<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Puisi Sukmawati &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/puisi-sukmawati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Apr 2019 10:30:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Puisi Sukmawati &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rachmawati si &#8220;Petasan Banting&#8221;</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/haul-bung-karno-ke-48/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2018 11:49:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Haul Bung Karno ke-48]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Rachmawati Soekarnoputri]]></category>
		<category><![CDATA[SP3 Kasus Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=31588</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-31589" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_.jpg" alt="Rachmawati si &quot;Petasan Banting&quot; " width="1080" height="1055" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-300x293.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-768x750.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-1024x1000.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-696x680.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-1068x1043.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-430x420.jpg 430w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/06/2018-06-22-Rachmawati-si-_Petasan-Banting_-1024x1000.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nietzsche, Politik Zaman Now?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/nietzsche-politik-zaman-now/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R24]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2018 13:50:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Butterfly Effect]]></category>
		<category><![CDATA[God is Dead]]></category>
		<category><![CDATA[Nietzsche]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Ganjar]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Rocky Gerung]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=26350</guid>

					<description><![CDATA[Setelah puisi Sukmawati Soekarno dan Ganjar Pranowo, kini Rocky Gerung pun ikut-ikut menyentil agama yang menciptakan reaksi di masyarakat. Gejala apa ini? PinterPolitik.com “Suatu ketika Tuhan dipercaya sebagai spirit, lalu ditransformasikan pada manusia, dan saat ini bahkan menjadi sekelompok orang.” [dropcap]P[/dropcap]ernyataan Ahli Filsafat Rocky Gerung mengenai kitab suci adalah fiksi, menghasilkan polemik. Walau Dosen Universitas [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Setelah puisi Sukmawati Soekarno dan Ganjar Pranowo, kini Rocky Gerung pun ikut-ikut menyentil agama yang menciptakan reaksi di masyarakat. Gejala apa ini?</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>“Suatu ketika Tuhan dipercaya sebagai spirit, lalu ditransformasikan pada manusia, dan saat ini bahkan menjadi sekelompok orang.” </strong></p>
<p>[dropcap]P[/dropcap]ernyataan Ahli Filsafat Rocky Gerung mengenai kitab suci adalah fiksi, menghasilkan polemik. Walau Dosen Universitas Indonesia itu telah berusaha membiaskan maksudnya, namun bisa saja nasibnya akan tetap sama dengan apa yang tengah dihadapi oleh Sukmawati Soekarno akibat puisi kontroversinya, “Ibu Indonesia”.</p>
<p>Akibat membacakan puisi lamanya yang berisi “teguran” untuk masyarakat agamis, putri bungsu Bung Karno ini harus berhadapan dengan Kepolisian, berkat 14 laporan dari beberapa lembaga bernuansa Islam. Begitupun Rocky Gerung yang langsung dilaporkan oleh Abu Janda, dengan alasan telah menyebarkan ucapan kebencian.</p>
<p>Nasib Gubernur yang juga petahana di Pilgub Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memang “lebih beruntung”. Walau sempat di <em>bully</em> Warganet, namun kader PDI Perjuangan ini lolos jeratan pasal penistaan agama hanya karena puisi yang dibacanya ternyata karya seorang Kyai ternama, yaitu KH. Mustofa Bisri alias Gus Mus.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-26351 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-1024x1024.jpg" alt="" width="696" height="696" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-INFOGRAFIS-Nietzsche-Politik-Zaman-Now-R24.jpg 1080w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></p>
<p>Adanya reaksi yang berbeda dari tiga kasus ini, memang menimbulkan kebingungan tersendiri. Namun terselip pula pertanyaan lain yang lebih menggelitik, yaitu mengapa belakangan ini masyarakat menjadi begitu sensitif terhadap kritik agama? Lalu mengapa di tengah sensitivitas itu, tokoh-tokoh tersebut masih juga berupaya untuk mengusiknya?</p>
<h3><strong>Sensitivitas Agama Masyarakat</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Sesungguhnya, apakah manusia adalah salah satu blunder  Tuhan, atau Tuhan yang malah menjadi blunder manusia?</strong></p>
<p>Pasal penodaan agama, diskriminasi, maupun ujaran kebencian, sejak lama memang telah dianggap sebagai pasal karet dalam undang-undang, akibat tafsirnya yang sangat relatif dan juga subyektif. Kriteria apa saja yang termasuk dalam penghinaan dan penodaan agama, bagi setiap individu di masyarakat tentu akan sangat berbeda.</p>
<p>Bahkan bagi Seniman Sudjiwo Tedjo, kalau ada manusia yang khawatir tidak makan esok hari saja itu sudah termasuk menghina Tuhan. Lantas apakah setiap orang yang bekerja karena takut tidak bisa makan esok hari, jadi harus di penjara semuanya karena dianggap menghina Tuhan? Tentu saja tidak.</p>
<p><img decoding="async" class="aligncenter wp-image-26352 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sudjiwo-Tedjo.jpg" alt="" width="530" height="487" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sudjiwo-Tedjo.jpg 530w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sudjiwo-Tedjo-300x276.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sudjiwo-Tedjo-457x420.jpg 457w" sizes="(max-width: 530px) 100vw, 530px" /></p>
<p>Begitupun dengan pernyataan “tusuk konde lebih indah dari cadar”, apakah bisa dikatakan sebuah diskriminasi etnis? Tentu persepsinya harus dikaitkan dengan pola pikir, latar belakang, dan sudut pandang si pendengar. Ada yang memahaminya sekedar estetika semata, tapi ternyata banyak yang menerimanya dari sensitivitas agama.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, polarisasi masyarakat yang digerakkan organisasi massa Islam tertentu pada Pilkada DKI lalu, masih belum sepenuhnya hilang. Emosi masyarakat Muslim, masih begitu mudah diprovokasi dengan berbagai pernyataan yang seakan mengkritik atau mempertanyakan dogma-dogma yang mereka percayai.</p>
<p>Masyarakat tanpa sadar dibentuk dengan pola pandang kelompok yang mengaku membela Islam, termasuk menyakralkan unsur-unsur agamis sehingga tak boleh disentuh, apalagi dipertanyakan. Padahal menurut <a href="https://nasional.kompas.com/read/2017/09/07/14100001/kata-gus-dur-tuhan-tidak-perlu-dibela"><strong>KH. Abdurrahman Wahid</strong> </a>alias Gus Dur, Tuhan tidak perlu dibela karena kebenaran <em>Allah</em> tidak akan berkurang sedikit pun dengan adanya keraguan manusia.</p>
<p>Dalam situasi sensitivitas agama yang begitu tinggi di masyarakat ini, tak heran bila ulah Sukmawati, Ganjar, maupun Rocky, mengingatkan kita akan kisah “orang gila” yang sengaja berteriak-teriak “Tuhan sudah mati” dalam sekelompok masyarakat yang memegang kuat dogma agama, dalam buku <em>The Gay Science</em> (Ilmu Kebahagiaan) karya Fredrich Nietzsche.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-26353 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/nietzsche.jpg" alt="" width="834" height="340" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/nietzsche.jpg 834w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/nietzsche-300x122.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/nietzsche-768x313.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/nietzsche-696x284.jpg 696w" sizes="auto, (max-width: 834px) 100vw, 834px" /></p>
<p>Kalimat “Tuhan sudah mati”, tentu akan membuat masyarakat agamis berang. Namun melalui kalimat itu, sebenarnya Nietzsche ingin mengajak masyarakat untuk lebih kritis terhadap nilai-nilai yang tengah berkembang. Filsuf penganut <em>nihilisme</em> ini, mengkritisi kecenderungan manusia terjebak dalam dogma, keyakinan, dan ideologi<em> indoktriner</em> tertentu, sehingga melupakan identitas diri mereka sendiri.</p>
<p>Mempertanyakan mulai lenyapnya identitas kebangsaan, berkembang liarnya indoktrinasi agama, dan masyarakat yang cenderung kurang kritis dalam mengadopsinya, mungkin itulah sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Sukmawati, Ganjar, dan Rocky. Apalagi baik puisi karya Sukmawati dan Gus Mus sendiri, bukanlah puisi baru. Lalu mengapa baru memanas belakangan ini?</p>
<h3><strong>Kepak Pemanas Jelang Pilpres</strong></h3>
<p style="text-align: center;"><strong>“Di sekitar pahlawan, segala sesuatunya menjadi tragedi. Di sekitar para dewa, sebuah sandiwara satir, dan di sekitar Tuhan – apa? “Dunia” mungkin?</strong></p>
<p>Di tahun politik, apapun bisa “digoreng” menjadi isu panas yang – entah bagaimana caranya – ujung-ujungnya, bisa saja akan ditarik ke ranah politik. Baik yang berkenaan dengan pelaksanaan Pilkada Serentak di tahun ini atau bahkan lebih jauh lagi ke Pilpres 2019 nanti. Isu hangat seperti metode “cuci otak” dr. Terawan saja misalnya, bisa ditarik ke ranah politik. Apalagi isu agama, pasti sangat seksi sekali.</p>
<p>Lihat saja bagaimana riuhnya para politisi menyikapi setiap isu yang berkembang dan viral di sosial media, masing-masing saling menempatkan diri berseberangan sehingga semakin memanas. Tak berbeda dengan apa yang dialami oleh Sukmawati, Ganjar, dan Rocky. Di mata politikus, ketiganya memberikan “umpan lambung” yang mudah untuk di <em>smash</em> menjadi polemik dan kontroversi.</p>
<p>Kondisi politik yang memanas ini, juga pada akhirnya ditunggangi oleh ormas-ormas tertentu yang – entah apa tujuannya – ikut masuk dalam pusaran polemik dan kontroversi. Tak pelak, Sukmawati dan Rocky pada akhirnya harus berhadapan dengan Kepolisian menghadapi berbagai tuntutan dari lembaga-lembaga yang mengatasnamakan rakyat dan juga umat.</p>
<p>Pemanfaatan berbagai isu yang ditarik dan dipertentangan ke ranah politik ini, sangat sejalan dengan <em>Butterfly Effect Theory</em> (teori kepakan kupu-kupu) yang ditemukan oleh seorang ahli matematika dan meteorologis Amerika, bernama Edward Norton Lorenz (1917-2008). Teori ini sendiri, sebenarnya mengawali teori kekacauan atau <em>chaos theory</em> yang kerap digunakan dalam ilmu matematika.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-26354 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Butterfly-Effect.jpg" alt="" width="736" height="459" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Butterfly-Effect.jpg 736w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Butterfly-Effect-300x187.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Butterfly-Effect-696x434.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Butterfly-Effect-673x420.jpg 673w" sizes="auto, (max-width: 736px) 100vw, 736px" /></p>
<p>Pada intinya, Lorenz mengatakan kalau kepakan sayap kupu-kupu – secara umum burung atau unggas, memiliki sistem dinamik tertentu yang mampu mengganggu keseimbangan cuaca, bahkan mampu mengakibatkan terjadinya badai di tempat lain yang berjauhan. Teori yang pertama kali dikemukakan tahun 1961 ini, pada dasarnya merupakan rangkaian dari kejadian acak atau <em>random</em>.</p>
<p>Jadi kalau ada yang bertanya, apa yang membuat kasus Sukmawati, Ganjar, dan Rocky, akan berkaitan dengan Pilpres 2019? Berdasarkan teori <em>Butterfly</em> ini, tentu ada. Bahkan sangat besar kemungkinannya untuk menimbulkan <em>chaos</em> atau kekacauan. Apalagi di dalam masyarakat sendiri, polarisasi sudah terbentuk, sehingga sedikit “kepakan” dari puisi Sukmawati dan Ganjar, masyarakat pun bereaksi.</p>
<p>Sensitivitas masyarakat terhadap agama, akan sangat mungkin menjadi landasan bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkannya menjadi “kepakan” dalam masyarakat demi timbulnya kekacauan. Walau sejauh ini, “kepakan” dari puisi Sukmawati masih belum memberikan “efek badai” seperti yang diharapkan, namun upaya-upaya untuk memperbesarnya pun sudah terlihat di depan mata.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in"><a href="https://twitter.com/hashtag/AksiBelaIslam?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#AksiBelaIslam</a> dibuka dengan adzan yang dikumandangkan dari atas mobil komando peserta aksi. Seperti diketahui, salah satu simbol Islam yang jadi disinggung Sukmawati adalah adzan.<a href="https://twitter.com/hashtag/AksiBelaIslam64?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#AksiBelaIslam64</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/TangkapBuSuk?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#TangkapBuSuk</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/TangkapPenjarakanSukmawati?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#TangkapPenjarakanSukmawati</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/TangkapSukmawati?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#TangkapSukmawati</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/TangkapBUSUKmawati?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#TangkapBUSUKmawati</a> <a href="https://t.co/TBiQAQpzDn">pic.twitter.com/TBiQAQpzDn</a></p>
<p>— #2019GantiPresiden (@Yogarut) <a href="https://twitter.com/Yogarut/status/982201976556478464?ref_src=twsrc%5Etfw">April 6, 2018</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script>Walau Nietzsche menyatakan kalau kehadiran “orang gila” sangat penting, demi mengembalikan identitas manusia dari dogma-dogma yang mengatasnamakan Tuhan. Namun bila teriakan itu kemudian menjadi “kepakan” yang mampu menciptakan badai kekacauan, tentu juga bukan situasi yang diinginkan. Mengapa?</p>
<p>Dalam teori kekacauan, Lorenz menjelaskan kalau situasi <em>chaos </em>sangat mungkin dimanfaatkan pihak-pihak yang berniat menumbangkan atau menginginkan kekuasaan. Pendapat yang sama juga dinyatakan Nietzsche, yaitu ketika kondisi masyarakat dipenuhi kekalutan dan tak menentu, akan ada sosok <em>Superman</em> atau manusia kuat yang berusaha tampil mengatasi kekacauan.</p>
<p>Permasalahannya, menurut Nietzsche pula, apapun bentuk dari orang kuat itu, baik ia menjadi sosok pahlawan maupun manusia setengah dewa, kesemuanya hanya akan membawa tragedi dan sandiwara satir semata bagi masyarakatnya. Dan bila itu terjadi, Nietzsche pun bertanya-tanya, apakah manusia menjadi <em>blunder</em> bagi Tuhan atau sebaliknya? Manusia kah yang telah <em>blunder</em> terhadap Tuhan?  (R24)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-12-HEADER-Nietzsche-R24.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puisi Gus Mus &#038; Sukmawati</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/puisi-gus-mus-sukmawati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2018 11:23:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Polemik Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Gus Mus]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=25917</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-25907" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati-.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati-.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--135x135.jpg 135w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/2018-04-09-Puisi-Gus-Mus-dan-Sukmawati-Bikin-Sakit-Hati--1024x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tangis Puisi ‘Ibu Indonesia’</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/tangis-puisi-ibu-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2018 12:04:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Aksi 64]]></category>
		<category><![CDATA[PA 212]]></category>
		<category><![CDATA[Persaudaraan Alumni 212]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Menangis]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Minta Maaf]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Soekarnoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Tangis Sukmawati]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=25523</guid>

					<description><![CDATA[“Puisi &#8216;Ibu Indonesia&#8217; adalah refleksi dari keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan dan untuk menarik perhatian anak bangsa agar tidak melupakan jati diri Indonesia asli.” ~ Sukmawati Soekarnoputri. PinterPolitik.com [dropcap]U[/dropcap]mat Islam Indonesia sepertinya tengah gegap gempita, setelah mengetahui Sukmawati menyampaikan permintaan maafnya secara resmi saat konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/4). Dengan tangis [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><em><strong>“Puisi &#8216;Ibu Indonesia&#8217; adalah refleksi dari keprihatinan saya tentang rasa wawasan kebangsaan dan untuk menarik perhatian anak bangsa agar tidak melupakan jati diri Indonesia asli.” ~ Sukmawati Soekarnoputri.</strong></em></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]U[/dropcap]mat Islam Indonesia sepertinya tengah gegap gempita, setelah mengetahui Sukmawati menyampaikan permintaan maafnya secara resmi saat konferensi pers di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/4). Dengan tangis tersedu-sedu, ia menyampaikan permintaan maafnya pada pihak yang merasa tersakiti atas isi puisi tersebut.</p>
<p>Nah ini baru yang namanya <em>gentle</em>, eh, tapi itu harusnya untuk pria, terus kalau wanita disebut apa <em>dung</em>? Ya sudah lah yang penting dia sudah minta maaf, iya gak C<em>oeg</em>! Dengan permintaan maaf ini, artinya sudah<em> clear</em> bahwasanya tidak ada yang perlu dibahas lagi sampai berlarut-larut. Pihak yang merasa tersakiti ya harus <em>gentle</em> juga lah ya, gak bikin perkara lanjutan.</p>
<p>Masalahnya nih, sebelum ini Persaudaraan Alumni (PA) 212 berencana menggelar Aksi Bela Islam 64 untuk merespons dugaan penistaan agama yang dilakukan Sukmawati Soekarnoputri lewat puisi Ibu Indonesia-nya itu. Menurut mereka, isi puisi tersebut dinilai lebih menyakiti, dari penodaan agama oleh Ahok terkait surat Al-Maidah.</p>
<p>Sejauh ini kan Ibu Sukmawati sudah meminta maaf secara langsung, jadi kalau PA 212 ini masih nekat gelar aksi, artinya ketahuan lah ya pihak yang suka ngomporin isu agama itu. Buat apa coba, demi membela kepentingan umat Islam?</p>
<p>FYI (<em>For Your Information</em>) aja nih ya, sebenarnya puisi itu sudah ada sejak lama. Dan menjadi bagian dari buku Kumpulan Puisi Ibu Indonesia yang terbit pada tahun 2006. Dan kembali dibacakan dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018, Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (29/3).</p>
<p>Dan berhubung tema acara tersebut mengenai<em> culture identity</em>, jadi dipilihlah puisi tersebut yang sekiranya memiliki pemaknaan yang sama. Jadi memang puisi itu tercipta bukan atas tujuan mendeskreditkan pihak tertentu. Puisi ini, bagi Sukmawati, murni hanya sebuah karya sastra.</p>
<p>Jadi bukannya Sukmawatinya yang berniat menghina ajaran umat Islam, tapi karena masuk tahun politik, puisi ini dapat dengan mudah dijadikan <em>trigger</em> untuk memantik kebencian. Jadi dikesankan seakan-akan pusi itu memang bertujuan untuk mencemooh dan menjelek-jelekan atribut keislaman.</p>
<p>Jadi tepat lah ya permintaan maaf ini, sebelum pada akhirnya kasus ini meluas kemana-mana. <em>Cape</em> juga tau gak sih, energi bangsa ini diabisin buat mempermasalahkan sesuatu yang gak esensi. Karena dibalik <em>adem ayem</em>-nya umat Muslim Indonesia, ada aja pihak-pihak yang tidak suka. Dan mereka akan terus menghembuskan isu yang sama sampai bisa memperoleh apa yang diinginkan. (K16)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="znVxgsi3JhI"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/znVxgsi3JhI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sukmawati-Soekarnoputri-Meminta-Maaf.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puan Kikuk, Sakarepe Sukmawati</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/puan-kikuk-sakarepe-sukmawati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2018 09:58:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Bung Karno]]></category>
		<category><![CDATA[Menko PMK]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Soekarnoputri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=25504</guid>

					<description><![CDATA[“I don&#8217;t care what you&#8217;re saying. I don&#8217;t care what you&#8217;re thinking.” ~ Avril Lavigne PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]ukmawati Soekarnoputri sedang diperbincangkan banyak orang, tapi bukan tentang gagasan besar seperti ayahnya. Sukmawati mungkin lebih suka jadi tokoh yang kontroversial kayaknya ya. Mungkin lebih asyik sepertinya, begitu kali ya, weleeeh weleeh. Buktinya saja, Sukmawati lebih dikenal dengan puisinya, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“I don&#8217;t care what you&#8217;re saying. I don&#8217;t care what you&#8217;re thinking.” ~ Avril Lavigne</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]ukmawati Soekarnoputri sedang diperbincangkan banyak orang, tapi bukan tentang gagasan besar seperti ayahnya.</p>
<p>Sukmawati mungkin lebih suka jadi tokoh yang kontroversial kayaknya ya. Mungkin lebih asyik sepertinya, begitu kali ya, <em>weleeeh weleeh.</em></p>
<p>Buktinya saja, Sukmawati lebih dikenal dengan puisinya, antara konde dan cadar, <em>hmmm.</em> Perdebatan yang amat panjang bila membahas tentang konten itu, mau ditinjau dari perspektif Islam atau seni sekalipun, pasti &#8220;debat tebel<em>&#8220;</em> ga kelar – kelar, <em>hmmm.</em></p>
<p>Tapi mungkin yang terpenting kontroversi dulu, kalau jadi rame ya tinggal minta maaf. <em>Lah</em> emangnya bisa kayak gitu? <em>Hmmm, </em>ga tau deh.</p>
<p>Mungkin ga sih kalau kasus Sukmawati ini mirip dengan kasus Ahok, <em>hmmm </em>kayaknya ada bedanya deh.</p>
<p>Kalau Ahok kan kayak <em>keceplosan</em> dalam penjelasannya gitu ya, nah kalau Sukmawati itu dengan penuh kesadaran karena sambil baca teksnya juga, sambil menghayati bait &#8211; bait puisinya lagi, <em>hmmm </em>secara tidak langsung Sukmawati pasti tahu arti mendalamnya kayak gimana.</p>
<p>Tapi kalau dari pihak keluarga Bung Karno sendiri gimana ya nanggepin hal kontroversi tentang Sukmawati ini? <em>Hmmmm, </em>apa ada yang komentarnya miring atau memang dukung semua? <em>Wadidaw, </em>entahlah.</p>
<p>Mari kita tanyakan ke Puan Maharani, bagaimana sih tentang karya puisi sang Tante? Apakah keluarga Bung Karno baru tahu kalau Tante Sukma punya bakat terpendam menulis dan membacakan puisi? <em>Hikkkssss hikkksss.</em></p>
<p>Kalau Tantenya sudah terkenal jadi pujangga, kan bisa bikin bangga keluarga. Cuma ya dengan catatan, puisinya jangan kayak kemaren, itu sih mancing kegaduhan namanya, <em>weleeeh weleeeh. </em></p>
<p>Nah kalau Puan ada niatan belajar bikin dan baca puisi ga ya? <em>Uppsss, </em>ga tau deh, kan tahu sendiri Puan sibuk jadi Menteri Koordinator PMK, jadi kayaknya ga sempet deh kalau mau belajar bikin puisi.</p>
<p>Tapi kalaupun mau, Puan tinggal kursus sama Tantenya aja <em>ye</em>, <em>ehmmm, </em>tapi jangan diajarin yang kemaren ya, <em>uppsss. </em></p>
<p>Kalau ditanya tentang puisi yang kemaren, Puan punya penilaian apa tentang karya sastra tantenya? <em>Waduhhh, kok </em>Puan malah diem aja sih, saking takjubnya atau saking ga ngertinya? <em>Weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Sambil berbisik, Puan mengatakan, <em>sakarepmulah</em>, Puan tak mau ikut campur urusan itu, <em>uppsss, </em>ya udah deh. (Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/puan-dan-sukmawati-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puisi ‘Seribu Makna’ Sukmawati</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/puisi-seribu-makna-sukmawati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2018 08:56:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Emrus Sihombing]]></category>
		<category><![CDATA[isu SARA]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Ibu Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Soekarnoputri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=25476</guid>

					<description><![CDATA[“Kalau ada yang tersinggung dengan pusi ‘Ibu Indonesia’, ya nggak apa-apa. Saya memang warga negara Indonesia. Saya sangat bangga dengan keindonesiaan saya yang Bhinneka Tunggal Ika.&#8221; ~ Sukmawati Soekarnoputri. PinterPolitik.com [dropcap]J[/dropcap]angan bermain api kalau tidak ingin terbakar, begitulah kata-kata yang layak didengungkan pada sosok Sukmawati Soekarnoputri usai membacakan puisi ‘Ibu Indonesia’ miliknya yang dianggap telah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><em><strong>“Kalau ada yang tersinggung dengan pusi ‘Ibu Indonesia’, ya nggak apa-apa. Saya memang warga negara Indonesia. Saya sangat bangga dengan keindonesiaan saya yang Bhinneka Tunggal Ika.&#8221; ~ Sukmawati Soekarnoputri.</strong></em></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]J[/dropcap]angan bermain api kalau tidak ingin terbakar, begitulah kata-kata yang layak didengungkan pada sosok Sukmawati Soekarnoputri usai membacakan puisi ‘Ibu Indonesia’ miliknya yang dianggap telah menyakiti hati umat Muslim. Dalam sekejap, puisi itu memantik reaksi keras dari berbagai kalangan.</p>
<p>Gak tanggung-tanggung, reaksi keras berdatangan dari para Politisi, Pengamat Politik, Akademisi Sastrawan, bahkan Warganet. Bola api yang telah dilemparkan Sukmawati kini kian menjadi besar dan liar tak terkendali. <em>Apes-</em>nya, bahkan kini Sukmawati resmi dipolisikan. Nah kan <em>tercyduk</em>.</p>
<p>Sukmawati dipolisikan karena ada diksi puisi tersebut yang dianggap menghina Islam. Seperti pada bait ‘Konde lebih cantik dari cadar’ dan ‘Suara Kidung lebih merdu dari alunan azan’. Aduh gimana sih Ibu Sukmawati ini, kok masih main-main sama yang sensitif gini. <em>Warbyasah</em> emang dah.</p>
<p>Sekarang jadi bulan-bulanan kan! <em>Hadeuh, aya aya wae ah</em>. Tapi sebenarnya diksi tersebut gak serta merta mendeskreditkan umat Islam loh. Karena dalam interpretasi sebuah puisi, akan muncul beragam pemahaman tergantung pengalaman ‘puitik’ si pendengarnya. <em>Maca cih</em> gitu, <em>suwer mi</em> apa?</p>
<p>Kalau kata Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing, penilaian isi sebuah puisi tergantung kerangka referensi dan pengalaman yang digunakan. Serta posisi sosial atau politik dari setiap orang, terkait dengan pemaknaan simbol dan kalimat yang merangkai puisi tersebut. <em>Oalah</em> gitu <em>toh</em>, gimana ngerti<em> ora</em>?</p>
<p>Nah <em>apes</em>-nya nih ya, berhubung sekarang lagi tahun politik, hal-hal yang sensitif seperti ini akan dengan mudah dipolitisir. Jadi gak usah heran kalau banyak partai politik kemudian muncul berlomba-lomba menyudutkan Sukmawati, bak pahlawan pembela Islam. Aji mumpung lah ya, kapan lagi kan bisa keliatan keren.</p>
<p>Dengan terus menekankan adanya unsur penistaan agama dalam puisi ‘Ibu Indonesia’, partai politik berlomba-lomba mencari panggung untuk <em>mengenyuhkan</em> hati umat Islam Indonesia. Ya beginilah politik Indonesia, ada yang<em> kepleset</em> sedikit, goreng terus kasusnya sampai matang, buahahaha.</p>
<p>Mungkin bagi mereka, syukur-syukur kalau hasil minyak gorengnya bisa terpercik sampai ke<em> level</em> atas dan <em>nyerempet</em> ke keluarga Soekarno. Terus menjalar ke Megawati. Kemudian mengarah ke PDI-P. Dan ujung-ujungnya menstigma Presiden Jokowi sebagai pemimpin yang anti Islam. Kan<em> asem</em> bener itu, hahaha. (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sukmawati-Soekarnoputri-1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sukmawati ‘Dibuang’ Keluarga</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/sukmawati-dibuang-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2018 08:51:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Soekarno Marah]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Soekarnoputri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=25487</guid>

					<description><![CDATA[“Tidak ada yang lebih memalukan dari pada seseorang yang bangga dengan kerendahan hatinya.” ~ Marcus Aurelius PinterPolitik.com [dropcap]M[/dropcap]asyarakat lagi dan lagi digemparkan dengan tingkah seorang tokoh yang berpotensi akan mengulang kesalahan yang sama seperti Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok. Hanya karena ucapan yang keceplosan saja membuat Ahok rela dipenjara. Apalagi kasus yang sekarang, ahhh syudahhlah, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Tidak ada yang lebih memalukan dari pada seseorang yang bangga dengan kerendahan hatinya.” ~ Marcus Aurelius</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]asyarakat lagi dan lagi digemparkan dengan tingkah seorang tokoh yang berpotensi akan mengulang kesalahan yang sama seperti Basuki Tjahaja Purnama a.k.a Ahok.</p>
<p>Hanya karena ucapan yang<em> keceplosan</em> saja membuat Ahok rela dipenjara. Apalagi kasus yang sekarang, <em>ahhh syudahhlah, </em>jangan berselimut dalam seni ataupun nuansa sastra, mau tak mau tenun kebangsaan yang sudah dirajut kembali kini seolah dirusak lagi dan lagi. <em>Heuuuhhhh!</em></p>
<p>Kasus ini dikatakan lebih parah, karena sangat jelas punya niat dan itikad yang berbeda. Kata – katanya aja dikatakan lewat puisi, otomatis ini sih memang niat, bukan <em>keceplosan</em> seperti Ahok.</p>
<p>Dengan sangat percaya dirinya, Sukmawati berpuisi dengan kalimat penuh singgungan tanpa batas, alhasil banyak percikan yang menghantamnya. Nikmati saja ya nanti hasil dari perbuatannya, <em>weleeeh weleeeeh.</em></p>
<p>Sangat disayangkan ya, karena ada darah Bung Karno yang mengalir dalam tubuh Sukmawati, tapi <em>kok </em>yang ditampilkan malah begini ya? Sangat bertolakbelakang sekali,<em> uuhuuukk, uhuuuk. </em>Keluarga Soekarno apakah rela diidentikkan dengan perilaku Sukmawati yang begini? Banyak yang menolak kan?</p>
<p>Sebagai langkah awal, banyak pihak yang sudah melaporkan Sukmawati kepada pihak kepolisian, apakah nasibnya akan sama seperti Ahok? <em>Hadeuhhh, </em>sanggup emang begitu? Ya mau ga mau perlu pelajaran dan salah satunya penjara kali ya, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Risiko sih emang harus diterima, namanya juga udah merusak tenun kebangsaan. Padahal kondisi lagi <em>adem ayem, ehhh </em>malah begini coba, gimana ga pada marah, kayaknya lidah tak bertulang tapi setidaknya harus dijaga juga lah lisannya.</p>
<p><em>Embel – embel</em> nama Soekarno yang semakin membuatnya tak enak. Karena tak ada sama sekali upaya Soekarno untuk merenggut dan merusak tenun kebangsaan, sama sekali. Kok keturunannya malah merusaknya sih, <em>hadeuuuhhh.</em></p>
<p>Terus sikap keluarga Soekarno sendiri terhadap Sukmawati gimana, membuang Sukmawati? Entahlah. Tapi katanya yang jelas bukan bermaksud cuci tangan dan tak mengakui Sukmawati adalah bagian dari keluarga Soekarno, tapi sikap dan perilaku Sukmawati bukan cerminan keluarga Soekarno. Cerminan siapa dong? <em>Upssss, </em>ga tau deh.</p>
<p><em>Hayoloh </em>posisi Sukmawati kayak ga dianggap gitu ya? Ya gapapa lah namanya juga risiko, betul engga? <em>Weleeeh weleeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/sukmawati-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puisi Indah Penyayat Hati</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/puisi-indah-penyayat-hati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2018 03:45:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[isu SARA]]></category>
		<category><![CDATA[Kapitra Ampera]]></category>
		<category><![CDATA[Persaudaraan Alumni 212]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Ibu Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sukmawati]]></category>
		<category><![CDATA[Sukmawati Soekarnoputri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=25343</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Puisi ini realita tentang Indonesia. Saya gak ada SARA-nya. Saya menyelami bagaimana pikiran rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, di Bali dan daerah lain.&#8221; ~ Sukmawati Soekarnoputri. PinterPolitik.com [dropcap]M[/dropcap]enginjak tahun politik, segala isu sensitif berkenaan dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) berpotensi memicu konflik horizontal dengan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Puisi ini realita tentang Indonesia. Saya gak ada SARA-nya. Saya menyelami bagaimana pikiran rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, di Bali dan daerah lain.&#8221; ~ Sukmawati Soekarnoputri.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]enginjak tahun politik, segala isu sensitif berkenaan dengan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) berpotensi memicu konflik horizontal dengan mudah. Karena tiba-tiba perasaan masyarakat mendadak super sinsitif. Ya semacam prinsip ‘Senggol Bacok’ gitu deh, ngeri banget.</p>
<p>Perasaan umat Muslim memang bertubi-tubi mengalami ujian. Banyak tudingan, cacian, dan keraguan terhadap ajaran Islam. Saking super sensitifnya, perasan umat Islam bahkan bisa terluka hanya dengan sebatas lantunan puisi. Kalau berurusan dengan yang hobi <em>baperan</em>, ya pokoknya serba salah aja deh.</p>
<p>Puisi yang baru-baru ini dilantunkan oleh Sukmawati Soekarnoputri berjudul “Ibu Indonesia” dalam momen 29 Tahun Anne Avantie Berkarya, di Indonesia Fashion Week 2018, ternyata menuai banyak kontroversi. Pasalnya, makna puisi tersebut disinyalir mendeskreditkan umat Islam. <em>Maca cih</em> gitu?</p>
<p>Kecaman mulai datang dari pengurus Persaudaraan Alumni 212. Kapitra Ampera selaku pengacara Front Pembela Islam (FPI) menyatakan akan mempolisikan Ibu Sukmawati atas dugaan penistaan Islam. Waduh-waduh, emangnya apa sih isi puisi yang dianggap mencederai perasaan umat Muslim itu?</p>
<p>Dalam puisi tersebut terdapat bait yang menyatakan bahwa ‘Konde lebih cantik dari cadar’ dan ‘Suara kidung lebih merdu dari adzan’. <em>Mmm</em>, ok, sampai di sini kita tau lah ya kenapa ada yang kebakaran jenggot dengan puisi ini. Tapi kalau menelaah dari konteksnya, apa iya itu dikategorikan melecehkan Islam?</p>
<p>Pesan dari Puisi “Ibu Indonesia” ini sebenarnya mengenai realita tentang Indonesia. Mengenai pikiran rakyat Indonesia di daerah yang masih awam Syariat Islam. Yang mereka tahu hanya budaya luhur yang baik untuk dijalankan sehari-hari. Agar kita bangga akan kecantikan asli bangsa Indonesia.</p>
<p>Ada yang salah dari pesan puisi ini? Rasanya gak ada deh. Yang salah itu <em>mah</em> pendengarnya yang mudah tersinggung, pemeluk Islam kok <em>baperan</em>. Tapi paling nanti ada sejumlah elit politik yang bakal menggoreng terus isu puisi ini demi keuntungan politiknya. Ya semacam kasus Ahok jilid dua gitu deh. <em>Hadeeuh</em>. (K16)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="-f9zwU5Fs8s"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/-f9zwU5Fs8s?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Sukmawati-Soekarnoputri.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
