<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Megawati Soekanoputri &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/megawati-soekanoputri/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 May 2025 08:52:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Megawati Soekanoputri &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Teuku Umar, Surakarta, dan The Four Empire?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/teuku-umar-surakarta-dan-the-four-empire/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 08 May 2025 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Cikeas]]></category>
		<category><![CDATA[Hambalang]]></category>
		<category><![CDATA[Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[SBY]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[Teuku Umar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=160786</guid>

					<description><![CDATA[Kendati aktor politik prominen yang silih berganti adalah sebuah keniscayaan, terdapat empat poros kekuatan yang kiranya akan terus lestari di era kontemporer. Bagaimana itu bisa terjadi?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/empire-1_y2fosohi.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kendati aktor politik prominen yang silih berganti adalah sebuah keniscayaan, terdapat empat poros kekuatan yang kiranya akan terus lestari di era kontemporer. Bagaimana itu bisa terjadi?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Dalam dinamika politik Indonesia kekinian, sulit kiranya mengabaikan eksistensi dan pengaruh dari empat poros kekuasaan yang tampaknya telah menjelma menjadi entitas politik tersendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Teraktualisasi dalam nickname tempat tertentu, hal itu bukan hanya sebagai tempat fisik, tetapi sebagai simbol kekuasaan yang mengakar dan terus bertransformasi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Keempatnya adalah Teuku Umar (Megawati Soekarnoputri), Hambalang (Prabowo Subianto), Cikeas (Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY), dan Surakarta atau Solo (Joko Widodo).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masing-masing merepresentasikan tokoh sentral dalam sejarah dan praktik politik Indonesia mutakhir yang pernah atau sedang menduduki kursi presiden, menjadikan mereka figur dengan legitimasi politik tertinggi dalam demokrasi elektoral Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena ini menyerupai formasi semacam “<em>empire</em>” politik modern ala Indonesia, sebuah struktur kuasa yang tidak hanya ditentukan oleh jabatan formal, tetapi juga oleh daya jangkau simbolik, jaringan patronase, kekuatan logistik, dan pengaruh terhadap proses pembuatan keputusan nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Memang, istilah “empire” dalam konteks ini lebih dekat kepada pemaknaan neo-feodalistik yang bersifat informal tetapi sangat menentukan, di mana kekuasaan tidak hanya berada di tangan institusi, tetapi terdistribusi melalui loyalitas, simbolisme, dan penguasaan terhadap sumber daya strategis politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, mengapa poros kekuatan itu dapat terbentuk? Serta bagaimana masa depannya dalam memengaruhi dinamika politik-pemerintahan Indonesia?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Spektrum Kekuasaan dan Warisan Politik</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Keempat poros kekuasaan yang disebutkan di atas tidak berdiri dalam kekosongan sejarah maupun sosial. Mereka merepresentasikan spektrum politik yang saling silang, tetapi juga memiliki kekhasan masing-masing, baik dari segi gaya kepemimpinan, basis legitimasi, maupun cara mengonsolidasikan kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, Teuku Umar dan Megawati yang seakan menjadi warisan patronase Soekarnois. Sang Ketua Umum PDIP, melalui rumah politiknya di Teuku Umar, dikenal sebagai simbol kontinuitas historis dari patronase ideologis Bung Karno.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Seiring berjalannya waktu, Teuku Umar seolah berdiri di atas kekuatan trah biologis dan ideologis yang memancarkan aura “legitimasi historis” dalam konteks politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Basis kekuatan Megawati terletak pada kontrol institusional terhadap partai terbesar di Indonesia, serta jejaring loyalis ideologis yang tersebar di berbagai lini birokrasi dan politik nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam teori patron-klien, posisi Megawati berada sebagai <em>grand patron</em> yang memberikan perlindungan politik, distribusi logistik, dan legitimasi moral kepada para kader dan sekutunya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada aspek historis dan dinamikanya, politik di sekitar Teuku Umar adalah politik kesetiaan, dan bahkan politik keheningan, di mana arah kebijakan dan keputusan strategis ditentukan oleh satu pusat kendali, bukan oleh debat internal atau kompetisi gagasan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, Hambalang sebagai yang menjelma menjadi representasi asal kepemimpinan karismatik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berbeda dengan Teuku Umar, Hambalang menjadi simbol dari gaya kepemimpinan strongman yang diasosiasikan dengan Prabowo Subianto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tokoh yang kini merupakan Presiden RI menggabungkan warisan militer yang flamboyan, jejaring bisnis, dan daya tarik populisme nasionalis dalam satu paket politik yang khas.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hambalang seakan menjadi titik pusat dari politik kekuatan yang dibangun melalui kehadiran figur yang dominan secara fisik dan simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konsep <em>charismatic authority</em> Max Weber, Prabowo mewakili figur yang memperoleh legitimasi bukan dari sistem institusional atau rasional-legal, tetapi dari persepsi bahwa dirinya memiliki kualitas luar biasa (<em>extraordinary personal qualities</em>).</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendekatan ini bekerja efektif dalam masyarakat yang masih mengidamkan pemimpin yang kuat, tegas, dan memiliki ketegasan serta kedisiplinan ala militer dalam mengelola negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Ketiga</em>, Cikeas yang menjadi simbol kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono, mengembangkan kekuatan melalui pendekatan yang lebih lembut dan sedikit berjarak, tetapi tidak kalah efektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gaya kepemimpinan SBY yang lebih teknokratik, diplomatis, dan penuh kalkulasi strategis menciptakan semacam <em>soft oligarchy</em>, yakni struktur elite yang tidak terlalu menonjolkan kekuatan personal, tetapi bekerja melalui mekanisme organisasi, keluarga, dan jejaring birokrasi yang efisien.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Cikeas adalah contoh dari <em>elite reproduction</em>, sebagaimana dijelaskan dalam teori Pierre Bourdieu, di mana kekuasaan direproduksi melalui modal sosial, budaya, dan simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lewat Partai Demokrat dan kemunculan figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), kiranya terlihat bahwa Cikeas mencoba mempertahankan dominasi politik melalui kesinambungan kekuatan dan investasi politik jangka panjang.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Keempat</em>, Solo atau Surakarta yang seolah menjadi representasi <em>post-partisan clientelism</em>. Berbeda dengan tiga poros lainnya, kekuatan politik Joko Widodo tidak berbasis pada struktur partai atau trah politik, tetapi pada post-partisan clientelism—relasi patronase yang melampaui batas institusi formal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jokowi dinilai telah mengembangkan jejaring loyalisnya melalui penempatan tokoh-tokoh kepercayaan di dalam birokrasi hingga infrastruktur politik negara.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Politik Jokowi terkonstruksi sebagai politik teknokratis-populis yang digabungkan dengan kemampuan mengelola persepsi publik dan memainkan politik simbolik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Solo, dalam hal ini, bukan sekadar kampung halaman, tetapi simbol dari akar narasi Jokowi sebagai “pemimpin rakyat biasa” yang berhasil mencapai puncak kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, seiring waktu, Jokowi juga berhasil membangun kekuatan yang mandiri dari partai, bahkan dari PDIP, “eks rumahnya”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu menjadi sebuah fenomena yang bisa dipahami melalui konsep state capture dalam politik kontemporer, di mana aktor non-partisan bisa mengendalikan institusi melalui loyalitas personal, bukan ideologi.</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1080" height="1080" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1.jpg" alt="sby prabowo the two progressive generalsartboard 1 1" class="wp-image-153418" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/09/sby-prabowo-the-two-progressive-generalsartboard-1_1-1068x1068.jpg 1068w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dinamika Kontestasi Para Trah?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Keberadaan empat “<em>empire</em>” politik itu tampaknya tidak hanya menjelaskan konfigurasi kekuasaan saat ini, tetapi juga memberi petunjuk ke mana arah politik Indonesia akan bergerak dalam waktu dekat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ada beberapa catatan penting yang kiranya dapat dianalisis lebih lanjut. Keempat poros ini memiliki kecenderungan kuat untuk mereproduksi kekuasaan melalui mekanisme trah, baik trah biologis seperti AHY, Puan, dan Gibran Rakabuming Raka, maupun trah ideologis seperti Sugiono, Prasetyo Hadi, maupun Angga Raka Prabowo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal ini sejalan dengan konsep <em>political inheritance</em>, di mana kekuasaan tidak selalu ditransfer melalui meritokrasi, melainkan melalui keterkaitan genealogis atau simbolik dengan figur besar sebelumnya. Sebuah fenomena yang sebenarnya lumrah di berbagai negara dan era.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan besar adalah apakah keempat poros ini akan terus saling berkompetisi secara terbuka, ataukah mereka akan menemukan titik temu dalam skema konsolidasi elite?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemungkinan terjadinya <em>elite settlement</em>, seperti dijelaskan oleh Terry Karl, bukan tidak mungkin dalam konteks Indonesia, terutama ketika kepentingan ekonomi-politik lebih diutamakan daripada rivalitas ideologis.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di permukaan, hal itu telah terjadi kendati seolah ada intrik personal yang masih berada dalam bayang, utamanya yang spesifik seperti relasi Jokowi dan Megawati, maupun Megawati dan SBY.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Interpretasi mengenai eksistensi fenomena “empat <em>empire</em>” ini agaknya mencerminkan kenyataan bahwa politik Indonesia sangat ditentukan oleh figur dan jaringan kekuasaan informal.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meskipun demokrasi prosedural terus berjalan, namun kekuatan substantif tetap berada di tangan sekelompok elite yang memiliki modal simbolik, jaringan logistik, dan kapasitas untuk mengendalikan narasi politik nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ke depan, stabilitas dan arah politik Indonesia akan sangat bergantung pada bagaimana interaksi antara keempat poros ini berlangsung, apakah menuju jalan rekonsiliasi, fragmentasi, atau bahkan transisi ke poros baru yang belum terlihat saat ini.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam segala probabilitasnya, yang pasti adalah bahwa politik Indonesia tidak lagi hanya tentang partai atau kebijakan, tetapi tentang siapa yang berada di balik rumah-rumah itu (Teuku Umar, Hambalang, Cikeas, dan Solo) serta para penerusnya bertransformasi. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="VMHu_ZnuT9I"><iframe title="Brand Story: Dari Gudang Garam dan PKI, Hingga Indomie dan KFC" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/VMHu_ZnuT9I?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/05/empire-1_y2fosohi.mp3" length="5710158" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/sby-jokowi-dan-prabowo_169.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Semakin Sulit Megawati Percaya Puan?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/semakin-sulit-megawati-percaya-puan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jan 2025 08:10:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Prananda Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=157678</guid>

					<description><![CDATA[Kongres 2025 PDIP sudah di depan mata. Akankah ada pergantian pucuk kepemimpinan, atau terlalu dini bagi Megawati Soekarnoputri untuk mencari pengganti dirinya?  ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat menggunakan teknologi AI</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/kongres-pdip-yang.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Kongres 2025 PDIP sudah di depan mata. Akankah ada pergantian pucuk kepemimpinan, atau terlalu dini bagi Megawati Soekarnoputri untuk mencari pengganti dirinya? </strong>&nbsp;</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener">PinterPolitik.com</a>&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kongres PDIP yang rencananya akan digelar pada April 2025 jadi salah satu topik politik yang paling menarik untuk dibahas saat ini. Bagaimana tidak, di dalam kongres tersebut diasumsikan secara kuat akan terjadi sejumlah pergantian jajaran pimpinan, contohnya seperti posisi Sekretaris Jenderal (Sekjen) yang dugaannya akan diisi orang baru karena Hasto Kristiyanto kini terjebak kasus hukum.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun tidak hanya itu, kini di media sosial pun mulai muncul asumsi bahwa posisi Ketua Umum (Ketum) bisa saja ikut mengalami perubahan. Asumsi ini tentu bukan tanpa sebab, karena Megawati Soekarnoputri sendiri beberapa kali pada tahun 2024 sempat memberikan semacam “kisi-kisi” bahwa anak kandungnya, Puan Maharani, mungkin layak untuk menggantikan posisi dirinya sebagai Ketum PDIP. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara alamiah, diskusi mengenai kelayakan Puan Maharani sebagai ketum baru PDIP saat itu bergulir dengan lancar di masyarakat, tidak heran, Puan memang anak kandung Mega, yang berarti juga layak disebut sebagai “pembawa obor” trah Soekarno di PDIP. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, sosok Puan sendiri belakangan juga kerap dipandang sebagai “jembatan” antara PDIP dan lawan-lawannya. Peran diplomatisnya ini lantas menjadi basis argumen bagi sejumlah pendukungnya bahwa Puan telah menjadi politisi yang dewasa untuk dipercaya sebagai Ketum</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kendati demikian, kondisi politik yang saat ini sedang melanda PDIP bisa jadi justru membuat dinilai membuat pandangan PDIP, bahkan Megawati secara individual terhadap Puan berubah. Mengapa demikian? </p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image.png" alt="image" class="wp-image-157681" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-696x696.png 696w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Paradoks Puan?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Spekulasi bahwa Megawati kini mempertanyakan kepercayaannya kepada Puan untuk menggantikannya sebetulnya memiliki basis argumen yang cukup rasional. Spekulasi ini didasarkan pada sejumlah dinamika politik yang berkembang, baik internal maupun eksternal, yang menempatkan posisi Puan dalam sorotan tajam. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami potensi keputusan Megawati, kita dapat merujuk pada teori kepercayaan politik dan konsep psikologi kepemimpinan, khususnya teori &#8220;<em>Loyalty vs. Competence Dilemma</em>&#8220;. Dalam teori ini, seorang pemimpin dihadapkan pada dilema untuk memilih penerus yang loyal tetapi mungkin kurang kompeten, atau kompeten tetapi dihinggapi risiko ketidakpastian melanjutkan amanah. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam kasus Puan, sikapnya yang cenderung melunak terhadap kubu politik di luar PDIP, seperti kelompok pendukung Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa bulan terakhir, memang dapat dianggap sebagai sinyal bahwa ia berusaha memainkan peran sebagai &#8220;jembatan politik&#8221;. Namun, pendekatan ini juga dapat menciptakan persepsi bahwa Puan berkompromi dengan nilai-nilai inti partai. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks psikologi kepemimpinan, faktor ini bisa saja membuat Megawati menilai adanya potensi ancaman yang ditimbulkan oleh jika Puan diberikan jabatan Ketum pada Kongres 2025 nanti. Hal ini karena secara alamiah manusia cenderung lebih takut kehilangan apa yang sudah dimiliki dibandingkan memperoleh sesuatu yang baru.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam hal ini, Megawati mungkin khawatir bahwa memberikan kepercayaan penuh kepada Puan dapat merusak warisan politik yang telah ia bangun dengan susah payah. Sikap Puan yang lebih akomodatif terhadap pihak luar dapat memunculkan kekhawatiran bahwa ia akan mengorbankan nilai-nilai partai demi mencapai konsensus politik.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lebih jauh, teori &#8220;<em>ingroup vs. outgroup bias</em>&#8221; dalam psikologi sosial dapat membantu menjelaskan mengapa Megawati mungkin ragu terhadap Puan. Dalam teori ini, individu cenderung memberikan kepercayaan lebih kepada anggota kelompok yang menunjukkan kesetiaan tinggi dan menghindari perilaku yang dapat dianggap mendukung kelompok luar. Sikap Puan yang tampak lebih &#8220;ramah&#8221; terhadap lawan politik partai dapat membuatnya terlihat sebagai ancaman potensial yang memungkinkan terjadinya infiltrasi kepentingan eksternal ke dalam PDIP. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, tekanan hukum dan politik yang dihadapi PDIP, seperti kasus hukum yang melibatkan Sekjen Hasto Kristiyanto, semakin memperkuat pentingnya kepemimpinan yang kuat dan tidak terpengaruh oleh pengaruh luar. Dalam situasi ini, Megawati mungkin merasa dirinya masih diperlukan secara langsung untuk menunjukkan kapasitas sebagai pemimpin yang tegas dalam menghadapi tantangan tersebut.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, jika kepercayaan terhadap Puan memang belum optimal, kira-kira langkah apa yang tengah dipersiapkan Megawati dalam menyambut Kongres 2025?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-1.png" alt="image" class="wp-image-157682" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-1.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-1-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-1-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-1-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/image-1-696x696.png 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Kembali Dipimpin Megawati?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Penutup dari analisis ini membawa kita pada prediksi menarik menjelang Kongres PDIP 2025 mendatang. Dalam konteks politik yang semakin dinamis dan penuh tekanan, Megawati kemungkinan besar akan tetap mempertahankan posisinya sebagai Ketum PDIP.  </p>



<p class="wp-block-paragraph">Langkah ini dapat dimaknai sebagai upaya untuk menjaga soliditas partai di tengah ancaman politik dan hukum yang terus mengintai. Dengan tetap berada di pucuk kepemimpinan, Megawati dapat memastikan bahwa kendali partai tetap berada dalam genggaman yang tegas dan stabil.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Megawati juga bisa saja sesungguhnya telah mempersiapkan strategi kontingensi untuk mengantisipasi kondisi di mana ia tidak lagi mampu melanjutkan tugasnya. Dalam skenario ini, Prananda Prabowo, putra Megawati, dapat menjadi pilihan utama sebagai penerus. Prananda selama ini dikenal sebagai sosok yang lebih banyak bekerja di balik layar namun memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika partai dan loyalitas yang tak diragukan. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan menjadikan Prananda sebagai “strategi cadangan”, Megawati dapat memastikan bahwa arah dan ideologi partai tetap terjaga, sekaligus memberikan waktu bagi Puan untuk membuktikan kapasitas dan loyalitasnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prediksi ini menunjukkan bahwa Megawati tidak hanya berorientasi pada kelangsungan kepemimpinan partai, tetapi juga pada keberlanjutan ideologi dan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi PDIP. Dengan strategi yang matang, Megawati dapat menghadapi tantangan politik ke depan sambil memastikan bahwa regenerasi kepemimpinan partai berlangsung tanpa gejolak yang merugikan. </p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi pada akhirnya tentu ini semua hanyalah asumsi belaka, yang jelas, menjelang Kongres 2025 nanti konstelasi politik di internal PDIP menarik untuk terus kita soroti. Layak kita tunggu dinamikanya. (D74)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="8w2Kg6rB9Ao"><iframe loading="lazy" title="Politik Core Indonesia 2024: Kaleidoskop" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/8w2Kg6rB9Ao?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/01/kongres-pdip-yang.mp3" length="2724549" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/12/62b4469885098.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puan Sudah Siap Ketuai PDIP?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-sudah-siap-ketuai-pdip/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 02 Oct 2024 11:19:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prananda Prabowo]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=153821</guid>

					<description><![CDATA[Puan Maharani kembali terpilih sebagai Ketua DPR RI untuk periode 2024-2029. Jika mampu menyelesaikan kepemimpinan hingga tahun 2029, maka Puan akan tercatat sebagai anggota DPR dengan masa jabatan terlama dan memimpin dalam 2 periode. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/puan-1-5lmgkm2e.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Puan Maharani kembali terpilih sebagai Ketua DPR RI untuk periode 2024-2029. Jika mampu menyelesaikan kepemimpinan hingga tahun 2029, maka Puan akan tercatat sebagai anggota DPR dengan masa jabatan terlama dan memimpin dalam 2 periode. Posisi tertinggi di lembaga legislatif ini sekaligus juga memperkuat posisi Puan sebagai kandidat utama kepemimpinan PDIP selanjutnya, menggantikan Megawati Soekarnoputri.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Puan Maharani telah lama menjadi salah satu figur sentral dalam politik Indonesia. Keterpilihannya kembali sebagai Ketua DPR RI periode 2024-2029 memperkuat posisinya sebagai pemimpin perempuan yang berpengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di tengah dinamika politik internal PDIP, Puan digadang-gadang sebagai salah satu calon kuat untuk menggantikan ibunya, Megawati Soekarnoputri, sebagai Ketua Umum PDIP. Namun, pertanyaannya adalah, apakah Puan benar-benar siap untuk memimpin partai terbesar di Indonesia ini? Atau justru saudaranya, Prananda Prabowo, yang lebih berpeluang?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ini penting, mengingat Prananda Prabowo kerap disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Megawati dan juga memiliki peluang besar untuk memimpin PDIP ke depan. Akankah Puan memenangkan pertarungan dengan saudara beda ayahnya ini?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Puan Maharani: Pewaris Dinasti Politik Soekarno</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai cucu dari proklamator dan Presiden pertama Indonesia, Soekarno, Puan Maharani tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang dinasti politik keluarga besar Soekarno. Jejak politiknya dimulai sejak ia aktif di PDIP, dan perannya semakin penting setelah ia dipercaya sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di kabinet Presiden Jokowi, sebelum kemudian menjadi Ketua DPR RI periode 2019-2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terpilih kembali sebagai Ketua DPR RI periode 2024-2029 memperkuat posisinya sebagai salah satu politisi perempuan paling kuat di Indonesia saat ini. Jabatan ini memberikan Puan modal politik yang kuat, baik dari segi legitimasi publik maupun pengalaman berpolitik di tingkat nasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Untuk memahami peluang Puan sebagai pemimpin PDIP selanjutnya, kita bisa melihatnya melalui lensa pemikiran Max Weber, yang membagi otoritas kepemimpinan menjadi tiga kategori: tradisional, rasional, dan karismatik. Dalam konteks Puan, otoritas tradisional dan rasional tampak dominan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Terkait otoritas tradisional misalnya, berakar pada warisan dan status yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dalam hal ini, Puan Maharani merupakan bagian dari dinasti Soekarno, yang secara historis memiliki tempat khusus dalam sejarah PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum PDIP selama bertahun-tahun mewariskan pengaruh politik yang kuat kepada Puan. Keluarga Soekarno tetap dihormati oleh banyak kader PDIP, dan ini memberi Puan keuntungan besar sebagai pewaris dinasti politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Warisan politik keluarga inilah yang memberikan Puan kekuatan tradisional dalam PDIP. Banyak kader dan simpatisan yang melihat Puan sebagai sosok yang memiliki legitimasi sejarah untuk melanjutkan kepemimpinan Megawati. Meskipun otoritas tradisional ini penting, modal tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan politik yang lebih rasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara otoritas rasional, menurut Weber, adalah otoritas yang muncul dari posisi dan tanggung jawab formal dalam sistem pemerintahan atau organisasi. Dalam konteks Puan, otoritas rasionalnya berasal dari jabatan-jabatan penting yang telah diembannya, termasuk sebagai Menteri Koordinator dan Ketua DPR. Kedua posisi ini memberi Puan pengalaman langsung dalam mengelola kebijakan publik dan membangun koalisi politik di parlemen.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan pengalaman yang luas di legislatif dan eksekutif, Puan mampu menunjukkan bahwa ia memiliki kompetensi teknokratis dan kemampuan memimpin yang diperlukan untuk memimpin partai politik besar seperti PDIP. Otoritas rasional ini dapat menjadi modal penting untuk menarik simpati kader partai yang lebih pragmatis dan melihat kepemimpinan berdasarkan kemampuan dan pengalaman.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, satu aspek yang kurang menonjol dari Puan adalah otoritas karismatik. Weber menjelaskan otoritas karismatik sebagai kemampuan pemimpin untuk memikat dan menggerakkan massa dengan pesonanya. Dalam hal ini, Puan tampaknya lebih mengandalkan otoritas tradisional dan rasional dibandingkan dengan karisma pribadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Karisma, meski penting, bukanlah satu-satunya modal untuk memimpin partai, terutama jika ada dukungan kuat dari jaringan internal partai dan kekuatan birokratis.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Prananda Prabowo: Pesaing atau Penerus?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, Prananda Prabowo, putra Megawati Soekarnoputri dari pernikahan pertamanya, juga memiliki peluang besar untuk menggantikan ibunya. Meski perannya di publik tidak terlalu menonjol, Prananda sangat berpengaruh di lingkup internal PDIP. Ia dikenal sebagai orang kepercayaan Megawati, bahkan beberapa kali disebut sebagai “tangan kanan” yang mengendalikan berbagai strategi politik PDIP dari balik layar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Banyak yang berpendapat bahwa Prananda adalah penerus alami Megawati karena kedekatannya dengan sang ibu dan perannya dalam merancang strategi partai selama bertahun-tahun. Kedekatan ini mengingatkan kita pada otoritas tradisional yang juga dimiliki oleh Puan, tetapi dengan pendekatan yang lebih bersifat &#8220;internal&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Prananda memiliki kelebihan dalam memahami dinamika internal partai dan menjaga stabilitas PDIP melalui jalur birokrasi dan organisasi yang rapi. Jika Puan lebih menonjol di ruang publik dengan berbagai jabatannya, Prananda justru memainkan peran di belakang layar, mengelola dan merumuskan arah strategis partai. Hal ini membuatnya berpotensi menjadi calon kuat jika partai membutuhkan sosok yang lebih teknokratis dan terorganisir.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dinamika Internal PDIP: Siapa yang Akan Diuntungkan?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaan besar yang muncul adalah siapa yang akan lebih diuntungkan dari dinamika ini? Puan dengan modal politiknya yang kuat dan otoritas formal di ruang publik, atau Prananda yang lebih dekat secara personal dengan Megawati dan memiliki kendali atas struktur partai?</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di satu sisi, Puan memiliki keunggulan dari sisi pengalaman publik dan dukungan dari kader yang menghormati garis keturunan Soekarno. Di sisi lain, Prananda menawarkan stabilitas dan keberlanjutan visi partai dengan pendekatan yang lebih terstruktur. Apapun hasil akhirnya, kepemimpinan PDIP di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor ini, baik dari sisi otoritas tradisional maupun rasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ketika Megawati Soekarnoputri perlahan-lahan mundur dari politik aktif, pertanyaan mengenai siapa yang akan menggantikannya menjadi semakin relevan. Baik Puan Maharani maupun Prananda Prabowo memiliki modal politik yang berbeda, namun sama kuatnya. Tantangan utama bagi PDIP ke depan adalah menemukan pemimpin yang tidak hanya dapat menjaga warisan Soekarno tetapi juga mampu merespons tantangan politik modern yang lebih kompleks.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jika PDIP menginginkan sosok yang bisa menjaga kesinambungan politik partai di tingkat nasional, Puan dengan segala pengalamannya di legislatif dan eksekutif mungkin menjadi pilihan yang tepat. Namun, jika partai membutuhkan sosok yang lebih terorganisir di balik layar dan lebih memahami dinamika internal partai, Prananda mungkin akan tampil sebagai pilihan yang lebih rasional.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagaimanapun juga, PDIP akan menghadapi pilihan sulit ke depan, dan siapa pun yang akan memimpin partai ini, baik Puan maupun Prananda, harus mampu menghadirkan kepemimpinan yang tidak hanya didasarkan pada otoritas tradisional tetapi juga mampu membawa PDIP menghadapi tantangan politik masa depan dengan pendekatan rasional dan strategis. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Ag-AVM3MKjs"><iframe loading="lazy" title="Indonesia Digerayangi Mata-mata Xi Jinping?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Ag-AVM3MKjs?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/puan-1-5lmgkm2e.mp3" length="3365440" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/10/66878bcceb852.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Anies, Petarung Pilihan Mega Lawan Jokowi? </title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-petarung-pilihan-mega-lawan-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Jun 2024 11:48:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2019]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Surya Paloh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=147754</guid>

					<description><![CDATA[Anies Baswedan sepertinya jatuh dalam bidikan PDIP untuk menjadi Cagub dalam Pilgub Jakarta. Mungkinkah Anies jadi pilihan yang tepat? ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/anies-pdip-full.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Anies Baswedan sepertinya jatuh dalam bidikan PDIP untuk menjadi Cagub dalam Pilgub Jakarta. Mungkinkah Anies jadi pilihan yang tepat?</strong> </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">PinterPolitik.com</a>&nbsp;</p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Genderang perang menjelang Pemilihan Gubernur Daerah Khusus Jakarta (Pilgub DKJ) tampak bertabuh semakin kencang. Seluruh partai-partai politik besar rasanya sudah mulai melakukan manuver masing-masing demi memenangkan kursi nomor satu di daerah ‘mantan’ Ibu Kota Indonesia, pada 27 November 2024 nanti.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu manuver partai politik yang paling menarik untuk disorot di Jakarta tentu adalah dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Kabar terbarunya, kendati hampir tidak pernah memiliki kesamaan pandangan politik, PDIP ‘mengirim sinyal’ bahwa mereka akan mengusung Anies Baswedan untuk Pilgub DKJ. Sinyal ini bahkan disampaikan langsung oleh Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, yang menyebut Anies adalah pilihan yang ‘menarik’.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, Anies sendiri juga telah mengirim sinyal positif kembali kepada PDIP dengan menyebut PDIP adalah partai yang ‘menarik’. Hal tersebut sontak memunculkan spekulasi-spekulasi menarik di publik bahwa pada November nanti Anies akan memiliki teman kuat yang baru yakni sang Partai Banteng Moncong Putih. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, potensi bersatunya Anies dan PDIP sesungguhnya tampaknya tidak hanya memiliki bobot dari aspek elektoral Pilgub DKJ saja. Melihat konstelasi politik paska Pemilihan Presiden 2024 (Pilpres 2024), ada kemungkinan peluang kerja sama Anies dan PDIP menyimpan suatu motif politik yang lebih dalam dari sekadar kepentingan Pilgub.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lantas, motif politik apa yang kira-kira tersimpan di balik wacana ini?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="990" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2.png" alt="image 2" class="wp-image-147757" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2.png 990w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2-290x300.png 290w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2-145x150.png 145w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2-768x794.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2-150x155.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2-300x310.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/image-2-696x720.png 696w" sizes="auto, (max-width: 990px) 100vw, 990px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Anies, ‘Senjata’ Megawati dalam Pertaruhan di Jakarta?</strong>&nbsp;&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Kalau kita coba menelusuri arah posisi politik PDIP di pemerintahan yang baru, kita akan menyadari bahwa banyak orang yang yakin partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri tersebut akan berada di luar pemerintahan. Motivasinya cukup banyak, tapi mungkin&nbsp;yang paling utama bisa diasumsikan adalah tensi politiknya dengan keluarga Joko Widodo (Jokowi).&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tentunya, jika kita berangkat dari asumsi yang sama, ada kemungkinan ‘kebencian’ PDIP terhadap keluarga Jokowi akan tetap terjaga hingga pemerintahan selanjutnya, karena keberadaan Gibran Rakabuming Raka, yang merupakan putra dari Jokowi sendiri. Maka dari itu, meski tidak selalu, peluang adanya motif di atas dalam manuver-manuver politik PDIP pantas untuk selalu kita pertanyakan, termasuk dalam persoalan Pilgub DKJ.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai sebuah daerah yang akan memiliki otonomi khusus, posisi Gubernur DKJ sekiranya sanggup jadi misi terbesar PDIP sekarang. Sebagai contoh, di dalam Pasal 3 ayat 1 dalam RUU DKJ, disebutkan bahwa DKJ berkedudukan sebagai pusat perekonomian nasional, kota global, dan kawasan aglomerasi. Ini artinya, meski tahta Ibu Kota sudah tidak lagi di Jakarta, secara <em>de facto</em> aktivitas perputaran uang Indonesia tetap akan berpusat di Jakarta.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, siapapun yang menjadi Gubernur DKJ nanti, pihaknya akan sangat memiliki daya tawar yang sangat tinggi dengan pemerintah pusat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya lantas tertuju kepada Anies. Bila memang ambisi PDIP untuk Pilgub DKJ begitu besar, mengapa Anies bisa jadi pilihan yang menarik bagi Megawati? <em>Well</em>, sekarang kita coba bandingkan saja dengan kandidat-kandidat PDIP lainnya. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, eks-Panglima TNI, Jenderal TNI (Purn.) Andika Perkasa. Kendati secara sekilas Andika bisa jadi pilihan yang menarik, banyak orang lupa bahwa kemampuan politik Andika masih perlu diuji. Sebagai sosok yang muncul dari kalangan militer, Andika perlu menghadapi banyak tantangan besar, seperti stigma ke-kakuan orang militer, seperti yang pernah dihadapi Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 dan 2019. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Meskipun Ahok bisa dikatakan memiliki sentimen dukungan yang cukup positif di media sosial, dirinya bisa dianggap sudah terlalu lama jauh dari arena politik praktis. Pentas politik pada tahun 2024 ini sangatlah berbeda dengan pentas politik ketika Pilkada 2017. Apakah Ahok mampu beradaptasi cepat dengan <em>landscape </em>politik sekarang? Mungkin bisa, tetapi hal tersebut kembali lagi masih perlu diuji. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sekarang kita coba nilai Anies Baswedan. Jujur saja, di dalam konstelasi politik saat ini, Anies tampaknya menjadi pilihan yang paling menarik secara elektoral. Meski Anies mengalami kekalahan ketika Pilpres kemarin, namun kekalahan Anies bisa dikatakan cukup istimewa karena Anies mendapatkan suara yang cukup tinggi dibanding Ganjar Pranowo, padahal mereka berasal dari kubu yang awalnya paling dipertanyakan secara logistik. Hal ini membuktikan bahwa jika saja pada Pilpres kemarin Prabowo tidak bertanding, bisa saja Anies jadi pemenangnya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, jangka waktu Pilkada 2024 yang tidak begitu jauh dengan Pilpres 2024 pun bisa dikatakan masih menyisakan rasa ‘dendam’ dari para pendukung Anies. Tentunya, mereka yang kecewa dengan hasil Pilpres kemarin akan melihat Pilkada 2024 sebagai momentum balas dendam untuk Anies.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya itu, Anies pun memiliki satu keunikan yang tidak dimiliki kandidat PDIP lainnya, yakni politik sentimen. Bagi sejumlah pendukung garis keras Anies, potensi ini bisa saja jadi sesuatu yang menarik untuk ‘dieksploitasi’ kembali.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya lantas hanya satu, seberapa besar peluang Anies terima pinangan PDIP jika terjadi nanti?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-pinterpolitik-com wp-block-embed-pinterpolitik-com"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<blockquote class="wp-embedded-content" data-secret="0vNpMU74l4"><a href="https://www.pinterpolitik.com/infografis/apa-yang-sebenarnya-diinginkan-israel/">Apa yang Sebenarnya Diinginkan Israel?  </a></blockquote><iframe loading="lazy" class="wp-embedded-content" sandbox="allow-scripts" security="restricted"  title="&#8220;Apa yang Sebenarnya Diinginkan Israel?  &#8221; &#8212; PinterPolitik.com" src="https://www.pinterpolitik.com/infografis/apa-yang-sebenarnya-diinginkan-israel/embed/#?secret=YVcf6o9z5e#?secret=0vNpMU74l4" data-secret="0vNpMU74l4" width="600" height="338" frameborder="0" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no"></iframe>
</div></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong><em>Anies the ‘Political Mercenary’</em></strong><strong>?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Saat ini mungkin pertanyaan terbesar dari para pendukung setia Anies adalah, apakah Anies akan menemukan kecocokan ideologi dengan Megawati dan PDIP? Bagaimana dengan prinsip konsistensi, bukankah PDIP dulu menjadi bagian dari pihak penguasa yang juga dikritik Anies?&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Well</em>, seperti yang pernah dikatakan mantan Perdana Menteri (PM) Inggris, Winston Churchill: tidak ada pertemanan dan permusuhan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan bila kita lihat rekam jejak Anies, mungkin pepatah tersebut sangat menggambarkan manuver-manuver politiknya. Sebelum kepemimpinan Jokowi pada 2014, Anies menjadi bagian dari tim Jokowi sendiri, kemudian pada 2017, Anies berpindah dan menjadi kubu Prabowo, sementara 2024 seperti yang kita ketahui Anies menjadi bagian dari kubu Surya Paloh.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Maka dari itu, mungkin Anies sebetulnya bisa menjadi salah satu contoh ‘<em>political mercenary</em>’ yang paling efektif di Indonesia. Seperti yang diungkap Lindsay Mark Lewis dalam bukunya <em>Political Mercenaries</em>, di dalam politik terdapat sejumlah orang yang tidak memiliki keberpihakan pasti namun mampu menjual jasa elektoral karena ia memiliki keunggulan persona di mata publik. Dalam konteks Anies, bisa jadi karena personal brandingnya yang sudah begitu bagus, ia bisa menjadi tokoh yang tidak perlu berpihak pada siapapun untuk sukses di kancah elektoral.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mungkin hal ini jugalah yang membuat Anies berbeda dengan politisi lain seperti Sandiaga Uno, Erick Thohir, dan Ganjar Pranowo. Politisi-politisi tersebut mungkin memiliki masa di mana mereka begitu menarik di publik, namun tidak mampu mempertahankannya secara lama karena branding mereka belum begitu kuat. &nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Anies bisa berperan sebaliknya karena ia memiliki beberapa stempel-stempel politik yang memang sudah khas bagi dirinya, seperti citra sebagai akademisi dan orang yang agamais. Karena keunggulannya ini mungkin sekarang saatnya Megawati yang terpincut pesona Anies Baswedan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, tentu perlu diingat bahwa ini semua hanyalah interpretasi belaka. Yang jelas, Anies adalah sosok politisi muda yang kiprahnya akan sangat menarik untuk terus kita perhatikan. (D74)&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="h8TG_3A5FTc"><iframe loading="lazy" title="Rahasia Tambang NU-Muhammadiyah-Ormas  I One Step Closer w/ Stafsus Menteri Investasi Rizal Calvary" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/h8TG_3A5FTc?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/06/anies-pdip-full.mp3" length="3433762" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/02/indonesia-electiondebate-1_169.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Rekonsiliasi Terjadi Hanya Bila Megawati Diganti? </title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/rekonsiliasi-terjadi-hanya-bila-megawati-diganti/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[D74]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 13 May 2024 10:53:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Anies Baswedan]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=146442</guid>

					<description><![CDATA[Wacana rekonsiliasi Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) mulai melempem. Akankah rekonsiliasi terjadi di era Megawati? ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/wacana-megawati-full.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Wacana rekonsiliasi Megawati Soekarnoputri dengan Prabowo Subianto dan Joko Widodo (Jokowi) mulai melempem. Akankah rekonsiliasi terjadi di era Megawati?</strong> </p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="http://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener nofollow">PinterPolitik.com</a>&nbsp;</p>



<p class="dropcapp3 wp-block-paragraph">Wacana pertemuan antara Ketua Umum (Ketum) PDIP, Megawati Soekarnoputri, dan Ketum Partai Gerindra, termasuk Presiden terpilih, Prabowo Subianto, masih menjadi buah bibir masyarakat.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan jujur saja, belakangan mulai banyak yang pesimis pertemuan antara dua elite politik Indonesia tersebut tidak akan terjadi. Tidak heran, rencana pertemuan Megawati dan Prabowo sudah mulai dibunyikan seminggu setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) berakhir, tetapi hingga saat ini belum ada perkembangan yang jelas.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra, Ahmad Muzani membantah pertemuan Megawati dan Prabowo mengalami kemandekkan. Belum adanya perkembangan kata Muzani bisa jadi karena memang Megawati dan Prabowo masih disibukkan keperluan mereka masing-masing. Bersamaan dengan itu, Muzani tetap membuka kemungkinan pertemuan keduanya akan terjadi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dinamika ini tentu menarik untuk kita telaah. Lantas, bagaimana kita bisa menganalisis kemungkinan pertemuan Megawati dan Prabowo jika melihat lanskap politik terkini?&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-5.png" alt="image 5" class="wp-image-146445" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-5.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-5-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-5-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-5-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-5-696x696.png 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Megawati Terlampau “Emoh” Bertemu?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Rasanya sudah jadi rahasia umum bahwa PDIP dan Megawati khususnya, memiliki perbedaan pandangan politik yang cukup mendalam dengan kubu pemerintah. Hal ini tentunya berpusat pada gestur-gestur politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang semakin hari semakin tunjukkan dirinya tidak lagi berada dalam “<em>server</em>” yang sama dengan PDIP.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menariknya, jika PDIP masih dipimpin dengan gaya yang selama ini dipimpin, besar kemungkinannya wacana rekonsiliasi antara Megawati dan Prabowo ataupun Jokowi akan pupus. Ada beberapa hal yang bisa jadi pertimbangan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Pertama</em>, hal ini berkaitan dengan asumsi dominasi logika individualistik yang berlaku di dalam keorganisasian PDIP. Seperti yang kita ketahui, setiap elite PDIP yang diminta oleh media untuk menjelaskan keputusan strategis di partai selalu menyatakan bahwa keputusan tersebut tergantung pada kehendak Megawati, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menjadi simbol bahwa apapun yang PDIP hendak lakukan, itu kemungkinan tidak terjadi jika tidak disetujui Megawati.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dan melihat bagaimana catatan sejarah rekonsiliasi Megawati, contohnya dengan Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), impian perdamaian ini mungkin sangat sulit untuk terwujud.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Masalahnya, hal ini membuat wacana rekonsiliasi begitu bergantung kepada kelembutan hati Megawati. Meskipun mungkin PDIP akan sangat diuntungkan secara politik bila bekerja sama dengan kubu Prabowo-Gibran, bila Megawati masih menolaknya, maka wacana itu tetap tidak akan terjadi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Kedua</em>, rekonsiliasi juga sangat sulit terjadi karena harga diri partai dan para elitenya. Skenario bergabungnya PDIP ke Prabowo-Gibran diprediksi tidak hanya akan sakiti “hati&nbsp;politik” para elitenya karena selama ini selalu menempatkan diri sebagai oposisi, tetapi juga hati para konstituennya yang dikenal begitu ideologis. Kalau logika individualistik masih berperan kuat, tentu hal ini bisa jadi penghambat besar rekonsiliasi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, dua hal tadi bukanlah pendorong terkuat mengapa Megawati akhirnya akan putuskan untuk tidak rekonsiliasi dengan Prabowo ataupun Jokowi.&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-6.png" alt="image 6" class="wp-image-146446" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-6.png 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-6-300x300.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-6-150x150.png 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-6-768x768.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/image-6-696x696.png 696w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Megawati Perlu Prabowo Jadi Musuh?</strong>&nbsp;</h2>



<p class="wp-block-paragraph">Potensi Megawati dan PDIP sebagai oposisi dari pemerintah, Prabowo, dan Jokowi tidak hanya akan “menangkan” egosentrisme, tetapi sepertinya juga politik. Jika berada di luar pemerintahan, PDIP pasti memiliki keunggulan dan modal untuk menghadirkan beberapa narasi yang populis, mulai dari “penjaga demokrasi” hingga pencegah penyalahgunaan kekuasaan.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Entah kebetulan atau tidak, PDIP pun kini menjadi satu-satunya partai yang memiliki pengalaman, ketahanan, dan kekuatan untuk menjadi oposisi. Kita bisa lihat sendiri <em>track record</em> mereka dari 2004 hingga 2014.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tidak hanya menciptakan kesan positif di hadapan rakyat dan pemilih tradisional sebagai landasan untuk mengembangkan kekuatan dalam kontes elektoral berikutnya, tetapi juga dapat menjadi alat tawar dan platform politik tertentu sebagai &#8220;musuh yang diperlukan&#8221;. Persis seperti konsep musuh yang diperlukan (<em>necessary enemy</em>) dari ilmuwan politik, Leopoldo Fergusson.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tujuannya adalah agar masyarakat tetap memiliki alasan untuk melihat bahwa mereka masih membutuhkan kontribusi dari para pemain politik ini, baik yang sedang berkuasa maupun yang berperan sebagai penyeimbang, untuk memastikan kelangsungan stabilitas.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, sejatinya ini tidak menutup kemungkinan PDIP berganti haluan dan melembut ke Prabowo dan Jokowi, karena bagaimanapun politik selalu bersifat dinamis. Pertanyaannya, akankah hal itu terjadi di era Megawati atau Ketum PDIP selanjutnya? <em>Well, we just have to wait and see</em>. (D74)&nbsp;</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="a8taRzGWxsw"><iframe loading="lazy" title="Beras, ”Biang Keladi” Meledaknya Populasi Asia?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/a8taRzGWxsw?start=59&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/wacana-megawati-full.mp3" length="2454758" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/05/megawati-prabowo-1024x683.webp" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Budi Gunawan Menuju Menteri Prabowo?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/budi-gunawan-menuju-menteri-prabowo/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 May 2024 15:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Budi Gunawan]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=146315</guid>

					<description><![CDATA[Dengarkan artikel ini: Nama Kepala BIN Budi Gunawan disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon menteri yang “dititipkan” Presiden Jokowi kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Hal ini menarik mengingat Budi Gunawan kerap diliha sebagai sosok yang dekat dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sementara, kita tahu bahwa hubungan Jokowi dan Mega sedang panas-panasnya sejak Pilpres 2024 [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Alasan+Ketergantungan+Minyak+Bumi+Sulit+Dihilangkan&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Falasan-ketergantungan-minyak-bumi-sulit-dihilangkan%2F&amp;via=PinterPolitik.com" rel="nofollow"></a></p>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://twitter.com/intent/tweet?text=Alasan+Ketergantungan+Minyak+Bumi+Sulit+Dihilangkan&amp;url=https%3A%2F%2Fwww.pinterpolitik.com%2Fin-depth%2Falasan-ketergantungan-minyak-bumi-sulit-dihilangkan%2F&amp;via=PinterPolitik.com" rel="nofollow"></a><a href="https://pinterest.com/pin/create/button/?url=https://www.pinterpolitik.com/in-depth/alasan-ketergantungan-minyak-bumi-sulit-dihilangkan/&amp;media=https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/08/mobil-listrik.jpg&amp;description=Alasan+Ketergantungan+Minyak+Bumi+Sulit+Dihilangkan"></a><a href="https://api.whatsapp.com/send?text=Alasan+Ketergantungan+Minyak+Bumi+Sulit+Dihilangkan%20%0A%0A%20https://www.pinterpolitik.com/in-depth/alasan-ketergantungan-minyak-bumi-sulit-dihilangkan/"></a></p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/bg-full.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat dengan menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Nama Kepala BIN Budi Gunawan disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon menteri yang “dititipkan” Presiden Jokowi kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Hal ini menarik mengingat Budi Gunawan kerap diliha sebagai sosok yang dekat dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Sementara, kita tahu bahwa hubungan Jokowi dan Mega sedang panas-panasnya sejak Pilpres 2024 lalu.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Presiden Jokowi disebut-sebut mengajukan nama&nbsp;Budi Gunawan&nbsp;untuk masuk pemerintahan Prabowo Subianto.&nbsp;Budi Gunawan atau Pak BG yang saat ini menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).&nbsp;Kabar ini ditulis Majalah Tempo dalam laporan utama pekan ini: “Orang Lama Kabinet Baru”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Disebutkan bahwa ada pejabat di Istana dan petinggi Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran yang menceritakan bahwa Prabowo siap mengakomodasi calon menteri yang diajukan oleh Jokowi.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sumber tersebut menceritakan bahwa setidaknya Jokowi mengajukan empat nama yaitu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Kepala BIN Budi Gunawan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pengajuan nama Budi Gunawan, seperti dituliskan oleh Tempo, bertujuan untuk meluluhkan Ketua Umum PDIP Megawati Sukarnoputri.&nbsp;BG adalah ajudan Megawati saat menjadi Presiden pada Juli 2001 hingga Oktober 2004 dan sering disebut-sebut sebagai salah satu orang dekat Mega.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara, hubungan Jokowi dan Megawati memburuk karena Jokowi ditengarai mendukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.&nbsp;Ini karena PDIP mengusung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD yang menjadi lawan Prabowo-Gibran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Posisi menarik BG yang lain adalah karena ia salah satu orang yang berjasa dalam rekonsiliasi politik Jokowi dan Prabowo pasca Pilpres 2019 lalu. Rekonsiliasi ini jadi kunci kondusivitas politik nasional kala itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jokowi sendiri membantah ikut campur dalam penyusunan kabinet Prabowo.&nbsp;Eks Walikota Solo itu mengatakan formasi kabinet merupakan hak prerogatif presiden terpilih, meski ia menyebut “kalau memberikan usul, boleh-boleh saja”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya kemudian adalah akankah BG benar-benar menjadi salah satu menteri di kabinet Prabowo nanti?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Karier Menawan Budi Gunawan</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Pergantian pemerintahan memang selalu menimbulkan spekulasi terkait komposisi kabinet baru. Demikianpun yang terjadi dalam konteks munculnya nama BG sebagai sosok yang diusulkan Jokowi untuk jadi menteri di kabinet Prabowo.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai gambaran umum, Budi Gunawan adalah seorang perwira tinggi Polri yang sempat mencuat namanya dalam kontroversi pada tahun 2015 ketika dia diusulkan menjadi Kapolri. Meskipun usulannya ditolak oleh Komisi III DPR atas dugaan keterlibatannya dalam korupsi serta isu rekening gendut yang diungkapkan oleh KPK kala itu, namun ia kemudian diangkat menjadi Kepala BIN oleh Presiden Jokowi. Sejak itu, Budi Gunawan tidak terlalu sering muncul dalam pemberitaan, tetapi namanya masih sering disebut dalam konteks politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Peluang Budi Gunawan untuk menjadi menteri di kabinet Prabowo bisa dilihat dari beberapa faktor. Pertama, hubungan politik antara Budi Gunawan dan Prabowo. Meskipun tidak ada hubungan langsung yang terlihat di antara keduanya, namun dalam dinamika politik Indonesia, seringkali kesempatan bagi figur-figur yang memiliki pengalaman dan koneksi di tubuh aparat keamanan untuk menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan cukup besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Budi Gunawan, dengan latar belakangnya di Polri dan pengalaman sebagai Kepala BIN, bisa menjadi aset yang berharga bagi Prabowo dalam membangun kabinetnya. Selain itu, ia bisa disebut sebagai penghubung 3 elite: Jokowi, Megawati dan Prabowo sendiri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Inilah yang mungkin bisa disebut sebagai faktor rekonsiliasi politik. Dalam konteks pembentukan kabinet koalisi, seringkali terjadi dinamika rekonsiliasi politik di antara elite-elite nasional. Nominasi Budi Gunawan oleh Presiden Jokowi kepada Prabowo bisa menjadi bagian dari upaya rekonsiliasi politik yang lebih luas terhadap Megawati, di mana pembentukan kabinet yang inklusif dengan melibatkan tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang politik dapat menjadi langkah awal untuk memperkuat stabilitas politik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Nah, pertimbangan tentang kedekatan Budi Gunawan dengan Megawati Soekarnoputri juga menjadi faktor penting dalam memahami peluangnya untuk menjadi menteri di kabinet Prabowo. Megawati, sebagai Ketua Umum PDIP, memiliki pengaruh yang besar dalam politik Indonesia. Dengan asumsi adanya nama Budi Gunawan adalah untuk sedikit “menegsosiasikan” posisi politik PDIP yang berpotensi menjadi oposisi pemerintahan, Jokowi dan Prabowo tentu berharap berbagai kebijakan yang diputuskan tidak mendapatkan tentangan berarti dari parlemen.</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Dinamika Elite</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Setidaknya ada beberapa bangunan pikir yang bisa digunakan untuk menganalisis fenomena ini. Dari sudut pandang teori elite politik misalnya – yang pertama kali dikembangkan oleh ahli sosiologi seperti Vilfredo Pareto dan Max Weber – disebutkan bahwa peran kelompok elite dalam proses pengambilan keputusan politik sangatlah krusial.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurut teori ini, keputusan politik diarahkan oleh sejumlah kecil individu yang memiliki kekuasaan, kekayaan, dan pengaruh sosial yang besar. Dalam konteks ini, peluang Budi Gunawan untuk menjadi menteri dapat dianalisis melalui koneksi dan pengaruhnya di dalam lingkaran elite politik Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kemudian, dari sudut pandang pendekatan analisis jejaring politik atau <em>political network analysis</em>, kita bisa melihat hubungan dan koneksi politik yang dimiliki oleh Budi Gunawan. Dengan menganalisis jejak karir, afiliasi politik, dan interaksi dengan aktor politik lainnya, kita dapat memahami dinamika hubungan politik yang mungkin memengaruhi peluangnya untuk menduduki jabatan menteri.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sementara dari sudut pandang teori rekonsiliasi politik, fenomena BG ini menggambarkan soal pentingnya kolaborasi dan rekonsiliasi antara berbagai pihak politik yang bertikai untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ini, nominasi Budi Gunawan oleh Presiden Jokowi kepada Prabowo bisa dilihat sebagai upaya rekonsiliasi politik yang bertujuan untuk memperkuat stabilitas politik dan membangun kabinet koalisi yang inklusif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya memang munculnya nama BG sebagai kandidat yang diusulkan oleh Jokowi sebagai menteri ini bisa menjadi gambaran besar bahwa politik di tingkat elite masih sangat dinamis. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="a8taRzGWxsw"><iframe loading="lazy" title="Beras, ”Biang Keladi” Meledaknya Populasi Asia?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/a8taRzGWxsw?start=14&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/bg-full.mp3" length="2778478" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/05/3281056465.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Siasat Megawati Pengaruhi Para Hakim MK</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/siasat-megawati-pengaruhi-para-hakim-mk/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Apr 2024 23:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Mahkamah Konstitusi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=145448</guid>

					<description><![CDATA[Megawati mengirimkan pengajuan diri menjadi amicus curiae atau “sahabat pengadilan” yang merupakan pendapat hukumnya kepada para Hakim MK terkait sengketa Pilpres 2024.  ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Megawati mengirimkan pengajuan diri menjadi <em>amicus curiae </em>atau “sahabat pengadilan” yang merupakan pendapat hukumnya kepada para Hakim MK terkait sengketa Pilpres 2024. Pendapat hukum Mega itu secara keseluruhan hampir sama dengan tulisan yang ia publikasikan di Harian Kompas beberapa waktu lalu. Intinya adalah mengetengahkan persoalan yang terjadi pada demokrasi dan pentingnya para Hakim MK menjaga marwah Mahkamah Konstitusi dan memutuskan perkara secara berkeadilan.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Pendapat hukum Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memang menjadi babak lanjutan dari perkara sengketa Pilpres yang tengah disidangkan di Mahkamah Konstitusi (MK) saat ini. MK setidaknya akan membacakan putusan atas gugatan Pilpres ini pada 22 April 2024 mendatang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dari sisi proses hukum dan kepentingan pada terciptanya rasa keadilan, hal ini sah-sah saja. Bagaimanapun juga, <em>amicus curiae </em>memang diatur dalam sistem hukum di Indonesia, tepatnya dalam Undang-Undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Amicus curiae </em>itu sendiri – seperti sudah disinggung sebelumnya – adalah mekanisme pemberian pandangan hukum dari pihak ketiga di luar mereka yang berperkara. Pihak ini merasa berkepentingan atas perkara dan ingin mengungkapkan pandangannya agar didengarkan oleh para hakim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, Tim Pembela Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka sebagai salah satu pihak yang berperkara menilai posisi Megawati tak tepat dalam mengajukan <em>amicus curiae</em>. Ini karena Mega adalah bagian dari pihak yang berperkara di sidang MK. Kandidat yang ia usung dalam Pilpres 2024 yakni Ganjar Pranowo-Mahfud MD, menjadi salah satu pihak yang terlibat dalam sengketa Pemilu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walaupun demikian, pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah para hakim akan mempertimbangkan <em>amicus curiae </em>Mega ini? Poin penting lainnya adalah bahwa yang mengajukan diri sebagai <em>amicus curiae </em>– atau bentuk jamaknya <em>amici curiae – </em>ini bukan hanya Mega saja. Disebutkan ada 300-an akademisi, tokoh nasional dan mahasiswa yang mengajukan pandangan hukum tersebut. Akankah berdampak?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-1024x1024.jpeg" alt="whatsapp image 2024 04 17 at 14.05.05" class="wp-image-145453" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-1024x1024.jpeg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-300x300.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-150x150.jpeg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-768x768.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-696x696.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05-1068x1068.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-17-at-14.05.05.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Tentang Amicus Curiae</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Amicus curiae</em>, yang berarti &#8220;teman pengadilan&#8221; dalam bahasa Latin, merujuk pada pihak yang memberikan pandangan atau informasi kepada pengadilan dalam kasus tertentu, meskipun mereka bukan merupakan pihak yang terlibat dalam kasus tersebut. Partisipasi <em>amicus curiae</em> sangat penting dalam proses pengambilan keputusan hakim di persidangan, termasuk di Indonesia.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Amicus curiae</em> memberikan manfaat yang signifikan dalam beberapa cara. Pertama, mereka dapat memberikan sudut pandang yang berbeda atau informasi tambahan yang relevan untuk kasus yang sedang dipertimbangkan. Misalnya, dalam kasus yang melibatkan masalah hukum yang kompleks atau kontroversial, amicus curiae dapat memberikan analisis hukum yang mendalam atau pandangan dari sudut pandang yang berbeda.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, <em>amicus curiae</em> juga dapat membantu dalam memastikan bahwa semua aspek dari argumen telah dipertimbangkan secara cermat oleh pengadilan sebelum mengambil keputusan. Dengan menyediakan pandangan dari berbagai pihak yang memiliki kepentingan atau keahlian khusus dalam suatu masalah, pengadilan dapat membuat keputusan yang lebih baik yang mempertimbangkan berbagai perspektif.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di Indonesia, praktik <em>amicus curiae</em> telah mulai diakui dan diterapkan dalam beberapa kasus. Pengadilan Konstitusi Indonesia, misalnya, telah menerima pendapat dari <em>amicus curiae</em> dalam beberapa kasus yang melibatkan penafsiran konstitusi. Pendekatan ini telah dianggap sebagai langkah positif menuju penegakan hukum yang lebih transparan, adil, dan berbasis pengetahuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pemikiran para ahli menyoroti signifikansi efek <em>amicus curiae</em> dalam proses pengambilan keputusan hakim. Beberapa ahli berpendapat bahwa partisipasi <em>amicus curiae</em> dapat meningkatkan kualitas keputusan pengadilan dengan menyediakan informasi yang lebih lengkap dan mendalam kepada hakim.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mereka juga mencatat bahwa <em>amicus curiae</em> dapat membantu meningkatkan legitimasi dan transparansi sistem peradilan dengan membuka proses pengambilan keputusan kepada partisipasi yang lebih luas dari masyarakat atau ahli di bidang tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun demikian, beberapa ahli lain juga menyoroti beberapa tantangan yang terkait dengan penggunaan <em>amicus curiae</em>, termasuk risiko manipulasi atau penyalahgunaan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu. Oleh karena itu, penting bagi pengadilan untuk mempertimbangkan dengan hati-hati pandangan dan informasi yang disampaikan oleh <em>amicus curiae</em>, serta memastikan bahwa partisipasi mereka tidak mengganggu integritas atau independensi proses pengadilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam konteks Megawati, jelas ada kepentingan yang bersangkutan dalam konteks pasangan capres-cawapres yang ia usung. Jadi, masalahnya bukan hanya soal putusan yang berkeadilan dan soal demokrasi yang harus dilindungi semata, tetapi juga ada soalan kepentingan politik Mega sendiri.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-1024x1024.jpeg" alt="whatsapp image 2024 04 16 at 14.18.06" class="wp-image-145454" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-1024x1024.jpeg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-300x300.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-150x150.jpeg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-768x768.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-696x696.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06-1068x1068.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.06.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-1024x1024.jpeg" alt="whatsapp image 2024 04 16 at 14.18.18" class="wp-image-145455" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-1024x1024.jpeg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-300x300.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-150x150.jpeg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-768x768.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-696x696.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18-1068x1068.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-16-at-14.18.18.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Akankah MK Terpengaruh?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebuah studi yang dilakukan oleh Profesor Amanda Frost dari Washington College of Law menyoroti pentingnya peran <em>amicus curiae</em> dalam memperkaya pemikiran hakim dan meningkatkan keputusan pengadilan. Frost menyatakan bahwa partisipasi <em>amicus curiae</em> dapat memberikan pengadilan akses ke informasi tambahan yang mungkin tidak tersedia melalui argumen para pihak yang terlibat langsung dalam kasus tersebut.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam penelitiannya, Frost menyoroti bahwa <em>amicus curiae</em> seringkali memiliki keahlian atau pengetahuan khusus dalam suatu bidang tertentu yang dapat membantu pengadilan memahami implikasi yang lebih luas dari keputusan yang akan diambil. Oleh karena itu, menurut Frost, partisipasi <em>amicus curiae</em> dapat memperkaya pemikiran hakim dan memperkuat integritas sistem peradilan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, Profesor Charles G. Geyh dari Indiana University Maurer School of Law juga menekankan pentingnya peran <em>amicus curiae</em> dalam memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap proses pengadilan. Geyh menyoroti bahwa partisipasi <em>amicus curiae</em> dapat membantu memastikan bahwa semua sudut pandang yang relevan dipertimbangkan oleh pengadilan sebelum mengambil keputusan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, menurut Geyh, partisipasi <em>amicus curiae</em> tidak hanya meningkatkan kualitas keputusan pengadilan, tetapi juga meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sistem peradilan secara keseluruhan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pendapat para ahli seperti Frost dan Geyh menegaskan bahwa peran <em>amicus curiae</em> memiliki dampak yang signifikan dalam proses pengambilan keputusan hakim di persidangan, dengan menyediakan sudut pandang tambahan, informasi, dan pengetahuan khusus yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat dan berbasis pengetahuan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, kembali lagi, pengadilan memiliki penilaian tersendiri. Ketika kembali pada sosok yang mengajukan <em>amicus curiae, </em>maka pertimbangannya adalah soal kepentingan apa yang mungkin diraih dari pengajuan diri itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menarik untuk ditunggu, apakah Hakim MK akan mempertimbangkan <em>amicus curiae </em>yang diajukan Mega. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="a8taRzGWxsw"><iframe loading="lazy" title="Beras, ”Biang Keladi” Meledaknya Populasi Asia?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/a8taRzGWxsw?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/megawati-kirim-surat-amicus-curae-ke-mk-2_169.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Puan x Prabowo: Operasi Rahasia Singkirkan Pengaruh Jokowi?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/puan-x-prabowo-operasi-rahasia-singkirkan-pengaruh-jokowi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[S13]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Apr 2024 09:45:36 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[PDIP]]></category>
		<category><![CDATA[Politik Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=144737</guid>

					<description><![CDATA[Megawati disebut menugaskan sang putri, Puan Maharani, untuk melakukan lobi dan pendekatan ke kubu Prabowo sebagai pemenang Pemilu. ]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel berikut:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/puan-x-prabowo-full.mp3"></audio><figcaption class="wp-element-caption">Audio ini dibuat menggunakan AI.</figcaption></figure>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Megawati disebut menugaskan sang putri, Puan Maharani, untuk melakukan lobi dan pendekatan ke kubu Prabowo sebagai pemenang Pemilu. Hasil lobi-lobi ini disebut akan menjadi penentu jadi atau tidaknya Megawati bertemu Prabowo. Namun, keberhasilan lobi-lobi politik ini bisa berpengaruh pada posisi politik Jokowi – sosok yang beberapa waktu ini berseberangan dengan Mega – dalam konteks pengaruhnya pada pemerintahan Prabowo di periode berikutnya.</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/in-depth/">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Pernyataan Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP Said Abdullah yang menyebut Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menugaskan sang putri yang juga Ketua DPR RI Puan Maharani untuk menjalin lobi politik dengan kubu Prabowo Subianto menyiratkan pesan penting.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kebanyakan orang ini mungkin dianggap jadi bagian dari lobi-lobi biasa yang terjadi pasca Pemilu. Kubu yang menang akan berusaha mencapai konsensus dengan kubu yang kalah agar pemerintahan yang baru bisa dibangun tanpa tentangan berarti dari kubu oposisi atau yang kalah.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bahkan, pada titik paling ekstrem, bisa saja kubu yang kalah dirangkul untuk bersama-sama membentuk pemerintahan baru. Kasus Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo di Pilpres 2019 bisa menjadi salah satu penegasnya. Prabowo yang kalah dirangkul untuk menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi yang baru.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, Puan yang nota bene oleh banyak pihak disebut mewakili “keahlian” dari sang ayah, Taufiq Kiemas, yang mampu jadi penghubung ke banyak pihak, membawa misi yang sangat penting yang akan mempengaruhi dinamika politik dalam beberapa waktu ke depan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalannya, jika Prabowo mendekat ke PDIP dan Mega, akan ada satu elite yang bisa saja kehilangan pengaruh politiknya. Dialah Presiden Jokowi, sosok yang mendukung Prabowo dalam kontessi elektoral yang sudah lewat. Jokowi yang “menempatkan? Sang putra sulung, Gibran Rakabuming Raka, sebagai pasangan Prabowo, tentu saja punya pengaruh yang besar dalam kemenangan Prabowo. Masalahnya, Prabowo diprediksi tak akan mau terlalu berada di bawah bayang-bayang Jokowi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, keberadaan Megawati dan PDIP bisa menjadi perimbangan kekuatan bagi Prabowo. Apalagi, status Jokowi saat ini tak punya partai politik. Jika nanti sudah tak menjabat, otomatis posisi politik Jokowi akan melemah dengan sendirinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertanyaannya tentu saja adalah apakah operasi yang dijalankan oleh Puan Maharani ini akan berhasil?</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1008" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-1008x1024.jpeg" alt="whatsapp image 2024 04 08 at 10.59.16" class="wp-image-144740" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-1008x1024.jpeg 1008w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-295x300.jpeg 295w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-148x150.jpeg 148w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-768x780.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-150x152.jpeg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-300x305.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-696x707.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16-1068x1085.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-10.59.16.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1008px) 100vw, 1008px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Risalah <em>Enemy</em> dan <em>Friend</em></strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Fenomena Prabowo, Jokowi dan Megawati ini setidaknya bisa kita bedah dengan menggunakan salah satu ungkapan paling terkenal dalam sejarah politik: “We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual”. Ini adalah kata-kata yang diungkapkan oleh Lord Palmerston, negarawan asal Inggris yang menjabat sebagai Perdana Menteri negara tersebut antara tahun 1855 sampai 1859.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kata-kata yang ia ungkapkan di hadapan House of Commons pada 1 Maret 1848 itu setidaknya bermakna bahwa dalam politik tak ada kawan dan musuh yang abadi. Semua bisa berubah dari kawan menjadi musuh, dan dari musuh menjadi kawan. Yang abadi hanyalah kepentingan. Karena kepentingan itulah yang mengubah posisi orang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan &#8220;tak ada teman yang abadi, tak ada musuh yang abadi&#8221; dari Lord Palmerston bisa kita kaitkan dengan pandangan jenderal perang Prussia, Carl von Clausewitz (1780-1831) tentang hubungan antara musuh dan teman yang saling melengkapi. Baik Palmerston maupun Clauswitz menggambarkan sifat dinamis dari hubungan interpersonal, politik, dan militer.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lord Palmerston menyoroti bahwa hubungan manusia tidaklah statis. Meskipun seseorang dapat dianggap sebagai teman pada suatu waktu, situasi atau kepentingan yang berubah dapat mengubah dinamika hubungan tersebut. Sebaliknya, seseorang yang dianggap sebagai musuh pada satu waktu bisa menjadi sekutu di waktu yang lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pernyataan Palmerston mencerminkan kebijaksanaan untuk tidak terlalu terikat pada label &#8220;teman&#8221; atau &#8220;musuh&#8221;, tetapi untuk memahami bahwa hubungan antara individu atau negara bisa berubah seiring waktu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sisi lain, pandangan Carl von Clausewitz menekankan fleksibilitas dan penyesuaian strategi dalam menghadapi dinamika hubungan musuh dan teman. Meskipun, ia banyak berbicara dalam konteks perang, namun pemaknaanya soal relasi teman dan musuh ini bisa juga dipakai secara umum.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Menurutnya, pemahaman yang cermat tentang perubahan dalam hubungan antara musuh dan teman penting untuk mencapai kemenangan yang berkelanjutan dalam perang. Clausewitz menyoroti bahwa musuh hari ini bisa menjadi teman besok, dan sebaliknya. Oleh karena itu, strategi militer harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ini untuk mencapai keunggulan dalam pertempuran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kedua pandangan ini memberikan pemahaman yang mendalam tentang sifat dinamis dari hubungan manusia, politik, dan militer. Karena politik itu sendiri bisa kita analogikan sebagai perang dan pertarungan gagasan, maka tak heran jika konteks perubahan teman dan musuh ini menjadi sangat relevan untuk dilihat.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Elaborasi soal relasi teman dan musuh ini memang berlaku untuk Prabowo, Jokowi dan Megawati. Siapa yang menyangka Megawati yang di 2014 dan 2019 menjadi sekutu dan teman Jokowi, berubah menjadi “musuh” Jokowi di 2024. Siapa pula yang menyangka Prabowo yang jadi musuh Jokowi di 2014 dan 2019 bisa berubah menjadi sekutu Jokowi pasca Pilpres 2019 dan di Pilpres 2024.</p>



<figure class="wp-block-image size-large"><img loading="lazy" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-1024x1024.jpeg" alt="whatsapp image 2024 04 08 at 11.59.40" class="wp-image-144741" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-1024x1024.jpeg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-300x300.jpeg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-150x150.jpeg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-768x768.jpeg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-696x696.jpeg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40-1068x1068.jpeg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/whatsapp-image-2024-04-08-at-11.59.40.jpeg 1080w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Menebak Nasib Jokowi</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Persoalannya tinggal akan seperti apa nasib Jokowi pasca tak lagi menjabat. Berharap pada pengaruh politik Gibran sebagai daya tawar di pemerintahan Prabowo agaknya sulit. Pasalnya, posisi wakil presiden bukanlah posisi yang kuat jika presiden masih kuat menjabat. Daya tawarnya berbeda dibandingkan katakanlah dengan partai besar yang ada di parlemen yang bisa “menghambat” pembuatan undang-undang atau kebijakan tertentu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dengan demikian, pilihan paling masuk akal bagi Jokowi adalah mengupayakan adanya partai politik yang bisa ia kontrol. Bukan rahasia lagi jika Golkar menjadi partai yang digadang-gadang akan menjadi tempat sang presiden berlabuh. Jika Jokowi bisa bergabung dengan Golkar dan mempengaruhi kepemimpinan partai ini, maka posisi politiknya masih akan berpengaruh.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, perlu menjadi catatan bahwa Golkar adalah partai yang diisi oleh banyak tokoh alias banyak “pemegang saham”. Lobi-lobi politiknya akan sengit dan penuh tantangan. Apalagi dari sosok-sosok yang sudah lama ada di partai beringin itu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Opsi lain – yang mungkin akan sulit terwujud – adalah Jokowi mendirikan partai politik sendiri, atau ikut “nebeng” ke partai sang putra, Kaesang Pangarep, yaitu di Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Masalahnya, PSI tak lolos parlemen pusat sehingga akan sulit menancapkan pengaruhnya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pada akhirnya, analisis-analisis ini masih menjadi kemungkinan-kemungkinan terkait dinamika politik di beberapa waktu mendatang. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="Kteik-oOVWQ"><iframe loading="lazy" title="PSI Gagal ke Senayan Lagi Karena Ketua Dewan Pembina?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/Kteik-oOVWQ?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/puan-x-prabowo-full.mp3" length="3086536" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/04/senyum-prabowo-dan-tepuk-tangan-jokowi-di-indo-defence-2022-1_169-1024x577.jpeg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dirangkul Prabowo, Akhir &#8220;Menyedihkan&#8221; Megawati?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/dirayu-prabowo-akhir-menyedihkan-megawati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[J61]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 30 Mar 2024 14:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Pacul]]></category>
		<category><![CDATA[Gibran Rakabuming Raka]]></category>
		<category><![CDATA[Jokowi]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekanoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Pilpres 2024]]></category>
		<category><![CDATA[Prabowo Subianto]]></category>
		<category><![CDATA[Puan Maharani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=144528</guid>

					<description><![CDATA[Presiden ke-8 RI terpilih Prabowo Subianto diyakini akan merangkul Megawati Soekarnoputri dan PDIP ke pemerintahannya kelak. Meskipun sejumlah elite PDIP masih resisten dengan hasil Pilpres 2024 dan tendensi keberpihakan Presiden Jokowi, beberapa elite PDIP dikabarkan terbuka dan sepakat andai Megawati membawa PDIP merapat ke koalisi Prabowo-Gibran. Namun, hal ini akan jadi perjudian besar bagi Megawati. Mengapa demikian?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph">Dengarkan artikel ini:</p>



<figure class="wp-block-audio"><audio controls src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/dirangkul-full-1.mp3"></audio></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Audio ini dibuat menggunakan AI.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><strong>Presiden ke-8 RI terpilih Prabowo Subianto diyakini akan merangkul Megawati Soekarnoputri dan PDIP ke pemerintahannya kelak. Meskipun sejumlah elite PDIP masih resisten dengan hasil Pilpres 2024 dan tendensi keberpihakan Presiden Jokowi, beberapa elite PDIP dikabarkan terbuka dan sepakat andai Megawati membawa PDIP merapat ke koalisi Prabowo-Gibran. Namun, hal ini akan jadi perjudian besar bagi Megawati. Mengapa demikian?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><strong><a href="http://pinterpolitik.com" rel="nofollow">PinterPolitik.com</a></strong></p>



<p class="has-drop-cap wp-block-paragraph">Proses hukum di Mahkamah Konstitusi (MK) yang dinilai sebatas &#8220;drama&#8221; karena dalam sejarahnya tak pernah ada gugatan sengketa pemilihan presiden (pilpres) yang dikabulkan, menjadi salah satu variabel pendorong skenario politik bergabungnya PDIP ke kubu Prabowo-Gibran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Belakangan, kabar bahwa Presiden ke-8 RI terpilih Prabowo Subianto akan menemui Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri sebagai pembuka rekonsiliasi menuju 2024-2029 berhembus kencang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Adalah elite PDIP, Bambang &#8220;Pacul&#8221; Wuryanto, yang pada Kamis (28/3) lalu secara tersirat mengafirmasi probabilitas tersebut. Kabar PDIP bergabung ke kubu Prabowo disebutnya akan bergantung pada keputusan Megawati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di kesempatan berbeda di waktu yang sama, Ketua DPP PDIP Puan Maharani yang juga putri Megawati, tak ingin berkomentar banyak dan hanya menjawab &#8220;Iya, enggak ya?&#8221; sambil melempar senyum ke awak media.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Pertemuan Prabowo dan Megawati pun direspons puan dengan normatif namun cenderung positif. &#8220;Insyaallah,&#8221; begitu kata Puan di Kompleks Parlemen kemarin lusa.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak berlebihan kiranya untuk mengkonversi sinyal-sinyal politik itu ke dalam angka, yakni peluang 50:50 PDIP bergabung, bahkan lebih, yang mana condong kepada rekonsiliasi. Persis seperti kode kalkulasi probabilitas yang dikatakan Surya Paloh pasca dikunjungi Prabowo dalam konteks arah Partai NasDem di 2024-2029.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, khusus bagi PDIP, apabila benar-benar bergabung dengan pemerintahan Prabowo-Gibran, idealisme dan nilai yang selama ini menjadi kekuatan Megawati akan tercoreng.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Meski mendapatkan sedikit keuntungan politik karena menjadi bagian dari kekuasaan, kerugian jangka panjang bukan tidak mungkin akan dirasakan PDIP. Mengapa demikian?</p>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Keputusan Penting &#8220;Terakhir&#8221; Megawati?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai fondasi interpretasi, memahami bahwa politik memiliki panggung depan (<em>front stage</em>) dan panggung belakang (<em>back stage</em>) kiranya krusial dalam memahami kemungkinan bergabungnya PDIP ke kubu Prabowo-Gibran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sejauh ini, panggung depan politik sikap PDIP yang jamak dicerna publik adalah yang datang dari gestur Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Dalam beberapa kesempatan, Hasto begitu gusar dengan hasil Pilpres 2024 yang ia nilai penuh kecurangan. Selain itu, Hasto pun beberapa kali menyoroti etika politik Presiden Jokowi dan trah-nya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Akan tetapi, sikap Hasto dan TPN Ganjar-Mahfud selama kampanye hingga proses hukum di MK agaknya memang cukup rasional untuk &#8220;ditunjukkan&#8221;.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Tak lain, tujuannya kemungkinan demi menjaga ekspektasi para pendukung dan konstituen mereka di Pemilu dan Pilpres 2024. Ini lah yang membuat panggung belakang mengenai keberpihakan PDIP ke depan tetap relevan untuk dipertanyakan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Walau begitu, sikap dan pernyataan PDIP melalui elite dengan jabatan se-tinggi apapun, tanpa sikap dan pernyataan langsung Megawati kiranya bukan merupakan kepastian yang hakiki.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lagi-lagi, sebagaimana respons elite PDIP, Bambang &#8220;Pacul&#8221;, menyikapi isu terakhir terkait kemungkinan PDIP merapat ke kubu Prabowo-Gibran, keputusan Megawati menjadi ihwal yang sangat mendasar dan menentukan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, Megawati pun bak &#8220;ratu demokrasi&#8221; yang sedang dinanti keputusannya. Meski Indonesia tak menganut sistem &#8220;oposisi&#8221;, banyak kalangan yang berharap PDIP akan menjadi penyeimbang pemerintah Prabowo-Gibran nantinya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Shahla Haeri dalam bukunya yang berjudul <em>The Unforgettable Queens of Islam</em> membahas mengenai Megawati dalam sebuah bagian khusus. Dia menyebut Megawati sebagai “Limbuk&#8221; dalam dunia pewayangan yang bertransformasi menjadi seorang &#8220;ratu”.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Salah satu ciri utama Limbuk adalah statusnya sebagai perempuan di lingkungan kekuasaan. Limbuk tak banyak bicara, yang dianggap Haeri mirip dengan status Megawati yang awalnya dianggap sebagai sosok pemalu dan tak pandai berbicara di hadapan publik.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, sosok Limbuk itu (Megawati) kemudian disebut berubah menjadi ratu. Dalam konteks melihat kelemahan-kelemahan dirinya, Megawati nyatanya mampu membangun lingkaran pendukung di sekitarnya yang berisi orang-orang yang loyal dan punya kemampuan yang menopang kekuasaannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, dengan status sebagai pemimpin koalisi &#8220;pecundang&#8221; di Pilpres namun tetap perkasa ajang Pemilu edisi 2024, membuat keputusan Megawati untuk bergabung atau tidak ke kubu dan pemerintahan Prabowo-Gibran bisa saja menjadi keputusan sangat penting terakhir sang ratu sebelum mewariskan PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu tentu berkaca pada faktor biologis bertambahnya usia, plus pengaruhnya terhadap manuver dan keputusan politik Megawati, serta proyeksi regenerasi PDIP yang tinggal menunggu waktu. Mengingat pada 2020 silam, Megawati sendiri-lah yang menggaungkan regenerasi total partainya di 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Lalu, mungkinkah Megawati memutuskan bergabung dengan kubu dan pemerintahan Prabowo-Gibran?</p>



<figure class="wp-block-image size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="1080" height="1097" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru.jpg" alt="prabowo adalah soekarno baru" class="wp-image-141858" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-295x300.jpg 295w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-1008x1024.jpg 1008w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-148x150.jpg 148w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-768x780.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-150x152.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-300x305.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-696x707.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/01/prabowo-adalah-soekarno-baru-1068x1085.jpg 1068w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></figure>



<h2 class="wp-block-heading"><strong>Mega-Prabowo Tetap Bersatu?</strong></h2>



<p class="wp-block-paragraph">Bagi kubu Prabowo-Gibran, merangkul PDIP kiranya menjadi salah satu prioritas. Secara rasional, pemerintahan Prabowo akan jauh lebih &#8220;mudah&#8221; untuk menjalankan berbagai program, kebijakan, atau &#8220;proyek&#8221; &#8211; saat disatir oleh netizen &#8211; andai PDIP dengan pemegang suara kursi terbesar DPR bisa bergabung.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara personal dan filosofis, Prabowo pun kiranya hampir pasti akan merangkul PDIP. Dalam buku berjudul <em>Kepemimpinan Militer</em>, Prabowo mengisahkan Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu sebagai dua shogun besar yang sudah siap untuk saling berperang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Sebagai sedikit <em>flashback</em> di kisah Hideyoshi dan Ieyasu, Era Sengoku (1467-1615) adalah saat di mana mereka berjaya, merupakan periodisasi sejarah Jepang ketika banyak pemimpin-pemimpin lokal (daimyō) saling berperang di antara satu sama lain di tengah kekosongan kekuasaan (<em>power vacuum</em>) akibat runtuhnya Keshogunan Ashikaga akibat Perang Ōnin pada tahun 1467-1477.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Beberapa klan daimyō besar yang saling berperang saat itu adalah Oda, Takeda, Uesugi, Date, Tokugawa, Mori, Azai, Asakura, Shimazu, dan lain-lain.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Jepang bagian tengah yang pada akhir dekade 1500-an mulai didominasi oleh Oda akhirnya digantikan oleh Toyotomi Hideyoshi yang pada akhirnya harus berhadapan dengan Tokugawa Ieyasu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di ambang perang besar di antara keduanya, Toyotomi dan Ieyasu akhirnya berdialog terlebih dahulu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Toyotomi mengatakan kepada Ieyasu bahwa kedua belah pihak memang sama-sama siap, tetapi korban jiwa pasti akan banyak berjatuhan ketika salah satu dari mereka telah memenangkan perang.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Berpikir dua kali, Toyotomi dan Tokugawa akhirnya bersepakat untuk tidak bertempur di medan perang kala itu dan memutuskan untuk berdamai.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kisah itu pun membuat Prabowo pernah mencuitkan satu postulat menarik yang berbunyi “Seorang pendekar mampu mengalahkan perasaan pribadinya demi merawat persatuan kesatuan bangsa dan rakyatnya.”</p>



<p class="wp-block-paragraph">Aaron Connelly dari International Institute for Strategic Studies menyebut bahwa kisah yang dijabarkan oleh Prabowo jelas merupakan sebuah alegori terhadap prinsip politiknya. Terutama mengenai rekonsiliasi yang sempat dipraktikkannya saat bergabung dengan pemerintahan Jokowi periode 2019-2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di sudut berbeda dan saat ditelaah secara konstruksi sosiopolitik, keputusan Megawati untuk bergabung dengan kubu Prabowo-Gibran andai benar-benar mendapat tawaran kiranya bukan mustahil untuk terjadi.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Bambang &#8220;Pacul&#8221; pun pernah memberi bocoran bahwa relasi Prabowo dan PDIP baik-baik saja, salah satunya saat menguak sang Ketum Partai Gerindra itu sempat menjenguk Bendahara Umum partai banteng, Olly Dondokambey kala dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Saat membuka catatan relasi Prabowo dan Megawati, keduanya pun tak pernah terlibat ketegangan atau konflik besar.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Namun, saat membedahnya secara komprehensif, narasi kemungkinan bergabungnya PDIP ke poros pemenang 2024-2029 itu mungkin saja menjadi pegangan utama faksi internal PDIP yang cenderung pragmatis dalam konteks kekuasaan. Termasuk esensi yang mungkin dibisikkan kepada Megawati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Hal itu dikarenakan, kemunculan kabar &#8220;<em>civil war</em>&#8221; di internal PDIP sempat menyeruak beberapa waktu terakhir.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain &#8220;potongan kue&#8221; yang didapat, skenario menjadi &#8220;oposisi&#8221; bersama PKS kiranya menjadi pertimbangan lain yang sukar dibayangkan bagi faksi pro bergabung Prabowo-Gibran di internal PDIP.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Di kubu faksi yang tampak dan cenderung idealis, mereka disebut-sebut masih tak terima dengan egoisme sekaligus pengkhianatan Jokowi dan keluarganya di Pilpres 2024.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Political awkwardness</em> atau kecanggungan politik agaknya dihindari oleh faksi ini, plus, adanya impresi pengakuan kekalahan dari Jokowi dan trahnya andai tiba-tiba pro Prabowo-Gibran.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Selain itu, jika bergabung dengan Prabowo-Gibran, PDIP untuk pertama kalinya keluar dari marwah dan konsistensi yang selama ini dipegangnya, yakni tak pernah bergabung ke kubu pemenang meski menanggung kekalahan di kontestasi elektoral.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Secara matematika politik, peluang <em>rebound</em> melalui peran progresif sebagai penyeimbang pemerintah pun bisa hilang jika bersikap pragmatis kekuasaan.</p>



<p class="wp-block-paragraph">&#8220;Jatah&#8221; atau konsesi politik bagi PDIP pun masih misteri karena harus berdesakan dengan parpol lain yang telah ada di koalisi Prabowo-Gibran. Itu, belum termasuk peluang bergabungnya entitas lain seperti Partai NasDem dan PKB.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Kini, dengan segala variabel seperti faktor biologis hingga peran para pembisik, keputusan Megawati akan sangat menarik untuk dinanti. (J61)</p>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="BeAa3I7Oluk"><iframe loading="lazy" title="Sejarah Kedai Kopi dan Politik: Kisah Minuman Politik Perlawanan Ottoman Atas Budaya Eropa" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/BeAa3I7Oluk?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share" referrerpolicy="strict-origin-when-cross-origin" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		<enclosure url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2024/03/dirangkul-full-1.mp3" length="3975074" type="audio/mpeg" />

			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2023/05/prabowo-megawati-1024x576.webp" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
