perkembangan akal dengan sendirinya budi itu akan menjadi halus, luhur.” (Kartini, 2014: 120-121)</em></p></blockquote>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-9019 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-1024x717.jpg" alt="" width="1024" height="717" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-1024x717.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-100x70.jpg 100w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-696x487.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-1068x748.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-600x420.jpg 600w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-300x210.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil-768x538.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/kartini-kecil.jpg 1144w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<h4><strong>Tradisi yang Mengekang Ambisi</strong></h4>
<blockquote><p><em>“Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawi</em>n&#8230;”</p></blockquote>
<p>Pada Juni 1903, Kartini akhirnya berhasil mendirikan sekolah gadis di kota kelahirannya. Namun baru sebulan sebagai guru, ia lagi-lagi harus terpuruk karena mendapat surat lamaran dari Bupati Rembang, R.M. Adipati Joyoadiningrat. Padahal saat itu, Kartini pun sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk bersekolah di Batavia – berkat beasiswa yang diperjuangkan oleh sahabatnya, Rossa Abendanon.</p>
<p>Pernikahan adalah kata yang efeknya hampir sama dengan kiamat bagi Kartini. Ia tak hanya harus membatalkan kesempatan bersekolah lebih tinggi, namun juga kebebasan hidupnya sebagai perempuan merdeka. Simak saja kata-katanya yang sungguh telengas ini:</p>
<blockquote><p><em>“Kerja yang serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas!”</em></p></blockquote>
<p>Rasa frustasi Kartini semakin bertambah, ketika tahu bahwa calon suaminya sebenarnya sudah memiliki tiga orang istri. Padahal poligami adalah hal yang paling dibenci Kartini, karena ia anggap sebagai penghinaan dan merendahkan martabat perempuan. Kartini tahu benar sakit dan perihnya poligami, karena ibundanya sendiri adalah korban poligami.</p>
<p>Ia yakin, tak ada satu pun perempuan yang mau disakiti dengan poligami. Inilah yang ia katakan dalam suratnya kepada Stella:</p>
<blockquote><p><em>“Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah dan kemudian, bila bosan pada anak-anaknya, ia dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam?”</em></p></blockquote>
<p>Namun lagi-lagi, Kartini hanya bisa merintih. Ambisinya, cita-citanya, terpasung zaman.</p>
<blockquote><p><em>“Siapa yang melihat atau menduga dahsyatnya pergolakan yang menggelora dalam batin gadis remaja ini? Tidak ada seorangpun yang dapat menduganya. Ia menderita seorang diri. Tidak ada orangtua atau saudara yang menduga apa yang bergolak dalam hatinya, dan memberi simpatinya kepadanya. Di manakah ia akan dapat meletakkan kepalanya yang capek ini dan melepaskan tangis kesedihannya?”</em></p></blockquote>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-9016 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami.jpg" alt="" width="1046" height="1484" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami.jpg 1046w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami-696x987.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami-296x420.jpg 296w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami-211x300.jpg 211w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami-768x1090.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/bersama-suami-722x1024.jpg 722w" sizes="auto, (max-width: 1046px) 100vw, 1046px" /></p>
<h4><strong>Berjuang Hingga Akhir</strong></h4>
<blockquote><p><em>“Memang suatu pekerjaan yang seolah-olah tak mungkin dapat dikerjakan! Tetapi siapa tidak berani, takkan menang! Itulah semboyanku. Maka ayo maju! Bertekad saja untuk mencoba semua! Siapa nekad, mendapat tiga perempat dari dunia!”</em></p></blockquote>
<p>Tak mampu merombak tradisi, tak sampai hati menyakiti hati ayahnya yang ia sayangi. Akhirnya Kartini menikah pada 8 November 1903. Namun, bukan Kartini bila ia bisa mengalah begitu saja. Sebelum menikah, ia memberikan empat syarat pra nikah yang harus dipenuhi suaminya.</p>
<p>Pertama, ia ingin ibu kandungnya, M.A. Ngasirah mendapatkan kamar yang lebih layak. Kedua, ia menolak membasuh kaki suaminya, karena ia anggap sebagai perbudakan dan penghinaan. Ketiga, Kartini ingin menggunakan bahasa Belanda sehari-hari, karena perempuan harus berbicara menggunakan kromo inggil kepada suaminya, sedang suami cukup menggunakan bahasa Jawa ngoko kepada istrinya. Keempat, Kartini meminta calon suaminya, menjunjung tinggi kesetiaan dengan tak memiliki wanita lain. Selain itu, Kartini juga meminta untuk dibuatkan sekolah agar bisa terus mengajar.</p>
<p>Awalnya, calon suami Kartini yang ternyata juga berpikiran moderat, menyetujui semua keinginannya. Namun setelah membuatkan sekolah keputrian yang diminta istrinya, Joyodiningrat ternyata tak mampu memenuhi empat syarat lain yang diminta Kartini. Inilah yang membuat Kartini semakin merasa frustasi.</p>
<p>Tapi perasaan frustasinya ini, tidak ia ungkapkan pada Stella. Ia malah terkesan berusaha menerima kenyataan yang harus dijalaninya tersebut.</p>
<blockquote><p><em>“Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri.”</em></p></blockquote>
<p>Kalimat di atas, seakan ucapan selamat tinggal dari Kartini. Karena setelah melahirkan anaknya, RM Singgih Soesalit Djojoadhiningrat, pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, ia meninggal pada usia 25 tahun. Walau telah tiada, namun melalui surat-suratnya, Kartini mampu berbicara melintasi zaman.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Dlm suratnya <a href="https://twitter.com/hashtag/Kartini?src=hash">#Kartini</a> pernah sedih krn hrs pindah dr Jepara dg pantai yg nyiur permai ke perbukitan <a href="https://twitter.com/hashtag/Kendeng?src=hash">#Kendeng</a> Rembang. Ia kmd bahagia. Skrg? <a href="https://t.co/91c5YY1sNa">pic.twitter.com/91c5YY1sNa</a></p>
<p>— Dewi Candraningrum (@dcandraningrum) <a href="https://twitter.com/dcandraningrum/status/805598492911484928">December 5, 2016</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam sebuah pidato pertemuan <em>De Indische Vereniging</em> (kemudian menjadi Perhimpunan Indonesia tempat para pemuda seperti Sjahrir dan Hatta menjadi bagian organisasi itu), 24 Desember 1911, ketua rapat menyampaikan pokok pikiran dalam pidato yang diberi judul ‘Gagasan-Gagasan Raden Ajeng Kartini sebagai pedoman bagi ‘<em>De Indische Vereeniging</em>…’ (Soeroto: 402).</p>
<p>Penerbitan surat-menyurat yang intensif antara Kartini dan sahabat penanya, kemudian diterbitkan menjadi buku serta menjadi salah satu karya tulis yang memberi inspirasi para pemimpin pergerakan nasionalisme Indonesia. Enam puluh tahun setelah kematian Kartini, tepatnya tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menganugerahi Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia dan peringatannya dirayakan setiap tahun sebagai Hari Kartini.</p>
<p>Berbagai pro dan kontra, serta tak jarang pertanyaan yang meragukan kepahlawanan Kartini, memang sangat banyak dilemparkan dalam beberapa tahun belakangan ini. Namun bila kita lebih kritis dalam menyikapi pemikiran Kartini kala itu, kita mungkin akan lebih bisa menghargai dan memahami mengapa Kartini terpilih sebagai sosok yang harus dikenang setiap tahun. Karena perjuangan Kartini memang harus terus diingatkan setiap tahun, bahwa perjuangan memerdekakan hak dan derajat perempuan belum usai.</p>
<p>Bahkan hingga kini, berabad-abad kemudian, kesetaraan dan hak kemerdekaan diri belum juga sesuai. Jadi, marilah kita lebih bergiat lagi berjuang. Buktikan pada Kartini bahwa ambisinya bukan suatu utopi. Karena perempuan bisa mandiri, berdikari, dan memperjuangkan dirinya sendiri. Berikan pendapatmu.</p>
<p>(Berbagai sumber/R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/thumbnail-kartini-01-1-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sosok R.A Kartini</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinpol-tv/sosok-r-kartini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S21]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Apr 2017 05:10:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[PinPol TV]]></category>
		<category><![CDATA[Hari Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[R.A Kartini]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=9001</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><div id="tdi_1" class="tdc-row"><div class="vc_row tdi_2  wpb_row td-pb-row" >
<style scoped>.tdi_2,.tdi_2 .tdc-columns{min-height:0}.tdi_2,.tdi_2 .tdc-columns{display:block}.tdi_2 .tdc-columns{width:100%}.tdi_2:before,.tdi_2:after{display:table}</style><div class="vc_column tdi_4  wpb_column vc_column_container tdc-column td-pb-span12">
<style scoped>.tdi_4{vertical-align:baseline}.tdi_4>.wpb_wrapper,.tdi_4>.wpb_wrapper>.tdc-elements{display:block}.tdi_4>.wpb_wrapper>.tdc-elements{width:100%}.tdi_4>.wpb_wrapper>.vc_row_inner{width:auto}.tdi_4>.wpb_wrapper{width:auto;height:auto}</style><div class="wpb_wrapper" ><div class="wpb_wrapper td_block_wrap vc_raw_html tdi_6 videoWrapper .videoWrapper"><div class="td-fix-index"><div><iframe loading="lazy" type="text/html" width="853" height="480" src="https://www.youtube-nocookie.com/embed/1LIYI56QCRQ?showinfo=0&modestbranding=1&autoplay=1&loop=1&autohide=1&rel=0&fs=0" frameborder="0" allow="autoplay" ></iframe></div></div></div><div class="wpb_wrapper wpb_text_column td_block_wrap td_block_wrap vc_column_text tdi_7  tagdiv-type td-pb-border-top td_block_template_1"  data-td-block-uid="tdi_7" >
<style>.vc_column_text>.td-element-style{z-index:-1}</style><div class="td-fix-index"><p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com &#8211; </strong></span>Perayaan hari Kartini yang dirayakan setiap tahun, seakan mulai kehilangan makna. Peringatan hampir selalu melalui kegiatan kedaerahan maupun domestik lainnya. Seolah, hanya itu saja yang menjadi <em>legacy</em> perempuan Jawa kelahiran 21 April ini. Sebenarnya, bagaimana cara terbaik merayakan hari Kartini di era <em>&#8216;postmodernisme&#8217;</em> sekarang ini? #berikanpendapatmu</p>
</div></div></div></div></div></div></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/04/Kartini.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
