<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Pegunungan Kendeng &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/pegunungan-kendeng/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 28 Mar 2019 05:34:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Pegunungan Kendeng &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>PDIP, Omong Kosong Wong Cilik?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/belajar-politik/pdip-omong-kosong-wong-cilik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Jun 2017 10:07:51 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Belajar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kendeng Melawan]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Pegunungan Kendeng]]></category>
		<category><![CDATA[reklamasi bali]]></category>
		<category><![CDATA[sengketa lahan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=11456</guid>

					<description><![CDATA[Terkenal dengan partai yang lekat dengan wong cilik, PDIP sempat menjadi primadona pada bursa politik elektoral di masa kejatuhan Orde Baru belasan tahun silam. Kini, apakah julukan Partai wong cilik masih pantas disematkan pada partai banteng bermoncong putih ini? PinterPolitik.com [dropcap size=big]D[/dropcap]ari jauh, iring-iringan lima petani Kendeng terlihat berjalan kaki menuju kantor Dewan Pengurus Pusat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Terkenal dengan partai yang lekat dengan <em>wong cilik</em>, PDIP sempat menjadi primadona pada bursa politik elektoral di masa kejatuhan Orde Baru belasan tahun silam. Kini, apakah julukan Partai <em>wong cilik</em></strong> <strong>masih pantas disematkan pada partai banteng bermoncong putih ini?</strong></p>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]D[/dropcap]ari jauh, iring-iringan lima petani Kendeng terlihat berjalan kaki menuju kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP yang berlokasi di Jalan Dipenogoro, Jakarta Pusat. Masing-masing membawa bendera merah putih, memakai kebaya, kain batik, serta topi caping bertuliskan ‘Tolak Pabrik Semen’. Tujuan mereka hanya satu, yakni menemui Megawati Soekarnoputri di kantor markas utama PDIP. Semua masih terkait atas kasus pendirian pabrik Semen Indonesia di Kendeng yang membabat habis lahan pertanian warga petani.</p>
<figure id="attachment_11464" aria-describedby="caption-attachment-11464" style="width: 696px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-11464 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-1024x576.jpg" alt="PDIP partai wong cilik" width="696" height="392" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-1024x576.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-696x392.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-1068x601.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-747x420.jpg 747w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-300x169.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8-768x432.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/unnamed-8.jpg 1166w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /><figcaption id="caption-attachment-11464" class="wp-caption-text">Gunarti di DPP PDIP (foto: PinterPolitik)</figcaption></figure>
<p>Megawati sendiri, dapat ditemui di kantor pada Jumat (9/6) lalu. Bahkan, ia menyapa kelima srikandi asal Kendeng tersebut, “Saat itu Ibu Mega menanyakan hal-hal yang sifatnya basa-basi. Lalu saya jawab <em>Insya Allah</em> kami masih berpuasa. Setelah itu Ibu Mega bilang, ‘tunggu sebentar ya, saya rapat dulu’,” ungkap Gunarti. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya pihak yang mewakili Megawati dan PDIP, Bambang Dwi Hartono menyatakan jika PDIP mengambil sikap yang sama dengan Presiden Jokowi, yakni <a href="http://travel.kompas.com/read/2017/03/22/15154681/bertemu.jokowi.petani.kendeng.ini.menangis.tuntutannya.tak.dipenuhi"><strong>memilih tak ikut campur</strong></a>.</p>
<p>“Katanya PDIP partainya <em>wong cilik.</em> Lah di Pegunungan Kendheng kan rata-rata <em>wong cilik</em> yang mempertahankan lingkungan. Bukan untuk Jawa Tengah saja, tetapi untuk keseimbangan di Pulau Jawa,” ungkap Gunarti kepada <em>PinterPolitik </em>pada Sabtu (10/6) lalu.</p>
<p>Sikap bertele-tele PDIP, yang diwakili oleh Megawati, hanya mempertegas di sisi mana partai yang menyandang jargon ‘partai <em>wong cilik’</em> ini, berlabuh. Sulit menyimpulkan jika PDIP akan membantu atau paling tidak menaruh dukungan kepada <em>wong-wong cilik</em> yang kerap digaungkan partai saat kampanye dan beriklan.</p>
<p><strong>Sandungan-Sandungan PDIP di Berbagai Daerah</strong></p>
<p>Mempertanyakan kembali ‘<em>wong cilik’</em> yang menjadi jargon partai merah ini, penting. Pasalnya, PDIP tak pernah lagi benar-benar mengambil langkah dan sikap keberpihakan kepada rakyat yang memiliki kemampuan ekonomi rendah alias <em>wong cilik</em>, sebagaimana yang kerap mereka suarakan. Beberapa sikap, malah menunjukan hal sebaliknya.</p>
<p>Tak hanya dalam kasus petani Kendeng. PDIP juga bertanggungjawab atas usulan melangsungkan Reklamasi Teluk Benoa (RTB) di Bali. Proyek RTB ini, sudah dikaji oleh para pakar dan akademisi, akan merusak lingkungan serta merugikan <em>wong cilik</em> yang tinggal di sekitar Kabupaten Badung, Bali. Seakan tak peduli fakta yang disodorkan dan protes yang berdatangan, ratu PDIP, Megawati, malah mengingatkan wartawan untuk mencatat jika dirinya mendukung proyek RTB ini.</p>
<figure id="attachment_11460" aria-describedby="caption-attachment-11460" style="width: 640px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-11460 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/melasti2-menjunjung-benda-sakral-menghadap-laut-tanjung-benoa.jpg" alt="" width="640" height="427" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/melasti2-menjunjung-benda-sakral-menghadap-laut-tanjung-benoa.jpg 640w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/melasti2-menjunjung-benda-sakral-menghadap-laut-tanjung-benoa-630x420.jpg 630w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/melasti2-menjunjung-benda-sakral-menghadap-laut-tanjung-benoa-300x200.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/melasti2-menjunjung-benda-sakral-menghadap-laut-tanjung-benoa-360x240.jpg 360w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /><figcaption id="caption-attachment-11460" class="wp-caption-text">Aksi protes Melasti, menolak Reklamasi Teluk Benoa (foto: mongabay)</figcaption></figure>
<p>Lain Bali, lain Nusa Tenggara Timur. Gubernur NTT yang berasal dari fraksi PDIP, Frans Lebu Raya, diseret KPK atas sengekta lahan di Pantai Pede, Labuan Bajo. Sengketa ini terjadi antara pemerintah provinsi NTT dengan pengusaha Hendrik Candra. Selain sengketa lahan, kasus tak kalah berat yang dihadapi Frans Lebu adalah perdagangan manusia yang banyak menyasar perempuan dari kalangan ekonomi ke bawah. Selain menjadi buruh atau tenaga kerja murah, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal NTT, seringkali kembali hanya tinggal nama dengan organ yang tak lengkap. Kasus ini tentu saja merupakan pekerjaan rumah dan pelanggaran HAM berat yang harus dihadapi sang gubernur. Apalagi sang gubernur belum berbuat banyak selain berkomentar atas kasus darurat itu.</p>
<p>Sementara itu, Agustin Teras Narang, kader PDIP, sekaligus mantan Gubernur Kalimantan Tengah periode 2005 – 2015, menolak jika kasus asap hebat yang menimpa Kalimantan Tengah terjadi atas persekongkolan izin dirinya. Tokoh yang menerima penghargaan Anti-Korupsi ini menyebut, jika pihak yang bertanggung jawab  atas pembakaran lahan gambut yang menyebabkan asap hebat adalah pemerintah pusat. Ia pernah menyurati Presiden Jokowi terkait masalah tersebut, “31 Oktober saat masih menjadi gubernur, saya kirim surat ke Presiden untuk merevitalisasi lahan sejuta hektar yang saya sebut lahan sejuta sengsara. Kenapa? Saya dapat informasi dari BMKG pada 2015 akan terjadi <em>el nino.</em>saya sudah antisipasi, tapi tidak ada responnya,” tukas Narang pada jumat (23/10/2015) lalu. Kini, kasus asap terus diwariskan pada pemangku jabatan selanjutnya.</p>
<figure id="attachment_11458" aria-describedby="caption-attachment-11458" style="width: 1024px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="wp-image-11458 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-1024x768.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-265x198.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-696x522.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-1068x801.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-560x420.jpg 560w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-1920x1440.jpg 1920w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-300x225.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/img_0877-768x576.jpg 768w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-11458" class="wp-caption-text">Kabut asap di Kalimantan Tengah (foto: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Penghargaan Anti-Korupsi yang diterima Agustin Teras Narang pada 2007, pula seakan kontras bila dibandingkan dengan terbuktinya ia menerima setoran Rp. 2,1 miliar dari perusahaan tambang PT. Kapuas Prima Coal dan juga empat cek senilai Rp. 2 miliar dari PT. Sampit. Hal tersebut dilakukan guna mempermudah para pengusaha beroperasi di wilayahnya.</p>
<p>Kader PDIP tak hanya sekali atau dua kali saja tersandung masalah korupsi, namun sudah sebanyak 84 kasus yang berhasil terekam di tahun 2016. Indonesian Corruption Watch (ICW) bahkan mendapuk partai banteng bermoncong putih ini sebagai dengan jumlah kasus korupsi terbanyak. Sedangkan nama-nama kader PDIP seperti Olly Dondokambe, Ganjar Pranowo, Yasonaa Laoly, dan Arief Wibowo, tercatat berkontribusi membawa uang negara sebanyak Rp. 2 triliun dalam kasus E-KTP.</p>
<p>Mulai dari kasus kerusakan lingkungan hingga korupsi dijajal oleh kader dan didukung oleh PDIP. Kerugian negara serta tak mudahnya mereka memihak kepada rakyat, semakin menjadikannya ironis dan tak sesuai jika harus menyandang nama Partai <em>wong cilik. </em></p>
<p><strong>Tak Lagi Militan </strong></p>
<p>PDIP terkenal lekat dengan <em>wong cilik</em>, akibat secara historis pernah melahirkan aksi militan warga yang tumpah ruah ke jalan, memerahkan jalanan. Aksi tersebut lahir dari posko-posko PDIP yang bertitik di daerah padat penduduk yang diisi oleh masyarakat menengah ke bawah dan tak mapan. Kehadiran posko tersebut sangat mencolok dan bisa ditemui di manapun, Namun sekarang, posko tersebut tak ada lagi atau tak terlihat masif seperti dulu.</p>
<figure id="attachment_11462" aria-describedby="caption-attachment-11462" style="width: 1024px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-11462 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-1024x685.jpg" alt="" width="1024" height="685" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-1024x685.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-696x466.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-1068x715.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-628x420.jpg 628w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-300x201.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-768x514.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani-360x240.jpg 360w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/Petani.jpg 1560w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-11462" class="wp-caption-text">(foto: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Sebaliknya, partai ini seakan tak merawat basis akar rumputnya. Gembong Warsono, salah satu kader PDIP pernah memberikan pernyataan, jika hilangya posko-posko partainya bukan karena konstituen berkurang, namun karena masifnya penertiban bangunan-bangunan liar di Jakarta. “Sejak ada penertiban, jumlahnya sudah tidak seperti dulu,” ujar Gembong.</p>
<p>Sejak pemilu 2012 dan 2014, hingga menghadapi Pilkada Jakarta 2017 lalu, PDIP banyak melakukan pembangunan posko di wilayah perumahan elit. Hal itu juga diakui oleh Gembong, “PDIP tidak menyasar golongan ekonomi ke atas,” ujarnya. Maka dari itu, hal tersebut berpengaruh kepada perolehan suara yang didapatkannya. PDIP sudah meninggalkan, dan tak lagi merawat basis massa partainya, yakni <em>wong cilik</em>. (Berbagai Sumber/A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/06/1494426948_me-1024x672.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>In Memoriam: Kartini Bernama Patmi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/in-memoriam-kartini-bernama-patmi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2017 08:38:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Humania]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[DPP PDI-P]]></category>
		<category><![CDATA[Ganjar Pranowo]]></category>
		<category><![CDATA[Hasto Kristianto]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu Patmi]]></category>
		<category><![CDATA[Kantor Staff Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Lembaga Bantuan Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Pegunungan Kendeng]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Rembang]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=7636</guid>

					<description><![CDATA[PinterPolitik.com [dropcap size=big]S[/dropcap]elasa pagi (21/03/2017) pukul 02.55, Ibu Patmi (48) salah satu Kartini Kendeng yang melakukan aksi cor kaki dengan semen sejak Senin (13/3/2017) menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit St. Carolus. Kejadian bermula saat pukul 02.30 pagi, setelah keluar dari kamar mandi, Bu Patmi merasakan nyeri di dadanya dan mengeluh tidak nyaman. Beberapa menit [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-7623 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-1024x434.jpg" alt="" width="1024" height="434" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-1024x434.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-696x295.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-1068x452.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-992x420.jpg 992w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-300x127.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1-768x325.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-s1.jpg 1700w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]S[/dropcap]elasa pagi (21/03/2017) pukul 02.55, Ibu Patmi (48) salah satu Kartini Kendeng yang melakukan aksi cor kaki dengan semen sejak Senin (13/3/2017) menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit St. Carolus. Kejadian bermula saat pukul 02.30 pagi, setelah keluar dari kamar mandi, Bu Patmi merasakan nyeri di dadanya dan mengeluh tidak nyaman. Beberapa menit kemudian, beliau mengalami kejang dan muntah-muntah. Dokter yang siaga di markas LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Jakarta, langsung mendampingi dan membawanya ke RS. Carolus.</p>
<p>Pukul 02.55, Bu Patmi dinyatakan meninggal dunia oleh pihak Rumah Sakit dengan dugaan serangan jantung. Selanjutnya, pukul 08.30 pagi jenazah Bu Patmi dibawa melalui jalur darat dengan mobil ambulan ke Pati, Jawa Tengah untuk dimakamkan. Sebelumnya, keadaan kesehatan Bu Patmi dinyatakan sehat oleh Dokter Lina, yang sealu mendampingi para relawan dan peserta aksi di LBH Namun, keadaan berbalik drastis kemudian.</p>
<p>Tahun lalu, Bu Patmi juga melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara bersama dengan 8 perempuan dari Kendeng, yang dijuluki Kartini Kendeng. Sejak awal, beliau aktif dalam gerakan penyelamatan lingkungan Kendeng. Bu Patmi meningalkan dua orang anak bernama Sri Utami dan Muhamadun Da’iman. Sri Utami, anak sulung Bu Patmi, memberi komentar terkait almarhumah ibunya menjawab,</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>“Nggih, wanci ndek wingi niku mak’e mangkat (ke Jakarta) niku nggih mboten wonten paksaan. Nggih mpun pamit kaleh keluarga. Iku saking keluarga lah nggih mpun ngizini, wong sanjange nike pamit kangge berjuang mbelani anak-putu, mbelani tanah air dewe. Umpami wonten nopo-nopo nggih niku mpun westine seng ndamel urip, westine Gusti Allah. Kulo nggih, insya Allah nggit saget nampi. La pripun maleh? Garise semonten. Ngonten. Nggih mugi-mugi wae seng ditliler niki, keluargane nggih diparingi ketabahan. Iku mawon.”</em></p>
<p>(Ya, memang ibu berangkat tidak ada paksaan, juga sudah berpamitan dengan keluarga, dari  keluarga juga sudah mengizinkan. Ibu menyampaikan bahwa pamit untuk berjuang membela anak-cucu, membela tanah air sendiri. Seumpama ada apa-apa, itu sudah menjadi kehendak Yang Membuat Hidup, kehendak Gusti Allah. Saya ya, insya Allah bisa menerima. Mau bagaimana lagi, takdirnya begitu. Ya, semoga saja keluarga yang ditinggal ini diberikan ketabahan).</p>
<figure id="attachment_7664" aria-describedby="caption-attachment-7664" style="width: 1024px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-7664 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-1024x768.jpg" alt="" width="1024" height="768" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-1024x768.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-265x198.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-696x522.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-1068x801.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-560x420.jpg 560w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-300x225.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1-768x576.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng2-1.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-7664" class="wp-caption-text">Foto: LBH Jakarta</figcaption></figure>
<p>Juru bicara Koalisi Untuk Kendeng Lestari (KUKL) M. Sobirin mengungkapkan, pada Senin siang (21/03/2017), telah menyepakati untuk hanya akan menurunkan 9 peserta di tiap aksi. Peserta tersebut juga bergantian setiap 3 hari. Hal ini dilakukan terkait menjaga kondisi tubuh dan stamina para peserta aksi. Di LBH (Lembaga Bantuan Hukum), tempat para peserta aksi beristirahat, pada Selasa malam (21/03/2017), diadakan tahlilan bersama para elemen masyarakat untuk mengenang, bersolidaritas, dan mendoakan almarhumah.</p>
<figure id="attachment_7624" aria-describedby="caption-attachment-7624" style="width: 696px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class=" td-modal-image wp-image-7624 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-1024x577.jpg" alt="In Memoriam: Kartini Bernama Patmi" width="696" height="392" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-1024x577.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-696x392.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-1068x602.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-746x420.jpg 746w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-300x169.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1-768x433.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng1.jpg 1200w" sizes="auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a><figcaption id="caption-attachment-7624" class="wp-caption-text">Foto: LBH Jakarta</figcaption></figure>
<p>Sobirin juga menambahkan bahwa pada Senin (20/03/2016) sore, pihak Kepresidenan yang diwakili Teten Masduki mengundang perwakilan warga berdialog di KSP (Kantor Staff Presiden). Dalam dialog, perwakilan warga menolak skema penyelesaian konflik yang hendak menggantungkan pencabutan izin lingkungan mengingat hasil laporan KLHS tertutup dan tidak meyertakan warga yang menolak pendirian pabrik semen.  Pihak kepresidenan yang diwakili oleh Teten Masduki juga telah merespon kabar meninggalnya Bu Patmi. Menurutnya, pihaknya akan memberikan kompensasi untuk keluarga Bu Patmi.</p>
<p>Pegiat Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPKK), Eko Arifianto menyatakan, bahwa aksi menolak pabrik semen akan terus berlanjut. Eko berharap, wafatnya Bu Patmi akan menjadi momentum untuk menumbuhkan bunga-bunga perlawanan masyarakat terhadap kesewenangan pemerintah yang tak mengindahkan rakyat dalam merancang pembangunan.</p>
<p><strong>Protes Kartini Kendeng </strong></p>
<p>Para petani Kendeng melakukan aksi cor menyemen kaki sebagai bentuk penolakan terhadap pembangunan pabrik semen di Rembang. Aksi memasung kaki dengan semen ini merupakan simbol keterbelengguan mereka akibat berdirinya pabrik semen yang mengakibakan hilangnya mata pencaharian bertani dan ancaman terkena polusi lingkungan.</p>
<p>Petani-petani yang terlibat aksi pengecoran kaki atau aksi Dipasung Semen 2 sejak Senin (13/03) antara lain, Sudiri (Rembang), Jumika (Rembang), Sukamdi (Rembang), Sukinah (Rembang), Patmi (Pati), Giyem (Pati), Darto (Pati), Sariman (Pati), Kumari (Blora), Darto (Grobogan). Sampai saat ini peserta aksi bertambah hingga 50 orang lebih.</p>
<p>Para peserta aksi Dipasung Semen 2 yang telah dicor kakinya sejak Senin(13/03/2017), tersebut sebagian besar membuka cor di kakinya pada Senin (23/03/2017) sore dan bersiap untuk pulang keesokan paginya. Aksi cor kaki dilakukan setiap pukul 13.00 WIB sampai 17.00 di depan pelataran Monas yang bersebrangan dengan Istana Negara. Aksi ini masih akan terus berlanjut sampai tuntutan mereka agar Presiden Jokowi mencabut Izin Lingkungan yang diterbitkan Ganjar Prabowo pada 23 Februari 2017 dan pembangunan pabrik semen di Rembang, diberlakukan dan dihentikan sama sekali.</p>
<figure id="attachment_7662" aria-describedby="caption-attachment-7662" style="width: 300px" class="wp-caption alignleft"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-7662" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51-300x200.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51-696x464.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51-630x420.jpg 630w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51-768x512.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kendeng51-360x240.jpg 360w" sizes="auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-7662" class="wp-caption-text">Upaya warga petani Rembang menolak pendirian pabrik semen. (Foto: Google)</figcaption></figure>
<p>Segala upaya sudah dilakukan oleh para warga petani Rembang untuk menolak pendirian pabrik. Mulai dari mendirikan tenda perlawanan di lokasi pendirian pabrik, melayangkan gugatan, meluaskan bentuk solidaritas, berjalan kaki lebih dari 100 kilometer, hingga mengecor kaki menggunakan semen. Namun, pendirian pabrik semen masih terus berlanjut dan kokoh berdiri, bahkan sudah hampir rampung sepenuhnya.</p>
<p>Pada Sabtu (18/03/2017) perwakilan Pegunungan Kendeng mencoba mendatangi kediaman Megawati Soekarno Putri yang beralaman di Jl. Teuku Umar selaku pempinan teringgi partai PDI-P. Perwakilan tersebut dipimpin oleh Gunarti, tokoh Sedulur Sikep, beserta sembilan perempuan lain. Sebelumnya, mereka juga telah mengirimkan surat pada 14 Februari 2017 untuk <em>sowan. </em>Seminggu tidak mendapat jawaban, Gunarti mendatangi langsung kediaman Megawati. Di tempat tujuan, surat mereka ditolak oleh petugas keamanan dan disarankan untuk mengirimkannya ke kantor DPP PDI-P.</p>
<p>Pertanyaan Gunarti apakah Megawati bersedia menemui perwakilan warga Kendeng juga tak mendapat jawaban. Gunarti malah diminta untuk datang ke kantor DPP PDI-P untuk menemui Sekretaris jenderal DPP PDI-P, Hasto Kristianto.</p>
<p><strong>Determinasi Sedulur Sikep</strong></p>
<p><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/1fJuJ28WZ_Q?feature=oembed" frameborder="0" allow="autoplay; encrypted-media" allowfullscreen></iframe></p>
<p style="text-align: center;"><em>(Dokumenter Samin VS Semen oleh: Dandhy Laksono)</em></p>
<p>Aksi para petani Kendeng melakukan berbagai cara untuk menolak pembangunan pabrik semen dengan melukai diri, mayoritas tidak dimengerti oleh warga urban kota. Sama halnya seperti masyarakat Molo di Maluku yang memandang air seperti darah, daging seperi tanah, hutan seperti kulit, serta kerangka badan seperti batuan, Sedulur Sikep berjuang dengan tangguh demi menjaga eksistensinya sebagai petani.</p>
<p>Andre Barahamin, sebagai penulis dan peneliti menyatakan, bagi Sedulur Sikep, membiarkan alam rusak berarti mengabaikan eksisitensinya sebagai petani. Tidak hanya menjadi petani, mereka memperjuangkan takdirnya menjadi petani dengan tubuhnya sendiri.</p>
<p>Lebih lanjut, Andre menambahkan sikap para petani dan Sedulur Sikep merupakan bentuk pengejawantahan <em>Amor Fati</em> atau <em>love of one’s fate</em>, mencintai takdir yang murni. Mereka adalah orang-orang luar biasa yang tidak mudah menyerah, pesimistis, dan membenci harapan yang belum tampak. Di saat yang bersamaan, mereka dapat menjaga rasionalitas dengan rendah hati dan sederhana.</p>
<p>Oleh kita, masyarakat urban perkotaan, tentu pandangan tersebut sulit diterima. Di tengah lipitan hidup yang menegasikan impian dan diliputi kemiskinan imajinasi, apa yang dilakukan para petani Kendeng kita anggap tak masuk akal dan hanya menyakiti diri sendiri. Sebagai penghuni gua fatalisme dan kerap menyebut diri sebagi pemuja realitas, paling tidak kita bisa ikut bersolidaritas terhadap perjuangan mereka dan memberi tahu bahwa mereka tidak sendiri berjuang. Atau setidaknya, perjuangan liat dan ketat mereka memperlihatkan kita satu pilihan sikap, mau bertani atau menjadi karyawan pabrik?</p>
<p><em>We must always take sides. Neutrality helps the oppressor, never the victim. Silence encourages the tormentor, never the tormented.” </em><em>― </em><a href="https://www.goodreads.com/author/show/1049.Elie_Wiesel"><strong><em>Elie Wiesel</em></strong></a></p>
<p>(Berbagai Sumber/A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/2017-03-22-ILUSTRASI-Bu-Patmi-revisi-pinter-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Sukinah: Pasung Kaki Demi Bumi</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sukinah-pasung-kaki-demi-bumi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S21]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 23 Mar 2017 03:07:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik & Figure]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Lingkungan Hidup Strategis]]></category>
		<category><![CDATA[Kantor Staf Kepresidenan]]></category>
		<category><![CDATA[Kendeng]]></category>
		<category><![CDATA[Kendeng Melawan]]></category>
		<category><![CDATA[KLHS]]></category>
		<category><![CDATA[Mahkamah Agung]]></category>
		<category><![CDATA[Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pegunungan Kendeng]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<category><![CDATA[PT Semen Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Semen]]></category>
		<category><![CDATA[Sukinah]]></category>
		<category><![CDATA[Teten Masduki]]></category>
		<category><![CDATA[Unjuk Rasa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=7532</guid>

					<description><![CDATA[“Ibu bumi wis maringi/ibu bumi dilarani/ibu bumi kang ngadili (Ibu bumi sudah memberi/ibu bumi disakiti/ibu bumi yang mengadili)”. Pewawancara: Kate Walton PinterPolitik.com [dropcap size=big]B[/dropcap]egitulah para petani wilayah Pegunungan Kendeng, Provinsi Jawa Tengah, menyanyi sambil duduk di depan Istana Negara, Jakarta. Sejak Senin (13/3/2017), puluhan petani melakukan aksi ‘Pasung Kaki Jilid II” di sana. Tiap hari jumlah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>“</em><em>Ibu bumi wis maringi/ibu bumi dilarani/ibu bumi kang ngadili</em> (<em>Ibu bumi sudah memberi/ibu bumi disakiti/ibu bumi yang mengadili)</em><em>”.</em></strong></p>
<p>Pewawancara: <a href="https://twitter.com/waltonkate?lang=en"><em><strong>Kate Walton</strong></em></a></p>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]B[/dropcap]egitulah para petani wilayah Pegunungan Kendeng, Provinsi Jawa Tengah, menyanyi sambil duduk di depan Istana Negara, Jakarta. Sejak Senin (13/3/2017), puluhan petani melakukan aksi ‘Pasung Kaki Jilid II” di sana. Tiap hari jumlah peserta meningkat, dan pada  Jumat (17/3) sore, sudah 50 petani yang memasung kakinya dengan cara disemen.</p>
<figure id="attachment_7651" aria-describedby="caption-attachment-7651" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://pinterpolitik.com/sukinah-pasung-kaki-demi-bumi/"><img loading="lazy" decoding="async" class=" td-modal-image wp-image-7651 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30.jpeg" alt="Sukinah: Pasung Kaki Demi Bumi" width="1280" height="720" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30.jpeg 1280w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30-696x392.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30-1068x601.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30-747x420.jpeg 747w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30-300x169.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30-768x432.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/WhatsApp-Image-2017-03-23-at-08.56.30-1024x576.jpeg 1024w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /></a><figcaption id="caption-attachment-7651" class="wp-caption-text">Foto: Pinter Politik</figcaption></figure>
<p>Petani-petani Kendeng itu bersedia mengecor kakinya sebagai unjuk rasa atas pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. Mereka menolak pabrik tersebut, karena akan merusak lingkungan setempat, terutama sumber air bersih.</p>
<p>Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tetap mengeluarkan izin untuk pembangunan pabrik semen, walaupun telah ada putusan  Mahkamah Agung (MA) yang mengabulkan gugatan petani Kendeng untuk menghentikan pembangunan pabrik. Maka, warga meminta Gubernur Ganjar untuk mematuhi putusan MA.</p>
<div style="width: 640px;" class="wp-video"><video class="wp-video-shortcode" id="video-7532-1" width="640" height="640" preload="metadata" controls="controls"><source type="video/mp4" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/George-Lamberis-instagram_BRumOc3jBbU.mp4?_=1" /><a href="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/George-Lamberis-instagram_BRumOc3jBbU.mp4">https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/George-Lamberis-instagram_BRumOc3jBbU.mp4</a></video></div>
<p><a href="https://www.instagram.com/p/BRumOc3jBbU/"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7643 alignleft" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/sc.jpg" alt="" width="330" height="247" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/sc.jpg 330w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/sc-80x60.jpg 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/sc-265x198.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/sc-300x225.jpg 300w" sizes="auto, (max-width: 330px) 100vw, 330px" /></a></p>
<p>Sudah banyak yang bicara tentang Kendeng, baik di media massa maupun di media sosial. Namun, masih ada mitos yang beredar, termasuk bahwa perempuan-perempuan yang menyemen kaki ‘dieksploitasi’. Untuk mendapatkan penjelasan yang lebih lengkap, <span style="color: #cedb2a;"><strong><em>PinterPolitik.com</em> </strong></span>berbicara langsung dengan salah seorang tokoh petani Kendeng, Ibu Sukinah (41 tahun).</p>
<p>Sukinah merupakan pemimpin perempuan petani Kendeng dan dianggap motivator peserta pasung kaki. Pak Gunretno, petani yang juga tokoh masyarakat Kendeng, <a href="https://www.pressreader.com/indonesia/the-jakarta-post/20161018/281505045744563">pernah mengatakan</a> bahwa Sukinah “berbeda dari yang lain”, karena memiliki kemampuan untuk memberikan motivasi kepada petani lain.  Sukinah hanya berpendidikan SD, tapi hanya dia yang bisa menyelesaikan debat internal kelompok Kendeng melalui mediasi. Sukinah juga memimpin aksi pemasangan tenda di jalan yang menuju pabrik semen di Kendeng pada Juni 2014. Tendanya dibongkar secara paksa oleh pendukung pabrik – kaki Ibu Sukinah dan ibu lain diinjak, dan dua perempuan dilemparkan dari tenda. Mereka diancam, siapa yang menolak akan diculik. Sejak kejadian itu, Sukinah menjadi lebih yakin bahwa apa yang kelompok “Kendeng Melawan” lakukan adalah gerakan yang benar.</p>
<p>Pada 13-19 Maret 2017, untuk kedua kalinya Ibu Sukinah mengecor kaki, juga untuk menolak pabrik semen tersebut. Yang pertama pada pertengahan tahun 2016. Bedanya, pada kesempatan pertama penyemenan dilakukan selama satu hari. Kaki para petani disemen pada pagi dan dibongkar sore harinya. Sedang untuk kali ini, pada saat tidur pun kaki mereka dicor.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Selamat malam semua. Tidur yang nyenyak. <a href="https://twitter.com/hashtag/dipasungsemen2?src=hash">#dipasungsemen2</a> <a href="https://t.co/F5Dsx8bKwL">pic.twitter.com/F5Dsx8bKwL</a></p>
<p>— febriana firdaus (@febrofirdaus) <a href="https://twitter.com/febrofirdaus/status/842395131017744384">March 16, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Ibu Sukinah mengakui dirinya hanya  petani biasa. Tujuannya mengikuti unjuk rasa demi melestarikan lingkungan hidup wilayah Pegunungan Kendeng. Seperti dikatakan Pak Gunretno, kelompok Kendeng Melawan “tidak menolak pembangunan, hanya ingin pembangunan yang benar-benar mendukung masyarakat.” Begitulah tujuan aksi Selamatkan Kendeng ini.</p>
<hr />
<p>Berikut adalah wawancara di depan Istana Negara Jakarta pada Kamis (16/3).</p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #cedb2a;"><strong>Pinter Politik</strong></span>: <em><strong>Terima kasih, Ibu, sudah bersedia bicara dengan kami. Ibu dari desa mana dan Kabupaten mana?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Nama saya Sukinah, dari Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunung, Kabupaten Rembang.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #cedb2a;"><strong>Pinter Politik</strong></span>: <em><strong>Ibu tinggal di situ sejak lahir?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Ya, sejak saya lahir, sejak nenek moyang kami, sampai kini kami  masih tinggal di situ.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Masih ada keluarga di situ?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Ya, masih ada.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Ibu bisa ceritakan sedikit tentang kehidupan di situ?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Kehidupan saya itu sehari-hari bertani. Kami tiap hari, walaupun apa ya Mbak, kadang-kala kami jualan, kalau hari Senin dan Kamis  sampai jam 9 pagi. Tapi, tiap hari kami bertani dan mencari rumput buat ternak.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Dan sekarang di sana, alam masih indah, masih alami?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Kalau dulu itu sangat indah. Kalau sekarang karena tambang, sudah agak berkurang, apalagi kalau ada pabrik semen dan tambang-tambang lagi.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Menurut ibu, kalau pabrik semen dibangun di situ, dampaknya akan seperti apa?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Dampaknya sekarang sudah dampak sosial: sama tetangga dan sama antardesa sudah nggak rukun.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Kira-kira akan ada dampak yang positif, yang bagus dari pabrik semen?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Bagi aku sama dulur-dulur petani, nggak ada, sama sekali.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Sama sekali tidak ada?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Nggak ada.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Tujuan dari protes ini apa saja, Bu?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Tujuan kami ingin bertemu Pak Jokowi untuk menutup pabrik semen yang ada di Rembang, menutup tambang-tambang. Terutama di Jawa Tengah ini [supaya] nggak ada pabrik semen. Untuk melestarikan alam karena Jawa ini sudah rawan bencana, pada penduduk juga, bencana bisa diantisipasi sebelum terjadi.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Kenapa Ibu Sukinah  mau terlibat dalam protes ini?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Karena ibu bumi aku ibaratkan sebagai ibu aku sendiri. Kalau manusia melahirkan manusia, tapi kalau bumi melahirkan air, melahirkan tanaman oleh makhluk yang hidup di bumi ini.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Ibu mau berapa lama di sini [di depan Istana Negara] pasung kaki?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Aku belum tahu sampai berapa lama. Ya, sampai berhasil, Mbak.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Berhasil itu berarti apa buat ibu?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Sampai kami bertemu dengan Pak Jokowi, dan apa yang kami inginkan sama dulur-dulur itu dilaksanakan Pak Jokowi, supaya pertanian  tetap diutamakan, terutama Jawa Tengah  lumbang panen Nusantara. Jadi, bukan untuk Jawa aja, Mbak, untuk luar Jawa juga.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Kalau izin buat pabrik semen  tidak dicabut, bagaimana Bu?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Kalau itu saya belum bisa jawab, ya, Mbak. Karena belum ada faktanya. Jadi sampai kapan kami berharap Pak Jokowi melaksanakan program Nawa Cita? Tapi,  kenapa petani malah nggak [dapat apa-apa]… ya, tapi saya masih berpositif sama Pak Jokowi bahwa dia pro-rakyat, pro-orang kecil seperti kami.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Apakah Ibu sudah dengar bahwa ada surat dari kelompok dengan nama Aliansi Perempuan Masyarakat Rembang yang mengatakan perempuan-perempuan yang ikut aksi ini dieksploitasi?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Itu siapa yang bilang? Menurut aku itu, dia iri. Dia kan pengen, cuma kan kalau dia nggak dibayar, dia nggak mau. Kalau kita itu dari hati sendiri, karena kami merasa daripada sakit besok seperti apa [buat] anak cucu, lebih baik sekarang dirasakan, besok anak cucu tinggal enaknya, seperti itu.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Jadi tidak ada eksploitasi perempuan?</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Nggak ada! Ini kemauan sendiri, nggak ada yang ajak kok.&#8221;</p>
<p style="padding-left: 30px;"><strong><span style="color: #cedb2a;">Pinter Politik</span></strong>:<em><strong> Terima kasih, Bu Sukinah. Semoga kuat terus, semangat terus.</strong></em></p>
<p style="padding-left: 30px;"><span style="color: #800080;"><strong>Sukinah</strong></span>:<em> </em>&#8220;Terima kasih, Mbak.&#8221;</p>
<hr />
<p><strong>Diterima Teten Masduki</strong></p>
<p>Pada Senin (20/3), beberapa peserta aksi pasung kaki dipanggil ke Kantor Staf Kepresidenan. Sukinah satu satu yang diundang. Namun, mereka tidak bertemu dengan Presiden Jokowi, hanya diterima oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki. Pesan yang disampaikan oleh Teten Masduki, pabrik PT Semen Indonesia di Kendeng tidak akan berfungsi sebelum hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dikeluarkan.</p>
<p>Para petani Kendeng mengatakan mereka tidak puas dengan apa yang disampaikan Kepala Staf Kepresidenan, karena sudah ada putusan MA. Oleh karena itu, menurut Sukinah dan Gunretno, aksi akan berlanjut di depan Istana Negara sampai izin yang dikeluarkan oleh Pemprov Jawa Tengah dicabut.</p>
<p>Saat ditanya setelah kembali dari Kantor Staf Kepresidenan, Sukinah mengatakan, dia optimistis hasil yang mereka inginkan tercapai.*</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-7668 size-large" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-765x1024.jpg" alt="perjuangan petani kendeng" width="696" height="932" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-765x1024.jpg 765w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-696x931.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-1068x1429.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-314x420.jpg 314w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-224x300.jpg 224w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01-768x1027.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/kronolagi-petani-kendeng-2-01.jpg 1800w" sizes="auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px" /></p>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/George-Lamberis-instagram_BRumOc3jBbU.mp4" length="7391513" type="video/mp4" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/03/BG-yellow-Sukinah-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
