<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>pho lin nio &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/pho-lin-nio/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Aug 2023 09:17:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>pho lin nio &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tjan Ek Tjoan: Legenda dalam sepotong Roti</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinter-ekbis/tjan-ek-tjoan-legenda-dalam-sepotong-roti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A49]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Aug 2023 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pinter Ekbis]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[cikini]]></category>
		<category><![CDATA[kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[legendaris]]></category>
		<category><![CDATA[pho lin nio]]></category>
		<category><![CDATA[pinterekbis]]></category>
		<category><![CDATA[pinterkuliner]]></category>
		<category><![CDATA[roti]]></category>
		<category><![CDATA[tan ek tjoan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=133274</guid>

					<description><![CDATA[PinterPolitik.com Roti jadul tidak lekang oleh waktu. Salah satunya adalah roti Tan Ek Tjoan yang sudah memiliki tempat di hati para penggemarnya. Bukan sekadar rasa manis tercampur dalam roti, di setiap lapisan roti, &#160;tercampur berbagai proses sejarah yang membuat Tan Ek Tjoan melegenda. Sesuai dengan namanya, pendiri merek roti ini adalah Tan Ek Tjoan, seorang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://www.pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Roti jadul tidak lekang oleh waktu. <ins>Salah satunya adalah r</ins>oti Tan Ek Tjoan<ins> yang</ins> sudah memiliki tempat di hati para penggemarnya. Bukan sekadar rasa manis tercampur dalam roti, di setiap lapisan roti<ins>, &nbsp;</ins>tercampur berbagai proses sejarah <ins>yang</ins> membuat Tan Ek Tjoan melegenda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan namanya, pendiri mer<ins>e</ins>k roti ini adalah Tan Ek Tjoan, seorang keturunan Tionghoa. Berkat keterampilan membuat roti dan kerja kerasnya, toko roti pertama Tan Ek Tjoan berdiri di Bogor pada tahun 1921. <ins></ins></p>



<p class="wp-block-paragraph">Tan Ek Tjoan merintis bisnis roti bersama sang istri, Pho Lin Nio. Kala itu banyak orang Belanda yang menjadi pelanggan sehingga bisnis Tan Ek Tjoan dapat cepat berkembang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Horst Henry Geerken, pria asal Jerman yang tinggal 18 tahun di Indonesia<ins>,</ins> dalam bukunya<ins> yang berjudul</ins> <em>A Magic Gecko</em><ins> menceritakan bahwa,</ins> <ins>s</ins>ekitar tahun 1950-an, <ins>diriny</ins>a harus menempuh perjalanan 40 kilometer dari Jakarta ke Bogor hanya untuk membeli roti di Tan Ek Tjoan. Roti dengan tepung impor ini membangkitkan kembali cita rasa roti yang sama dengan kampung halamannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Wakil Presiden<ins> (Wapres)</ins> RI Mohammad Hatta termasuk salah satu yang pernah mencicipi roti yang memiliki ciri khas bertekstur keras itu. Seperti dikisahkan Mangil Martowidjojo dalam buku <em>Kesaksian tentang Bung Karno</em>, Bung Hatta menyempatkan diri berhenti di depan toko roti Tan Ek Tjoan di Bogor. <ins></ins></p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia menyuruh Sardi, pengawalnya, untuk membeli roti. Uang Rp5 diberikannya, sementara Sardi membeli roti seharga Rp3,75.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada<ins> tahun</ins> 1950, Tan Ek Tjoan meninggal dunia. Meski begitu, bisnisnya masih tetap berjalan lancar karena istrinya memutuskan untuk melebarkan sayap ke ibu kota. Ia membuka cabang toko rotinya di Tamansari, sebuah kawasan di Jakarta yang ramai dihuni oleh orang Belanda pada <ins>tahun </ins>1953. Kemudian, berpindah lagi ke daerah Cikini pada<ins> tahun</ins> 1955.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lama setelahnya, Pho Lin Nio meninggal<ins> dunia</ins> pada<ins> tahun</ins> 1958. Bisnis roti legendaris itu akhirnya diwariskan pada dua anaknya, yaitu Tan Bok Nio dan Tan Kim Thay. Toko roti yang ada di Bogor diambil alih oleh Tan Bok Nio dan Tan Kim Thay mengambil alih toko roti di Jakarta.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mirip dengan ayahnya, Tan Kim Thay mahir dalam berbisnis. Dengan kerja kerasnya, ia berhasil mengembangkan bisnis keluarganya dan bisa memperluas toko hingga empat kali lebih luas dari awal mereka membuka cabang. Toko roti yang ada di Surya Kencana pun pindah ke daerah Siliwangi karena sepinya pengunjung akibat Tol Gadog.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama kepemimpinan dua saudara ini, muncul ide untuk menjajakan roti keliling. Mereka mempekerjakan pedagang gerobak untuk berkeliling menjual roti ke pelanggannya di daerah Cikini. Karena semakin populer, mereka pun bisa menjajakan roti Tan Ek Tjoan hingga ke daerah yang lebih jauh seperti Ciputat, Bekasi, dan Tangerang.<ins></ins></p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><ins>Roti-roti ala Tan Ek Tjoan</ins></strong></p>



<p class="wp-block-paragraph">Awalnya, Tan Ek Tjoan hanya memproduksi roti gambang untuk makanan pokok sehari-hari masyarakat Belanda di Bogor. Nama roti ini terinspirasi dari bilah-bilah gambang kromong yang merupakan kesenian perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa. Roti gambang bertekstur keras, tetapi lembut di dalam. Roti gambang menjadi salah satu ciri khas roti Tan Ek Tjoan yang melegenda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, banyaknya permintaan roti bertekstur lembut membuat Tan Ek Tjoan membawa terobosan varian baru, roti bimbam berteksur lembut. Kehadiran roti bimbam terinspirasi dari penerapan filosofi yin-yang, yakni adanya keseimbangan antara kerasnya roti gambang dengan lembutnya roti bimbam. Kedua roti ini pun menjadi kesukaan masyarakat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tan Ek Tjoan juga memproduksi roti buaya khas Betawi dengan tekstur lembut isi cokelat. Roti ini pun menjadi terkenal, bahkan di kalangan masyarakat Betawi. Walaupun demikian, Tan Ek Tjoan masih melayani pemesanan roti buaya tradisional bertekstur keras tanpa tambahan rasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski zaman silih berganti, produsen roti legendaris seperti Tan Ek Tjoan masih setia menyajikan roti legendaris rasa <ins>otentik</ins>. Walau kini memakai sistem produksi modern, dalam hal resep tetap mengacu pada resep dasar turun temurun dari Pho Lin Nio yaitu menggunakan bahan baku tradisional alami tanpa pengawet. Kini<ins>,</ins> sudah generasi ketiga menjalankan usaha tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><ins>Terbaru, </ins>kedai di Cikini terpaksa harus tutup sejak 2015 dan pindah ke daerah Ciputat dan BSD, Tangerang. Harga roti Tan Ek Tjoan bervariasi, mulai dari R<ins>p</ins>6 ribu hingga Rp15 ribu. Harga ditentukan dari rasa dan ukuran roti. (A49)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/08/1023192021-matlekarj_20210110_1-1024x768.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
