<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>PSI &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/psi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2026 09:59:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>PSI &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Waspada 3 &#8220;Kingdoms&#8221; of Jokowi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/waspada-3-kingdoms-of-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2026 09:47:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[berita politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=170220</guid>

					<description><![CDATA[Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut.</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/generated-audio-july-03-2026-4_56pm.wav"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat dengan teknologi AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. </strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Sabtu pagi, 27 Juni 2026, Kedatun Keagungan di Kota Sepang, Bandar Lampung, dipenuhi ratusan tamu undangan. Di panggung kehormatan, Presiden ke-7 RI Joko Widodo menerima gelar adat &#8220;Baginda Pemuka Bangsa&#8221; dari perwakilan lima kerajaan adat Lampung — sebuah prosesi yang sarat filosofi Piil Pesenggiri, dibalut pakaian kebesaran, dan diiringi tabuhan gong tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di permukaan, ini adalah perayaan budaya yang sah dan bermakna. Tapi bagi siapa pun yang mengamati kalender politik Jokowi sejak awal 2026, momen itu bukan sekadar titik dalam agenda kebudayaan. Ia adalah bagian dari pola yang, ketika dilihat dari jarak cukup jauh, membentuk sesuatu yang jauh lebih terstruktur dari sekadar kunjungan seremonial biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tiga hari safari di Lampung — 26 hingga 28 Juni 2026 — Jokowi menghadiri tidak kurang dari enam titik kegiatan PSI, menyapa ribuan kader dan relawan lintas kabupaten, serta menyaksikan pelantikan sejumlah tokoh lintas partai yang resmi bergabung ke PSI: eks Bupati Lampung Utara, eks Ketua DPW PPP Lampung, hingga eks legislator PDIP dan PKB. Barangkali, ini bukan sekadar kunjungan budaya yang kebetulan diselingi agenda partai. Ini mungkin adalah agenda partai yang secara paralel dibersamai acara kebudayaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan yang membuat pola ini menjadi lebih menarik untuk dicermati: Lampung bukan satu-satunya panggung.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Jawa Terlalu Padat, Periferi Juga Menjanjikan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Enam bulan sebelumnya, tepatnya 29-31 Januari 2026, Rakernas PSI digelar di Makassar. Jokowi hadir. Di sela kegiatan itu, Rusdi Masse Mappasessu — politisi senior tiga kali pindah partai dan mantan Bupati Sidrap dua periode — resmi meninggalkan NasDem untuk bergabung ke PSI. Istrinya, Fatmawati Rusdi, adalah Wakil Gubernur Sulawesi Selatan yang tengah menjabat. Dan di Sumatera Utara, gubernurnya adalah Bobby Nasution — menantu Jokowi yang dilantik pada Februari 2025.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga provinsi. Tiga mekanisme kedekatan yang berbeda. Satu jaringan yang sama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Lampung bukan provinsi acak. Ketiganya, secara presisi, adalah tiga provinsi dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) terbesar di luar Pulau Jawa pada Pemilu 2024: Sumut 10,85 juta, Sulsel 6,67 juta, dan Lampung 6,54 juta. Total gabungan: hampir 24 juta pemilih. Kesesuaian antara provinsi yang dipilih dan besaran DPT-nya terlalu rapi untuk dianggap kebetulan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan yang kemudian muncul bukan &#8220;apakah ini strategi?&#8221; — karena polanya sudah terlalu konsisten untuk disangkal. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: mengapa justru di luar Jawa?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah jawabannya menjadi menarik. Jawa, dengan 60 persen populasi nasional, secara intuitif tampak sebagai prioritas logis. Tapi dalam logika politik praktis, Jawa justru adalah arena yang paling mahal dan paling berisiko untuk dimasuki oleh PSI yang belum memiliki satu kursi pun di DPR. Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah basis PDIP yang dibangun selama tiga dekade — jaringan struktural yang sangat ideologis dan berakar hingga ke tingkat kelurahan. Jawa Barat dikuasai Golkar dan PKS secara bergantian. Banten menjadi territorial Gerindra dan Golkar. Masuk ke Jawa dengan kendaraan sekecil PSI berarti berhadapan langsung dengan mesin-mesin raksasa yang sudah mapan — sebuah war of maneuver yang kemungkinan besar akan habis sebelum sampai ke garis finish.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Antonio Gramsci, filsuf politik Italia yang menulis dari dalam penjara fasis Mussolini, pernah membedakan dua strategi perjuangan kekuasaan: war of maneuver, yakni serangan frontal langsung ke pusat; dan war of position, yakni pembangunan hegemoni secara bertahap di institusi-institusi pinggiran sebelum pusat kekuasaan benar-benar dapat direbut. Dalam pembacaan Gramscian, pilihan PSI untuk mengkonsolidasi kekuatan di luar Jawa adalah war of position yang sabar dan terkalkulasi — bukan kekalahan, melainkan penghindaran arena yang tidak menguntungkan demi membangun basis yang lebih cair dan lebih mudah diorganisir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pelengkap teori ini datang dari ilmuwan politik Edward Gibson melalui konsep &#8220;boundary control&#8221;: elite yang posisinya tidak cukup kuat di pusat cenderung membangun &#8220;zona kebal&#8221; di daerah-daerah yang pengawasan dari pusat relatif lemah dan kompetisi politiknya belum sekeras wilayah inti. Di luar Jawa, loyalitas kepartaian lebih pragmatis — kader yang berpindah dari PPP, PDIP, hingga PKB ke PSI dalam satu hari di Lampung adalah bukti empirisnya. Hal serupa nyaris mustahil terjadi di Jawa Tengah yang basis kulturalnya jauh lebih ideologis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pula dimensi yang lebih terukur secara aritmetika elektoral. PSI meraih 4,6 juta suara atau sekitar 2,8 persen pada Pemilu 2024 — gagal melewati ambang batas empat persen. Untuk 2029, PSI membutuhkan sekitar 8,2 juta suara. Dengan 24 juta pemilih yang tersebar di tiga provinsi target, dibutuhkan konversi suara sekitar 15 persen di ketiga provinsi itu untuk menutup seluruh defisit — angka yang besar, tapi jauh lebih realistis daripada merebut suara di Jawa yang sudah diperebutkan belasan partai sekaligus.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pertanyaan yang Belum Terjawab</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pola ini mengingatkan pada sebuah preseden sejarah yang usianya sudah 750 tahun: Ekspedisi Pamalayu tahun 1275. Raja Singhasari mengirim pasukan untuk menaklukkan Sumatra, bukan melalui pendudukan militer semata, melainkan dengan mengikat aliansi melalui pertukaran simbolik dan pernikahan politik — cara yang jauh lebih efisien dan bertahan lama. Namun ketika fokus dan sumber daya kerajaan teralihkan ke periferi, basis utama di Jawa justru runtuh akibat pemberontakan internal yang tidak terduga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Analogi ini bukan sekadar ornamen historis. Ia mengajukan pertanyaan yang paling substantif dalam seluruh pola yang sedang kita saksikan: apakah membangun tiga simpul di luar Jawa — dengan energi, modal sosial, dan waktu yang tidak sedikit — dilakukan dengan cukup memperhatikan apa yang tersisa atau bergerak di dalam Jawa sendiri? Basis politik yang tidak dikunci bisa bergerak ke arah yang tidak diinginkan, bahkan ketika pemiliknya sedang sibuk memperluas pengaruh di tempat lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan kedua yang tak kalah penting adalah soal keawetan. Rekrutmen elite lintas partai yang dibangun di atas pertimbangan pragmatis — bukan ideologis — rentan terhadap perubahan kalkulasi. Sejarah perpolitikan Indonesia penuh dengan elite yang datang saat arus menguntungkan dan pergi ketika arus berbalik. Apakah jaringan yang kini sedang dibangun di Lampung, Makassar, dan Medan cukup solid untuk bertahan hingga kotak suara 2029 dibuka?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, yang sedang terjadi di ketiga provinsi ini bukan fenomena yang bisa direduksi menjadi sekadar &#8220;safari adat&#8221; atau &#8220;konsolidasi partai&#8221; biasa. Ini adalah pembangunan fondasi nodal yang, jika berhasil dikonsolidasi, bisa mengubah peta kekuatan elektoral nasional secara signifikan — bukan dengan menguasai Jawa secara langsung, melainkan dengan menjadi cukup relevan di luar Jawa sehingga tidak ada satu pun pemain besar yang bisa mengabaikannya di meja negosiasi koalisi 2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah fondasi ini akan berdiri kokoh atau rontok sebelum sempat terhubung satu sama lain? Jawabannya belum ada. Yang pasti, polanya sudah terbaca — dan itu sendiri sudah cukup untuk membuat siapa pun yang mengamati politik Indonesia dengan serius mulai memperhatikan lebih seksama tiga titik di peta yang sebelumnya kerap jarang tersorot oleh mata awam pemerhati politik. (D74)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/generated-audio-july-03-2026-4_56pm.wav" length="22009530" type="audio/wav" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/untitled-design-1024x576.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/strategi-gajah-kaesang-masuk-pesantren/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A99]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 24 May 2026 01:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaesang]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169458</guid>

					<description><![CDATA[Ketika PSI mulai masuk ke pesantren, pertanyaannya bukan lagi soal safari politik. Pertanyaannya adalah: untuk siapa langkah itu sebenarnya ditujukan?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-22-2026-10_32am.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Ketika PSI mulai masuk ke pesantren, pertanyaannya bukan lagi soal safari politik. Pertanyaannya adalah: untuk siapa langkah itu sebenarnya ditujukan?</strong><audio src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/piramida.mp3"></audio></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">Pinterpolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Kaesang Pangarep berdiri di depan para santri Pondok Pesantren Fathul Ma&#8217;ani, Pandeglang. Ia mengajak kuis, membagikan hadiah, tertawa lepas. Kamera merekam semuanya dengan baik. Safari Ramadan, begitu mereka menamai agenda itu. Dari Kebumen ke Pandeglang, dari Jawa Tengah ke Banten. Putra bungsu mantan presiden sedang belajar bahasa baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunjungan itu terlihat sederhana. Tapi bagi partai yang kini semakin lekat dengan Jokowi itu, langkah tersebut menandai perubahan arah yang cukup drastis. Partai yang lahir dengan jargon anak muda dan gaya komunikasi digital kini memasuki ruang yang selama ini bukan wilayahnya: pesantren, kiai, komunitas santri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya adalah mengapa mereka perlu kesana sekarang?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Gajah yang Tidak Bergerak</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Realitas elektoralnya tidak berubah. Di 2019, partai ini meraih 1,89 persen suara. Di 2024, naik tipis namun tetap gagal melampaui ambang batas parlemen. Elektabilitas Mei 2026 masih di kisaran 1,2 persen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat angka itu terasa lebih pahit: popularitas Jokowi ternyata tidak otomatis mengubah kuantitas suara untuk PSI. Bahkan ketika Jokowi masih aktif menjabat, efek nama itu tidak cukup. Sekarang, dengan kontroversi ijazah yang bergulir dan insiden serangan narasi agama terhadap Jusuf Kalla yang berbalik menjadi bumerang, beban nama itu semakin berat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Respons partai ini adalah bergerak ke segmen yang belum pernah menjadi basisnya yaitu suara Islam. Kaesang ke pesantren. Di NTB, mereka merekrut Tuan Guru Haji Hazmi Hamzar, pembina pesantren mantan politikus PPP. Di Jawa Timur, ada pendekatan kepada figur-figur dengan jaringan kuat di kalangan kiai. Pergeseran ini juga memperlihatkan transformasi identitas yang tidak kecil: dari partai yang mengklaim lepas dari establishment menjadi partai yang semakin pragmatis dalam mencari jalan bertahan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>PSI, Kaesang, dan “Kolam” yang Bukan Milik Mereka</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya terletak di sini. Suara santri tradisionalis-NU adalah wilayah PKB, yang membangun jaringan pesantren lebih dari dua dekade lewat otoritas kiai yang organik. Suara Islam modern-perkotaan dikuasai PKS dengan mesin pengajian yang rapi dan kader terlatih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kunci masuk ke segmen santri bukan kunjungan, melainkan legitimasi dari kiai setempat. Dalam tradisi pesantren, kiai adalah penentu ke mana suara komunitas mengalir. Tanpa kepercayaan organik dari kiai lokal, Safari Ramadhan hanya akan ramai di media sosial dan sepi di kotak suara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbandingan yang paling telak datang dari PPP sebagai partai berlambang kabah dengan DNA Islam sejak Orde Baru, yang pun gagal melampaui ambang batas di 2024. Partai Kaesang yang baru belajar cara menyapa ulama tidak sedang bersaing dengan PKB. Mereka sedang bersaing dengan keterbatasan modalnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada aset yang tampak menjanjikan: koneksi Jokowi dengan Habib Luthfi bin Yahya, ulama kharismatik dengan jutaan pengikut di pantura Jawa Tengah. Tapi relasi itu milik Jokowi, dibangun bertahun-tahun atas kepercayaan personal. Dan seperti banyak relasi politik berbasis kharisma personal, pengaruh itu tidak mudah diwariskan kepada partai hanya lewat satu safari. Ketika Jokowi terlibat dalam kontroversi berlapis, jembatan menuju suara santri itu mulai retak dari fondasinya, tepat di saat mereka paling membutuhkannya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Target Sesungguhnya</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini, motif yang lebih besar mulai terlihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tempo mengungkap satu detail yang patut dicermati: Ahmad Ali mendapat lampu hijau masuk PSI setelah ada kesepakatan bahwa partai ini tidak akan mendorong Gibran berhadapan dengan Prabowo di Pilpres 2029. Lampu hijau itu datang dari lingkaran Prabowo. Setidaknya, ini memperlihatkan bahwa ruang gerak PSI sebagai entitas yang tidak dihalangi bergantung pada pemenuhan komitmen kepada pusat kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tempo juga mencatat bahwa Jokowi aktif memfasilitasi perpindahan sejumlah kader Nasdem ke PSI. Pesannya cukup spesifik: masuk ke kantong suara yang selama ini tidak pernah menjadi wilayah mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam banyak situasi politik, tindakan semacam ini sering kali lebih penting sebagai sinyal kepada elite ketimbang sebagai upaya langsung merebut pemilih. PSI perlu terus menunjukkan bahwa mereka masih berguna bagi koalisi, dan ekspansi ke wilayah santri adalah cara paling visual untuk memperlihatkan ambisi itu. Dengan catatan akan banyak rintangan yang dihadapi PSI dalam “merebut” kolam suara milik partai yang sudah lebih dulu pegang kolam suara itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika berkampanye kepada pemilih, konsistensi narasi adalah syarat utama. Tetapi ketika berdiplomasi kepada pemegang kekuasaan, yang dibutuhkan adalah kemampuan menunjukkan fleksibilitas dan kegunaan dari berbagai arah. Partai ini berguna bagi Prabowo selama tidak mengancam. Berguna bagi Jokowi selama tetap relevan sebagai kendaraan. Masuk pesantren adalah cara paling realistis untuk menunjukkan relevansi itu. PSI juga harus membuka opsi-opsi membesarkan kantung suara nya demi kepentingan politik yang akan datang. Hal tersebut diperlukan agar memudahkan jalan PSI menuju Senayan dan mengamankan posisi di kabinet.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya, relevansi di hadapan elite tidak selalu berarti relevansi di hadapan pemilih. Tanpa suara yang cukup, nilai tawar politik itu cepat atau lambat akan ikut menipis. Karena mungkin, sejak awal, Safari itu memang tidak dirancang untuk memenangkan santri. Melainkan untuk memastikan bahwa ketika pusat kekuasaan melihat ke arah pesantren, PSI masih tampak berada di sana. (A99)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="fxmtYeyamTk"><iframe title="Bahas PSI, politik perempuan dan anak muda bersama Dara Nasution" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/fxmtYeyamTk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-22-2026-10_32am.mp3" length="4642509" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/piramida.mp3" length="3539972" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/gemini_generated_image_v4lr1ov4lr1ov4lr-1024x614.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>The (Un)Shonen Way of Kaesang?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-unshonen-way-of-kaesang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 08 May 2026 09:30:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ade Armando]]></category>
		<category><![CDATA[Grace Natalie]]></category>
		<category><![CDATA[Kaesang]]></category>
		<category><![CDATA[kaesang pangarep]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169186</guid>

					<description><![CDATA[Tiga krisis menghantam PSI dalam 72 jam. Apakah Kaesang protagonis atau sekadar pewaris cerita orang lain?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-08-2026-4-30.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Tiga krisis menghantam PSI dalam 72 jam. Apakah Kaesang protagonis atau sekadar pewaris cerita orang lain?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“<em>自分がダメな人間だと思うこともある。もう希望なんかないって。でも、僕は絶対に諦めない！</em>” – Izuku Midoriya (<em>My Hero Academia</em>)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin baru saja selesai menonton ulang arc Marineford di One Piece ketika ia membuka Twitter dan mendapati tiga headline tentang PSI berjajar di timeline-nya. Grace Natalie dilaporkan ke Bareskrim oleh 40 ormas Islam, Ade Armando mengundurkan diri dari partai, dan Bro Ron dipukuli hingga berdarah di Menteng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tiga krisis dalam 72 jam. Cupin meletakkan ponselnya dan berpikir: dalam anime mana pun, ini adalah momen yang seharusnya memaksa sang protagonis keluar dari bayang-bayang dan berdiri di garis depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI yang baru berusia 31 tahun itu, sedang berada di Sorong, Papua Barat Daya, melantik pengurus daerah. Jakarta sedang membara, dan sang kapten memilih melanjutkan jadwal di ujung timur Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mengingat bahwa Kaesang menjadi anggota PSI pada September 2023 dan dua hari kemudian langsung menjadi Ketua Umum, tanpa pernah menjadi kader biasa atau merasakan pahitnya kalah dalam pemilihan internal. Sebuah lompatan yang, menurut Cupin, tidak akan pernah terjadi di anime shonen mana pun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin paham bahwa ada logika di balik pilihan itu. Ahmad Ali, Ketua Harian PSI, memang ditempatkan untuk mengelola operasional dan ia merespons dengan cukup sigap, mulai dari memanggil Grace untuk klarifikasi hingga menerima pengunduran diri Ade Armando.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Cupin juga paham bahwa politik adalah soal persepsi, bukan hanya soal manajemen. Dan persepsi yang terbentuk saat ini adalah bahwa PSI sedang dilanda badai sementara nahkodanya tidak terlihat di dek kapal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat Cupin lebih penasaran adalah konteks yang lebih luas. Sebelum tiga krisis ini meledak, 13 pengurus DPC PSI Semarang sudah mundur massal pada Februari 2026, dan kader yang melaporkan Jusuf Kalla atas polemik video ceramah UGM ternyata juga pejabat struktural di DPP PSI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyeduh kopi keduanya dan mulai bertanya-tanya. Apakah ini sekadar rangkaian kesialan, atau gejala dari sesuatu yang lebih mendasar di tubuh PSI? Dan yang lebih penting: apakah Kaesang Pangarep adalah tipe pemimpin yang tumbuh dari tekanan, atau justru tipe yang belum pernah benar-benar diuji?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DX__FyUjw9I/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DX__FyUjw9I/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DX__FyUjw9I/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Arc </em></strong><strong>Kedua: </strong><strong><em>Nakama </em></strong><strong>yang Diwarisi, Bukan Dibangun</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat satu pola yang selalu konsisten di setiap cerita shonen yang ia tonton sejak kecil. Protagonisnya, entah itu Naruto, Luffy, atau Deku, selalu membangun ikatan dengan cara yang sama: melalui pengalaman bersama menghadapi sesuatu yang sulit, bukan melalui transaksi atau jabatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam dunia anime, ikatan semacam itu disebut nakama. Luffy tidak merekrut Zoro dengan menawarkan posisi, melainkan dengan menyelamatkannya dari eksekusi dan membuktikan bahwa ia bersedia mempertaruhkan nyawa untuk orang yang baru ia kenal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin melihat paralel yang menarik dengan dunia kepartaian. Samuel Huntington dalam Political Order in Changing Societies menyebut proses serupa sebagai value infusion, yaitu momen ketika nilai dan loyalitas tertanam begitu dalam sehingga organisasi menjadi bernilai pada dirinya sendiri, melampaui fungsinya sebagai kendaraan menuju tujuan-tujuan pragmatis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI di bawah Kaesang belum pernah melewati momen foundational semacam itu. Kader yang bergabung setelah September 2023 masuk ke struktur yang sudah jadi, bukan ke perjuangan yang sedang berlangsung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka tidak tahu apakah Kaesang akan berdiri di depan ketika badai datang, karena badai belum pernah benar-benar datang sebelumnya. Krisis Mei 2026 seharusnya menjadi momen itu, tapi sang Ketum memilih mendelegasikan penanganannya ke Ahmad Ali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat Cupin mengernyit adalah cara PSI menangani anggotanya yang bermasalah. Ketika Grace dan Ade tersandung polemik, partai dengan cepat menegaskan bahwa itu urusan pribadi dan menolak memberikan bantuan hukum secara institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Albert Hirschman dalam Exit, Voice, and Loyalty menjelaskan bahwa organisasi yang sehat membutuhkan tiga mekanisme sekaligus: kemampuan anggota untuk keluar, kemampuan menyuarakan kekhawatiran dari dalam, dan alasan yang cukup kuat untuk tetap tinggal. Ketika Ade Armando terpaksa mundur dan belasan pengurus Semarang memilih hengkang, itu bukan karena mekanisme internal gagal, melainkan karena mekanisme itu tidak pernah benar-benar ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin membandingkannya dengan bagaimana Megawati Soekarnoputri membangun PDIP. Model kepemimpinan Megawati tentu punya banyak catatan, tapi satu hal yang sulit disangkal: ketika PDIP menghadapi Kudatuli 1996, kekalahan dari SBY, hingga hengkangnya Jokowi, Megawati selalu hadir di garis depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam logika shonen, itu setara dengan kapten yang tidak pernah meninggalkan kru-nya menghadapi badai sendirian. Cupin bertanya pada dirinya sendiri: apakah Kaesang sudah membangun nakama-nya sendiri, atau ia masih mengandalkan kru yang diwariskan? Dan jika krisis Mei 2026 belum cukup untuk memicunya turun ke garis depan, krisis sebesar apa yang dibutuhkan?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DYBpAzhDs_1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DYBpAzhDs_1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div>
</div>
<p></a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DYBpAzhDs_1/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>


<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Final Arc</em></strong><strong>: Ambisi Milik Siapa?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin selalu percaya bahwa ada satu hal yang membuat protagonis shonen berbeda dari karakter lain: ambisi mereka selalu spesifik dan selalu milik sendiri. Luffy ingin jadi Raja Bajak Laut, Naruto ingin jadi Hokage.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Spesifisitas itu bukan hiasan naratif, melainkan fungsi dramaturgi yang membuat penonton tahu persis apa yang sedang diperjuangkan. Dan ketika penonton tahu apa taruhannya, setiap kemajuan dan kemunduran terasa nyata.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI, menurut Cupin, memiliki ambisi yang masih kabur. Partai ini lahir sebagai partai anak muda dan progresif, tapi &#8220;anak muda&#8221; adalah kategori demografis dan &#8220;progresif&#8221; adalah suasana hati, bukan platform ideologis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada pula kontradiksi yang membuat Cupin geleng-geleng kepala. PSI didirikan dengan semangat anti-dinasti, tapi kini dipimpin putra presiden dengan sang presiden sendiri sebagai Dewan Pembina.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Max Weber dalam Economy and Society membedakan tiga tipe otoritas: tradisional yang bersumber dari warisan, karismatik yang bertumpu pada daya tarik personal, dan rasional-legal yang berdiri di atas prosedur dan institusi. Kaesang memiliki modal karismatik yang tidak kecil karena ia muda, komunikatif, dan secara persona cukup disukai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi Weber juga memperingatkan bahwa karisma sebagai sumber otoritas itu tidak stabil dan tidak bisa ditransfer ke institusi tanpa proses yang ia sebut sebagai routinization. Tanpa proses itu, ketika sang pemimpin karismatik tidak mampu menjawab krisis, tidak ada sistem yang bisa mengambil alih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin teringat bagaimana Naruto di episode-episode awal bukan murid yang baik. Ia tidak sabaran, sering mengabaikan pelajaran, dan lebih mengandalkan tekad ketimbang strategi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi satu hal yang tidak pernah diragukan siapa pun: keinginannya untuk tumbuh itu genuine. Tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang memaksa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan itu pula yang, menurut Cupin, perlu dijawab Kaesang. Bukan soal apakah ia cukup pintar atau cukup berpengalaman, melainkan apakah ambisinya membangun PSI cukup besar dan cukup genuine untuk memaksanya melewati rasa sakit yang dibutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Antonio Gramsci pernah menulis bahwa setiap hubungan hegemonik pada dasarnya adalah hubungan pedagogis. Artinya, pemimpin yang baik adalah mereka yang bersedia menjadi murid sebelum menjadi guru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rasa sakit itu bisa berupa banyak hal: membangun ideologi partai yang benar-benar diyakini, hadir di garis depan ketika krisis datang, atau melepaskan kenyamanan menjadi heir dan memilih membangun sesuatu yang sepenuhnya miliknya. Jürgen Habermas dalam teorinya tentang ruang publik menegaskan bahwa legitimasi politik hanya bisa diperoleh melalui proses deliberatif yang terbuka, bukan melalui pewarisan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam shonen, episode pertama jarang menentukan nasib protagonis. Yang menentukan adalah bagaimana ia merespons ujian pertamanya: apakah ia menyalahkan keadaan, atau menggunakannya sebagai bahan bakar untuk membangun sesuatu yang lebih kuat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Krisis Mei 2026 adalah episode pertama itu bagi Kaesang. Ceritanya masih sangat panjang sebelum siapa pun bisa memutuskan apakah ini arc seorang protagonis atau sekadar karakter yang lewat. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="8gTz4wJMyKI"><iframe title="Naruto: Politik di Balik Anime &amp; Manga" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/8gTz4wJMyKI?start=4&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-08-2026-4-30.mp3" length="3145100" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/the-un-shonen-way-of-kaesang.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>The Floating Elite, Sandiaga Uno</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/the-floating-elite-sandiaga-uno/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gerindra]]></category>
		<category><![CDATA[PPP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[Sandiaga Uno]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169026</guid>

					<description><![CDATA[Sandiaga Uno kian tampak sebagai floating elite, besar secara kapital, namun tak tertampung struktur partai. Di tengah rapuhnya PPP dan opsi politik yang terbatas, muncul pertanyaan lebih dalam: apakah masalahnya pada pilihan Sandi, atau justru pada sistem partai yang tak lagi mampu menampung elite modern?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/sandiaga-uno.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Sandiaga Uno kian tampak sebagai <em>floating elite</em>, besar secara kapital, namun tak tertampung struktur partai. Di tengah rapuhnya PPP dan opsi politik yang terbatas, muncul pertanyaan lebih dalam: apakah masalahnya pada pilihan Sandi, atau justru pada sistem partai yang tak lagi mampu menampung elite modern?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Di tengah gejolak internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada April 2026, ditandai oleh mosi tidak percaya dari sejumlah kader daerah terhadap elite harian, satu hal justru lebih mencolok daripada konflik itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lain, absennya Sandiaga Uno dari hiruk-pikuk tersebut. Ia tidak muncul sebagai penengah, tidak pula sebagai aktor dalam pusaran friksi. Dalam politik, diam sering kali bukan ketiadaan sikap, melainkan sinyal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketidakhadiran ini menjadi menarik karena Sandiaga bukan kader biasa. Ia adalah figur dengan kapital ekonomi kuat, pengalaman elektoral nasional, dan rekam jejak pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam logika umum, sosok seperti ini seharusnya menjadi jangkar stabilitas atau bahkan kandidat alternatif dalam situasi krisis partai. Namun yang terjadi justru sebaliknya, ia tampak berada di luar orbit dinamika PPP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini membuka ruang interpretasi yang lebih luas. <em>Pertama</em>, apakah Sandiaga memang sedang mengambil jarak dari dinamika internal PPP yang dianggap tidak produktif?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, apakah PPP sejak awal bukan kendaraan politik yang ideal baginya? Dan <em>ketiga</em>—yang paling penting—apakah ia sedang mempertimbangkan reposisi politik yang lebih strategis?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, muncul apa yang bisa disebut sebagai “kisi-kisi hijrah politik”. Tidak secara eksplisit, tetapi melalui sikap dan momentum, terbuka kemungkinan bahwa Sandiaga tengah menimbang ulang afiliasi politiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Opsi tersebut tidak harus tunggal, dan tidak pula harus segera. Namun, sebagai elite dengan kalkulasi rasional, kecil kemungkinan ia akan terus berada dalam struktur yang tidak memberikan ruang optimal bagi ekspansi politiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah Sandiaga Uno mulai tampak sebagai <em>floating elite</em>—figur elite yang memiliki kapital besar, tetapi tidak sepenuhnya terikat atau terserap dalam satu struktur partai tertentu. Ia tidak keluar dari sistem, tetapi juga tidak sepenuhnya berada di dalamnya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kapital Sandiaga, Tanpa Kanal</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membaca posisi ini secara lebih dalam, kita dapat merujuk pada teori sirkulasi elite dari Vilfredo Pareto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pareto menekankan bahwa stabilitas sistem politik sangat bergantung pada kemampuan sistem tersebut untuk menyerap dan menggantikan elite secara dinamis. Ketika proses ini tidak berjalan dengan baik, sistem akan mengalami disfungsi, baik dalam bentuk stagnasi maupun konflik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Indonesia, kita melihat adanya ketidakseimbangan dalam sirkulasi elite. Beberapa partai mengalami kelebihan elite tanpa distribusi kekuasaan yang memadai, sementara yang lain justru kekurangan kohesi untuk mengelola konflik internal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam situasi seperti ini, figur dengan kapasitas tinggi tidak selalu menemukan ruang yang sesuai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Analisis ini dapat diperdalam melalui kerangka kapital dari Pierre Bourdieu. Sandiaga Uno memiliki kombinasi kapital yang relatif lengkap: ekonomi (sebagai pengusaha), sosial (jejaring luas), dan simbolik (citra publik dan pengalaman pemerintahan).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, satu dimensi yang menjadi kunci dalam politik partai adalah kapital politik struktural—yakni keterikatan organik dengan mesin partai dan kemampuan mengendalikan atau setidaknya memengaruhi arah organisasi dari dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kapital ini tidak bisa dibeli atau dibangun secara instan. Ia membutuhkan waktu, loyalitas, dan keterlibatan dalam dinamika internal yang sering kali tidak rasional secara teknokratik. Di sinilah terjadi <em>mismatch</em> antara tipe elite seperti Sandiaga dengan struktur partai yang ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, teori <em>cartel party</em> dari Richard Katz dan Peter Mair menjelaskan bahwa partai politik modern cenderung berfungsi sebagai kartel elite—di mana akses terhadap kekuasaan dikendalikan oleh kelompok internal yang relatif tertutup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai tidak lagi sepenuhnya menjadi arena kompetisi terbuka, melainkan ruang negosiasi terbatas di antara aktor-aktor yang sudah mapan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sistem seperti ini, kehadiran elite baru, bahkan dengan kapital besar tidak selalu disambut sebagai aset, melainkan bisa dilihat sebagai disrupsi terhadap keseimbangan internal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akibatnya, figur seperti Sandiaga berada dalam posisi yang ambigu, cukup kuat untuk diperhitungkan, tetapi belum tentu memiliki jalur masuk yang mulus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang melahirkan kondisi <em>floating elite</em>, bukan karena kekurangan kapasitas, tetapi karena struktur yang tidak menyediakan kanal yang sesuai.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2.png" alt="anies vs sandi game of ppp thrones 2" class="wp-image-161840" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/06/anies-vs-sandi-game-of-ppp-thrones-2-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pindah Partai Aja?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika posisi Sandiaga Uno saat ini adalah hasil dari <em>mismatch</em> struktural, maka pertanyaan berikutnya adalah, ke mana arah rasionalnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain ambisi personal Sandiaga yang tentu menjadi variabel pamungkas, beberapa opsi secara teoritis terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai-partai seperti PSI menawarkan ruang bagi figur dengan citra modern dan pendekatan non-konvensional, meskipun basis elektoral dan infrastruktur politiknya masih berkembang. Pun rentan dengan predikat kontroversial karena terafiliasi Joko Widodo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai NasDem, dengan karakter sebagai partai yang relatif terbuka terhadap figur eksternal, juga dapat menjadi kanal alternatif, terutama dengan tradisi mengusung tokoh non-kader dalam kontestasi nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, kembali ke Partai Gerindra, partai tempat Sandiaga pernah bernaung, secara historis memberikan legitimasi awal bagi karier politiknya. Namun, opsi ini secara politik tidak sederhana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dinamika internal, perubahan konfigurasi kekuasaan, serta relasi personal di masa lalu menjadi variabel yang membuat jalur <em>comeback</em> tidak sepenuhnya terbuka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, pilihan untuk tidak sepenuhnya terikat pada partai juga semakin relevan. Dalam kerangka <em>post-party politics</em> dari Colin Crouch, kekuasaan tidak lagi dimonopoli oleh partai politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menyebar melalui jaringan informal, posisi strategis dalam pemerintahan, serta relasi antara negara dan sektor bisnis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Model ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi figur seperti Sandiaga Uno. Ia dapat tetap berada dalam orbit kekuasaan tanpa harus terikat pada satu struktur partai yang rigid.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sampelnya ada diri sahabat Sandiaga Uno, Erick Thohir yang tak memiliki kendaraan politik namun eksis di blantika politik-pemerintahan, sejak 2019 hingga detik ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, fleksibilitas ini datang dengan konsekuensi, legitimasi elektoral yang lebih lemah dan ketergantungan yang lebih besar pada konfigurasi kekuasaan yang dinamis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik ini, pilihan Sandiaga bukan sekadar soal “partai mana yang paling cocok”, tetapi lebih mendasar, apakah ia akan tetap bermain dalam logika politik partai, atau beradaptasi dengan bentuk kekuasaan yang lebih cair dan lintas institusi?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sandiaga Uno tidak sedang kehilangan arah. Ia justru berada di titik reflektif yang jarang dimiliki oleh elite politik, kemampuan untuk tidak terburu-buru dalam menentukan posisi di tengah sistem yang belum sepenuhnya stabil.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai <em>floating elite</em>, ia merepresentasikan perubahan yang lebih luas dalam politik Indonesia di mana kapasitas individu tidak selalu sejalan dengan struktur institusional yang ada.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Partai politik, dengan segala keterbatasannya, tidak lagi menjadi satu-satunya kanal mobilitas elite.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi apakah Sandiaga akan berpindah partai, melainkan apakah sistem politik Indonesia mampu beradaptasi dengan tipe elite seperti dirinya yang tampak masih potensial dan dibutuhkan dalam derajat tertentu?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika tidak, maka bukan hanya Sandiaga yang akan mengambang. Melainkan seluruh sistem yang perlahan kehilangan gravitasi politiknya sendiri. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="7vkrZrX3hXc"><iframe loading="lazy" title="Sejarah PPP: Dari Intelijen Hingga Rhoma Irama" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/7vkrZrX3hXc?start=23&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/sandiaga-uno.mp3" length="2518988" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/mardiono-sandi-ppp-1024x595.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jokowi: Battle for Ngapak-land?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-battle-for-ngapak-land/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2026 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[kaesang pangarep]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[tegal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167618</guid>

					<description><![CDATA[PSI gelar kirab budaya di Tegal, Jokowi hadir dampingi Kaesang. Hanya pesta rakyat, atau irisan pertama untuk merebut benteng Jawa Tengah?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/jokowi-battle-for-ngapak-land.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-dots"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>PSI gelar kirab budaya di Tegal, Jokowi hadir dampingi Kaesang. Hanya pesta rakyat, atau irisan pertama untuk merebut benteng Jawa Tengah?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Kami ingin hadir dengan cara yang menyenangkan, terbuka, dan tetap menjunjung tinggi kearifan lokal” – Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI (15/2/2026)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Cupin menyeruput perlahan teh poci hangatnya sambil menatap lekat layar ponsel yang menampilkan keriuhan festival di pesisir utara. Matanya terpaku pada sosok Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, yang tampak tertawa lepas dalam balutan kemeja putih khasnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemandangan pada pertengahan Februari 2026 itu bukanlah sebuah kunjungan kenegaraan yang kaku, melainkan kehadiran di acara kirab budaya Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Di samping mantan kepala negara tersebut, sang putra yang juga menduduki posisi Ketua Umum PSI tampak sumringah menyapa ribuan warga Tegal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Cupin, momen yang tertangkap kamera tersebut jelas bukanlah sebuah kebetulan politik yang terjadi tanpa kalkulasi mendalam. Ada pesan simbolik yang sangat kuat sedang dikirimkan ketika tokoh sebesar Jokowi rela turun langsung ke wilayah perbatasan Jawa Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tegal selama ini dikenal dengan denyut nadi ekonomi kelas menengah tangguh yang digerakkan oleh para juragan warteg dan perajin logam. Kemerdekaan finansial di akar rumput ini membentuk karakter masyarakat yang sangat egaliter, ceplas-ceplos, dan sama sekali tidak terikat pada feodalisme keraton.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karakteristik <em>blakasuta</em> atau apa adanya ini membuat Tegal menjadi sebuah anomali kultural di tengah lanskap politik Jawa Tengah yang hierarkis. Wilayah ini pada hakikatnya merupakan pintu gerbang utama menuju kawasan kebudayaan unik yang sering dijuluki sebagai Ngapak-land.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin mengamati bagaimana PSI dengan sangat cerdik menggunakan pendekatan kebudayaan untuk menyusup perlahan ke dalam wilayah yang otonom tersebut. Mereka menggelar festival kesenian jalanan dan menggandeng para pelaku UMKM lokal untuk merebut simpati massa tanpa orasi politik yang mengawang-awang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran sosok Jokowi berfungsi ganda sebagai katalisator massa sekaligus panggung validasi sosial bagi partai berlogo gajah tersebut di mata rakyat. Sang mantan presiden seolah sedang memindahkan sisa tuah politik elektoralnya untuk menghidupkan mesin partai yang digawangi anak bungsunya itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin menyadari bahwa Jawa Tengah selama ini telah dipahami secara luas sebagai benteng pertahanan absolut bagi satu partai berlambang banteng. Namun, manuver kultural di Tegal ini memberikan sinyal terang bahwa selalu ada celah struktural di tembok benteng yang terlihat kokoh tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemilihan lokasi kirab budaya di tanah Ngapak mengisyaratkan sebuah rasionalisasi politik tingkat tinggi yang tidak sekadar mencari keramaian semata. Tegal secara terencana diposisikan sebagai titik tumpu awal untuk memulai sebuah operasi perebutan pengaruh berskala provinsi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah kultural ini secara instan membuat konstelasi politik lokal berubah menjadi jauh lebih dinamis, liar, dan penuh ketidakpastian bagi kubu petahana. Sebuah peperangan simbolik untuk memperebutkan hegemoni baru saja ditabuh secara terbuka di alun-alun kota bahari tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah manuver kultural ini sekadar parade kesenian biasa untuk menghibur kepenatan warga pesisir utara? Ataukah sebenarnya ada strategi perlawanan senyap yang sedang dirajut rapi dari pinggiran untuk menggoyahkan fondasi kekuasaan di pusat Jawa Tengah?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DU5LjZ_ATuh/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DU5LjZ_ATuh/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DU5LjZ_ATuh/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mengiris dari Ngapak-land?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin memutar otaknya untuk membedah lebih jauh taktik di balik layar yang sedang dimainkan oleh poros kekuatan politik baru ini. Ia lantas teringat pada sebuah konsep manuver strategis klasik dalam ilmu pertahanan yang dikenal luas dengan istilah taktik <em>salami slicing</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan taktis ini bekerja dengan cara mengiris kekuatan dan teritori lawan secara bertahap, lapis demi lapis dari bagian paling luar. Target utama dari strategi ini bukanlah menghancurkan musuh dalam satu pertempuran besar, melainkan menggerogoti dominasi lawan secara perlahan hingga habis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks geopolitik Jawa Tengah, jantung kekuasaan absolut partai petahana berada di kawasan kebudayaan Mataraman seperti Solo dan wilayah sekitarnya. Menyerang pusat kekuatan ideologis secara langsung pada saat ini tentu merupakan sebuah tindakan bunuh diri politik bagi partai sekecil PSI.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, wilayah Ngapak-land yang secara geografis dan kultural berada di pinggiran menjadi target operasi asimetris yang paling rasional. Sosiolog Edward Shils dalam esainya yang sangat berpengaruh berjudul <em>Center and Periphery</em> pernah mengingatkan tentang pola interaksi dinamis semacam ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shils secara tajam berargumen bahwa masyarakat yang bermukim di wilayah pinggiran selalu menyimpan tegangan sosiologis yang laten terhadap otoritas di pusat. Kelompok periferal ini umumnya memiliki sistem nilai sendiri dan kerap kali merasa dianaktirikan oleh narasi pembangunan dominan dari ibu kota kultural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Komunitas masyarakat Ngapak dengan semangat egalitariannya adalah wujud paling nyata dari entitas pinggiran yang bangga akan otonomi identitas mereka. Kondisi tanpa beban hierarkis yang kaku inilah yang membuat preferensi elektoral pemilih di kawasan barat laut ini cenderung jauh lebih cair.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menyadari realitas tersebut, PSI mencoba mengeksploitasi kelenturan politik masyarakat Ngapak dengan memposisikan partai mereka sebagai ruang alternatif yang revolusioner. Di sinilah kehadiran sosok Jokowi menjadi <em>endorsement</em> visual tanpa kata yang meyakinkan warga bahwa mendukung gerbong baru ini adalah pilihan aman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Melalui irisan-irisan tipis penetrasi kultural di wilayah pinggiran seperti Tegal dan sekitarnya, operasi penggalangan massa bawah tanah mulai dibentuk. Kesuksesan menguasai wilayah pesisir perlahan akan menciptakan efek domino yang menyusutkan mitos hegemoni tak terkalahkan milik partai petahana.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Operasi senyap ini ibarat taktik peperangan gerilya di mana pasukan penantang membangun basis logistik terkuatnya di desa-desa terluar yang tak terjaga. Tegal telah berubah wujud menjadi tumpuan pantai yang sangat krusial bagi kubu penantang sebelum mereka benar-benar bergerak menembus jantung pertahanan lawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin melihat bahwa pendekatan membumi lewat kirab budaya adalah senjata pelunak terbaik untuk mengurangi resistensi masyarakat terhadap invasi partai pendatang baru. Namun, PSI juga harus memperhitungkan faktor demografi spiritual yang sangat kental di wilayah pesisir utara tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah menaklukkan kesetiaan wilayah pinggiran ini benar-benar semudah membalikkan telapak tangan di atas panggung festival? Tidakkah ada benturan identitas kultural laten yang sedang mengintai dan membayangi langkah partai urban ini di tanah para ulama?</p>


<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/DUcumr5CeqV/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="14" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);"><div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/DUcumr5CeqV/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank" rel="nofollow"> <div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;"> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div></div></div><div style="padding: 19% 0;"></div> <div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div><div style="padding-top: 8px;"> <div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;">View this post on Instagram</div></div><div style="padding: 12.5% 0;"></div> <div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;"><div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div> <div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div></div><div style="margin-left: 8px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div></div><div style="margin-left: auto;"> <div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div> <div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div></div></div> <div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;"> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;"></div> <div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;"></div></div></a><p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;"><a href="https://www.instagram.com/p/DUcumr5CeqV/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;" target="_blank" rel="nofollow">A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik)</a></p></div></blockquote>
<script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script>


<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ngapak-land dan Tanah Para Kiai?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kalkulasi strategi pemenangan di atas kertas ruang rapat memang kerap kali terlihat sangat menjanjikan dan sempurna tanpa cela. Namun, realita sosiologis di akar rumput selalu menyimpan kompleksitas dan jebakan kejutan yang tak jarang menghancurkan prediksi para pengamat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cupin tahu betul bahwa lanskap sosiokultural di Ngapak-land bukanlah sekadar kanvas politik kosong yang bisa diwarnai sesuka hati oleh kekuatan baru. Tegal dan kabupaten di sekitarnya memiliki akar religiusitas yang sangat dalam dan mengurat akar pada institusi keagamaan tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kawasan ini sejatinya adalah benteng pertahanan kultural yang sangat kokoh bagi kelompok santri dalam menjaga keseimbangan tatanan sosial bermasyarakat. Sosok para kiai lokal dan institusi pesantren memegang otoritas sosial tertinggi yang seringkali melampaui kharisma para pejabat struktural pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukti empiris dari dominasi ini terlihat jelas dari kemenangan mutlak tokoh-tokoh bercorak Islam tradisional dalam berbagai kontestasi pemilihan kepala daerah setempat. Mereka bergerak melalui jaringan akar rumput yang digerakkan oleh ikatan solidaritas komunal yang sangat solid, militan, dan loyal terhadap fatwa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik persinggungan kultural inilah letak anomali terbesar yang berpotensi menjadi bumerang mematikan bagi ambisi ekspansi elektoral PSI. Sejarah mencatat bahwa DNA organisasi partai ini sejak awal kelahirannya didesain khusus sebagai wadah bagi kelompok intelektual beraliran progresif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka adalah representasi murni dari aspirasi politik yang lahir, tumbuh, dan dibesarkan dari rahim kelas menengah urban di ibu kota Jakarta. Akibatnya, gagasan-gagasan kebangsaan yang ditawarkan seringkali terasa terlalu sekuler atau kebarat-baratan bagi telinga masyarakat agraris tradisional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terdapat jurang filosofis yang menganga lebar antara narasi kebebasan hak individu khas PSI dengan nilai-nilai kepatuhan komunal di wilayah basis santri. Antropolog Clifford Geertz dalam karya legendarisnya yang bertajuk <em>The Religion of Java</em> telah memberikan pisau analisis sosiologis yang sangat tajam membedah fenomena ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Geertz dengan teliti memetakan masyarakat Jawa ke dalam trikotomi sosial abangan, santri, dan priyayi yang masing-masing membawa garis takdir pandangan politiknya sendiri. Melalui kacamata teori tersebut, DNA progresif PSI secara natural akan jauh lebih mudah diterima oleh kalangan abangan modern atau kelompok priyayi perkotaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tegal saat ini telah berubah menjadi medan tempur kultural yang rumit di mana kelompok santri memiliki hak veto elektoral yang tidak bisa dinegosiasikan. Meskipun masyarakat Ngapak terbiasa bersikap egaliter dan bertutur kata blak-blakan, nilai dasar moralitas keseharian mereka tetap bersandar teguh pada tradisi syariat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran kharismatik seorang Jokowi mungkin saja mampu membuka pintu gerbang komunikasi, tetapi pesonanya belum tentu sanggup memanipulasi identitas genetik para pemilih. Jika artikulasi pesan politik gagal diselaraskan dengan frekuensi kultural kelompok santri, maka parade budaya mewah kemarin tak lebih dari sekadar seremoni hampa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Taktik mengiris dari luar pada akhirnya bisa saja terhenti secara tragis ketika bilah pisau politik justru membentur tulang ideologi yang terlampau keras. Pertarungan memperebutkan hegemoni di Ngapak-land ini bukan lagi sekadar ajang unjuk kekuatan logistik, melainkan ujian maha berat soal kemampuan beradaptasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Waktu yang akan menjawab dengan adil apakah irisan tipis dari pinggiran pesisir ini mampu meruntuhkan dominasi kelam masa lalu atau justru memantul kembali sebagai pelajaran pahit. Keberhasilan ataupun kegagalan manuver ini kelak akan menjadi catatan sejarah penting tentang bagaimana sebuah partai kota mencoba meraba detak jantung budaya desa. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe loading="lazy" title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/jokowi-battle-for-ngapak-land.mp3" length="1064828" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/jokowi-battle-for-ngapak-land-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Karma Surya Paloh?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/karma-surya-paloh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Jan 2026 02:37:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[ahmadali]]></category>
		<category><![CDATA[Hanura]]></category>
		<category><![CDATA[Nasdem]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[rusdimasse]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167253</guid>

					<description><![CDATA[Kepindahan sejumlah elite Partai NasDem dinilai jadi langkah struktural PSI mengincar Sulawesi Selatan. Pandangan kalian soal ini bagaimana? Share di kolom komentar ya #infografis #pinterpolitik #nasdem #psi #pdip #hanura #politikindonesia #rusdimasse #ahmadali #pemilu]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167256" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-819x1024.png" alt="karma surya paloh" class="wp-image-167256" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-819x1024.png" alt="karma surya paloh (2)" class="wp-image-167257" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167258" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-819x1024.png" alt="karma surya paloh (3)" class="wp-image-167258" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kepindahan sejumlah elite Partai NasDem dinilai jadi langkah struktural PSI mengincar Sulawesi Selatan. Pandangan kalian soal ini bagaimana? Share di kolom komentar ya</p>



<p class="wp-block-paragraph">#infografis #pinterpolitik #nasdem #psi #pdip #hanura #politikindonesia #rusdimasse #ahmadali #pemilu</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/karma-surya-paloh-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jateng, Koentji atau Jago Kandang PSI?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jateng-koentji-atau-jago-kandang-psi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2026 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[JATENG]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaesang]]></category>
		<category><![CDATA[KANDANG BANTENG]]></category>
		<category><![CDATA[Kandang Gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166433</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Jawa Tengah tak lagi sekadar lumbung suara. Gagasan PSI sebagai “kandang gajah” seolah menantang hegemoni lama PDIP, menguji apakah Jateng adalah kunci masa depan politik—atau hanya panggung perebutan narasi di era pasca-Jokowi. PinterPolitik.com Jawa Tengah selama dua dekade terakhir telah menjadi semacam “tanah suci” bagi PDIP. Dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/jateng-psi.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawa Tengah tak lagi sekadar lumbung suara. Gagasan PSI sebagai “kandang gajah” seolah menantang hegemoni lama PDIP, menguji apakah Jateng adalah kunci masa depan politik—atau hanya panggung perebutan narasi di era pasca-Jokowi.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>PinterPolitik.com</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Jawa Tengah selama dua dekade terakhir telah menjadi semacam “tanah suci” bagi PDIP. Dalam imajinasi politik nasional, provinsi ini kerap dipersepsikan sebagai basis ideologis, kultural, sekaligus elektoral PDIP—sebuah <em>heartland</em> politik yang relatif stabil sejak era pasca-Reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dinamika pasca-Pemilu dan Pilpres 2024 memperlihatkan gejala yang tak bisa diabaikan: Jateng tidak lagi sepenuhnya monolitik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masuknya PSI dengan narasi “Jateng kandang gajah”, sebelumnya “kebun mawar”, yang digaungkan langsung oleh Ketua Umum Kaesang Pangarep menjadi penanda penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan ini kiranya bukan sekadar motivasi untuk kader ataupun klaim elektoral, melainkan intervensi simbolik terhadap <em>status quo</em> politik Jawa Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam satu kalimat, PSI seolah ingin mengatakan bahwa basis politik lama bisa dipertanyakan ulang—bahkan direbut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi tersebut terasa semakin relevan jika dilihat dari konteks yang lebih luas. PDIP memang masih dominan secara struktural, namun performanya di Jateng pada Pilpres 2024 menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ditambah lagi, pusat gravitasi kekuasaan PDIP yang selama ini berporos di Teuku Umar, Jakarta, semakin menampakkan karakter personalistik dan temporer—sangat bergantung pada figur Megawati Soekarnoputri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, PSI agaknya dengan sengaja membingkai dirinya sebagai “partainya Jokowi”, dan Solo—bukan Jakarta—dijadikan episentrum simbolik. Fakta bahwa Gubernur Jawa Tengah kini dijabat Ahmad Luthfi, figur berlatar Polri yang naik daun di era presidensi Jokowi dan berasal dari Gerindra, turut memperkuat kesan bahwa Jateng tengah mengalami <em>reconfiguration of power</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian, apakah Jawa Tengah benar-benar menjadi kunci masa depan PSI, atau sekadar panggung retoris bagi ambisi politik yang belum matang secara struktural?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Trah Jokowi: Perebutan Jateng</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membaca fenomena ini secara lebih tajam, kerangka <em>war of position</em> dari Antonio Gramsci menjadi sangat relevan. Gramsci membedakan dua jenis perebutan kekuasaan: <em>war of maneuver</em> (serangan frontal) dan <em>war of position</em> (perebutan perlahan atas makna, legitimasi, dan hegemoni).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Jawa Tengah, PSI jelas tidak sedang melakukan <em>war of maneuver</em>. Mereka tidak memiliki infrastruktur partai, kaderisasi, atau basis elektoral sekuat PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang dilakukan PSI justru lebih subtil, yakni perang narasi. Dengan mengklaim atau bergagasan besar Jateng sebagai “kandang”, PSI berusaha menggeser persepsi publik tentang siapa yang berhak atas wilayah tersebut secara simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah upaya menggerogoti hegemoni PDIP, bukan dengan angka, tetapi dengan cerita antitesa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah konsep <em>symbolic capital</em> Pierre Bourdieu menjadi kunci. Kekuasaan politik tidak hanya ditentukan oleh modal ekonomi atau struktural, tetapi juga oleh pengakuan simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI, meski minim <em>structural capital</em>, mencoba mengompensasinya dengan <em>symbolic capital</em> yang dilekatkan pada figur Jokowi—tokoh yang memiliki resonansi emosional dan historis yang kuat di Jawa Tengah selama masa kepemimpinannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP, sebaliknya, berada dalam posisi defensif yang paradoksal. Secara organisasi, partai ini masih kuat. Namun secara simbolik, ia menghadapi tantangan regenerasi makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketergantungan pada figur Megawati membuat pusat kekuasaan PDIP tampak statis, bahkan terkesan terputus dari dinamika generasi baru pemilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini diperumit oleh realitas bahwa Gubernur Jawa Tengah bukan berasal dari PDIP. Ahmad Luthfi menjadi simbol kekuasaan administratif yang “netral ideologis”, tetapi kompatibel dengan orbit Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini memperkuat tesis bahwa Jawa Tengah kini bukan sekadar basis partai, melainkan arena kontestasi elite lintas warna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlebih, PDIP seolah <em>fix </em>“<em>nggak</em> diajak main” dalam konfigurasi kekuasaan 2024-2029. Di titik inilah Jateng tampak tak hanya wilayah administratif politik, tetapi arena peperangan sengit di kontestasi elektoral berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah pertaruhan pamungkas, baik bagi Megawati maupun Jokowi dan trahnya masing-masing.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-819x1024.png" alt="psi sein kiri 1" class="wp-image-161074" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>PSI Jago Kandang Solo <em>Only</em>?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah pemikiran Benedict Anderson tentang <em>imagined community</em> menemukan relevansinya. Basis politik tidak semata-mata lahir dari geografi atau sejarah, melainkan dari imajinasi kolektif yang dibangun dan direproduksi terus-menerus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP selama ini berhasil “membayangkan” Jawa Tengah sebagai ruang ideologisnya. Namun imajinasi, seperti halnya kekuasaan, tidak pernah final.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI mencoba membangun imajinasi alternatif, yaitu Jawa Tengah sebagai pusat politik baru yang lebih cair, personalistik, dan post-ideologis. Solo dijadikan simbol asal-usul Jokowi, sekaligus metafora tentang politik yang dekat, sederhana, dan tidak elitis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam narasi ini, PSI tampil bukan sebagai partai mapan, melainkan sebagai kendaraan bagi kesinambungan pengaruh Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah batas antara “kunci” dan “jago kandang” mulai terlihat. Tanpa transformasi simbolik menjadi kekuatan struktural—kursi DPRD, jaringan akar rumput, dan konsolidasi kader—narasi PSI berisiko berhenti sebagai performative politics.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Klaim simbolik yang tidak diikuti institusionalisasi dapat berbalik menjadi bumerang, yakni saat terdengar nyaring, tetapi rapuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, bagi PDIP, tantangan di Jawa Tengah justru bisa menjadi momentum refleksi. Apakah partai ini akan terus mengandalkan warisan simbolik lama, atau mulai membangun ulang imajinasi politik yang relevan dengan generasi pasca elite legendaris partai?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, Jawa Tengah hari ini bukan sekadar “kandang” atau “kunci”. Ia adalah medan uji; uji bagi PSI untuk membuktikan bahwa simbol bisa menjadi struktur, dan uji bagi PDIP untuk membuktikan bahwa struktur masih mampu melahirkan makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik kontemporer, kemenangan agaknya tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling lama berkuasa, tetapi oleh siapa yang paling mampu mendefinisikan masa depan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="juKLVhxaP8A"><iframe loading="lazy" title="Kejagung Melesat, KPK Dibawa ke Mana?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/juKLVhxaP8A?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/jateng-psi.mp3" length="2126060" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/kaesang-pangarep-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ultimate Fighting Central-Java: Kaesang vs Hasto?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/ultimate-fighting-central-java-kaesang-vs-hasto/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2026 02:49:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[hasto]]></category>
		<category><![CDATA[jawatengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kaesang]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166711</guid>

					<description><![CDATA[Jadi kandang siapa nih?&#160; #kaesang #hasto #pdip #psi #jawatengah #jateng #solo #jokowi #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166714" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-819x1024.png" alt="ultimate fighting central java kaesang vs hasto" class="wp-image-166714" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-4 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166715" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-819x1024.png" alt="ultimate fighting central java kaesang vs hasto (2)" class="wp-image-166715" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-5 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166716" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-819x1024.png" alt="ultimate fighting central java kaesang vs hasto (3)" class="wp-image-166716" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Jadi kandang siapa nih?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f914/72.png" alt="🤔" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#kaesang #hasto #pdip #psi #jawatengah #jateng #solo #jokowi #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/ultimate-fighting-central-java_-kaesang-vs-hasto-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dipukpuk, Raja Juli Jangan Geer?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/dipukpuk-raja-juli-jangan-geer/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2025 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[menhut]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<category><![CDATA[Purbaya]]></category>
		<category><![CDATA[raja juli]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166238</guid>

					<description><![CDATA[Bukan soal uang negara, tapi soal satu tepukan bahu Presiden. Gestur Prabowo ke Purbaya dan Raja Juli dibaca berbeda: satu menguatkan, satu justru menguji. Di politik, dipukpuk tak selalu berarti diangkat. Kadang, itu peringatan halus.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/dipukpuk.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Bukan soal uang negara, tapi soal satu tepukan bahu Presiden. Gestur Prabowo ke Purbaya dan Raja Juli dibaca berbeda: satu menguatkan, satu justru menguji. Di politik, dipukpuk tak selalu berarti diangkat. Kadang, itu peringatan halus.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Di dalam politik tingkat tinggi, kekuasaan tidak hanya bekerja lewat keputusan formal, regulasi, atau pidato kenegaraan. Ia juga beroperasi melalui simbol, bahasa tubuh, dan gestur-gestur kecil yang tampak sepele di mata publik awam, tetapi sarat makna bagi para aktor politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang oleh para teoritikus disebut sebagai <em>symbolic politics</em> di mana tindakan non-verbal kepala negara kerap ditafsirkan sebagai sinyal restu, evaluasi, atau bahkan peringatan halus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Acara penyerahan kawasan hutan dan penyelamatan uang negara di Kejaksaan Agung, pertengahan pekan ini, sejatinya adalah panggung institusional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun perhatian justru tertuju bukan pada tumpukan uang negara yang diselamatkan, melainkan pada satu gestur sederhana yang menembus lensa kamera: tepukan Presiden Prabowo Subianto di bahu dua menterinya—Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Menhut Raja Juli Antoni.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi kekuasaan Jawa dan militeristik yang juga membentuk habitus politik Prabowo, gestur fisik bukanlah tindakan acak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tepukan bahu dapat bermakna pengakuan, kepercayaan, dorongan, atau sekadar basa-basi protokoler. Namun perbedaan konteks, durasi, dan respons setelah gestur itu justru membuka ruang tafsir yang menarik—bahkan problematis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah analisis menjadi relevan: apakah semua “dipukpuk” berarti sama? Atau justru perbedaan kecil itulah yang mengungkap struktur relasi kekuasaan yang lebih dalam?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Trust kepada Bendahara Negara</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, tepukan Presiden Prabowo kepada Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa terjadi lebih dulu. Jika diperhatikan secara cermat, gestur itu berlangsung singkat, padat, dan tanpa embel-embel lanjutan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak ada percakapan panjang, tidak ada gestur lanjutan yang mengindikasikan kebutuhan klarifikasi atau koreksi. Dalam bahasa politik, ini adalah affirmative gesture—penegasan kepercayaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara konseptual, hal ini selaras dengan teori principal–agent. Presiden sebagai principal membutuhkan agen yang dapat dipercaya, terutama pada sektor paling sensitif dalam negara, yakni keuangan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Purbaya, sejauh ini, tampil dengan impresi teknokratis yang relatif minim kontroversi, stabil, dan tidak gaduh. Tepukan bahu tersebut dapat dibaca sebagai simbol <em>confidence endorsement</em>—kepercayaan yang sudah diberikan dan masih dijaga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik, gestur seperti ini sering kali menjadi restu simbolik yang lebih kuat daripada pujian verbal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menyampaikan pesan ganda: kepada sang menteri bahwa kinerjanya berada di jalur yang benar, dan kepada publik serta elite lain bahwa posisi sang bendahara negara relatif aman dan solid. Tidak berlebihan jika gestur itu dibaca sebagai “<em>trust is given, don’t overdo it</em>”.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2.png" alt="termehek mehek raja juli 2" class="wp-image-164536" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/09/termehek-mehek-raja-juli-2-1068x1335.png 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tepukan Canggung Raja Juli?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda halnya dengan tepukan kedua—kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni. Secara kasat mata, gesturnya serupa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, konteks setelahnya justru membuka makna yang berlawanan. Usai ditepuk, Raja Juli tampak berusaha memperpanjang interaksi, mengajak Presiden berbincang lebih lama, hingga berujung pada <em>briefing</em> singkat ulang di tempat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah tafsir berubah. Dalam kerangka <em>attribution theory</em>, ada potensi <em>false attribution</em> atau atribusi semu—ketika seseorang menafsirkan sinyal eksternal secara berlebihan sebagai bentuk pengakuan personal, padahal maknanya belum tentu demikian.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tepukan itu alih-alih menjadi simbol kepercayaan, justru tampak sebagai gestur normatif yang direspons secara berlebihan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Respons Raja Juli pasca-gestur justru menyiratkan kebutuhan akan validasi tambahan. Ini penting, karena dalam politik kekuasaan, aktor yang terlalu “membaca” sinyal kerap terjebak pada <em>overconfidence bias</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Presiden belum tentu sedang memberi lampu hijau penuh, tetapi respons yang terlalu antusias bisa dibaca sebagai kegamangan posisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apalagi, Raja Juli tidak datang dengan rekam jejak yang sepenuhnya steril. Ada impresi minor yang masih melekat di ruang publik: penanganan pasca-bencana Sumatra yang dipertanyakan, momen “main domino” dengan pembalak liar yang viral, hingga jejak digital kritik keras terhadap Prabowo menjelang Pilpres 2019. Semua ini membentuk <em>political memory</em> yang tidak bisa dihapus hanya oleh satu tepukan bahu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, gestur Presiden bisa jadi bermakna sebaliknya: pengakuan formal atas jabatan, bukan pengesahan politik penuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, bisa dibaca sebagai pesan implisit: <em>stay in line, don’t overinterpret</em>. Tepukan itu mungkin bukan validasi masa lalu, apalagi penghapusan memori politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik tingkat tinggi, gestur adalah bahasa, tetapi bukan kontrak. Tepukan bahu Presiden Prabowo kepada dua menterinya menunjukkan bagaimana simbol yang sama dapat memuat makna berbeda yang dapat diinterpretasi di meja ananlisis, tergantung konteks, relasi kekuasaan, dan respons aktornya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi Purbaya, tepukan itu agaknya adalah konfirmasi kepercayaan. Bagi Raja Juli, ia mungkin menjadi ujian tafsir. Terlalu cepat merasa diakui atau geer, dalam politik justru berbahaya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena kekuasaan tidak hanya menilai apa yang dilakukan seseorang, tetapi juga bagaimana ia membaca posisinya sendiri. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="juKLVhxaP8A"><iframe loading="lazy" title="Kejagung Melesat, KPK Dibawa ke Mana?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/juKLVhxaP8A?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/dipukpuk.mp3" length="1735484" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/menhut-raja-juli-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gladiator Gajah Kecil vs Banteng Sepuh</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gladiator-gajah-kecil-vs-banteng-sepuh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165323</guid>

					<description><![CDATA[Perseteruan PSI dan PDIP bukan sekadar adu strategi partai, melainkan pertarungan simbolik antara generasi politik baru dan warisan lama. Gajah muda menantang banteng sepuh di gelanggang kekuasaan Jokowi–Megawati, memperebutkan bukan kursi, tapi legitimasi moral dan arah masa depan politik Indonesia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/gajah-1_hk6nppwr.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Perseteruan PSI dan PDIP bukan sekadar adu strategi partai, melainkan pertarungan simbolik antara generasi politik baru dan warisan lama. Gajah muda menantang banteng sepuh di gelanggang kekuasaan Jokowi–Megawati, memperebutkan bukan kursi, tapi legitimasi moral dan arah masa depan politik Indonesia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Berjalannya politik-pemerintahan dan menuju 2029, politik Indonesia semakin menyerupai panggung besar di mana narasi, simbol, dan sejarah saling berkelindan untuk menentukan arah kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah panggung itu, perseteruan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tampil sebagai drama simbolik yang menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan sekadar rivalitas antarpartai, melainkan duel tentang siapa yang berhak mewarisi legitimasi moral dan historis bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketegangan terakhir muncul ketika kader PSI, Bestari Barus, mengkritik PDIP yang menolak rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Bestari menyebut PDIP harus “berdamai dengan sejarah” dan tidak perlu ikut campur, sebuah sindiran yang menggores reputasi partai yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga api reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di balik perdebatan itu, yang tampak bukan sekadar soal Soeharto atau gelar pahlawan, melainkan perebutan posisi etis dan simbolik di antara “partai kemarin sore” dan “partai legendaris” namun belakangan seolah kehilangan arah dan momentum di panggung politik-pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan ini semakin relevan ketika dilihat dari pergeseran sumbu kekuasaan sejak masa pemerintahan Jokowi. PSI, yang lahir dari semangat politik baru dan citra urban, menempatkan diri sebagai pewaris simbolik Jokowi—pemimpin yang dianggap modern, teknokratik, dan lepas dari beban ideologis masa lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP, di sisi lain, masih bertahan sebagai rumah besar nasionalisme dan warisan ideologis Soekarno. Plus, ketegangan pasca Jokowi berbeda haluan di Pilpres 2024 dan dipecat PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sanalah garis friksi antara dua rezim politik ini terbentuk: satu mengandalkan darah sejarah, yang lain mengandalkan daya simbol baru dari politik citra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya kini tampak berdiri di gelanggang yang sama. PSI dengan simbol gajah muda yang gesit, PDIP dengan banteng tua yang berpengalaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya bergerak di bawah bayang-bayang yang lebih besar — hubungan tegang antara Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan simbolik PSI dan PDIP kiranya hanyalah refleksi dari benturan patron politik itu di tingkat atas. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pertarungan Politik Gengsi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka pemikiran Pierre Bourdieu, politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan material, tetapi juga arena simbolik tempat aktor-aktor berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan dan legitimasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, PDIP memiliki modal simbolik yang masif—warisan sejarah, ideologi Soekarnoisme, serta peran besar dalam perjuangan demokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI justru hadir dengan modal simbolik baru: kesegaran wacana, gaya komunikasi digital, dan kedekatan dengan generasi muda yang tumbuh di tengah budaya media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perseteruan PSI dan PDIP dalam banyak isu—mulai dari politik sejarah hingga sikap terhadap pemerintahan Jokowi—menjadi pertunjukan bagaimana modal simbolik lama dan baru beradu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika PSI menegur PDIP agar “berdamai dengan sejarah”, misalnya, mereka sesungguhnya seolah sedang berusaha menggeser pusat otoritas moral dari partai tua ke partai muda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka mengklaim posisi sebagai partai rasional dan progresif, sementara PDIP mempertahankan citra sebagai penjaga ideologi kebangsaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai “agonisme politik” — pertarungan yang bukan dimaksudkan untuk menghancurkan lawan, melainkan untuk menegaskan identitas diri melalui keberadaan sang lawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, PDIP dan PSI saling membutuhkan dalam dinamika ini. PDIP membutuhkan PSI sebagai cermin generasi baru agar tetap relevan di mata publik urban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, PSI membutuhkan PDIP sebagai simbol <em>status quo</em> untuk didekonstruksi—banteng tua yang membuat eksistensi gajah muda tampak heroik. Dalam ruang ini, politik menjadi bukan sekadar ajang perebutan kursi, tetapi kompetisi makna. Siapa yang berhasil menguasai simbol, ia menguasai persepsi publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika media sosial menjadi arena utama, politik tidak lagi bertumpu pada ideologi, melainkan pada kemampuan mengemas narasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI agaknya paham betul logika ini. Mereka bermain di ruang persepsi, menciptakan citra keberanian, kejujuran, dan modernitas, seolah menjadi perpanjangan tangan semangat Jokowi yang tidak lagi sejalan dengan Megawati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara PDIP masih mengandalkan politik massa, loyalitas struktural, dan daya hidup ideologis yang terbangun selama puluhan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua pendekatan ini tidak hanya berbeda strategi, tetapi juga menunjukkan benturan antara dua jenis modal kekuasaan — modal kultural baru melawan modal historis lama.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1189" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi.jpg" alt="langitbumi pengeluaran pdip psi" class="wp-image-142353" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-272x300.jpg 272w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-930x1024.jpg 930w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-136x150.jpg 136w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-768x846.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-150x165.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-300x330.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-696x766.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-1068x1176.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara Gajah dan Banteng</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan antara PSI dan PDIP pada akhirnya adalah soal simbolik kekuasaan: siapa yang mampu mengonversi simbol menjadi legitimasi politik. Banteng PDIP mewakili institusionalisasi ideologi dan tradisi yang mapan; gajah PSI merepresentasikan kecerdikan dan adaptasi di dunia baru yang cair dan digital. Yang satu bertumpu pada kekuatan akar rumput, yang lain pada kekuatan citra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP masih memiliki sumber daya yang sangat kokoh. Struktur partai yang merata, jaringan kepala daerah, serta hubungan emosional Megawati dengan kadernya membuat PDIP tetap menjadi partai dengan daya tahan tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun kekuatan besar ini juga menyimpan kerentanan. Ketika politik semakin bergeser ke ranah komunikasi cepat dan citra personal, institusi yang terlalu berat sering kali kehilangan kelincahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ruang ini, PSI menemukan peluangnya: mereka lincah, tidak terikat oleh dogma lama, dan mampu memanfaatkan setiap isu untuk tampil relevan di mata publik muda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gajah dan banteng, dalam metafora ini, bukan hanya simbol hewan partai, melainkan representasi dua cara memandang politik Indonesia hari ini. Banteng adalah kontinuitas, gajah adalah transisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banteng berdiri di atas legitimasi sejarah, gajah menari di atas gelombang media sosial. Keduanya berhadapan dalam gelanggang yang sama: arena Jokowisme, di mana batas antara populisme dan pragmatisme semakin kabur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik ini, dengan demikian, menjadi refleksi dari pertarungan dua patron besar — Jokowi dan Megawati — yang masing-masing memiliki visi berbeda tentang arah kekuasaan. Jokowi membangun jaringan loyalis baru yang ingin melepaskan diri dari struktur lama PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Megawati, sebaliknya, berusaha mempertahankan kontrol ideologis dan moral atas arah politik nasional. PSI dan PDIP adalah perpanjangan tangan dari dua arus besar ini, memainkan peran masing-masing dalam drama regenerasi politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun yang paling menarik dari perseteruan ini bukanlah kemungkinan siapa yang akan menang, melainkan bagaimana keduanya saling membentuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI membutuhkan PDIP untuk memantulkan citra progresifnya; PDIP membutuhkan PSI untuk menegaskan bahwa mereka masih memiliki posisi moral yang layak dipertahankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hubungan yang paradoksal itu, konflik justru menjadi sumber kehidupan politik. Ia adalah cara bagi sistem untuk memperbaharui dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang analis politik pernah berseloroh bahwa konflik PSI dan PDIP tidak akan selesai sampai kiamat. Mungkin benar adanya. Sebab, yang sedang mereka perebutkan bukan sekadar kursi di parlemen, tetapi hak untuk mendefinisikan masa depan politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gladiator gajah dan banteng akan terus bertarung di arena yang sama—bukan untuk saling memusnahkan, melainkan untuk memastikan bahwa penonton, yakni rakyat, tetap percaya bahwa keduanya masih relevan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan seperti dalam setiap arena gladiator, kemenangan sejati bukan milik yang terkuat, melainkan milik yang paling mampu membuat penonton percaya bahwa dialah pahlawan yang sesungguhnya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="PevHeiO9u7o"><iframe loading="lazy" title="Terbaik! Pasukan Baret Biru TNI Siap OTW Gaza" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/PevHeiO9u7o?start=34&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/gajah-1_hk6nppwr.mp3" length="3514457" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/task_01k9467qdtegfv9qhqfj1bq4w0_1762151200_img_0-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
