<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Mixue &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mixue/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 Apr 2023 08:39:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Mixue &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kenapa Kita Percaya Teori Konspirasi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-kita-percaya-teori-konspirasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2023 02:51:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[konspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Lato-lato]]></category>
		<category><![CDATA[Mixue]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=122478</guid>

					<description><![CDATA[Kemunculan tren lato-lato dan Mixue dihadapi sejumlah teori konspirasi yang cukup “liar”. Meski demikian, ada saja orang yang percaya dengan konspirasi-konspirasi itu. Kenapa manusia begitu mudah percaya konspirasi?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kemunculan tren lato-lato dan Mixue dihadapi sejumlah teori konspirasi yang cukup “liar”. Meski demikian, ada saja orang yang percaya dengan konspirasi-konspirasi itu. Kenapa manusia begitu mudah percaya konspirasi?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Demam permainan lato-lato menyerbu Indonesia layaknya sebuah virus. Yap, permainan dua buah bola plastik yang diikat dengan seutas tali tersebut mungkin kini dimainkan oleh jutaan orang dari seluruh penjuru Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring dengan semakin banyaknya pemain lato-lato, tiba-tiba saja muncul sebuah teori konspirasi yang cukup menggelitik, yakni ada yang melihat bahwa permainan tersebut adalah sebuah alat propaganda kaum Yahudi untuk “mencuci otak” orang-orang di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Argumen “unik” tersebut diambil dari pola yang terbentuk dari dua bola dan tali mainan lato-lato yang tampak seperti sebuah segitiga. Bagi mereka yang percaya konspirasi ini, bentuk segitiga itu menandakan lambang illuminati. Kata lato-lato sendiri juga disebut artinya &#8220;aku yahudi&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi orang yang sudah terbiasa dengan bagaimana memverifikasi suatu klaim di internet akan dengan mudah menyimpulkan bahwa teori konspirasi itu tidak benar. Namun, sayangnya cerita ini dengan begitu cepatnya menyebar di sejumlah grup-grup WhatsApp, dan bagi mereka yang tidak terbiasa menggunakan internet akan dengan mudah tertipu teori liar tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya cerita konspirasi lato-lato ini hanya jadi salah satu bukti bahwa setidakmeyakinkan apapun suatu berita, akan ada orang-orang yang mempercayainya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, kenapa ya manusia sangat mudah percaya teori konspirasi?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-46-1024x1024.png" alt="image 46" class="wp-image-122481" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-46-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-46-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-46-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-46-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/image-46-2048x2048.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Naluri “Menyebalkan” Manusia?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Berbicara tentang kenapa manusia memiliki pola kebiasaan tertentu jelas tidak bisa kita pisahkan dengan perilaku alamiah manusia sebagai makhluk hidup itu sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait kenapa manusia kerap menciptakan teori konspirasi yang cenderung membuat sesamanya menghindari kegiatan tertentu, Karen Douglas, profesor psikologi dari Universitas Kent menilai bahwa itu ada kaitannya dengan <em>survival instinct</em> atau naluri bertahan manusia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam sebuah artikel wawancara dengan American Psychological Association (APA) berjudul <em>Why people believe in conspiracy theories</em>, Douglas menjelaskan bahwa ketika ada sebuah tren baru yang terjadi di masyarakat, maka bisa dipastikan teori konspirasi seputarnya pasti akan muncul dalam waktu yang cepat. Kata Douglas, kebiasaan ini secara psikologis merupakan mekanisme pertahanan manusia untuk mengkritisi apakah tren baru tersebut berbahaya bagi komunitas mereka atau tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan memang, selain konspirasi lato-lato tadi, sebuah teori liar lain juga muncul seputar maraknya kemunculan <em>outlet-outlet</em> Mixue di Indonesia. Beberapa orang menduga bahwa kemunculan Mixue ada kaitannya dengan upaya mata-mata dari Tiongkok, karena <em>brand</em> es krim tersebut memang berasal dari negeri Tirai Bambu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yap, sederhananya, teori konspirasi muncul karena manusia merasa asing dengan sebuah tren baru dan memperlakukannya layaknya orang asing yang tiba-tiba muncul dalam suatu pedesaan. Rasa ketidakpercayaan secara alamiah muncul, dan ini kemudian dibarengi dengan tingkat kewaspadaan tinggi yang didasarkan pada rasa ketakutan. Dengan analogi seperti itu, tentu mudah memahami alasan kenapa teori-teori “ajaib” itu bisa muncul, bukan?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada dasarnya, manusia memang memiliki rasa penasaran yang tinggi dan ingin memahami dunia di sekitar mereka. Ketika kita tidak bisa menemukan alasan yang logis, maka argumen-argumen tidak berdasar dijadikan alternatif jawaban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pandangan ini didukung oleh profesor psikologi sosial dari Universitas Nottingham bernama Daniel Jolley. Dalam artikel wawancaranya di laman LiveScience berjudul <em>Why do People Believe Conspiracy Theories</em>, Jolley mengatribusikan alasan kenapa orang dengan sangat mudah percaya dengan konspirasi pada suatu kebiasaan manusia yang disebut <em>confirmation bias</em> atau bias konfirmasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sesuai dengan sebuah survei yang dikutipnya, mayoritas orang merasa bahwa mereka memiliki intelegensia di atas rata-rata. Ini kemudian berdampak pada proses perolehan informasi. Apa kaitannya dengan kecenderungan mempercayai konspirasi?</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, karena teori konspirasi dengan sangat cepat mencapai masyarakat, bahkan sebelum jawaban objektif muncul, orang-orang yang terekspos dengan konspirasi akan merasa mereka perlu mempertahankan teori yang mereka percaya bahkan jika suatu waktu terbukti salah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, dengan pembahasan ini kita bisa memahami keunikan dan misteri dari sifat manusia. Kalau lato-lato dan Mixue saja bisa punya konspirasi yang memiliki banyak pengikutnya, bagaimana dengan konspirasi-konspirasi politik ya? (D74)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/01/Kenapa-Kita-Percaya-Konspirasi-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mixue-isasi Tiongkok Hantui Indonesia?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/cross-border/mixue-isasi-tiongkok-hantui-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2022 02:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cross Border]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Amerika Serikat]]></category>
		<category><![CDATA[McDonald&#039;s]]></category>
		<category><![CDATA[McDonaldisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mixue]]></category>
		<category><![CDATA[Mixue-isasi]]></category>
		<category><![CDATA[Starbuckisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Starbucks]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=121485</guid>

					<description><![CDATA[Toko Mixue kabarnya siap mengisi ruang-ruang kosong di Indonesia, termasuk hatimu yang kosong. Mungkinkah Mixue-isasi kini hantui Indonesia?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Publik dunia maya Indonesia diramaikan oleh pembahasan soal logo Mixue yang bisa dilihat di mana-mana. Bahkan, ada yang menyebutkan kalau Mixue kini bisa ditemukan di setiap tikungan. Apakah ini sebuah Mixue-isasi?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Zǎo shang hǎo zhōng guó! Xiàn zài wǒ yǒu bing chilling. Wǒ hěn xǐ huān bing chilling” – John Cena, “BING CHILLING” (2021)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Mungkin, pernyataan di atas yang akan teringat ketika kita membeli dan makan es krim. Potongan kutipan di atas itu datang dari John Cena, aktor asal <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/amerika-serikat/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Amerika Serikat (AS)</strong></a>, yang tengah mempromosikan film <em>Fast &amp; Furious 9</em> (2021) pada tahun 2021.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cuplikan video itu direkam di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) – di mana Cena juga berbicara menggunakan Bahasa Mandarin sembari mengonsumsi es krim. Akhirnya, cuplikan video ini sempat kembali viral di sejumlah <em>platform</em> media sosial (medsos) pada tahun 2022 dengan istilah “<em>bing chilling</em>” – atau sebenarnya 冰淇淋 <em>(bīng qí lín)</em> yang berarti es krim dalam Bahasa Mandarin.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, viralnya istilah “<em>bing chilling</em>” ini juga diikuti dengan meme baru yang banyak dibahas oleh warganet Indonesia, yakni banyaknya logo perusahaan es krim dan minuman teh asal <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/tiongkok/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Tiongkok</strong></a> yang bernama <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mixue/"><strong>Mixue</strong></a>. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Saking banyaknya <em>nih</em>, Mixue kini disebut ada di mana-mana. Bahkan, di setiap tikungan hampir dipastikan ada logo Mixue dengan gambar maskot mereka yang bernama Snow King.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya soal tokonya yang mudah ditemukan di mana-mana, Mixue juga mendapatkan julukan menarik dari para warganet, yakni sebagai “malaikat pencatat ruko kosong”. Ini karena kerap kali Mixue buka toko baru dengan menggantikan toko-toko yang baru tutup.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Mixue dapat dengan mudah menjamur di Indonesia karena harga es krim dan minumannya yang disebut terjangkau. Dari segi bisnis, harga <em>franchise</em> Mixue juga disebut masih sangat murah bila dibandingkan dengan <em>franchises</em> lainnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran meme “BING CHILLING” dari John Cena hingga viralnya toko-toko Mixue seakan-akan menjadi deretan fenomena sosio-kultural yang saling terkait. Bahkan, perdebatan publik di media sosial (medsos) pun terjadi akibat adanya kabar bahwa Mixue belum memiliki sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/p/CmoWBm1NQ_J/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh3.googleusercontent.com/svQBq-z0ym-iij_s_oj23A6UYZws12kNZrdW_kExfM3w-aN-YVeaylYuJlDjqpXiCJXQlxIB2qde6wCi9pK5eAQfQ-l9GAihFISJjXKw-5WkziScE4cL3KVWBNhuSWHiOi7_mm8fjvV6fWERdz38yFuVJfIYl84Gd4GvPDAd1FUSmOLR0wKJsbaF-pVqu5BvCPgcyX3VCQ" alt="Indonesia Alami Mixue-isasi"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena-fenomena es krim asal Tiongkok ini bukan tidak mungkin memunculkan sejumlah konsekuensi lanjutan yang lebih dari sekadar meme di medsos. Mengapa munculnya Mixue ini menjadi hal yang berdampak bagi Indonesia – dan mungkin sejumlah negara lain? Apakah ini juga berkaitan dengan politik?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Belajar dari McDonaldisasi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bila kita membayangkan bisnis waralaba (<em>franchise</em>) restoran cepat saji (<em>fast food</em>), kerap kali <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mcdonalds/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>McDonald’s</strong></a> lah yang muncul di pikiran banyak orang. Bisa dibilang, restoran yang biasa disebut <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mcd/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>McD</strong></a> ini adalah salah satu <em>pioneer</em> pertama dalam industri makanan cepat saji.</p>



<p class="wp-block-paragraph">McDonald’s sendiri didirikan oleh McDonald bersaudara yang bernama Richard dan Maurice McDonald pada tahun 1940 di San Bernardino, California, AS. Namun, bukanlah dua orang bersaudara ini yang membuat model McDonald dapat mendunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kalian yang sudah pernah menonton film <em>The Founder</em> (2016), pasti sudah tahu bahwa McDonald’s akhirnya beralih pengelolaan dan kepemilikan ke seorang pebisnis bernama Ray Kroc. Kroc pun akhirnya mengubah sistem dapur McDonald’s dan membawanya ke seluruh dunia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa hal yang membuat McDonald’s berbeda dengan bisnis makanan dan restoran lainnya. Mengacu pada buku George Ritzer yang berjudul <em>The McDonaldization of Society: Into the Digital Age</em>, terdapat prinsip-prinsip yang diterapkan oleh McDonald’s – di antaranya adalah efisiensi (<em>efficiency</em>), kalkulabilitas (<em>calculability</em>), prediktabilitas (<em>predictability</em>), dan kontrol (<em>control</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya untuk membatasi jenis makanan, misalnya, menjadi cara McDonald’s untuk menjaga kontrol atas alur produksi hidangan mereka. Pada awal berdiri, restoran cepat saji asal AS itu hanya menjual burger daging dan burger keju.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, prinsip ini akhirnya terbawa ke seluruh dunia dengan sistem <em>franchise</em> yang terkontrol dari McDonald’s. Globalisasi restoran ini pun memunculkan istilah McDonaldisasi (<em>McDonaldization</em>) yang erat kaitannya dengan Amerikanisasi – persebaran budaya Amerika ke berbagai negara.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/ddGUe66WeJHODKBC7IUVw9sNgx2hDczXEPKhnU4_jfJ5VowejKU7oexMrVbdVmGAXb12MV12HgIIbB_uH4iDOscjSuUWK97GgffRnSawAiuZG3Ze_y64DOVyhaT3ZnJn8604Vtl7uiXJg-LKekABmwC9YLla86ryBWiqXrBP59jxZMCx3ttrMs1FiflbIT7ZsN1prWYiTA" alt="Ada Apa dengan McDonald's"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dominasi makanan cepat saji oleh AS kini mulai menghadapi sejumlah kompetisi. Salah satunya mungkin datang dari Mixue yang disebut-sebut telah memiliki 300 lebih toko di Indonesia – melampaui McDonald’s yang memiliki sekitar 200 lebih toko.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kompetisi ini pun tidak hanya terjadi dalam jumlah toko. Para warganet Indonesia mulai membanding-bandingkan McDonald’s dan Mixue – setidaknya terkait produk es krim mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejumlah warganet menilai es krim Mixue – seperti Boba Sundae – memiliki harga yang terjangkau dan rasa yang enak. Sementara, sejumlah warganet tetap merasa McFlurry milik McDonald’s masih memiliki rasa yang lebih unggul.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, meski persoalan rasa masih menjadi perdebatan, jelas Mixue kini memiliki keunggulan dalam hal <em>marketing</em> (pemasaran). Pasalnya, akhir-akhir ini, Mixue menjadi pembicaraan terus-menerus dengan banyaknya jumlah toko mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengapa diskursus tentang Mixue semakin menjadi pembicaraan banyak pihak? Lantas, mungkinkah ini berimplikasi terhadap lanskap sosio-kultural Indonesia, mengingat dua merek ini berasal dari dua negara adidaya yang kini saling bersaing, yakni AS dan Tiongkok?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mixue-isasi Hantui Indonesia?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, sejumlah pihak menilai McDonaldisasi mulai kehilangan momennya di tengah era informasi kini. Setidaknya, anggapan inilah yang dijelaskan juga oleh Ritzer di edisi keenam bukunya <em>The McDonaldization of Society</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ritzer pun menyebutnya sebagai De-McDonaldisasi (<em>DeMcDonaldization</em>). Kini, muncul sejumlah model lain, seperti <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/starbuckisasi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Starbuckisasi</strong></a> (<em>Starbuckization</em>). Tidak seperti McDonald’s, <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/starbucks/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Starbucks</strong></a> disebut menyajikan citra yang lebih baik – misal dengan kursi dan meja yang lebih nyaman serta kopi berkualitas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut Ritzer, dengan mengutip Howard Schultz, ini yang membuat Starbucks menjadi semacam tempat ketiga (<em>third place</em>) setelah rumah dan tempat kerja. Ada semacam <em>human connection</em> (koneksi kemanusiaan) yang dibangun.</p>



<figure class="wp-block-image"><a href="https://www.instagram.com/pinterpolitik/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><img decoding="async" src="https://lh6.googleusercontent.com/SnRwp1S5TJ9lGr4yIiYSDYZXTHnHCadHPjZi88xVwJZuqdGP3kJt7Ky4pY0mkKa99G9GSlYcnTl9MbfWvaZbXFOA42avOYRFEGjlwX8W8IoCGfJsSKuBcCkdnxpiDRhFGGr0_5Rzf9CFqFOr-RUG3ZY7ETZCQ50gQOonw5DwbvPk0oTOhDYokL2jWJf2RUZKpu2Vc_qn_g" alt="Russia Goodbye McDonald's"/></a></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya De-McDonaldisasi semacam inilah yang mungkin kini tengah dilakukan oleh kehadiran Mixue di sejumlah negara, khususnya Indonesia – negara yang secara <em>notabene</em> memiliki favorabilitas kultural dengan AS dan negara-negara sekutunya seperti Jepang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan prinsip-prinsip <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mcdonaldisasi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>McDonaldisasi</strong></a>, Mixue memiliki cara tersendiri – dengan tidak hanya mengedepankan efisiensi, kalkulabilitas, prediktabilitas, dan kontrol. Mixue juga menerapkan prinsip-prinsip bisnis ala Tiongkok juga.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu di antaranya adalah 面子 atau <em>miànzi</em>. Kata ini secara literal memang dimaknai sebagai wajah dalam Bahasa Mandarin. Namun, “<em>miànzi</em>” juga dapat berarti reputasi atau prestise.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada tulisan Guy Olivier Faure dan Tony Fang yang berjudul <em>Changing Chinese Values: Keeping Up with Paradoxes</em>, <em>miànzi </em>adalah hal yang sangat penting dijaga – dengan budaya Konfusianisme yang mengedepankan nilai moral rasa malu.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Upaya untuk menjaga <em>miànzi </em>inilah yang membuat <em>branding</em> penting bagi para pelaku usaha Tiongkok meski harus membutuhkan upaya lebih – termasuk bagi Mixue. Mungkin, banyaknya toko Mixue yang bermunculan merupakan prinsip bisnis waralaba baru ala Tiongkok dengan istilah baru semacam McDonaldisasi dan Starbuckisasi, yakni <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mixue-isasi/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Mixue-isasi</strong></a>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Boleh jadi, Mixue-isasi merupakan konsep sukses baru yang menjanjikan. Pasalnya, Mixue sendiri kini lebih jadi perbincangan publik dibandingkan waralaba-waralaba asal AS seperti McDonald’s, Starbucks, KFC, atau Burger King.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang pernah dijelaskan dalam tulisan <a href="https://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>PinterPolitik.com</strong></a> yang berjudul <a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mcd-bts-meal-jokowi-perlu-waspada/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong><em>McD-BTS Meal, Jokowi Perlu Waspada?</em></strong></a>, McDonald’s dan Starbucks pun merupakan simbol Amerikanisasi – yang mana menggambarkan bagaimana prinsip dan nilai budaya Amerika yang mulai terserap ke masyarakat berbagai negara. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkinkah ini giliran Mixue-isasi ala Tiongkok yang bisa menjadi Chinisasi (<em>Chinization</em>) di Indonesia? Mari kita amati saja kelanjutannya. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="R37oAHfoVXo"><iframe title="Mengapa KFC Lebih Unggul Dari MCD di Asia | PinterPolitik x @ESTMedia" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/R37oAHfoVXo?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/Mixue-isasi-Tiongkok-Hantui-Indonesia-1024x683.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia Alami Mixue-isasi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/indonesia-alami-mixue-isasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[R55]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2022 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Mixue]]></category>
		<category><![CDATA[TikTok]]></category>
		<category><![CDATA[Tiongkok]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=121312</guid>

					<description><![CDATA[Ke mana-mana, dikit-dikit ada Mixue. Ya nggak tuh? Mixue menjadi fenomena baru yang menarik di Indonesia. Toko es krim asal Zhengzhou, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), ini menjadi bahasan warganet di media sosial (medsos) – berupa meme hingga video review di TikTok. Dengan memiliki toko sebanyak 21.000 lebih di Tiongkok, Mixue kini banyak membuka toko baru [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-819x1024.jpg" alt="indonesia alami mixue-isasi" class="wp-image-121412" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-120x150.jpg 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450-336x420.jpg 336w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi29450.jpg 1080w" sizes="(max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Ke mana-mana, dikit-dikit ada Mixue. Ya nggak tuh? <img decoding="async" alt="🤔" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f914/72.png"><img decoding="async" alt="🍦" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/15.0/1f366/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Mixue menjadi fenomena baru yang menarik di Indonesia. Toko es krim asal Zhengzhou, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), ini menjadi bahasan warganet di media sosial (medsos) – berupa meme hingga video <em>review</em> di TikTok.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan memiliki toko sebanyak 21.000 lebih di Tiongkok, Mixue kini banyak membuka toko baru di negara-negara Asia lainnya, terutama Indonesia dan Vietnam. Bahkan, tidak hanya negara Asia Tenggara, Mixue Bingcheng disebut juga akan buka di negara Asia Timur yang notabene disebut sebagai negara maju, yakni Jepang dan Korea Selatan (Korsel).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bisnis waralaba ala Mixue ini sedikit mengingatkan kita dengan fenomena McDonald’s (McD) dan Starbucks yang menjadi simbol pengaruh dan globalisasi ala Amerika Serikat (AS) – dikenal juga sebagai McDonaldisasi atau Amerikanisasi. Mungkinkah Mixue munculkan istilah Mixue-isasi atau Tiongkokisasi?</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/indonesia-alami-mixue-isasi-1024x1024.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
