<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Polri &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/polri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 07:38:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Polri &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tito Karnavian, Politik “Low Exposure”?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tito-karnavian-politik-low-exposure/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 May 2026 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Kapolri]]></category>
		<category><![CDATA[Mendagri]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Tito Karnavian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169407</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah hiruk-pikuk politik pemerintah, Tito Karnavian seolah tampil dengan eksposur yang tak terlalu masif, tersimpan strategi survival elite yang sangat terukur: tetap kuat tanpa terlalu terlihat, tetap relevan tanpa memancing ancaman. Apakah ini profesionalisme birokrasi atau kalkulasi politik tingkat tinggi?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/tito-ok.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di tengah hiruk-pikuk politik pemerintah, Tito Karnavian seolah tampil dengan eksposur yang tak terlalu masif, tersimpan strategi survival elite yang sangat terukur: tetap kuat tanpa terlalu terlihat, tetap relevan tanpa memancing ancaman. Apakah ini profesionalisme birokrasi atau kalkulasi politik tingkat tinggi?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Di antara deretan menteri dalam Kabinet Merah Putih, nama Tito Karnavian jarang menghiasi tajuk utama media nasional. Secara kasat mata, sosok mantan Kapolri itu bukan tipe pejabat yang gemar membangun panggung publik melalui polemik, bukan pula figur yang aktif menciptakan <em>personal branding</em> secara agresif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Padahal, posisi Menteri Dalam Negeri merupakan salah satu jabatan paling strategis dalam struktur pemerintahan Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tito mengendalikan koordinasi 38 provinsi, lebih dari 98.000 desa, relasi pusat dan daerah, hingga stabilitas politik lokal yang berpengaruh langsung terhadap keamanan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Paradoks inilah yang membuat Tito menarik untuk dibaca secara lebih mendalam. Di tengah era politik yang semakin bergantung pada eksposur media, viralitas, dan citra personal, Tito justru seakan tampil dengan gaya yang cenderung tenang dan minim sensasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pembacaan paling sederhana mungkin menyebutnya sebagai figur <em>silent worker</em>, pejabat yang bekerja tanpa banyak bicara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun analisis yang lebih tajam perlu bergerak lebih jauh: apakah ketenangan itu benar-benar cerminan efektivitas kepemimpinan, atau justru strategi <em>survival</em> politik yang sangat terukur?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami pola ini, latar belakang institusional Tito tidak bisa diabaikan. Ia lahir dari kultur Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Polri, institusi yang memiliki karakter politik berbeda dibanding militer, khususnya TNI Angkatan Darat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pasca-Reformasi 1998, Polri memisahkan diri dari TNI dan perlahan membangun kultur birokrasi yang lebih administratif, prosedural, dan berhati-hati dalam mengelola eksposur publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika elite berlatar militer cenderung membangun simbol heroisme, aura komando, dan narasi patriotisme yang kuat, elite Polri justru lebih terbiasa membaca konfigurasi kekuasaan secara diam-diam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka bergerak melalui jaringan, prosedur, dan kalkulasi institusional yang lebih halus. Terlebih di era saat kepemimpinan berlatar belakang militer sempat diisi Joko Widodo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tito kiranya adalah produk dari kultur tersebut. Ia bukan tipe elite yang membangun massa politik personal secara terbuka. Gaya komunikasinya dingin, administratif, dan sering kali sangat teknokratis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun justru di situlah letak kekuatannya, ia tidak tampil sebagai ancaman langsung bagi siapa pun, tetapi tetap memegang kendali di ruang-ruang strategis negara.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dua Wajah Delegasi: Efisiensi atau Kalkulasi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu pola paling konsisten dalam kepemimpinan Tito adalah kecenderungannya melakukan delegasi. Banyak isu sensitif tidak ditangani secara personal di ruang publik, melainkan didistribusikan kepada pejabat teknis atau aktor birokrasi di bawahnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Urusan Papua dan yang terkini terkait konflik di Wamena, misalnya, lebih sering dijalankan melalui Wamendagri Ribka Haluk penjabat gubernur dan jalur administratif lokal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pun dengan “kelakuan” kepala daerah yang lebih sering direspons oleh Wamendagri Bima Arya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hubungan dengan kepala daerah juga banyak disalurkan melalui Dirjen Otonomi Daerah maupun figur teknis lain di Kemendagri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan berbagai persoalan desa dan administrasi daerah berjalan melalui mekanisme birokrasi rutin tanpa terlalu banyak intervensi personal dari Tito sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pola ini bisa dibaca dalam dua perspektif berbeda. Perspektif pertama melihatnya sebagai bentuk <em>modern managerial governance</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam teori tata kelola modern, pemimpin yang efektif bukanlah mereka yang mengendalikan semua hal secara sentralistik, melainkan yang mampu membangun sistem distribusi kerja profesional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka ini, Tito dapat dipahami sebagai administrator negara yang memahami keterbatasan sentralisasi kekuasaan di negara kepulauan sebesar Indonesia. Ia membangun birokrasi yang tetap berjalan meski dirinya tidak terus-menerus muncul di depan publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun perspektif kedua jauh lebih menarik secara politik, delegasi sebagai mekanisme perlindungan risiko atau <em>risk insulation</em>. Isu Papua merupakan ladang ranjau politik, HAM, dan geopolitik yang sewaktu-waktu bisa meledak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik kepala daerah juga selalu berpotensi menjadi konsumsi media nasional dan dimanfaatkan dalam pertarungan elite politik. Dalam situasi seperti ini, keterlibatan langsung justru bisa menjadi beban politik jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan mendistribusikan isu-isu sensitif kepada struktur birokrasi di bawahnya, Tito menciptakan arsitektur kekuasaan yang unik, yakni keberhasilan tetap terkonsolidasi ke atas sebagai capaian kementerian, tetapi potensi ledakan politik tersebar ke bawah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delegasi, dalam konteks ini, bukan sekadar metode kerja administratif, melainkan strategi pertahanan politik yang sangat matang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan ini bisa dijelaskan melalui teori Samuel Huntington tentang <em>objective civilian control</em>. Huntington menjelaskan bahwa institusi keamanan modern bertahan melalui profesionalisme, bukan populisme.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tito tampak menjalankan logika tersebut secara konsisten. Ia menjaga jarak dari arena politik elektoral yang terlalu terbuka mungkin bukan karena tidak mampu bermain di sana, melainkan karena profesionalisme elite keamanan justru bergantung pada kemampuan menjaga netralitas dan fleksibilitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara itu, sosiolog Pierre Bourdieu menawarkan pembacaan yang lebih dalam melalui konsep habitus. Habitus institusional Polri yang terbentuk selama puluhan tahun tampaknya telah membentuk cara Tito membaca kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam habitus seperti itu, terlalu banyak eksposur justru dipandang sebagai kerentanan. Semakin terlihat seseorang dalam politik, semakin besar pula kemungkinan ia menjadi sasaran resistensi, serangan, dan pengawasan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve.png" alt="tito &amp; praja state reserve" class="wp-image-166570" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/tito-praja-state-reserve-1068x1335.png 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Strategi di Pusaran Kekuasaan</strong>?</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Membaca Tito tanpa melihat konteks rekonfigurasi elite nasional menuju 2029 tentu akan menghasilkan kesimpulan yang dangkal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politik Indonesia hari ini sedang berada dalam fase transisi besar. Koalisi pasca-Pilpres 2024 mulai menguji kohesinya dan keberlanjutannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Figur-figur potensial perlahan membangun posisi masing-masing. Narasi tentang penerus kekuasaan mulai bergerak, mungkin secara diam-diam di balik stabilitas formal pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam situasi seperti itulah, pilihan Tito untuk tetap <em>low exposure</em> menjadi sangat signifikan. Ia tidak tampak sedang menghilang dari arena kekuasaan</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, ia justru sedang memilih posisi paling aman di tengah kompetisi elite yang semakin kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosiolog Norbert Elias dalam konsep <em>court society</em> menjelaskan bahwa elite yang bertahan di sekitar pusat kekuasaan bukanlah mereka yang paling gaduh, melainkan mereka yang paling mampu membaca sensitivitas politik dan menghindari tabrakan orbit dengan elite lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, Tito tampak memainkan politik yang sangat hati-hati. Ia tidak membangun narasi personal yang terlalu ambisius, tidak menabrak ruang figur lain, dan tidak terlalu cepat memasuki arena elektoral. Apalagi posisinya sangat sensitif dan strategis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Strategi ini penting karena ada tiga risiko besar bagi elite yang terlalu terekspos. <em>Pertama</em>, resistensi elite senior. Dalam politik Indonesia, figur yang terlalu cepat menonjol sering kali dianggap ancaman oleh kelompok yang telah lebih dulu membangun jejaring kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politik bukan hanya soal popularitas publik, tetapi juga soal sensitivitas antar-elite.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, eksposur berlebihan menciptakan amunisi bagi lawan politik. Setiap pernyataan publik dapat dipotong menjadi kontroversi. Setiap kebijakan bisa dipelintir menjadi serangan politik. Dalam konteks ini, diam sering kali menjadi perisai paling efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, terlalu kuat membangun positioning publik dapat mengurangi fleksibilitas politik. Elite yang terlalu terikat pada satu citra akan kesulitan bermanuver ketika arah angin kekuasaan berubah. Tito tampaknya memahami bahwa fleksibilitas adalah aset penting dalam politik Indonesia yang sangat cair.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sinilah lahir apa yang bisa disebut sebagai politik <em>low exposure</em>, strategi mempertahankan relevansi tanpa harus terus-menerus memaksimalkan eksposur publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politik seperti ini bekerja bukan melalui panggung besar, melainkan melalui kemampuan membaca situasi, menjaga relasi, dan menghindari konflik yang tidak perlu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena itu, membaca Tito hanya sebagai figur <em>low profile</em> mungkin terlalu sederhana. Yang terlihat tenang di permukaan belum tentu pasif di dalam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Justru bisa jadi, ketenangan itu adalah bentuk paling matang dari kalkulasi politik-pemerintahan modern, tetap penting tanpa terlihat terlalu ingin penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, Tito Karnavian mungkin bukan sedang menghindari panggung. Ia mungkin justru sedang memainkan seni politik yang paling tua dalam sejarah kekuasaan Indonesia, seni berkontribusi melalui ketidakterlihatan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan dalam lanskap politik nasional yang semakin bising, kemampuan untuk tetap relevan tanpa menjadi pusat sorotan bisa jadi merupakan bentuk kecerdasan politik yang paling sulit ditandingi. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="XaN3EoTAogE"><iframe title="Jokowi-Ahmad Luthfi Rampas Kehormatan PDIP di Jateng?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/XaN3EoTAogE?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/tito-ok.mp3" length="3744620" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/02/Tito-Kuda-Hitam-Terbaik-di-2024-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sengketa Matahari Gatot Nurmantyo</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sengketa-matahari-gatot-nurmantyo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2026 11:32:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Gatot Nurmantyo]]></category>
		<category><![CDATA[Listyo Sigit Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167241</guid>

					<description><![CDATA[Kritik keras Gatot Nurmantyo terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar sengketa antar-pejabat tinggi. Ini adalah simptom dari paradoks fundamental reformasi Indonesia—sebuah pertarungan antara niat baik dan unintended consequences, antara desain institusional dan realitas politik.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/download-11.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI. </figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kritik keras Gatot Nurmantyo terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar sengketa antar-pejabat tinggi. Ini adalah simptom dari paradoks fundamental reformasi Indonesia—sebuah pertarungan antara niat baik dan unintended consequences, antara desain institusional dan realitas politik.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com">Pinterpolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dalam mitologi Yunani, Prometheus mencuri api dari para dewa untuk diberikan kepada manusia. Niatnya mulia—membebaskan umat manusia dari kegelapan dan ketidakberdayaan. Namun hadiah pencerahan itu datang dengan konsekuensi yang tak terduga: manusia kini memiliki kekuatan yang bisa menciptakan peradaban, sekaligus menghancurkannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Zeus, sang raja dewa, menghukum Prometheus bukan karena ia memberikan api, melainkan karena ia mengubah balance of power tanpa memperhitungkan risiko jangka panjangnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Reformasi Indonesia pasca-1998 adalah versi modern dari mitos Prometheus. Para reformis mencuri &#8220;api&#8221; kekuasaan dari tangan militer Orde Baru dan memberikannya kepada institusi-institusi baru yang seharusnya lebih demokratis dan akuntabel. Polri, yang dipisahkan dari TNI pada 1999, adalah salah satu penerima api itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun seperti dalam mitos Yunani, hadiah pencerahan ini datang dengan konsekuensi yang kini mulai terasa: institusi yang diciptakan untuk melindungi demokrasi justru tumbuh menjadi kekuatan politik yang hampir tak terkendali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kritik keras Gatot Nurmantyo terhadap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar sengketa antar-pejabat tinggi. Ini adalah simptom dari paradoks fundamental reformasi Indonesia—sebuah pertarungan antara niat baik dan unintended consequences, antara desain institusional dan realitas politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Listyo dengan tegas menyatakan akan mempertahankan posisi Polri yang langsung di bawah presiden hingga &#8220;titik darah penghabisan&#8221; dan lebih memilih mundur menjadi petani ketimbang Polri berada di bawah kementerian, ia tidak sekadar membela institusinya. Ia sedang mendeklarasikan supremasi politik yang telah terkonsolidasi selama dua dekade—supremasi yang bahkan membuat seorang mantan Panglima TNI seperti Gatot hanya bisa mengkritik dari pinggiran kekuasaan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ironi Personal di Balik Kritik Gatot</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada ironi yang mendalam dalam kritik Gatot Nurmantyo. Sebagai mantan Panglima TNI, ia mewakili institusi yang secara historis selalu menjadi &#8220;kakak&#8221; dari Polri—baik secara struktural maupun kultural. TNI adalah tulang punggung pertahanan negara, pemegang legitimasi kekerasan dalam skala paling luas, institusi yang diwarisi dari perjuangan kemerdekaan. Namun kini, Gatot harus menyaksikan bagaimana adiknya tumbuh menjadi lebih berkuasa, lebih kaya sumber daya, dan lebih dekat dengan pusat kekuasaan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gatot sendiri pernah mengeluhkan bahwa persenjataan Polri lebih canggih dibanding TNI—keluhan yang terdengar hampir seperti kecemburuan institusional. Namun di balik keluhan itu tersimpan kebenaran struktural yang menggelisahkan: sejak tragedi Bom Bali 2002, ketika Presiden Megawati menghadapi tekanan domestik dan internasional untuk memperkuat kapasitas counter-terrorism, Amerika Serikat memilih Polri sebagai mitra strategis dengan satu syarat krusial—bantuan tidak boleh disalurkan melalui TNI. Ini bisa ditonton dalam dokumenter berjudul <strong><em><a href="https://www.youtube.com/watch?v=KWqnicVk3ZQ&amp;t=299s" rel="nofollow">Do Indonesian Terrorists Have Friends in High Places? (2005)</a> </em></strong>karya Journeyman Pictures dari Australia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan Washington ini bukan tanpa alasan. Trauma terhadap rezim militer Orde Baru, di mana TNI mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan politik dan sosial, membuat Amerika Serikat skeptis terhadap penguatan militer Indonesia. Maka Polri-lah yang mendapat injeksi masif persenjataan, teknologi, dan pelatihan. Yang lebih penting dari hardware adalah software: akses langsung ke presiden.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah perbedaan fundamental yang membuat kritik Gatot begitu pahit. TNI, meski secara historis lebih powerful, harus melapor kepada Menteri Pertahanan terlebih dahulu sebelum sampai ke presiden. Ada lapisan birokrasi, ada filtering, ada jarak. Polri? Langsung ke puncak. Kapolri bertemu presiden tanpa perantara, membisikkan informasi tanpa sensor, mempengaruhi kebijakan tanpa kompetisi. Ini adalah proximity politik yang menciptakan kekuasaan informal jauh melampaui kekuasaan formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka ketika Gatot menyebut pernyataan Listyo sebagai &#8220;ancaman&#8221;, ia tidak berlebihan. Ini adalah ancaman terhadap tatanan lama, terhadap hierarki tradisional, terhadap asumsi bahwa militer seharusnya menjadi institusi paling berkuasa di republik ini. Gatot berbicara dari posisi kalah—kalah dalam kompetisi sumber daya, kalah dalam akses politik, kalah dalam permainan kekuasaan yang aturannya berubah tanpa ia sadari.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Anatomi Police State di Wilayah Abu-Abu</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan yang menggantung adalah: apakah Indonesia sudah menjadi police state? Jawaban singkatnya: belum, tapi sedang menuju ke sana—atau lebih tepatnya, berada di wilayah abu-abu yang berbahaya antara demokrasi elektoral dan otoritarianisme terselubung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Police state, dalam pengertian klasik, adalah negara di mana polisi memiliki kekuasaan berlebih, minim akuntabilitas, dan menjadi instrumen politik penguasa untuk menekan oposisi dan mengontrol masyarakat. Rezim Nazi Jerman dengan Gestapo-nya, Uni Soviet dengan KGB-nya, atau Korea Utara kontemporer adalah contoh ekstrem. Indonesia jelas tidak sampai di sana. Namun gejala-gejalanya mulai terlihat jelas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Robert Klitgaard, dalam karyanya yang kini menjadi klasik &#8220;Controlling Corruption&#8221; (1988), menawarkan formula sederhana namun tajam: <strong><em>Monopoly + Discretion &#8211; Accountability = Corruption.</em></strong> Formula ini tidak hanya berlaku untuk korupsi finansial, tetapi juga korupsi sistemik—ketika institusi kehilangan independensinya sebagai penegak hukum yang impartial dan menjadi aktor politik partisan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polri memiliki seluruh elemen dalam formula Klitgaard. Monopoli atas penggunaan kekerasan legal? Check. Diskresi luas dalam penegakan hukum—menentukan siapa yang ditangkap, kasus mana yang diusut, bukti mana yang digunakan? Check. Akuntabilitas yang memadai melalui mekanisme checks and balances demokratis? Ini yang bermasalah. Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang seharusnya menjadi watchdog lebih sering terlihat sebagai cheerleader. DPR, yang seharusnya mengawasi, terlalu tersandera oleh logika politik transaksional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Samuel Huntington, dalam &#8220;Political Order in Changing Societies&#8221; (1968), memperkenalkan konsep &#8220;Praetorian State&#8221;—negara di mana institusi keamanan memiliki otonomi berlebih hingga menjadi aktor politik independen. Alih-alih sepenuhnya subordinat kepada otoritas sipil, mereka menjadi kingmaker atau setidaknya king-sustainer. Indonesia pasca-reformasi mewujudkan versi modern dari Praetorian State ini, dengan Polri sebagai aktor utamanya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Listyo Sigit yang bertahan bahkan saat transisi kekuasaan dari Jokowi ke Prabowo adalah bukti nyata. Dicap sebagai &#8220;orangnya Jokowi&#8221;, ia tidak hanya survive, tetapi justru memperkuat posisinya. Ini bukan karena kehebatan personal Listyo semata, melainkan karena sistem telah dirancang sedemikian rupa sehingga Kapolri—siapapun orangnya—menjadi hampir untouchable selama ia memelihara hubungan baik dengan eksekutif.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Paradoks Reformasi dan Jebakan Institusional</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Michel Foucault, dalam &#8220;Discipline and Punish&#8221; (1975), menjelaskan sesuatu yang profound tentang kekuasaan modern: ia tidak lagi beroperasi melalui penindasan kasar dan terang-terangan, melainkan melalui mekanisme yang ter-institusionalisasi, yang tampak legitimate, yang bahkan diklaim demokratis. Ini adalah kekuasaan yang lebih subtle namun lebih pervasive—lebih sulit dilawan karena ia beroperasi dengan topeng legalitas dan efisiensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polri adalah manifestasi sempurna dari teori Foucault. Tidak ada kudeta, tidak ada konspirasi gelap, tidak ada pelanggaran konstitusi yang terang-terangan. Semuanya berjalan sesuai aturan formal. Namun hasilnya adalah akumulasi kekuasaan yang masif di tangan institusi yang sangat kuat. Ini adalah apa yang oleh Robert K. Merton disebut sebagai &#8220;unintended consequences&#8221;—ketika intervensi purposif dengan niat baik menghasilkan outcome yang tidak terduga dan bahkan kontraproduktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para reformis 1998 ingin mencegah kembalinya dominasi militer. Maka mereka memisahkan Polri dari TNI, memberikan independensi, memperkuat kapasitas. Solusi yang rasional untuk masalah nyata. Namun mereka lupa—atau tidak punya luxury untuk memikirkan—bahwa kekuasaan memiliki logikanya sendiri. Lord Acton terkenal dengan pernyataannya: &#8220;Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.&#8221; Tapi kalimat berikutnya sering terlupakan: &#8220;Great men are almost always bad men, even when they exercise influence and not authority.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Polri, sistemlah yang memungkinkan akumulasi kekuasaan tanpa check and balance memadai, sehingga bisa disebut sebagai &#8220;bad system&#8221;—dan bad system inevitably produces bad outcomes. Max Weber memperingatkan tentang &#8220;iron cage of rationality&#8221;—bagaimana birokrasi modern, meski efisien, menciptakan struktur kekuasaan yang terus menjadi otonom dari kontrol demokratis. Polri adalah iron cage Weber yang hidup: institusi yang semakin powerful, semakin otonom, dan semakin sulit dikendalikan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan yang tersisa bukan tentang Listyo sebagai individu, atau bahkan tentang Gatot sebagai kritikus. Pertanyaan fundamentalnya adalah: apakah Indonesia mampu mereformasi hasil reformasinya sendiri? Presiden Prabowo memang tengah mendorong reformasi kepolisian. Namun, apakah akan berhasil?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Apakah kita punya keberanian politik untuk merombak arsitektur kekuasaan yang telah mengakar selama dua dekade? Atau kita akan terus terjebak dalam siklus di mana setiap upaya memperbaiki sistem justru menciptakan masalah baru yang sama seriusnya?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Api Prometheus telah diberikan. Kini pertanyaannya adalah: akankah kita belajar mengendalikannya, atau membiarkannya membakar republik ini perlahan-lahan dari dalam? Sengketa Gatot dan Listyo hanyalah percikan kecil dari api yang lebih besar—api yang masih terus membara di jantung reformasi Indonesia yang belum selesai. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?start=3&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/download-11.mp3" length="2451692" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/1135436881-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Riza Chalid Akhirnya Red Notice</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/riza-chalid-akhirnya-red-notice/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2026 03:40:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Interpol]]></category>
		<category><![CDATA[Kejagung]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[RedNotice]]></category>
		<category><![CDATA[rizachalid]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167337</guid>

					<description><![CDATA[Interpol resmi menerbitkan Red Notice untuk Riza Chalid, buronan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak.&#160; Kasus ini menambah daftar buronan Indonesia yang masuk mekanisme Red Notice, bersama nama-nama seperti Paulus Tannos dan Fredy Pratama. Publik pun menanti, sejauh mana efektivitas Red Notice kali ini berjalan. Pandangan kalian sendiri soal dinamika ini bagaimana? Tulis pendapatmu di [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167340" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-819x1024.png" alt="riza chalid akhirnya red notice" class="wp-image-167340" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167341" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-819x1024.png" alt="riza chalid akhirnya red notice (2)" class="wp-image-167341" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="167342" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-819x1024.png" alt="riza chalid akhirnya red notice (3)" class="wp-image-167342" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Interpol resmi menerbitkan Red Notice untuk Riza Chalid, buronan kasus dugaan korupsi tata kelola minyak.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f6a8/72.png" alt="🚨" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kasus ini menambah daftar buronan Indonesia yang masuk mekanisme Red Notice, bersama nama-nama seperti Paulus Tannos dan Fredy Pratama. Publik pun menanti, sejauh mana efektivitas Red Notice kali ini berjalan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan kalian sendiri soal dinamika ini bagaimana? Tulis pendapatmu di kolom komentar ya</p>



<p class="wp-block-paragraph">#PinterPolitik #Kejagung #RedNotice #Interpol #Polri #RizaChalid</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/02/riza-chalid-akhirnya-red-notice-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tak Lekang Kapolri Listyo?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/tak-lekang-kapolri-listyo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2026 11:02:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Listyo Sigit Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=167108</guid>

					<description><![CDATA[Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengkritik pernyataan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo di DPR. Listyo menolak wacana Polri di bawah kementerian, dan memilih mundur menjadi petani jika institusinya tidak lagi berada di bawah presiden. Gatot menilai, pernyataan Listyo yang akan mempertahankan posisi institusinya sampai titik darah penghabisan, merupakan sebuah ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/download-10.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengkritik pernyataan&nbsp;Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo&nbsp;di DPR. Listyo menolak wacana Polri di bawah kementerian, dan memilih mundur menjadi petani jika institusinya tidak lagi berada di bawah presiden. Gatot menilai, pernyataan Listyo yang akan mempertahankan posisi institusinya sampai titik darah penghabisan, merupakan sebuah ancaman.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Jenderal Listyo Sigit Prabowo berdiri tegak di tengah transisi kekuasaan dari Jokowi ke Prabowo. Dicap sebagai &#8220;orangnya Jokowi&#8221;, ia tidak hanya bertahan, tetapi justru memperkuat posisinya. Ketika di hadapan DPR ia tegas menolak Polri berada di bawah kementerian, bukan sekadar pembelaan institusional yang terdengar—melainkan deklarasi kekuatan politik yang telah terkonsolidasi selama dua dekade pasca-reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Listyo bukan anomali personal, melainkan produk sistemik dari arsitektur kekuasaan yang dibangun sejak tragedi Bom Bali 2002. Ini adalah kisah tentang bagaimana niat baik reformasi justru menciptakan pusat kekuasaan alternatif, dan bagaimana individu di puncaknya menjadi hampir tak tergoyahkan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Bom Bali hingga Penolakan Subordinasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Tahun 2002 menjadi titik balik sejarah kepolisian Indonesia. Pasca tragedi Bom Bali, Presiden Megawati Soekarnoputri—yang dikenal dekat dengan institusi kepolisian—menghadapi tekanan domestik dan internasional untuk memperkuat kapasitas counter-terrorism. Kapolri kala itu, Dai Bachtiar, dalam beberapa dokumenter Australia, disebut bertemu langsung dengan Colin Powell, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan tersebut menghasilkan komitmen bantuan signifikan dari Washington, namun dengan satu syarat krusial: dana dan peralatan tidak boleh disalurkan melalui TNI. Ini adalah kritik keras terhadap warisan Orde Baru di mana militer mendominasi hampir seluruh aspek kehidupan politik dan sosial Indonesia. Amerika Serikat, yang traumatis dengan pengalaman mendukung rezim militer otoriter di berbagai belahan dunia, memilih Polri sebagai mitra strategisnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keputusan ini mengubah lanskap kekuasaan Indonesia secara fundamental. Polri, yang baru saja dipisahkan dari TNI pada 1999, mendapat injeksi masif persenjataan dan teknologi. Hasilnya? Gatot Nurmantyo juga pernah mengeluhkan bahwa persenjataan Polri lebih canggih dibanding militer—sebuah ironi mengingat TNI seharusnya menjadi tulang punggung pertahanan negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun perbedaan mendasar bukan hanya pada peralatan, melainkan pada struktur komando. TNI berada di bawah Kementerian Pertahanan, menciptakan lapisan birokrasi antara panglima dengan presiden. Sebaliknya, Polri langsung bertanggung jawab kepada presiden—sebuah independensi struktural yang menciptakan proximity politik luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah konteks di mana Listyo Sigit beroperasi. Ketika ia menolak Polri berada di bawah kementerian, ia tidak hanya mempertahankan status quo—ia mempertahankan akses langsung ke sumber kekuasaan tertinggi, sebuah privilege yang bahkan tidak dimiliki militer.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Patron, Klien dan Politik Penegakan Hukum</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ketahanan Listyo di era Prabowo adalah cermin dari fenomena yang lebih luas: persistensi jejaring politik Jokowi bahkan setelah kepresidenannya berakhir. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari apa yang oleh ilmuwan politik disebut sebagai &#8220;police politicization&#8221;—proses di mana institusi penegakan hukum menjadi instrumen politik eksekutif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Robert Klitgaard dalam karyanya <em>Controlling Corruption</em> (1988) menjelaskan bahwa monopoli kekuasaan tanpa akuntabilitas plus diskresi tinggi sama dengan korupsi. Formula ini tidak hanya berlaku untuk korupsi finansial, tetapi juga korupsi sistemik di mana institusi kehilangan independensinya sebagai penegak hukum yang impartial dan menjadi aktor politik partisan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Polri, dengan akses langsung ke presiden dan anggaran yang masif, memiliki seluruh elemen formula Klitgaard. Monopoli atas penggunaan kekerasan legal, minimnya mekanisme checks and balances yang efektif, dan diskresi luas dalam penegakan hukum—kombinasi ini menciptakan kondisi ideal untuk politisasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Samuel Huntington dalam <em>Political Order in Changing Societies</em> (1968) memperkenalkan konsep &#8220;Praetorian State&#8221;—negara di mana institusi keamanan memiliki otonomi berlebih hingga menjadi aktor politik independen. Alih-alih sepenuhnya subordinat kepada otoritas sipil, mereka menjadi kingmaker atau penunjang kekuasaan. Indonesia pasca-reformasi mewujudkan versi modern dari Praetorian State ini. Polri bukan hanya eksekutor kebijakan, melainkan aktor dengan arah politiknya tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena serupa dapat ditemukan di berbagai belahan dunia. J. Edgar Hoover, direktur FBI Amerika Serikat selama 48 tahun (1924-1972), adalah contoh klasik bagaimana kepala lembaga penegakan hukum bisa menjadi untouchable karena menguasai informasi dan memiliki independensi institusional. Hoover bertahan melalui delapan presiden—dari Calvin Coolidge hingga Richard Nixon—karena kombinasi kompetensi, akumulasi leverage politik, dan struktur FBI yang memberikannya otonomi luar biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Rusia kontemporer, Alexander Bortnikov sebagai direktur FSB (Federal Security Service) sejak 2008 menunjukkan pola serupa. Meski secara formal bertanggung jawab kepada Presiden Putin, FSB memiliki kekuasaan yang begitu luas—dari kontra-intelijen hingga ekonomi—sehingga Bortnikov menjadi salah satu figur paling berkuasa di Rusia, bahkan lebih berpengaruh dari banyak menteri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membedakan kasus Indonesia adalah konteks transisi demokrasi. Jika Hoover beroperasi dalam demokrasi mapan dan Bortnikov dalam otoritarianisme modern, Listyo berada di wilayah abu-abu: demokrasi elektoral dengan institusi yang belum sepenuhnya ter-accountable. Ini menciptakan ruang bagi akumulasi kekuasaan informal yang massif tanpa mekanisme balancing yang memadai.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Warisan Reformasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Douglass North, ekonom pemenang Nobel, dalam karya monumentalnya <em>Institutions, Institutional Change and Economic Performance</em> (1990) berargumen bahwa &#8220;institutions are the humanly devised constraints that structure political, economic and social interaction.&#8221; Institusi yang dirancang dengan baik menciptakan insentif untuk perilaku produktif; yang dirancang buruk menciptakan patologi sistemik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Reformasi Indonesia pasca-1998 dirancang dengan niat mulia: mencegah kembalinya dominasi militer ala Orde Baru. Pemisahan Polri dari TNI, independensi struktural, dan penguatan kapasitas adalah solusi rasional untuk masalah nyata. Namun seperti dikonseptualisasikan oleh Robert K. Merton dalam teori &#8220;unintended consequences&#8221;, intervensi purposif seringkali menghasilkan outcome yang tidak terduga dan bahkan kontraproduktif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Michel Foucault dalam <em>Discipline and Punish</em> (1975) menjelaskan bagaimana institusi modern menciptakan bentuk kekuasaan baru yang lebih subtle namun lebih pervasive. Alih-alih penindasan kasar ala Orde Baru, Indonesia kini memiliki sistem di mana kekuasaan terinstitusionalisasi dalam struktur yang tampak legitimate dan demokratis—namun tidak kalah menindas dalam praktiknya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Listyo adalah manifestasi sempurna dari paradoks reformasi ini. Ia tidak perlu kudeta atau konspirasi untuk mempertahankan kekuasaan—sistem sudah dirancang sedemikian rupa sehingga posisinya hampir tak tergoyahkan selama ia memelihara hubungan baik dengan eksekutif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Max Weber dalam konsepnya tentang &#8220;iron cage of rationality&#8221; memperingatkan bahwa birokrasi modern, meski efisien, menciptakan struktur kekuasaan yang terus meningkat menjadi otonom dari kontrol demokratis. Polri adalah iron cage Weber yang hidup: institusi yang semakin powerful, semakin otonom, dan semakin sulit dikendalikan oleh mekanisme demokratis formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lord Acton terkenal dengan pernyataan &#8220;power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.&#8221; Namun yang lebih relevan untuk kasus Indonesia adalah observasi selanjutnya: &#8220;Great men are almost always bad men, even when they exercise influence and not authority.&#8221;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Listyo mungkin atau mungkin bukan &#8220;bad man&#8221; dalam pengertian moral personal, tetapi sistem yang memungkinkannya mengakumulasi kekuasaan tanpa check and balance yang memadai adalah &#8220;bad system&#8221;—dan bad system inevitably produces bad outcomes. Dengan demikian, kritikan Gatot Nurmantyo mendapatkan penegasannya tersendiri. Persoalannya tinggal apakah setelah Listyo pensiun, Polri akan tetap berwajah sama atau mengalami perusabahan. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="1VHEkN2pYgs"><iframe loading="lazy" title="K-POP LEWAT? Kenapa Musik INDONESIA TIMUR Bisa JAJAH AMERIKA (Analisis ‘Tabola-Bale’ Wave)" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1VHEkN2pYgs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/download-10.mp3" length="1980524" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/jend-listyo-sigit-1024x725.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>PKH, Satgas Paling Sakti?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/pkh-satgas-paling-sakti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2025 02:20:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Kejagung]]></category>
		<category><![CDATA[Menhan]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[satgaspkh]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166110</guid>

					<description><![CDATA[The real Joint Special Operations, Satgas PKH&#160; #satgaspkh #menhan #tni #polri #kejagung #prabowo #hutan #kekayaanalam #opsus #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-4 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166113" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-819x1024.png" alt="pkh, satgas paling sakti" class="wp-image-166113" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-5 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166114" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-819x1024.png" alt="pkh, satgas paling sakti (2)" class="wp-image-166114" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-6 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166115" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-819x1024.png" alt="pkh, satgas paling sakti (3)" class="wp-image-166115" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">The real Joint Special Operations, Satgas PKH&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1fae1/72.png" alt="🫡" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f60e/72.png" alt="😎" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f1ee_1f1e9/72.png" alt="🇮🇩" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#satgaspkh #menhan #tni #polri #kejagung #prabowo #hutan #kekayaanalam #opsus #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/pkh-satgas-paling-sakti-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Polri di Bawah Kementerian Keamanan?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/polri-di-bawah-kementerian-keamanan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2025 05:11:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Basarnas]]></category>
		<category><![CDATA[BNPT]]></category>
		<category><![CDATA[BSSN]]></category>
		<category><![CDATA[kementeriankeamanan]]></category>
		<category><![CDATA[listyosigit]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[reformasipolri]]></category>
		<category><![CDATA[TNI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165902</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah ide&#160; Kalo dibentuk Kementerian Keamanan, lembaga mana aja yang tepat berada di bawah koordinasinya selain Polri?&#160; #kementeriankeamanan #reformasipolri #polri #listyosigit #tni #basarnas #bnpt #bssn #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-819x1024.png" alt="polri di bawah kementerian keamanan" class="wp-image-165913" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-7 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="165914" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-819x1024.png" alt="polri di bawah kementerian keamanan (2)" class="wp-image-165914" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-8 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="165915" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-819x1024.png" alt="polri di bawah kementerian keamanan (3)" class="wp-image-165915" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah ide&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kalo dibentuk Kementerian Keamanan, lembaga mana aja yang tepat berada di bawah koordinasinya selain Polri?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f914/72.png" alt="🤔" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f4ac/72.png" alt="💬" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#kementeriankeamanan #reformasipolri #polri #listyosigit #tni #basarnas #bnpt #bssn #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/polri-di-bawah-kementerian-keamanan-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Optimis! Polisi Aktif Homecoming?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/optimis-polisi-aktif-homecoming/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2025 02:16:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[listyosigit]]></category>
		<category><![CDATA[mahkamahkonstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[reformasipolri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165680</guid>

					<description><![CDATA[Yuk bisa yuk dijalanin putusannya secara konkret&#160; #polri #reformasipolri #prabowo #listyosigit #mahkamahkonstitusi #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-819x1024.png" alt="optimis! polisi aktif homecoming" class="wp-image-165683" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-819x1024.png" alt="optimis! polisi aktif homecoming (2)" class="wp-image-165685" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-819x1024.png" alt="optimis! polisi aktif homecoming (3)" class="wp-image-165684" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Yuk bisa yuk dijalanin putusannya secara konkret&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1fae1/72.png" alt="🫡" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f1ee_1f1e9/72.png" alt="🇮🇩" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#polri #reformasipolri #prabowo #listyosigit #mahkamahkonstitusi #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/optimis-polisi-aktif-homecoming-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Bullying, Saatnya Polisi Hadir?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/bullying-saatnya-polisi-hadir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2025 01:06:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Bullying]]></category>
		<category><![CDATA[perundungan]]></category>
		<category><![CDATA[poldametro]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165649</guid>

					<description><![CDATA[Kalau dari kalian sendiri solusi apa yang dibutuhkan untuk atasi masalah ini? Share di kolom komentar ya #infografis #pinterpolitik #politikindonesia #bullying #perundungan #sekolah #polri #poldametro]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-819x1024.png" alt="bullying, saatnya polisi hadir" class="wp-image-165652" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-819x1024.png" alt="bullying, saatnya polisi hadir (2)" class="wp-image-165653" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-819x1024.png" alt="bullying, saatnya polisi hadir (3)" class="wp-image-165654" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau dari kalian sendiri solusi apa yang dibutuhkan untuk atasi masalah ini? Share di kolom komentar ya</p>



<p class="wp-block-paragraph">#infografis #pinterpolitik #politikindonesia #bullying #perundungan #sekolah #polri #poldametro</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/bullying-saatnya-polisi-hadir-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Roy Suryo, dr Tifa cs Tersangka</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 04:22:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[drtifa]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[ijazah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[roysuryo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165572</guid>

					<description><![CDATA[Semakin menarik drama per-ijazah-an ini?&#160; #breakingnews #roysuryo #drtifa #polri #gibran #ijazah #jokowi #reels #shorts #fyp #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-819x1024.png" alt="roy suryo, dr tifa cs tersangka 1" class="wp-image-165575" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-819x1024.png" alt="roy suryo, dr tifa cs tersangka 2" class="wp-image-165576" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-819x1024.png" alt="roy suryo, dr tifa cs tersangka 3" class="wp-image-165577" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Semakin menarik drama per-ijazah-an ini?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f914/72.png" alt="🤔" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#breakingnews #roysuryo #drtifa #polri #gibran #ijazah #jokowi #reels #shorts #fyp #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/roy-suryo-dr-tifa-cs-tersangka-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Komisi Percepatan Reformasi Polri Harus Cepat</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/komisi-percepatan-reformasi-polri-harus-cepat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 03:35:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[komitereformasikepolisian]]></category>
		<category><![CDATA[listyosigit]]></category>
		<category><![CDATA[Polri]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165549</guid>

					<description><![CDATA[Komisi percepatan berarti harus gerak cepat nih&#160; #breakingnews #prabowo #komitereformasikepolisian #polri #listyosigit #yusril #mahfudmd #ottohasibuan #titokarnavian #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-819x1024.png" alt="komisi percepatan reformasi polri (1)" class="wp-image-165552" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-819x1024.png" alt="komisi percepatan reformasi polri (2)" class="wp-image-165553" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-819x1024.png" alt="komisi percepatan reformasi polri (3)" class="wp-image-165554" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Komisi percepatan berarti harus gerak cepat nih&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f1ee_1f1e9/72.png" alt="🇮🇩" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#breakingnews #prabowo #komitereformasikepolisian #polri #listyosigit #yusril #mahfudmd #ottohasibuan #titokarnavian #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/komisi-percepatan-reformasi-polri-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
