<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>penjajahan indonesia &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/penjajahan-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 May 2023 07:44:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>penjajahan indonesia &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Benua Asia Hanya &#8220;Ilusi&#8221; Eropa?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/benua-asia-hanya-ilusi-eropa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2023 01:31:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Asia]]></category>
		<category><![CDATA[Eropa]]></category>
		<category><![CDATA[kolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Peradaban Dunia]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=122771</guid>

					<description><![CDATA[Asia adalah benua yang diisi sejumlah keberagamaan. Namun, hal tersebut kadang dilihat sebagai tantangan dalam mewujudkan persatuan di kawasan terluas di dunia ini. Mengapa bisa demikian?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Asia adalah benua yang diisi sejumlah keberagamaan. Namun, hal tersebut kadang dilihat sebagai tantangan dalam mewujudkan persatuan di kawasan terluas di dunia ini. Mengapa bisa demikian?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Benua Asia adalah benua terbesar di dunia. Hingga saat ini, Asia terdiri dari 48 negara yang terbagi menjadi beberapa wilayah tersendiri, seperti Jepang di Asia Timur dan tentunya Indonesia di Asia Tenggara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perbincangan politik internasional, Benua Asia belakangan ini sering menjadi topik utama, salah satunya karena proyeksi demografisnya yang luar biasa. Saat ini saja, hanya dengan India dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Asia sudah jadi tempat dengan populasi terbanyak di dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan tentu perbincangannya tidak hanya soal populasi saja, sebagai benua yang memiliki banyak negara berkembang, potensi kekuatan ekonomi Asia diperkirakan akan menjadi sangat besar. Otomatis, banyak bandar udara dan laut di Asia yang mulai menjadi pusat perdagangan dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, meski kerap dipandang sebagai wilayah yang homogen, faktanya nilai kesatuan di Benua Asia tidak setinggi yang sering disebutkan para pejabat. Kalau dibandingkan dengan Benua Eropa yang memiliki organisasi supranasional bernama Uni Eropa (UE), integrasi kawasan di Asia masih tertinggal jauh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Asia Tenggara, misalnya, kendati memiliki Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), tapi ASEAN pun sampai sekarang tidak memiliki ikatan sekuat UE. ASEAN saja sampai saat ini masih sangat hati-hati menanggapi gejolak isu junta Myanmar karena takut melanggar prinsip non-intervensinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ya, entah mau diakui atau tidak, kenyataannya Asia adalah sebuah benua yang memiliki banyak perbedaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, kenapa sulit sekali bagi negara-negara Asia untuk “bersatu”?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62.png" alt="image 62" class="wp-image-122774" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62-1920x2400.png 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-62-335x420.png 335w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Asia Tidak Sesimpel Itu?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita coba cari-cari pendapat pengamat tentang kenapa negara-negara di Asia tidak menyatu, sebagian dari mereka menilai bahwa Benua Asia memiliki keragaman yang terlalu “beragam”, baik secara kultural, agama, sejarah, dan politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan <em>yess</em>, tanpa perlu mengklarifikasi lebih lanjut, pandangan seperti itu sepertinya memang ada benarnya. Di negara kita saja, Indonesia, terdapat lebih dari 700 bahasa daerah. Secara rasional saja, jika negara seperti itu ingin dibaurkan dengan negara-negara lain di sekitarnya yang juga barangkali memiliki ratusan bahasa dan budaya, tampaknya akan sangat sulit.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, jangankan budaya, secara geografis saja masing-masing wilayah negara Asia memiliki ciri khasnya sendiri</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, alasan kenapa Asia sulit disatukan memiliki alasan yang lebih mendalam dan lebih kelam dari itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mantan diplomat dan ahli geopolitik asal Amerika Serikat (AS), Henry Kissinger dalam bukunya <em>World Order</em>, mengungkapkan sebuah pandangan yang begitu kontroversial tentang Benua Asia, namun mendapat banyak persetujuan dari banyak pengamat internasional. Kissinger mengatakan bahwa konsep Benua Asia itu sendiri sebenarnya hanyalah konstruk sosial yang diciptakan peradaban Barat, khususnya kolonialisme Eropa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang lebih menariknya lagi, Kissinger berpandangan bahwa gagasan Asia sebagai sebuah benua yang terpisah dengan Eropa muncul dari pandangan arogan yang terkesan rasis. Secara konsepnya, Kissinger melihat sebutan Asia sebenarnya dimaknai sebagai julukan kepada mereka yang bukan berasal dari tanah Eropa, yang juga tidak berasal dari peradaban pecahan Kekaisaran Romawi dan tidak menganut Agama Kristen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, Benua Asia bisa dianggap menjadi sebuah konsep yang bernilai over-simplifikasi. Ketika berbicara tentang peradaban Timur dan Asia, anggapan yang muncul di benak orang-orang Barat umumnya peradaban India dan Tiongkok. Padahal, dengan keberagaman yang ada, masing-masing wilayah di Asia, seperti Asia Timur, Tengah, dan Tenggara seharusnya layak dianggap memiliki komunitasnya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konsep persatuan di tengah keberagaman yang luar biasa tampaknya menjadi alasan kenapa persatuan negara-negara Asia sangat sulit untuk dicapai. Bagaimana tidak? Dalam menentukan identitas Asia itu sendiri saja mungkin para warganet akan terlibat dalam perdebatan yang sengit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, hal ini semua bisa jadi pelajaran bagi kita, bahwa ternyata ada banyak hal di dunia ini yang kerap kita anggap normal, namun memiliki sejarah kelam yang membayanginya. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="IEV0p9DzMzc"><iframe title="Puan Terjebak Masyarakat Kelas Sendok" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/IEV0p9DzMzc?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/Benua-Asia-Hanya-Ilusi-Eropa.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Maaf Belanda Hanya Omong Kosong?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/maaf-belanda-hanya-omong-kosong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2022 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Hindia Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolonial]]></category>
		<category><![CDATA[kolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[mark rutte]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kolonial]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Penjajahan Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perbudakan]]></category>
		<category><![CDATA[Perdana Menteri Belanda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=120901</guid>

					<description><![CDATA[PM Belanda Mark Rutte sampaikan permintaan maaf atas perbudakan di masa kolonial. Apakah maaf ini hanya berujung omong kosong?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte menyampaikan permohonan maaf atas peran Belanda dalam aktivitas perbudakan di masa kolonial. Mengapa permohonan maaf Belanda ini bisa jadi hanya berakhir omong kosong?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Oh, is it too late now to say sorry? Yeah, I know that I let you down. Is it too late to say I&#8217;m sorry now?” – Justin Bieber, “Sorry” (2015)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Kata maaf adalah kata yang paling mudah digunakan ketika kita melakukan kesalahan. Saat seseorang selingkuh, misalnya, kata maaf seakan-akan menjadi obat ramuan yang bisa menghapuskan segala rasa sakit yang ada di dalam hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ujung-ujungnya, si dia malah minta putus. “Maaf, perasaanku sudah berubah,” begitu katanya. Sederhana sekali, bukan? Padahal, perihnya hati sulit kita terima.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gampangnya <em>sih</em>, si dia bisa langsung saja pergi tanpa harus membawa beban apapun. Terkadang, ini juga <em>sih</em> yang membuat kita akhirnya susah memaafkan dan merelakan kepergiannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, kata maaf yang ala kadarnya seperti ini <em>nggak</em> hanya terjadi ketika sebuah hubungan asmara berakhir, melainkan juga hubungan antarnegara – khususnya di antara negara eks-penjajah dan negara atau wilayah bekas jajahannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baru-baru ini, Perdana Menteri (PM) Belanda <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mark-rutte/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Mark Rutte</strong></a>, mewakili pemerintah <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/belanda/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Belanda</strong></a>, menyampaikan permohonan maaf kepada negara bekas jajahan dan wilayah konstituennya – seperti Suriname, Aruba, Curaçao, hingga <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/indonesia/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Indonesia</strong></a> – atas peran Belanda dalam aktivitas <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/perbudakan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>perbudakan</strong></a> di <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/masa-kolonial/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>masa kolonial</strong></a> sebelum tahun 1863. </p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/XsZHz8AFGgnscjLlB5HBq3C8jbrJ0c-Jgu5wcnYH341gv6BGesqHZJEGoDTqJqT_17G4kli-oYiSXoksGL69uRNi5dLKKKTiAf0s2jexJV1AH6Wbcqu-neOCCWbW27ihUsmTo0CSoEKc526tpKjvAyb7Q2_xfJexO04gwGupA9Fyf_Wpb7rhx16TmIAJekxS-Wtlz6fM9w" alt="Belanda Minta Maaf Perbudakan Tapi"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi <em>nih</em>, dalam permintaan maaf tersebut, Belanda tidak mengumumkan rencana reparasi kepada mereka yang terdampak – meskipun kabarnya pemerintah Belanda sudah menyiapkan sejumlah uang sebesar €200 juta (Rp3,1 triliun). Ya, ditunggu ya, Meneer Rutte. <em>Hehe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soalnya <em>nih</em>, sejumlah pakar juga menilai kalau hanya kata maaf tidaklah cukup. Bahkan, uang sebesar €200 juta dinilai juga belum bisa menutupi <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kolonialisme/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>kolonialisme</strong></a> yang terjadi sekitar selama 400 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada tulisan Borja Martinovic, Karen Freihorst, dan Magdalena Bobowik yang berjudul <em>To Apologize or to Compensate for Colonial Injustices?</em>, keluarga korban terdampak dari ketidakadilan kolonial bisa saja merasa tidak cukup hanya dengan permohonan maaf. Terkadang, reparasi – baik secara emosional maupun finansial – juga dibutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, kalau misalnya Meneer Rutte hanya meminta maaf, bukan <em>nggak</em> mungkin, Belanda ini jadi mirip dengan si dia yang hanya tinggal pergi dengan kata maaf saja. Padahal <em>nih</em>, ya, belum tentu, rasa sakit bisa hilang begitu saja dengan kata maaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, <em>tuh</em>, apakah cukup hanya dengan permohonan maaf dari pemerintah Belanda saja? Ataukah perlu reparasi lanjutan – misal dengan kompensasi kepada keluarga korban dan keturunannya? Tentunya, semua kembali kepada keinginan dan kerelaan korban terdampak. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="SwYLR9xjX4I"><iframe title="Ini Yang Terjadi Jika Indonesia Tidak Pernah Dijajah" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/SwYLR9xjX4I?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/Maaf-Belanda-Hanya-Omong-Kosong.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Karena AS, Jepang Jajah Indonesia?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/karena-as-jepang-jajah-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2021 05:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dunia 2]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=82540</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="948" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-948x1024.jpg" alt="" class="wp-image-82482" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-948x1024.jpg 948w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-278x300.jpg 278w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-139x150.jpg 139w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-768x830.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-696x752.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-1068x1154.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-389x420.jpg 389w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 948px) 100vw, 948px" /><figcaption>7 Desember 1941 tandai terlibatnya AS di Perang Dunia II</figcaption></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="948" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-948x1024.jpg" alt="" class="wp-image-82481" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-948x1024.jpg 948w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-278x300.jpg 278w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-139x150.jpg 139w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-768x830.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-696x752.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-1068x1154.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2-389x420.jpg 389w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-2.jpg 1080w" sizes="auto, (max-width: 948px) 100vw, 948px" /></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/01/Karena-AS-Jepang-Jajah-Indonesia-1-948x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
