<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Noise &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/noise/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Dec 2019 10:57:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Noise &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Billy Mambrasar dan Kebisingan Politik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/billy-mambrasar-dan-kebisingan-politik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Dec 2019 11:00:25 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kabinet Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Noise]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Milenial]]></category>
		<category><![CDATA[staf khusus]]></category>
		<category><![CDATA[Staf Khusus Presiden]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=69974</guid>

					<description><![CDATA[Setelah beberapa waktu menjabat, beberapa Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tergolong dalam kelompok usia milenial telah membuat sebuah gebrakan. Terkait dengan hal itu, setelah mengadakan rapat mengenai program penanaman nilai-nilai Pancasila, Gracia Billy Mambrasar – salah satu stafsus milenial Jokowi – menjadi buah bibir di masyarakat. PinterPolitik.com “You fu**ing with my emotions. The [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Setelah beberapa waktu menjabat, beberapa Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tergolong dalam kelompok usia milenial telah membuat sebuah gebrakan. </strong><strong>Terkait dengan hal itu, setelah</strong> <strong>mengadakan rapat mengenai program penanaman nilai-nilai Pancasila, Gracia Billy Mambrasar – salah satu stafsus milenial Jokowi – menjadi buah bibir di masyarakat.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<blockquote class="td_quote_box td_box_center"><p>“You fu**ing with my emotions. The f**k is all this noise about?” – Tyler, The Creator, penyanyi rap asal Amerika Serikat</p></blockquote>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>residen Joko Widodo (Jokowi) bisa jadi ingin menciptakan gebrakan-gebrakan baru dalam bekerja. Beberapa waktu lalu, mantan Wali Kota Solo tersebut mengungkapkan wajah-wajah para Staf Khusus Kepresidenan yang muda dan baru.</p>
<p>Sambil melakukan pengumuman, Jokowi dan sosok-sosok muda tersebut duduk di <em>beanbag</em>-nya masing-masing. Satu per satu figur-figur milenial itu diperkenalkan oleh presiden kepada para awak media.</p>
<p>Beberapa minggu setelah diangkat, para stafsus milenial mulai tampak bekerja. Pemuda dan pemudi tersebut telah melakukan rapat guna membuat inovasi dan program tertentu, khususnya dalam hal penanaman dan pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550" data-dnt="true">
<p lang="in" dir="ltr">Assalamualaikum dan salam sejahtera utk kita <a href="https://t.co/WV0erriWQC">https://t.co/WV0erriWQC</a> pertama-tama memohon maaf atas kesalah pahaman yg muncul krn salah satu cuitan sy yg menggunakan kata yg menimbulkan multitafsir,  yaitu kata: &quot;Kubu&quot;&#8230;. <a href="https://t.co/UztEEunXkM">https://t.co/UztEEunXkM</a></p>
<p>&mdash; Billy Mambrasar (@kitongbisa) <a href="https://twitter.com/kitongbisa/status/1200950735334068224?ref_src=twsrc%5Etfw">December 1, 2019</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Mungkin, saking girangnya bekerja, beberapa stafsus milenial ini melakukan <em>update</em> di media sosial. Belva Devara – pendiri dan CEO Ruangguru – misalnya, mendedikasikan progres kerjanya dalam <a href="https://twitter.com/AdamasBelva/status/1200713123755261952/" rel="nofollow"><strong>sebuah utasan</strong></a> yang panjang di akun Twitternya.</p>
<p>Selain Belva, Gracia Billy Mambrasar – pendiri Yayasan Kitong Bisa – juga tampak sangat bersemangat. Stafsus milenial yang berasal dari Papua ini turut mencuitkan aktivitasnya.</p>
<p>Mungkin, sebagai stafsus milenial, Belva dan Billy ingin menyampaikan bahwa mereka juga bekerja untuk masyarakat di tengah-tengah polemik fungsi dan gaji stafsus milenial yang terbilang cukup besar. Cuitan mereka bisa jadi penting dengan <a href="https://www.pewsocialtrends.org/2010/02/24/millennials-confident-connected-open-to-change/" rel="nofollow"><strong>karakteristik ekspresi diri</strong></a> yang memang banyak ditemukan di generasi milenial.</p>
<p>Namun, ekspresi diri melalui cuitan ini tampaknya kini menimbulkan polemik. Cuitan Billy misalnya, dianggap memecah-belah dengan frase-frase seperti “kubu sebelah”.</p>
<p>Sontak, banyak pihak lain akhirnya mempermasalahkan fungsi stafsus milenial Jokowi. Di Twitter misalnya, dengan adanya narasi yang memecah-belah dalam cuitan Billy, para warganet mempertanyakan para stafsus milenial dan meramaikan tagar <a href="https://twitter.com/search?q=%23StafsusRasaBuzzeRp/" rel="nofollow"><strong>#StafsusRasaBuzzeRp</strong></a>.</p>
<p>Merespons hal tersebut, Billy akhirnya meminta maaf atas cuitannya. Beberapa pihak – termasuk Jokowi – juga telah memaklumi tindakan Billy yang dianggap masih anak muda.</p>
<p>Namun, terlepas dari itu, gambaran apa yang terefleksikan oleh fenomena cuitan Billy ini di balik pemerintah? Apa dampak lanjutannnya pada masyarakat?</p>
<h4><strong>Salah Ucap?</strong></h4>
<p>Apa yang dilakukan Billy melalui cuitan-cuitannya bisa jadi merupakan bentuk komunikasi pemerintah pada publik. Meski begitu, cuitan tersebut bisa saja malah menjadi <em>noise</em> (kebisingan) yang dapat mengganggu komunikasi.</p>
<p>John Velentzas dan Georgia Broni dari Yunani dalam <a href="https://pdfs.semanticscholar.org/da4e/69265653057d6f03fdc4ce3692b4e6923a0f.pdf"><strong>tulisan mereka</strong></a> yang berjudul <em>Communication Cycle</em> menjelaskan bahwa komunikasi dilakukan untuk menyalurkan informasi melalui pertukaran pemikiran, pesan, atau informasi itu sendiri via lisan, visual, sinyal, tulisan, atau perilaku. Dalam siklus komunikasi, terdapat tiga komponen, yakni pengirim pesan, pesan itu sendiri, dan penerima pesan.</p>
<p>Dalam siklus komunikasi, pengirim pesan akan melalukan proses <em>encoding </em>terhadap pesan yang disalurkannya. Di sisi lain, penerima pesan akan melalukan <em>decoding</em> terhadap pesan yang didapatkannya.</p>
<hr /><p><em>Salah satu bentuk hambatan dalam komunikasi adalah noise (kebisingan). Hambatan semacam ini dapat mendistorsi atau memengaruhi makna inti pesan yang disampaikan.</em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Fbilly-mambrasar-dan-kebisingan-politik%2F&#038;text=Salah%20satu%20bentuk%20hambatan%20dalam%20komunikasi%20adalah%20noise%20%28kebisingan%29.%20Hambatan%20semacam%20ini%20dapat%20mendistorsi%20atau%20memengaruhi%20makna%20inti%20pesan%20yang%20disampaikan.&#038;related' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr />
<p>Cuitan Billy beberapa waktu lalu dapat tergolong dalam komunikasi eksternal – yakni ditujukan pada pihak di luar organisasi atau institusinya. Velentzas dan Broni menjelaskan bahwa komunikasi semacam ini dapat dilakukan melalui berbagai medium, seperti internet dan media sosial.</p>
<p>Namun, dalam siklus komunikasi, tantangan dan hambatan biasanya juga menyertai. Radhika Kapur dari University of Delhi dalam <a href="https://www.researchgate.net/publication/323794732_Barriers_to_Effective_Communication"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Barriers to Effective Communication</em> menjelaskan bahwa hambatan akan selalu mengikuti proses komunikasi, terlepas sebaik apa sistem komunikasi yang dimiliki.</p>
<p>Salah satu bentuk hambatan dalam komunikasi adalah <em>noise </em>(kebisingan). Hambatan semacam ini dapat mendistorsi atau memengaruhi makna inti pesan yang disampaikan. Kebisingan dapat terjadi dalam dua bentuk, yakni kebisingan fisik (<em>physical noise</em>) dan kebisingan psikologis (<em>psychological noise</em>).</p>
<p>Jika kebisingan fisik dapat dihasilkan oleh suara-suara seperti orang-orang lain yang tengah berbicara, musik, mesin kendaraan bermotor, dan lain-lain, kebisingan psikologis lebih dihasilkan oleh pengirim pesan (atau <em>encoder</em>) itu sendiri. Valentzas dan Broni menjelaskan bahwa kebisingan psikologis berasal dari gagasan-gagasan yang didasarkan pada prasangka.</p>
<p>Stereotip, bias, dan asumsi biasanya akan menimbulkan kebisingan komunikasi dalam bentuk psikologis. Akibatnya, perhatian penerima pesan akan teralihkan pada kebisingan ini daripada kepada pesan utamanya.</p>
<p>Kebisingan yang tercipta dari cuitan Billy ini bisa jadi disebabkan oleh adanya kesalahan ucapan – biasa disebut sebagai <em>infelicitous talk</em>. Ian Hutchby dari University of Leicester dalam <a href="https://doi.org/10.1075/jlp.15.6.01hut"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>Infelicitous Talk</em> menjelaskan bahwa ucapan-ucapan seperti dapat dipahami sebagai ucapan yang diungkapkan oleh politisi atau pejabat dalam ruang publik (<em>public sphere</em>) yang dianggap salah dan keliru.</p>
<p>Kesalahan ucapan seperti itu biasanya akan dianggap sebagai hal yang problematis bagi publik dan media. Melalu berbagai medium, ucapan itu akan disebarkan dan diinterpretasikan sehingga menimbulkan kontroversi di publik.</p>
<p>Lantas, apa dampak kebisingan ini terhadap dinamika diskursus politik? Bagaimana kebisingan politik terbentuk?</p>
<h4><strong>Kebisingan Politik</strong></h4>
<p>Dalam politik, kebisingan komunikasi ini juga sering kali terjadi. Bisa jadi, kebisingan politik sebenarnya juga tidak diinginkan oleh masyarakat.</p>
<p>Justin Patch dalam <a href="https://www.jstor.org/stable/41179250"><strong>tulisannya</strong></a> yang berjudul <em>The Art of Noise</em> – dengan membandingkan dengan produksi suara yang dibangun dalam musik-musik orkestra – menjelaskan bahwa kebisingan politik terbangun dalam opini publik dari retorika-retorika politik. Sensasi-sensasi politik seperti kebisingan, retorika, dan emosi dapat berdampak pada masyarakat – seperti dengan mengubah persepsi mereka, pemaknaan (<em>reception</em>), hingga hubungan sosial di antara mereka.</p>
<blockquote class="instagram-media" data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink="https://www.instagram.com/p/B5kfGMeDbgI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" data-instgrm-version="12" style=" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:658px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);">
<div style="padding:16px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B5kfGMeDbgI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;" target="_blank"> </p>
<div style=" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;">
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;"></div>
</div>
</div>
<div style="padding: 19% 0;"></div>
<div style="display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;"><svg width="50px" height="50px" viewBox="0 0 60 60" version="1.1" xmlns="https://www.w3.org/2000/svg" xmlns:xlink="https://www.w3.org/1999/xlink"><g stroke="none" stroke-width="1" fill="none" fill-rule="evenodd"><g transform="translate(-511.000000, -20.000000)" fill="#000000"><g><path d="M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631"></path></g></g></g></svg></div>
<div style="padding-top: 8px;">
<div style=" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;"> View this post on Instagram</div>
</div>
<div style="padding: 12.5% 0;"></div>
<div style="display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;">
<div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;"></div>
<div style="background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);"></div>
</div>
<div style="margin-left: 8px;">
<div style=" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)"></div>
</div>
<div style="margin-left: auto;">
<div style=" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);"></div>
<div style=" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);"></div>
<div style=" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);"></div>
</div>
</div>
<p></a> </p>
<p style=" margin:8px 0 0 0; padding:0 4px;"> <a href="https://www.instagram.com/p/B5kfGMeDbgI/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#000; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none; word-wrap:break-word;" target="_blank">Cuitan stafsus Gracia Billy Mambrasar timbulkan polemik.⠀ ⠀ Simak artikel selengkapnya di https://pinterpolitik.com/⠀ ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #politikluarnegeri #pinterpolitik</a></p>
<p style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;">A post shared by <a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading" style=" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px;" target="_blank"> PinterPolitik.com</a> (@pinterpolitik) on <time style=" font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px;" datetime="2019-12-02T12:30:06+00:00">Dec 2, 2019 at 4:30am PST</time></p>
</div>
</blockquote>
<p><script async src="//www.instagram.com/embed.js"></script></p>
<p>Apa yang dijelaskan oleh Patch ini bisa jadi turut menggambarkan kebisingan yang berasal dari kesalahan ucap dalam cuitan Billy. Apalagi, Billy bukanlah satu-satunya pejabat atau politisi yang melakukan <em>infelicitous talk</em>.</p>
<p>Ali Mochtar Ngabalin – Tenaga Ahli Deputi IV Kantor Staf Presiden – misalnya, dianggap kerap melontarkan pernyataan yang dianggap <em>blunder</em>. Pakar komunikasi Ade Armando pernah <a href="https://www.pinterpolitik.com/ade-armando-vs-ngabalin/"><strong>menyebutkan</strong></a> bahwa tudingan Ngabalin yang menganggap gerakan #2019GantiPresiden sebagai makar merupakan pernyataan yang dapat merugikan Presiden Jokowi – karena dianggap bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan sipil.</p>
<p>Selain Ngabalin, Kepala Staf Presiden Moeldoko juga dinilai kerap melontarkan pernyataan <em>blunder</em>. Mengenai <a href="https://tirto.id/yang-keliru-dari-pernyataan-moeldoko-soal-korban-karhutla-riau-eicd/" rel="nofollow"><strong>persoalan kebakaran hutan dan lahan</strong></a> yang terjadi beberapa bulan lalu di Riau misalnya, Moeldoko malah meminta masyarakat untuk bersabar atas musibah yang terjadi.</p>
<p>Kesalahan-kesalahan ucap oleh pejabat-pejabat pemerintah seperti ini bukan tidak mungkin turut berkontribusi pada kebisingan politik di masyarakat. Mengacu pada penjelasan Patch, retorika-retorika semacam ini juga membangun kebisingan.</p>
<p>Lantas, bagaimana dampaknya terhadap diskursus politik di masyarakat?</p>
<p>Seperti kebisingan fisik yang sempat disebutkan sebelumnya, kebisingan politik yang terakumulasi bisa saja menumpuk menjadi polusi suara (<em>noise pollution</em>) – istilah yang digunakan untuk menggambarkan dampak buruk kebisingan terhadap kesehatan – di masyarakat.</p>
<p>Boleh jadi, polusi suara yang berasal dari kebisingan politik dapat mengganggu ketenangan masyarakat. Pasalnya, <a href="https://lucian.uchicago.edu/blogs/mediatheory/keywords/noise/" rel="nofollow"><strong>dalam psikologi</strong></a>, kebisingan kerap diasosiasikan dengan kemarahan, ketegangan, kegugupan, dan kegelisahan.</p>
<p>Di sisi lain, polusi semacam ini boleh jadi terjadi karena adanya distorsi fokus masyarakat pada diskursus politik yang ada. Patch dalam tulisannya menjelaskan bahwa, sebesar atau sekecil apapun kebisingan yang ada, kebisingan selalu bertentangan dengan kejelasan (<em>clarity</em>).</p>
<p>Mungkin, seperti yang dijelaskan oleh Edward Antonio Rogers – pendiri konsultan komunikasi BGR Group – dalam <a href="https://www.washingtonpost.com/blogs/post-partisan/wp/2016/02/16/the-politics-of-noise/" rel="nofollow"><strong>tulisan opininya</strong></a> di Washington Post, kebisingan politik merupakan hal yang memang kerap mewarnai demokrasi di masa kini, seperti di Amerika Serikat (AS). Hal yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah bertahan dan tidak membiarkan kebisingan politik mengaburkan isu dan fokus utama dalam diskursus politik.</p>
<p>Namun, bukan tidak mungkin dampak kebisingan politik ini akan tetap terasa ke depannya. Seperti lirik <em>rapper </em>Tyler, The Creator di awal tulisan, makna dari kebisingan akan membuat emosi masyarakat terbawa, entah disengaja atau tidak disengaja. (A43)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="8wV75nPNy6c"><iframe title="Siapa Yang Cinta Indonesia?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/8wV75nPNy6c?start=8&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg" alt="" width="2916" height="376" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1.jpg 2916w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 2916px) 100vw, 2916px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/12/97521A06-EC7B-4F73-AC24-A5897326780C-1024x689.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rohingya, Signal atau Noise?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rohingya-signal-atau-noise/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H33]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Sep 2017 04:19:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Noise]]></category>
		<category><![CDATA[Rohingya]]></category>
		<category><![CDATA[Signal]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=13595</guid>

					<description><![CDATA[Sejumlah nama tenar turun gunung pada Aksi Bela Rohingya. Tak hanya menunjukkan simpati, mereka juga ambil panggung untuk mengritik pemerintah. PinterPolitik.com [dropcap size=big]A[/dropcap]ksi Bela Rohingya pekan lalu membuka mata banyak orang. Tidak hanya dari jumlah massa yang turun, tetapi juga tokoh yang bergabung. Sejumlah tokoh dengan nama mentereng turut hadir dalam aksi yang digalang oleh [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Sejumlah nama tenar turun gunung pada Aksi Bela Rohingya. Tak hanya menunjukkan simpati, mereka juga ambil panggung untuk mengritik pemerintah.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]A[/dropcap]ksi Bela Rohingya pekan lalu membuka mata banyak orang. Tidak hanya dari jumlah massa yang turun, tetapi juga tokoh yang bergabung. Sejumlah tokoh dengan nama mentereng turut hadir dalam aksi yang digalang oleh kelompok Muslim tersebut.</p>
<p>Tidak hanya ikut bersimpati terhadap <a href="https://pinterpolitik.com/rebutan-migas-derita-rohingya/">kasus Rohingya</a>, tokoh-tokoh tersebut juga menggunakan momen tersebut untuk melakukan kritik terhadap pemerintahan Jokowi. Nama-nama seperti Prabowo Subianto atau Amien Rais yang semula bersembunyi kini turun gunung mengkritik pemerintah melalui isu Rohingya.</p>
<p>Nyaris semua pihak yang berseberangan dengan pemerintahan Jokowi bersuara lantang terkait dengan Rohingya. Apakah ini hanya bising biasa ataukah sebuah sinyal tantangan?</p>
<h4>Bantuan Pemerintah untuk Rohingya</h4>
<p>Pemerintahan Jokowi berada dalam posisi yang serba salah. Saat pertama kali meletus kontak senjata antara militer Myanmar dan kelompok Rohingya Agustus lalu, banyak pihak meminta pemerintah bergerak cepat. Indonesia dianggap memiliki posisi strategis di ASEAN sehingga dapat membantu etnis di negara bagian Rakhine tersebut. Indonesia juga dianggap memiliki tanggung jawab moral menjaga perdamaian dunia sesuai dengan Pembukaan UUD 1945.</p>
<p>Hal tersebut direspons oleh pemerintah. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi terbang ke Myanmar untuk membahas isu ini bersama pemerintah Myanmar. Upaya negosiasi dilakukan pemerintah agar pemerintah Myanmar mau menurunkan aktivitas militernya kepada etnis Rohingya. Selain melakukan upaya yang bersifat diplomatik, bantuan lain juga dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk mengurangi penderitaan kelompok etnis tersebut.</p>
<p>Meski telah berupaya menjawab kritik, langkah pemerintah memberikan bantuan tetap menuai kritik. Berbagai kalangan menilai apa yang dilakukan belum maksimal. Ada yang menyebut bahwa pemerintah seharusnya menerjunkan prajurit untuk membantu menyelesaikan konflik. Beberapa yang lain menyebut pemberian bantuan tersebut tidak lain hanya upaya pencitraan.</p>
<h4>Bising (<em>Noise</em>) Soal Rohingya</h4>
<p>Media sosial telah dibuat ramai terlebih dahulu melalui isu Rohingya ini. Krisis di negara bagian Rakhine ini dilihat warganet sebagai konflik memilukan yang memerlukan bantuan segera. Warganet mengritik pemerintah yang dianggap tidak cukup responsif dalam isu ini. Kritik terhadap pemerintah dilontarkan juga terkait keputusan presiden yang mengutus Menlu alih-alih terjun langsung ke Myanmar.</p>
<p>Isu Rohingya juga seolah menjadi isu yang strategis bagi para politisi. Banyak politisi dari kalangan oposisi pemerintah menggunakan isu etnis asal Arakan ini sebagai bahan bakar kritik terhadap pemerintah. Nama seperti Fahri Hamzah mengritik Presiden Jokowi menggunakan isu ini. Ia menuliskan surat terbuka di akun twitter-nya untuk mengritik pemerintah. Hal serupa dilakukan oleh politisi Gerindra Fadli Zon. Ia menilai bantuan pemerintah tidak cukup maksimal dan seharusnya menjadi terdepan dalam membantu Rohingya.</p>
<p>Kritik tersebut mencapai puncaknya pada Aksi Bela Rohinya. Aksi yang dimotori oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan ormas-ormas Islam tersebut memberikan panggung bagi kritikus pemerintah. Nama-nama besar turun gelanggang dan berorasi sembari menuding pemerintah lemah dalam krisis kemanusiaan di tanah Arakan.</p>
<p>Prabowo Subianto mengatakan bahwa langkah pemerintah untuk mengirimkan bantuan ke tanah Rakhine saat ini tidak tepat. Langkah tersebut tidak lain hanya merupakan pencitraan pemerintahan saat ini. Ia menambahkan langkah yang seharusnya diambil adalah dengan membuat Indonesia menjadi negara yang disegani di dunia.</p>
<p>Eks Danjen Kopassus itu menilai bahwa bantuan kemanusiaan yang diberikan pemerintah tersebut kerap tidak nampak. Bantuan tersebut dituding seringkali tidak tiba di tujuan. Ucapan tersebut diungkapkan Prabowo untuk meredam emosi massa di Aksi Bela Rohingya.</p>
<p>Mantan Ketua MPR Amien Rais juga mengritik bahwa pemerintahan Jokowi bisa melakukan hal yang lebih baik terkait dengan Rohingya. Presiden dinilai perlu menghapuskan penjajahan atas Rohingya. Pemerintah memiliki tanggung jawab konstitusional dalam krisis kemanusiaan ini. Selain itu, Amien juga melontarkan kritik serupa dengan Prabowo. Ia menyebut bahwa langkah pemerintah memberikan perhatian terkesan minimal dan bergerak terlambat dalam isu ini.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550">
<p lang="in" dir="ltr">Amien Rais Bicara Cebong dan PKI di Aksi Bela Rohingya <a href="https://t.co/dD2I42RwN4">https://t.co/dD2I42RwN4</a> <a href="https://t.co/rj5v4CX8z2">pic.twitter.com/rj5v4CX8z2</a></p>
<p>&mdash; detikcom (@detikcom) <a href="https://twitter.com/detikcom/status/908963361781510144?ref_src=twsrc%5Etfw">September 16, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Selain soal Rohingya, Amien Rais juga menyempatkan mengritik pemerintah pada persoalan lain di aksi tersebut. Istilah-istilah seperti ‘kecebong’ dan juga ‘PKI’ yang kerap digunakan untuk menyudutkan Jokowi juga ia gunakan saat berorasi.</p>
<p>Sindiran juga dilontarkan oleh penyelenggara aksi yaitu Presiden PKS Sohibul Iman. Ia menyebut Indonesia seolah disindir oleh dunia internasional. Ia mengatakan bahwa pada isu Rohingya ini, Indonesia sebagai negara besar justru terlihat seperti anak kecil dengan pukulan yang kecil. Ia menambahkan Jokowi seharusnya dapat bersikap lebih aktif seperti Presiden Soekarno.</p>
<h4>Sinyal Sesuatu yang Lebih Besar?</h4>
<p>Bisa saja kritik terkait Rohingya ini tidak hanya bersifat ribut kecil atau <em>noise </em>belaka. Langkah-langkah para tokoh yang turun gunung ini bisa menjadi sinyal yang lebih besar. Isu ini dapat menjadi sebuah tanda bahwa tokoh-tokoh ini tengah menggalang kekuatan jelang 2019. Isu Rohingya dapat menjadi semacam senjata untuk melemahkan dan mengurangi suara Jokowi sebagai petahana jelang 2019.</p>
<p>Selain mengurangi keterpilihan petahana, strategi tersebut dapat menjadi cara untuk menaikkan citra orang yang melakukan kritik. Dengan menunjukkan kepedulian terhadap Rohingya, nama seperti Prabowo dapat meraup untung. Isu Rohingya merupakan isu yang amat emosional bagi kaum Muslim di Indonesia. Memberikan dukungan terhadap Rohingya dapat membuat Prabowo mengambil ceruk suara dari kalangan Muslim di Indonesia. Terlebih kelompok Muslim konservatif cenderung memilih posisi berseberangan dengan pemerintah berkuasa.</p>
<blockquote class="twitter-tweet" data-width="550">
<p lang="in" dir="ltr">Orasi dalam Aksi Bela Rohingya, Prabowo Sebut Indonesia Harus Disegani <a href="https://t.co/u1Ai0ZjlgM">https://t.co/u1Ai0ZjlgM</a></p>
<p>&mdash; Kompas.com (@kompascom) <a href="https://twitter.com/kompascom/status/908942031283675136?ref_src=twsrc%5Etfw">September 16, 2017</a></p></blockquote>
<p><script async src="https://platform.twitter.com/widgets.js" charset="utf-8"></script></p>
<p>Aksi bela Rohingya tersebut tidak hanya menjadi ajang unjuk kekuatan tetapi juga ajang unjuk kebisaan. Tokoh-tokoh oposan yang turun gunung tersebut mengemukakan apa yang bisa mereka lakukan dibandingkan dengan pemerintahan saat ini. Prabowo misalnya menyatakan bahwa ia mengetahui cara membuat Indonesia lebih kuat dan disegani di mata dunia melalui isu ini. Ia meyakinkan bahwa jika bangsa Indonesia menjadi kuat, maka Rohingya dan kaum lemah lain dapat dibantu. Ia juga menyebut jika bangsa Indonesia berkuasa, bangsa ini akan melindungi semua suku, agama, dan mampu memberi keamanan dan perdamaian.</p>
<p>Berkumpulnya tokoh-tokoh dan massa tersebut juga dapat menjadi sinyal lain. Kelompok-kelompok ini tengah menjalin hubungan dan memadukan kekuatan. Kelompok-kelompok tersebut semakin terhimpun dan menunjukkan taji. Polarisasi massa ini dapat memudahkan dan meluruskan jalan bagi kelompok oposisi ini dalam menyerang pemerintah. Selain itu, massa yang terhimpun ini juga dapat mempermudah pengumpulan massa jelang Pilpres 2019 nanti. Partai-partai non-pemerintah yaitu PKS dan Gerindra juga terlihat kian mesra melalui aksi ini. Kedua partai ini pamer kebersamaan melalui isu kemanusiaan di Myanmar ini.</p>
<p>Muncul dan bergabungnya nama-nama besar di Aksi Bela Rohingya perlu dilihat secara lebih dalam. Sepintas kelompok ini hanya ingin mengungkapkan kekecewaan pada pemerintah terkait langkah yang diambil pada krisis kemanusiaan Rohingya. Meski begitu, langkah ini bisa menjadi sinyal dari sesuatu yang lebih besar. Bisa saja ini bukan hanya bising (noise) tetapi langkah awal jelang 2019 nanti. Jadi, <em>noise </em>atau <em>signal</em>? (H33)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/09/101057-ribuan-massa-gelar-aksi-bela-rohingya-169-N3Z_highres-1024x682.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
