<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>moral pejabat &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/moral-pejabat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 24 Feb 2020 03:34:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>moral pejabat &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Distribusi Kekuasaan dan Degradasi Moral Elite</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/ruang-publik/distribusi-kekuasaan-dan-degradasi-moral-elite/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pinter Politik]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 24 Feb 2020 04:30:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Ruang Publik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[elite politik]]></category>
		<category><![CDATA[etika politik]]></category>
		<category><![CDATA[Moral]]></category>
		<category><![CDATA[moral pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=74390</guid>

					<description><![CDATA[Politik kekuasaan tidak dipungkiri biasanya akan selalu melibatkan pragmatisme – acap kali menimbulkan degradasi moral di antara para elite penguasa. Meski begitu, distribusi kekuasaan harus tetap dilandaskan pada etika dan penguatan civil society. PinterPolitik.com Menjadi seorang politikus rasanya sungguh menggiurkan. Profesi ini telah merebut hati banyak orang. Mulai dari orang-orang biasa saja, para investor, sampai [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>Politik kekuasaan tidak dipungkiri biasanya akan selalu melibatkan pragmatisme – acap kali menimbulkan degradasi moral di antara para elite penguasa. Meski begitu, distribusi kekuasaan harus tetap dilandaskan pada etika dan penguatan <em>civil society</em>.</strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;">PinterPolitik.com</span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">M</span>enjadi seorang politikus rasanya sungguh menggiurkan. Profesi ini telah merebut hati banyak orang. Mulai dari orang-orang biasa saja, para investor, sampai akademisi pun tak luput dari jerat jaringnya.</p>
<p>Maka tak heran, ketika demokrasi menjadi “panglima” dalam kehidupan bernegara akhir-akhir ini, politikus menjadi <em>euphoria massa.</em> Ketika konstitusi memberi peluang bagi berkembangnya demokrasi dan pesta demokrasi menjadi ajang kontestasi meraih kekuasaan, maka menjadi politikus adalah sebuah keniscayaan.</p>
<p>Boleh jadi, menjadi seorang politikus merupakan pekerjaan yang sesungguhnya mulia. Politikus bisa menjadi apa saja: Presiden/Wakil Presiden, Menteri, Anggota Dewan, Gubernur, Bupati, Walikota, bahkan Mahkamah Agung sekalipun. Artinya, seorang politikus bisa melintasi batas-batas kekuasaan seperti eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.</p>
<p>Kehidupan politikus tentu akan senantiasa dikaitkan dengan perilaku politik yang dilakukannya dalam mengemban tugas sebagai amanah rakyat. Kerap kali, panggung politik yang diperankan oleh para politikus membuat jemu masyarakat.</p>
<p>Mengapa? Perilaku politik yang diusung para politikus seringkali justru melukai hati konstituennya. Di samping janji-janji yang pernah ditepati, perilaku hedonis dan pragmatis tiba-tiba menyeruak ke permukaan tanpa ada rasa malu.</p>
<p>Para politikus yang tak meraih kekuasaan lewat hajatan demokrasi itu mempertontonkan kehidupan serba mewah dan berkelas. Amat kontras dengan kehidupan para jelata yang untuk urusan primer saja tidak mampu untuk memenuhi.Berbagai tindakan tidak “senonoh” yang dipertontonkan oleh elite politik menjadi cemooh tersendiri bagi dunia politik.</p>
<p>Perlombaan untuk mendahulukan kepentingan pribadi atau golongan dengan mengabaikan kepentingan umum atau kepentingan bersama, korupsi yang menggerogoti hampir semua elemen politik, serta berbagai perilaku tidak pantas lainnya yang didukung oleh kekuasaan politik tidak jarang mengundang sinisme yang pada gilirannya akan membuat citra politisi dipandang rendah.</p>
<p>Berbagai perilaku tidak pantas itu seakan menjadi antiklimaks moralitas politik yang ditanamkan oleh para pendiri bangsa (Udjan, 2008). Setiap politikus – baik sebagai elite partai, wakil rakyat, pejabat, maupun pemangku kebijakan publik lainnya – harus menjalankan politik yang santun, beretika, dan berintegritas.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul <em>Etika Politik</em>, Magnis Suseno (1987 :13) menyatakan bahwa etika berkaitan dengan refleksi moralitas yang berisi sekumpulan norma sebagai pegangan suatu komunitas atau masyarakat sehingga seluruh hidup dan laku tingkah laku manusia tidak merugikan satu sama lain. Oleh karena itu, etika adalah kumpulan nilai-nilai atau asas yang memungkinkan seseorang mengaktualisasikan diri sebagai manusia yang bermartabat dan beradab.</p>
<p>Dengan demikian, perilaku politik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah perilaku yang menampilkan kegiatan pelibatan dan keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan yang dibuat (oleh dan) bagi kehidupan bangsa dan negara. Terdapat pula pandangan bahwa perilaku politik adalah perilaku yang terdapat pada apa yang kita rumus artikan sebagai dunia politik dengan  segala tingkah dan polah yang terjadi di dalamnya.</p>
<h4><strong>Distribusi Kekuasaan Dalam Lanskap Demokrasi</strong></h4>
<p>Akhir-akhir ini, kita dipertontonkan dengan berbagai pertunjukan dan manuver elite penguasa. Sebagai bagian dari membangun komunikasi politik yang elegan tentu dimungkinkan bagi setiap petinggi partai politik. Oleh karena itu, politik adalah menasbihkan yang namanya <em>power sharing</em> dan koalisi menjadi wahana untuk menentukan sikap dan komitmen “apakah akan bersama-sama dalam satu “perahu” atau akan beralih pada “sampan” yang lain.”</p>
<p>Dan rasanya, gula kekuasaan tetap menjadi rebutan. Elite partai politik saling berhasrat untuk berada dalam lingkaran kekuasaan sebab menjadi bagian dari pemangku kebijakan adalah kesenangan dan kebanggaan dari sebuah partai politik.</p>
<p>Maka dari itu, pada akhirnya, koalisi tak lagi menjadi bagian dari tanggung jawab mereka untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang menghadang di depan mata. Akan tetapi, manuver-manuver ini hanya menjadi ajang pembagian “kue kekuasaan.”</p>
<p>Agregasi dan artikulasi kepentingan kian kuat dipertontonkan. Manuver untuk membentuk “poros” kekuatan tertentu menjadi bagian dari sebuah <em>bargaining power</em>. Kita tidak lagi melihat drama politik yang konstruktif guna memikirkan bagaimana negara ini akan dibangun demi terciptanya <em>bonum comune</em> di zaman yang semakin <em>edan</em> ini. Akan tetapi, politik diumbar hanya sebagai bentuk “dagang sapi”.</p>
<p>Kekuasaan didistribusikan oleh kedaulatan rakyat yang memilih elite politik untuk diberi amanah memimpin dan mengelola kekayaan negara. Namun, kemudian, jika nafsu berkecamuk dan dahaga kekuasaan dipertontonkan melalui sekat-sekat primordialisme, maka jangan harap rakyat dapat memperoleh mimpinya – berupa kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Distribusi kekuasaan semestinya bersandar pada komitmen kebangsaan dan kesejahteraan di atas segalanya. Kesatuan dan persatuan jangan lah hanya menjadi slogan yang hampa.</p>
<p>Walau pada dasarnya demokrasi membuka ruang untuk distribusi kekuasaan, kekuasaan itu sendiri akan cenderung terus bergerak ke arah konsentrasi kekuasaan. Dinamika capaian dan masa depan distribusi kekuasaan sangat lah bergantung pada sejumlah faktor.</p>
<p>Sebagaimana yang disampaikan oleh Antonius Doni Dihen – mantan Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Repulik Indonesia), pendistribusian kekuasaan, terjadi harus berlandaskan beberapa faktor.</p>
<p>Di antaranya adalah, <em>pertama</em>, kekuatan <em>civil society</em> yang tetap menjaga kekuatan, independensi, dan kemampuan kontrol kritisnya terhadap jalannya kekuasaan. Jika pilar-pilar <em>civil society </em>mampu menahan diri dari godaan kekuasaan jangka pendek, maka kita dapat melihat ada prospek distribusi kekuasaan.</p>
<p>Faktor<em> kedua</em> adalah aktivis dan politisi idealis yang mengambil realisme masuk ke dalam kekuasaan tetapi tidak membiarkan diri laut dan terhanyut dalam dinamika politik pragmatis. Faktor ini sangat riskan tetapi harapan ke sana tentu saja perlu terus dihidupkan.</p>
<p>Dan faktor<em> ketiga</em> adalah perkembangan kesadaran etis dari kalangan terbatas dilingkungan elite kekuasaan yang membatasi orientasi kekuasaan dan kapitalistiknya untuk tujuan-tujuan kemanunisiaan dan kesejahteraan banyak orang.</p>
<p><em>Ending </em>dari diskusi penulis dengan Dihen yang berfaedah ini adalah distribusi kekuasaan bukan sesuatu yang niscaya dalam sistem politik demokrasi. Ia membutuhkan kerja-kerja penyadaran dan advokasi yang sangat serius.</p>
<p>Oleh sebab itu, dalam kondisi politik yang tengah “galau” saat ini, kita harus menyelamatkan jantung demokrasi yang tengah sekarat. Penulis menaruh harapan, bahwa yang <em>pertama</em>, ada pada rakyat sebagai manifestasi suara Tuhan untuk tidak terjebak dalam permainan <em>pat gulipat</em> aktor politik.</p>
<p><em>Kedua, </em>juga terselip dalam kebesaran jiwa agar para pelaku politik untuk tidak membengkokkan yang sudah lurus. Dan, yang <em>ketiga</em>, kehadiran kekuatan <em>civil society </em>yang tak pernah lelah mengawal demokrasi.</p>
<p>Sebab, pada mulanya, politik itu adalah mulia. Baik politik sebagai ilmu, seni, aktivitas maupun institusi.</p>
<h5 style="text-align: right;"><strong>Tulisan milik Bapthista Mario Y. Sara, Aktivis PMKRI Cabang Kupang St. Fransiskus Xaverius.</strong></h5>
<hr />
<h6><strong><em>“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”</em></strong></h6>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <a href="http://bit.ly/ruang-publik"><strong>bit.ly/ruang-publik</strong></a> untuk informasi lebih lanjut.</p>
<p><a href="http://bit.ly/ruang-publik"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-large wp-image-61983" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg" alt="" width="696" height="90" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1024x132.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-300x39.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-768x99.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-696x90.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1068x138.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2019/07/TEMPLATE-WEB-BANNER-RUANG-PUBLIK_new-1-1920x248.jpg 1920w" sizes="(max-width: 696px) 100vw, 696px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/02/190924033221IMG_20190924_115532-1024x768.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Menanti Perbaikan Etika Pejabat Publik</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/menanti-perbaikan-etika-pejabat-publik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jan 2020 11:09:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[moral pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Pejabat Negara]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=71340</guid>

					<description><![CDATA[Deretan kasus pelanggaran etika politik di indonesia, Setya Novanto terkait pencatutan nama presiden Jokowi soal Freeport. Dan kemudian Zulkifli Hasan masih tempati kantor MPR RI dan rumah dinas, pelanggaran kode etik Firli Bahuri temui eks Gubernur NTB M.Zainul Madji]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01.jpg"><img decoding="async" class=" td-modal-image aligncenter wp-image-71329 size-full" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01.jpg" alt="pelanggaran etika politik di indonesia" width="768" height="925" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01-249x300.jpg 249w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01-696x838.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01-349x420.jpg 349w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></a></p>

<p>Deretan kasus pelanggaran etika politik di indonesia, Setya Novanto terkait pencatutan nama presiden Jokowi soal Freeport. Dan kemudian Zulkifli Hasan masih tempati kantor MPR RI dan rumah dinas, pelanggaran kode etik Firli Bahuri temui eks Gubernur NTB M.Zainul Madji</p>


<iframe type="text/html" width="560" height="315" src="https://www.youtube.com/embed/FvGuBgVeY6k?controls=0&#038;modestbranding=1&#038;disablekb=1&#038;cc_load_policy=1&#038;autoplay=1&#038;loop=1&#038;autohide=1&#038;fs=0" frameborder="0" allow="autoplay" ></iframe>



<p class="wp-block-paragraph"></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Infografis-Menanti-Perbaikan-Etika-Pejabat-Public-01.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>New Prabowo Kostum Baby Shark?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/belajar-politik/new-prabowo-kostum-baby-shark/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[G42]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2018 11:27:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Belajar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[moral pejabat]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=42298</guid>

					<description><![CDATA[“Kadang kumencoba, tegar menghadapi bodohnya dunia, masyarakat kita dan semuanya gila!” ~ Superman Is Dead, Cerita Semalam PinterPolitik.com [dropcap]K[/dropcap]ubu Prabowo-Sandiaga Uno memiliki sejumlah pekerjaan rumah untuk mendongkrak elektabilitas pasangan yang mereka usung. Mengingat dari rilis sejumlah lembaga survei, Prabowo-Sandi belum tertinggal jauh dari petahana. Founder lembaga survei Kedai Kopi Hendri Satrio memberi saran bagaimana caranya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4><strong>“Kadang kumencoba, tegar menghadapi bodohnya dunia, masyarakat kita dan semuanya gila!” ~ Superman Is Dead, <em>Cerita Semalam</em></strong></h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap]K[/dropcap]ubu Prabowo-Sandiaga Uno memiliki sejumlah pekerjaan rumah untuk mendongkrak elektabilitas pasangan yang mereka usung. Mengingat dari rilis sejumlah lembaga survei, Prabowo-Sandi belum tertinggal jauh dari petahana.</p>
<p>Founder lembaga survei Kedai Kopi Hendri Satrio memberi saran bagaimana caranya agar Prabowo mampu menyalip Jokowi. Salah satunya yakni dengan merubah gaya kostumnya Prabowo. Pasalnya, seragam safari yang selama ini dikenakan mantan Danjen Kopassus itu sudah digunakan sejak pilpres 2014.</p>
<p>Waduh! Gimana menurut kalian wahai para netizen? Emang dengan Prabowo menggunakan kostum <em>baby shark</em> misalnya, kalian bakal mau beralih memilih Prabowo? Atau gimana nih <em>gengs,</em> jelasin dong ke <em>eyke, </em>gagal paham nih. Emang pakaian bisa mempengaruhi kekuatan mata uang rupiah atau bisa merangsang padi dan kedelai tumbuh dengan subur ya? Sampai sebegitunya Hendri kasih saran ke Prabowo. <em>Wkwkwk.</em></p>
<p>Menurut Hendri, jika tidak ada perubahan, hal itu bisa membuat rakyat bosan memandang Prabowo. Komentar tersebut juga disertai dengan khayalan Hendri jika dirinya jadi timses Prabowo. Kata doi, hal pertama yang ia ganti dari Prabowo itu adalah kostum, jangan lagi putih, krem, cokelat. Kata doi orang bosen ngeliatnya, masa itu-itu lagi.</p>
<p><em>Anjay gurinjay</em> nih orang, ngeledek atau ngasih masukan sih? Kok keknya ngejek banget komentarnya ya <em>gengs.</em> Mungkin doi mau ngerasain tangannya mantan Danjen Kopassus nempel di pipi kali ya? <em>Wkwkwk,</em> sembarangan protes yang enggak jelas bisa bahaya loh. <em>Ckckck.</em></p>
<p>Harusnya kan Hendri komentarnya gini <em>gengs,</em> biar enggak buat Prabowo tersingung:</p>
<p>“Seandainya saya diberi kesempatan jadi tim suksesnya Prabowo-Sandi, hal yang pertama saya sarankan adalah meminta kepada Ratna Sarumpaet membujuk Prabowo ke klinik kecantikan untuk sedot lemak, biar kelihatan lebih seger lagi gitu! Kan bosan rakyat lihat Prabowo nggak kurus-kurus juga. <em>Slim is beautiful bray!</em>” <em>Wkwkwk.</em></p>
<p><hr /><p><em>Gimana gengs, sepakat atau enggak? Eh, ini bercanda loh, awas jangan diaduin ke Prabowo! Bisa-bisa tangannya doi malah nempel ke pipi eyke, bukannya Hendri! Wkwkwkwk.  </em><br /><a href='https://x.com/intent/tweet?url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fbelajar-politik%2Fnew-prabowo-kostum-baby-shark%2F&#038;text=Gimana%20gengs%2C%20sepakat%20atau%20enggak%3F%20Eh%2C%20ini%20bercanda%20loh%2C%20awas%20jangan%20diaduin%20ke%20Prabowo%21%20Bisa-bisa%20tangannya%20doi%20malah%20nempel%20ke%20pipi%20eyke%2C%20bukannya%20Hendri%21%20Wkwkwkwk.%20%20&#038;via=pinterpolitik&#038;related=pinterpolitik' target='_blank' rel="noopener noreferrer" >Share on X</a><br /><hr /></p>
<p>Intinya mah <em>gengs,</em> apa yang disampaikan Hendri terkait <em>The New</em> <em>Prabowo</em> tidak lah perlu dikait-kaitkan dengan kostum sebagai faktor penentu naik atau turunnya elektabilitas. Jika Hendri mengimani hal itu, sama saja dong doi menghina kita sebagai pemilih yang senangnya lihat kulit luar, dan milih tidak dengan hati dan pikirannya? Betul apa betul? (G35)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="3ipPC8jOmpo"><iframe loading="lazy" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/3ipPC8jOmpo?start=45&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2018/10/1807153037.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
