<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Putin &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/putin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 30 Apr 2026 10:09:36 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Putin &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mendayung Bersama Putin</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mendayung-bersama-putin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Apr 2026 09:51:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169105</guid>

					<description><![CDATA[Kremlin, 13 April 2026. Pertemuan tiga jam Prabowo–Putin melahirkan komitmen 150 juta barel minyak Rusia dengan harga khusus untuk Indonesia. Awalnya 100 juta barel, ditambah 50 juta bila dibutuhkan. Kilang Cilacap siap mengolah Urals dan ESPO Blend — menghemat triliunan rupiah sekaligus mengamankan ketahanan energi nasional. Kesepakatan diumumkan oleh… Hashim Djojohadikusumo.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-30-2026-5_02pm.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kremlin, 13 April 2026. Pertemuan tiga jam Prabowo–Putin melahirkan komitmen 150 juta barel minyak Rusia dengan harga khusus untuk Indonesia. Awalnya 100 juta barel, ditambah 50 juta bila dibutuhkan. Kilang Cilacap siap mengolah Urals dan ESPO Blend — menghemat triliunan rupiah sekaligus mengamankan ketahanan energi nasional. Kesepakatan diumumkan oleh… Hashim Djojohadikusumo.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dalam Mahabharata, ketika perang besar Bharatayuddha hampir tak terhindarkan, para Pandawa mengirim seorang utusan terakhir ke istana Hastinapura untuk merayu damai. Mereka tidak mengirim Yudhistira sang raja. Tidak Bhima, tidak Arjuna. Mereka mengirim Krishna — seorang pangeran Dwaraka yang bukan bagian formal dari pemerintahan Pandawa, tapi seseorang yang membawa darah, kebijaksanaan, dan kepercayaan absolut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Krishna masuk sendirian ke ruang singgasana Duryodhana, menawarkan perdamaian dengan hanya lima desa sebagai syarat. Ia tidak berhasil mengubah keputusan Hastinapura — tapi yang menarik bukanlah hasilnya, melainkan logikanya: ketika taruhan paling tinggi, yang dikirim bukan birokrat, melainkan seseorang yang membawa garansi personal melampaui jabatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua puluh lima abad kemudian, di Jakarta pada Jumat 24 April 2026, logika yang sama terulang. Dalam Economic Briefing 2026, bukan Menteri Luar Negeri, bukan Menteri ESDM, bukan Presiden sendiri yang berdiri di podium mengumumkan kesepakatan terbesar Indonesia–Rusia dalam sejarah. Yang berbicara adalah Hashim Sujono Djojohadikusumo — pengusaha, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, dan adik kandung Prabowo Subianto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengumumannya menggetarkan: Indonesia mendapat komitmen 150 juta barel minyak Rusia dengan harga khusus, hasil pertemuan tiga jam Prabowo–Putin di Kremlin pada 13 April 2026. Krishna telah pulang dari Hastinapura — kali ini dengan tangan penuh.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Hashim, Sang Duta Ekonomi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Niccolò Machiavelli dalam <em>The Prince</em> (1513) menulis bahwa seorang penguasa bijak memilih penasihat berdasarkan dua kriteria: kompetensi dan loyalitas absolut. Tapi Machiavelli memberi catatan tegas — loyalitas yang tidak bisa dibeli, ditransfer, atau dicabut adalah loyalitas darah. Hashim memenuhi keduanya dengan sempurna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lulusan Pomona College bidang ilmu politik dan ekonomi, mantan analis bank investasi Prancis, dan pengusaha yang mengendalikan ribuan km² konsesi dari Aceh hingga Papua, ia menggabungkan kapasitas teknokrat dengan jaminan keluarga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada tiga alasan struktural mengapa Hashim, bukan menteri, yang berdiri di podium itu. <em>Pertama</em>, <em>plausible deniability</em>. Sebagai utusan khusus, ia tidak mengikat negara secara hukum — memberi ruang manuver diplomatik yang mustahil dimiliki seorang menteri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, <em>signal to Russia</em>. Kremlin sendiri dijalankan oleh lingkaran dalam yang berbasis kepercayaan personal — Patrushev, Sechin, Medvedev. Mengirim adik presiden adalah bahasa yang dipahami Putin: &#8220;saya percayakan ini pada darah saya sendiri.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, <em>bridge</em> bisnis–pemerintah. Negosiasi minyak menyangkut harga, jadwal, asuransi tanker, hingga mekanisme pembayaran — jaringan komersial yang fasih hanya pada pengusaha energi sekelas Hashim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola ini bukan anomali Indonesia. Max Weber membedakan tiga jenis otoritas: tradisional, karismatik, dan legal-rasional. Dalam diplomasi energi abad ke-21, dunia justru kembali ke tipe pertama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mohammed bin Salman menegosiasikan OPEC+ untuk Arab Saudi. Sheikh Mansour mengelola dana investasi UAE bernilai $1,5 triliun. Berat Albayrak — menantu Erdogan — merancang deal energi Turki dengan Rusia. Jared Kushner menjadi arsitek Abraham Accords. Hashim adalah versi Indonesia dari pola global ini: kepercayaan darah sebagai mata uang diplomatik tertinggi di era ketidakpastian.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Hedging: Filosofi Mendayung di Antara Arus</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami mengapa Indonesia membeli minyak Rusia di minggu yang sama dengan membahas akses militer untuk AS, kita memerlukan kerangka teoretis lebih dalam dari sekadar &#8220;bebas aktif.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Evelyn Goh dari Australian National University memperkenalkan teori <em>strategic hedging</em>: negara-negara Asia Tenggara tidak melakukan <em>balancing</em> (melawan kekuatan besar) maupun <em>bandwagoning</em> (mengikutinya), melainkan mempertahankan hubungan baik dengan semua kekuatan besar secara simultan untuk memaksimalkan opsi sekaligus meminimalkan risiko.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia di bawah Prabowo melampaui hedging biasa — ia melakukan <em>extreme hedging</em>. MDCP dengan AS untuk akses militer. Deal minyak dengan Rusia untuk akses energi. Keanggotaan BRICS untuk akses multilateral non-Barat. FTA dengan EAEU untuk akses pasar Eurasia. Setiap hubungan adalah polis asuransi terhadap kegagalan hubungan lainnya. Inilah kecerdikan strategis yang jarang dimiliki kekuatan menengah di abad ke-21.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Thucydides, sejarawan Yunani 2.500 tahun lalu, menulis bahwa &#8220;yang kuat melakukan apa yang bisa, yang lemah menderita apa yang harus.&#8221; Indonesia bukan kekuatan besar — ia kekuatan menengah. Dalam perangkap Thucydides yang berlangsung antara Washington dan Beijing, kekuatan menengah punya dua pilihan: memilih sisi dan berharap benar, atau menjadi <em>indispensable</em> bagi semua sisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prabowo dengan elegan memilih opsi kedua. Dengan mengendalikan Selat Malaka, membeli minyak Rusia, bergabung BRICS, dan menandatangani MDCP, setiap kekuatan besar memiliki alasan untuk tidak memusuhi Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh ke timur, Kautilya — penasihat Chandragupta Maurya dalam <em>Arthashastra</em> (abad ke-4 SM) — sudah merumuskan logika ini: tidak ada musuh permanen, tidak ada sekutu permanen, hanya kepentingan permanen. Deal minyak Rusia adalah Kautilyan diplomacy dalam bentuk paling murni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia tidak &#8220;berpihak&#8221; pada Moskow — ia memanfaatkan posisi Rusia yang kehilangan pasar Eropa untuk mendapatkan harga diskon yang menghemat triliunan rupiah. Ini bukan ideologi, melainkan aritmatika geopolitik. Dan aritmatika itu menyelamatkan ketahanan energi 280 juta rakyat Indonesia di tengah volatilitas pasar minyak global.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kilang Tuban dan Cakrawala Investasi Rusia</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Deal 150 juta barel hanyalah pintu masuk. Yang lebih besar terbentang di Jawa Timur: <em>Grass Root Refinery</em> Tuban, proyek kilang baru bersama Rosneft yang menanti Final Investment Decision. Jika proyek ini bergerak maju, Indonesia bukan sekadar membeli minyak Rusia — Indonesia membangun bersama Rusia infrastruktur pengolahan yang memutus ketergantungan impor BBM. Tuban berpotensi menjadi simbol bahwa investasi Rusia tidak berhenti pada komoditas, melainkan masuk ke jantung industri strategis nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pondasinya sudah kokoh. Perdagangan bilateral mencapai rekor US$4,32 miliar pada 2025, naik 80% dalam lima tahun. Deklarasi Kemitraan Strategis ditandatangani di St. Petersburg Juni 2025. QRIS lintas negara siap di-<em>deploy</em> untuk transaksi tanpa dolar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">FTA Indonesia–EAEU diharapkan rampung tahun ini. Lebih dari 5.000 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di 41 kota Rusia — dari Moskow hingga Vladivostok — mempelajari kedokteran, teknik nuklir, dan aerospace. Dalam dua dekade, alumni ini akan menjadi jaringan profesional yang memfasilitasi kerja sama generasi berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada simetri historis yang menawan. Pada 1950-an, Soekarno mendayung ke Moskow dan mengirim ribuan anak muda Indonesia untuk belajar. Pada 2026, Prabowo mendayung ke Kremlin dan mengirim adiknya untuk bernegosiasi. Soekarno berinvestasi pada manusia, Prabowo pada komoditas dan infrastruktur. Keduanya membangun pondasi yang sama — bahwa Indonesia tidak boleh bergantung pada satu kutub kekuasaan tunggal. Sejarah, kata pepatah, tidak berulang tetapi ia berima.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hashim adalah kunci dari arsitektur ini. Sebagai adik presiden, ia membawa kepercayaan darah. Sebagai pengusaha, ia membawa bahasa bisnis. Sebagai utusan khusus, ia membawa fleksibilitas diplomatik. Tiga kapasitas yang tidak bisa diwadahi satu jabatan formal pun. Inilah Krishna versi Republik Indonesia — duta yang membawa pesan presiden ke gerbang kekuasaan dunia, dan pulang membawa jaminan bagi 280 juta rakyat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagaimana Lord Palmerston, Perdana Menteri Inggris abad ke-19, pernah berkata di hadapan Parlemen: <em>&#8220;We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow.&#8221;</em> Indonesia kini sedang menjalankan filosofi itu dengan presisi tinggi — dan Hashim, sang duta darah, adalah dayung utama di perahu yang sedang melaju kencang menembus arus zaman. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="EgDzVAfiRvk"><iframe title="Kata Pemred: Pintu yang Tidak Selalu Terbuka" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/EgDzVAfiRvk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-30-2026-5_02pm.mp3" length="2178092" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/chatgpt-image-apr-30-2026-05_01_52-pm-1024x576.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Satu Landasan di Jam yang Beda</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/satu-landasan-di-jam-yang-beda/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2026 02:57:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[Moskow]]></category>
		<category><![CDATA[Pentagon]]></category>
		<category><![CDATA[Pete Hegseth]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Sjafrie Sjamsoeddin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168718</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #17PinterPolitik.com Tiga pesawat meninggalkan landasan yang sama di jam yang berbeda. Yang pertama menuju kota tempat kekuasaan tidak pernah benar-benar meninggalkan abad ke-19 — Moskow, di mana istana menyimpan janji energi di balik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/putin-1-auflnxgh.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #17</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga pesawat meninggalkan landasan yang sama di jam yang berbeda. Yang pertama menuju kota tempat kekuasaan tidak pernah benar-benar meninggalkan abad ke-19 — Moskow, di mana istana menyimpan janji energi di balik dinding setebal empat ratus tahun. Yang kedua turun di koridor marmer tempat perang tidak diumumkan, melainkan dikelola. Yang ketiga mendarat di kota tempat negara bisa runtuh tanpa satu peluru pun ditembakkan. Tidak ada satu pun penumpangnya yang membawa pesan yang sama. Tapi ketiganya membawa mandat dari orang yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 13 April 2026, Indonesia tidak sekadar menjalankan diplomasi. Ia menggelar sebuah eksperimen. Presiden Prabowo Subianto duduk berhadapan dengan Vladimir Putin di Kremlin — kunjungan ketiganya ke Rusia sejak dilantik — membicarakan keamanan energi di tengah blokade Selat Hormuz. Itu sayap pertama. Di belahan bumi lain, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menandatangani Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama dengan Pete Hegseth di Pentagon. Dan sayap ketiga: Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, di New York, memaparkan strategi fiskal Indonesia kepada BlackRock, Lazard, HSBC, Lord Abbett, dan TD Asset Management.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Tiga kota. Satu hari. Tanpa jeda.</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Media Indonesia meliput ketiganya sebagai tiga berita terpisah. Moskow masuk halaman politik. Pentagon di rubrik pertahanan. Wall Street di kolom ekonomi. Fragmentasi ini mencerminkan ketidakmampuan membaca arsitektur — karena yang terjadi bukan tiga agenda yang kebetulan bersamaan. Simultaneitasnya sendiri adalah pesannya. Diplomasi tradisional bekerja secara berurutan: negara mendekati A, lalu B, lalu C. Indonesia menghapus urutan itu. Semua pintu diketuk bersamaan, dan karena itu tidak ada satu pun yang merasa diprioritaskan — atau diabaikan. Ada dimensi lain yang luput: waktu sebagai instrumen kekuasaan. Dengan bertindak secara simultan, Indonesia memaksa setiap pihak memproses sinyal kompleks dalam waktu yang sama. Hasilnya adalah ketidakpastian — bukan bagi Indonesia, melainkan bagi mitra-mitranya. Jika Gerakan Non-Blok adalah seni menolak undangan, maka ini kebalikannya: menerima semua undangan tanpa pernah duduk terlalu lama di satu meja.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Bukan Non-Blok. Omni-Blok.</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Charles de Gaulle memahami logika ini enam dekade lalu. Pada 1966, ia menarik Prancis dari komando militer NATO sambil tetap berada di dalam aliansi, membuka hubungan dengan Tiongkok dan Uni Soviet, membangun kekuatan nuklir independen. Hasilnya paradoks: semua manfaat aliansi tanpa beban kewajiban penuh. Henry Kissinger menyempurnakan prinsip itu dalam diplomasi segitiga 1972: dalam permainan tiga arah, kekuatan terbesar bukan milik negara terkuat, melainkan milik negara yang punya akses ke semua sisi tanpa terikat pada satu pun. Indonesia kini menggabungkan kedua pelajaran itu dalam trilateral baru: keamanan dari Washington, energi dari Moskow, modal dari Wall Street. Tiga sumber daya yang, jika salah satu saja putus, bisa melumpuhkan negara berkembang mana pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perhatikan siapa yang dikirim ke mana. Ke Kremlin, presiden sendiri yang hadir — karena sistem Rusia beroperasi pada logika personal: hubungan antar individu lebih menentukan daripada institusi. Ke Pentagon, seorang jenderal dikirim — karena Amerika mempercayai struktur militer dan prosedur formal. Ke Wall Street, seorang teknokrat yang berbicara dalam satu-satunya bahasa yang mereka hormati: angka, defisit, dan kredibilitas fiskal. Ini bukan sekadar pembagian peran. Indonesia tidak bernegosiasi dengan negara. Ia bernegosiasi dengan sistem.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><em>Inilah yang tidak pernah tertulis di communiqué mana pun.</em></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Skeptis tentu punya argumen yang kuat. Menandatangani kemitraan pertahanan dengan Amerika pada hari yang sama presiden Prabowo merangkul Putin tidak&nbsp; bisa dibaca sebagai kebingungan arah. Washington bukan kota yang santai soal loyalitas strategis — pejabat Pentagon yang baru berjabat tangan dengan Sjafrie bisa merasa dikhianati melihat foto Prabowo-Putin pada malam yang sama. Dan kebisingan tentang fiskal Indonesia bukan khayalan: utang PLN melampaui Rp 711 triliun, target pertumbuhan ambisius di tengah perlambatan global, dan beberapa lembaga pemeringkat dianggap terlalu cepat mengubah peringkat ketika data belum lengkap. Semua ini nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi ada satu fakta yang mengubah seluruh kalkulasi itu. Indonesia sudah melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama Amerika setiap tahun — secara de facto, itu kerja sama setara NATO tanpa kewajiban Pasal 5 — klausul yang mengharuskan seluruh anggota ikut berperang jika satu anggota diserang. Pentagon sudah terlalu terinvestasi untuk mundur. Bahkan India semakin kesulitan mempertahankan hubungan pertahanan serupa dengan Rusia di bawah tekanan sanksi Amerika. Indonesia tampaknya menemukan jalan yang bahkan New Delhi belum kuasai. Hedley Bull, filsuf hubungan internasional dari Oxford, pernah menulis bahwa dalam tatanan dunia yang anarkis, negara menengah bertahan melalui diversifikasi akses, bukan kesetiaan pada satu patron. Moskow bukan ancaman bagi Washington — justru leverage yang mempercepat formalisasi kemitraan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan di sinilah letak hal yang benar-benar luput dari perhatian publik. Bahasa dalam dokumen Kemitraan Pertahanan Utama yang ditandatangani hari itu mencakup pengembangan bersama kemampuan asimetris canggih, teknologi generasi berikutnya di domain maritim, bawah laut, dan sistem otonom. Itu bukan bahasa untuk mitra biasa. Itu bahasa yang biasanya dicadangkan untuk sekutu perjanjian: Jepang, Australia, Inggris. Indonesia baru saja mendapat akses kelas sekutu — tanpa menanggung beban kewajiban sekutu. Dan mereka melakukannya pada hari yang sama presidennya duduk di Kremlin. Seharusnya itu mustahil. Kecuali satu penjelasan: Amerika membutuhkan Indonesia untuk arsitektur Indo-Pasifik lebih dari kebutuhannya menghukum Indonesia atas hubungan dengan Rusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di era ini, kekuatan negara menengah bukan lagi kemampuan menolak blok. Melainkan kemampuan membuat semua blok terlalu berkepentingan untuk menghukumnya. Indonesia pada 13 April memeluk Pentagon, berbisik dengan Kremlin, dan meminjam dari Wall Street — dan tidak satu pun yang bisa marah tanpa merugikan dirinya sendiri. Kerja sama pertahanan dengan Amerika menjadi alat keamanan. Hubungan dengan Rusia menjadi saluran energi. Keterlibatan dengan pasar global menjadi sumber likuiditas. Tiga hubungan, tiga fungsi, tanpa narasi ideologis tunggal. Albert Hirschman akan mengenali pola ini: negara yang memiliki paling banyak pintu keluar adalah negara yang paling jarang diminta keluar. Bukan soal siapa yang mereka dukung. Melainkan siapa yang tidak mampu kehilangan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara yang mengetuk tiga pintu sekaligus tidak sedang tersesat. Ia sedang membangun koridor.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika eksperimen ini bertahan — jika Indonesia bisa mempertahankan kemitraan Pentagon sambil terus mengamankan energi Rusia dan menarik modal Wall Street — maka ia bukan sekadar melindungi dirinya sendiri. Ia sedang menulis template baru bagi negara-negara menengah di seluruh Global South yang selama ini dipaksa memilih. Vietnam akan menonton. India akan mencatat. Brasil akan menimbang. Dan arsitektur aliansi eksklusif Perang Dingin akan semakin tidak relevan — bukan karena runtuh, melainkan karena ada negara yang membuktikan bahwa ia bisa hidup di luarnya dan tetap aman. Prabowo mungkin tidak menyebutnya doktrin. Tapi sejarah akan menamainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Enam puluh tahun setelah De Gaulle, di sebuah landasan pacu di Jakarta Timur, prinsipnya menemukan pemikir baru. Ketiga pesawat dari Halim itu akan kembali ke landasan yang sama — di jam yang berbeda pula. Penumpangnya akan turun membawa cerita yang berbeda — tentang salju Kremlin, tentang marmer Pentagon, tentang kaca-kaca Manhattan yang memantulkan cahaya sore. Tapi landasan yang menerima mereka kembali tetap satu. Dan mungkin itulah satu-satunya hal yang perlu diketahui dunia tentang Indonesia hari ini: bukan ke mana ia terbang, melainkan ke mana ia selalu pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/putin-1-auflnxgh.mp3" length="3205988" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/prabowooo-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perang Dunia III, Indonesia Paling Aman?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2026 01:17:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika]]></category>
		<category><![CDATA[perangdunia]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Trump]]></category>
		<category><![CDATA[worldwariii]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167007</guid>

					<description><![CDATA[Menurut kalian kalau perang pecah, kita akan aman atau kena dampak besar juga? #worldwariii #perangdunia #amerika #trump #rusia #putin #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167010" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-819x1024.png" alt="perang dunia iii, indonesia paling aman" class="wp-image-167010" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167011" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-819x1024.png" alt="perang dunia iii, indonesia paling aman (2)" class="wp-image-167011" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-2.png 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167012" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-819x1024.png" alt="perang dunia iii, indonesia paling aman (3)" class="wp-image-167012" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut kalian kalau perang pecah, kita akan aman atau kena dampak besar juga?</p>



<p class="wp-block-paragraph">#worldwariii #perangdunia #amerika #trump #rusia #putin #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/perang-dunia-iii-indonesia-paling-aman-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>The Fourth be With You</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-fourth-be-with-you/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Sep 2025 11:42:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Xi Jinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164297</guid>

					<description><![CDATA[Empat pemimpin dunia berdiri berdampingan dalam satu frame foto yang akan menjadi viral dan diperdebatkan di beberapa negara.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/prab1-ewwsxbt3.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Empat pemimpin dunia berdiri berdampingan dalam satu frame foto yang akan menjadi viral dan diperdebatkan di beberapa negara. Xi Jinping dari Tiongkok, Vladimir Putin dari Rusia, Kim Jong Un dari Korea Utara, dan yang keempat—Prabowo Subianto dari Indonesia. Foto ini diambil pada peringatan Victory Day Tiongkok, dan kehadiran Presiden Indonesia di antara ketiga pemimpin tersebut memicu beragam interpretasi geopolitik yang menarik untuk dianalisis.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Yang membuat foto ini semakin menarik bukan hanya siapa yang ada dalam frame, tetapi juga bagaimana media internasional memperlakukannya. Media Tiongkok dengan bangga menampilkan foto lengkap keempat pemimpin tersebut, seolah mengatakan kepada dunia bahwa Indonesia adalah bagian dari lingkaran diplomatik Beijing.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di sisi lain, media Jepang melakukan hal yang sebaliknya—mereka memotong atau melakukan cropping pada foto yang sama, secara sengaja mengeluarkan Prabowo dari frame bersama tiga pemimpin lainnya yang mereka kategorikan sebagai &#8220;blok Timur&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aksi media Jepang ini yang dipakai sebagai “serangan” oleh beberapa pihak di Indonesia. Prabowo dinarasikan “kurang dianggap” oleh Jepang dalam pertemuan tersebut. Bahkan ada yang membanding-bandingkan dengan persoalan kepemilikan senjata nuklir, di mana 3 negara selain Indonesia punya senjata tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, nyatanya fenomena editorial yang kontras ini bukan kebetulan belaka. Ini adalah strategi komunikasi politik yang sangat disengaja, mencerminkan bagaimana masing-masing pihak memposisikan Indonesia dalam konstruksi narasi geopolitik mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Beijing, kehadiran Indonesia dalam foto tersebut memperkuat legitimasi internasional mereka. Sementara bagi Tokyo, &#8220;mengecualikan&#8221; Indonesia dari narasi blok Timur merupakan upaya mempertahankan citra Indonesia sebagai negara yang masih dapat berkooperasi dengan Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana kita memaknai fenomena ini dalam konteks yang lebih besar?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Paradoks Diplomasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita analisis secara lebih mendalam, paradoks perlakuan media internasional terhadap foto tersebut justru membuktikan keberhasilan gemilang politik bebas aktif Indonesia. Era Prabowo menandai evolusi signifikan dalam diplomasi Indonesia yang lebih assertif dan vokal di panggung internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan pendekatan sebelumnya di era Jokowi yang cenderung low-profile, Prabowo aktif membangun hubungan personal dengan pemimpin dunia dan tidak ragu tampil dalam forum-forum strategis global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jokowi dulu hampir tak pernah hadir dalam forum-forum besar seperti di PBB. Alasannya? Ingin lebih fokus pada bilateralisme yang menguntungkan secara ekonomi – meski dalam banyak kesempatan tak selalu bagus juga hasilnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, Prabowo selalu berusaha memaksimalkan kehadiran Indonesia dalam forum-forum internasional, baik bilateral maupun multilateral. Alasannya? Bisa semakin memaksimalkan komunikasi politik antar pemimpin negara yang berujung pada semakin mudahnya pemenuhan kepentingan nasional Indonesia. Ini juga ditunjang oleh kemampuan berbahasa asing Prabowo yang memang jauh lebih baik dibandingkan Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran di Victory Day Tiongkok, pertemuan bilateral intensif, dan partisipasi dalam berbagai summit internasional menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi sekadar &#8220;penonton&#8221; dalam politik global. Gaya diplomasi ini meningkatkan visibilitas dan pengaruh Indonesia di mata internasional, sekaligus mempertahankan fleksibilitas strategis yang telah menjadi karakteristik diplomasi Indonesia selama puluhan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prabowo berhasil mempertahankan posisi strategis Indonesia tanpa harus memilih sisi dalam rivalitas AS-Tiongkok. Jepang &#8220;mengecualikan&#8221; Indonesia dari blok Timur karena menganggap Indonesia masih dapat diterima oleh Barat, sementara Tiongkok dengan bangga menampilkan Indonesia sebagai mitra strategis. Apalagi Indonesia juga telah jadi bagian dalam negara-negara BRICS yang kini jadi motor penanding aliansi kekuatan global Barat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini memungkinkan Indonesia meraih keuntungan dari berbagai pihak—dapat memanfaatkan Belt Road Initiative Tiongkok sambil tetap menjaga hubungan dengan AS dan sekutunya dalam berbagai kerja sama regional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara ekonomi, posisi unik ini menjadikan Indonesia sebagai destinasi investasi yang menarik bagi semua pihak karena dianggap stabil dan netral. Secara diplomasi, Indonesia semakin diperhitungkan sebagai middle power yang dapat menjadi mediator dalam konflik global, meningkatkan soft power dan pengaruh regional serta global Indonesia.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara Hedging, Omni-Alignment dan Strategic Autonomy</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena diplomasi Indonesia dalam foto Victory Day dapat dianalisis melalui tiga kerangka teoritis yang saling melengkapi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertama, teori &#8220;hedging strategy&#8221; yang dikemukakan oleh Kuik Cheng-Chwee menjelaskan bagaimana negara-negara menengah dapat menghindari pilihan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar dengan mempertahankan opsi strategis. Indonesia berhasil menerapkan &#8220;omni-directional hedging&#8221;—membangun kemitraan dengan semua pihak tanpa komitmen eksklusif yang merugikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, konsep &#8220;omni-alignment&#8221; yang dikembangkan oleh Naazneen Barma menggambarkan bagaimana negara-negara dapat berafiliasi dengan berbagai blok secara simultan untuk memaksimalkan keuntungan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia tidak hanya berhubungan baik dengan Tiongkok, tetapi juga mempertahankan kerja sama dengan AS, Jepang, Australia, dan negara-negara Eropa. Strategi ini memungkinkan Indonesia mengakses investasi, teknologi, dan peluang ekonomi dari berbagai sumber tanpa terjebak dalam satu kutub kekuatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, teori &#8220;strategic autonomy&#8221; yang populer dalam studi hubungan internasional Eropa juga relevan untuk memahami posisi Indonesia. Strategic autonomy merujuk pada kemampuan suatu negara untuk membuat keputusan independen dalam politik luar negeri tanpa tekanan berlebihan dari kekuatan eksternal. Indonesia di era Prabowo menunjukkan kemampuan ini dengan mengambil posisi yang sesuai dengan kepentingan nasional, bukan karena tekanan dari Washington, Beijing, atau Tokyo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga kerangka teoritis ini menjelaskan mengapa Indonesia dapat &#8220;bermain di semua lapangan&#8221; tanpa kehilangan kredibilitas di mata mitra internasionalnya. Dalam era multipolar saat ini, non-alignment bukan lagi sekadar idealisme Perang Dingin, tetapi strategi rasional yang memberikan manfaat maksimal bagi kepentingan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, keberhasilan diplomasi Indonesia dalam menavigasi kompleksitas geopolitik kontemporer membuktikan bahwa negara-negara menengah memiliki ruang manuver yang signifikan dalam sistem internasional yang semakin multipolar. Foto di Victory Day Tiongkok mungkin hanya satu momen, tetapi makna politiknya jauh lebih dalam—Indonesia berhasil memposisikan diri sebagai kekuatan yang diperhitungkan tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip fundamental dalam politik luar negerinya. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="TLEJsFFQLQ0"><iframe loading="lazy" title="Kok Prabowo Berani Bikin Kabinet Gemuk? Ini Alasan Sebenarnya!" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/TLEJsFFQLQ0?start=11&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/prab1-ewwsxbt3.mp3" length="2975922" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/maxresdefault-7-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Trump Pinggir Jurang “Becandain” Putin?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/trump-pinggir-jurang-becandain-putin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[B-2 Spirit]]></category>
		<category><![CDATA[F-35 Lightning]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Trump]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164126</guid>

					<description><![CDATA[Trump menyambut Putin di Alaska dengan B-2 Spirit dan F-35 Lightning melintas di langit, mencampur kehormatan diplomasi dengan gaya flexing khasnya. Aksi teatrikal ini kiranya bukan sekadar sambutan, melainkan sinyal deterrence, promosi kekuatan pasar militer, dan seni membingkai kekuasaan dalam diplomasi global yang sarat simbol.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/trump-1_qwtkphzr.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Trump menyambut Putin di Alaska dengan B-2 Spirit dan F-35 Lightning melintas di langit, mencampur kehormatan diplomasi dengan gaya flexing khasnya. Aksi teatrikal ini kiranya bukan sekadar sambutan, melainkan sinyal <em>deterrence</em>, promosi kekuatan pasar militer, dan seni membingkai kekuasaan dalam diplomasi global yang sarat simbol.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut Presiden Rusia Vladimir Putin di Alaska, suasana diplomatik mendadak berubah menjadi panggung teatrikal militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langit yang biasanya menjadi ruang netral dalam diplomasi, kini dipenuhi pesawat pengebom siluman B-2 Spirit, dikawal jet tempur F-35 Lightning, yang melintas gagah di atas kepala Putin. Adegan itu bukan sekadar sambutan, melainkan simbolisasi kekuatan yang tidak biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam praktik diplomasi internasional, penggunaan kekuatan militer kerap dibatasi pada meja perundingan atau manuver di medan konflik. Namun Trump memindahkannya ke arena pertunjukan visual. Ia menata kedatangan Putin bukan hanya sebagai pertemuan bilateral, tetapi juga sebagai unjuk kekuasaan, di mana kehormatan protokoler bercampur dengan gaya <em>flexing</em> personal yang khas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konteks geopolitik mempertegas makna adegan itu, dunia tengah tegang oleh invasi Rusia ke Ukraina, dan Amerika Serikat ingin mengingatkan siapa yang masih memegang dominasi dalam tata kekuatan global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah ini segera menimbulkan diskusi luas. Apakah Trump sedang mengedepankan kehormatan diplomasi pertahanan, atau justru mempermainkan stabilitas internasional demi sensasi visual?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Smart Power Trump?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kerangka <em>defence diplomacy</em> memberi pemahaman awal mengenai pilihan Trump. Pada dasarnya, diplomasi pertahanan adalah seni menggunakan instrumen militer bukan untuk berperang, melainkan untuk membentuk persepsi lawan dan sekutu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Flyover B-2 Spirit dan F-35 tidak diarahkan untuk menimbulkan korban, tetapi untuk membangun citra. Dalam bahasa sederhana, ini adalah komunikasi visual tentang siapa yang lebih unggul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trump seakan berkata kepada Putin, dan kepada dunia, bahwa Amerika Serikat tidak hanya hadir dengan kata-kata, tetapi juga dengan simbol kekuatan yang tak terbantahkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam <em>deterrence theory</em>, tindakan tersebut masuk sebagai bentuk <em>strategic deterrence</em>. <em>Deterrence</em> selalu menuntut kredibilitas, yakni lawan harus yakin bahwa ancaman yang tersirat benar-benar bisa dilaksanakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pesawat B-2 Spirit, dengan kemampuan nuklir, jangkauan global, serta reputasi sebagai bomber paling canggih dan mahal, adalah perwujudan kredibilitas itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia bukan sekadar pesawat, tetapi simbol dari kesenjangan teknologi dan kekuatan yang sulit ditandingi Rusia. Terlebih, terlibat dalam operasi militer konkret di Iran beberapa bulan lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">“Diplomasi kekerasan” menekankan bahwa sinyal militer dapat digunakan sebagai alat tawar sebelum konflik nyata terjadi. Trump mungkin saja menerjemahkan ide ini dalam gaya paling teatrikal: alih-alih menunggu negosiasi berlangsung di balik pintu tertutup, ia menata panggung yang sudah memberi pesan sebelum satu kata pun diucapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, diplomasi berlangsung bukan hanya di meja konferensi, tetapi juga di langit Alaska yang bergemuruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, tindakan itu tidak hanya dapat dibaca melalui kacamata <em>hard power</em>. Konsep <em>smart power</em> agaknya juga relevan untuk memahami dimensi lain dari langkah Trump.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Smart power</em> sendiri adalah perpaduan <em>hard power</em>—kekuatan militer—dengan <em>soft power</em>—daya tarik, citra, legitimasi. Pertunjukan militer tersebut bukan hanya ditujukan untuk Putin, tetapi juga untuk audiens yang lebih luas: sekutu AS, pasar senjata global, dan publik internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Flyover B-2 dan F-35 kiranya adalah pesan bahwa Amerika tidak hanya unggul dalam kemampuan perang, tetapi juga dalam penguasaan narasi kekuatan di mata dunia.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1.png" alt="ini mastermind stealth bomber trump 1" class="wp-image-162790" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/ini-mastermind-stealth-bomber-trump-1-1068x1335.png 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Berdiplomasi dengan Gaya?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Peristiwa ini mengungkap tarik menarik antara kehormatan diplomatik (<em>honor</em>) dan gaya pamer kekuatan (<em>flexing</em>). Dalam norma tradisional hubungan internasional, sebuah kunjungan kenegaraan biasanya dihiasi upacara protokol, penghormatan militer yang formal, dan simbol kehormatan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Trump seolah menambahkan lapisan baru, ia menjadikan kehormatan itu sebuah pertunjukan personal. Apa yang normatifnya dapat dibaca sebagai tanda <em>respect</em>, dalam interpretasi publik bisa bergeser menjadi <em>flexing</em> yang dramatis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trump tampil sebagai pemimpin “nyentrik” yang menolak terikat oleh norma konvensional. Dalam gaya itu, ia tidak sekadar menyampaikan kehormatan, tetapi juga menegaskan dominasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini yang membedakannya dari presiden-presiden Amerika sebelumnya, yakni penggunaan simbol militer bukan hanya sebagai instrumen negara, melainkan juga sebagai bagian dari citra personal seorang pemimpin yang gemar tampil spektakuler.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Makna strategis lain yang sering terlupakan adalah bagaimana pertunjukan tersebut berdampak pada industri pertahanan. Visualisasi B-2, F-35, dan F-22 tidak hanya memberi sinyal geopolitik, tetapi juga mempromosikan kemampuan teknologi militer AS di hadapan pasar global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara-negara sekutu yang bergantung pada sistem pertahanan Amerika Serikat akan semakin yakin pada superioritas produk-produk itu. Investor, produsen, dan kompleks industri militer mendapat keuntungan reputasional. Dengan demikian, pertunjukan itu juga merupakan penguasaan “pasar” di luar arena militer murni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampak psikologis terhadap Putin pun tidak bisa diabaikan. Sejumlah analis bahasa tubuh mencatat bagaimana gestur Putin berubah kaku saat flyover berlangsung. Ada tanda-tanda tegang yang memperlihatkan bahwa pertunjukan itu berhasil menimbulkan reaksi emosional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam diplomasi, respons semacam ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa pesan non-verbal sudah bekerja sebelum diskusi substantif dimulai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, efek ganda dari strategi ini juga harus dipertimbangkan. Di satu sisi, ia memperkuat kredibilitas <em>deterrence</em> AS dan menegaskan posisi dominan. Di sisi lain, ia juga bisa dianggap provokatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika dibaca oleh Rusia sebagai ancaman terbuka yang terselubung, pertunjukan itu berpotensi meningkatkan kecurigaan, bahkan memicu perlombaan simbolik serupa. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah flexing ini benar-benar menambah stabilitas global, atau justru membuat dunia semakin rawan gesekan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan Trump dan Putin di Alaska memperlihatkan bagaimana diplomasi kontemporer tak lagi hanya berlangsung dalam ruang perundingan, melainkan juga di ruang visual yang sarat simbol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menghadirkan B-2 dan F-35 Spirit di langit serta F-22 di darat, Trump menggabungkan kehormatan protokoler dengan <em>flexing</em> personal, menghidupkan kembali teori <em>deterrence</em> dalam bentuk yang lebih teatrikal, sekaligus memainkan strategi <em>smart power</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tindakan itu menegaskan satu hal penting, kekuatan di era modern tidak hanya diukur dari seberapa besar arsenal militer yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana kekuatan itu ditampilkan, dibingkai, dan dipersepsikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trump mungkin sedang “bercanda <em>respect</em>” dengan Putin, tetapi di balik candaan itu tersimpan strategi besar, yakni menjadikan pertunjukan sebagai senjata, dan menjadikan visual sebagai diplomasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam lanskap global yang kian terpolarisasi, pertanyaan akhirnya bukan lagi apakah Trump berhasil menunjukkan kekuatan, melainkan apakah dunia sanggup menanggung konsekuensi dari gaya diplomasi yang mengaburkan batas antara kehormatan dan <em>flexing</em>? (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BJwCFaaCh-g"><iframe loading="lazy" title="Netanyahu, Khomeini, dan Era Perdamaian Panas?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BJwCFaaCh-g?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/trump-1_qwtkphzr.mp3" length="3325827" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/putin-look-1.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Misteri Putri-Putri Putin</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/misteri-putri-putri-putin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2025 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[Ukraina]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164110</guid>

					<description><![CDATA[Dalam dunia politik internasional yang penuh intrik, sedikit yang lebih menarik perhatian daripada misteri yang menyelimuti kehidupan pribadi Vladimir Putin, salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/putin-1-1ee8mkej.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dalam dunia politik internasional yang penuh intrik, sedikit yang lebih menarik perhatian daripada misteri yang menyelimuti kehidupan pribadi Vladimir Putin, salah satu pemimpin paling berpengaruh di dunia. Selama lebih dari dua dekade berkuasa, Putin berhasil menjaga kerahasiaan keluarganya dengan tingkat keberhasilan yang hampir tidak tertembus. Namun, invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 mengubah segalanya, membuka tabir misteri yang selama ini dijaga ketat dan mengekspos dua putrinya, Maria Vorontsova dan Katerina Tikhonova, ke panggung geopolitik internasional.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Keputusan Amerika Serikat dan sekutunya untuk menjatuhkan sanksi terhadap putri-putri Putin bukan sekadar tindakan simbolis, melainkan strategi yang diperhitungkan dengan matang untuk menyerang titik lemah sistem kekuasaan Putin. Langkah ini mencerminkan pemahaman mendalam tentang bagaimana otokrasi modern beroperasi, di mana kekayaan dan kekuasaan sering kali disembunyikan melalui jaringan keluarga dan proxy yang kompleks. Sanksi terhadap Maria dan Katerina membuka jendela baru dalam memahami arsitektur keuangan yang mendukung rezim Putin dan mengungkap bagaimana keluarga penguasa dapat menjadi instrumen dalam permainan geopolitik global.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini juga menunjukkan evolusi dari perang ekonomi modern, dimana konflik tidak lagi terbatas pada medan pertempuran konvensional, tetapi meluas ke ranah keuangan dan keluarga. Targeting keluarga pemimpin musuh menjadi taktik baru dalam diplomasi koersif, mengirimkan pesan bahwa tidak ada yang kebal dari konsekuensi tindakan geopolitik yang merugikan tatanan internasional. Kasus putri Putin menjadi studi kasus yang fasciating tentang bagaimana kehidupan pribadi dan politik internasional saling bersinggungan dalam era globalisasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dua Putri</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Maria Vorontsova, 36 tahun, dan Katerina Tikhonova, 35 tahun, adalah dua putri Vladimir Putin dari mantan istrinya Lyudmila Putina. Selama dua dekade, Putin berhasil menyembunyikan identitas mereka dengan menggunakan nama samaran dan menjaga mereka jauh dari sorotan publik internasional. Strategi penyembunyian identitas ini bukan hanya untuk melindungi privasi keluarga, tetapi juga kemungkinan besar untuk melindungi aset dan kepentingan bisnis yang mungkin terkait dengan kekayaan Putin yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maria Vorontsova, putri sulung Putin, menempuh jalan akademik sebagai spesialis sistem endokrin. Dia merupakan lulusan bergengsi dari Universitas St Petersburg dan Universitas Negeri Moskow, dua institusi pendidikan tinggi terkemuka di Rusia. Sebagai akademisi, Maria telah menulis buku tentang gangguan pertumbuhan anak dan bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Endokrinologi Moskow, posisi yang memberikannya kredibilitas ilmiah sekaligus akses ke jaringan medis dan penelitian yang luas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kehidupan Maria tidak terbatas pada dunia akademik. Sebagai pengusaha, dia terlibat dalam rencana pembangunan fasilitas medis besar-besaran yang kemungkinan besar mendapat dukungan atau kontrak dari pemerintah. Keterlibatannya dalam proyek-proyek infrastruktur kesehatan ini menunjukkan bagaimana anak-anak pejabat tinggi dapat memanfaatkan koneksi politik untuk mengembangkan bisnis yang menguntungkan. Maria pernah menikah dengan Jorrit Joost Faassen, seorang pengusaha Belanda yang bekerja di Gazprom, raksasa energi Rusia yang dikontrol negara. Pernikahan ini mencerminkan bagaimana elit Rusia membangun aliansi strategis melalui ikatan keluarga lintas negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Katerina Tikhonova menempuh jalur yang lebih beragam dan menarik perhatian publik. Sebagai mantan penari rock and roll kompetitif, dia pernah meraih peringkat kelima dalam lomba internasional pada 2013, menunjukkan bakat dan dedikasinya dalam seni pertunjukan. Transisinya dari dunia seni ke teknologi dan akademik mencerminkan fleksibilitas dan adaptabilitas generasi muda elit Rusia dalam menghadapi tuntutan zaman digital.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Katerina menikah dengan Kirill Shamalov, putra dari Nikolai Shamalov, seorang sahabat lama Putin, dalam upacara pernikahan mewah yang menampilkan kereta luncur ditarik tiga kuda putih. Pernikahan ini bukan hanya simbolis secara budaya, tetapi juga strategis secara politik dan ekonomi, memperkuat jaringan kepercayaan di sekitar Putin. Kini Katerina aktif di dunia teknologi dan sering tampil di media pemerintah membahas neuroteknologi, positioning dirinya sebagai teknokrat modern yang memahami tren masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua putri Putin menguasai tiga bahasa asing, mencerminkan pendidikan internasional yang berkualitas dan mempersiapkan mereka untuk beroperasi di panggung global. Kemampuan linguistik ini juga memungkinkan mereka untuk membangun jaringan bisnis dan akademik yang melintasi batas-batas nasional, sebuah aset berharga dalam ekonomi global yang semakin terintegrasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sanksi sebagai Senjata Geopolitik</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pasca invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, Amerika Serikat dan Inggris mengambil langkah yang sebelumnya jarang dilakukan: menjatuhkan sanksi kepada putri-putri Putin. Keputusan ini didasarkan pada dugaan bahwa Maria dan Katerina menyembunyikan aset Putin senilai miliaran dolar melalui berbagai skema keuangan yang kompleks. Sanksi ini mencakup pembekuan aset, larangan perjalanan, dan pemutusan akses ke sistem keuangan internasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Targeting terhadap keluarga pemimpin musuh dalam konflik internasional merefleksikan evolusi dalam strategi perang ekonomi modern. Tidak lagi terbatas pada sanksi terhadap individu yang secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan politik atau militer, pendekatan ini mengakui bahwa dalam sistem otokratik modern, kekuasaan dan kekayaan sering kali didistribusikan melalui jaringan keluarga dan proxy. Dengan menargetkan putri-putri Putin, negara-negara Barat berupaya memutus akses ke aset tersembunyi dan memberikan tekanan psikologis kepada Putin secara personal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Katerina Tikhonova secara khusus dituduh mendukung industri pertahanan Rusia melalui pekerjaannya di bidang teknologi, sementara Maria memimpin program-program yang didanai pemerintah di sektor kesehatan. Keterlibatan mereka dalam sektor-sektor strategis ini menunjukkan bagaimana anak-anak pejabat tinggi dapat menjadi perpanjangan tangan kekuasaan ayah mereka, bahkan tanpa posisi formal dalam pemerintahan. Hal ini mencerminkan karakteristik sistem neo-patrimonial dimana batas antara publik dan privat menjadi kabur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Efektivitas sanksi terhadap keluarga ini masih diperdebatkan. Di satu sisi, langkah ini dapat memberikan tekanan psikologis dan membatasi akses ke aset internasional. Di sisi lain, Putin dan elit Rusia telah lama mempersiapkan diri menghadapi sanksi dengan membangun sistem keuangan alternatif dan mendiversifikasi investasi ke wilayah yang tidak terjangkau sanksi Barat. Pengalaman sanksi sebelumnya pasca aneksasi Crimea 2014 telah mengajarkan mereka untuk mengantisipasi dan beradaptasi dengan tekanan ekonomi internasional.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dinamika Kekuasaan dan Kekayaan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus putri-putri Putin dapat dianalisis melalui beberapa kerangka teoritis yang memberikan pemahaman mendalam tentang dinamika kekuasaan dalam sistem otokratik modern. Pertama, teori &#8220;Crony Capitalism&#8221; yang dikembangkan oleh ekonom seperti Luigi Zingales menjelaskan bagaimana dalam sistem politik yang kurang demokratis, akses ke sumber daya ekonomi sering kali ditentukan oleh kedekatan dengan penguasa. Dalam konteks ini, putri-putri Putin dapat dilihat sebagai beneficiary dari sistem dimana koneksi politik menentukan kesuksesan bisnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua, konsep &#8220;Kleptocracy&#8221; yang diperkenalkan oleh antropolog politik seperti Sarah Chayes menggambarkan sistem pemerintahan dimana para elit menggunakan posisi politik untuk memperkaya diri sendiri dan keluarga mereka. Putin sering dituduh memimpin sistem kleptokratik dimana kekayaan negara dialihkan ke jaringan pribadi melalui berbagai mekanisme yang sophisticated. Putri-putrinya dapat berfungsi sebagai vehicle untuk menyembunyikan dan mengelola kekayaan yang diperoleh melalui cara-cara yang questionable.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sistem kleptokratik modern berbeda dengan korupsi konvensional karena skalanya yang masif dan integrasinya dengan struktur kekuasaan formal. Bukan hanya individual yang mencuri dari kas negara, tetapi seluruh sistem ekonomi yang dirancang untuk mengalirkan kekayaan dari publik ke elit penguasa. Dalam konteks ini, Maria dan Katerina bukan hanya korban atau beneficiary pasif, tetapi kemungkinan menjadi bagian integral dari arsitektur finansial yang mendukung rezim Putin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketiga, teori &#8220;Proxy Governance&#8221; dalam studi otoritarianisme menjelaskan bagaimana diktator modern menggunakan keluarga, teman dekat, dan sekutu untuk menjalankan kekuasaan dan mengelola aset tanpa meninggalkan jejak formal yang dapat dilacak. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam &#8220;How Democracies Die&#8221; menunjukkan bagaimana otokrat kontemporer menggunakan institusi formal untuk tujuan informal, menciptakan sistem shadow governance yang sulit dideteksi dan dibongkar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus putri-putri Putin memberikan insight berharga tentang evolusi perang ekonomi dalam geopolitik kontemporer dan mengungkap kompleksitas sistem kekuasaan otokratik modern. Sanksi terhadap Maria Vorontsova dan Katerina Tikhonova mencerminkan pengakuan bahwa dalam sistem neo-patrimonial, serangan terhadap aset dan jaringan keluarga dapat menjadi lebih efektif daripada sanksi konvensional yang hanya menargetkan individual atau institusi formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara lebih luas, kisah putri-putri Putin menjadi cermin dari tantangan yang dihadapi demokrasi dan rule of law dalam menghadapi otokratisme modern yang makin berkembang. Kemampuan Putin untuk menyembunyikan keluarga dan asetnya selama dua dekade, hanya untuk terekspos karena konflik geopolitik, menunjukkan bahwa sistem check and balances internasional masih memiliki blind spots yang dapat dieksploitasi. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BJwCFaaCh-g"><iframe loading="lazy" title="Netanyahu, Khomeini, dan Era Perdamaian Panas?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BJwCFaaCh-g?start=11&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/putin-1-1ee8mkej.mp3" length="4319375" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/1x-1-1-1024x773.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SBY-Bush &#038; Their After Office</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/sby-bush-their-after-office/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2025 08:50:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Bush]]></category>
		<category><![CDATA[eisenhowe]]></category>
		<category><![CDATA[georgewbush]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[winstonchurcill]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163938</guid>

					<description><![CDATA[Dabest dan berfaedah banget ya kegiatan pasca purna tugasnya ya para mantan presiden ini&#160; Sebenernya, masih ada nama lain kayak mantan Presiden Senegal Leopold Sedar Senghor, Presiden AS lain Jimmy Carter, sampe Adolf Hitler yang hobi bikin sketsa sampe melukis&#160; #sby #georgewbush #bush #winstonchurcill #eisenhower #putin #melukis #presiden #mantanpresiden #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-819x1024.png" alt="sby bush &amp; their after office 1" class="wp-image-163941" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-819x1024.png" alt="sby bush &amp; their after office 2" class="wp-image-163942" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Dabest dan berfaedah banget ya kegiatan pasca purna tugasnya ya para mantan presiden ini&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f64c_1f3fb/72.png" alt="🙌🏻" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebenernya, masih ada nama lain kayak mantan Presiden Senegal Leopold Sedar Senghor, Presiden AS lain Jimmy Carter, sampe Adolf Hitler yang hobi bikin sketsa sampe melukis&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f58c_fe0f/72.png" alt="🖌️" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f3a8/72.png" alt="🎨" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#sby #georgewbush #bush #winstonchurcill #eisenhower #putin #melukis #presiden #mantanpresiden #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/08/sby-bush-their-after-office-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Poros Jantung Dunia Rusia-Indonesia</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2025 01:37:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Eurasia]]></category>
		<category><![CDATA[Halford]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=162958</guid>

					<description><![CDATA[Menarik nih kerja sama di kawasan heartland ini.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-819x1024.png" alt="poros jantung dunia rusia indonesia 1" class="wp-image-162966" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-819x1024.png" alt="poros jantung dunia rusia indonesia 2" class="wp-image-162969" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-819x1024.png" alt="poros jantung dunia rusia indonesia 3" class="wp-image-162970" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Menarik nih kerja sama di kawasan heartland ini.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/poros-jantung-dunia-rusia-indonesia-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Bro: Senggol Dong!</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/tiga-bro-senggol-dong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S91]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Jun 2025 02:20:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Anwar]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=163043</guid>

					<description><![CDATA[Tri Poloski&#160; Tiga Bro&#160; #Prabowo #PrabowoSubianto #Putin #VladimirPutin #AnwarIbrahim #pinterpolitik #infografis #politikindonesia #beritapolitik #beritapolitikterkini]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-819x1024.jpg" alt="tiga bro senggol dong!artboard 1 1" class="wp-image-163046" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-819x1024.jpg" alt="tiga bro senggol dong!artboard 1 2" class="wp-image-163047" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-150x188.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-300x375.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_2.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tri Poloski&nbsp;<img decoding="async" alt="❌" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/274c/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga Bro&nbsp;<img decoding="async" alt="✅" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/2705/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">#Prabowo #PrabowoSubianto #Putin #VladimirPutin #AnwarIbrahim #pinterpolitik #infografis #politikindonesia #beritapolitik #beritapolitikterkini</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/tiga-bro-senggol-dongartboard-1_1-819x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>World&#8217;s Master of Destiny?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/worlds-master-of-destiny/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2025 01:05:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[amerikaserikat]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Israel]]></category>
		<category><![CDATA[khameneni]]></category>
		<category><![CDATA[Netanyahu]]></category>
		<category><![CDATA[Putin]]></category>
		<category><![CDATA[Rusia]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<category><![CDATA[Trump]]></category>
		<category><![CDATA[xijinping]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=162783</guid>

					<description><![CDATA[Mutual nuklir&#160; #sby #iran #israel #rusia #tiongkok #amerikaserikat #trump #putin #xijinping #khameneni #netanyahu #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-819x1024.png" alt="world's master of destiny 1" class="wp-image-162786" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-819x1024.png" alt="world's master of destiny 2" class="wp-image-162787" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Mutual nuklir&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#sby #iran #israel #rusia #tiongkok #amerikaserikat #trump #putin #xijinping #khameneni #netanyahu #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/worlds-master-of-destiny-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
