<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Partai Kebangkitan Bangsa &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/partai-kebangkitan-bangsa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 22 Aug 2019 11:23:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Partai Kebangkitan Bangsa &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Gus Ami, Metamorfosis Cak Imin?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gus-ami-metamorfosis-cak-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Aug 2019 12:00:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Ami]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Ketua Umum PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Muktamar PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=63677</guid>

					<description><![CDATA[Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar kini tampaknya ingin dipanggil dengan nama baru, yakni Gus Ami. Penggantian nama tersebut bisa jadi merupakan metamorfosis politik sang ketum. PinterPolitik.com “Metamorphosis, this is what I changed to” – Nas, penyanyi rap asal Amerika Serikat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru saja melaksanakan Muktamar kelimanya di Bali. Di gelaran tersebut, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar kini tampaknya ingin dipanggil dengan nama baru, yakni Gus Ami. Penggantian nama tersebut bisa jadi merupakan metamorfosis politik sang ketum.</strong></h4>
<hr>
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“Metamorphosis, this is what I changed to” – Nas, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>artai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru saja melaksanakan Muktamar kelimanya di Bali. Di gelaran tersebut, Ketua Umum PKB <a href="https://pinterpolitik.com//tag/muhaimin-iskandar"><strong>Abdul Muhaimin Iskandar</strong></a> (Cak Imin) tampaknya mulai bermanuver. Sang ketum sepertinya telah memutuskan untuk mengganti nama panggilannya dari “Cak Imin” menjadi “<a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190820101710-20-422943/muktamar-pkb-nama-cak-imin-di-baliho-berubah-jadi-gus-ami/" rel="nofollow"><strong>Gus Ami</strong></a>” – singkatan dari nama lengkapnya.</p>
<p>Mungkin, sosok yang terpilih kembali menjadi ketum tersebut tengah bermetamorfosis. Seperti larva yang telah menjadi seekor lebah sepenuhnya, mungkin Cak Imin merasa dirinya telah bertransformasi ke bentuk dan tahapan kehidupan selanjutnya.</p>
<p>Boleh jadi, larva lebah yang sebelumnya tak berkaki kini telah siap melangkah dan mengepakkan sayapnya untuk menjelajahi alam luas. Di tengah-tengah kondisi alam politik yang semakin ganas, sang lebah yang telah bermetamofosis kini memiliki senjata yang bisa saja menyengat pengganggu-pengganggunya kapanpun.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Pak Presiden <a href="https://twitter.com/jokowi?ref_src=twsrc%5Etfw">@jokowi</a> melepaskan peluru ketapel untuk membangunkan para lebah agar bangkit dan bekerja, tanda dimulainya <a href="https://twitter.com/hashtag/muktamarpkb?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#muktamarpkb</a> <a href="https://twitter.com/hashtag/muktamarpkb2019?src=hash&amp;ref_src=twsrc%5Etfw">#muktamarpkb2019</a> <a href="https://t.co/eR4k2Zw3k4">pic.twitter.com/eR4k2Zw3k4</a></p>
<p>&mdash; A Muhaimin Iskandar (@cakimiNOW) <a href="https://twitter.com/cakimiNOW/status/1164041245674496001?ref_src=twsrc%5Etfw">August 21, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Terlepas dari <a href="https://pinterpolitik.com/misteri-lebah-cak-imin/"><strong>pengibaratan lebah</strong></a> ala <a href="https://pinterpolitik.com//tag/cak-imin"><strong>Cak Imin</strong></a> dan PeKaBee – istilah yang pernah dicuitkan oleh sang ketum – tersebut, apa arti dan makna di balik nama baru Cak Imin? Lalu, mengapa sang ketum memilih nama tersebut?</p>
<h4><strong>Fungsi Nama dan Gelar</strong></h4>
<p>Penamaan dan pemberian gelar bukanlah hal yang asing dalam kehidupan manusia. Dalam kebanyakan peradaban dan kebudayaan, penamaan dan pemberian gelar memiliki fungsi dan makna tertentu.</p>
<p>Di Mesir misalnya, pemberian nama dan gelar merupakan hal yang lumrah dilakukan sejak zaman kuno. Günter Vittmann dalam <a href="https://escholarship.org/uc/item/7t12z11t/" rel="nofollow"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Personal Names</em> menjelaskan bahwa nama personal bagi seseorang merupakan sebuah instrumen identifikasi dalam kehidupan – bahkan bagi memori sosial setelah orang tersebut meninggal dunia.</p>
<p>Vittmann menjelaskan bahwa, sejak zaman Mesir kuno, penamaan personal yang disertai dengan posisi dan gelar merupakan hal yang biasa dilakukan. Selain posisi dan gelar, penamaan genealogis berdasarkan keturunan juga sudah dilakukan sejak Periode Menengah Ketiga Mesir Kuno (1070-660 SM).</p>
<p>Penamaan genealogis juga digunakan di masyarakat Barat, terutama Inggris. Janet Finch dalam <a href="https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0038038508091624"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Naming Names</em> menjelaskan bahwa nama genealogis seseorang juga menunjukkan koneksi kekerabatan yang dimilikinya – menciptakan signifikansi dan status tersendiri atas nama tersebut.</p>
<p>Pada masa modern di Asia, signifikansi nama dan gelar genealogis ini paling terlihat pada klasifikasi sosial yang tercipta di Korea Utara (Korut). Pasalnya, nama genealogis “<a href="https://www.brookings.edu/blog/brookings-now/2018/02/26/kim-jong-uns-mysterious-family-tree/" rel="nofollow"><strong>Kim</strong></a>” selalu menyertai dinasti kepemimpinan di negara tersebut.</p>
<p>Selain nama genealogis, pemimpin-pemimpin Korut pun memiliki sejumlah gelar yang tidak bisa dianggap sedikit. Bahkan, Kim Jong-il – pemimpin Korut kedua – meninggal dunia dengan <a href="http://www.economist.com/node/16423358/" rel="nofollow"><strong>1.200 gelar</strong></a> semasa hidupnya.</p>
<p>Dua pemimpin terakhirnya – Jong-il dan Kim Jong-un – memiliki <a href="https://www.bbc.com/news/world-asia-17686183/" rel="nofollow"><strong>berbagai gelar</strong></a>, seperti Pemimpin Tertinggi (<em>Supreme Leader</em>) dan Sekretaris Jenderal Kekal (<em>Eternal Secretary General</em>). Dengan gelar-gelar tersebut, pemimpin Korut dinilai memiliki kekuasaan yang semakin terpusat.</p>
<p>Terlepas dari fungsi genealogisnya, nama dan gelar turut memberikan signifikansi tertentu bagi pemiliknya. Esther van den Berg dan timnya dalam <a href="https://www.aclweb.org/anthology/papers/W/W19/W19-2101/" rel="nofollow"><strong>tulisan</strong></a> mereka yang berjudul <em>Not My President</em> menjelaskan bahwa penamaan dan pemberian gelar dianggap sebagai penanda bagi status dan solidaritas kelompok dalam kajian sosio-lingustik.</p>
<p>Dalam tulisan van den Berg tersebut, fungsi nama dan gelar sebagai penanda status dan solidaritas tersebut juga berkaitan dengan proses <em>framing</em>. Melalui proses tersebut, terjadi presentasi diri dari entitas politik – baik disengaja maupun tidak disengaja – mendorong terbangunnya cara pandang tertentu terhadap entitas tersebut. Proses ini juga disebut sebagai <em>entity framing</em>.</p>
<hr /><p><em>Presentasi diri dari entitas politik – baik disengaja maupun tidak disengaja – mendorong terbangunnya cara pandang tertentu terhadap entitas tersebut.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fgus-ami-metamorfosis-cak-imin%2F&#038;text=Presentasi%20diri%20dari%20entitas%20politik%20%E2%80%93%20baik%20disengaja%20maupun%20tidak%20disengaja%20%E2%80%93%20mendorong%20terbangunnya%20cara%20pandang%20tertentu%20terhadap%20entitas%20tersebut.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Lantas, bagaimana dengan penggantian nama “Cak Imin” menjadi “Gus Ami?” Apakah Cak Imin tengah melakukan <em>entity framing</em>?</p>
<h4><strong>Gelar “Gus”</strong></h4>
<p>Penggantian nama “Cak Imin” menjadi “Gus Ami” bisa jadi memberikan ujung dan dampak politis. Selain itu, gelar “gus” juga memiliki makna tersendiri bagi kelompok tertentu.</p>
<p>Mungkin, gelar tersebut terdengar tidak asing bagi individu-individu yang menganggap dirinya sebagai bagian dari organisasi dan kelompok Nahdlatul Ulama (NU). Gelar “gus” kerap <a href="https://www.nu.or.id/post/read/79048/mengapa-kita-harus-biasakan-panggil-gus-untuk-kiai-muda/" rel="nofollow"><strong>dilekatkan</strong></a> pada kiai yang berusia muda.</p>
<p>Selain itu, banyak pihak menilai bahwa pemberian gelar “gus” sebenarnya bersifat genealogis – berdasarkan keturunan. Gelar tersebut biasanya diberikan kepada anak laki-laki dari kiai, guru agama, atau pengasuh pondok pesantren.</p>
<p>Seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Jember, Fitri Amalia, dalam <a href="http://jurnal.unmuhjember.ac.id/index.php/BB/article/view/72"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Sapaan Gelar Keagamaan pada Masyarakat Madura Jember</em> menjelaskan bahwa gelar “gus” – dan “lora” – digunakan untuk menyapa putra kiai. Gelar-gelar tersebut kerap digunakan dalam lingkungan pondok pesantren.</p>
<p>Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Mujiburrahman dalam <a href="https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/09596419908721191"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Islam and Politics in Indonesia</em>. Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bahwa gelar “gus” biasanya diberikan kepada putra-putra kiai. Gelar “gus” ini dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas melalui penggunaannya atas pemberitaan Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di banyak media.</p>
<p>Meski sebenarnya Gus Dur bukanlah seorang “gus” lagi karena telah menjadi kiai, Mujiburrahman menilai bahwa nama tersebut menunjukkan signifikansi tertentu. Setidaknya, nama dan gelar tersebut menunjukkan pentingnya latar belakang keluarga Gus Dur yang merupakan putra dari K.H. Hasyim Asy’ari – pendiri organisasi NU – dan Solichah – putri dari Kiai Bisri Syansuri yang juga merupakan salah satu pendiri NU.</p>
<p>Sosok dan latar belakang Gus Dur inilah yang mungkin turut membuat gelar “gus” merefleksikan status tertentu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, nama dan gelar genealogis menunjukkan status dan jaringan keturunan.</p>
<p>Selain itu, gelar “gus” juga identik dengan kelompok NU. Pasalnya, terdapat <a href="https://www.nu.or.id/post/read/79048/mengapa-kita-harus-biasakan-panggil-gus-untuk-kiai-muda/" rel="nofollow"><strong>anggapan</strong></a> di kalangan NU sendiri bahwa panggilan “gus” tersebut secara eksklusif hanya eksis di kalangan organisasi tersebut.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan penggunaan gelar “gus” oleh Cak Imin?</p>
<p>Cak Imin bisa jadi berhak untuk menggunakan panggilan “gus.” Pasalnya, ketum PKB tersebut secara genealogis merupakan putra dari K.H. Muhammad Iskandar yang merupakan seorang guru dan pengasuh di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif di Denanyar, Jombang, Jawa Timur yang didirikan oleh Kiai Bisri Syansuri (kakek Gus Dur).</p>
<p>Dengan begitu, penggantian nama Cak Imin tersebut bisa jadi tengah melakukan <em>entity framing</em> atas status kekerabatan yang dimilikinya. Selain itu, penggunaan gelar tersebut – seperti yang dijelaskan oleh van den Berg dan timnya – boleh jadi juga berkaitan dengan ikatan dan solidaritas Cak imin dengan kelompok NU.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B1de-6hpZxj/" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B1de-6hpZxj/" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B1de-6hpZxj/" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Cak Imin punya nama panggilan baru Nantikan artikel selengkapnya di Pinterpolitik.com #cakimin #pkb #infografis #infografik #politik #politikindonesia #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-08-22T09:08:51+00:00">Aug 22, 2019 at 2:08am PDT</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Jika memang Cak Imin menggunakan nama barunya untuk menyatakan status dan solidaritas kelompoknya, apa implikasi lanjutan dari nama tersebut dalam dinamika politik?</p>
<h4><strong>Implikasi Politik?</strong></h4>
<p>Penggunaan nama “Gus Ami” bisa jadi memiliki implikasi politik. Bila dijelaskan melalui konsep <em>entity framing</em>, Cak Imin mungkin tengah berusaha menguatkan posisinya di PKB dan kalangan NU.</p>
<p>Seperti yang dijelaskan oleh van den Berg dan timnya, proses <em>framing</em> tersebut dapat menguatkan status dan posisi pemilik nama atau gelar tersebut. Boleh jadi, penggantian nama tersebut berkaitan dengan faksi-faksi yang terdapat di kalangan PKB dan NU.</p>
<p>Pasalnya, di kelompok NU sendiri, ditengarai terdapat perpecahan di antara Cak Imin dengan faksi Gusdurian – berkaitan juga dengan konflik yang terjadi antara Cak Imin dan Gus Dur di masa lalu. Salah satu figur NU yang disebut-sebut sebagai Gusdurian adalah Yenny Wahid – putri Gus Dur. Perpecahan tersebut disinyalir masih eksis dengan <a href="https://nasional.tempo.co/read/1238470/gusdurian-yenny-wahid-mahfud-md-tidak-datang-ke-muktamar-pkb/" rel="nofollow"><strong>ketidakhadiran</strong></a> Yenny dan Mahfud MD dalam Muktamar PKB V.</p>
<p>Selain itu, penguatan posisi Cak Imin di PKB dan NU ini bisa saja berkaitan dengan pengunduran diri Rusdi Kirana – pengusaha dan pendiri Lion Air – yang sebelumnya <a href="https://www.newmandala.org/nahdlatul-ulama-politics-trap/" rel="nofollow"><strong>disinyalir</strong></a> oleh Greg Fealy menjadi patron dan sumber kekuatan PKB dalam menyalurkan dana dan program bagi jaringan NU.</p>
<p>Mungkin, dengan nama “Gus Ami,” Cak Imin berusaha menunjukkan status dan posisinya sebagai figur yang kuat di PKB dan kalangan NU. Dengan begitu, sang ketum PKB berusaha menunjukkan bahwa dirinya telah bermetamorfosis menjadi lebah sempurna.</p>
<p>Namun, meski terdapat pergejolakan di PKB-NU, gambaran politik tersebut belum tentu benar-benar berkaitan dengan manuver penggantian nama Cak Imin. Yang pasti, pada akhirnya, metamorfosis Cak Imin menjadi “Gus Ami” tersebut depat memberikan identitas baru bagi sang pemimpin lebah tersebut.</p>
<p>Mungkin, transformasi Cak Imin menjadi Gus Ami ini tergambarkan dalam lirik <em>rapper </em>Nas di awal tulisan. Sang ketum kini tengah ingin menjadi sosok yang lebih kuat, entah sekuat apa bila dihadapkan dengan <a href="https://bali.tribunnews.com/2019/08/20/pembukaan-unik-muktamar-v-pkb-jokowi-ketapel-sarang-lebah-sebagai-tanda-acara-dibuka/" rel="nofollow"><strong>ketapel Jokowi</strong></a> ketika membuka Muktamar lalu. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="zSZX1gK-Crg"><iframe title="GUS DUR: Ulama, Intelektual, Presiden" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/zSZX1gK-Crg?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di&nbsp;<a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di&nbsp;<strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong>&nbsp;untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-61983" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/08/ECe0zS-U8AAnqbz-1024x682.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cak Imin Si Politisi ‘Centil’</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/cak-imin-si-politisi-centil/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2019 09:00:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin cawapres Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi - Muhaimin]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=63522</guid>

					<description><![CDATA[“Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya,” &#8211; Charles de Gaulle PinterPolitik.com Muhaimin Iskandar a.k.a Cak Imin lagi dan lagi pamer kecentilan. Sosok yang satu ini memang selalu berpolitik ‘centil’ entah biar menarik perhatian orang banyak, atau memang sudah jadi tabiatnya begitu, weleeeh weleeeeh. Kalau masih [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Politisi tidak pernah percaya akan ucapan mereka sendiri, karena itulah mereka sangat terkejut bila rakyat mempercayainya,” &#8211; Charles de Gaulle</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>uhaimin Iskandar a.k.a Cak Imin lagi dan lagi pamer kecentilan. Sosok yang satu ini memang selalu berpolitik ‘centil’ entah biar menarik perhatian orang banyak, atau memang sudah jadi tabiatnya begitu, <em>weleeeh weleeeeh.</em></p>
<p>Kalau masih ingat, dulu <a href="https://pinterpolitik.com/mega-target-sengatan-cak-imin/">Cak Imin</a> sangat centil dan <em>ngotot </em>sekali pengen jadi Cawapresnya Jokowi, sampe -sampe seantero negeri banyak spanduk terpasang yang menampilkan wajah Ketua Umum PKB seumur hidup, <em>uppsss, heleeeeh.</em></p>
<p>Makanya gak aneh kalau dulu Cak Imin lebih dikenal dengan <a href="https://pinterpolitik.com/cak-imin-siap-menyengat/">Cawapres</a> spanduk, ya wajar sih modal buat nyetak spanduk banyak banget, tapi gagal dipilih sama Jokowi di Pilpres 2019. <em>Weleeeh weleeeh, </em>jangan sedih ya.</p>
<p>Nah, lenggak-lenggok kecentilan Cak Imin ini ternyata berkepanjangan. Dalam penobatannya sebagai Ketua Umum PKB dalam Muktamar PKB di Bali, <em>hehehe, </em>tabiat kecentilan Cak Imin ternyata keluar lagi, <em>hadeuuh, </em>gak ada obat centilnya nih, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Gimana gak centil coba, Cak Imin ‘menggoda’ kecantikan Ketua Umum PSI, Grace Natalie dalam sambutannya. <em>Hadeuhh, </em>tahan pak tahan, centil mulu dah, <em>hmmm.</em></p>
<p>Tak berhenti disitu, Cak Imin kembali bertutur centil menggoda Yusril Ihza Mahendra dan Sandiaga Uno untuk masuk ke PKB. <em>Wadidaawww, </em>masa sekelas Ketua Umum PBB dan Mantan Calon Wakil Presiden malah disuruh masuk PKB. Emang berapa perolehan suara PKB? <em>Ehmmm.</em></p>
<p><em>Hadeuuhh, </em>kalau Cak Imin tahu dan baca datanya, dia harusnya malu sih, bahkan di tempat penyelenggaraan Muktamar PKB aja, PKB ga dapet kursi di DPR RI bahkan suaranya urutan ke 8, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Tapi, sebenernya ada pengecualian sih, boleh-boleh aja sih centil begitu, tapi syaratnya PKB harus jadi pemenang Pemilu. Bisa gak Cak? <em>Weleeeh weleeeh, </em>berat ya? <em>Pukkkpukkk</em> sabar, sabar, mungkin suatu hari nanti, tapi gatau kapan <em>hahaha.</em></p>
<p>Daripada kebanyakan centil, mending coba pikirkan gimana caranya biar PKB suaranya banyak, <em>heeleeeeeh</em>. <em>Weeeitttss, </em>sebentar dulu, kini Cak Imin udah <em>nyontek </em>formula rahasia dari PDIP supaya jadi pemenang Pemilu <em>ahhh </em>yang bener? Apaan tuh?</p>
<p>Cak Imin sekarang jadi Ketua Umum Partai seumur hidup, sama seperti Megawati yang baru terpilih lagi jadi Ketua Umum PDIP seumur hidup, <em>wedeewww, weleeeh weleeeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/02/cak-imin-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cak Imin ‘Tukang Gocek’ PDIP</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/cak-imin-tukang-gocek-pdip/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 May 2018 11:08:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin cawapres Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi Capres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=28563</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Kalau saya duga, Cak Imin enggak serius tuh. Hanya ingin menaikkan bargaining power PKB saja. Saya tahu, hitungan politik dia tinggi. Bargaining power supaya PKB masuk tiga besar, dia cuma gocek-gocek saja.&#8221; ~ Darmadi Durianto, politikus PDIP PinterPolitik.com [dropcap]M[/dropcap]uhaimin Iskandar a.k.a Cak Imin berseloroh kalau Jokowi tak memilihnya menjadi calon Wakil Presiden, Jokowi akan tumbang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>&#8220;Kalau saya duga, Cak Imin enggak serius tuh. Hanya ingin menaikkan bargaining power PKB saja. Saya tahu, hitungan politik dia tinggi. Bargaining power supaya PKB masuk tiga besar, dia cuma gocek-gocek saja.&#8221; ~ Darmadi Durianto, politikus PDIP</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]M[/dropcap]uhaimin Iskandar a.k.a Cak Imin berseloroh kalau Jokowi tak memilihnya menjadi calon Wakil Presiden, Jokowi akan tumbang di Pilpres 2019. <em>Widiiihhh, </em>yakin beneran atau malah kepedean ya?</p>
<p>Hal itu sangat mungkin membuat para politikus lain malah ketawa, ini Cak Imin kepedean banget ya.</p>
<p>Kalau diitung secara realistis, PKB punya suara berapa sih di parlemen? Banyak? <em>Ehmm, </em>bukannya jumlahnya cukup memprihatinkan?</p>
<p>Tapi kok, Cak Imin pede banget pengen posisi cawapres, ngotot lagi, <em>hadeuuhh, </em>politikus memang dilatih ga tau malu kali ya? <em>Uppsss, </em>daya tawarnya aja belum jelas.</p>
<p>Kalau hitung – hitungan riil sih, mendingan Jokowi ambil cawapres dari Partai Golkar, jumlah perolehan suaranya jelas dan besar.</p>
<p>Jadi sebandinglah kalau dikasih tiket cawapres, tapi kalau Cak Imin. <em>Duh, </em>gimana ya? Bukannya ga mau bela, tapi kan faktanya begitu, mau diapain lagi, <em>weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Tapi kalau dari Partai Golkar lagi, nanti PDIP manyun lagi ga nih? Kemaren kan, Maruarar Sirait aja nyindir Jokowi yang lebih dekat dengan Partai Golkar dibandingkan PDIP. <em>Ciyeee, </em>cemburuan gitu ah, <em>hadeuuuh. </em></p>
<p><em>Weeeiittsss, </em>tapi yang lebih kocaknya lagi, ada politikus PDIP yang malah terang – terangan membaca kalau pergerakan Cak Imin cuma bermain – main aja mau jadi Cawapresnya. Lumayan nempel, terkenal buat suara PKB di Pileg 2019 mendatang.</p>
<p>Istilahnya sih, Cak Imin katanya cuma <em>gocek – gocek</em> doang. Udah kepedean, malah becanda lagi, <em>weleeeh weleeeh. </em></p>
<p>Maunya PKB apaan coba ya? Kalau dapet suara kecil ya terima aja, <em>legowo</em> gitu, masa mau maksain sih? <em>Heuuhhh.</em></p>
<p>Kalau misalkan Jokowi pernah menganggap serius pencalonan Cak Imin gimana? Ya Cak Imin pasti ambil lah, kan lumayan periode berikutnya jadi dapet jabatan lagi kan? Iya ga? <em>Asyiiikk, weleeh weleeeh.</em></p>
<p><em>Hadeuuh, </em>Cak Imin jangan kecepetan jawabnya dong, kan pertanyaannya ‘kalau’, belum tentu juga kan? <em>Wedeew, </em>haus banget apa, <em>wkwkwk.</em></p>
<p>Makanya Cak Imin itu kalau kata Pramoedya Ananta Toer, kayaknya sih melihat kekuasaan itu seperti gelang emas, bukan seperti borgol.</p>
<p>Jadi mau kayak gimana pun, Cak Imin pasti melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang menggiurkan, <em>weleeeh weleeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/03/muhaimin-1024x677.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cak Imin Si Politisi Oportunis</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/cak-imin-si-politisi-oportunis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K16]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2018 06:10:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Cak Imin]]></category>
		<category><![CDATA[Cawapres Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Daniel Johan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<category><![CDATA[PKB]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=26039</guid>

					<description><![CDATA[“Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar bisa saja bergabung ke barisan pendukung Prabowo Subianto jika gagal menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo.” ~ Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Daniel Johan. PinterPolitik.com [dropcap]N[/dropcap]afsu Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar untuk menjadi Calon Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi) kian tidak terbendung. Segala cara dilakukan demi bisa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar bisa saja bergabung ke barisan pendukung Prabowo Subianto jika gagal menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo.” ~ Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Daniel Johan.</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]N[/dropcap]afsu Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar untuk menjadi Calon Wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi) kian tidak terbendung. Segala cara dilakukan demi bisa menduduki kursi RI-2 bersama Jokowi. Namun jika keinginan tersebut tidak lantas mendapatkan jawaban, dirinya tidak segan mengancam akan berpaling mendukung ke kubu Prabowo Subianto.</p>
<p>Pria yang akrab disapa Cak Imin ini kok rasanya oportunis banget ya. Sifatnya ini udah kayak Sultan Trenggono di era Kerajaan Demak aja sih. Dalam kamus pemikirannya, membicarakan nasib rakyat adalah nomor dua, tentunya setelah memperoleh kekuasaan. <em>Mmm,</em> apa politisi seperti ini yang cocok disebut sebagai sosok pemimpin ideal? Gak malu apa ditonton rakyat Indonesia!</p>
<p>Sifat kenegarawanan seorang politisi sebenarnya sedang diuji saat Pesta Demokrasi Pemilu seperti ini. Umumnya, para politisi akan mengumbar berbagai kata-kata mutiara nan retoris untuk menghembuskan angin surga normatif kepada masyarakat pemilihnya. Tapi ada juga yang gak mempedulikan itu, mereka lebih memilih <em>grasak-grusuk</em> mencari kesempatan untuk menduduki jabatan.</p>
<p>Meski akan tampak norak dan tidak etis di mata masyarakat, tapi hal ini tetap aja dilakukan oleh sejumlah politisi. Ada sih politisi yang mengejar jabatan dengan cara alus, kalem, ya <em>woles</em> gitu deh. Artinya, kesantunan komunikasi politik perlu untuk melahirkan citra positif dalam diri politisi itu sendiri. Kalau tidak, maka politisi oportunis hanya akan distigma mengejar kekuasan semata.</p>
<p>Yang rugi siapa ayo kalau ketua umumnya tetep <em>kebelet</em> mencari tiket menduduki kursi RI-2? Partainya sendiri lah! Alih-alih mendapat kesan sebagai partai yang mewakili aspirasi umat Muslim Indonesia, PKB malah akan jatuh pada jurang stigma sosok partai oportunis karena ingin meraih kekuasaan dengan<em> mendompleng</em> Presiden Petahana Jokowi. <em>Eike</em> kok jadi <em>ilfil</em> ya ngeliat tingkahnya!</p>
<p>Tapi jangan salah, pasti udah ada pertimbangan tersendiri kok kenapa Cak Imin segitu <em>kebeletnya</em> ingin mendapatkan tiket kursi RI-2 bersama Jokowi. Yang pertama, memang ini kesempatan satu-satunya yang gak akan terulang lagi. Jadi sekalian buang jauh-jauh urat malunya, cukup modal tebelin muka aja, beres deh. Ya gak salah juga sih, mumpung hubungan Cak Imin dan Jokowi lagi deket-deketnya.</p>
<p>Kedua,<em> toh</em> rakyat Indonesia cepat lupa tuh nanti. Karena yang diingat dalam sejarah adalah Cak Imin pernah menjadi Wakil Presiden. Mengenai bagaimana caranya, dinilai oportunis atau gak, generasi setelahnya gak akan ada yang mengingatnya lagi.<em> Toh</em> itu gak terlalu penting untuk dibahas. Tapi setidaknya untuk saat ini, cukup dingat aja, ada <em>loh</em> politisi yang <em>kebelet</em> jabatan segitunya. (K16)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/04/Cak-Imin-Jokowi-02.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Caleg Medsos Idaman Cak Imin</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/caleg-medsos-idaman-cak-imin/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z19]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Dec 2017 10:20:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Calon Anggota Legislatif]]></category>
		<category><![CDATA[Muhaimin Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Kebangkitan Bangsa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=17949</guid>

					<description><![CDATA[“Memilih untuk tidak memilih adalah sebuah oksimoron.” ~ Goenawan Mohamad PinterPolitik.com [dropcap]W[/dropcap]akil rakyat? Apa yang terlintas dalam benak masyarakat? Hmm, cenderung pada suara – suara minor ya dengan berbagai fenomena yang mengemuka. Datang saat itu saja dan menghilang saat dibutuhkan. Mereka hanyalah fenomena. Saat datang menebar janji menjadi jembatan aspirasi atau ‘membantu’ segala bentuk kebutuhan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong><em>“Memilih untuk tidak memilih adalah sebuah oksimoron.” ~ Goenawan Mohamad</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]W[/dropcap]akil rakyat? Apa yang terlintas dalam benak masyarakat? Hmm, cenderung pada suara – suara minor ya dengan berbagai fenomena yang mengemuka.</p>
<p>Datang saat itu saja dan menghilang saat dibutuhkan. Mereka hanyalah fenomena. Saat datang menebar janji menjadi jembatan aspirasi atau ‘membantu’ segala bentuk kebutuhan masyarakat. Lagi dan lagi hanyalah elegi patah hati <em>huhuhuhu</em>.</p>
<p>Suara sumbang kan sudah banyak dan bisa lah sedikit diobati dengan datangnya calon wakil rakyat membantu nyata langsung kepada masyarakat <em>hehehe</em>.</p>
<p>Janji adalah hutang. Maka, masyarakat lazim rasanya menagihnya. Dalam perhelatan pemilihan anggota legislatif akan banyak calon wakil rakyat yang turun gunung masuk ke kampung – kampung untuk mengemis suara menuju kemewahannya. <em>Weleeeh weleeeh.</em></p>
<p>Apakah itu masih laku di Pemilihan anggota legislatif nanti. Ah, masa iya masih laku? Kalau ditinggalkan mungkin tidak, tapi kalau ada terobosan lain mungkin.</p>
<p>Tapi terobosan apa ya?</p>
<p>Yang jelas bukan siraman serangan fajar ya. Kalau itu sih mending ke laut aja. <em>Waadeeziiiiiiiggggg.</em></p>
<p>Hmmm, ternyata ada pencerahan untuk terobosan kampanye calon wakil rakyat dari Bakal Calon Wakil Presiden RI nih hehehe. Lah emang udah ada calon Presidennya, maksudnya ada yang mau? Weeewwwww Siapa tuh? wkwkwk.</p>
<p>Pencerahan datang dari Cak Imin yang juga Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Terobosan itu katanya calon wakil rakyat harus punya sosial media. Hmmm, gunanya apa?</p>
<p>Katanya biar bisa berkenalan langsung tanpa ada batasan waktu, kapan saja bisa. Tapi ada nilai lebih dan engganya juga sih. Apaan tuh?</p>
<p>Kalau nilai lebihnya sih bisa menjaring generasi milenial yang mantengin mulu gawai. <em>Weleeeh weleeeeh. </em>Tapi tau kan gawai apaan? Gadget lah gadget. Hmmm.</p>
<p>Tapi kalau kekurangannya apa nih dari terobosan ini? Calon wakil rakyatnya jadi generasi nunduk terus dan lupa disekelilingnya itu banyak masyarakat yang ga tersentuh.</p>
<p>Yahhh kaya gitu sih Cak Imin pengen melahirkan caleg sosial media. <em>Weleeeh weleeeh. </em>(Z19)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/12/Muhaimin-Iskandar-1.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
