<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>papa &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/papa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Nov 2017 15:26:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>papa &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Hati-Hati Buat Meme Papa</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/hati-hati-buat-meme-papa/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Nov 2017 07:15:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Novanto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15424</guid>

					<description><![CDATA[Sudah sehat walafiat, kini Papa minta polisi mengejar siapa pun yang membuat konten meme yang mengolok dirinya. Hayo, hati-hati tercyduq. PinterPolitik.com  [dropcap]L[/dropcap]uar biasa memang titah Papa. Permintaannya ini bisa langsung digenapi oleh seperangkat kuasa hukum dan kepolisian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Netizen pikir Papa akan woles, chill, dan diam saja dibuat guyon seperti itu kala [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Sudah sehat walafiat, kini Papa minta polisi mengejar siapa pun yang membuat konten <em>meme</em> yang mengolok dirinya. Hayo, hati-hati tercyduq.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="background-color: #ffffff; color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]L[/dropcap]uar biasa memang titah Papa. Permintaannya ini bisa langsung digenapi oleh seperangkat kuasa hukum dan kepolisian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Netizen pikir Papa akan <em>woles, chill</em>, dan diam saja dibuat guyon seperti itu kala sedang sakit? Tidak, tuh. Nehi. Kini Papa, lewat polisi dan lembaga hukumnya akan mencyduk kalian. Hati-hati, wahai kalian para pembuat konten garing!</p>
<p>Yang tak diduga, Pak Polisi <em>gercep</em> (gerak cepat) menangkapi orang-orang yang diduga memproduksi <em>meme</em> Setya Novanto alias Papa. Bahkan belantara sosial media juga tak ragu <em>diobok-obok </em>dalam seminggu, hingga beberapa nama sudah keluar sebagai pelaku. Ssst, salah satunya itu adalah kader dari partai anak muda zaman <em>now, </em>PSI.</p>
<p>Bayangkan, hanya dalam waktu seminggu saja, pak polisi menjajaki <em>Instagram, facebook, </em>dan <em>twitter</em> untuk mencari konten <em>meme</em> Papa. Kita bisa ingat bagaimana melimpahnya konten <em>meme</em> Papa tersebar begitu liar di internet. Bukan cuma satu atau dua, tapi hampir setiap netizen, baik yang budiman dan yang tercela, sama-sama pernah buat dan membagikan <em>meme</em> Papa. Sungguh, pekerjaan Pak Polisi sangat melelahkan pasti.</p>
<figure id="attachment_15425" aria-describedby="caption-attachment-15425" style="width: 800px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-15425 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq.jpg" alt="Hati-Hati Buat Meme Papa" width="800" height="450" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq.jpg 800w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-300x169.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-768x432.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-696x392.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/dcm8eoilasyl9ldbqyeq-747x420.jpg 747w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" /><figcaption id="caption-attachment-15425" class="wp-caption-text">polisi menunjukan barang bukti (sumber: istimewa)</figcaption></figure>
<p>Polisi juga barangkali tak kuasa menerima pesan dari si kuasa hukum Papa supaya menghormati Papa layaknya kita menghormati sang presiden RI. Ingat, Papa (begini-begini) adalah ketua DPR RI yang mulia, <em>lho.</em> Maka, jika penghakiman yang tak benar terjadi padanya, harus cepat-cepat diurus tuntas. Yang menjelekkan Presiden dan istrinya saja bisa ditangkap cepat, masa buat Papa tidak? Papa <em>gitu lho.</em></p>
<p>Ah, andai energi dan daya <em>gercep</em> yang sama dari Pak Polisi juga ada untuk kasus-kasus penting lainnya. Seperti kasus Novel Baswedan misalnya? Masak sih, waktu dan energi untuk produser <em>meme</em> tersedia, tapi keadilan bagi pejuang anti korupsi, susah dikabulkan?</p>
<p>Eh, tidak kok, Pak. Ini bukan berarti Pak Polisi <em>lebay</em> dan tak tahu prioritas, kok. Sungguh, bukan. Kalau soal <em>meme</em>, kita semua tahu pasti siapapun akan terluka hatinya jika diolok-olok dan jadi sensasi dunia maya, padahal dirinya sedang bertaruh nyawa melawan penyakitnya yang bejibun <span style="text-decoration: line-through;">dan lengkap seperti Minimarket.</span> Masuk akal kok, Pak Polisi.</p>
<p>Nah, kalau begitu semoga saja ini bukan lagi jurus Naruto <em>kagebunshin no jutsu</em> ala Papa, alias jurus distraksi politik untuk menutupi isu utama, yaitu renovasi gedung DPR dan RUU Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kalau itu benar terjadi, aduh maaf banget nih, Papa dan Pak Polisi sekalian, strateginya sudah sangat zaman <em>old</em> alias ketinggalan jaman. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/659613_720.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Papa Pekerja Keras, Pekerja Cerdas</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/papa-pekerja-keras-pekerja-cerdas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R17]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Nov 2017 07:12:53 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[EKTP]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Novanto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15369</guid>

					<description><![CDATA[Dipanggil lagi oleh KPK yang tidak penting itu, Papa memilih kerja, kerja, kerja. KPK jangan ganggu kinerja Papa ya! PinterPolitik.com Menanggapi undangan KPK untuk kongkow-kongkow di kantor mereka, Papa memilih menolak. Di hari kerja seperti ini, Papa jelas harus bekerja dong. Papa harus reses ke daerahnya di Nusa Tenggara Timur untuk melihat-lihat kondisi masyarakat. Karena [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Dipanggil lagi oleh KPK yang tidak penting itu, Papa memilih kerja, kerja, kerja. KPK jangan ganggu kinerja Papa ya!</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #d1d600;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap3">M</span>enanggapi undangan KPK untuk kongkow-kongkow di kantor mereka, Papa memilih menolak. Di hari kerja seperti ini, Papa jelas harus bekerja dong. Papa harus reses ke daerahnya di Nusa Tenggara Timur untuk melihat-lihat kondisi masyarakat.</p>
<p>Karena tidak mau datang, Papa kemudian menyuruh anak buahnya Chairuman Harahap untuk menggantikannya. Di sana, Chairuman diminta <em>speak-speak</em> manis supaya KPK senang. Mau apa ya, KPK?</p>
<p>Pasalnya, KPK suka banyak nanya yang mengganggu Papa. Kan sudah diingatkan ya, Papa <a href="https://pinterpolitik.com/papa-jangan-lupa-minum-antibiotik/">masih harus disterilkan udaranya perkara sakit jantung kemarin</a>. KPK emang rese deh!</p>
<p>Untuk mencari ketenangan, di Dapilnya sana, Papa juga sowan dengan tetua kerajaan, Raja Leo Nisnoni. Raja Leo yang mengingatkan kalau Papa capek, sudah nyerah aja, gitu. Mengingat penyakit Papa yang bisa tiba-tiba menyerang kalau divonis KPK, Raja Leo cemas.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Komentar Warga di Dapil Setya Novanto soal Pentapan Tersangka oleh KPK <a href="https://t.co/huf4HKPNM4">https://t.co/huf4HKPNM4</a></p>
<p>— Kompas.com (@kompascom) <a href="https://twitter.com/kompascom/status/887143392781582336?ref_src=twsrc%5Etfw">July 18, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Papa itu kan sedang serius bekerja ya. Membangun dapil, lalu senyam-senyum. Rapat sampai kelelahan, lalu senyam-senyum. Berangkat ke kantor, lalu senyam-senyum.</p>
<p>Senyam-senyum capek lho! Selain adalah ibadah, senyam-senyum Papa bermakna bahwa DPR sedang baik-baik saja, tidak usah kuatir. Kerja keras Papa bagi dapil dan DPR sungguh tak terkira.</p>
<p>Selain bekerja keras sampai terngantuk-ngantuk, Papa juga pekerja cerdas. Buktinya, dia bisa bertugas ke dapil persis saat KPK mau ngajak dia main. Pinter banget ya cara menghindarnya. Atau KPK aja yang kurang cerdas?</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Setya Novanto Tak Hadiri Panggilan, KPK Belum Siap Jemput Paksa , Ini Alasannya <a href="https://t.co/hANNqpGSQc">https://t.co/hANNqpGSQc</a> via <a href="https://twitter.com/TribunWow?ref_src=twsrc%5Etfw">@TribunWOW</a></p>
<p>— TRIBUNnews.com (@tribunnews) <a href="https://twitter.com/tribunnews/status/925191365977284608?ref_src=twsrc%5Etfw">October 31, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Sudah bisa ngibulin KPK, terus ngasih halang rintang macem-macem ke KPK. Anak buahnya satu-satu diturunin buat nanggepin KPK. Bisa-bisa 100 tahun lagi lah giliran Papa yang main ke KPK. Papa udah males main sama KPK, kemarin dikerjain sih.</p>
<p>Lagian KPK ini ya. Udah tau Papa itu bos besar. Kalau main video game, harus ngelawan kroco-kroconya dulu dong, sampai habis. Kalau sudah, baru ngelawan bos terakhir, Si Papa.</p>
<p>Misimu masih panjang, ya KPK. <strong>(R17)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/1500365341.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Papa Minta Bantal</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/papa-minta-bantal/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R17]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 25 Oct 2017 07:51:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[ngantuk]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<category><![CDATA[Setya Novanto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=14896</guid>

					<description><![CDATA[“Paa ayo bangun udah jam berapa ini?? Paripurna Paa!,” seru Mama. “Aduh Maa papa ngantuk semalem bergadang main saham…,” sahut Papa. PinterPolitik.com [dropcap size=big]P[/dropcap]apa belum bisa beranjak dari kasur cantiknya. Padahal, Mama sudah teriak-teriak dan mengibas-ibas tirai dipan. Papa terlelap dengan laptop menutupi mukanya yang memang kusut terus. Papa tak pernah tak ngantuk. Malamnya, Papa [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Paa ayo bangun udah jam berapa ini?? Paripurna Paa!,” seru Mama. “Aduh Maa papa ngantuk semalem bergadang main saham…,” sahut Papa.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #ccdb00;">PinterPolitik.com</span></p>
<p>[dropcap size=big]P[/dropcap]apa belum bisa beranjak dari kasur cantiknya. Padahal, Mama sudah teriak-teriak dan mengibas-ibas tirai dipan. Papa terlelap dengan laptop menutupi mukanya yang memang kusut terus. Papa tak pernah tak ngantuk.</p>
<p>Malamnya, Papa memang tidak bisa tidur karena pekerjaan rumahannya,<em> </em>jualan <em>online</em>. Papa jualan saham dan kursi kantor di websitenya. Bisnis Papa ini sedang naik daun dan jadi pemberitaan dimana-mana. Makanya Papa kerja keras.</p>
<p>“Gimana penjualan hari ini, Pa?” tanya Mama sebelum Papa berangkat.</p>
<p>“Meningkat dong Ma, kan iklan kita dimana-mana sebulan terakhir,” jawab Papa, terburu-buru berpakaian karena sudah telat.</p>
<p>Bisnis jualan saham dan kursi kantor ini dilakukannya sebagai sampingan. Sehari-hari dia biasa berkantor di kelurahan. Papa adalah lurah. Kerjanya di kelurahan banyak diapresiasi masyarakat, karena tak hanya Papa yang semakin kaya, masyarakat juga semakin kaya.</p>
<p>Tapi, kerja keras Papa berdampak penurunan fisik baginya. Belum lama, Papa diopname karena tipes, kecapekan.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-lang="en">
<p dir="ltr" lang="in">Fahri Hamzah: Novanto Memang Sakit, Berdiri Aja Ngantuk <a href="https://t.co/D9l2PdiZK5">https://t.co/D9l2PdiZK5</a></p>
<p>— Kompas.com (@kompascom) <a href="https://twitter.com/kompascom/status/915494208063938561?ref_src=twsrc%5Etfw">October 4, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="//platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Sekarang sudah sembuh, tapi efek sampingnya itu, Papa gampang ngantuk. Seperti yang diujar oleh Wakil Lurah Fahri Himzih, Papa berdiri saja ngantuk, apalagi duduk.</p>
<p>Kemarin banget, waktu paripurna dengan jajaran Ketua RW, Papa tertidur pas lagi ngomong.</p>
<p>“… belum ada masukan dari RW 04? Oke selanjutnya masukan dari …” lalu Papa terlelap.</p>
<p>Tidak ada seorang pun yang berani membangunkan. Semua memaklumi kelelahan Papa. Semua bersyukur karena suka dihadiahi kursi oleh Papa.</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="5MOUQnrheRI"><iframe width="696" height="522" src="https://www.youtube.com/embed/5MOUQnrheRI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" gesture="media" allowfullscreen></iframe></div>
<p>Kaget terbangun, Papa lalu lupa dia harus bicara apa. Papa malu terus ngeloyor pergi dan rapat diambil alih wakilnya. Papa pulang ke rumah, naik mobilnya, dan tidur sepanjang jalan.</p>
<p>“Apa Papa jualan bantal aja ya Ma? Butuh nih buat di kantor,” tanya Papa ke Mama waktu di rumah.</p>
<p>“Boleh sih Pa, musim hujan ya bikin ngantuk. Kalau perlu <em>sleeping bag</em> sama matras sekalian kalo ada dinas di gunung,” ujar Mama.</p>
<p>Boleh deh Pa, saya pesan satu. Kursi dan bantal sekaligus. (R17)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/10/papa-minta-bantal-1024x640.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Pansus vs KPK: Love Sampai Kiamat</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/pansus-vs-kpk-love-sampai-kiamat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Oct 2017 06:39:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Pansus Angket KPK]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=13928</guid>

					<description><![CDATA[“Sampai kiamat pun akan kutunggu”, kata Pansus pada pujaan hatinya, KPK! PinterPolitik.com [dropcap size=big]I[/dropcap]ni bukan kisah cinta biasa. Kalau dilagukan, ini seperti lagunya Afgan: cintaku bukanlah cinta biasa. Mana suaranya, kalian luar biasa! Eh? Cinta yang tak biasa itu datang dari Pansus Angket KPK di DPR yang sepertinya gagal move on – begitu istilah keren [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Sampai kiamat pun akan kutunggu”, kata Pansus pada pujaan hatinya, KPK!</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]I[/dropcap]ni bukan kisah cinta biasa. Kalau dilagukan, ini seperti lagunya Afgan: <em>cintaku bukanlah cinta biasa</em>. Mana suaranya, kalian luar biasa! <em>Eh?</em></p>
<p>Cinta yang tak biasa itu datang dari Pansus Angket KPK di DPR yang sepertinya gagal <em>move on </em>– begitu istilah keren yang sering dipakai oleh <em>kids</em> zaman <em>now</em>.</p>
<p>Potongan puisi terbaru datang dari Wakil Ketua Pansus Angket yang juga politisi Partai Nasdem, Taufiqulhadi.</p>
<p>&#8220;KPK datang hari kiamat, kami tunggu sampai kiamat,&#8221; begitu katanya. <em>Gilak</em>, romantis banget. <em>So sweet!</em></p>
<p>Pansus memang sudah menaruh perasaan yang begitu besar pada KPK, ibarat orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu terjadi ketika KPK pertama kali mengumumkan daftar nama-nama politisi yang disinyalir terlibat dalam kasus mega korupsi KTP elektronik.</p>
<p>Hormon dopamin – yang mempengaruhi perasaan jatuh cinta – rasa-rasanya menjalar ke seluruh tubuh DPR ketika membaca daftar nama dalam surat cinta yang beredar itu. DPR pun ngotot menyatakan cintanya pada KPK. Segala cara ditempuh!</p>
<p>Papa dan Mama pun sudah setuju. Pansus menjadi perpanjangan rasa cinta itu, ibaratnya otak yang mabuk kepayangan karena pengaruh dopamin. Apalagi setelah Papa bebas dari status tersangka yang ditetapkan oleh KPK – dan bahkan katanya sudah pulang ke rumah – makin mabuk kepayanganlah mereka.</p>
<p>Tak ketinggalan, Om pun ikut mendukung. Dalam rapat dengar pendapat, Om menyebut supervisi KPK perlu diperbaiki.</p>
<p>Canggih <em>bener</em> istilahnya, Om. Itu artinya bukan SMS kaleng kan? <em>Eh?</em></p>
<p>Tapi, KPK tetap jual mahal. <em>Ogah! </em>Begitu kira-kira yang ada dalam kepala gadis cantik itu – yang saking cantiknya sampai harus disiram air keras biar jadi jelek.</p>
<p>Itulah KPK. Tak peduli Papa, Mama dan Om sudah bersekutu, ia tetap jual mahal. Gratifikasi, suap, dan sebagainya ditolak mentah-mentah. <em>Aku tak sudi!</em> Begitu katanya.</p>
<p>Tapi, KPK cuma akan nurut sama Pakde-nya. Entah kenapa, selama Pakde yang bilang, KPK akan selalu nurut. Mungkin karena Pakde-lah yang menjaganya, sehingga ia juga mau digunakan untuk menyerang lawan-lawan Pakde. Bahkan, teman-teman Mama yang pakai pakaian dengan banyak bintang sekalipun tidak mampu meluluhkan KPK.</p>
<p>Mungkin KPK baru akan luluh kalau yang minta itu Pakde-nya, ya? Atau orang-orang yang di dekat Pakde? <em>Eh?</em></p>
<p>“Woi, gosip mulu, Dul, kerjaanmu. Mandi dulu sana, badanmu bau mesiu senjata yang nganggur di bandara gara-gara teriakan panglima!”</p>
<p>Di tempat lain, ada bupati yang gara-gara urusan tambang, merugikan negara sampai triliunan! Sementara itu, perang di perusahan plat merah bikin mati lampu di DPR.</p>
<p>Hmmm, mungkin karena sudah musim hujan, jadinya <em>bocooorr, bocooorrr</em>….</p>
<p>(S13)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/10/1234-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Papa, Mama,Om Kasian Pakde Joko</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/papa-mamaom-kasian-pakde-joko/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[K32]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 26 Sep 2017 12:26:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[KPK]]></category>
		<category><![CDATA[Mama]]></category>
		<category><![CDATA[Om]]></category>
		<category><![CDATA[Pansus angket DPR]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=13585</guid>

					<description><![CDATA[Pansus angket Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya resmi diperpanjang hari ini, setelah laporan kerjanya diterima dalam sidang paripurna DPR. Padahal yang mendukung pansus diperpanjang cuma Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Golongan Karya (Golkar) dan Nasional Demokrat (Nasdem), kok bisa disetujui jangan-jangan ketiga partai ini pakai guna-guna? PinterPolitik.com Saya benar-benar gagal paham dengan PDIP, Golkar dan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Pansus angket Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akhirnya resmi diperpanjang hari ini, setelah laporan kerjanya diterima dalam sidang paripurna DPR. Padahal yang mendukung pansus diperpanjang cuma Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Golongan Karya (Golkar) dan Nasional Demokrat (Nasdem), <em>kok</em> bisa disetujui <em>jangan-jangan</em> ketiga partai ini pakai <em>guna-guna</em>?</h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb31;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>Saya benar-benar gagal paham dengan PDIP, Golkar dan Nasdem, katanya sebagai ‘tiga batu tungku’-nya<em>,</em> <em>pakde </em>Jokowi <em>kok malah</em> terkesan tak mendukung kebijakan pemerintah, terutama dalam memberantas korupsi. Mereka malah membiarkan anggota-anggotanya bergabung dalam Pansus Angket DPR. Seharusnya ketiga partai ini sudah tahu bahwa kehadiran pansus hanya <em>bikin</em> Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) susah mengusut kasus-kasus mega korupsi di negeri ini, tapi <em>kenapa</em> malah membiarkan anak buahnya bergabung dalam pansus? Ada apa dengan ketiga partai ini?</p>
<p>Mama, sebagai pimpinan partai banteng seolah-olah membiarkan anak-anaknya ‘bermain’ di dalam pansus agar mampu menghalangi KPK menelusuri jejak BLBI. Sementara itu, di bawah naungan pohon beringin, papa masih tertidur. Entah karena habis pulang <em>ambil </em>saham atau karena jatuh sakit akibat terserang virus <em>e-KTP </em>sehingga anak-anak <em>ngak sempet</em> diawasi, aku <em>ora mudeng</em>. Lalu, om brewok nampaknya ikut <em>aja maunya</em> mama dan papa biar terlihat sebagai keluarga yang kompak. Kalau tingkah papa, mama, sama om <em>kayak gini ujung-ujung</em> <em>pakde Joko</em> yang pusing. <em>Kasian</em> <em>pakde Joko </em>yang tak bisa berbuat banyak melihat pansus menghambat kerja KPK. <em>Pakde</em> hanya bisa diam sambil mengelus dahi karena kalau ia mau ini atau mau itu,  pasti <em>mapala &#8211;</em> mama papa larang.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550">
<p lang="in" dir="ltr">Jokowi Seharusnya Minta Partai Pendukungnya Hentikan Pansus Angket KPK <a href="https://t.co/7WlR4ZYIwl">https://t.co/7WlR4ZYIwl</a></p>
<p>&mdash; Kompas.com (@kompascom) <a href="https://twitter.com/kompascom/status/912554338890825728?ref_src=twsrc%5Etfw">September 26, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Kasihan nasib <em>pakde Joko, udah</em> seperti nasib si bawang putih dalam cerita <em>bawang merah dan bawang putih. </em>Seharusnya papa, mama dan om tak hanya mendukung cita-cita <em>pakde Joko </em>untuk menuntut ilmu jauh ke negeri Tiongkok, tapi berjalan bersama <em>pakde Joko </em>untuk mewujudkan <em>sumpah palapa jilid dua. </em>Mungkin dengan mendukung pembubaran Pansus, pasti membuat kerutan di dahi <em>pakde Joko </em>sirna<em>. </em>Yah ini persoalan kaum <em>naga, </em>saya yang hanya termasuk dalam golongan <em>tikus celurut </em>bisa apa? <strong>(K-32)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/09/2017-09-26-ILUSTRASI-kapan-pansus-di-stop-1024x676.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
