<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Purbaya Yudhi Sadewa &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/purbaya-yudhi-sadewa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Sun, 24 May 2026 02:04:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Purbaya Yudhi Sadewa &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Negara yang Akhirnya Belajar Melihat</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/negara-yang-akhirnya-belajar-melihat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 02:04:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[Batu Bara]]></category>
		<category><![CDATA[Danantara]]></category>
		<category><![CDATA[Devisa]]></category>
		<category><![CDATA[Ekspor Satu Pintu]]></category>
		<category><![CDATA[Legibility State]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[sawit]]></category>
		<category><![CDATA[Transfer Pricing]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169485</guid>

					<description><![CDATA[Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Pemimpin Redaksi PinterPolitik.comChairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis KATA PEMRED #30PinterPolitik.com Selama 33 tahun Indonesia bisa menimbang setiap ton batu bara yang berlayar keluar dari pelabuhannya. Tapi berapa nilainya, dan berapa yang diam-diam lolos, tak pernah ia tahu. Di dermaga, segalanya bisa dihitung. Tongkang merapat, conveyor [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/negara-yang-akhirnya-belajar-melihat_240526.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #30</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama 33 tahun Indonesia bisa menimbang setiap ton batu bara yang berlayar keluar dari pelabuhannya. Tapi berapa nilainya, dan berapa yang diam-diam lolos, tak pernah ia tahu. Di dermaga, segalanya bisa dihitung. Tongkang merapat, <em>conveyor</em> berderak, tonase tercatat sampai desimal terakhir. Harga yang sesungguhnya diputuskan di tempat lain. Di layar dagang yang jauh, di kontrak yang diteken di kota berpajak rendah, di selisih yang memilih untuk tidak pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada 20 Mei 2026, dari mimbar Rapat Paripurna DPR, Presiden Prabowo Subianto memutuskan menutup jarak antara kedua angka itu. Lewat Peraturan Pemerintah, ekspor 3 komoditas strategis kini menempuh satu pintu saja: kelapa sawit, batu bara, dan <em>ferroalloy</em> harus keluar lewat PT Danantara Sumberdaya Indonesia, pengekspor tunggal milik negara. Transisi dimulai 1 Juni, berlaku penuh 1 September. Bahasanya bahasa tata kelola. Tujuannya menutup kebocoran, menertibkan <em>transfer pricing</em>, dan memaksa devisa pulang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi di balik bahasa teknis itu, ada peristiwa yang jauh lebih tua. Sebuah negara sedang belajar melihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Antropolog politik James C. Scott menyebut hasrat paling dasar negara modern dengan satu kata, <em>legibility</em>, keterbacaan. Negara tumbuh dengan membuat yang kabur menjadi terbaca. Tanah dipetakan, takaran diseragamkan, rakyat disensus dan diharapkan sadar pajak. Yang tak terbaca, tak akan terkuasai. Namun di titik yang paling bernilai, yakni harga, margin, dan devisa, Indonesia justru memilih untuk tetap buta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Negara itu tidak buta karena bodoh. Ia dibuat buta. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membongkar caranya tanpa berbasa-basi: para eksportir mendirikan perusahaan afiliasi di luar negeri, menjual murah kepada perusahaan milik mereka sendiri di yurisdiksi berpajak rendah, lalu memarkir selisihnya di sana. Oligarki sawit dan batu bara tak pernah menyembunyikan tambang, sebab tambang terlalu besar untuk disembunyikan. Mereka membuat negara tetap buta, angka demi angka, kapal demi kapal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemerintah menyebut kerugian akibat <em>under-invoicing</em> menembus Rp 15.400 triliun sepanjang 1991 hingga 2024. Angka itu mengguncang, sekaligus mustahil dipastikan. Sebab kecurangan yang dirancang agar tak terbaca memang tak meninggalkan pembukuan jujur untuk diaudit. Yang paling telak bukan besaran rupiahnya. Justru kenyataan bahwa selama lebih dari 30 tahun, kerugian sebesar itu tak pernah terhitung. Ketidakmampuan menghitung itulah dakwaan yang sebenarnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebutaan itu bukan kecelakaan. Ia subsidi. Selama satu generasi, negara memberi oligarki ekstraktif satu hadiah diam-diam, yaitu hak untuk tidak terlihat, dan hadiah itu punya sejarahnya sendiri. Di era Orde Baru, negara yang masih lemah menukar pengawasan dengan modal asing. Di era Reformasi, elite baru menukar mata terpejam dengan dana yang menghidupi politik. Para teknokrat sesudahnya melihat semuanya, tapi tak pernah cukup kuat untuk melawan. Begitulah perjanjian tak tertulis itu bertahan: negara setuju tidak melihat, modal setuju tetap tenang. Orang bisa menyebutnya koalisi <em>status quo</em> ekstraksi. Bukan persekongkolan yang diteken di satu ruangan, melainkan sederet kepentingan yang menyatu tanpa pernah perlu bersepakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, sebelum menjadi hal lain, pintu tunggal ini adalah alat penglihatan. Sekaligus pembatalan sepihak atas perjanjian lama tadi. Itulah, lebih dari soal tarif atau dokumen, yang membuat pasar gemetar. Dalam bahasa ekonomi pembangunan, Indonesia sedang mencoba membalik kutukan sumber daya: dari ekstraksi <em>berrente</em> tinggi yang tak terbaca, menuju ekstraksi yang terbaca dan, kalau berhasil, membangun. Sedikit negara sanggup melompat sejauh itu dalam satu generasi: Botswana lewat berliannya, Norwegia lewat minyaknya. Keduanya menuntut hal yang sama, disiplin untuk melihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi James C. Scott yang merayakan keterbacaan adalah juga James C. Scott yang paling mewaspadainya. Penglihatan yang dipaksakan dari atas, ia mengingatkan, bisa berubah menjadi kesombongan yang menghancurkan. Satu pintu memang membubarkan kabut yang tersebar di tangan banyak pemain. Namun ia melahirkan satu <em>chokepoint</em>, titik sempit yang harus dilalui seluruh arus, dan kabut oligarki yang menyebar itu kini ditukar dengan konsentrasi di tangan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah opini ini menolak berhenti pada tepuk tangan. Bagaimana bila Danantara sendiri yang kelak menjadi pelaku <em>under-invoicing</em> terbesar? Bila oligarki swasta cuma berganti seragam menjadi oligarki BUMN? Negara memasang mata untuk mengawasi eksportir. Tapi siapa yang mengawasi mata itu? Pertanyaan klasik yang tak pernah usang, <em>quis custodiet ipsos custodes</em>, siapa menjaga para penjaga. Negara baru saja memindahkan letak titik butanya, bukan menghilangkannya. Dan satu pintu yang gelap di dalam jauh lebih berbahaya ketimbang banyak pintu yang remang di luar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah sudah menyediakan dua jalan. Chile menaruh tembaganya di bawah CODELCO. Tetap monopoli negara, tapi diaudit independen, devisanya masuk kas negara, dan sampai kini jadi tulang punggung fiskal. Venezuela menyerahkan minyaknya kepada PDVSA. Juga monopoli negara, tapi ditangkap politik, kehilangan transparansi, lalu runtuh. Yang menentukan nasib keduanya bukan kepemilikan negara, melainkan apakah gerbangnya dipagari dari politik dan dibuka untuk diperiksa. Danantara berdiri tepat di persimpangan itu. Maka keberatan para pelaku usaha, soal kontrak berjalan, novasi, dan apakah pembeli asing menganggapnya monopoli, bukan rengekan pihak yang kalah. Pasar menjawab lebih cepat dari argumen: saham batu bara tertekan dalam hitungan hari. <em>CEO</em> Danantara Rosan Roeslani menjawabnya dengan janji yang tepat, kesucian kontrak. Janji itu benar. Tapi ia baru menjadi institusi saat bisa diuji, bukan sekadar diucapkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lee Kuan Yew, yang membangun Singapura lewat negara yang kuat sekaligus bersih, pasti menyetujui prinsipnya tanpa ragu. Lalu ia memindahkan seluruh pertanyaan ke satu titik: siapa yang duduk di pintu itu. Baginya, sentralisasi baru menutup kebocoran bila gerbangnya dijalankan setara Temasek, yakni profesional, berjarak dari politik, dan bertangan bersih. Tanpa itu, negara tidak menghapus pencurian. Ia cuma memindahkannya dari oligarki ke pejabat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari Washington, Tokyo, dan Beijing, kebijakan ini tidak terbaca sebagai aturan dagang. Ia terbaca sebagai doktrin. Henry Kissinger akan melihatnya sebagai instrumen kekuasaan struktural, cara negara mengubah endapan sumber dayanya menjadi posisi tawar. Karena pembeli terbesar batu bara dan sawit Indonesia berkumpul di Asia, satu pintu berarti satu meja. Indonesia tengah menguji dirinya sebagai pemasok ayun, seperti Saudi dulu menguji minyak dan Tiongkok menguji logam tanah jarang. Bila berhasil, diam-diam ia memindahkan sebagian rente dari konsumen Asia ke kas Jakarta. Pergeseran yang kecil di atas kertas, tapi besar dalam neraca kawasan. Tapi Kissinger juga memberi peringatan keras. <em>Leverage</em> seperti ini harus tampil sebagai tata kelola, jangan pernah sebagai senjata. Sebab begitu dunia membacanya sebagai senjata, ia mengundang koalisi lawan, dan pembeli pun mulai mencari pemasok lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampaknya tak pernah berhenti di ruang elite. Bagi siapa pun yang memegang keputusan di rumah maupun di kantor, di Jakarta sama seperti di kota mana pun yang ikut membaca, semua ini akhirnya mendarat di hal yang konkret: nilai rupiah di dompet, harga yang naik diam-diam, rasa aman akan masa depan anak. Devisa yang tak kunjung pulang itu adalah sekolah, klinik, dan jalan yang tak pernah dibangun. Kebutaan negara selalu dibayar oleh mereka yang tak punya perusahaan di luar negeri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, ujian sejati kebijakan ini bukan terletak pada hari pengumumannya, tapi pada hari-hari sunyi sesudahnya. Penyakit yang akut tak akan sembuh hanya karena satu pintu ditutup. Ia sembuh bila negara membangun penglihatan yang bertahan lebih lama dari satu masa pemerintahan, penglihatan yang bekerja bukan karena diperintah, tapi karena sudah terlembaga. Dan itu menuntut hal-hal yang tidak puitis: harga kontrak yang diumumkan terbuka, audit pihak ketiga yang independen, serta klausul matahari terbenam yang memaksa evaluasi. Negara yang menuntut para eksportir terbaca harus lebih dulu membuat dirinya sendiri terbaca.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke dermaga. Tongkang yang sama, <em>conveyor</em> yang sama, tonase yang sama. Hanya satu yang berubah. Kini, untuk pertama kalinya, kedua angka itu, berapa banyak dan berapa nilainya, bisa dibaca dari satu tempat. Apakah itu kedaulatan, atau sekadar kebutaan baru yang kini berstempel negara, bergantung pada satu syarat sederhana tapi keras: apakah meteran yang akhirnya terpasang itu menghadap ke dua arah. Ke laut, tempat kapal pergi. Dan ke daratan, tempat negara berdiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></em><br><em><em><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em></em></em></p>



<p class="has-text-align-center wp-block-paragraph"><em>Hak cipta dilindungi berdasarkan Pasal 113 UU 28/2014 tentang Hak Cipta.</em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/negara-yang-akhirnya-belajar-melihat_240526.mp3" length="3591980" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/chatgpt-image-may-24-2026-08_04_14-am-1024x682.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gravitasi 5% dan “Space Force” Prabowo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gravitasi-5-dan-space-force-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2026 13:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Airlangga Hartarto]]></category>
		<category><![CDATA[Pertumbuhan Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Prasetyo Hadi]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[Rosan Roeslani]]></category>
		<category><![CDATA[Satgas]]></category>
		<category><![CDATA[Satgas Pertumbuhan Ekonomi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168899</guid>

					<description><![CDATA[Prabowo bentuk Satgas Pertumbuhan Ekonomi berisi 27 menteri. Bisakah Indonesia akhirnya lepas dari gravitasi pertumbuhan 5 persen?
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-20-2026-4.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Prabowo bentuk Satgas Pertumbuhan Ekonomi berisi 27 menteri. Bisakah Indonesia akhirnya lepas dari gravitasi pertumbuhan 5 persen?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“For middle-income countries to have high income in decades rather than centuries, it would need a miracle.” – Indermit Gill, Kepala Ekonom World Bank Group (Oktober 2024)&nbsp;</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin sedang menghitung ulang cicilan bulanannya ketika mata tertumbuk pada notifikasi berita: Presiden Prabowo Subianto membentuk Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi melalui Keppres Nomor 4 Tahun 2026. Ia mengernyitkan dahi — bukan karena beritanya mengejutkan, melainkan karena angka-angka yang mengikutinya terasa seperti déjà vu abadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">IMF baru saja memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia 2026 menjadi 5 persen, Bank Dunia lebih suram di 4,7 persen, dan OECD mematok 4,8 persen. Cupin mengingat angka yang sama muncul tahun lalu, tahun sebelumnya, dan — jika ia jujur — sepanjang hidupnya sebagai pekerja swasta di Bekasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Analis CRIF Asia menyebut era ini sebagai <em>The Great Tension</em> — konvergensi tekanan dari perang Timur Tengah, tarif perdagangan, dan perlambatan China yang datang serentak. Namun bagi Cupin, ada fenomena yang lebih mendasar dari semua badai itu: Indonesia seperti memiliki gravitasi tak kasat mata yang selalu menarik pertumbuhannya kembali ke angka 5 persen, apa pun yang terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pernah memperingatkan bahwa pertumbuhan 5 persen tidak cukup bagi Indonesia untuk naik kelas. Indermit Gill, Kepala Ekonom Bank Dunia, bahkan menggunakan kata &#8220;keajaiban&#8221; — merujuk teori <em>middle-income trap</em> yang ia kembangkan bersama Homi Kharas pada 2007, di mana negara berkembang terjebak di tingkat pendapatan tertentu tanpa mampu naik ke orbit lebih tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan PDB per kapita 5.200 dolar yang perlu melonjak ke 19.000–22.000 dolar demi visi Indonesia Emas 2045, matematikanya jelas: pertumbuhan 5 persen tidak akan mengantarkan Indonesia tepat waktu. Cupin membaca bahwa pemerintah tetap mempertahankan target 5,4 persen sesuai APBN 2026 dan kini membentuk satgas berisi 27 menteri untuk mengakselerasinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satgas ini dipimpin Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sebagai Ketua I, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebagai Ketua II, serta wakil ketua dari Menteri Keuangan, Menteri Investasi, hingga Kepala Bappenas. Cupin melihatnya sebagai semacam <em>Space Force</em> — pasukan khusus yang dibentuk bukan untuk menjaga orbit, melainkan untuk menembus gravitasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi pertanyaan menggantung di benak Cupin sebelum ia menggulir lebih jauh. Pertama, apakah ada preseden negara lain yang berhasil menembus gravitasi pertumbuhannya menggunakan instrumen serupa? Kedua, apa yang membedakan satgas yang sukses dari yang sekadar menjadi rapat koordinasi berbiaya APBN?</p>


<blockquote class="instagram-media" style="background: #FFF; border: 0; border-radius: 3px; box-shadow: 0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width: 540px; min-width: 326px; padding: 0; width: calc(100% - 2px);" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DXNj34LAYpJ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14">
<div style="padding: 16px;">
<div style="display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"> </div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"> </div>
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"> </div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"> </div>
<div style="display: block; height: 50px; margin: 0 auto 12px; width: 50px;"> </div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style="color: #3897f0; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: 550; line-height: 18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"> </div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"> </div>
<div style="background-color: #f4f4f4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"> </div>
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"> </div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"> </div>
<div style="width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg);"> </div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style="width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"> </div>
<div style="background-color: #f4f4f4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"> </div>
<div style="width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"> </div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"> </div>
<div style="background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"> </div>
</div>
<p> </p>
<p style="color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; line-height: 17px; margin-bottom: 0; margin-top: 8px; overflow: hidden; padding: 8px 0 7px; text-align: center; text-overflow: ellipsis; white-space: nowrap;"><a style="color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: normal; line-height: 17px; text-decoration: none;" href="https://www.instagram.com/p/DXNj34LAYpJ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" target="_blank" rel="noopener nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jejak Para “</strong><strong><em>Space Force</em></strong><strong>”</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin memutuskan untuk menggali lebih dalam, dan apa yang ia temukan ternyata mengejutkan: hampir semua negara yang berhasil naik kelas ekonomi memiliki versi &#8220;Space Force&#8221;-nya masing-masing. Justin Yifu Lin dalam bukunya <em>New Structural Economics</em> berargumen bahwa negara-negara yang berhasil keluar dari jebakan pendapatan menengah adalah yang mampu mengoordinasikan transisi industri secara strategis — bukan membiarkan pasar bekerja sendiri, bukan pula mengintervensi membabi buta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Korea Selatan di bawah Park Chung-hee membentuk Economic Planning Board (EPB) pada awal 1960-an — <em>super-ministry</em> yang menggabungkan perencanaan dan penganggaran. Ha-Joon Chang dalam <em>Kicking Away the Ladder</em> menyebut pendekatan Korea sebagai <em>disciplined support</em>: negara memberikan kredit murah kepada industri yang memenuhi target ekspor, dan mencabutnya dari yang gagal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">China menggunakan Leading Small Groups (LSG) — analisis CSIS menunjukkan bahwa LSG di bawah Xi Jinping mampu melewati proses kebijakan konvensional. Malaysia membentuk PEMANDU di bawah Idris Jala, yang dalam wawancaranya dengan McKinsey menekankan prinsip kunci: kejelasan absolut tentang apa yang disebut &#8220;sukses&#8221; — angka investasi dan lapangan kerja yang bisa dihitung, bukan retorika umum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam delapan bulan pertama, PEMANDU mengamankan komitmen investasi 55 miliar dolar — 12 persen dari target satu dekade. Vietnam, dengan komite reformasi Doi Moi yang lebih pragmatis, kini tumbuh 7,1 persen dan melampaui Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dua pertanyaan kembali muncul di kepala Cupin. Pertama, pada kecepatan berapa persisnya setiap negara itu menembus gravitasinya — dan berapa lama prosesnya? Kedua, <em>escape velocity</em> seperti apa yang realistis bagi Indonesia saat ini?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DXQdT5mgXot/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DXQdT5mgXot/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DXQdT5mgXot/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Bahan Bakar Roket </strong><strong><em>“Space Force</em></strong><strong>” Prabowo?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mulai memetakan. Korea Selatan melompat dari PDB per kapita 87 dolar ke lebih dari 10.000 dolar dalam tiga dekade dengan pertumbuhan rata-rata 8 persen per tahun, sementara China tumbuh rata-rata 10 persen dari 1978 hingga 2010 — melampaui target Deng Xiaoping sendiri yang hanya 7,2 persen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">India menawarkan preseden paling relevan: selama tiga dekade kemerdekaannya, ekonomi India terjebak di 3,5 persen — kondisi yang ekonom Raj Krishna pada 1978 beri nama <em>Hindu Rate of Growth</em>. India menembus gravitasinya melalui liberalisasi 1991 dan NITI Aayog pada 2015, kini tumbuh 6,5 persen — riset LPEM Universitas Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia membutuhkan laju serupa sebelum bonus demografi berakhir sekitar 2035.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Daron Acemoglu dan James Robinson dalam <em>Why Nations Fail</em> menunjukkan bahwa <em>critical junctures</em> — momen di mana tekanan eksternal bertemu kehendak politik internal — sering menjadi titik balik transformasi ekonomi. Indonesia di 2026 sedang berada persis di momen semacam itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Albert Hirschman dalam <em>The Strategy of Economic Development</em> menulis bahwa kemajuan ekonomi sering dimulai dari <em>inducement mechanisms</em> — mekanisme yang memicu rangkaian keputusan berikutnya. Satgas Prabowo memiliki potensi untuk menjadi <em>inducement mechanism</em> semacam itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menarik, Cupin melihat bahwa Prabowo tampaknya sudah menyiapkan bahan bakar roketnya sendiri — bukan satu, melainkan beberapa <em>escape velocity</em> potensial sekaligus. Arsitektur APBN 2026 mengungkapkan cetak biru ambisius berupa delapan agenda prioritas yang membentuk satu ekosistem akselerasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang paling menonjol adalah ketahanan energi dengan alokasi Rp402,4 triliun — sebuah angka yang menandakan bahwa Prabowo membaca transisi energi bukan sekadar sebagai agenda lingkungan, melainkan sebagai instrumen kedaulatan ekonomi. Pada peresmian pabrik kendaraan listrik di Magelang April 2026, Prabowo menyatakan bahwa penutupan PLTD berpotensi menghemat 200 ribu barel minyak per hari — setara 20 persen impor BBM Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin memahami logikanya: setiap dolar yang tidak keluar untuk impor minyak adalah dolar yang bisa diinvestasikan kembali ke dalam ekonomi domestik. Michael Ross dalam <em>The Oil Curse</em> berargumen bahwa negara yang mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil memiliki ruang fiskal lebih besar untuk investasi produktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahan bakar kedua adalah hilirisasi sumber daya alam, dengan 33 proyek senilai ratusan triliun rupiah yang sedang berjalan. Mariana Mazzucato dalam <em>The Entrepreneurial State</em> berargumen bahwa negara yang berhasil melompat kelas ekonomi berani memposisikan diri sebagai <em>investor of first resort</em> di sektor strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahan bakar ketiga adalah pembangunan sumber daya manusia — dari Makan Bergizi Gratis senilai Rp335 triliun hingga alokasi pendidikan Rp757,8 triliun. Korea Selatan dan China sama-sama menembus gravitasinya dengan investasi masif di <em>human capital</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahan bakar keempat — yang sering luput dari perhatian — adalah Danantara sebagai instrumen investasi produktif dan hilirisasi senilai puluhan miliar dolar. Ha-Joon Chang dalam <em>23 Things They Don&#8217;t Tell You About Capitalism</em> mencatat bahwa hampir semua negara yang berhasil naik kelas memiliki semacam <em>sovereign investment vehicle</em> yang mengalokasikan kapital ke sektor-sektor strategis secara terkoordinasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menutup layar ponselnya dan menatap langit-langit kamar. Ia tahu bahwa &#8220;Space Force&#8221; sudah ditempatkan di landasan peluncuran, bahan bakarnya sudah diisi — mandat presiden, konfigurasi kekuasaan yang kuat, empat <em>escape velocity</em> potensial yang berjalan simultan, dan tekanan global yang menjadikan reformasi bukan lagi pilihan melainkan keharusan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang akan menentukan apakah Indonesia benar-benar menembus Gravitasi 5 Persen atau sekadar berputar di orbit yang sama bukanlah desain roketnya di atas kertas — melainkan kualitas eksekusi di lapangan, dan itu adalah cerita yang baru akan ditulis oleh waktu. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="TLEJsFFQLQ0"><iframe title="Kok Prabowo Berani Bikin Kabinet Gemuk? Ini Alasan Sebenarnya!" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/TLEJsFFQLQ0?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/generated-audio-april-20-2026-4.mp3" length="2959556" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/gravitasi-5-dan-space-force-prabowo-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tiga “Jenderal Ekonomi” Prabowo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tiga-jenderal-ekonomi-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Airlangga Hartarto]]></category>
		<category><![CDATA[Bahlil Lahadalia]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Iran]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168637</guid>

					<description><![CDATA[Harga BBM tak naik di tengah krisis energi global terbesar sejak 1973. Siapa trio menteri di balik tameng ekonomi RI?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-33.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Harga BBM tak naik di tengah krisis energi global terbesar sejak 1973. Siapa trio menteri di balik tameng ekonomi RI?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Coordination may be more difficult in crisis, given the need for swift action and the opportunities for playing bureaucratic politics, but it remains as important as ever for success.” – B. Guy Peters, “Governing in a Time of Global Crises” (2021)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin baru saja mengisi tangki motornya di SPBU dekat rumah. Harga Pertalite masih Rp10.000 per liter—persis sama seperti bulan lalu—dan ia bergumam lega, &#8220;Katanya perang dunia, tapi kok harganya belum naik?&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelegaan Cupin bukan tanpa alasan. Pada 6 April 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa pemerintah dan Pertamina memutuskan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi—Pertalite dan solar—setidaknya hingga akhir tahun, selama harga minyak dunia rata-rata tidak melampaui 97 dolar AS per barel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkuat jaminan itu di hadapan Komisi XI DPR RI. Ia menegaskan anggaran negara cukup kuat menahan guncangan, dengan bantalan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih sebesar Rp420 triliun—termasuk Rp200 triliun yang ditempatkan di perbankan—siap dimobilisasi kapan saja.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pasokan BBM nasional tetap aman dan diversifikasi impor minyak sedang diperluas ke berbagai negara baru. Pernyataannya pragmatis dan menenangkan: pemerintah tidak akan membiarkan masyarakat kekurangan energi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di banyak negara lain, situasinya jauh lebih berat. Pakistan menerapkan empat hari kerja per minggu dan menutup institusi pendidikan selama dua minggu; Italia membatasi pengisian bahan bakar jet di empat bandara; Inggris mulai membatalkan penerbangan karena kelangkaan avtur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia, sebaliknya, berhasil melewati Lebaran 2026 tanpa kenaikan harga BBM—sebuah pencapaian yang tidak bisa dianggap remeh mengingat International Energy Agency menyebut penutupan Selat Hormuz sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Dallas Federal Reserve memperkirakan harga minyak WTI rata-rata 98 dolar per barel dan pertumbuhan PDB global turun 2,9 persen pada kuartal kedua 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mungkin tidak menyadarinya, tetapi stabilitas harga di SPBU itu adalah hasil dari kalkulasi yang dilakukan jauh sebelum krisis memuncak. Pemerintah telah menyiapkan skenario harga minyak di level 80 hingga 100 dolar per barel, lengkap dengan strategi alokasi bantalan fiskal untuk setiap skenario.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, bagaimana sebenarnya trio menteri ekonomi Prabowo mengoordinasikan respons yang sejauh ini berhasil menahan guncangan? Dan apa yang bisa kita pelajari dari pembagian peran mereka yang tampaknya terstruktur dan saling melengkapi?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DW49ixaCRfp/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DW49ixaCRfp/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DW49ixaCRfp/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tiga “Jenderal”, Satu Misi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam literatur ilmu politik, kolaborasi antar-pejabat di masa krisis adalah salah satu tantangan terberat dalam tata kelola pemerintahan. Alex Mintz dan Carly Wayne dalam buku mereka <em>The Polythink Syndrome</em> menjelaskan bahwa tim pengambil keputusan puncak yang ideal beroperasi di titik keseimbangan—yang mereka sebut <em>Productive Polythink</em>—di mana keragaman keahlian dikelola secara konstruktif menuju keputusan yang koheren.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trio Airlangga-Bahlil-Purbaya menarik untuk dibaca melalui kerangka ini karena masing-masing membawa keahlian dan gaya yang berbeda, namun bergerak dalam satu arah strategis. Ketiganya menunjukkan pola koordinasi yang jarang terlihat di kabinet-kabinet sebelumnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Airlangga Hartarto, sebagai Menko Perekonomian, memainkan peran sebagai arsitek kebijakan dan koordinator lintas kementerian. Dialah yang merumuskan &#8220;Delapan Butir Transformasi Budaya Kerja Nasional dan Kebijakan Energi&#8221; pada 31 Maret 2026—paket komprehensif yang mencakup penghematan energi, efisiensi anggaran, hingga percepatan transisi energi melalui biodiesel B50.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional, berperan sebagai komandan lapangan yang memastikan rantai pasok energi tetap utuh. Ia bergerak cepat membuka jalur impor alternatif, termasuk dari Rusia dan negara-negara pemasok baru, dengan pragmatisme yang dibutuhkan di masa darurat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan, menjadi penjaga gawang fiskal yang memastikan APBN tetap mampu membiayai subsidi tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi. Ia telah menyiapkan kalkulasi skenario harga minyak hingga 100 dolar per barel dan menegaskan bahwa potensi tambahan penerimaan dari sektor energi dan batubara turut memperkuat bantalan fiskal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola pembagian peran ini mengingatkan pada model Abenomics di Jepang tahun 2013, yang dianalisis IMF dalam publikasi <em>Can Abenomics Succeed?</em>. Perdana Menteri Shinzo Abe mengoordinasikan &#8220;tiga panah&#8221;—pelonggaran moneter, stimulus fiskal, dan reformasi struktural—di mana setiap panah punya penanggung jawab berbeda tetapi bergerak di bawah satu visi besar yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Korea Selatan pada krisis 1997 juga menunjukkan bahwa koordinasi erat antara kementerian keuangan dan bank sentral menjadi kunci pemulihan yang relatif cepat. Indonesia saat ini menerapkan pola serupa: sinergi antara Kemenkeu, Kemenko Perekonomian, dan Kementerian ESDM berjalan melalui rapat-rapat terbatas yang intensif di Istana sejak awal 2026.</p>



<p class="wp-block-paragraph">B. Guy Peters dalam artikel <em>Governing in a Time of Global Crises</em> menegaskan bahwa koordinasi antar-aktor ekonomi menjadi faktor penentu keberhasilan respons krisis. Ia mencatat bahwa negara-negara yang mampu menyelaraskan kebijakan fiskal, moneter, dan sektoral secara simultan cenderung keluar dari krisis lebih cepat dan lebih kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang menarik dari trio Indonesia adalah kemampuan mereka menampilkan <em>unified front</em> di hadapan publik dan pasar—sebuah sinyal kepercayaan diri yang bukan tanpa dasar. Konferensi pers bersama dari Seoul pada 31 Maret, yang dihadiri langsung oleh Airlangga dan Bahlil serta secara virtual oleh Purbaya, menunjukkan koordinasi yang terencana dan pesan yang konsisten.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan selanjutnya: faktor-faktor apa yang membuat koordinasi seperti ini bisa bertahan dalam jangka panjang? Dan bisakah model kolaborasi ini menjadi keunggulan khas Indonesia dalam menghadapi krisis-krisis mendatang?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DWzz9Zxk4OQ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DWzz9Zxk4OQ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DWzz9Zxk4OQ/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>“Jenderal Ekonomi” yang Adaptif?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Gabriel Lele dalam risetnya <em>Concurrency as Crisis Decision-Making Governance</em> yang mengkaji respons Indonesia terhadap pandemi COVID-19 menemukan bahwa Indonesia memiliki kapasitas adaptif yang sering diremehkan. Negeri ini mampu bergeser dari mode pemerintahan terpusat ke mode kolaboratif dengan relatif cepat ketika krisis menuntutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kapasitas adaptif serupa tampak dalam respons terhadap krisis energi 2026 ini. Pemerintah tidak hanya bereaksi defensif, tetapi juga memanfaatkan momentum krisis untuk mendorong agenda transisi energi—sebuah langkah yang oleh lembaga riset IESR diapresiasi sebagai sinyal positif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Les Metcalfe dalam studi klasiknya tentang koordinasi kebijakan antar-kementerian mengidentifikasi sembilan level koordinasi pemerintah, dari pertukaran informasi hingga penetapan prioritas bersama. Langkah-langkah seperti pembentukan Dewan Energi Nasional dengan Bahlil sebagai Ketua Harian dan tujuh menteri sebagai anggota menunjukkan bahwa Indonesia sedang bergerak naik dalam tangga koordinasi itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor pertama yang memperkuat kolaborasi trio ini adalah kejelasan <em>division of labor</em>. Airlangga mengoordinasikan kebijakan makro, Bahlil mengelola pasokan dan infrastruktur energi, Purbaya menjaga perbendaharaan—tidak ada tumpang tindih yang membingungkan pasar atau publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor kedua adalah kecepatan respons. Hanya dalam satu bulan sejak penutupan Selat Hormuz, pemerintah sudah meluncurkan paket kebijakan komprehensif, menandatangani sejumlah kesepakatan energi baru dengan mitra internasional di Tokyo dan Seoul, serta mengamankan jaminan pasokan dari jalur alternatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Faktor ketiga—dan mungkin yang paling unik—adalah kemampuan Indonesia memanfaatkan krisis sebagai akselerator. Target 100 GW tenaga surya yang dicanangkan Presiden Prabowo, percepatan B50 yang berpotensi mengurangi 4 juta kiloliter konsumsi BBM fosil, dan dorongan konversi kendaraan listrik semuanya adalah kebijakan jangka panjang yang dipercepat oleh urgensi jangka pendek.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mintz dan Wayne menyebut kemampuan mengubah tekanan menjadi momentum sebagai ciri <em>Productive Polythink</em> yang paling berharga. Ketika sebuah tim tidak sekadar bertahan dari krisis tetapi menggunakannya sebagai batu loncatan menuju transformasi, di situlah letak perbedaan antara manajemen krisis biasa dan kepemimpinan krisis sejati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia juga memiliki keunggulan struktural yang tidak dimiliki banyak negara lain yang sama-sama terdampak. Cadangan batubara yang besar, potensi geotermal terbesar di dunia, garis khatulistiwa yang ideal untuk energi surya, serta posisi geografis yang memungkinkan diversifikasi sumber impor dari berbagai benua—semua ini adalah modal yang siap dikonversi menjadi ketahanan energi jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, trio &#8220;jenderal ekonomi&#8221; Prabowo sedang diuji oleh krisis yang skalanya belum pernah dialami generasi ini—dan sejauh ini, mereka menunjukkan bahwa koordinasi yang solid, pembagian peran yang jelas, dan kecepatan respons bisa menjadi tameng yang efektif bagi 280 juta rakyat Indonesia. Cupin boleh kembali mengisi tangki motornya dengan tenang, bukan karena krisis tidak ada, melainkan karena ada tangan-tangan yang bekerja keras memastikan dampaknya tidak sampai ke pompa bensin di dekat rumahnya. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xO6VtqYYWzY"><iframe title="Kehebatan Uni Emirat Arab, Sosok Menteri Perempuan di Perang Iran" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xO6VtqYYWzY?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/download-33.mp3" length="3541748" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/tiga-jenderal-ekonomi-prabowo-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Angka Menjadi Berhala</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/headline/ketika-angka-menjadi-berhala/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Wim Tangkilisan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2026 02:03:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Pemred]]></category>
		<category><![CDATA[dolar AS]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[Rupiah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168300</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio dibuat menggunakan AI. Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy AnalysisPemimpin Redaksi PinterPolitik.com KATA PEMRED #11PinterPolitik.com Ada sebuah kecemasan yang purba dalam angka. Ketika sejumlah analis dan komentator ekonomi mendedahkan kemungkinan Rupiah menyentuh Rp20.000 per Dolar AS, mereka sebenarnya tidak sedang menyodorkan sebuah kalkulasi semata. Mereka sedang melukis [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/dolar-1-irkdr96d.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em><br><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>KATA PEMRED #11</strong><br><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sebuah kecemasan yang purba dalam angka. Ketika sejumlah analis dan komentator ekonomi mendedahkan kemungkinan Rupiah menyentuh Rp20.000 per Dolar AS, mereka sebenarnya tidak sedang menyodorkan sebuah kalkulasi semata. Mereka sedang melukis sebuah <em>memento mori</em> bagi ekonomi kita. Di balik deretan data itu, ada sebuah drama yang sedang dipentaskan: sebuah narasi tentang kerapuhan, tentang hantu geopolitik yang bangkit, dan tentang kita—sebuah bangsa yang seolah-olah ditakdirkan untuk senantiasa cemas di hadapan hijau lembaran Dolar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, barangkali kita perlu bertanya: di manakah batas antara peringatan dan horoskop? Dalam ekonomi, sebagaimana dalam puisi, kata-kata memiliki daya magisnya sendiri. Ia bisa menjadi penawar, tapi ia juga bisa menjadi racun yang bekerja dalam diam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalah utama dari skenario Rp20.000 bukan terletak pada hitungan di atas kertas. Dalam jagat moneter yang serba mungkin, angka hanyalah titik koordinat dalam peta ketidakpastian. Yang merisaukan adalah bagaimana logika itu disusun untuk menjadi sebuah cakrawala yang terasa tak terelakkan. Dalam riuh rendah diskursus publik, garis antara sebuah “skenario terburuk” dan “ekspektasi dasar” sering kali menguap. Begitu sebuah angka ekstrem dilemparkan ke tengah pasar tanpa jangkar probabilitas yang jernih, ia berhenti menjadi analisis. Ia menjadi sugesti. Ia menjadi berhala baru yang kita sembah dengan rasa takut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah persoalan metodologis mulai muncul. Dalam disiplin analisis risiko, terdapat perbedaan mendasar antara <em>stress scenario</em> dan <em>baseline forecast</em>. <em>Stress scenario</em> dirancang untuk menguji ketahanan kebijakan terhadap kondisi ekstrem—bukan untuk diumumkan sebagai arah yang hampir pasti. Ketika skenario ekstrem dilepas ke ruang publik tanpa pagar probabilitas, pasar tidak membacanya sebagai alat uji. Pasar membacanya sebagai sinyal. Pada titik ini, analisis berisiko berubah menjadi amplifikasi kecemasan. Apa yang dimaksud sebagai kemungkinan terburuk perlahan dipersepsikan sebagai takdir yang mendekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sini, kita teringat pada Baruch Spinoza. Filsuf yang hidup dalam kesunyian itu pernah menulis bahwa ketakutan (<em>metus</em>) tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu berpasangan dengan harapan yang goyah. Dalam ekonomi, ketakutan adalah persepsi tentang sebuah ketidakberdayaan. Narasi bahwa Rupiah akan meluncur ke angka dua puluh ribu karena badai geopolitik seolah-olah mengatakan bahwa kita adalah objek pasif dari sejarah. Seolah-olah Rupiah adalah sehelai daun kering yang diterbangkan angin dari Washington atau Beijing, tanpa ada dahan yang mampu menahannya. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, apakah ekonomi benar-benar sebuah mesin linear yang tanpa jiwa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Robert Shiller, sang penjelajah <em>Narrative Economics</em>, memberikan kita sebuah kacamata lain. Pasar, katanya, tidak digerakkan oleh pergeseran fundamental semata, melainkan oleh cerita yang menular. Cerita tentang “Rupiah 20.000” adalah sebuah virus naratif yang sempurna. Ia sederhana, ia dramatis, dan ia menyentuh syaraf trauma kolektif kita tentang tahun 1998. Tapi justru di sinilah letak jebakannya. Ketika cerita ini menyebar, ia mulai mengubah perilaku manusia. Importir bergegas memborong Dolar bukan karena butuh, tapi karena cemas. Korporasi melakukan <em>hedging</em> bukan karena risiko nyata, tapi karena bayangan hantu. Di titik ini, narasi tidak lagi memotret realitas; ia sedang melahirkan realitas itu sendiri melalui rahim ketakutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada dimensi lain yang jarang dibicarakan: bahwa proyeksi ekstrem dalam ekonomi modern tidak pernah benar-benar netral. Ia bisa menjadi sinyal koordinasi bagi pasar. Ketika angka Rp20.000 dilemparkan ke ruang publik oleh figur otoritatif, ia tidak hanya dibaca sebagai analisis—ia dibaca sebagai kemungkinan yang mulai dipertimbangkan. <em>Hedge fund</em> membaca. Importir membaca. Dealer valas membaca. Dalam dunia yang bergerak oleh ekspektasi, angka tersebut dapat berfungsi sebagai semacam <em>focal point</em>—sebuah titik temu psikologis yang mengarahkan perilaku kolektif. Di titik ini, <em>forecast</em> tidak lagi berdiri di luar pasar. Ia masuk ke dalam pasar dan ikut menggerakkan arah arus modal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah paradoks ekonomi modern: prediksi yang terlalu dramatis dapat mempercepat realisasi dari prediksi itu sendiri. George Soros menyebutnya sebagai <em>reflexivity</em>—ketika persepsi pelaku pasar mengubah realitas yang mereka coba ramalkan. Maka, narasi “Rupiah 20.000” tidak lagi sekadar hipotesis. Ia berpotensi menjadi benih kepanikan yang tumbuh lebih cepat dari akar masalahnya sendiri. Dan ketika itu terjadi, pasar bukan lagi cermin yang memantulkan kenyataan—ia telah berubah menjadi panggung yang mementaskan ketakutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Trauma 1998 tidak boleh dipakai sebagai jalan pintas intelektual untuk membaca setiap tekanan kurs hari ini. Sejarah memang penting sebagai alarm, tetapi ia menjadi menyesatkan ketika diperlakukan sebagai cetakan karbon bagi setiap episode volatilitas baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang sering luput dari mereka yang terlalu terpaku pada angka: bahwa nilai tukar adalah sebuah dialektika. Ia adalah percakapan antara tekanan dari luar dan ketahanan dari dalam. Mengabaikan respons domestik berarti membaca sebuah buku hanya dari sampulnya yang kusam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia hari ini, betapapun banyaknya kekurangan yang kita miliki, bukanlah pasien yang sama dengan yang kita lihat tiga dekade silam. Kita telah membangun apa yang saya sebut sebagai “Antibodi Moneter”. Sebuah sistem imun yang bekerja dalam sunyi. Kita memiliki cadangan devisa yang bukan sekadar angka di laporan tahunan, melainkan amunisi yang siap diledakkan dalam <em>Triple Intervention</em>. Kita memiliki Bank Indonesia yang kini bertindak bak seorang ahli alkimia; mereka tidak lagi reaktif menunggu api membesar, melainkan melakukan intervensi <em>pre-emptive</em> melalui instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Ini adalah bentuk kedaulatan mental di tengah badai global yang tak menentu. Tentu saja, intervensi bukanlah senjata yang tak terbatas—ia efektif selama kepercayaan pasar tidak runtuh lebih cepat dari kecepatan bank sentral merespons.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu ada geopolitik, yang sering kali dipandang sebagai momok yang gelap. Dalam era <em>Geoeconomic Fragmentation</em>, dunia memang sedang terbelah. Keuangan sedang dijadikan senjata. Dolar sedang dipersenjatai. Namun, di tengah fragmentasi itu, Indonesia sedang memainkan peran sebagai pejalan kaki yang cerdik. Kita melakukan <em>Multipolar Hedging</em>. Kita tidak lagi menggantungkan nasib pada satu matahari. Melalui hilirisasi dan penguatan rantai pasok global, kita justru memiliki posisi tawar yang unik. Secara paradoks, ketegangan dunia yang menaikkan harga energi dan pangan sering kali justru menebalkan surplus neraca perdagangan kita. Inilah <em>hidden buffer</em>—sebuah berkah yang sering kali tak terbaca oleh mereka yang hanya memandang Rupiah dengan kacamata melankolis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mohamed El-Erian menyebut zaman ini sebagai “rezim volatilitas tinggi”. Tapi volatilitas bukanlah sinonim dari kiamat. Volatilitas adalah napas pasar yang sedang mencari keseimbangan baru. Dalam rezim ini, harga-harga akan berayun lebih tajam, lebih cepat, dan terkadang lebih kejam. Namun, sejarah pasar mengajarkan kita bahwa ayunan selalu terjadi dua arah. Mata uang yang melemah hari ini bisa menguat esok hari saat sentimen bergeser dan fundamen berbicara. Kesalahan terbesar dari narasi “Rupiah 20.000” adalah ia memperlakukan volatilitas sebagai sebuah garis lurus menuju bawah, seolah-olah gravitasi ekonomi hanya bekerja untuk menjatuhkan, bukan untuk menyeimbangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sebuah batas yang halus antara kewaspadaan (<em>alert</em>) dan alarmisme. Peringatan adalah sebuah undangan untuk berjaga-jaga. Alarmisme adalah sebuah pengumuman bahwa pintu sudah terkunci dan kunci telah hilang. Ekonomi modern bukan hanya soal data statistik; ia adalah soal kepercayaan. Dalam kondisi ketidakpastian global yang pekat, sebuah narasi yang didorong oleh alarmisme dapat merusak kepercayaan itu lebih cepat daripada pelarian modal itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nilai tukar dalam jangka pendek bukan referendum harian atas kualitas ekonomi nasional. Ia sering kali lebih menyerupai arena di mana sentimen, posisi spekulatif, rebalancing portofolio, dan kebutuhan likuiditas jangka pendek saling bertubrukan. Karena itu, depresiasi tajam tidak selalu berarti fundamental ambruk; sering kali ia hanya menandai bahwa pasar sedang mem-price ketakutan lebih agresif daripada data.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi ekstrem bukan hanya berbahaya bagi pelaku pasar; ia juga bisa menjebak pembuat kebijakan ke dalam <em>self-fulfilling policy trap</em>. Ketika tekanan psikologis publik dibangun terlalu tinggi, otoritas bisa terdorong mengambil langkah yang terlalu agresif, terlalu cepat, atau terlalu mahal—bukan semata karena fundamental memaksanya, melainkan karena opini publik telah lebih dahulu mendramatisasi keadaan. Dalam titik ini, alarmisme tidak hanya membebani pasar, tetapi juga mempersempit ruang manuver negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin, persoalan sebenarnya bukanlah pada Rupiah, melainkan pada cara kita memandang angka. Di ruang publik kita, nilai tukar sering kali diperlakukan bak sebuah berhala moneter. Jika angka menguat, kita merasa perkasa; jika melemah, kita merasa hancur. Kita lupa bahwa kurs adalah sebuah barometer psikologi kolektif. Ia mencerminkan seberapa besar kita percaya pada diri kita sendiri di hadapan dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika angka Rp20.000 disebut secara berulang dalam judul-judul berita yang sensasional, ia tidak lagi berfungsi sebagai proyeksi ekonomi. Ia bermutasi menjadi sebuah “horizon mental”. Kita mulai berhenti bertanya tentang fundamental ekonomi, dan mulai bertanya tentang kapan kehancuran itu akan tiba. Pergeseran bahasa ini adalah sebuah kekalahan sebelum peperangan dimulai. Ia adalah kemenangan imajinasi buruk atas kenyataan yang sebenarnya masih bisa kita kelola.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Siapa sebenarnya yang sedang membentuk ekspektasi kita? Apakah para ahli dengan data yang jernih, ataukah narasi-narasi yang sengaja ditiupkan untuk memicu kegelisahan pasar demi keuntungan spekulatif segelintir orang? Di sinilah kedaulatan kita sedang diuji. Bukan hanya kedaulatan moneter, tapi kedaulatan epistemik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memahami hal ini secara intuitif. Pendekatannya sejak hari pertama menjabat bukan sekadar kebijakan fiskal—ia adalah narasi yang disengaja. Dengan menyandarkan kebijakannya pada mekanisme <em>self-fulfilling prophecy</em>, Purbaya membuktikan bahwa apa yang berlaku untuk ketakutan, berlaku pula untuk harapan. Pasar yang percaya ekonomi akan tumbuh akan bertindak seolah pertumbuhan itu sudah terjadi—dan itulah yang mendorongnya menjadi nyata. Jika narasi buruk bisa meruntuhkan, narasi yang baik bisa membangun. Rupiah bukan hanya soal angka di layar terminal Bloomberg. Ia adalah soal cerita apa yang kita pilih untuk dipercaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Krisis mata uang modern jarang dimulai dari angka. Ia dimulai dari cerita. Ketika cukup banyak orang percaya Rupiah akan jatuh, mereka mulai bertindak seolah-olah kejatuhan itu sudah terjadi. Dan pada titik itulah pasar berhenti menjadi cermin realitas, dan berubah menjadi mesin yang memproduksi realitasnya sendiri. Dalam ekonomi abad ke-21, ketakutan bukan sekadar reaksi terhadap krisis—ia adalah bahan bakar krisis itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, arah Rupiah tidak akan ditentukan oleh seberapa besar arus Dolar yang keluar masuk, melainkan oleh seberapa tenang kita menghadapi badai. Sebagaimana ajaran Spinoza, kita harus berusaha untuk tidak meratap, tidak menertawakan, tidak mengutuk, melainkan memahami. Memahami bahwa volatilitas adalah bagian dari hidup, dan bahwa angka Rp20.000 hanyalah sebuah bayangan yang akan sirna jika kita mampu menjaga cahaya kepercayaan kita sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ekonomi kita bukan hanya soal berapa harga satu Dolar hari ini. Ia adalah soal martabat sebuah bangsa yang menolak untuk didikte oleh ketakutannya sendiri. Karena itu, kedaulatan moneter pada akhirnya bukan hanya soal cadangan devisa, suku bunga, atau intervensi. Ia juga soal disiplin bahasa. Negara yang gagal menjaga tata bahasa ekonominya akan lebih mudah digoyang oleh spekulasi daripada oleh defisit itu sendiri. Sebab di zaman pasar yang digerakkan ekspektasi, kata-kata yang sembrono dapat lebih mahal daripada angka yang salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rupiah mungkin akan berayun, sebagaimana laut yang tak pernah benar-benar tenang. Tetapi sebuah republik tidak boleh menyerahkan psikologinya kepada para pedagang kiamat ekonomi. Kurs boleh berfluktuasi. Namun kepercayaan tidak boleh runtuh hanya karena sebuah angka yang dijadikan berhala.</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<h2 class="wp-block-heading has-text-align-center"><strong>LAMPIRAN DATA</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Lima Angka yang Menjawab Skenario Rp20.000</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketika narasi tentang Rupiah menyentuh Rp20.000 per Dolar AS bergulir di ruang publik, data berbicara lebih dingin dari kegelisahan. Tim PinterPolitik merangkum indikator ketahanan eksternal Indonesia per Maret 2026 — beserta dua lampu kuning yang tidak boleh diabaikan.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>I. Lima Pilar Antibodi Moneter</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Data bersumber dari Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dirilis sepanjang Januari–Maret 2026.</p>


<div class="wp-block-image">
<div><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2.png" class="td-modal-image"><figure class="aligncenter size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="602" height="480" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2.png" alt="picture1 ok" class="wp-image-168307" style="aspect-ratio:4/3;object-fit:cover" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2.png 602w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2-768x612.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2-150x119.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2-300x239.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2-696x554.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2-1068x851.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture1_ok-2-1920x1530.png 1920w" sizes="(max-width: 602px) 100vw, 602px" /></figure></a></div>
</div>


<figure class="wp-block-image size-full is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" width="602" height="476" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1.png" alt="picture4" class="wp-image-168315" style="aspect-ratio:4/3;object-fit:cover;width:1px" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1.png 602w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1-768x607.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1-150x118.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1-300x237.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1-696x550.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1-1068x844.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture4-1-1920x1518.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>II. Dua Lampu Kuning yang Tidak Boleh Diabaikan</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketahanan bukan berarti ketiadaan risiko. Data berikut adalah sinyal nyata yang harus direspons oleh kebijakan — bukan ditutup oleh retorika.</p>


<div class="wp-block-image">
<div><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5.png" class="td-modal-image"><figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="602" height="208" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5.png" alt="picture5" class="wp-image-168316" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5.png 602w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5-768x265.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5-150x51.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5-300x103.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5-696x240.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5-1068x369.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture5-1920x663.png 1920w" sizes="auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px" /></figure></a></div>
</div>


<p class="wp-block-paragraph"><strong>III. Membaca Data Secara Utuh</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Kelima pilar ketahanan di atas bukanlah alasan untuk bersantai. Dua lampu kuning adalah sinyal nyata yang harus direspons. Namun dalam perspektif yang jujur, kondisi Indonesia hari ini berbeda secara struktural dari tahun 1998: cadangan devisa hampir <strong>20 kali lipat</strong> lebih besar, neraca perdagangan surplus hampir enam tahun tanpa henti, dan probabilitas resesi berada di level terendah di antara negara berkembang sebanding.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Angka Rp20.000 per Dolar AS bukan mustahil dalam skenario geopolitik terburuk. Tapi ia juga bukan takdir. Ia adalah salah satu titik dalam rentang probabilitas — dan data menunjukkan bahwa fundamen Indonesia saat ini memberikan <em>jangkar yang cukup kuat</em> untuk mencegah spiral depresiasi yang tak terkendali, selama respons kebijakan tetap cepat, terukur, dan tidak panik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Satu pekerjaan rumah yang belum selesai adalah edukasi pelaku pasar secara sistematis. Importir yang bergegas memborong Dolar bukan karena kebutuhan riil, dan korporasi yang melakukan <em>hedging</em> berlebihan bukan karena risiko terukur, keduanya sedang bertindak di bawah dikte trauma 1998 — bukan atas dasar analisis fundamental 2026. Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan perlu menjadikan komunikasi kebijakan bukan sekadar pengumuman teknis, melainkan sebuah <em>counter-narrative</em> yang aktif: menjelaskan secara berkala mengapa kondisi hari ini berbeda, apa yang sedang dilakukan, dan di mana batas toleransi intervensi. Pasar yang teredukasi adalah komponen ketahanan yang tidak kalah pentingnya dari cadangan devisa itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>IV. Mengapa 2026 Bukan 1998</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbandingan dengan krisis 1997–1998 sering muncul dalam diskursus publik, tetapi jarang dilakukan secara struktural. Tahun 1998 ditandai oleh kombinasi yang sangat spesifik: utang valas korporasi yang rapuh dan tidak ter-<em>hedge</em>, sektor perbankan yang kolaps karena moral hazard sistemik, kredibilitas kelembagaan yang lebih lemah, dan cadangan devisa yang jauh lebih terbatas. Keempat kondisi itu hadir bersamaan dan saling memperkuat dalam spiral yang destruktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2026 tetap memiliki risiko—lampu kuning di Seksi II adalah buktinya. Namun fondasi kelembagaan, fleksibilitas kebijakan moneter, struktur utang korporasi yang lebih sehat, serta penyangga eksternal Indonesia berada pada tingkat yang berbeda secara struktural. Membaca tekanan kurs 2026 dengan kacamata 1998 bukan hanya tidak akurat—ia adalah jalan pintas intelektual yang berpotensi menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Catatan Redaksi</strong></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Data dalam lampiran ini dikompilasi oleh Tim Riset PinterPolitik.com dari sumber-sumber resmi: Bank Indonesia (BI), Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Seluruh data mengacu pada rilis resmi periode Januari–Maret 2026.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Lampiran ini merupakan pendamping analisis opini: “Ketika Angka Menjadi Berhala: Mengapa Narasi Rupiah 20.000 Bisa Mengubah Ekspektasi Menjadi Tekanan Nyata” oleh Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc. Chairman PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis dan Pemimpin Redaksi PinterPolitik.co</em>m. <em>Maret 2026.</em></p>



<p class="wp-block-paragraph">PinterPolitik.com&nbsp; —&nbsp; Tim Riset&nbsp; —&nbsp; Maret 2026</p>



<p class="wp-block-paragraph">**********************</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<pre class="wp-block-preformatted"><strong>Tentang Penulis</strong></pre>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc</strong><em>.</em><br><em><em>Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis</em></em><br><em><em><em>Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com</em></em></em></p>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/dolar-1-irkdr96d.mp3" length="7648628" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/picture6-3-1024x576.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rahasia Besar Purbaya–Thomas?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rahasia-besar-purbaya-thomas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Jan 2026 08:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Gubernur BI]]></category>
		<category><![CDATA[Perry Warjiyo]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[Rupiah]]></category>
		<category><![CDATA[Thomas Djiwandono]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166919</guid>

					<description><![CDATA[Kontroversi pernyataan Purbaya soal rupiah bukan sekadar ucap koboy. Ia hadir di tengah kelelahan publik, stagnasi moneter BI, dan agenda pergantian gubernur. Munculnya Thomas Djiwandono membuka dugaan desain koordinasi baru fiskal–moneter yang bisa mengakhiri era kehati-hatian berlebih di balik transisi kepemimpinan Bank Indonesia ke depan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/purbaya-thomas-s.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kontroversi pernyataan Purbaya soal rupiah bukan sekadar ucap koboy. Ia hadir di tengah kelelahan publik, stagnasi moneter BI, dan agenda pergantian gubernur. Munculnya Thomas Djiwandono membuka dugaan desain koordinasi baru fiskal–moneter yang bisa mengakhiri era kehati-hatian berlebih di balik transisi kepemimpinan Bank Indonesia ke depan.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tentang kemampuan menguatkan rupiah dalam waktu singkat sempat memicu kontroversi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara normatif, otoritas nilai tukar berada di Bank Indonesia (BI), bukan Kementerian Keuangan. Namun dalam politik ekonomi, membaca pernyataan pejabat tinggi secara tekstual atau membaca kalimat <em>headline</em> semata justru sering keliru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalimat publik adalah instrumen kekuasaan, terutama ketika ia muncul di tengah krisis kepercayaan terhadap kinerja institusi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama kepemimpinan Gubernur BI Perry Warjiyo sejak 2018, rupiah tercatat mengalami depresiasi kumulatif sekitar 18 persen terhadap dolar AS. Angka ini bukan sekadar statistik pasar, tetapi berdampak langsung pada inflasi impor, kenaikan harga pangan dan energi, serta penurunan daya beli kelas menengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, pelemahan rupiah tidak lagi netral—ia menjadi persoalan sosial dan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah pernyataan Purbaya memperoleh makna. Ia tidak berdiri di ruang hampa, melainkan hadir di tengah keletihan publik terhadap stabilitas moneter dan beriringan dengan agenda pergantian pucuk pimpinan BI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Munculnya nama Thomas Djiwandono sebagai figur baru mempertegas bahwa yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar siapa memimpin BI, melainkan arah desain kebijakan moneter Indonesia.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Perry dan Stagnasi Moneter?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik terhadap Perry Warjiyo kerap disederhanakan sebagai dampak faktor global: perang, pandemi, hingga pengetatan moneter Amerika Serikat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, penjelasan ini hanya sebagian benar. Negara-negara dengan tekanan eksternal serupa menunjukkan hasil berbeda, tergantung kualitas respons institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka Institutional Performance, pelemahan rupiah era Perry agaknya mencerminkan tiga persoalan utama.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, komunikasi kebijakan yang defensif. BI lebih sering merespons pasar daripada membentuk ekspektasi. <em>Kedua</em>, keterputusan koordinasi fiskal–moneter. Independensi BI justru menjelma menjadi jarak, bukan sinergi.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, ketergantungan pada instrumen suku bunga yang terbukti terbatas dalam menahan arus modal dan spekulasi valas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dampaknya terasa nyata. Inflasi, meski terkendali secara headline, menekan konsumsi riil. Daya beli rumah tangga melemah, sementara rupiah yang terdepresiasi memperbesar biaya impor dan beban subsidi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif Political Economy of Inflation, stabilitas harga bukan hanya soal target angka, tetapi kepercayaan publik terhadap masa depan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini, kritik terhadap Perry bukan serangan personal, melainkan evaluasi struktural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">BI era Perry dinilai terlalu berhati-hati, bahkan pasif, dalam menghadapi dinamika pasar yang semakin agresif. Stabilitas yang dijaga adalah stabilitas prosedural, bukan stabilitas substantif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini dan sekali lagi, yang membuat “sinyal” Purbaya mengenai rupiah signifikan adalah momentumnya. Ia muncul beriringan dengan agenda pergantian pucuk pimpinan BI dan mencuatnya nama Thomas Djiwandono—figur yang dikritik independensinya karena latar belakang politik dan relasi kekerabatan dengan Presiden Prabowo Subianto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, pernyataan Purbaya tidak lagi berdiri sendiri, melainkan masuk ke dalam arsitektur transisi moneter-fiskal yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik terhadap Thomas sering berhenti pada dikotomi lama, independensi versus intervensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal persoalan mendasarnya yang tampak justru terletak pada stagnasi, bahkan kemunduran persepsi efektivitas BI dalam menjaga stabilitas rupiah selama satu dekade terakhir.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya.png" alt="sungkem! serok winstreak ihsg purbaya" class="wp-image-166654" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/sungkem-serok-winstreak-ihsg-purbaya-1068x1335.png 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Rencana Besar dan Desain Koordinasi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Masuknya Thomas Djiwandono ke dalam bursa kepemimpinan BI memunculkan kritik soal independensi, mengingat latar belakang politik dan relasi kekerabatan dengan Presiden Prabowo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kritik ini sering melupakan satu fakta penting: sejarah BI menunjukkan bahwa stabilitas rupiah justru lahir dari kepemimpinan yang kuat dan terkoordinasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa Gubernur BI kerap dianggap paling berhasil dalam konteks rupiah, Radius Prawiro, Soedradjad Djiwandono, Boediono, Burhanuddin Abdullah, dan Agus Martowardojo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Benang merahnya bukan jarak dari pemerintah, melainkan kemampuan mengelola koordinasi tanpa kehilangan kredibilitas teknokratis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka <em>embedded autonomy</em>, figur seperti Thomas dapat dibaca sebagai upaya membangun kembali BI yang otonom namun tertanam dalam strategi negara. Di sinilah Purbaya berperan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rekam jejaknya membongkar praktik <em>underpricing</em>, manipulasi bea cukai, hingga restitusi pajak bermasalah menunjukkan bahwa ia bukan komunikator kosong, melainkan aktor tekanan struktural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan Purbaya tentang rupiah, dalam perspektif <em>Speech Act Theory</em> kiranya adalah tindakan politik. Ia memberi sinyal bahwa negara siap mengoreksi disonansi lama antara fiskal dan moneter. Bukan mengambil alih BI, tetapi mengakhiri stagnasi yang membuat rupiah rapuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalah rupiah Indonesia bukan semata faktor global. Masalahnya adalah kepemimpinan moneter yang terlalu aman di saat situasi menuntut keberanian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika era Perry Warjiyo ditandai oleh kehati-hatian berlebih dan pelemahan rupiah, maka poros Purbaya–Thomas agaknya menawarkan satu janji, koordinasi sebagai sumber stabilitas baru yang lebih menjanjikan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="juKLVhxaP8A"><iframe loading="lazy" title="Kejagung Melesat, KPK Dibawa ke Mana?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/juKLVhxaP8A?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/purbaya-thomas-s.mp3" length="2081132" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/purbaya-thomas-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>‘Luffy-nisasi’ Menkeu Purbaya?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/luffy-nisasi-menkeu-purbaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2025 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Luffy]]></category>
		<category><![CDATA[Menkeu]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Monkey D. Luffy]]></category>
		<category><![CDATA[One Piece]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[shonen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165965</guid>

					<description><![CDATA[Ekonomi Indonesia dibayangi narasi ketakutan. Namun, Purbaya hadir dengan optimisme ala Luffy. Mampukah semangat ini ubah nasib bangsa?
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/luffy-nisasi-menkeu-purbaya.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ekonomi Indonesia dibayangi narasi ketakutan. Namun, Menkeu Purbaya hadir dengan optimisme ala Luffy. Mampukah semangat ini mengubah nasib bangsa?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“できるかできないかじゃない。 なりたいからなるんだ。 海賊王になるって決めたんだから、 そのために死ぬならそれでいい。” – Monkey D. Luffy, “Episode 1: I&#8217;m Luffy! The Man Who&#8217;s Gonna Be King of Pirates!” dalam <em>One Piece </em>(1999-sekarang)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dalam saga epik <em>One Piece</em>, ada sebuah pola narasi yang selalu berulang dan menjadi ciri khas petualangan Monkey D. Luffy. Setiap kali kapal Thousand Sunny merapat ke sebuah pulau baru, pulau tersebut hampir selalu sedang dalam keadaan &#8220;sakit&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lihat saja Alabasta yang kering kerontang dan dilanda perang saudara akibat manipulasi Crocodile. Atau tengoklah Dressrosa, negeri yang tampak ceria di luar namun menyimpan rahasia kelam perbudakan di bawah tanah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puncaknya adalah Negeri Wano, sebuah wilayah isolasionis yang rakyatnya dipaksa hidup dalam kelaparan dan ketakutan selama 20 tahun. Di pulau-pulau ini, atmosfer yang terbangun adalah keputusasaan, stagnasi, dan hilangnya kemampuan untuk bermimpi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para penduduknya hidup dalam mode bertahan, terlalu takut untuk berharap karena harapan seringkali berujung pada kekecewaan. Penguasa lokal atau keadaan memaksa mereka percaya bahwa perubahan adalah hal yang mustahil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, datanglah Luffy, seorang kapten bajak laut yang tidak paham politik tapi memiliki energi optimisme yang meledak-ledak. Luffy tidak datang dengan rencana strategis yang rumit atau kalkulasi untung-rugi yang jelimet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia datang dengan tawa lebar, tindakan nekat, dan proklamasi lantang bahwa ia akan menjadi Raja Bajak Laut. Kehadirannya seperti badai yang memporak-porandakan tatanan lama yang kaku dan menyiksa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di mana Luffy berpijak, tembok ketakutan runtuh dan keberanian penduduk lokal bangkit kembali. Ia adalah katalis yang mengubah mentalitas &#8220;pasrah pada nasib&#8221; menjadi semangat perlawanan untuk meraih kebebasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, mari kita tarik benang merah dari fiksi bajak laut ini ke realitas ekonomi Indonesia di tahun 2025. Harus diakui, atmosfer ekonomi kita belakangan ini terasa seperti versi halus dari &#8220;Negeri Wano&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama bertahun-tahun, narasi yang mendominasi ruang publik adalah narasi kehati-hatian yang berlebihan. Kita terus-menerus disuguhi berita tentang ancaman resesi global, perang dagang, dan kerentanan fiskal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para teknokrat dan pengamat ekonomi seolah berlomba-lomba menjadi pembawa kabar buruk demi alasan &#8220;prudence&#8221; atau kehati-hatian. Akibatnya, pelaku pasar dan masyarakat terkunci dalam mentalitas ketakutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengusaha menunda ekspansi karena takut rugi, dan kelas menengah menahan belanja karena takut krisis. Ekonomi bergerak lambat, terjebak dalam siklus stagnasi yang seolah tak berujung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah mendung tebal itulah, sosok Purbaya Yudhi Sadewa muncul di panggung utama sebagai Menteri Keuangan. Gayanya sangat kontras dengan pendahulunya yang identik dengan wajah serius dan nada bicara yang penuh peringatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya datang bukan dengan wajah muram seorang akuntan yang pusing menghitung uang receh. Ia datang dengan senyum lebar dan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang terdengar ambisius, bahkan bagi sebagian orang, tidak masuk akal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kaum teknokrat lama yang terbiasa dengan target konservatif, ucapan Purbaya terdengar naif dan berbahaya. Bagaimana mungkin kita bicara ekspansi besar-besaran saat dunia sedang tiarap dan penuh ketidakpastian?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, justru di situlah letak fenomena &#8220;Luffy-nisasi&#8221; yang sedang dimainkan oleh sang menteri. Purbaya seolah berkata, &#8220;Persetan dengan ketakutan global, kita punya jalan kita sendiri untuk maju!&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia mencoba membebaskan mentalitas pasar Indonesia dari penjara pesimisme yang dibangun oleh trauma krisis masa lalu. Ia ingin mengubah pola pikir kolektif dari &#8220;kita akan bangkrut&#8221; menjadi &#8220;kita akan terbang tinggi&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedatangannya membawa angin perubahan yang dirasakan nyata, mulai dari lantai bursa hingga obrolan di warung kopi. Seperti penduduk Wano yang mendengar tabuhan genderang kebebasan, pasar mulai bereaksi terhadap sinyal positif ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada desas-desus tentang peluang baru, proyek strategis, dan arus uang yang akan mengalir lebih deras. Purbaya, secara sadar atau tidak, sedang memposisikan dirinya sebagai sosok pembebas dari kejumudan narasi ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia ingin meruntuhkan tembok birokrasi yang kaku dan menggantinya dengan kebijakan yang lebih elastis dan berani. Namun, apakah &#8220;sihir&#8221; perubahan ini bisa dijelaskan secara rasional, atau hanya sekadar euforia sesaat?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu saja fenomena ini memiliki landasan ilmiah yang kuat jika kita membedahnya dengan pisau analisis psikologi. Apa yang dilakukan Purbaya adalah sebuah intervensi perilaku yang terukur untuk mengubah nasib ekonomi bangsa.</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/reel/DRvQ9U1jGbw/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/reel/DRvQ9U1jGbw/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/reel/DRvQ9U1jGbw/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Teori Optimisme dan Mekanisme Koping Negara</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepala Purbaya, kita perlu merujuk pada literatur psikologi tentang optimisme. Secara spesifik, kita bisa menggunakan kerangka teori <em>Dispositional Optimism</em> yang dirumuskan oleh Charles Carver dan Michael Scheier.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam pandangan mereka, optimisme bukanlah sekadar perasaan senang yang dangkal atau &#8220;happy-go-lucky&#8221;. Optimisme adalah sebuah sifat kepribadian yang stabil (<em>stable personality trait</em>), sebuah keyakinan mendasar bahwa hal baik akan terjadi di masa depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Poin kuncinya ada pada bagaimana seorang optimis merespons kesulitan atau <em>adversity</em>. Carver dan Scheier menemukan bahwa seorang optimis cenderung menggunakan strategi yang disebut <em>problem-focused coping</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Artinya, saat menghadapi masalah, mereka tidak lari, menyangkal, atau bersembunyi di balik alasan (<em>avoidance</em>). Mereka langsung menabrak masalah tersebut dengan keyakinan penuh bahwa usaha mereka akan membuahkan hasil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lihatlah paralelnya dengan karakter Luffy; saat kalah dari musuh kuat, ia tidak pernah menyerah atau kabur. Ia akan mencari cara baru, jurus baru, atau strategi baru untuk menang, karena ia yakin tujuannya bisa tercapai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya pun demikian; saat dihadapkan pada defisit anggaran atau target pajak yang tinggi, ia tidak memilih jalan pintas pemangkasan (<em>austerity</em>). Ia memilih <em>problem-focused coping</em> dengan mencari sumber pendapatan baru yang kreatif dan intensifikasi investasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, analisis ini akan semakin tajam jika kita menggunakan teori <em>Explanatory Style</em> dari Martin Seligman. Seligman, bapak psikologi positif, menjelaskan bahwa kunci optimisme terletak pada bagaimana seseorang menjelaskan penyebab sebuah peristiwa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada perbedaan mendasar antara &#8220;Gaya Penjelasan Pesimis&#8221; dan &#8220;Gaya Penjelasan Optimis&#8221;. Seorang pesimis cenderung melihat kejadian buruk (seperti krisis ekonomi) sebagai sesuatu yang <em>Internal</em>, <em>Stable</em>, dan <em>Global</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka akan berkata: &#8220;Krisis ini salah kita (internal), akan berlangsung selamanya (stable), dan menghancurkan semua sektor (global).&#8221; Narasi seperti inilah yang sering kita dengar dari pengamat yang terlalu hati-hati, yang akhirnya menciptakan kelumpuhan massal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, Purbaya menerapkan <em>Optimistic Explanatory Style</em> yang sangat adaptif dalam komunikasi publiknya. Ia membingkai masalah ekonomi sebagai sesuatu yang <em>External</em>, <em>Unstable</em>, dan <em>Specific</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengar saja bagaimana ia merespons pelemahan nilai tukar atau inflasi dalam konferensi pers. Ia akan mengatakan, &#8220;Ini adalah dampak geopolitik luar negeri (external), ini hanya gejolak sementara (unstable).&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia juga akan menekankan, &#8220;Fundamental sektor riil kita masih kuat dan tidak terpengaruh (specific).&#8221; Ini adalah teknik <em>reframing</em> (pembingkaian ulang) yang sangat canggih untuk menjaga mentalitas pasar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menolak melihat krisis sebagai takdir yang permanen, Purbaya mencegah masyarakat jatuh ke dalam <em>Learned Helplessness</em>. <em>Learned Helplessness</em> adalah kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari karena seseorang merasa tidak punya kontrol atas situasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Luffy selalu menolak untuk tidak berdaya; baginya, tidak ada musuh yang tidak bisa dikalahkan. Purbaya ingin menularkan keyakinan serupa: tidak ada target pertumbuhan yang tidak bisa dicapai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara psikologis, pendekatan ini berfungsi sebagai sumber daya kognitif (<em>cognitive resource</em>) yang kuat. Riset menunjukkan bahwa optimisme berkorelasi langsung dengan ketahanan (<em>resilience</em>) dan kesehatan fisik yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks negara, &#8220;kesehatan fisik&#8221; itu adalah aliran investasi dan daya beli masyarakat. Jika Purbaya berhasil meyakinkan pasar bahwa masa depan cerah, maka pasar akan bertindak seolah-olah masa depan memang cerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini menciptakan apa yang disebut <em>self-fulfilling prophecy</em> atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Pelaku usaha menjadi lebih berani mengambil risiko, dan roda ekonomi berputar lebih kencang karena diminyaki oleh harapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya sadar bahwa musuh terbesar pemulihan ekonomi bukanlah data statistik, melainkan psikologi ketakutan. Maka, ia menggunakan optimismenya sebagai instrumen kebijakan untuk membangkitkan semangat juang bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, ilmu psikologi tidak hanya memberikan pujian tentang manfaat optimisme. Seligman juga memberikan peringatan keras tentang sisi gelap dari keyakinan yang berlebihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada garis tipis yang memisahkan antara optimisme yang sehat dengan delusi yang berbahaya. Dan di sinilah kita harus mulai kritis: apakah &#8220;Luffy-nisasi&#8221; ini akan membawa kita ke pulau harta karun, atau menabrak karang?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DRmksv5Dcio/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DRmksv5Dcio/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DRmksv5Dcio/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>‘Gear 5’ ala Purbaya?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kembali ke analogi <em>One Piece</em>, kekuatan terbesar Luffy saat ini adalah wujud Gear 5, representasi Dewa Matahari Nika. Dalam wujud ini, Luffy menjadi perwujudan kebebasan mutlak; ia bisa melakukan apa saja sesuai imajinasinya sambil tertawa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, narasi manganya secara eksplisit menyebutkan bahwa kekuatan ini membebani jantung penggunanya secara ekstrem. Setiap kali Luffy menggunakan kekuatan ini, ia mempertaruhkan usia hidupnya dan berisiko pingsan karena kelelahan total.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Metafora &#8220;memperpendek usia hidup demi kekuatan sesaat&#8221; ini sangat relevan untuk menggambarkan risiko kebijakan fiskal yang ugal-ugalan. Purbaya mungkin bisa memacu ekonomi Indonesia berlari kencang dengan membakar anggaran negara secara agresif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belanja pemerintah digenjot habis-habisan dan proyek raksasa dikebut demi mengejar angka pertumbuhan 8 persen. Dampak jangka pendeknya pasti terasa manis: ekonomi bergairah dan angka statistik terlihat hijau memukau.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi, ada harga mahal yang harus dibayar di kemudian hari, sebuah kondisi yang dalam ekonomi disebut <em>overheating</em>. Jika uang beredar terlalu banyak tanpa diimbangi kapasitas produksi, inflasi akan meledak tak terkendali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih parah lagi, defisit anggaran yang melebar adalah utang yang harus ditanggung oleh generasi mendatang. Kita seolah &#8220;meminjam&#8221; kemakmuran masa depan untuk dinikmati hari ini, persis seperti Luffy meminjam energi hidupnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Luffy seringkali bertindak tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang karena fokusnya hanya pada kemenangan saat ini. Apakah Purbaya memiliki rencana mitigasi untuk fase &#8220;kelelahan&#8221; pasca pesta pertumbuhan ini?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah kita membutuhkan keseimbangan, dan psikologi menawarkan solusi melalui konsep <em>The Stockdale Paradox</em>. Konsep ini mengajarkan bahwa keyakinan akan kemenangan (optimisme) harus berjalan beriringan dengan kesadaran akan fakta brutal (realisme).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Optimisme tanpa realisme hanyalah <em>maladaptive denial</em> atau penyangkalan yang tidak sehat. Jika Purbaya terus-menerus menganggap semua masalah adalah faktor eksternal, ia berisiko buta terhadap penyakit internal ekonomi kita.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inefisiensi birokrasi, korupsi, dan kebocoran anggaran adalah masalah &#8220;Internal&#8221; dan &#8220;Stable&#8221; yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan senyuman. Seorang pemimpin yang terjebak dalam bias optimisme mungkin akan mengabaikan detail-detail krusial ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam cerita <em>One Piece</em>, Luffy bisa selamat dari kecerobohannya karena ia memiliki kru yang menyeimbangkannya. Ia memiliki Nami, sang navigator yang sangat perhitungan soal uang, cuaca, dan logistik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nami adalah sosok realis yang akan memukul kepala Luffy jika sang kapten bertindak bodoh dan membahayakan kapal. Pertanyaan besarnya bagi kita hari ini adalah: Siapakah &#8220;Nami&#8221; di samping Menkeu Purbaya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah ada sosok di kementerian atau kabinet yang berani berkata &#8220;Tidak&#8221; dan mengingatkan tentang batas kemampuan anggaran? Atau jangan-jangan, semua orang di sekelilingnya sudah tertular euforia dan berubah menjadi <em>Yes Man</em>?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika birokrasi kita hanya berisi para pendukung yang mengiyakan segala ambisi tanpa kalkulasi, kita sedang menuju bencana. Kapal ekonomi Indonesia bisa karam justru karena nakhodanya terlalu yakin bisa menembus badai tanpa melihat kompas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Riset Seligman tentang <em>Learned Optimism</em> menekankan pentingnya <em>disputation</em> atau kemampuan mendebat pikiran negatif. Namun, dalam kebijakan publik, kita juga butuh <em>disputation</em> terhadap pikiran yang terlalu positif agar tetap membumi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Indonesia memang merindukan sosok pembawa perubahan yang berani mendobrak stagnasi seperti Luffy. Kita butuh energi dan keberanian Purbaya untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah yang menyesakkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, negara tidak bisa dikelola hanya dengan semangat petualangan dan narasi kepahlawanan. Kebebasan dan harapan yang dibawa Purbaya harus diletakkan di atas fondasi data yang kuat dan akuntabel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Luffy-nisasi&#8221; adalah strategi yang brilian untuk memulai momentum dan membakar semangat pasar. Tapi untuk menjaga agar momentum itu berkelanjutan, kita butuh kedewasaan manajerial dan disiplin fiskal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jangan sampai sorak-sorai kegembiraan pasar hari ini berubah menjadi tangisan saat tagihan utang jatuh tempo. Sebab di dunia nyata, tidak ada penulis cerita yang akan menyelamatkan kita dengan keajaiban di detik-detik terakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Purbaya menawarkan sebuah visi yang menggoda: sebuah petualangan menuju kemakmuran. Kita semua tentu berharap &#8220;kapal&#8221; ini sampai ke tujuan dengan selamat dan rakyat sejahtera.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semoga optimisme Pak Menteri adalah pelita yang menerangi jalan, bukan api yang membakar hangus persediaan logistik kita. Selamat berlayar, Kapten Purbaya, tapi tolong pastikan kita punya cukup bekal untuk pulang. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="duzqhV8V_Jo"><iframe loading="lazy" title="One Piece: Politik dalam Anime &amp; Manga" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/duzqhV8V_Jo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/luffy-nisasi-menkeu-purbaya.mp3" length="7188957" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/luffy-nisasi-menkeu-purbaya-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Politik Bad Cop Purbaya</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/politik-bad-cop-purbaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2025 11:55:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165316</guid>

					<description><![CDATA[Gaya komunikasi kontroversial Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bukan sekadar karakter personal, melainkan strategi terkalkulasi untuk membalikkan sentimen ekonomi melalui kepercayaan pasar. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/mix-9m57s-audio-joinercom.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Gaya komunikasi kontroversial Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bukan sekadar karakter personal, melainkan strategi terkalkulasi untuk membalikkan sentimen ekonomi melalui kepercayaan pasar. Namun, apakah optimisme artifisial cukup untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dalam dunia politik dan ekonomi Indonesia, kemunculan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ibarat angin segar yang membawa aroma kontroversial. Berbeda dengan pendahulunya yang dikenal berhati-hati dalam setiap pernyataan publik, Purbaya memilih jalan yang berbeda: ceplas-ceplos, tegas, bahkan cenderung provokatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya komunikasinya yang kerap disebut &#8220;koboi&#8221; ini memicu perdebatan sengit—ada yang memuji keberaniannya, ada pula yang mengkritik sebagai tindakan gegabah yang tidak pantas untuk seorang menteri keuangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di balik kontroversi tersebut, Purbaya menegaskan bahwa gaya komunikasinya bukanlah hasil dari impulsivitas atau arogansi personal. Sebaliknya, ia mengklaim bahwa pendekatan drastis ini merupakan strategi yang disengaja, dirancang dengan cermat untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih besar: membangun kembali kepercayaan pasar dan menciptakan optimisme yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian: seberapa efektif strategi ini, dan apakah fondasi teoretisnya cukup kuat untuk mengantarkan Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi ambisius 8 persen?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Strategi Komunikasi yang Disengaja</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya meyakini bahwa transparansi ekstrem dan kejujuran tanpa basa-basi dapat menjadi obat mujarab untuk membalikkan sentimen negatif masyarakat terhadap pemerintah. Dalam pandangannya, masyarakat Indonesia telah terlalu lama diberi janji-janji manis yang tidak pernah terwujud, sehingga skeptisisme terhadap pemerintah mencapai titik kritis. Kondisi ini diperparah oleh situasi ekonomi yang menantang dan berbagai kebijakan kontroversial yang memicu gelombang demonstrasi besar-besaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Data dari survei Indeks Kepercayaan Masyarakat memberikan validasi empiris atas klaim Purbaya. Indeks kepercayaan publik terhadap pemerintah mengalami penurunan drastis pada periode Juli-September 2025, bertepatan dengan munculnya berbagai protes dan ketidakpuasan sosial. Namun, setelah Purbaya mulai menerapkan gaya komunikasinya yang tegas dan kebijakan-kebijakan yang dianggap &#8220;drastis&#8221;, indeks kepercayaan mulai menunjukkan pemulihan dan kembali ke level yang lebih stabil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya sendiri menegaskan bahwa pendekatan komunikasinya mendapat restu langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Ini bukan aksi individual seorang menteri yang bertindak di luar kendali, melainkan bagian dari strategi komunikasi pemerintahan yang terkoordinasi. Ia mengamati bahwa sentimen publik terhadap pemerintah cenderung membaik ketika kondisi ekonomi menunjukkan perbaikan, dan gaya komunikasinya dirancang untuk mengiringi dan memperkuat momentum perbaikan tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik terhadap gaya Purbaya memang tidak sedikit. Banyak yang menilai komunikasinya sebagai &#8220;baku tikam&#8221; antarpejabat yang menciptakan kesan tidak solidnya kabinet. Namun, dari perspektif Purbaya, keterbukaan dalam mengungkap permasalahan—bahkan jika itu berarti mengkritisi kinerja kementerian lain—justru menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan masalah, bukan menyembunyikannya. Pendekatan ini, menurutnya, lebih efektif dalam membangun kepercayaan jangka panjang dibandingkan dengan harmoni semu yang justru menutupi inefisiensi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Self-Fulfilling Prophecy</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Strategi komunikasi Purbaya bukan sekadar intuisi atau eksperimen tanpa landasan. Ia secara eksplisit merujuk pada konsep ekonomi yang telah mapan: self-fulfilling prophecy atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri. Konsep ini ia pelajari dari buku <em>The Macroeconomics of Self-fulfilling Prophecies</em> karya ekonom Roger E.A. Farmer, yang diterbitkan oleh MIT Press pada 1993.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam buku tersebut, Farmer menjelaskan fenomena penting dalam ekonomi makro: bagaimana ekspektasi dan keyakinan pelaku ekonomi dapat menciptakan realitas yang sesuai dengan ramalan mereka. Farmer berargumen bahwa fluktuasi ekonomi—boom dan resesi—sering kali bukan sekadar hasil dari perubahan fundamental seperti produktivitas atau teknologi, melainkan didorong oleh apa yang oleh Keynes disebut sebagai &#8220;animal spirits&#8221;: gelombang optimisme atau pesimisme spontan yang memengaruhi keputusan investasi dan konsumsi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mekanismenya dapat dijelaskan sebagai berikut: ketika pelaku pasar—baik konsumen maupun investor—merasa optimis tentang masa depan ekonomi, mereka cenderung meningkatkan pengeluaran dan investasi. Peningkatan aktivitas ekonomi ini kemudian menciptakan pertumbuhan nyata, yang pada gilirannya memvalidasi optimisme awal. Sebaliknya, ketika pesimisme merajalela, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja dan berinvestasi, yang justru memperlambat ekonomi dan membenarkan kekhawatiran mereka. Dengan kata lain, ekspektasi kolektif secara aktif membentuk realitas ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya menerapkan prinsip teoretis ini dalam strategi komunikasinya. Dengan menyampaikan pesan-pesan yang tegas, menunjukkan kebijakan yang jelas dan terukur, serta mengkomunikasikan visi ekonomi dengan penuh keyakinan, ia berupaya menciptakan gelombang optimisme di kalangan pelaku pasar. Harapannya, optimisme ini akan mendorong perilaku ekonomi yang ekspansif—peningkatan konsumsi, investasi yang lebih berani, dan aktivitas bisnis yang lebih dinamis—yang pada akhirnya akan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep &#8220;animal spirits&#8221; yang dipopulerkan oleh John Maynard Keynes dalam <em>The General Theory of Employment, Interest and Money</em> (1936) menjadi fondasi dari pemikiran ini. Keynes berargumen bahwa dalam kondisi ketidakpastian, keputusan ekonomi tidak semata-mata didasarkan pada kalkulasi rasional dan matematis, melainkan juga pada emosi, intuisi, dan &#8220;dorongan spontan untuk bertindak&#8221;. Penelitian modern dalam bidang ekonomi perilaku terus mengonfirmasi bahwa kepercayaan konsumen dan pelaku bisnis memiliki efek riil pada kinerja ekonomi, bukan sekadar epifenomena yang mengikuti perubahan fundamental.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tantangan Realitas: Apakah Optimisme Cukup?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Meski fondasi teoretisnya kuat dan data awal menunjukkan pemulihan kepercayaan, strategi Purbaya menghadapi ujian berat dalam bentuk target pertumbuhan ekonomi yang sangat ambisius. Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 8 persen, angka yang jauh melampaui kinerja historis Indonesia dalam dekade terakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak sederhana. Ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen pada kuartal kedua 2025, kemudian menurun menjadi 5,04 persen pada kuartal ketiga tahun yang sama. Purbaya sendiri mengakui bahwa target 8 persen dalam waktu dekat adalah sesuatu yang sangat sulit dicapai, memerlukan kondisi optimal dan waktu setidaknya 2-3 tahun untuk direalisasikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik terhadap efektivitas strategi Purbaya mulai bermunculan, terutama terkait dengan apa yang disebut &#8220;Purbaya Effect&#8221;—kebijakan penempatan dana Rp200 triliun ke bank-bank BUMN untuk meningkatkan likuiditas perbankan. Meskipun langkah ini dimaksudkan untuk mendorong penyaluran kredit dan meningkatkan konsumsi, dampaknya belum terlihat signifikan. Transmisi dari likuiditas perbankan ke kredit riil terhambat karena bank-bank tetap menerapkan penilaian risiko secara konservatif, sementara konsumsi rumah tangga melambat akibat suku bunga kredit yang masih tinggi dan inflasi pangan yang menekan daya beli.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan kritis kemudian muncul: apakah optimisme yang diciptakan melalui strategi komunikasi cukup kuat untuk mengimbangi hambatan-hambatan struktural dan fundamental yang menghadang pertumbuhan ekonomi? Roger E.A. Farmer dalam karya-karya lanjutannya menekankan bahwa self-fulfilling prophecies memerlukan tidak hanya ekspektasi yang terkoordinasi, tetapi juga mekanisme transmisi yang efektif untuk menerjemahkan keyakinan menjadi tindakan ekonomi nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih lanjut, ekonom George Akerlof dan Robert Shiller dalam buku mereka <em>Animal Spirits: How Human Psychology Drives the Economy</em> (2009) memberikan peringatan penting. Mereka menunjukkan bahwa &#8220;animal spirits&#8221; memang dapat menjadi pendorong kuat aktivitas ekonomi, namun jika tidak didukung oleh fundamental ekonomi yang solid, optimisme berlebihan dapat menciptakan gelembung spekulatif yang pada akhirnya akan pecah dan menyebabkan kekecewaan yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya menghadapi dilema klasik dalam ekonomi makro: optimisme yang ia ciptakan melalui komunikasi dan kebijakan harus segera diikuti dengan perbaikan struktural nyata. Ini termasuk reformasi di sektor manufaktur untuk meningkatkan daya saing, pengurangan bottleneck dalam investasi, percepatan penyaluran dana ke daerah, dan peningkatan efisiensi birokrasi. Tanpa fondasi fundamental yang kuat, optimisme artifisial berisiko menciptakan harapan palsu yang ketika tidak terpenuhi, justru akan memperburuk kepercayaan publik terhadap pemerintah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politik &#8220;bad cop&#8221; yang diterapkan Purbaya memang terbukti efektif sebagai shock therapy jangka pendek untuk membalikkan sentimen dan menciptakan momentum psikologis. Namun, keberhasilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah untuk menerjemahkan momentum ini menjadi kebijakan substansial yang menyentuh akar permasalahan ekonomi struktural Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Optimisme tanpa tindakan konkret hanyalah retorika; komunikasi tegas tanpa hasil nyata hanyalah kebisingan. Ujian sesungguhnya bagi strategi Purbaya baru akan dimulai: apakah ia dapat mengubah kepercayaan menjadi pertumbuhan, dan ramalan menjadi realitas. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lg5x8PE9rjQ"><iframe loading="lazy" title="Misteri PKI di Penculikan Rengasdengklok" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lg5x8PE9rjQ?start=49&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/mix-9m57s-audio-joinercom.mp3" length="4210856" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/purbaya-menkeu-1024x696.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Purbaya: Si Paling “Shonen”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/purbaya-si-paling-shonen/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Nov 2025 10:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anime]]></category>
		<category><![CDATA[Manga]]></category>
		<category><![CDATA[Menkeu]]></category>
		<category><![CDATA[Menteri Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[shonen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165310</guid>

					<description><![CDATA[Menteri keuangan yang pantang mundur, yakin dengan visinya, dan tak takut ambil risiko. Apakah Purbaya punya jiwa “shonen” ala anime?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/purbaya-si-paling-shonen.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menteri keuangan (menkeu) yang pantang mundur, yakin dengan visinya, dan tak takut ambil risiko demi kebaikan. Apakah Purbaya punya jiwa “</strong><strong><em>shonen</em></strong><strong>” ala anime?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Aku akan melakukannya, tidak peduli apa pun yang terjadi.”</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin mengamati layar televisi di ruang tamunya yang kecil. Di sana, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang berbicara dengan penuh keyakinan tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang katanya bisa menembus angka 5,2 persen tahun ini. Di luar sana, para analis ekonomi berdebat, tapi Cupin justru mengangguk kecil. “Orang ini kayak tokoh anime,” gumamnya, separuh kagum, separuh geli.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya memang berbeda dari banyak pejabat yang lain. Ia tidak hanya menyampaikan target, tapi meyakininya seolah-olah sudah pasti tercapai. Dalam setiap konferensi pers, ia tampil dengan aura optimisme yang jarang goyah, bahkan ketika situasi global sedang bergejolak. Di matanya, tantangan ekonomi bukan alasan untuk mundur, tetapi justru kesempatan untuk membuktikan diri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keyakinan itu tumbuh dari pengalaman panjang. Sebelum menjadi menteri, Purbaya meniti karier sebagai teknokrat di berbagai lembaga keuangan dan penelitian. Ia memahami mekanisme fiskal dengan kedalaman seorang akademisi sekaligus ketegasan seorang eksekutor. Maka ketika ia bicara tentang reformasi pajak, defisit anggaran, atau efisiensi belanja negara, suaranya tidak sekadar membawa angka, tapi juga kepercayaan diri yang menular.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin tersenyum setiap kali mendengar nada tegas itu. Ia tahu, di balik pidato yang penuh keyakinan, ada mentalitas yang sulit dijelaskan: semacam “percaya dulu, baru lihat hasilnya.” Dalam istilah anak muda, mungkin ini mirip “main karakter energy,” sikap protagonis yang percaya bahwa keajaiban hanya datang kepada mereka yang tidak menyerah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuatnya menarik adalah konsistensinya. Ketika kurs rupiah melemah, ketika harga komoditas menurun, bahkan ketika kritik datang bertubi-tubi, Purbaya tidak pernah menyesuaikan optimismenya. Baginya, pesimisme hanya akan memperlambat langkah. Ia selalu menekankan pentingnya kerja keras, disiplin, dan fokus. Cupin mengingat kata-kata itu dan menuliskannya di catatan kecil di ponselnya: “Optimisme adalah strategi, bukan sekadar perasaan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, semakin lama ia memperhatikan gaya kepemimpinan Purbaya, semakin kuat perasaan aneh itu. Ada sesuatu dalam cara Purbaya berbicara yang terasa seperti cerita yang pernah Cupin baca di masa remajanya. Cerita tentang anak muda yang ingin menjadi kuat, yang menolak menyerah meski kalah berkali-kali, yang percaya bahwa dunia bisa berubah jika ia cukup gigih berusaha.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin lalu tersenyum, menatap ke luar jendela sambil berkata pelan, “Kayaknya Purbaya ini bukan cuma menteri, tapi karakter shonen yang tersesat di dunia nyata.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan “shonen”? Dan mengapa karakter seorang menteri bisa terasa seperti keluar dari halaman manga Jepang?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DQs_33ZCa4a/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DQs_33ZCa4a/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DQs_33ZCa4a/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Purbaya sebagai Protagonis </strong><strong><em>Shonen</em></strong><strong>?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membuka buku tua yang dulu ia baca di perpustakaan kampus: <em>Understanding Manga and Anime</em> karya Robin E. Brenner. Di sana tertulis, shonen bukan hanya berarti “anak laki-laki,” tapi juga sebuah gaya bercerita. Tokoh utamanya selalu punya tujuan besar, keyakinan yang tidak tergoyahkan, dan semangat untuk terus maju walaupun dunia menertawakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membacanya sambil memikirkan Purbaya. Semakin ia baca, semakin cocok. Menurut Brenner, karakter shonen selalu optimistis, bahkan ketika kalah. Mereka tidak takut jatuh karena tahu setiap kekalahan adalah batu loncatan menuju kemenangan. Di kepala Cupin, kata-kata itu berpadu dengan bayangan Purbaya yang tetap tersenyum ketika ekonomi melambat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Susan J. Napier dalam <em>Anime from Akira to Howl’s Moving Castle</em> menulis bahwa karakter shonen lahir dari semangat Jepang pascaperang. Semangat itu percaya bahwa dunia bisa dibangun kembali dengan kemauan keras dan disiplin. Cupin teringat bagaimana Purbaya berbicara di hadapan wartawan: bahwa Indonesia bisa mandiri fiskal jika semua pihak bekerja keras. Nada suaranya sama seperti tokoh anime yang berkata, “Aku akan melakukannya, tidak peduli apa pun yang terjadi.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ciri khas lain dari karakter shonen adalah mereka tidak takut untuk menanggung beban sendirian. Mereka sering dianggap keras kepala, bahkan bodoh, karena menolak mundur meski peluangnya kecil. Dalam konteks itu, Purbaya tampak serupa. Ia tetap yakin pada target pertumbuhan ketika banyak ekonom memintanya “lebih realistis.” Namun, bagi Purbaya, realistis justru berarti berani menantang keterbatasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Frederik L. Schodt dalam <em>Dreamland Japan: Writings on Modern Manga</em> menulis bahwa protagonis shonen tidak pernah bekerja sendirian. Mereka selalu memiliki “nakama,” teman seperjuangan yang saling mendukung. Cupin menatap kembali berita tentang Purbaya yang sering turun langsung ke lapangan, menemui pegawai pajak, memeriksa kinerja bea cukai, dan berbicara langsung dengan masyarakat. Ia tidak hanya memimpin dari balik meja, tapi ikut berjuang di medan kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat salah satu episode anime favoritnya. Tokohnya berkata, “Aku tidak bisa melawan dunia sendirian, tapi aku bisa memulainya.” Kalimat itu terasa seperti ringkasan gaya kerja Purbaya. Ia membangun tim, mendorong perubahan, dan menolak menyerah meskipun reformasi fiskal tidak pernah mudah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Cupin tahu, tidak semua protagonis shonen sama. Ada yang heroik seperti Naruto, tapi ada juga yang gelap seperti Light Yagami. Maka pertanyaan berikutnya mulai muncul di kepalanya. Jika Purbaya benar seperti karakter shonen, apakah ia tipe Naruto yang selalu percaya pada kebaikan? Atau Light, yang percaya bahwa terkadang untuk menciptakan kebaikan, seseorang harus bersedia menjadi “penjahat”?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DQtZDefjO5u/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DQtZDefjO5u/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DQtZDefjO5u/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Purbaya: Seorang “Naruto” atau “Light”?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Malam itu, Cupin menyalakan laptopnya dan memutar dua anime: <em>Naruto</em> dan <em>Death Note</em>. Ia ingin mencari tahu, ke arah mana sebenarnya karakter Purbaya lebih condong.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Naruto adalah simbol harapan. Ia percaya bahwa dengan kerja keras dan ketulusan, segalanya bisa dicapai. Filosofinya sederhana: kebaikan akan menang karena kebaikan itu sendiri adalah kekuatan. Cupin menatap layar dan berpikir, mungkin Purbaya memiliki sisi ini. Ia ingin membangun sistem ekonomi yang sehat, adil, dan transparan, sebuah tujuan yang tidak jauh berbeda dari impian Naruto menjadi Hokage demi melindungi desanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Purbaya juga menunjukkan sisi lain yang lebih tajam. Dalam beberapa kesempatan, ia mengambil langkah tegas terhadap pejabat di bawahnya yang dianggap melanggar aturan. Ia tidak segan melakukan mutasi, menegur keras, bahkan mengganti pejabat penting. Cupin mencatatnya di buku kecilnya: “Kebaikan tidak bisa dibiarkan tumbuh tanpa ketegasan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah kemiripan dengan Light Yagami muncul. Light juga ingin menciptakan dunia yang lebih baik, tapi dengan cara yang jauh lebih keras. Ia percaya bahwa keadilan sejati hanya bisa terwujud jika ia berani menjadi sosok yang ditakuti. Cupin mengingat bagaimana Purbaya sering dikritik karena dianggap terlalu kaku, tapi ia tetap tak bergeming. Seolah berkata seperti Light, “Jika ingin menciptakan sistem yang bersih, seseorang harus siap jadi pihak yang tidak disukai.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bedanya, Purbaya tidak kehilangan arah. Ia tidak dikuasai ego atau ambisi pribadi seperti Light. Ketegasannya berakar pada tanggung jawab institusional, bukan obsesi moral pribadi. Ia menegur bukan untuk berkuasa, tapi agar sistem bekerja. Cupin menulis di catatannya, “Light ingin dunia tunduk padanya, Purbaya ingin sistem tunduk pada aturan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam arti tertentu, Purbaya justru seperti hasil persilangan keduanya. Ia memiliki semangat pantang menyerah dan keyakinan ala Naruto, namun juga pragmatisme dan keberanian mengambil keputusan sulit seperti Light. Ia tahu bahwa kebijakan publik tidak bisa dijalankan hanya dengan niat baik. Kadang, keputusan yang benar justru membuat seseorang terlihat jahat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menatap layar yang kini menampilkan adegan akhir <em>Death Note</em>. Light Yagami jatuh karena kehilangan arah moralnya. Cupin lalu membayangkan Purbaya berdiri di depan kamera, berbicara tentang transparansi fiskal dan reformasi pajak. “Selama arah tujuannya jelas,” pikir Cupin, “ketegasan tidak akan berubah jadi keserakahan.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sana, Cupin menyadari sesuatu. Membaca Purbaya sebagai karakter shonen bukan sekadar permainan imajinasi, tetapi juga cara memahami tipe kepemimpinan yang muncul di era modern. Di tengah pesimisme politik dan ekonomi, Purbaya hadir dengan energi protagonis: percaya pada visi, memimpin dengan keyakinan, dan tidak takut menjadi “tokoh jahat” demi hasil yang lebih baik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin karena itulah ia terasa seperti tokoh manga di dunia nyata. Ia memiliki impian yang besar, musuh yang tidak sedikit, dan kepercayaan diri yang tidak luntur bahkan di saat krisis. Dalam narasi politik Indonesia, Purbaya adalah karakter yang melangkah dengan kepala tegak sambil berkata seperti tokoh anime klasik: “Selama aku belum menyerah, cerita ini belum berakhir.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menutup laptopnya dan tersenyum kecil. Ia tahu, mungkin perbandingan ini terdengar lucu. Tapi di hatinya, ia yakin satu hal: kalau dunia ini memang sebuah cerita, maka Purbaya adalah karakter shonen sejati. Protagonis yang percaya bahwa dengan tekad dan strategi yang tepat, ending bahagia bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian yang menunggu di ujung perjuangan. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="FrvPeqay5Nk"><iframe loading="lazy" title="Mistisisme Politik: Dari Leonidas, Soeharto, Hingga Pemakzulan Yoon Suk Yeol" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/FrvPeqay5Nk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/purbaya-si-paling-shonen.mp3" length="4922339" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/purbaya-si-paling-shonen-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sebaiknya Purbaya Jangan Main Padel?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sebaiknya-purbaya-jangan-main-padel/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Oct 2025 07:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Menkeu]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164769</guid>

					<description><![CDATA[Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meraih tingkat kepuasan publik tertinggi di kabinet Prabowo. Namun, akankah popularitas ini bertahan lama atau hanya tren sesaat layaknya padel?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/purpadel-1_a1yyguql.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meraih tingkat kepuasan publik tertinggi di kabinet Prabowo. Namun, akankah popularitas ini bertahan lama atau hanya tren sesaat layaknya padel?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Popularitas seorang menteri keuangan jarang sekali mencapai titik yang begitu tinggi pada fase awal pemerintahan. Dalam survei terkini, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja kabinet Presiden Prabowo Subianto menunjukkan hasil yang mengejutkan di mana Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berada di posisi teratas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski berstatus seorang debutan, Menkeu Purbaya melampaui menteri lain yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, atau perdagangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fakta ini menandakan bahwa publik tidak hanya memperhatikan urusan teknis fiskal, melainkan juga menilai gaya komunikasi, visi, serta aura politik yang diproyeksikan seorang menteri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini dapat dibaca dalam kerangka <em>honeymoon period</em> dalam studi politik. <em>Honeymoon period</em> dalam konteks politik-pemerintahan adalah fase awal ketika pejabat tinggi, termasuk menteri kunci, menikmati tingkat dukungan publik yang relatif tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada fase ini, masyarakat cenderung menaruh harapan besar, bahkan optimisme berlebih, sebelum kebijakan benar-benar diuji oleh realitas politik dan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sebagaimana olahraga padel yang sempat viral tetapi kemudian meredup, <em>honeymoon period</em> biasanya tidak bertahan lama. Popularitas awal sering kali ibarat energi cepat saji, memuaskan sesaat, tetapi sulit berjangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian, mengapa tingkat kepuasan publik yang tinggi itu bisa muncul, dan seberapa kuat fondasinya dalam menghadapi realitas politik dan ekonomi yang tak selalu ramah?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Efek Komunikasi Koboi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Popularitas Menkeu Purbaya tidak lahir dari ruang kosong. Dua hal kiranya menjadi penopangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, gaya komunikasi publik yang sederhana dan penuh gaya <em>cowboy</em>, tegas, lugas, dan mudah dipahami oleh masyarakat awam.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, janji reformasi kebijakan fiskal yang tidak hanya bersifat makro, tetapi juga menyentuh isu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari subsidi hingga penataan belanja negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari perspektif teori komunikasi politik, Menkeu Purbaya secara alamiah berhasil memainkan <em>framing </em>populistik dengan menjadikan isu kompleks seperti defisit APBN atau strategi pembiayaan pembangunan terdengar akrab, seolah bagian dari obrolan harian masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini tentu modal besar, karena kebijakan fiskal biasanya identik dengan teknokrasi yang sulit dimengerti publik luas. Mungkin, momentum ini pertama kalinya terjadi saat kebijakan dan visi seorang Menkeu dapat dicerna khalayak dengan mudah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, mengapa popularitas berbasis komunikasi justru berpotensi menjadi jebakan? Dalam kerangka <em>policy feedback</em>, legitimasi seorang pejabat publik tidak hanya ditentukan oleh retorika, melainkan oleh dampak nyata kebijakan yang dihasilkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebijakan fiskal hampir selalu menuntut langkah yang tidak populer seperti pemangkasan subsidi, pengetatan belanja, atau penarikan pajak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Semua kebijakan ini berpotensi menjadi titik balik, ketika komunikasi yang tadinya memikat justru berubah menjadi bumerang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan kata lain, semakin komunikatif seorang menteri, semakin tinggi pula ekspektasi publik yang dibangkitkan, sementara realitas kebijakan seringkali memunculkan resistensi dan tak semua pihak dapat “dibuat senang”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, mengapa dukungan politik menjadi sama pentingnya dengan dukungan publik? Jawabannya terletak pada struktur politik kabinet. Menteri Keuangan selalu berada di posisi sensitif, ketika ia harus menyeimbangkan harapan presiden, ambisi partai, dan tekanan kelompok kepentingan ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak jarang, kebijakan fiskal progresif justru melukai pihak-pihak yang selama ini menikmati <em>status quo</em>. Pemangkasan belanja birokrasi bisa merugikan elite politik yang memperoleh rente dari proyek, sementara kebijakan perpajakan dapat mengganggu kenyamanan kelompok bisnis besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kondisi seperti ini, dukungan publik saja tidak cukup. Purbaya membutuhkan payung politik dari Presiden Prabowo agar kebijakannya tidak terhenti di tengah jalan akibat tekanan kelompok yang merasa dirugikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan lebih lanjut yang muncul adalah, mengapa Purbaya harus mengelola momen “padel politik” ini dengan strategi jangka panjang, dan apa yang terjadi jika ia gagal mengubah popularitas menjadi legitimasi?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1.png" alt="pacu purbaya untuk ekonomi indonesia 1" class="wp-image-164591" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/pacu-purbaya-untuk-ekonomi-indonesia-1-1068x1335.png 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Padel ke Maraton?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Analogi padel kiranya relevan untuk menggambarkan posisi Menkeu Purbaya. Padel adalah olahraga tren, mudah dimainkan, cepat viral, tetapi tidak semua orang menjadikannya gaya hidup jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Honeymoon period</em> popularitas Purbaya juga bukan tidak mungkin serupa. Cepat mendaki, tetapi rawan turun ketika ekspektasi publik berbenturan dengan realitas kebijakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika hanya berhenti pada popularitas, Purbaya akan menjadi “atlet padel politik-pemerintahan” yang sebentar bersinar lalu meredup. Tetapi jika ia mampu mengubah momentum ini menjadi fondasi legitimasi, ia bisa berlari jauh layaknya pelari maraton dalam politik fiskal Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa legitimasi jauh lebih penting daripada popularitas? Karena legitimasi menandai kemampuan mengubah dukungan sesaat menjadi otoritas jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Legitimasi publik harus ditopang dengan kebijakan yang konsisten dan berorientasi pada hasil, sementara legitimasi politik hanya bisa dijaga melalui kepercayaan presiden dan koalisi partai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kebijakan fiskal yang ia bangun harus menyeimbangkan pembangunan, keberlanjutan fiskal, dan keadilan sosial. Dalam perspektif <em>fiscal governance</em>, konsistensi kebijakan berbasis aturan jauh lebih menentukan ketahanan legitimasi daripada retorika sesaat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, hubungan dengan Presiden Prabowo agaknya menjadi faktor penentu yang paling krusial. Sebagaimana diketahui, dalam sistem presidensialisme Indonesia, dukungan presiden adalah syarat utama bagi bertahannya seorang Menkeu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya tentu harus menjaga agar kebijakan fiskalnya tidak hanya selaras dengan visi besar Prabowo, tetapi juga memperkuat posisi politik presiden. Di sinilah posisi <em>dual accountability</em> muncul saat Menkeu Purbaya harus akuntabel kepada presiden sekaligus kepada publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akhirnya, pengelolaan ekspektasi publik menjadi krusial saat ekspektasi yang terlalu tinggi bisa berubah menjadi beban politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menkeu Purbaya harus cermat dalam merancang komunikasi yang transparan, realistis, dan tidak membangun ilusi optimisme berlebihan. Dengan begitu, masyarakat lebih siap menerima kebijakan yang mungkin tidak populer tetapi perlu untuk stabilitas jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa posisi Menkeu selalu berada di garis depan pertempuran antara idealisme fiskal dan realitas politik. Nama-nama seperti Sri Mulyani, Boediono, hingga Ali Wardhana membuktikan bahwa posisi ini bisa menjadi batu loncatan menuju status negarawan, tetapi juga dapat berakhir dengan tragedi politik ketika kehilangan dukungan di tengah jalan, baik secara politik maupun publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena popularitas Menkeu Purbaya saat ini kiranya adalah cerminan <em>honeymoon period</em> yang selalu mengiringi pejabat baru. Popularitas bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju legitimasi yang lebih kokoh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ia hanya mengandalkan retorika tanpa dukungan politik dan konsistensi kebijakan, Purbaya berisiko berakhir seperti padel, tren sesaat yang cepat meredup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tetapi jika ia berhasil mengelola ekspektasi, memperkuat dukungan presiden, dan melahirkan kebijakan fiskal yang berkelanjutan, ia akan melampaui status populer dan menegaskan dirinya sebagai figur kunci dalam sejarah ekonomi-politik Indonesia di era Prabowo. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Lg5x8PE9rjQ"><iframe loading="lazy" title="Misteri PKI di Penculikan Rengasdengklok" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Lg5x8PE9rjQ?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/purpadel-1_a1yyguql.mp3" length="3324217" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/menkeu-menkeu_purbaya_yudhi_sadewa-1024x577.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Quo Vadis Purbaya?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/quo-vadis-purbaya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2025 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya Yudhi Sadewa]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani]]></category>
		<category><![CDATA[Sri Mulyani Indrawati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164338</guid>

					<description><![CDATA[Purbaya resmi dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan. Mampukah ia menjawab tantangan ekonomi dengan mazhab pragmatisnya?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/quo-vadis-purbaya-final.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani. Mampukah ia menjawab tantangan ekonomi dengan mazhab pragmatisnya?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Government has a positive role to play in stimulating economic development beyond enabling markets to function well… In the words of public policy, lots of $100 bills are left lying on the sidewalk. The role of economists is to point those out, while that of political leaders is to engineer the bargains that will allow them to be picked up.” – Dani Rodrik, <em>One Economics, Many Recipes</em> (2007)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin ingat betul bagaimana suasana di Istana Negara pada 8 September 2025 itu. Hujan sempat turun tipis sejak pagi, seolah memberi tanda bahwa hari itu bukan sekadar seremoni biasa, melainkan perubahan besar dalam haluan ekonomi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto berdiri tegap, sementara di hadapannya seorang pria bernama Purbaya Yudhi Sadewa mengucapkan sumpah jabatan sebagai Menteri Keuangan baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Publik sontak menoleh ke arah sosok ini, sebagian dengan rasa penasaran. Sri Mulyani, sang menteri legendaris, resmi digantikan. Cupin sendiri sempat mendengar obrolan seorang pengusaha di lobi hotel sehari sebelumnya: &#8220;Kalau bukan Bu Sri, siapa lagi yang bisa dipercaya?&#8221; Kini jawabannya sudah jelas. Prabowo menunjuk Purbaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden ke-7, Joko Widodo, pun ikut menanggapi. Jokowi mengakui ada perbedaan mazhab ekonomi antara Purbaya dan Sri Mulyani, namun ia percaya Purbaya mampu memberi stabilitas.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya sendiri datang dari latar belakang yang tak biasa untuk seorang Menteri Keuangan. Sebelum duduk di kursi itu, ia memimpin Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), lembaga yang bertugas menjaga dana masyarakat di bank. Cupin membayangkan betapa pengalaman itu bisa memberi perspektif unik, karena ia terbiasa berurusan dengan masalah krisis perbankan dan kepercayaan publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini beban di pundaknya jelas: menjaga stabilitas fiskal, mengendalikan inflasi, menekan defisit, sekaligus memastikan penerimaan negara optimal. Cupin pernah membaca di sebuah buku karya Alan Blinder berjudul <em>The Economics of Public Finance</em> bahwa fondasi pertumbuhan jangka panjang selalu bertumpu pada stabilitas fiskal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan besar pun muncul: apakah Purbaya akan mengikuti jalur klasik itu, atau menciptakan jalannya sendiri?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DObDB1KCTDB/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DObDB1KCTDB/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DObDB1KCTDB/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Sri Mulyani vs Purbaya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat kembali pada sosok Sri Mulyani. Ia lahir di Bandar Lampung, menempuh pendidikan di Universitas Indonesia, lalu meraih gelar doktor dari University of Illinois Urbana-Champaign.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membayangkan seorang perempuan muda di era 1980-an yang tekun menulis disertasi tentang moneter, tanpa tahu bahwa kelak ia akan menjadi Menteri Keuangan paling berpengaruh di Indonesia modern.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatannya dikenal berhati-hati, penuh disiplin, dan berorientasi pada reformasi. Ia percaya bahwa utang negara harus dikelola ketat, pajak diperkuat, dan transparansi anggaran dijaga.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin ingat satu paragraf dari Blinder dalam <em>The Economics of Public Finance</em> yang menegaskan bahwa efisiensi fiskal adalah syarat mutlak pertumbuhan jangka panjang. Itu seolah mencerminkan filosofi Sri Mulyani.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Purbaya muncul dari jalur berbeda. Lahir di Bogor, awalnya ia adalah insinyur elektro lulusan ITB.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin tersenyum kecil membayangkan seorang mahasiswa teknik yang tekun mengutak-atik transistor, lalu belasan tahun kemudian berubah jadi ekonom dengan gelar doktor dari Purdue University. Perpindahan jalur ini menunjukkan sesuatu: ia terbiasa berpikir kuantitatif tetapi tetap mencari jawaban praktis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya dikenal pragmatis. Ia percaya bahwa teori hanyalah alat, bukan tujuan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menemukan kesamaan pandangan ini dengan buku <em>One Economics, Many Recipes</em> karya Dani Rodrik. Rodrik menekankan bahwa tidak ada resep tunggal dalam ekonomi; setiap negara harus menemukan kombinasi kebijakannya sendiri. Cupin merasa, inilah semangat yang dibawa Purbaya—fleksibel, kontekstual, dan tidak kaku.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden Jokowi pernah menyebut ada &#8220;beda mazhab ekonomi&#8221; antara keduanya. Cupin mencoba merumuskannya begini: Sri Mulyani berdiri di sisi reformis-neoklasik, sementara Purbaya condong ke pragmatis-inovatif. Jika Sri Mulyani melihat angka utang sebagai ancaman, Purbaya mungkin melihatnya sebagai instrumen yang bisa dikelola asal tepat sasaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin juga ingat pengalaman keduanya dalam politik. Sri Mulyani, meski populer di mata internasional, sering dianggap terlalu kaku dalam menghadapi realitas politik domestik. Sementara Purbaya, dengan gaya lebih cair, tampak bisa menyesuaikan diri dengan arah pemerintah. Cupin merasa ini penting, sebab ekonomi tak pernah steril dari politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua sosok ini ibarat dua pemain catur dengan strategi berbeda. Sri Mulyani memilih bertahan, menjaga setiap bidak dengan hati-hati. Purbaya lebih suka menyerang dengan langkah-langkah tak terduga. Pertanyaannya: gaya mana yang lebih sesuai dengan visi besar Presiden Prabowo?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DOmh0M5iVNW/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DOmh0M5iVNW/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DOmh0M5iVNW/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Berjalan Bersama Prabowo</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sejak awal menjabat, Prabowo Subianto membawa visi ekonomi yang pragmatis. Cupin mencatat beberapa program andalannya: menekan harga pangan, menjaga daya beli, mempercepat pembangunan infrastruktur, hingga meluncurkan paket stimulus ratusan triliun rupiah. Semua itu menunjukkan satu hal: Prabowo percaya pada intervensi negara yang aktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah Purbaya tampak lebih cocok. Gaya pragmatisnya sejalan dengan kebutuhan pemerintah yang ingin bergerak cepat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membayangkan Purbaya duduk bersama timnya, menimbang data inflasi, lalu memutuskan kebijakan yang langsung menyentuh harga beras atau bahan bakar. Kecepatan dan fleksibilitas menjadi kunci.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, Sri Mulyani memang punya keunggulan besar dalam reformasi perpajakan dan pengelolaan utang. Namun, Cupin merasa tantangan sekarang berbeda.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dunia menghadapi krisis iklim, disrupsi teknologi, dan ketegangan geopolitik. Semua ini butuh pemimpin ekonomi yang tidak sekadar disiplin, tapi juga mampu beradaptasi dengan cepat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat kembali pada tulisan Dani Rodrik tentang pentingnya konteks nasional. Ia menulis bahwa kebijakan ekonomi yang berhasil di satu tempat bisa gagal di tempat lain jika tidak sesuai kondisi lokal. Purbaya, dengan latar belakang yang campuran antara teknik dan ekonomi, mungkin lebih peka terhadap kebutuhan semacam ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di mata Cupin, pilihan Prabowo sebenarnya sederhana: ia butuh menteri yang bisa menerjemahkan visinya dengan cepat dan tepat. Sri Mulyani unggul dalam menjaga reputasi global, tetapi Purbaya tampak lebih siap untuk bermain di lapangan domestik yang keras. Keputusan Prabowo melantik Purbaya bukan sekadar <em>reshuffle</em>, melainkan strategi politik-ekonomi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menutup catatannya dengan satu pemikiran: pergantian dari Sri Mulyani ke Purbaya adalah cermin bahwa ekonomi selalu bergerak sesuai kebutuhan zaman. Sri Mulyani memberi fondasi kokoh lewat reformasi fiskal, sedangkan Purbaya menawarkan keluwesan pragmatis untuk menjawab tantangan baru. Keduanya penting, namun sejarah memilih siapa yang relevan pada masanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar memilih mazhab, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan antara disiplin dan fleksibilitas. Cupin percaya, keberhasilan Purbaya akan ditentukan oleh kemampuannya menyeimbangkan stabilitas dengan pertumbuhan inklusif. Jika ia berhasil, maka Indonesia bisa berjalan lebih mantap di tengah dunia yang penuh gejolak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti kata seorang ekonom tua yang pernah Cupin temui di perpustakaan kampus: &#8220;Ekonomi bukan tentang angka semata, melainkan tentang manusia yang hidup di balik angka itu.&#8221; Dengan bekal pragmatisme, mungkin Purbaya bisa membawa ekonomi Indonesia lebih dekat ke rakyatnya. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="ghLEjsLRKYg"><iframe loading="lazy" title="DIKIT-DIKIT BLOK M… APA-APA BLOK M… PRAMONO KENAPA SIH?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/ghLEjsLRKYg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/quo-vadis-purbaya-final.mp3" length="3313366" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/quo-vadis-purbaya.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
