<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Oknum Guru &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/oknum-guru/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Nov 2017 09:14:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Oknum Guru &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Guru Apa Tukang Gebuk?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/terkini/guru-apa-tukang-gebuk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A27]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Nov 2017 09:14:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Kekerasan]]></category>
		<category><![CDATA[Oknum Guru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=15791</guid>

					<description><![CDATA[Kalau menghajar murid sampai babak belur berakhir damai, lantas apa guna RUU Perlindungan Anak, dong? PinterPolitik.com  [dropcap]B[/dropcap]eberapa hari belakangan, video oknum guru main gebuk murid sedang ramai sekali dibahas. Menurut keterangan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), oknum guru itu kesal, sebab si murid memanggil namanya tanpa sapaan, ‘Pak’. Singkat cerita, kasus ini berakhir damai. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h3><strong>Kalau menghajar murid sampai babak belur berakhir damai, lantas apa guna RUU Perlindungan Anak, dong?</strong></h3>
<hr />
<p><span style="color: #cedb00;"><strong>PinterPolitik.com </strong></span></p>
<p>[dropcap]B[/dropcap]eberapa hari belakangan, video oknum guru main <em>gebuk</em> murid sedang ramai sekali dibahas. Menurut keterangan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), oknum guru itu kesal, sebab si murid memanggil namanya tanpa sapaan, ‘Pak’.</p>
<p>Singkat cerita, kasus ini berakhir damai. Apa masalah ikutan selesai dan tiap orang bisa tidur nyenyak? Hm, belum tentu. Kalau kasus berakhir begitu saja, lalu keadilan buat pelaku aniaya dan perlindungan buat murid yang babak belur, dimana?</p>
<p>Bagi para netizen budiman dan sholeh sholehah, kekerasan yang dilakukan oknum guru itu tak bisa dipandang benar apalagi diwajarkan, <em>lho.</em> Ya, anak muridnya memang <em>songong</em>, tapi apakah dia pantas dihajar bertubi-tubi seperti sak tinju karena <em>songongnya</em>? Tentu saja tidak. Mendidik itu bukan berarti bebas main <em>gebak gebuk</em>, kalau begitu <em>mah </em>namanya sudah kekerasan.</p>
<figure id="attachment_15792" aria-describedby="caption-attachment-15792" style="width: 624px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-15792 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628841_gettyimages-485067013.jpg" alt="" width="624" height="351" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628841_gettyimages-485067013.jpg 624w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628841_gettyimages-485067013-300x169.jpg 300w" sizes="(max-width: 624px) 100vw, 624px" /><figcaption id="caption-attachment-15792" class="wp-caption-text">para siswa (sumber: BBC Indonesia)</figcaption></figure>
<p>Tapi, aksi Pak Guru mungkin baru benar kalau <em>bliyo </em>mengajar di Perguruan Silat Tapak Putih atau Perguruan Hokage. Sebab memang tugasnya mengajar trik cantik bela diri. <em>Lha,</em> tapi kan ini si Pak Guru adalah pengajar matematik.</p>
<p>Si anak murid yang kena bogem itu <em>boro-boro</em> punya kesempatan membela dirinya, belum sempat kedip dia dihujani tamparan, tinju, bahkan diseret kakinya. Ini <em>mah</em>, sudah pas masuk salah satu episode <em>pilot</em> untuk <em>Smackdown</em>.</p>
<p>Asal saudara-saudara sekalian tahu, nieh. Kasus kekerasan di sekolah itu lumayan tinggi, <em>lho</em>. Bahkan ada bahasa gaulnya, <em>hidden case</em>. Tapi sayang, kasusnya tak pernah lanjut ke proses hukum dan selalu damai. Damai ini tak selalu selaras dengan keindahan, saudara-saudara. Kenyataan memang berbeda dengan lagu-lagu Anang. Kalau kasus <em>bak,buk,bak,buk</em> dalam dunia pendidikan diakhiri perdamaian, tanpa ada hukuman apalagi evaluasi bagi pelaku, namanya bukan kedamaian, tapi pemakluman. Percayalah, saudara, memaklumi kekerasan tak ada faedahnya.</p>
<p>Pak Guru perlu dapat penilaian ulang, masih pantaskah <em>bliyo</em> mengajar. Kalau Pak Guru tak menderita gangguan jiwa apapun, berarti perlakuannya itu sudah termasuk pelanggaran hukum. Nah, muridnya yang <em>songong</em> ini, juga patut dapat perlindungan. Habis, kalau damai, lantas apa gunanya menteri dan Pemerintah capek-capek bikin RUU Perlindungan Anak?</p>
<p>Bagi para saudara-saudara dan generasi jaman <em>now</em> yang masih mempersoalkan <em>songong</em> dan norma si murid, sekarang yuk mari kita merenung sebentar. Apa sih gunanya bergerak ke arah pembangunan yang lebih baik, kalau metode tinju ala Naruto masih saja dipakai di dunia pendidikan? Ada lho cara yang lebih <em>enteng</em> dan tak perlu keluar tenaga. Yaitu, tanya si murid kenapa dia melanggar etika dan norma.</p>
<p>Wah, berarti harus berani buka hati dan pikiran, dong? Nah, itulah. Tak gampang memang, saudara. (A27)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/11/98628777_gettyimages-484756455.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
