<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Oppenheimer &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/oppenheimer/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 25 Jul 2023 02:38:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Oppenheimer &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Oppenheimer: Mungkinkah ada Perang Nuklir?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S91]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 25 Jul 2023 02:38:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Film Oppenheimer]]></category>
		<category><![CDATA[Oppenheimer]]></category>
		<category><![CDATA[PD II]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dingin]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Nuklir]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=132303</guid>

					<description><![CDATA[Film Oppenheimer yang sudah lama dinanti baru saja rilis di bioskop-bioskop Indonesia. Film yang menceritakan tentang pengembangan bom nuklir pertama itu tidak saja mengenalkan kita pada sosok pembuatnya, J. Robert Oppenheimer, tetapi juga pada gagasan bahwa senjata nuklir adalah senjata mematikan yang seharusnya tidak digunakan oleh umat manusia. Ironisnya, pengembangan senjata nuklir oleh Uni Soviet [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-1024x1024.jpg" alt="oppenheimer mungkinkah ada perang nuklir" class="wp-image-132306" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-420x420.jpg 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir.jpg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Film Oppenheimer yang sudah lama dinanti baru saja rilis di bioskop-bioskop Indonesia. Film yang menceritakan tentang pengembangan bom nuklir pertama itu tidak saja mengenalkan kita pada sosok pembuatnya, J. Robert Oppenheimer, tetapi juga pada gagasan bahwa senjata nuklir adalah senjata mematikan yang seharusnya tidak digunakan oleh umat manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironisnya, pengembangan senjata nuklir oleh Uni Soviet dan tentunya Amerika Serikat malah diklaim membuat dua negara adidaya tersebut tidak berani menyerang satu sama lain ketika Perang Dingin, karena penggunaannya ditakuti mampu menghancurkan satu sama lain. Gagasan itu kemudian melahirkan sebuah teori yang disebut nuclear deterrence.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-mungkinkah-ada-perang-nuklir-1024x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Nuklir Oppenheimer Justru Ciptakan Perdamaian?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/nuklir-oppenheimer-justru-ciptakan-perdamaian/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R87]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Jul 2023 14:47:31 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Oppenheimer]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Nuklir]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=132201</guid>

					<description><![CDATA[Film Oppenheimer begitu booming di banyak negara, termasuk Indonesia. Menceritakan seorang Julius Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika yang berperan penting pada Proyek Manhattan, proyek pengembangan bom atom oleh Amerika Serikat (AS).  Disebut sebagai “bapak bom atom”, pasca perang ia menyesali apa yang telah “dikembangkan” olehnya. Menurutnya, penemuannya tersebut telah membawa dunia pada perlombaan senjata nuklir. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Film Oppenheimer begitu <em>booming </em>di banyak negara, termasuk Indonesia. Menceritakan seorang Julius Robert Oppenheimer, seorang ahli fisika yang berperan penting pada Proyek Manhattan, proyek pengembangan bom atom oleh Amerika Serikat (AS).  Disebut sebagai “bapak bom atom”, pasca perang ia menyesali apa yang telah “dikembangkan” olehnya. Menurutnya, penemuannya tersebut telah membawa dunia pada perlombaan senjata nuklir.</strong> <strong>Tapi, apakah mungkin justru nuklir Oppenheimer ciptakan perdamaian</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph"><strong>“Bersiap untuk perang adalah cara yang paling efektif untuk melestarikan perdamaian”, George Washington</strong></p>
</blockquote>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Film Oppenheimer menjadi salah satu film yang sedang disorot akhir-akhir ini. Film yang menceritakan kisah seorang ahli fisika, Julius Robert Oppenheimer ini <em>booming </em>di banyak negara, salah satunya Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Film ini sendiri menceritakan kisah Oppenheimer, spesifiknya soal perannya dalam Proyek Manhattan yang dikembangkan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS). Proyek ini sendiri dibuat sebagai upaya untuk menciptakan bom atom untuk menyerang Nazi Jerman, dalam upayamenghentikan Perang Dunia II yang sedang berlangsung saat itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, karena Jerman telah menyerah sebelum bom tersebut bisa digunakan, akhirnya bom ini dijatuhkan di Jepang, tepatnya di kota Hiroshima dan Nagasaki, dan memang segera mengakhiri perang dengan Jepang saat itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, mendapat julukan sebagai “bapak bom atom”, Oppenheimer justru terbebani dengan dilema moral nya sebagai ilmuwan, dengan melihat seberapa destruktif dan mematikannya bom tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baginya, dengan keberadaan bom tersebut maka “rantai ledakan” dari bom tersebut tidak akan pernah berhenti hingga kemudian hari. Akan tetapi, apa yang sebenarnya dimaksud Oppenheimer dengan kalimat tersebut?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1080" height="1270" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20.png" alt="image 20" class="wp-image-132205" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-255x300.png 255w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-871x1024.png 871w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-128x150.png 128w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-768x903.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-696x818.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-1068x1256.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-20-357x420.png 357w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Perlombaan Tiada Akhir?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kehidupan, fenomena persaingan antar individu adalah hal yang biasa terjadi. Persaingan yang terjadi biasanya disebabkan oleh usaha salah satu pihak untuk mendominasi, atau mengimbangi pihak lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dalam konteks negara, politik, militer dan persenjataan, persaingan adalah hal yang buruk bagi semua pihak. Dengan adanya persaingan, terutama secara “berlebih”, dapat mendorong terciptanya ketidakpastian, keamanan, dan risiko, akan efek destruktif yang menghancurkan.Apalag, dalam konteks senjata nuklir, yang dipandang sebagai senjata pamungkas karena dampak destruktifnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal inilah yang disesali dan ditakutkan oleh Oppenheimer. Menurutnya, efek dan reaksi dari bom yang diciptakannya tidak akan pernah berhenti.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks persaingan antar negara, bom atom yang semakin banyak diciptakan untuk mencapai keunggulan baru, dengan daya yang lebih mematikan dan lebih menghancurkan. Oleh karena itu, ia sangat menentang penciptaan bom hidrogen, yaitu bom yang memiliki efek destruktif berkali lipat jauh lebih besar dibanding bom atom yang diciptakannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski begitu, persaingan dan perlombaan antar negara ini sangat sulit dihentikan, atau bahkan cenderung mustahil. Karena jika diibaratkan, tidak ada masing-masing pihak yang mau untuk “melepas” kemampuan senjata ini. Selain itu, adanya <em>lack of trust </em>atau ketidakpercayaan masing-masing pihak bahwa pihak lawan mereka mau melakukannya, juga menghambat hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini juga bisa dianalisis menggunakan teori <em>balance of power</em>. Teori ini menjelaskan bagaimana sifat setiap negara yang tidak ingin melihat dominasi negara lain dalam bidang militer. Hal ini dilakukan atas dasar menyelamatkan eksistensinya dan juga untuk melindungi kepentingan nasionalnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sering terjadi antar negara-negara <em>great power </em>seperti AS dan Rusia, di mana persaingan di antara mereka menjadi hal yang wajar. Dan persaingan dalam hal pengembangan bom yang paling destruktif adalah cara yang paling “murah”, karena tidak membutuhkan banyak perincian dalam prosesnya. Secara kasar, “hanya” dibutuhkan biaya perawatan dan pelatihan awak serta tempat pengangkut dan silo penyimpanan. Ini tentu lebih murah dibanding membentuk pasukan dari unsur lain, seperti tank, kapal perang dan sebagainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, bom yang ada juga tidak semuanya ditembakkan. Untuk saat ini, tentu baik bom atom, nuklir, hingga hidrogen, hanya digunakan untuk keperluan uji coba saja, tidak untuk kebutuhan ofensif di medan perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya, jika bom tersebut begitu berbahaya, kenapa tidak masing-masing pihak melancarkan serangan untuk mengeliminasi bom pihak lain? Apakah mereka terlalu takut untuk melakukannya?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-1024x1024.png" alt="image 21" class="wp-image-132206" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21-420x420.png 420w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-21.png 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Takut-Menakuti?&nbsp;</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Persaingan dan perlombaan senjata antar-negara memang meningkatkan risiko kehancuran apabila sampai terjadi di antara mereka. Akan tetapi,ada satu hal “positif” yang mungkin bisa dilihat dari hal tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal “positif” tersebut adalah timbulnya rasa takut di masing-masing pihak yang disebabkan oleh perilaku menakuti yang juga dibuat oleh masing-masing pihak. Dengan kondisi tersebut, masing-masing pihak berada dalam kondisi di mana mereka saling menakuti, tapi juga takut akan satu sama lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini dapat dijelaskan melalui konsep Mutual Assured Destruction (MAD), atau bisa disebut sebagai konsep “kehancuran bersama yang pasti”. Konsep yang diciptakan oleh Donald Brennan dari Institut Hudson ini menyebutkan bahwa dua negara yang sama-sama memiliki kemampuan nuklir tidak akan berperang satu sama lain, selama mereka meyakini bahwa jika pihak mereka memulai perang nuklir, maka akan terjadi kehancuran bersama dengan musuhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Atau dalam kata lain, masing-masing pihak tidak meyakini bahwa ada solusi kemenangan atau cara meminimalisir kehancuran yang diterima dari perang tersebut. Hal ini membuat masing masing pihak berusaha menjaga posisinya, karena tidak ada pihak yang mau untuk menanggung beban itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Penangkalan dan pencegahan dari perang tersebut juga bisa dijelaskan lewat teori<em> nuclear deterrence</em>. Teori ini menyebutkan bahwa setiap negara berusaha mencapai kemajuan terbatas untuk membuat negara lain mengurungkan niatnya untuk menyerang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini akan berlangsung berulang-ulang, dan bergantian, selama masing-masing pihak berada dalam tekanan dan ancaman secara terbatas oleh pihak lawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dapat kita lihat, selama periode <em>nuclear arms race </em>di Perang Dingin, tidak pernah terjadi perang secara langsung antar negara <em>great power</em>. Hal itu juga berlanjut hingga saat ini. Meski beberapa kali bersitegang, baik antara AS dan Rusia, maupun AS dan Tiongkok, dan antar negara <em>great power</em> lainnya, tidak pernah terjadi perang secara terbuka di antara keduanya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski mulai berkembangnya perang proksi, tapi tentu itu “lebih baik” dibandingkan perang dunia atau perang terbuka antara negara-negara kuat secara langsung, yang bisa mempengaruhi aspek ekonomi, politik dan aspek lainnya di seluruh dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentu tidak pernah ada kata baik yang dapat didefinisikan secara harfiah jika membahas masalah perang dan konflik antara negara. Namun, meski begitu kita masih bisa mendapat definisi dari kata “lebih baik”, yang meskipun tidak sempurna, tapi “<em>better” </em>dibanding kondisi zaman dahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dulu, mungkin perang didominasi karena alasan pribadi elite-elite kerajaan dan negara, dan “harga nyawa” dalam perang terasa begitu murah bagi para elite. Kini, tidak pernah terjadi perang dalam konteks serupa karena konektivitas dan perkembangan suara rakyat di banyak negara. Semoga saja rakyat bisa terus jadi penahan akan terjadinya perang baru. (R87)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe loading="lazy" title="Perang Vietnam Meletus “Gara-gara&quot; Indonesia?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/MElEuYeAaLw?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" allowfullscreen></iframe>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-22-1024x755.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Oppenheimer, Pengingat Dosa Besar Paman Sam?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/oppenheimer-bayangan-kelam-paman-sam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Jul 2023 11:01:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[bom atom]]></category>
		<category><![CDATA[Oppenheimer]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Dunia 2]]></category>
		<category><![CDATA[politik internasional]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=132074</guid>

					<description><![CDATA[Film Oppenheimer baru saja rilis di Indonesia. Bagaimana kita bisa memaknai pesan sosial dan politik di balik film yang sangat diantisipasi tersebut?&#160; PinterPolitik.com  &#8220;Might does not make right.&#8221; &#8211; T. H. White Buat kalian para penggemar film, pastinya kalian sudah tidak sabar menonton karya terbaru dari sutradara kondang, Christopher Nolan, yang berjudul Oppenheimer. Dan memang, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Film Oppenheimer baru saja rilis di Indonesia. Bagaimana kita bisa memaknai pesan sosial dan politik di balik film yang sangat diantisipasi tersebut?</strong>&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a rel="noreferrer noopener nofollow" href="http://www.pinterpolitik.com/" target="_blank">PinterPolitik.com</a> </p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Might does not make right.&#8221; &#8211; T. H. White</p>
</blockquote>



<p class="wp-block-paragraph">Buat kalian para penggemar film, pastinya kalian sudah tidak sabar menonton karya terbaru dari sutradara kondang, Christopher Nolan, yang berjudul Oppenheimer. Dan memang, baru saja rilis beberapa hari, banyak yang sudah berpandangan film yang berdurasi tiga jam tersebut adalah film terbagus&nbsp;sepanjang tahun 2023 ini.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak heran, Oppenheimer memang membawa premis yang sangat menarik untuk ditampilkan dalam layar lebar, yakni kisah kehidupan&nbsp;sosok yang sering dijuluki sebagai “Bapak Bom Atom”, J. Robert Oppenheimer. Buat kalian yang belum terlalu <em>familiar</em>, Oppenheimer adalah seorang fisikawan yang mengepalai tim penelitian dan pengembangan Proyek Manhattan, proyek yang membuat Amerika Serikat (AS) menjadi negara pertama yang menggunakan bom atom dalam peperangan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kalian suka buka YouTube, mungkin kalian pernah berpapasan dengan video <em>interview </em>Oppenheimer dari kanal PlenilunePictures, yang mengatakan betapa dirinya sangat menyesali hasil risetnya digunakan untuk senjata pemusnah massal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, makna film <em>Oppenheimer </em>tentu tidak hanya&nbsp;tentang personalitas Oppenheimer-nya saja. Bagi para penyuka sejarah dan politik internasional, film <em>Oppenheimer </em>juga bisa menjadi jendela pembuka pandangan terhadap&nbsp;realita yang menjadi latar belakang bagaimana negara adidaya seperti AS akhirnya memutuskan menggunakan senjata pemusnah massal.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya, hal tersebut juga berlaku bagi masyarakat AS sendiri, karena penggunaan bom-bom atom pertama, yakni <em>Little Boy</em> dan <em>Fat Man,</em> sempat menjadi inti perdebatan dilematis di antara masyarakat Negeri Paman Sam. Bagi mereka yang sangat menentang peperangan, bom atom yang diciptakan Oppenheimer bersama timnya adalah simbol kejahatan dunia, sementara bagi mereka yang mendukung kemenangan AS dalam Perang Dunia II (PD II), bom atom adalah hal yang justru dibutuhkan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sini, kehadiran film <em>Oppenheimer </em>itu sendiri sebetulnya bisa menjadi bahan perbincangan yang menarik. Mungkinkah populernya film tersebut sebetulnya menjadi indikasi bahwa bom Hiroshima dan Nagasaki selalu menjadi dosa besar yang disesali AS, atau justru adalah dosa yang mereka “banggakan”?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1080" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15.png" alt="image 15" class="wp-image-132077" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-1068x1068.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-15-420x420.png 420w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dua Sisi Koin Oppenheimer</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Secara resmi, pernyataan pembelaan penggunaan bom atom oleh pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Harry S. Truman adalah mereka perlu melakukannya karena tidak ada pilihan lain. Akan tetapi, argumen yang awalnya dipopulerkan oleh pernyataan pers mantan Menteri Pertahanan (Menhan), Henry Stimson tersebut ternyata memiliki sejarah kelam.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika ditanya tentang kenapa pemerintah memutuskan membom pemukiman sipil&nbsp;Jepang, Stimson menyebutkan bahwa bila AS mengirim pasukan ke Jepang untuk mendudukinya, pemerintah setidaknya perlu mengorbankan satu juta prajurit yang tewas. Oleh karena itu, berdasarkan pemikiran yang lama (katanya), dibandingkan dengan mengorbankan banyak nyawa pemuda AS, pemerintah akhirnya secara berat hati memutuskan mengirim bom nuklir buatan Oppenheimer dan kawan-kawan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Rufus E. Miles, Jr., dalam tulisannya <em>Hiroshima: The Strange Myth of Half a Million American Lives Saved</em>, menyebutkan bahwa seseorang yang bernama Mac Bundy, yang menjadi penulis hantu dari skrip yang dibacakan Stimson, mengatakan kalau angka perkiraan satu juta prajurit AS yang akan mati itu adalah&nbsp;angka yang dibuat secara mengada-ngada.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih mirisnya lagi, sebuah film dengan judul <em>The Beginning or the End</em>, yang sebenarnya adalah propaganda AS dalam menjustifikasi bom atomnya, menceritakan bahwa pemerintah AS beberapa hari sebelum menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki sudah menjatuhkan ribuan pamflet ke kota-kota tersebut agar para warga sipil bisa diungsikan. Akan tetapi, Alex Wellerstein, seorang ahli nuklir yang juga mempelajari sejarah Proyek Manhattan, mengungkapkan bahwa pemerintah AS tidak pernah melakukan itu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal-hal di atas bisa sedikit membuktikan bahwa meskipun dalam catatan sejarah AS sering dicitrakan sebagai negara yang menyesal karena perlu menjatuhkan bom atom, dalam kenyataannya, bisa jadi penyesalan tersebut hanya diekspresikan agar tidak terjadi penolakan besar-besaran oleh masyarakat AS yang pro-perdamaian. Sementara itu, tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan AS untuk membom Hiroshima dan Nagasaki &#8211; yang menewaskan lebih dari 150.000 warga sipil – adalah sebuah dosa besar yang selama puluhan tahun dicoba ditutupi melalui ucapan-ucapan manis.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Oleh karena itu, tidak heran bila hingga saat ini terdapat semacam belahan sosial di masyarakat AS tentang pengeboman bom atom. Di satu sisi, Oppenheimer dan timnya bisa dianggap sebagai sosok pahlawan yang berhasil berkontribusi dalam pengakhiran perang, akan tetapi, hal itu tetap tidak bisa menutupi fakta bahwa pada momen bersejarah tersebut pemerintah AS rela membunuh banyak orang tidak bersalah hanya untuk membuat pernyataan pada dunia bahwa mereka adalah negara paling kuat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan memang, hampir 80 tahun setelah peristiwa itu terjadi, publik di AS mengalami pergeseran opini tentang moralitas penggunaan bom atom di Jepang. Sesuai survei yang dilakukan Pew Research Center pada tahun 2015, jumlah warga yang menyetujui bom atom di Jepang telah turun menjadi 57 persen, dari 85 persen pada tahun 1945.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisa jadi, fenomena ini adalah indikasi dari apa yang disebut sebagai <em>collective regret</em> atau penyesalan kolektif. Sosiolog Maurice Halbwachs dalam bukunya <em>The Collective Memory</em>, menyebutkan bahwa suatu peristiwa sejarah akan memiliki memori kolektif yang kemudian mampu membentuk opini publik. Jika peristiwa tersebut memiliki sejarah yang kelam, maka seiring waktu masyarakat pun akan berusaha membetulkan memori kolektif tersebut dengan menciptakan tren penyesalan di masyarakat. Salah satunya adalah melalui media populer seperti film dan <em>video game</em>. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, dengan demikian, bisa kita katakan bahwa munculnya film Oppenheimer&nbsp;adalah salah satu bukti dari berjalannya progres koreksi memori kolektif di AS. Film tersebut bisa sangat diantisipasi karena secara alam bawah sadar warga AS, dan mungkin juga dunia, ingin ada perspektif yang bisa menunjukkan bahwa AS sebenarnya perlu menyesali tindakannya dalam membunuh ratusan ribu warga Jepang yang tidak bersalah.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, bagaimana bila kita mencoba melihat fenomena <em>collective regret</em> ini dari kacamata politik yang objektif?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16.png" alt="image 16" class="wp-image-132078" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16-696x696.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/image-16-420x420.png 420w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ambiguitas Moralitas</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Satu hal yang menarik tentang <em>collective memory</em> dan <em>collective regret </em>adalah seiring waktu dinamikanya bisa sangat radikal.&nbsp;Saat ini mungkin kita dan warga AS bisa ramai-ramai menghardik keputusan di balik penjatuhan bom atom di Jepang. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi,&nbsp;di dalam masa perang, standar moralitas sangat berbeda dengan ketika masa damai. Moralitas hanyalah hak istimewa bagi mereka yang menilainya dari kejauhan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, bila kita berusaha menarik satu kesimpulan di balik pesan yang coba disampaikan oleh film <em>Oppenheimer</em>, maka sepertinya hal itu bukanlah tentang salahnya keputusan AS dalam menjatuhkan bom atom, melainkan betapa ngerinya suatu negara bila mereka merasa eksistensial dirinya terancam.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam studi Hubungan Internasional, kita mengenal apa yang disebut sebagai teori realisme. Teori ini menjelaskan bahwa di balik segala perundingan politik yang dilaksanakan para pemimpin, kekuatan dan harga diri negara tetap menjadi hal yang terpenting. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, jika harus mengorbankan&nbsp;ratusan ribu warga yang tidak bersalah, tidak hanya AS, tapi negara-negara lain di dunia ini juga pasti akan rela melakukannya bila dihadapkan pada sesuatu yang bisa mengancam kedaulatannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, ketika kalian nantinya menonton film Oppenheimer, besar harapannya film tersebut akan semakin menyadarkan kalian untuk menghargai masa-masa perdamaian. Karena dengan sistem kehidupan yang seperti ini, di mana segala halnya bisa sangat diatur oleh negara, jika nantinya suatu peperangan pecah, tidak ada jaminannya kita tidak akan bernasib sama seperti para warga Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. (D74)&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/07/oppenheimer-dosa-as.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
