<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Politisasi Ulama &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/politisasi-ulama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 May 2019 10:26:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Politisasi Ulama &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ijtima, Multaqo dan Jebakan Umara</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/ijtima-multaqo-dan-jebakan-umara/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 10 May 2019 11:00:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtima Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtima Ulama 3]]></category>
		<category><![CDATA[Ijtima Ulama III]]></category>
		<category><![CDATA[Kecurangan Pemilu]]></category>
		<category><![CDATA[Multaqo Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Pemilu 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Politisasi Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=57573</guid>

					<description><![CDATA[Ijtima Ulama III beberapa waktu lalu digelar guna memberikan rekomendasi pada masyarakat terkait perlawanan terhadap dugaan kecurangan dalam Pemilu 2019. Menyusul kegiatan tersebut, ribuan ulama lainnya menggelar Multaqo Ulama yang sebaliknya menyerukan perdamaian. PinterPolitik.com “They forgettin&#8217; that it&#8217;s me. Akhi, tell &#8216;em I ain&#8217;t gone. Wallahi,” – Frank Ocean, musisi R&#38;B asal Amerika Serikat Ijtima [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Ijtima Ulama III beberapa waktu lalu digelar guna memberikan rekomendasi pada masyarakat terkait perlawanan terhadap </strong><strong>dugaan </strong><strong>kecurangan dalam Pemilu 2019. Menyusul kegiatan tersebut, ribuan ulama lainnya menggelar Multaqo Ulama yang </strong><strong>sebaliknya </strong><strong>menyerukan perdamaian.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“They forgettin&#8217; that it&#8217;s me. Akhi, tell &#8216;em I ain&#8217;t gone. Wallahi,” – Frank Ocean, musisi R&amp;B asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">I</span>jtima Ulama III yang digelar bertepatan pada Hari Buruh 2019 tersebut menghasilkan <a href="http://wartakota.tribunnews.com/2019/05/02/ini-lima-poin-hasil-ijtima-ulama-jilid-tiga-kubu-01-anggap-politik-ugal-ugalan?page=all"><strong>lima poin</strong></a> usulan. Poin-poin rekomendasi tersebut berangkat dari asumsi yang menyebut bahwa Pemilu 2019 dipenuhi dengan kecurangan yang terstruktur, sistematis, dan masif.</p>
<p>Dengan menyimpulkan adanya kecurangan, pertemuan Ijtima tersebut <a href="http://wartakota.tribunnews.com/2019/05/02/ini-lima-poin-hasil-ijtima-ulama-jilid-tiga-kubu-01-anggap-politik-ugal-ugalan?page=all"><strong>mendesak</strong></a> Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) untuk mendiskualifikasi pencalonan paslon nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Hasil Ijtima tersebut juga mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam melawan kecurangan-kecurangan yang terjadi.</p>
<p>Namun, pelaksanaan Ijtima tersebut dianggap bersifat politis dan memihak kubu paslon nomor urut 02, Prabowo Subanto-Sandiaga Uno. Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily, <a href="https://nasional.tempo.co/read/1201176/tkn-ijtima-ulama-iii-politik-ugal-ugalan-yang-sesatkan-umat/full&amp;view=ok"><strong>menyebut</strong></a> kegiatan tersebut merupakan manuver politik kubu 02 yang ugal-ugalan yang berkedok perkumpulan ulama.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Agama dan Nasionalisme merupakan dua kutub yang saling menguatkan</p>
<p>&quot;Jadilah orang yang beragama dan nasionalis, serta nasionalis yang beragama&quot;</p>
<p>Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA <a href="https://twitter.com/saidaqil?ref_src=twsrc%5Etfw">@saidaqil</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/HubbulWathon?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#HubbulWathon</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/NUCare?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#NUCare</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/Kiyai?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#Kiyai</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/NU?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#NU</a> <a href="https://t.co/QxlviuYkPr">pic.twitter.com/QxlviuYkPr</a></p>
<p>&mdash; NU Care (@nucare_lazisnu) <a href="https://twitter.com/nucare_lazisnu/status/1123189740721729542?ref_src=twsrc%5Etfw">April 30, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Beberapa hari setelah pelaksanaan Ijtima Ulama III, ribuan ulama lainnya mengadakan kegiatan pertemuan yang berbeda, yaitu Multaqo Ulama. Salah satu hadirin dalam kegiatan tersebut, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, <a href="https://www.suara.com/news/2019/05/03/213809/gelar-multaqo-ulama-dan-habaib-ketua-pbnu-ini-baru-betul-betul-ulama"><strong>menilai</strong></a> bahwa kegiatan tersebut lah yang merupakan kegiatan ulama sebenarnya.</p>
<p>Pertemuan Multaqo tersebut <a href="https://www.nu.or.id/post/read/105688/delapan-rekomendasi-multaqo-ulama-di-jakarta"><strong>mengajak</strong></a> masyarakat untuk menjaga perdamaian, keamanan, dan situasi yang kondusif pasca Pemilu yang kebetulan bertepatan dengan bulan Ramadan. Masyarakat juga diimbau untuk menghindari aksi-aksi yang provokatif, serta yang berlawanan dengan konstitusi dan aturan hukum.</p>
<p>Dengan poin-poin rekomendasinya yang masing-masing berbeda, dua pertemuan tersebut terlihat saling berseberangan dalam menanggapi isu dugaan kecurangan Pemilu 2019. Apa latar belakang yang mendasari perbedaan ulama-ulama ini? Lalu, mengapa ulama menjadi penting bagi kontestasi politik dalam Pemilu 2019?</p>
<h4><strong>Tradisionalis vs Puritanis</strong></h4>
<p>Guna memahami kelompok-kelompok ulama yang kini saling berseberangan terkait situasi pasca-Pemilu 2019, kita perlu melihat kembali ke belakang mengenai bagaimana kelompok-kelompok Islam di Indonesia terbentuk.</p>
<p>Dalam <a href="https://www.jstor.org/stable/j.ctt46mwqt"><strong>tulisan</strong></a> Nina Nurmila yang berjudul “The Indonesian Muslim Feminist Reinterpretation of Inheritance”, dijelaskan bahwa kehadiran Islam di Indonesia dimulai dengan penyebarannya di Aceh yang pada abad ke-7 merupakan kota pelabuhan dan perdagangan yang sibuk. Aceh juga menjadi tempat singgah sementara bagi pendatang-pendatang Muslim yang turut menyebarkan agama Islam di kepulauan Indonesia dengan kecakapannya dalam berdagang.</p>
<p>Hampir sama dengan di Aceh, sunan-sunan Wali Songo juga menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dengan cara-cara damai, terutama melalui medium budaya – seperti wayang – yang <a href="https://www.jstor.org/stable/j.ctt46mwqt"><strong>dikombinasikan</strong></a> dengan nilai-nilai Islam. Dengan cara kombinasi budaya oleh Wali Songo, nilai-nilai budaya Jawa juga turut tercampur dalam ajaran-ajaran Islam di pulau ini, seperti tradisi warga untuk mengadakan <em>slametan</em>.</p>
<p>Kombinasi ajaran Islam dan budaya Jawa yang membentuk praktik-praktik Islam baru ini memicu kemunculan kelompok Muslim lain yang memiliki visi yang berbeda. Banyak cendekiawan-cendekiawan Muslim Indonesia yang pergi belajar ke kota-kota Timur Tengah – seperti Mekkah, Madinah, dan Kairo – membawa perspektif baru bagi Muslim di Indonesia.</p>
<p>Salah satu tokoh Islam pembawa visi Islam baru tersebut adalah KH Ahmad Dahlan. Di tengah-tengah praktik Islam yang tercampur dengan budaya-budaya lokal, Dahlan memperjuangkan misinya untuk memurnikan Islam di Indonesia dengan mendirikan organisasi Muhammadiyah pada November 1912.</p>
<p>Berdirinya Muhammadiyah ini tentunya menjadi penantang bagi Islam yang tercampur dengan budaya lokal, yaitu kelompok Islam tradisional. Berdasarkan <a href="http://www.muhammadiyah.or.id/id/news/print/883/gerakan-pemikiran-muhammadiyah-antara-purifikasi-dan-modernisasi.html"><strong>tulisan</strong></a> yang berjudul <em>Gerakan Pemikiran Muhammadiyah</em> di situs organisasi tersebut, Muhammadiyah berupaya untuk menawarkan ajaran-ajaran Islam yang lebih puritan dengan menghapus budaya-budaya lama dan menggantikannya dengan budaya dan etos yang baru.</p>
<hr /><p><em>Diskursus sebagai pengetahuan dan kekuatan memiliki hubungan yang mengartikan satu sama lain.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fijtima-multaqo-dan-jebakan-umara%2F&#038;text=Diskursus%20sebagai%20pengetahuan%20dan%20kekuatan%20memiliki%20hubungan%20yang%20mengartikan%20satu%20sama%20lain.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Pengaruh dari seruan purifikasi kelompok puritan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan hubungan konseptual antara diskursus (<em>discourse</em>) dan kekuatan (<em>power</em>) milik filsuf Prancis, Michel Foucault. Foucault <a href="https://www.jstor.org/stable/41801502"><strong>menilai</strong></a> bahwa diskursus sebagai pengetahuan dan kekuatan memiliki hubungan yang mengartikan satu sama lain.</p>
<p><a href="https://www.jstor.org/stable/41801502"><strong>Bagi</strong></a> Foucault, pengetahuan dan kebenaran mendasari kekuatan. Begitu juga sebaliknya, dengan pengetahuan yang lebih banyak, kekuatan untuk memengaruhi diskursus juga lebih besar.</p>
<p>Jika kita aplikasikan konsep-konsep Foucault tersebut dalam memahami pengaruh seruan purifikasi di Indonesia, kelompok-kelompok puritan ini bisa saja meraih kekuatan dengan diskursus kebenaran berupa pengetahuan Islam. Dengan kekuatan yang tumbuh tersebut, kelompok ini memengaruhi relasi kekuatan di kalangan Muslim dengan melemahkan pengaruh kelompok Islam tradisional.</p>
<p>Jika memang kehadiran kelompok puritan berpengaruh pada relasi kekuatan di kalangan Muslim, respons apa yang lantas diberikan oleh kelompok Islam tradisional? Apakah kelompok tradisional hanya tinggal diam?</p>
<p>Menurut Faisal Islam dalam <a href="http://jiis.uinsby.ac.id/index.php/JIIs/article/view/88"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul “The Nahdlatul Ulama”, kelompok Islam tradisional tentunya tidak tinggal diam dalam menanggapi seruan-seruan purifikasi Islam di Jawa dan Sumatera Barat (Kaum Padri) yang dianggap terinspirasi oleh Wahabisme – gerakan purifikasi Islam yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Jazirah Arab.</p>
<p>Melihat perdebatan agama di antara keduanya, gerakan politik Islam lain, Sarekat Islam (SI), berinisiatif untuk menjalankan berbagai Kongres Islam sebanyak lima kali pada tahun 1922-1926 untuk menengahi kelompok Islam tradisional dan puritan yang kongres kelima lebih memilih KH Mas Mansyur (Muhammadiyah) sebagai perwakilan untuk memenuhi undangan Raja Arab Saudi, Ibnu Saud, mengenai pembentukan khilafah baru.</p>
<p>Dengan perasaan teralienasi, kelompok tradisional membentuk komite baru dan menemui Ibnu Saud secara langsung, yaitu Komite Hijaz yang menjadi cikal bakal berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi ini nantinya menjadi wadah bagi aktivisme tokoh-tokoh Islam yang besar dari pesantren – menjadi pesaing bagi Muhammadiyah yang banyak diisi oleh cendekiawan Muslim yang belajar di Timur Tengah.</p>
<h4><strong>Jebakan Umara?</strong></h4>
<p>Persaingan antara kelompok tradisional dengan kelompok puritan ini tidak berhenti di era kolonial Belanda tersebut. Kontestasi di antara keduanya masih berlanjut hingga kini, termasuk imbasnya terhadap polarisasi politik dalam Pemilu 2019.</p>
<p>Menurut Jajat Burhanudin dan Kees van Dijk dalam <a href="https://www.jstor.org/stable/j.ctt46mwqt"><strong>bukunya</strong></a> yang berjudul <em>Islam in Indonesia</em>, berbagai kelompok puritan dan fundamentalis baru juga turut mewarnai perpolitikan Islam Indonesia di era kontemporer, seperti Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Laskar Jihad.</p>
<p>FPI misalnya, terlihat aktif dalam mendukung Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019. Tokoh dan massa FPI, seperti Sobri Lubis dan Slamet Maarif, secara aktif menginisiasi dan terlibat dalam berbagai gerakan, organisasi, dan tindakan yang mendukung paslon tersebut, seperti Presidium Alumni 212 dan <a href="https://www.tagar.id/perjalanan-ijtima-ulama-1-sampai-ijtima-ulama-3"><strong>tiga jilid</strong></a> Ijtima Ulama.</p>
<p>Di sisi lain, kelompok Islam tradisional yang telah menjelma menjadi NU memposisikan diri sebagai lawan dari kelompok fundamentalis FPI. Hal ini terlihat dari bagaimana tokoh dan afiliasi NU secara aktif terlibat dalam kampanye dan dukungan politik bagi paslon tersebut, seperti <a href="https://nasional.kompas.com/read/2018/08/09/18381791/ini-alasan-jokowi-pilih-maruf-amin-jadi-cawapresnya?page=all"><strong>pencalonan</strong></a> Ma’ruf sebagai wakil presiden dan dukungan Ketua PBNU Said Aqil terhadap Jokowi.</p>
<p>Jika kita perhatikan kembali, pola kompetisi antara tradisionalis dan puritanis kali ini tidak hanya sebatas pada tingkat pengetahuan dan ajaran agama. Kali ini, kepentingan politis umara – pemimpin pemerintahan non-ulama – juga melibatkan para ulama ini.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/BxRiGyQpElp/" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BxRiGyQpElp/" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/BxRiGyQpElp/" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Para ulama punya pandangannya masing-masing terkait dengan Pemilu 2019 Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #ijtimaulama #ijtimaulama3 #ijtimaulamaIII #multaqoulama #pemilu #pilpres #saidaqilriradj #sabrilubis #pbnu #fpi #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-05-10T07:39:40+00:00">May 10, 2019 at 12:39am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Jika memang begitu, apa yang mendasari hubungan ulama-umara dalam dinamika politik Pemilu 2019? Apa dampak lain dari hubungan di antara keduanya tersebut?</p>
<p>Hubungan ulama dan pemimpin negara ini bisa kita lihat dari bagaimana negara Arab Saudi berdiri. Joseph A. Kechichian dalam <a href="https://www.jstor.org/stable/162860"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul “The Role of the Ulama in the Politics of an Islamic State” menjelaskan bahwa aliansi antara Raja Muhammad Ibnu Saud dengan Muhammad bin Abdul Wahhab – ulama pencetus Wahabisme –merupakan hubungan yang saling memberi legitimasi di antara kekuasaan agama dan otoritas di Arab Saudi hingga era kontemporer.</p>
<p>Hal yang mirip juga terjadi di Indonesia. Martin van Bruinessen dalam <a href="https://dspace.library.uu.nl/bitstream/handle/1874/20588/bruinessen_90_indonesias_ulama_and_politics.pdf?sequence=3"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul “Indonesia’s Ulama and Politics” menjelaskan bahwa ulama dan umara memang memiliki hubungan tertentu. Bagi umara, dukungan ulama menjadi pihak yang mempengaruhi legitimasinya.</p>
<p>Namun, para ulama di Indonesia mungkin tidak memperoleh pengaruh seluas ulama di Arab Saudi dari kedekatannya dengan umara. <a href="https://dspace.library.uu.nl/bitstream/handle/1874/20588/bruinessen_90_indonesias_ulama_and_politics.pdf?sequence=3"><strong>Menurut</strong></a> Bruinessen, terdapat juga dilema dan disparitas moral ketika pihak-pihak umara yang didukungnya memiliki tendensi untuk menyalahgunakan kekuasaan, seperti korupsi. Bruinessen melihat bahwa para ulama ini pun tak berdaya dalam mengkontrol perilaku-perilaku umara tersebut.</p>
<p>Tendensi tersebut juga terlihat dalam Pemilu 2019. Menurut Edward Aspinall dalam <a href="https://www.newmandala.org/indonesias-election-and-the-return-of-ideological-competition/"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Indonesia’s Election and the Return of Ideological Competition</em> di New Mandala, pengakomodasian dan jaringan personal, pragmatisme, serta patronase tetap akan menjadi fondasi dasar politik Indonesia.</p>
<p>Mungkin, keterbatasan pengaruh dalam pemerintahan dalam perannya sebagai pelengkap kekuasaan para umara tersebut mungkin membuat beberapa ulama belajar. Perluasan pengaruhnya pun terlihat dari adanya <a href="https://tirto.id/daftar-17-kontrak-politik-yang-diteken-prabowo-saat-ijtima-ulama-ii-cZgX"><strong>kontrak politik</strong></a> antara Prabowo dengan beberapa ulama dalam Ijtima Ulama II.</p>
<p>Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan juga Prabowo tidak mengikuti saran para ulama – mengingat sebelumnya mantan Danjen Kopassus tersebut <a href="https://www.tagar.id/prabowo-dari-ijtima-ulama-i-ke-ijtima-ulama-ii"><strong>tidak menuruti</strong></a> usulan para ulama dalam Ijtima Ulama I terkait nama-nama cawapres potensial. Prabowo akhirnya lebih memilih Sandi yang namanya tak muncul dalam rekomendasi ulama sebagai cawapres andalannya.</p>
<p>Terlepas dari dinamika politik Indonesia yang problematis tersebut, polarisasi politik antara kelompok Islam tradisional dan puritan dalam Pemilu 2019 mungkin tetap memiliki pengaruh di masa mendatang. Aspinall <a href="https://www.newmandala.org/indonesias-election-and-the-return-of-ideological-competition/"><strong>menjelaskan</strong></a> bahwa tatanan politik baru seperti ini tidak menutup kemungkinan dapat bangkit ke depannya di tengah-tengah tatanan lama yang dipenuhi dengan pragmatisme politik.</p>
<p>Intinya, pengaruh ulama di Indonesia kali ini mungkin hanya menjadi pelengkap legitimasi para umara. Dalam situasi pasca-Pemilu yang masih panas ini, masing-masing kelompok Islam tersebut terlihat bermanuver untuk meyakinkan kemenangan masing-masing umaranya, Jokowi dan Prabowo.</p>
<p>Selain itu, jika pengaruh ulama dalam perpolitikan Indonesia terus tumbuh, tidak menutup kemungkinan polarisasi yang kini eksis dalam Pemilu 2019 dapat memberikan energi perubahan baru bagi Indonesia, seperti yang terjadi dalam <a href="https://www.republika.co.id/berita/selarung/nostalgia-abah-alwi/18/11/18/pidaln282-di-gedung-ini-numuhammadiyah-sepakat-bersatu-lawan-belanda"><strong>perjuangan kemerdekaan</strong></a> dulu.</p>
<p>Pada akhirnya, lirik Frank Ocean di awal tulisan pun mungkin menjadi relevan. Para umara mungkin lupa apabila ulama sebenarnya memiliki pengaruh yang sengat besar dan tetap akan <em>stay</em> dalam memengaruhi dinamika politik Indonesia ke depan. Menarik untuk ditunggu. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="HK-nL9D0S18"><iframe title="MENELUSURI JEJAK POLITIK MUHAMMADIYAH" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/HK-nL9D0S18?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/05/Kang-Said-Haedar-Nashir-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ulama kok Diadu?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/ulama-kok-diadu/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[F41]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Aug 2018 12:45:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Politisasi Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=34100</guid>

					<description><![CDATA[“Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.” ~ Abdurrahman Wahid PinterPolitik.com [dropcap]S[/dropcap]ebanyak 600 kiai dan mubaligh pengasuh pondok pesantren se-Jawa Barat memberikan dukungan kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk mendampingi petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Wedeww, banyak yaa&#8230; 600! Kira-kira ulama yang kemarin ikutan ijtima ada berapa hayo? Banyakan mana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya.” ~ Abdurrahman Wahid</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d5e339;">PinterPolitik.com</span></p>
<p>[dropcap]S[/dropcap]ebanyak 600 kiai dan mubaligh pengasuh pondok pesantren se-Jawa Barat memberikan dukungan kepada Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk mendampingi petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019.</p>
<p>Wedeww, banyak yaa&#8230; 600! Kira-kira ulama yang kemarin ikutan ijtima ada berapa hayo? Banyakan mana sama yang ngedukung Airlangga? <em>Hayolooo</em>&#8230;</p>
<p><em>Ihh ihhh</em>, gimana nih tanggapan kubu pendukung Prabowo? Kaget atau merasa terancam gitu nggak? Hmm, koalisi keumatan punya saingan nih yeee. <em>Ihiw</em>!</p>
<p>Eike jadi ngebayangin muka gemes Airlangga sambil bilang, “Emang antum aje yang didukung ulama? Ane juga nih. Mau ape lu?” <em>Wkwkwkwk.</em></p>
<p>Eh tunggu dulu deh gaes, kok jadi adu-aduan kelompok ulama gini? Emang nggak apa-apa ulama dipolitisasi? Apa memang trennya lagi begitu, menggunakan ulama untuk tujuan politik? Serius eike penasaran banget kok caranya begitu? Nggak setuju aku <em>tuhhh</em>…</p>
<p>Eike juga jadi bingung, kok ulama sekarang jadi pada terang-terangan banget menunjukkan sikap politik. Mau-maunya gitu loh jadi duta kampanye para politikus. <em>Ckckckck.</em></p>
<p>Memang sih, ulama-ulama tersebut memberikan tuntutan yang baik, sampai-sampai ikut membuat kontrak politik kepada bakal capres, tapi tetep aja ada kepentingan politiknya. Udah kayak koalisi partai aja pake kontrak politik segala.</p>
<p>Jadi sekarang <em>tuh</em> ya, ulama dijadikan alat untuk mengemas kampanye politik agar seolah-olah baik untuk kepentingan umat. Ujung-ujungnya apa coba? Bikin gaduh. Masyarakat terpecah belah. Belum lagi ribut-ribut isu sara. <em>Hufttt</em>, kubur Hayati disemak-semak aja Bang kalo begini ceritanya….</p>
<p>Sebenernya <em>sih </em>nggak masalah ya kalo ulama jadi politikus, misalnya aja Salim Segaf Al-Jufri yang sekarang menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Jelas, nggak perlu pakai ormas berlatar agama demi menghasut masyarakat untuk membenci kelompok tertentu.</p>
<p>Jadi nih, eike usul aja, gimana kalo Habib Rizieq Shihab atau Ustaz Selamet Maarif coba masuk parpol. Mau yang Islami versi siapa? PAN? PKS? atau PBB? Atau partai nasionalis juga nggak apa-apa. Yang penting tujuannya membela umat kan? Tapi kenapa Kapitra Ampera yang jelas-jelas menunjukkan sikap membela ulama dan umat dimusuhi hanya karena pilihan kendaraan politiknya? Ini sebenernya lagi pada perjuangin umat atau pengaruh politik sih? Kok lucu? <em>Wkwkwkwk</em>.</p>
<p><em>Hufftt</em>, dari pada pusing mikirin kekonyolan di atas, mendingan kita resapi sama-sama ungkapan yang Najwa Shihab bilang, “Di tanah kita agama dan tradisi saling memberi arti, membuka peluang untuk saling menghargai.” (E36)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/08/Rizieq-Syihab.-Foto-VOA-Indonesia-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
