<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Megawati &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/megawati/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Jun 2026 16:52:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Megawati &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sultan-jogja-simpul-kuasa-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2026 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Sultan HB X]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169628</guid>

					<description><![CDATA[Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa — kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-01-2026-11_50pm.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Pertemuan Megawati dan Sultan Hamengku Buwono X beberapa hari lalu terlihat seperti silaturahmi biasa — kangen-kangenan setelah lama tak berjumpa. Namun di balik hangatnya obrolan itu, banyak pihak membaca makna lebih dalam: Sultan sekali lagi berdiri di persimpangan politik Indonesia, menjadi titik temu yang tak bisa diabaikan.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Awal Januari 1946. Sebuah kereta api meninggalkan Stasiun Manggarai dalam senyap, melaju ke selatan menembus malam yang dingin. Di dalamnya, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan rombongan kabinet sebuah republik yang usianya belum genap lima bulan. Jakarta sudah tidak aman—tentara Sekutu mendarat, Belanda mengintai, dan Republik Indonesia berdiri di ambang keruntuhan sebelum sempat tumbuh tegak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di ujung perjalanan, satu pintu terbuka: Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sultan Hamengku Buwono IX—seorang raja yang baru saja menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik melalui Amanat 5 September 1945—membuka gerbang istana, membuka kas keraton, dan dengan satu keputusan moral memindahkan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta. Tanpa keputusan itu, kemungkinan besar tidak akan ada Indonesia yang kita kenal hari ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan dekade kemudian, pada malam Jumat 22 Mei 2026, di kraton yang sama, sebuah pertemuan lain berlangsung selama tiga setengah jam. Megawati Soekarnoputri—putri Soekarno yang dulu pernah diselamatkan oleh ayah dari Sultan yang menjabat saat ini—datang bersama rombongan keluarganya untuk &#8220;ngobrol dan kangen-kangenan&#8221; dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bagi sebagian orang, ini hanya reuni hangat. Bagi mereka yang membaca politik Indonesia lebih dalam, ini adalah pengulangan dari sebuah pola yang tidak pernah putus sejak Republik berdiri.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Lebih dari Sekadar Reuni</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Permukaan pertemuan itu memang tampak personal. Hadir Prananda Prabowo, GKR Hemas, dua putri Sultan, dan menantu KPH Purbodiningrat. &#8220;Beliau ingin ngobrol-ngobrol dan kangen-kangenan. Makanya beliau mengajak anak-anak,&#8221; ujar Purbodiningrat kepada media. Tapi konteks politik yang membungkus pertemuan itu jauh dari netral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini jadi poin menarik karena PDIP kini berada di luar lingkar pemerintahan. Setelah dua periode penuh menjadi penopang utama Joko Widodo, partai banteng kini menyandang status oposisi terhadap kabinet Prabowo. Dalam politik Indonesia, momen-momen transisi seperti inilah yang paling menentukan—saat sebuah kekuatan harus menavigasi ulang jalan pulang, mencari jembatan-jembatan yang pernah ditinggalkan, mengaktifkan kembali simpul-simpul lama. Megawati dan Sultan HB X adalah dua dari empat penandatangan Deklarasi Ciganjur 10 November 1998 yang masih hidup dan aktif berpolitik. Ikatan itu, secara historis, lebih tua dari hampir semua koalisi kontemporer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang lebih menarik, ini bukan kali pertama Sultan menjadi jembatan. Pada awal 2024, Jokowi sendiri pernah meminta Sultan HB X menjadi mediator untuk bertemu Megawati. Tidak ada presiden lain dalam sejarah Republik yang meminta seorang raja menjadi penengah dengan ketua umum partainya. Tidak ada raja lain di Indonesia yang diterima oleh kedua belah pihak yang berseteru. Sultan adalah satu-satunya &#8220;zona politik netral&#8221; yang tersisa—tempat di mana percakapan jujur bisa terjadi tanpa diintervensi tafsiran media, tanpa dibingkai oleh narasi koalisi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Manunggaling Kawula Gusti</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami mengapa Sultan memegang posisi sentral semacam itu, analisis politik konvensional tidak cukup. Kita harus turun ke lapisan yang lebih dalam—ke ruang filsafat yang membentuk imajinasi politik Jawa selama ratusan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kosmologi Jawa, ada konsep yang lahir dari tradisi Sufistik abad XVI: <em>Manunggaling Kawula Gusti</em>—menyatunya rakyat dengan sang raja. Konsep ini berakar pada gagasan yang, dalam konteks demokrasi modern, terasa hampir radikal: legitimasi sejati seorang pemimpin tidak datang dari kekayaan, bukan dari kekuatan militer, bukan pula dari kemenangan elektoral. Ia datang dari kesatuan ontologis dengan kehendak rakyatnya. Raja sejati adalah cermin sempurna dari jiwa rakyat—bukan tuan yang memerintah dari atas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gelar &#8220;Hamengku Buwono&#8221; sendiri secara harfiah berarti &#8220;Yang Memangku Dunia.&#8221; Bukan yang menguasai, bukan yang menundukkan—melainkan yang menopang. Dalam filosofi ini, kekuasaan bukan dominasi, melainkan tanggung jawab kosmis untuk menjaga keseimbangan antara alam atas (kekuasaan transenden) dan alam bawah (kehidupan rakyat). Inilah sebabnya Sultan, ketika menerima tamu capres, selalu duduk dalam posisi ngapurancang—tangan bersedekap, kepala sedikit menunduk. Bukan tanda kerendahan diri, melainkan justru tanda kekuasaan sejati yang tidak perlu menampilkan dirinya. Dalam tradisi Jawa, orang yang benar-benar berkuasa tidak perlu menunjukkan kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi demokrasi Indonesia kontemporer, konsep ini berfungsi sebagai kritik diam-diam yang sangat keras. Di tengah politik yang semakin transaksional—di mana kursi diperdagangkan, koalisi dibentuk berdasarkan kalkulasi elektoral, dan suara rakyat sering hanya diperlakukan sebagai variabel matematis menjelang Pemilu—keberadaan Sultan menjadi pengingat bahwa model legitimasi lain pernah ada, dan masih bekerja. Bahwa kuasa yang sah tumbuh dari akar moral, bukan dari kursi anggaran. Bahwa pemimpin sejati adalah ia yang mampu menjadi cermin rakyatnya, bukan sekadar pemenang kontestasi.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Otoritas yang Tak Bisa Dibeli</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Filsafat Jawa tidak berdiri sendiri. Ia bertemu dengan teori politik modern di titik yang mengejutkan presisinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sosiolog Jerman Max Weber, dalam karya monumentalnya <em>Wirtschaft und Gesellschaft</em> (1922), membagi otoritas menjadi tiga jenis murni: legal-rasional (lahir dari hukum dan prosedur), karismatik (lahir dari pesona personal), dan tradisional (lahir dari warisan sejarah dan adat). Indonesia kontemporer dipenuhi oleh dua jenis pertama—presiden, gubernur, dan anggota DPR semuanya beroperasi dalam kerangka otoritas legal-rasional, sebagian dilengkapi karisma personal yang sifatnya fluktuatif. Tapi otoritas tradisional? Sultan Hamengku Buwono X adalah salah satu dari segelintir tokoh yang masih memegangnya dalam bentuk paling murni di Indonesia kontemporer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Yang membuat otoritas tradisional Sultan begitu kuat justru terletak pada paradoksnya: di era ketika otoritas legal-rasional mendominasi hampir setiap sudut kehidupan publik, otoritas tradisional menjadi semakin langka—dan karena itu, semakin berharga. Tidak ada pilkada yang bisa menghasilkan Sultan. Tidak ada modal politik berapa pun yang bisa membelinya. Tidak ada partai yang bisa memproduksinya melalui konvensi. Ia adalah aset politik yang tidak tergantikan justru karena tidak bisa diimitasi atau direkayasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun penjelasan tidak berhenti di Weber. Antonio Gramsci, dalam <em>Prison Notebooks</em> (1929–1935), memperkenalkan konsep hegemoni kultural—gagasan bahwa kekuasaan paling efektif bukanlah yang dipaksakan dengan senjata, melainkan yang dipelihara melalui intellectual and moral leadership. Hegemoni sejati, kata Gramsci, membuat dominasi terasa alami, bahkan diinginkan. Dalam logika ini, Sultan adalah exemplifikasi sempurna dari <em>&#8220;intellectual moral leader&#8221;</em> yang tidak kasat mata. Ia tidak memaksa siapa pun datang. Ia tidak mengeluarkan ancaman. Namun semua orang datang—karena tidak datang ke Sultan berarti tidak mendapat pengakuan dari pusat simbolis budaya Jawa, yang merepresentasikan lebih dari 100 juta pemilih dan merepresentasikan budaya politik yang dipakai di negeri ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah keajaibannya: ketika Megawati duduk di Kraton selama tiga setengah jam, ketika Jokowi pernah meminta Sultan jadi mediator, ketika ketiga capres 2024 sowan satu per satu sebelum hari pencoblosan—tidak ada satu pun dari momen itu yang dipaksakan oleh hukum, oleh konstitusi, atau oleh struktur kekuasaan formal. Semuanya digerakkan oleh sebuah magnetisme kultural yang telah terlembagakan selama ratusan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Delapan puluh tahun setelah kereta Soekarno menembus malam menuju Yogyakarta, Republik Indonesia masih terus kembali ke kraton yang sama. Bentuk politiknya berubah—dari revolusi ke Orde Baru ke Reformasi ke demokrasi elektoral kontemporer—tetapi simpul kuasanya tidak pernah berpindah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seperti yang pernah dirumuskan komposer Gustav Mahler dengan tepat: &#8220;Tradition is not the worship of ashes, but the preservation of fire.&#8221; Tradisi bukanlah pemujaan abu, melainkan penjagaan api. Dan di Yogyakarta, api itu masih menyala—setenang Sultan yang duduk <em>ngapurancang</em>, dan serelevan seperti tahun 1946. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="oubehtL1pEM"><iframe title="Kata Pemred: Mata di Balik Gerbang" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/oubehtL1pEM?start=2&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/generated-audio-june-01-2026-11_50pm.mp3" length="2172524" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/chatgpt-image-jun-1-2026-11_47_29-pm-1024x576.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>“Mixed Feelings” ala Megawati Berlanjut?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/mixed-feelings-ala-megawati-berlanjut/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A99]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 May 2026 11:23:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=169452</guid>

					<description><![CDATA[Di balik dua jam pertemuan di Istana, bukan hanya keakraban yang dibangun. Ada sinyal yang lebih dingin, lebih terencana, dan belum pernah dibaca publik dengan cara ini. Kita akan menyelami  apakah Megawati melakukan “Mixed Feelings” kepada Prabowo?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-22-2026-8_59am.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di balik dua jam pertemuan di Istana, bukan hanya keakraban yang dibangun. Ada sinyal yang lebih dingin, lebih terencana, dan belum pernah dibaca publik dengan cara ini. Kita akan menyelami&nbsp; apakah Megawati melakukan “Mixed Feelings” kepada Prabowo?</strong><br><audio src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-22-2026-8-15.mp3"></audio></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow"><strong>Pinterpolitik.com</strong></a></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Maret 2026. Megawati terbang dari Bali ke Jakarta, menerima undangan pribadi untuk bertemu Prabowo berdua di Istana. Tidak ada forum ramai, tidak ada Jokowi atau SBY di meja yang sama. Megawati memang memilih kondisi itu: ketika undangan awal datang dalam satu forum bersama nama-nama itu, ia tidak hadir. Undangan terpisah, hanya berdua, adalah yang ia terima. Dua jam. Tiga narasumber yang terlibat langsung dalam mengatur pertemuan itu bercerita kepada Tempo: tidak ada substansi terkini yang dibahas. Yang diperbincangkan adalah hubungan Soekarno dengan Iran, dan konflik Iran di era Megawati tahun 2004. Dua jam, tanpa satu pun keputusan konkret.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Rabu, 20 Mei 2026, Prabowo berdiri di podium Gedung Parlemen Senayan. &#8220;Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada PDIP. Saudara berjasa untuk demokrasi kita,&#8221; katanya kepada anggota parlemen yang hadir. Ini merupakan tanda politik yang segar bagi sang “penyeimbang kekuasaan”</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Cara Kritik Diatur</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Adian Napitupulu dipindah dari Komisi V ke Komisi X. Rieke Diah Pitaloka dari Komisi VI ke Komisi XIII.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi yang mengikuti dinamika DPR, dua nama ini bukan rotasi biasa. Adian adalah wajah yang paling sering disebut lingkaran istana ketika membicarakan unsur-unsur yang memanas di demonstrasi Agustus 2025. Ia turun langsung ke komunitas ojek online ketika demonstrasi sedang memuncak, dan gerakan itu kemudian dibaca sebagai provokasi oleh istana. Rieke, di sisi lain, adalah suara paling konsisten soal BUMN dan kebijakan ekonomi pemerintah. Komisinya adalah arena di mana banyak program prioritas Prabowo diuji secara legislatif. Yang menjadi masalah bukan kemampuan mereka bekerja, tetapi dampak politik yang ditimbulkan ketika kritik itu terlalu keras terdengar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di dalam tubuh PDIP, rotasi ini dibaca sebagai pesan. Bukan untuk kader yang dipindah saja, tetapi untuk seluruh fraksi. Setiap kritik yang hendak disampaikan ke publik harus dikomunikasikan terlebih dahulu ke pihak yang tepat. Ada yang disebut &#8220;alarm lantai 4&#8221; yang aktif tiap kali PDIP menyerang Prabowo secara langsung. Kader yang melangkahi batas menghadapi risiko nyata: telepon peringatan, permintaan menurunkan konten media sosial, perpindahan komisi. Adian sendiri, sebelum rotasi ini, sudah berpindah komisi enam kali.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP hari ini menjalankan dua panggung sekaligus: satu untuk publik, satu lagi untuk para elite yang justru menentukan ruang geraknya. Di panggung publik, PDIP tampil kritis, agenda pertama rapat DPP adalah mengkaji kebijakan pemerintah, dan jutaan pemilih yang mempercayai lambang banteng membaca itu sebagai bukti identitas. Di panggung yang tidak terlihat kamera, setiap langkah diukur dan setiap serangan dikalibrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di PDIP, kritik bukan lagi sekadar soal isi. Tetapi soal siapa yang mengizinkan kritik itu bergerak keluar. Di internal partai, hampir semua keputusan strategis akhirnya bergerak melewati satu pusat kendali yang sama: situation room yang dikelola Prananda Prabowo, putra Megawati dari pernikahan pertamanya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Prabowo Bukan Musuh PDIP, “Mantan Kader” adalah Musuh PDIP&nbsp;</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi dominan membingkai hubungan Megawati-Prabowo sebagai drama dua rival yang sesekali berdamai. Pembacaan itu menempatkan Prabowo sebagai ancaman utama yang perlu dikelola.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam Kongres PDIP 2025, ada upaya yang diendus partai, sebuah dorongan dari orbit di luar untuk menggeser Megawati dari kursi ketua umum, tercium seperti yang orkestrasi adalah sang “mantan kader”. Asalnya jelas bukan dari Prabowo. Megawati tidak memilih bertemu Prabowo secara terpisah untuk menghindari konflik. Ia memilih bertemu secara terpisah karena memilih siapa yang ada di ruangan bersamanya, dan siapa yang tidak.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menjaga pintu tetap terbuka ke Istana, dalam konteks itu, bukan tanda kelemahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Amnesti yang diberikan Prabowo kepada Hasto Kristiyanto dibaca oleh seluruh elite PDIP dengan cara yang sama: bahwa konflik politik bisa berubah menjadi “tekanan” dalam bentuk hukum jauh lebih cepat dari yang dikira. Bukan hanya Hasto yang menyesuaikan diri. Seluruh struktur partai membaca sinyal itu dan menarik kesimpulan yang serupa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama pertemuan berlangsung, Prabowo sempat meminta PDIP mendukung kondusivitas pemerintahan. Megawati menjawab bahwa PDIP akan mendukung dari luar hingga 2029. Posisi formal tidak berubah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang, Prabowo adalah kunci Megawati untuk dilindungi dari sang “mantan kader”. Maka dari itu, Megawati dan partainya perlu memainkan strategi politik yang kita lihat sekarang.&nbsp;</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Ketika Garis Partai Tidak Lagi Tegak</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kader yang paling keras mengkritik program MBG ternyata sudah memiliki dapur MBG sebelum partai secara resmi melarangnya pada 24 Februari 2026. DPP terpaksa mengeluarkan surat resmi. Di lapangan, kader yang sudah terlanjur mengelola titik dapur itu berada di antara tekanan lokal dan instruksi pusat. Di titik itu, wajah publik dan wajah elite berbenturan secara nyata, dan partai harus memilih mana yang lebih dulu diselamatkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke publik, PDIP mempertahankan identitas kritisnya. Ke Prabowo, ada skema-skema yang diatur dan dikomunikasikan. Tidak suka? Selamat datang di politik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selama sepuluh tahun berkuasa, PDIP beroperasi dalam sistem di mana oposisi bisa dibatasi melalui tekanan informal, patronase menjadi alat kendali, dan kasus hukum bisa berubah fungsi menjadi instrumen politik. Mekanisme &#8220;alarm lantai 4,&#8221; tekanan rotasi komisi, sinyal lewat jalur hukum, semua itu bukan hal baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka sedang berhadapan dengan logika yang sangat mereka kenali dari dalam, karena selama satu dekade mereka ikut menjalankannya. PDIP memahami batas-batas itu terlalu baik untuk benar-benar bergerak seperti oposisi biasa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP yang hari ini tampak abu-abu bukan partai yang kehilangan kompas. Yang tengah berjalan adalah respons dari organisasi yang memahami bahwa bertahan dalam sistem adalah syarat pertama sebelum bisa mengubah sesuatu di dalamnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karena bagi partai yang pernah berada di pusat kekuasaan, tetap berada di dalam orbit sering kali lebih penting daripada terlihat paling keras di luar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang terjawab bahwa apa yang dilakukan Megawati bukan mixed feelings, tetapi <em>mixed political tactics.</em> (A99)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="GSL9d4rJciA"><iframe title="Mengapa Megawati Tak Terkalahkan?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/GSL9d4rJciA?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-22-2026-8_59am.mp3" length="4895973" type="audio/mpeg" />
<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/generated-audio-may-22-2026-8-15.mp3" length="3373844" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/05/pertemuan-prabowo-dan-mega-jelang-kongres-pdip-1024x578.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Manuver Dubes Iran, Offside Dikit?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/manuver-dubes-iran-offside-dikit/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2026 03:37:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[dubesiran]]></category>
		<category><![CDATA[jaganegeri]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168580</guid>

					<description><![CDATA[Offside dikit?&#160; #dubesiran #sby #megawati #jokowi #jaganegeri]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="1024" data-id="168583" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-1024x1024.png" alt="manuver dubes iran, offside dikit" class="wp-image-168583" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2048x2048.png 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" data-id="168585" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2-1024x1024.png" alt="manuver dubes iran, offside dikit (2)" class="wp-image-168585" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-2-2048x2048.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" data-id="168584" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-3-1024x1024.png" alt="manuver dubes iran, offside dikit (3)" class="wp-image-168584" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-3-1024x1024.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-3-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-3-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-3-1536x1536.png 1536w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-3-2048x2048.png 2048w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Offside dikit?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/17.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#dubesiran #sby #megawati #jokowi #jaganegeri</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/04/manuver-dubes-iran-offside-dikit-1024x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Didit, The Next Gen Metronom</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/didit-the-next-gen-metronom/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2026 10:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Didit Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=168154</guid>

					<description><![CDATA[Di tengah polarisasi sosial-politik, Didit Hediprasetyo hadir sebagai simpul sunyi yang menjembatani elite lintas kubu. Tanpa jabatan formal, ia memainkan diplomasi personal berbasis trust dan simbol.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/ddit-1.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Di tengah polarisasi sosial-politik, Didit Hediprasetyo hadir sebagai simpul sunyi yang menjembatani elite lintas kubu. Tanpa jabatan formal, ia memainkan diplomasi personal berbasis trust dan simbol.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Menjelang dan pada momentum Idul Fitri 2026, satu figur yang tidak memegang jabatan politik formal justru menjadi pusat gravitasi perbincangan elite nasional Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Didit, sapaan akrab Ragowo, tercatat menjalin silaturahmi dengan spektrum elite politik yang luas dan beragam. Ia bertemu dengan Anies Baswedan dalam momen pasca salat Id yang sarat simbol rekonsiliasi, mengunjungi Mahfud MD yang selama ini dikenal sebagai figur kritis, serta menjalin relasi hangat dengan Puan Maharani sebagai representasi kekuatan politik legislatif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak berhenti di situ, Didit juga hadir dalam orbit keluarga Susilo Bambang Yudhoyono, berinteraksi dengan Agus Harimurti Yudhoyono, dan berada dalam lingkaran komunikasi dengan Gibran Rakabuming Raka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Spektrum ini bukan sekadar daftar pertemuan sosial. Ia merepresentasikan lintasan politik yang sebelumnya terfragmentasi oleh kompetisi elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, Didit tampil sebagai simpul yang mempertemukan apa yang secara politik tampak terpisah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini menjadi signifikan karena terjadi dalam lanskap politik Indonesia yang selama satu dekade terakhir ditandai oleh polarisasi tajam.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan lintas kubu biasanya dimediasi oleh institusi formal—partai, parlemen, atau istana. Namun, dalam kasus Didit, mediasi tersebut berlangsung melalui jalur informal, personal, bahkan kultural.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah letak kebaruannya: kekuasaan tidak lagi semata bekerja melalui struktur formal, tetapi juga melalui relasi simbolik yang cair.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Simpul: Habitus, Weak Ties, dan “Ruang Ketiga”</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami posisi unik Didit, kerangka Pierre Bourdieu tentang habitus dan social capital menjadi titik masuk yang penting. Didit menempati posisi yang jarang: ia adalah putra Presiden Prabowo Subianto, tetapi tidak terlibat dalam <em>field</em> politik formal. Ia bukan kader partai, bukan pejabat publik, dan tidak memiliki beban elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini menciptakan apa yang dapat disebut sebagai habitus yang “tidak terkontaminasi konflik”. Ia memiliki akses ke pusat kekuasaan, namun tidak membawa atribut yang biasanya memicu resistensi politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam istilah Bourdieu, Didit mengakumulasi social capital tanpa harus mempertaruhkan symbolic violence yang sering muncul dalam kontestasi politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, teori Mark Granovetter tentang the strength of weak ties menjelaskan bagaimana relasi Didit justru menjadi efektif karena tidak terlalu terikat secara ideologis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia bukan bagian dari <em>inner circle</em> satu kubu tertentu, melainkan penghubung antar-kubu. Relasi yang longgar ini memungkinkan mobilitas sosial dan komunikasi lintas batas yang lebih fleksibel.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam praktiknya, Didit menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “ruang ketiga”—sebuah arena di luar politik formal dan di luar rivalitas elektoral. Di ruang ini, interaksi tidak ditentukan oleh posisi politik, melainkan oleh kenyamanan personal, estetika, dan simbol kebersamaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dimensi ini semakin diperkuat oleh latar belakang Didit sebagai desainer <em>haute couture</em> di Paris. Pilihan jalur high-art ini bukan sekadar preferensi karier, tetapi juga strategi simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seni, sebagaimana dipahami dalam psikologi sosial, adalah bahasa universal yang cenderung netral dan non-konfrontatif. Dalam dunia yang sering diwarnai oleh konflik kepentingan, seni menjadi medium yang mencairkan batas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keberhasilan Didit menembus kalender resmi <em>couture</em> Paris menjadikannya simbol kebanggaan nasional. Ini menciptakan legitimasi yang tidak berbasis politik, melainkan prestasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Para politisi, terlepas dari afiliasi mereka, dapat mengapresiasi Didit tanpa harus memasuki arena konflik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, kepribadian Didit yang <em>low profile</em> dan santun memperkuat posisi ini. Bahkan, adab Didit mendapat pujian langsung dari Anies pasca bercengkrama di kawasan Masjid Al-Azhar, Sabtu (21/3) lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam perspektif Erving Goffman, Didit berhasil mengelola presentation of self dengan sangat efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia tampil sebagai figur yang tidak mengancam, tidak konfrontatif, dan tidak membawa agenda politik eksplisit. Ini menciptakan <em>psychological safety</em> bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, Didit berfungsi sebagai <em>soft power broker</em>—aktor yang tidak memiliki kekuasaan formal, tetapi mampu memfasilitasi komunikasi dan membangun kepercayaan.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1350" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1.png" alt="the rise of didit prabowo 1" class="wp-image-159920" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1.png 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/04/the-rise-of-didit-prabowo-1-1068x1335.png 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><em><strong>Poet-Statesman </strong></em><strong>dan Politik Pasca-Partisan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Jika ditarik lebih jauh, fenomena Didit dapat dibaca melalui lensa yang lebih filosofis: ia mendekati figur <em>poet-statesman</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam tradisi klasik, figur ini merujuk pada individu yang tidak hanya memahami kekuasaan, tetapi juga mampu mengartikulasikan nilai-nilai kultural dan estetika dalam praktik kenegaraan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Didit tidak berpidato, tidak berkampanye, dan tidak membangun basis massa. Namun, ia menghadirkan sesuatu yang lebih subtil: politik sebagai ekspresi rasa, simbol, dan kedekatan manusiawi. Dalam hal ini, ia lebih dekat dengan peran kultural daripada peran administratif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Antonio Gramsci tentang <em>cultural hegemony</em>. Kekuasaan tidak selalu bekerja melalui dominasi koersif, tetapi melalui pembentukan norma dan makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kehadiran Didit dalam berbagai pertemuan elite secara perlahan menormalisasi gagasan bahwa perbedaan politik tidak harus berujung pada keterputusan relasi personal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang dapat disebut sebagai politik pasca-partisan (<em>post-partisan politics</em>). Dalam model ini, garis ideologi tidak lagi menjadi batas absolut. Relasi personal, kepercayaan, dan komunikasi informal menjadi lebih menentukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di titik ini, analisis tidak boleh berhenti pada romantisasi. Ada pertanyaan kritis yang perlu diajukan: apakah fenomena ini mencerminkan kematangan demokrasi, atau justru mengindikasikan bahwa politik Indonesia tetap beroperasi dalam logika elitis yang tertutup?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di satu sisi, kehadiran Didit sebagai jembatan lintas kubu dapat dibaca sebagai tanda rekonsiliasi dan stabilitas. Ia menunjukkan bahwa elite politik mampu melampaui konflik elektoral demi kepentingan yang lebih besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, fakta bahwa komunikasi lintas kubu dimediasi oleh figur informal menandakan bahwa institusi formal belum sepenuhnya menjadi ruang rekonsiliasi yang efektif. Politik masih bergantung pada jaringan personal, bukan mekanisme institusional yang transparan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah ambivalensi Didit sebagai figur politik sunyi: ia sekaligus menjadi simbol harapan dan cermin keterbatasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Didit Hediprasetyo menunjukkan bahwa kekuasaan di Indonesia sedang mengalami transformasi medium. Dari pidato ke gestur, dari institusi ke relasi, dari konflik ke simbol.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ia tidak bermain politik dalam arti konvensional. Namun justru karena itu, ia mampu memengaruhi politik dengan cara yang lebih halus dan, dalam banyak kasus, lebih efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan satu hal penting: di era pasca-politisasi ekstrem, yang paling berpengaruh bukanlah mereka yang paling keras berbicara, tetapi mereka yang mampu membuat semua pihak kembali mau berbicara. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="xlpAFdtIkVI"><iframe loading="lazy" title="Kisah Trah Djiwandono: Dari Abdi Dalem Keraton Hingga Gubernur BI" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/xlpAFdtIkVI?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/ddit-1.mp3" length="2349572" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/03/didit-1024x671.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Entelechy Estafet AHY vs Puan Maharani</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/entelechy-estafet-ahy-vs-puan-maharani/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Jan 2026 11:31:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[AHY]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166470</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Dalam konteks politik, seorang putra atau putri mahkota adalah potensi kepemimpinan. Mereka memiliki nama besar, akses ke jaringan kekuasaan, dan legitimasi darah atau ideologi. Namun, mereka tetaplah potensial—hanya bayangan dari pendahulu mereka. Menarik untuk melihatnya dalam kontras perbandingan kisah AHY dan Puan Maharani. PinterPolitik.com Dalam serial HBO Succession, Logan Roy—patriark media konglomerat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini: </p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/download-7.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Dalam konteks politik, seorang putra atau putri mahkota adalah potensi kepemimpinan. Mereka memiliki nama besar, akses ke jaringan kekuasaan, dan legitimasi darah atau ideologi. Namun, mereka tetaplah potensial—hanya bayangan dari pendahulu mereka. Menarik untuk melihatnya dalam kontras perbandingan kisah AHY dan Puan Maharani.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Dalam serial HBO <em>Succession</em>, Logan Roy—patriark media konglomerat Waystar Royco—menghabiskan empat musim penuh untuk tidak melepaskan tahtanya. Anak-anaknya, Kendall, Shiv, dan Roman, terus-menerus diuji, dipermalukan, dan dibuat frustrasi oleh ayah mereka yang tidak kunjung pensiun. Logan selalu punya alasan: mereka belum cukup kejam, belum cukup tangguh, belum cukup &#8220;serious people&#8221; untuk memegang kekuasaan sebesar itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ironisnya, Logan Roy justru meninggal sebelum sempat memilih penggantinya dengan jelas. Hasilnya? Kekacauan total. Perang saudara di internal perusahaan, ketidakpastian yang menghancurkan nilai saham, dan warisan yang nyaris hancur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah ini bukan sekadar fiksi—ia adalah cermin sempurna bagi dilema regenerasi kekuasaan di partai politik Indonesia, khususnya di PDIP. Sementara Partai Demokrat telah menyelesaikan transisi dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), PDIP masih terjebak dalam ketidakpastian: Puan Maharani atau Prananda Prabowo? Atau mungkin ada nama lain yang belum terungkap?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan besarnya: mengapa regenerasi di Demokrat terasa begitu akseleratif, sementara di PDIP begitu kontemplatif? Jawabannya terletak pada konsep filosofis kuno dari Aristoteles yang disebut <em>entelechy</em>—momen ketika potensi harus berubah menjadi kenyataan.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dari Potensialitas ke Aktualitas: Memahami Entelechy</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Aristoteles, filsuf Yunani Kuno, memperkenalkan konsep <em>entelechy</em> (dari bahasa Yunani <em>entelecheia</em>) untuk menjelaskan proses transformasi dari sesuatu yang bersifat potensial menjadi aktual. Analoginya sederhana namun mendalam: sebuah biji pohon ek memiliki <em>potensi</em> untuk menjadi pohon besar yang kokoh. Namun, biji itu hanyalah potensi—ia belum menjadi pohon. <em>Entelechy</em> adalah momen ketika biji tersebut benar-benar tumbuh, berakar, bercabang, dan menjadi pohon yang sesungguhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks politik, seorang putra atau putri mahkota adalah potensi kepemimpinan. Mereka memiliki nama besar, akses ke jaringan kekuasaan, dan legitimasi darah atau ideologi. Namun, mereka tetaplah potensial—hanya bayangan dari pendahulu mereka. <em>Entelechy</em> politik terjadi ketika mereka bukan lagi sekadar &#8220;anak dari&#8221; atau &#8220;pewaris dari,&#8221; melainkan subjek yang memegang otoritas penuh, membuat keputusan sendiri, dan menanggung konsekuensi dari pilihan mereka.</p>



<p class="wp-block-paragraph">AHY telah mencapai <em>entelechy</em>-nya. Sejak dilantik sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pada 2020, ia tidak lagi berada di bawah bayangan SBY. Keputusannya untuk bergabung dengan kabinet Prabowo, manuver politiknya di DPR, bahkan gaya komunikasinya yang lebih digital dan modern—semuanya adalah keputusan mandiri. SBY telah mundur ke Majelis Tinggi, membiarkan AHY &#8220;berdarah-darah&#8221; di lapangan politik. Ini adalah lompatan (<em>the leap</em>)—sebuah pemberian ruang penuh untuk gagal atau berhasil atas nama sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, Puan Maharani masih berada dalam fase potensialitas. Meskipun ia menjabat sebagai Ketua DPR RI—posisi publik yang sangat tinggi—di internal PDIP, otoritas tertinggi masih dipegang oleh Megawati Soekarnoputri. Begitu pula dengan Prananda Prabowo, cucu Soekarno yang kini menjadi anggota DPR. Namanya sering disebut-sebut sebagai kandidat penerus, namun tidak ada kejelasan resmi. Regenerasi PDIP terasa seperti transisi yang dijaga (<em>the guarded transition</em>)—hati-hati, perhitungan, dan belum sepenuhnya dilepas.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Momentum Regenerasi: Ketika Sang Pendahulu Masih Kuat</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada paradoks menarik dalam regenerasi kekuasaan: regenerasi paling aman justru dilakukan ketika sang pemimpin lama <em>masih kuat</em>, bukan ketika sudah lemah atau sekarat. Mengapa? Karena pemimpin yang masih kuat memiliki otoritas moral dan politik untuk menyatukan partai jika terjadi perpecahan atau pemberontakan internal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kita bisa melihat preseden ini dalam kasus Demokrat vs. Moeldoko. Ketika Moeldoko mencoba mengambil alih Partai Demokrat melalui Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang pada 2021, SBY masih memiliki kekuatan penuh untuk turun tangan. Ia menyatukan kader, memobilisasi loyalitas, dan akhirnya memenangkan pertarungan hukum dan politik. AHY dilindungi oleh payung kekuatan SBY, namun sekaligus diberi ruang untuk membuktikan kepemimpinannya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah mengapa PDIP seharusnya melakukan regenerasi <em>sekarang</em>, bukan nanti. Megawati, di usianya yang ke-78 tahun, masih memiliki kharisma dan otoritas luar biasa untuk menjadi jangkar stabilitas. Jika Puan atau Prananda dilantik sebagai Ketua Umum hari ini dan kemudian menghadapi pemberontakan internal—katakanlah dari faksi lain atau tokoh senior yang tidak puas—Megawati masih bisa menyatukan. Namun, jika regenerasi ditunda hingga Megawati tidak lagi memiliki kekuatan politik atau kesehatan yang memadai, perpecahan bisa menjadi fatal dan permanen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejarah politik Indonesia penuh dengan contoh partai yang terpecah karena regenerasi yang terlambat. Partai Golkar, misalnya, mengalami fragmentasi hebat pasca-Orde Baru karena tidak ada figur pemersatu sekuat Soeharto. PPP juga terpecah-pecah berkali-kali karena tidak ada mekanisme suksesi yang jelas dan disepakati bersama.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perbandingan internasional juga menarik. Di Singapura, Lee Kuan Yew melepaskan jabatan Perdana Menteri pada 1990 ketika ia masih sangat kuat—bukan karena lemah atau dipaksa. Ia menyerahkan kepemimpinan kepada Goh Chok Tong, namun tetap menjadi &#8220;Senior Minister&#8221; untuk memastikan transisi berjalan mulus. Ketika Goh kemudian digantikan oleh Lee Hsien Loong (putra Lee Kuan Yew sendiri) pada 2004, prosesnya sudah teruji dan stabil. Lee Kuan Yew baru benar-benar pensiun total pada 2011, setelah memastikan sistem berjalan tanpa dirinya.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dilema Regenerasi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Robert Michels, sosiolog Jerman-Italia, memperkenalkan konsep <em>The Iron Law of Oligarchy</em> (Hukum Besi Oligarki) pada awal abad ke-20. Teorinya sederhana namun tajam: dalam organisasi besar—termasuk partai politik yang mengklaim demokratis—kekuasaan cenderung mengkristal di tangan segelintir elit. Bahkan partai yang lahir dengan semangat egaliter pun pada akhirnya akan dikuasai oleh oligarki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Michels berpendapat bahwa ini adalah konsekuensi alamiah dari kompleksitas organisasi. Semakin besar sebuah organisasi, semakin membutuhkan spesialisasi, hierarki, dan konsentrasi keputusan di tangan sedikit orang yang &#8220;tahu&#8221; dan &#8220;berpengalaman.&#8221; Kader biasa tidak punya waktu atau informasi untuk membuat keputusan strategis, sehingga mereka menyerahkan kepercayaan kepada elit.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP adalah contoh sempurna dari oligarki karismatik-sentralistik. Megawati bukan sekadar Ketua Umum—ia adalah <em>living ideology</em>, personifikasi dari Marhaenisme dan warisan Soekarno. Loyalitas jutaan kader tidak hanya kepada partai sebagai institusi, tetapi kepada Megawati sebagai sosok. Ini membuat transisi menjadi sangat rumit: menyerahkan jabatan Ketua Umum bukan sekadar pindah kursi, melainkan memindahkan jangkar emosional jutaan orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, Demokrat menerapkan apa yang bisa disebut &#8220;Oligarki Terpimpin.&#8221; SBY menciptakan jalur cepat bagi AHY—bukan dengan cara membiarkan AHY bersaing secara natural di internal partai, melainkan dengan secara terang-terangan menunjuknya sebagai pewaris. SBY lalu mundur ke posisi simbolis (Majelis Tinggi), memaksa struktur partai untuk patuh pada AHY tanpa gejolak berkepanjangan. Ini adalah strategi top-down yang efisien, meskipun tidak sepenuhnya demokratis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya: mana yang lebih baik? Tidak ada jawaban mutlak. Pendekatan Demokrat lebih cepat dan minim konflik, tetapi berisiko menciptakan ketergantungan berlebihan pada dinasti. Pendekatan PDIP lebih hati-hati dan mungkin lebih inklusif, tetapi berisiko menciptakan ketidakpastian berkepanjangan yang bisa merusak kohesi internal.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Otoritas Tidak Bisa Diberikan, Ia Harus Diambil</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Ada sebuah <em>aha moment</em> dalam diskusi tentang regenerasi: <em>entelechy</em> tidak bisa dipaksakan dari luar. Seorang pemimpin tidak bisa &#8220;dijadikan&#8221; pemimpin sejati hanya dengan pemberian jabatan atau legitimasi formal. Mereka harus <em>mengambil</em> otoritas itu—melalui keputusan, tindakan, dan kesediaan untuk menanggung konsekuensi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">SBY memaksa AHY untuk mencapai <em>entelechy</em> dengan cara melemparkannya ke tengah badai politik. Tanpa jaring pengaman, tanpa intervensi terus-menerus, AHY harus belajar berenang atau tenggelam. Dan ia memilih berenang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Puan, sebaliknya, berada dalam situasi yang &#8220;terlalu nyaman.&#8221; Ia memiliki jabatan publik tinggi, namun tidak memiliki hak penuh untuk membuat kesalahan fatal di internal partai. Setiap langkahnya masih dalam pengawasan Megawati. Tanpa hak untuk membuat kesalahan, seorang pemimpin tidak akan pernah mencapai <em>entelechy</em>-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Anne Bradstreet, penyair kolonial Amerika abad ke-17, pernah menulis: <em>&#8220;Authority without wisdom is like a heavy axe without an edge, fitter to bruise than polish.&#8221;</em> Otoritas tanpa kebijaksanaan adalah seperti kapak tumpul—lebih cocok untuk melukai daripada memoles. Namun, kebijaksanaan tidak bisa diajarkan—ia hanya bisa dipelajari melalui pengalaman, termasuk pengalaman gagal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP berada di persimpangan sejarah. Megawati masih kuat, masih disegani, masih mampu menjadi pemersatu. Ini adalah momen terbaik untuk melakukan <em>entelechy</em>—membiarkan Puan, Prananda, atau siapa pun pewaris yang dipilih untuk benar-benar memegang kendali penuh. Jika ditunda, risiko fragmentasi akan semakin besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Regenerasi bukan tentang usia. Ia tentang keberanian untuk melepas dan ruang untuk berbuat salah. Demokrat telah membuktikannya. Kini giliran PDIP untuk memilih: akan menjadi Logan Roy yang menunda hingga terlambat, atau menjadi Lee Kuan Yew yang melepas di puncak kekuatan? Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="TLEJsFFQLQ0"><iframe loading="lazy" title="Kok Prabowo Berani Bikin Kabinet Gemuk? Ini Alasan Sebenarnya!" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/TLEJsFFQLQ0?start=28&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/download-7.mp3" length="2621036" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/wmremove-transformed-7-1024x576.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Jateng, Koentji atau Jago Kandang PSI?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jateng-koentji-atau-jago-kandang-psi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2026 11:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[JATENG]]></category>
		<category><![CDATA[Jawa Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaesang]]></category>
		<category><![CDATA[KANDANG BANTENG]]></category>
		<category><![CDATA[Kandang Gajah]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166433</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Jawa Tengah tak lagi sekadar lumbung suara. Gagasan PSI sebagai “kandang gajah” seolah menantang hegemoni lama PDIP, menguji apakah Jateng adalah kunci masa depan politik—atau hanya panggung perebutan narasi di era pasca-Jokowi. PinterPolitik.com Jawa Tengah selama dua dekade terakhir telah menjadi semacam “tanah suci” bagi PDIP. Dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/jateng-psi.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Jawa Tengah tak lagi sekadar lumbung suara. Gagasan PSI sebagai “kandang gajah” seolah menantang hegemoni lama PDIP, menguji apakah Jateng adalah kunci masa depan politik—atau hanya panggung perebutan narasi di era pasca-Jokowi.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>PinterPolitik.com</strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Jawa Tengah selama dua dekade terakhir telah menjadi semacam “tanah suci” bagi PDIP. Dalam imajinasi politik nasional, provinsi ini kerap dipersepsikan sebagai basis ideologis, kultural, sekaligus elektoral PDIP—sebuah <em>heartland</em> politik yang relatif stabil sejak era pasca-Reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dinamika pasca-Pemilu dan Pilpres 2024 memperlihatkan gejala yang tak bisa diabaikan: Jateng tidak lagi sepenuhnya monolitik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masuknya PSI dengan narasi “Jateng kandang gajah”, sebelumnya “kebun mawar”, yang digaungkan langsung oleh Ketua Umum Kaesang Pangarep menjadi penanda penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan ini kiranya bukan sekadar motivasi untuk kader ataupun klaim elektoral, melainkan intervensi simbolik terhadap <em>status quo</em> politik Jawa Tengah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam satu kalimat, PSI seolah ingin mengatakan bahwa basis politik lama bisa dipertanyakan ulang—bahkan direbut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Narasi tersebut terasa semakin relevan jika dilihat dari konteks yang lebih luas. PDIP memang masih dominan secara struktural, namun performanya di Jateng pada Pilpres 2024 menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ditambah lagi, pusat gravitasi kekuasaan PDIP yang selama ini berporos di Teuku Umar, Jakarta, semakin menampakkan karakter personalistik dan temporer—sangat bergantung pada figur Megawati Soekarnoputri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, PSI agaknya dengan sengaja membingkai dirinya sebagai “partainya Jokowi”, dan Solo—bukan Jakarta—dijadikan episentrum simbolik. Fakta bahwa Gubernur Jawa Tengah kini dijabat Ahmad Luthfi, figur berlatar Polri yang naik daun di era presidensi Jokowi dan berasal dari Gerindra, turut memperkuat kesan bahwa Jateng tengah mengalami <em>reconfiguration of power</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian, apakah Jawa Tengah benar-benar menjadi kunci masa depan PSI, atau sekadar panggung retoris bagi ambisi politik yang belum matang secara struktural?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Trah Jokowi: Perebutan Jateng</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk membaca fenomena ini secara lebih tajam, kerangka <em>war of position</em> dari Antonio Gramsci menjadi sangat relevan. Gramsci membedakan dua jenis perebutan kekuasaan: <em>war of maneuver</em> (serangan frontal) dan <em>war of position</em> (perebutan perlahan atas makna, legitimasi, dan hegemoni).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Jawa Tengah, PSI jelas tidak sedang melakukan <em>war of maneuver</em>. Mereka tidak memiliki infrastruktur partai, kaderisasi, atau basis elektoral sekuat PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, yang dilakukan PSI justru lebih subtil, yakni perang narasi. Dengan mengklaim atau bergagasan besar Jateng sebagai “kandang”, PSI berusaha menggeser persepsi publik tentang siapa yang berhak atas wilayah tersebut secara simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini adalah upaya menggerogoti hegemoni PDIP, bukan dengan angka, tetapi dengan cerita antitesa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah konsep <em>symbolic capital</em> Pierre Bourdieu menjadi kunci. Kekuasaan politik tidak hanya ditentukan oleh modal ekonomi atau struktural, tetapi juga oleh pengakuan simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI, meski minim <em>structural capital</em>, mencoba mengompensasinya dengan <em>symbolic capital</em> yang dilekatkan pada figur Jokowi—tokoh yang memiliki resonansi emosional dan historis yang kuat di Jawa Tengah selama masa kepemimpinannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP, sebaliknya, berada dalam posisi defensif yang paradoksal. Secara organisasi, partai ini masih kuat. Namun secara simbolik, ia menghadapi tantangan regenerasi makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketergantungan pada figur Megawati membuat pusat kekuasaan PDIP tampak statis, bahkan terkesan terputus dari dinamika generasi baru pemilih.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kondisi ini diperumit oleh realitas bahwa Gubernur Jawa Tengah bukan berasal dari PDIP. Ahmad Luthfi menjadi simbol kekuasaan administratif yang “netral ideologis”, tetapi kompatibel dengan orbit Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini memperkuat tesis bahwa Jawa Tengah kini bukan sekadar basis partai, melainkan arena kontestasi elite lintas warna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terlebih, PDIP seolah <em>fix </em>“<em>nggak</em> diajak main” dalam konfigurasi kekuasaan 2024-2029. Di titik inilah Jateng tampak tak hanya wilayah administratif politik, tetapi arena peperangan sengit di kontestasi elektoral berikutnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah pertaruhan pamungkas, baik bagi Megawati maupun Jokowi dan trahnya masing-masing.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-819x1024.png" alt="psi sein kiri 1" class="wp-image-161074" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/psi-sein-kiri-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>PSI Jago Kandang Solo <em>Only</em>?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di titik inilah pemikiran Benedict Anderson tentang <em>imagined community</em> menemukan relevansinya. Basis politik tidak semata-mata lahir dari geografi atau sejarah, melainkan dari imajinasi kolektif yang dibangun dan direproduksi terus-menerus.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP selama ini berhasil “membayangkan” Jawa Tengah sebagai ruang ideologisnya. Namun imajinasi, seperti halnya kekuasaan, tidak pernah final.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI mencoba membangun imajinasi alternatif, yaitu Jawa Tengah sebagai pusat politik baru yang lebih cair, personalistik, dan post-ideologis. Solo dijadikan simbol asal-usul Jokowi, sekaligus metafora tentang politik yang dekat, sederhana, dan tidak elitis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam narasi ini, PSI tampil bukan sebagai partai mapan, melainkan sebagai kendaraan bagi kesinambungan pengaruh Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, di sinilah batas antara “kunci” dan “jago kandang” mulai terlihat. Tanpa transformasi simbolik menjadi kekuatan struktural—kursi DPRD, jaringan akar rumput, dan konsolidasi kader—narasi PSI berisiko berhenti sebagai performative politics.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Klaim simbolik yang tidak diikuti institusionalisasi dapat berbalik menjadi bumerang, yakni saat terdengar nyaring, tetapi rapuh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, bagi PDIP, tantangan di Jawa Tengah justru bisa menjadi momentum refleksi. Apakah partai ini akan terus mengandalkan warisan simbolik lama, atau mulai membangun ulang imajinasi politik yang relevan dengan generasi pasca elite legendaris partai?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, Jawa Tengah hari ini bukan sekadar “kandang” atau “kunci”. Ia adalah medan uji; uji bagi PSI untuk membuktikan bahwa simbol bisa menjadi struktur, dan uji bagi PDIP untuk membuktikan bahwa struktur masih mampu melahirkan makna.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam politik kontemporer, kemenangan agaknya tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling lama berkuasa, tetapi oleh siapa yang paling mampu mendefinisikan masa depan. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="juKLVhxaP8A"><iframe loading="lazy" title="Kejagung Melesat, KPK Dibawa ke Mana?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/juKLVhxaP8A?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/jateng-psi.mp3" length="2126060" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/kaesang-pangarep-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>7 Ramalan “Nostradamus” Pinpol 2026</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2026 01:41:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[2026]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[prabowosubianto]]></category>
		<category><![CDATA[prediksi2026]]></category>
		<category><![CDATA[ramalan2026]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=166530</guid>

					<description><![CDATA[Politik 2026 kami baca bukan lewat bola kristal, tapi lewat peta kekuasaan.&#160; Dari reshuffle besar-besaran, elite yang mulai meredup, wapres yang makin sunyi, hingga munculnya “Luhut” baru di lingkaran Prabowo, tahun 2026 diprediksi jadi fase konsolidasi, bukan kompromi. Swipe&#160;&#160;dan baca ramalan “Nostradamus” Pinpol satu per satu. #ramalan2026 #2026 #prediksi2026 #Prabowo #PrabowoSubianto #Jokowi #Megawati #SBY #pinterpolitik [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-4 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166533" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-819x1024.png" alt="7 ramalan “nostradamus” pinpol 2026 (1)" class="wp-image-166533" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-5 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166534" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-819x1024.png" alt="7 ramalan “nostradamus” pinpol 2026 (2)" class="wp-image-166534" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-6 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166535" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-819x1024.png" alt="7 ramalan “nostradamus” pinpol 2026 (3)" class="wp-image-166535" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<figure class="wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-7 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex">
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" data-id="166536" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-819x1024.png" alt="7 ramalan “nostradamus” pinpol 2026 (4)" class="wp-image-166536" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-4.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>
</figure>



<p class="wp-block-paragraph">Politik 2026 kami baca bukan lewat bola kristal, tapi lewat peta kekuasaan.&nbsp;<img decoding="async" alt="🗺️" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f5fa_fe0f/72.png"></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari reshuffle besar-besaran, elite yang mulai meredup, wapres yang makin sunyi, hingga munculnya “Luhut” baru di lingkaran Prabowo, tahun 2026 diprediksi jadi fase konsolidasi, bukan kompromi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Swipe&nbsp;<img decoding="async" alt="➡️" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/27a1_fe0f/72.png">&nbsp;dan baca ramalan “Nostradamus” Pinpol satu per satu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">#ramalan2026 #2026 #prediksi2026 #Prabowo #PrabowoSubianto #Jokowi #Megawati #SBY #pinterpolitik #infografis #politikindonesia #beritapolitik #beritapolitikterkini</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/01/7-ramalan-nostradamus-pinpol-2026-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Soeharto Pahlawan, Puan &#8220;Hilang&#8221;?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/soeharto-pahlawan-puan-hilang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Nov 2025 03:12:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[Gusdur]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawannasional]]></category>
		<category><![CDATA[Puan]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165492</guid>

					<description><![CDATA[Di balik ketidakhadiran Mba Puan Maharani dan tak hanya keterkaitannya dengan Soeharto, PDIP serta Bu Megawati ternyata juga memiliki kisah spesifik dengan dua Pahlawan Nasional lainnya&#160; #soeharto #pahlawannasional #puan #megawati #gusdur #sarwoedhie #pdip #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-819x1024.png" alt="soeharto pahlawan, puan hilang (1)" class="wp-image-165495" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-819x1024.png" alt="soeharto pahlawan, puan hilang (2)" class="wp-image-165496" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-819x1024.png" alt="soeharto pahlawan, puan hilang (3)" class="wp-image-165497" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Di balik ketidakhadiran Mba Puan Maharani dan tak hanya keterkaitannya dengan Soeharto, PDIP serta Bu Megawati ternyata juga memiliki kisah spesifik dengan dua Pahlawan Nasional lainnya&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#soeharto #pahlawannasional #puan #megawati #gusdur #sarwoedhie #pdip #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/soeharto-pahlawan-puan-_hilang-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gladiator Gajah Kecil vs Banteng Sepuh</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/gladiator-gajah-kecil-vs-banteng-sepuh/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2025 09:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[PSI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=165323</guid>

					<description><![CDATA[Perseteruan PSI dan PDIP bukan sekadar adu strategi partai, melainkan pertarungan simbolik antara generasi politik baru dan warisan lama. Gajah muda menantang banteng sepuh di gelanggang kekuasaan Jokowi–Megawati, memperebutkan bukan kursi, tapi legitimasi moral dan arah masa depan politik Indonesia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/gajah-1_hk6nppwr.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Perseteruan PSI dan PDIP bukan sekadar adu strategi partai, melainkan pertarungan simbolik antara generasi politik baru dan warisan lama. Gajah muda menantang banteng sepuh di gelanggang kekuasaan Jokowi–Megawati, memperebutkan bukan kursi, tapi legitimasi moral dan arah masa depan politik Indonesia.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Berjalannya politik-pemerintahan dan menuju 2029, politik Indonesia semakin menyerupai panggung besar di mana narasi, simbol, dan sejarah saling berkelindan untuk menentukan arah kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah panggung itu, perseteruan antara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tampil sebagai drama simbolik yang menarik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bukan sekadar rivalitas antarpartai, melainkan duel tentang siapa yang berhak mewarisi legitimasi moral dan historis bangsa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketegangan terakhir muncul ketika kader PSI, Bestari Barus, mengkritik PDIP yang menolak rencana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto. Bestari menyebut PDIP harus “berdamai dengan sejarah” dan tidak perlu ikut campur, sebuah sindiran yang menggores reputasi partai yang selama ini mengklaim diri sebagai penjaga api reformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun di balik perdebatan itu, yang tampak bukan sekadar soal Soeharto atau gelar pahlawan, melainkan perebutan posisi etis dan simbolik di antara “partai kemarin sore” dan “partai legendaris” namun belakangan seolah kehilangan arah dan momentum di panggung politik-pemerintahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan ini semakin relevan ketika dilihat dari pergeseran sumbu kekuasaan sejak masa pemerintahan Jokowi. PSI, yang lahir dari semangat politik baru dan citra urban, menempatkan diri sebagai pewaris simbolik Jokowi—pemimpin yang dianggap modern, teknokratik, dan lepas dari beban ideologis masa lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP, di sisi lain, masih bertahan sebagai rumah besar nasionalisme dan warisan ideologis Soekarno. Plus, ketegangan pasca Jokowi berbeda haluan di Pilpres 2024 dan dipecat PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sanalah garis friksi antara dua rezim politik ini terbentuk: satu mengandalkan darah sejarah, yang lain mengandalkan daya simbol baru dari politik citra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya kini tampak berdiri di gelanggang yang sama. PSI dengan simbol gajah muda yang gesit, PDIP dengan banteng tua yang berpengalaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keduanya bergerak di bawah bayang-bayang yang lebih besar — hubungan tegang antara Presiden Jokowi dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan simbolik PSI dan PDIP kiranya hanyalah refleksi dari benturan patron politik itu di tingkat atas. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Pertarungan Politik Gengsi?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kerangka pemikiran Pierre Bourdieu, politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan material, tetapi juga arena simbolik tempat aktor-aktor berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan dan legitimasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks ini, PDIP memiliki modal simbolik yang masif—warisan sejarah, ideologi Soekarnoisme, serta peran besar dalam perjuangan demokrasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI justru hadir dengan modal simbolik baru: kesegaran wacana, gaya komunikasi digital, dan kedekatan dengan generasi muda yang tumbuh di tengah budaya media sosial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Perseteruan PSI dan PDIP dalam banyak isu—mulai dari politik sejarah hingga sikap terhadap pemerintahan Jokowi—menjadi pertunjukan bagaimana modal simbolik lama dan baru beradu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika PSI menegur PDIP agar “berdamai dengan sejarah”, misalnya, mereka sesungguhnya seolah sedang berusaha menggeser pusat otoritas moral dari partai tua ke partai muda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka mengklaim posisi sebagai partai rasional dan progresif, sementara PDIP mempertahankan citra sebagai penjaga ideologi kebangsaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai “agonisme politik” — pertarungan yang bukan dimaksudkan untuk menghancurkan lawan, melainkan untuk menegaskan identitas diri melalui keberadaan sang lawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, PDIP dan PSI saling membutuhkan dalam dinamika ini. PDIP membutuhkan PSI sebagai cermin generasi baru agar tetap relevan di mata publik urban.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebaliknya, PSI membutuhkan PDIP sebagai simbol <em>status quo</em> untuk didekonstruksi—banteng tua yang membuat eksistensi gajah muda tampak heroik. Dalam ruang ini, politik menjadi bukan sekadar ajang perebutan kursi, tetapi kompetisi makna. Siapa yang berhasil menguasai simbol, ia menguasai persepsi publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika media sosial menjadi arena utama, politik tidak lagi bertumpu pada ideologi, melainkan pada kemampuan mengemas narasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI agaknya paham betul logika ini. Mereka bermain di ruang persepsi, menciptakan citra keberanian, kejujuran, dan modernitas, seolah menjadi perpanjangan tangan semangat Jokowi yang tidak lagi sejalan dengan Megawati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara PDIP masih mengandalkan politik massa, loyalitas struktural, dan daya hidup ideologis yang terbangun selama puluhan tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua pendekatan ini tidak hanya berbeda strategi, tetapi juga menunjukkan benturan antara dua jenis modal kekuasaan — modal kultural baru melawan modal historis lama.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1189" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi.jpg" alt="langitbumi pengeluaran pdip psi" class="wp-image-142353" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-272x300.jpg 272w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-930x1024.jpg 930w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-136x150.jpg 136w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-768x846.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-150x165.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-300x330.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-696x766.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/langitbumi-pengeluaran-pdip-psi-1068x1176.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Antara Gajah dan Banteng</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertarungan antara PSI dan PDIP pada akhirnya adalah soal simbolik kekuasaan: siapa yang mampu mengonversi simbol menjadi legitimasi politik. Banteng PDIP mewakili institusionalisasi ideologi dan tradisi yang mapan; gajah PSI merepresentasikan kecerdikan dan adaptasi di dunia baru yang cair dan digital. Yang satu bertumpu pada kekuatan akar rumput, yang lain pada kekuatan citra.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PDIP masih memiliki sumber daya yang sangat kokoh. Struktur partai yang merata, jaringan kepala daerah, serta hubungan emosional Megawati dengan kadernya membuat PDIP tetap menjadi partai dengan daya tahan tinggi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun kekuatan besar ini juga menyimpan kerentanan. Ketika politik semakin bergeser ke ranah komunikasi cepat dan citra personal, institusi yang terlalu berat sering kali kehilangan kelincahan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam ruang ini, PSI menemukan peluangnya: mereka lincah, tidak terikat oleh dogma lama, dan mampu memanfaatkan setiap isu untuk tampil relevan di mata publik muda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gajah dan banteng, dalam metafora ini, bukan hanya simbol hewan partai, melainkan representasi dua cara memandang politik Indonesia hari ini. Banteng adalah kontinuitas, gajah adalah transisi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banteng berdiri di atas legitimasi sejarah, gajah menari di atas gelombang media sosial. Keduanya berhadapan dalam gelanggang yang sama: arena Jokowisme, di mana batas antara populisme dan pragmatisme semakin kabur.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Konflik ini, dengan demikian, menjadi refleksi dari pertarungan dua patron besar — Jokowi dan Megawati — yang masing-masing memiliki visi berbeda tentang arah kekuasaan. Jokowi membangun jaringan loyalis baru yang ingin melepaskan diri dari struktur lama PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Megawati, sebaliknya, berusaha mempertahankan kontrol ideologis dan moral atas arah politik nasional. PSI dan PDIP adalah perpanjangan tangan dari dua arus besar ini, memainkan peran masing-masing dalam drama regenerasi politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun yang paling menarik dari perseteruan ini bukanlah kemungkinan siapa yang akan menang, melainkan bagaimana keduanya saling membentuk.</p>



<p class="wp-block-paragraph">PSI membutuhkan PDIP untuk memantulkan citra progresifnya; PDIP membutuhkan PSI untuk menegaskan bahwa mereka masih memiliki posisi moral yang layak dipertahankan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hubungan yang paradoksal itu, konflik justru menjadi sumber kehidupan politik. Ia adalah cara bagi sistem untuk memperbaharui dirinya sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seorang analis politik pernah berseloroh bahwa konflik PSI dan PDIP tidak akan selesai sampai kiamat. Mungkin benar adanya. Sebab, yang sedang mereka perebutkan bukan sekadar kursi di parlemen, tetapi hak untuk mendefinisikan masa depan politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gladiator gajah dan banteng akan terus bertarung di arena yang sama—bukan untuk saling memusnahkan, melainkan untuk memastikan bahwa penonton, yakni rakyat, tetap percaya bahwa keduanya masih relevan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan seperti dalam setiap arena gladiator, kemenangan sejati bukan milik yang terkuat, melainkan milik yang paling mampu membuat penonton percaya bahwa dialah pahlawan yang sesungguhnya. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="PevHeiO9u7o"><iframe loading="lazy" title="Terbaik! Pasukan Baret Biru TNI Siap OTW Gaza" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/PevHeiO9u7o?start=34&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/gajah-1_hk6nppwr.mp3" length="3514457" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/11/task_01k9467qdtegfv9qhqfj1bq4w0_1762151200_img_0-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Lagi &#8220;Gemes-Gemesnya&#8221;, Politisi Under 50</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/infografis/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[E95]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Oct 2025 01:49:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Infografis]]></category>
		<category><![CDATA[AHY]]></category>
		<category><![CDATA[bahlil]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrat]]></category>
		<category><![CDATA[Golkar]]></category>
		<category><![CDATA[Gusdur]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie]]></category>
		<category><![CDATA[iftitahsulaiman]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[prasetyohadi]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto]]></category>
		<category><![CDATA[Soekarno]]></category>
		<category><![CDATA[Sugiono]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=164923</guid>

					<description><![CDATA[50 is the new 30?&#160; #ahy #bahlil #iftitahsulaiman #sugiono #prasetyohadi #golkar #demokrat #prabowo #megawati #sby #jokowi #gusdur #habibie #soeharto #soekarno #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-819x1024.png" alt="lagi gemes gemesnya politisi under 50 1" class="wp-image-164926" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-819x1024.png" alt="lagi gemes gemesnya politisi under 50 2" class="wp-image-164927" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-2.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="819" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-819x1024.png" alt="lagi gemes gemesnya politisi under 50 3" class="wp-image-164928" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-819x1024.png 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-240x300.png 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-120x150.png 120w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-768x960.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-150x188.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-300x375.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-696x870.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3-1068x1335.png 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-3.png 1080w" sizes="auto, (max-width: 819px) 100vw, 819px" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">50 is the new 30?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://fonts.gstatic.com/s/e/notoemoji/16.0/1f440/72.png" alt="👀" /></figure>



<p class="wp-block-paragraph">#ahy #bahlil #iftitahsulaiman #sugiono #prasetyohadi #golkar #demokrat #prabowo #megawati #sby #jokowi #gusdur #habibie #soeharto #soekarno #infografis #politikindonesia #beritapolitik #pinterpolitik</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/10/lagi-gemes-gemesnya-politisi-under-50-1-819x1024.png" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
