<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Pejabat Publik Rangkap Jabatan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/pejabat-publik-rangkap-jabatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 Feb 2020 11:10:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Pejabat Publik Rangkap Jabatan &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Wamen Rangkap Jabatan Disorot</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/wamen-rangkap-jabatan-disorot/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K12]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Feb 2020 02:03:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Pejabat Publik Rangkap Jabatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=73707</guid>

					<description><![CDATA[Hakim Mahkamah Konstitusi soroti rangkap jabatan Wamen dan Komisaris.Bermula dari gugatan soal jabatan Wamen dan pertanyakan kebutuhan Wamen. Pertanyakan mengapa Wamen dibolehkan rangkap jabatan]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="aligncenter size-full wp-image-73700" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot.jpg" alt="" width="1080" height="1328" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-244x300.jpg 244w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-768x944.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-833x1024.jpg 833w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-696x856.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-1068x1313.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-342x420.jpg 342w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></a></p>
<p>Hakim Mahkamah Konstitusi soroti rangkap jabatan Wamen dan Komisaris.<br />Bermula dari gugatan soal jabatan Wamen dan pertanyakan kebutuhan Wamen. Pertanyakan mengapa Wamen dibolehkan rangkap jabatan</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/Wamen-Rangkap-Jabatan-Disorot-833x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Standar Ganda Menteri Jokowi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/standar-ganda-menteri-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Nov 2019 07:42:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[menteri jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Pejabat Publik Rangkap Jabatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=69384</guid>

					<description><![CDATA[PDIP sebut menteri rangkap jabatan di parpol positif. Terdapat 16 menteri Jokowi yang berasal dari partai politik, 3 diantaranya ketua parpol. Menurut UU Kementrian Negara, Menteri tidak boleh merangkap jabatan sebagai; pejabat negara lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, komisaris atau direksi pada perusahaan negara atau perusahaan swasta.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01.jpg"><img decoding="async" class=" td-modal-image aligncenter wp-image-69382 size-full" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01.jpg" alt="menteri Jokowi rangkap jabatan di parpol" width="768" height="853" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01-270x300.jpg 270w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01-696x773.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01-378x420.jpg 378w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></a></p>
<p>PDIP sebut menteri rangkap jabatan di parpol positif. Terdapat 16 menteri Jokowi yang berasal dari partai politik, 3 diantaranya ketua parpol. Menurut UU Kementrian Negara, Menteri tidak boleh merangkap jabatan sebagai; pejabat negara lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan, komisaris atau direksi pada perusahaan negara atau perusahaan swasta.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/11/Infografis-Standar-Ganda-Menteri-Jokowi-01.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Polemik Rangkap Jabatan Pejabat Publik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/polemik-rangkap-jabatan-pejabat-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A15]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 May 2017 02:16:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[ICW]]></category>
		<category><![CDATA[Oesman Sapta Odang]]></category>
		<category><![CDATA[OSO]]></category>
		<category><![CDATA[Pejabat Publik Rangkap Jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[RANGKAP JABATAN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=10619</guid>

					<description><![CDATA[Rangkap jabatan yang dilakukan pejabat kementerian dan pejabat lembaga negara setingkat kementerian atau anggota dewan, memang telah menuai protes di kalangan masyarakat. Karena para pejabat ini lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan publik. PinterPolitik.com [dropcap size=big]O[/dropcap]esman Sapta Odang atau yang akrab disapa OSO, mendapat kritik tajam dari Komisioner Ombudsman RI, Laode Ida. Kritikannya terkait [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><em>Rangkap jabatan yang dilakukan pejabat kementerian dan pejabat lembaga negara setingkat kementerian atau anggota dewan, memang telah menuai protes di kalangan masyarakat. Karena para pejabat ini lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan publik.</em></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cadb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]O[/dropcap]esman Sapta Odang atau yang akrab disapa OSO, mendapat kritik tajam dari Komisioner Ombudsman RI, Laode Ida. Kritikannya terkait rangkap jabatan yang kini dijalani OSO. Seperti diketahui, OSO tak hanya menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Wakil Ketua MPR RI, tapi ia juga masih menjadi Ketua Umum Partai Hanura.</p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Harusnya MPR keluarkan</span><span style="font-weight: 400;"> </span><i><span style="font-weight: 400;">statement</span></i><span style="font-weight: 400;">. Waktu itu secara personal, OSO sudah keluar</span><span style="font-weight: 400;"> </span><i><span style="font-weight: 400;">statement</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span><span style="font-weight: 400;">(siap mundur dari wakil ketua MPR),&#8221; kata Laode di Gedung Ombudsman, Jakarta, Senin (22/5). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain kritikan dari Komisioner Ombudsman, OSO juga mendapat kritik tajam dari Indonesia Corruption Watch (ICW). Peneliti ICW, Donal Fariz mengatakan bahwa dengan adanya rangkap jabatan yang dipikul OSO, bisa dipastikan akan ada duplikasi anggaran untuk gaji OSO.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><img decoding="async" class="size-full wp-image-10620 alignright" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/20170521_122720.jpg" alt="" width="498" height="335" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/20170521_122720.jpg 498w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/20170521_122720-300x202.jpg 300w" sizes="(max-width: 498px) 100vw, 498px" />&#8220;Dualisme jabatan ini berpeluang tindak pidana korupsi, OSO menjadi Wakil Ketua MPR juga menjadi pimpinan DPD yang membawa potensi duplikasi anggaran,&#8221; ujar Donal dalam jumpa pers di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta Selatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Gaji OSO di DPD saja, menurut </span><span style="font-weight: 400;">Peneliti Pusat Studi Konstitusi Fakultas Hukum Universitas Andalas Beni Kurnia Illahi, setiap bulannya mendapatkan Rp 67 juta dan setahunnya anggota DPD bisa menerima 785 juta atau lebih dari Rp 1,4 miliar untuk dua tahun masa jabatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo dalam Diskusi Kanal KPK yang bertema “Membedah Rangkap Jabatan Pejabat Pemerintah” mengatakan bahwa rangkap jabatan merupakan fenomena yang patut diwaspadai karena praktik ini bisa memicu terjadinya konflik kepentingan yang berpotensi korupsi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-10621 alignleft" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/AgusRahardjoadi.jpg" alt="" width="450" height="300" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/AgusRahardjoadi.jpg 450w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/AgusRahardjoadi-300x200.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/AgusRahardjoadi-360x240.jpg 360w" sizes="auto, (max-width: 450px) 100vw, 450px" />“Seseorang dengan dua jabatan pasti akan mengalami benturan kepentingan dari jabatannya. Benturan kepentingan tersebut menjadi akar dari adanya kecurangan yang tentu saja sudah menjadi bagian dari praktik korupsi,” kata Agus.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam diskusi tersebut, Agus juga menyindir OSO karena t</span><span style="font-weight: 400;">elah merangkap tiga jabatan sekaligus. Bahkan, Agus pun menambahkan kalimat ‘banci’ dalam kata-katanya. Namun, OSO tidak berminat mengomentari sindiran tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Ia juga mengaku </span><span style="font-weight: 400;">belum mengetahui aturan tentang rangkap jabatan di tingkat lembaga negara tersebut. Namun bila diminta mundur, ia mengaku siap menanggalkan jabatannya sebagai Ketua DPD.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menanggapi kritikan tersebut, MPR menyerahkan sepenuhnya pengganti OSO kepada DPD. Dari DPD sendiri, nama-nama senator yang diusulkan menggantikan OSO sudah bermunculan, namun belum sampai tahap formal.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jabatannya sebagai Ketua DPD pun, sebenarnya dipandang bertentangan oleh hukum. Proses pemilihan OSO dianggap bertentangan dengan peraturan, karena MA sebenarnya telah membatalkan Peraturan DPD RI Nomor 1 Tahun 2016 dan 2017. Peraturan tersebut mengatur soal masa jabatan Ketua dan Pimpinan DPD yang sebelumnya berhak berkuasa selama 2,5 tahun, namun karena dibatalkan, maka masa jabatan pimpinan DPD kembali menjadi 5 tahun, sesuai Tata Tertib DPD Nomor 1 Tahun 2014.</span></p>
<p><b>Rangkap Jabatan dan Konflik Kepentingan</b></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-10622" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889.jpg" alt="" width="1500" height="639" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889.jpg 1500w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889-696x296.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889-1068x455.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889-986x420.jpg 986w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889-300x128.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889-768x327.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/4889-1024x436.jpg 1024w" sizes="auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px" /></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sekjen DPD RI Sudarsono Hardjosoekarto mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir mengenai masalah rangkap jabatan yang dilakukan OSO. Ia menegaskan, tidak ada duplikasi terkait anggaran bagi OSO di DPD maupun di MPR.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">&#8220;Kami kesekjenan DPD dan kesekjenan MPR sudah duduk bersama untuk memetakan mana yang jadi bagian pengeluaran DPD dan mana pengeluaran MPR. Jadi tidak ada duplikasi. Jadi dalam konteks pengelolaan dan penggunaan APBN, Ketua DPD yang sekaligus Wakil Ketua MPR, tidak perlu dikhawatirkan,&#8221; kata Sudarsono, Senin (22/5).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rangkap jabatan yang dilakukan pejabat kementerian dan pejabat lembaga negara setingkat kementerian atau anggota dewan, memang telah menuai protes di kalangan masyarakat. Pejabat negara yang dipercaya memegang jabatannya semata untuk kepentingan publik, nyatanya tidak membatasi aktivitasnya dalam ruang publik pada kewenangan yang melekat pada jabatannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-10623 alignleft" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004.jpg" alt="" width="1280" height="853" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004.jpg 1280w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-696x464.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-1068x712.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-630x420.jpg 630w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-300x200.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-768x512.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-1024x682.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG-20160530-WA0004-360x240.jpg 360w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" />Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Prof Rhenald Kasali mengatakan, legislator atau wakil rakyat yang merangkap jabatan akan menimbulkan konflik kepentingan dan ketidakpercayaan masyarakat luas terhadap DPR. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rhenald mengatakan, rangkap jabatan tersebut juga digunakan untuk menekan dan memanfaatkan hubungan dengan eksekutif, sehingga menimbulkan praktik korupsi terselubung.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kritik juga datang dari Pengajar Hukum Ketatanegaraan Fakultas Hukum UI, Fajri Nursyamsi. Ia mengatakan, rangkap jabatan konteksnya merupakan pelanggaran etika. Rangkap jabatan yang dilakukan Aparatur Sipil Negara bisa jadi melanggar norma hukum, namun batasannya limitatif seperti yang diatur dalam Pasal 23 UU No.39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) Universitas Gadjah Mada, Oce Madril mencatat masalah lainnya yang pasti terjadi akibat rangkap jabatan. Yaitu kesempatan untuk korupsi. Selain itu, rangkap jabatan OSO juga bertentangan dengan tiga undang-undang, yaitu UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme; UU Nomor 17 Tahun 2014 Tentang MPR, DPR, DPD, DPRD (MD3); dan UU Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administari Pemerintahan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan UU No 7 Tahun 2006, Indonesia telah meratifikasi </span><i><span style="font-weight: 400;">United Nation Convention  Anti-Corruption </span></i><span style="font-weight: 400;"> (UNCAC)  di mana  satu  pasalnya  adalah  penanganan  konflik  kepentingan sebagai langkah pemberantasan korupsi. Namun pembahasan atau kajian mengenai konflik kepentingan dan dampaknya terhadap tindak  pidana korupsi ini, masih sangat sedikit. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pejabat publik yang banyak melakukan rangkap jabatan terdapat di tubuh DPR. Hasil kajian Indonesia Corruption Watch (ICW) yang dilansir 1 Oktober 2015 lalu menyebutkan, konflik kepentingan berpotensi terjadi pada DPR periode 2014-2019. Dari 560 anggota DPR, sebanyak 293 orang (52 %) memiliki latar belakang pengusaha.</span></p>
<p><a href="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/unnamed-8.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class=" td-modal-image aligncenter wp-image-10625 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/unnamed-8.jpg" alt="Polemik Rangkap Jabatan Pejabat Publik" width="530" height="662" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/unnamed-8.jpg 530w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/unnamed-8-336x420.jpg 336w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/unnamed-8-240x300.jpg 240w" sizes="auto, (max-width: 530px) 100vw, 530px" /></a></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aktivitas bisnis anggota DPR, memiliki potensi konflik kepentingan dengan kewenangan yang mereka miliki. Setidaknya ada tiga komisi DPR yang rawan potensi konflik kepentingan dengan aktivitas bisnis anggotanya, yaitu Komisi V yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian dan investasi, serta Komisi VII yang membidangi energi sumber daya mineral dan lingkungan hidup.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maraknya laporan rangkap jabatan membuat Pimpinan Ombudsman Laode Ida mendesak dilakukannya revisi UU ASN. Laode menilai, meski telah ada aturannya, namun ketika ada pergantian kepala daerah, masalah ini kerap terulang kembali.</span></p>
<p><b>Perlunya Ketegasan Dari Pemerintah</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tuntutan pejabat publik untuk menghindarkan diri dari konflik kepentingan, secara khusus yang menyangkut rangkap jabatan, sebenarnya juga merupakan bagian dari etika pemerintahan. Jika peraturan perundang-undangan tidak mengatur suatu hal boleh yang tidak boleh/pantas dan tidak pantasnya suatu perbuatan dan/atau keputusan pejabat publik, biasanya asas-asas umum pemerintahan yang baik (AAUPB) dan etika pemerintahan dijadikan sebagai pedoman.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, di beberapa negara upaya untuk menangani konflik kepentingan – termasuk rangkap jabatan, tidak saja diatur dalam peraturan perundang-undangan tetapi juga dalam kode etik. Jika hanya didasarkan pada peraturan perundang-undangan, jawaban yang mungkin diberikan adalah tidak ada ketentuan yang melarang rangkap jabatan di dalam Undang-Undang No 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lemahnya pengawasan pemerintah pusat, membuat praktek rangkap jabatan ini menjadi rahasia umum yang pada akhirnya dimaklumi. Namun apakah masalah ini akan tetap dibiarkan begitu saja? Mampukah Pemerintah Indonesia mengatasi problematika rangkap jabatan tersebut ke depannya? (A15)</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/05/Oso-Odang-22-12-2016-10-1024x673.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
