<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Megawati Institute &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/megawati-institute/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Jan 2020 12:29:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Megawati Institute &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Megawati di Pusaran Demokrasi Elitisme</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/megawati-di-pusaran-demokrasi-elitisme/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H57]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 20 Jan 2020 12:28:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Demokrasi Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Institute]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Soekarnoputri]]></category>
		<category><![CDATA[Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Joko Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Presiden Jokowi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=72310</guid>

					<description><![CDATA[Banyak yang menilai kebijakan-kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sebagian besar dipengaruhi oleh keputusan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri. Jika benar demikian, lantas apakah hal ini berarti demokrasi di Indonesia masih terkungkung dalam “demokorasi elitisme”? PinterPolitik.com Percaya atau tidak, hubungan Jokowi dan PDIP diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang saling menggenapi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Banyak yang menilai kebijakan-kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sebagian besar dipengaruhi oleh keputusan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri. Jika benar demikian, lantas apakah hal ini berarti demokrasi di Indonesia masih terkungkung dalam “demokorasi elitisme”?</strong></p>
<hr />
<p><span style="color: #cebd2a"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p><span class="dropcap dropcap2">P</span>ercaya atau tidak, hubungan Jokowi dan PDIP diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang saling menggenapi satu sama lain. Tanpa PDIP, nasib Jokowi bisa jadi berlangsung berbeda. Sebaliknya, PDIP tanpa Jokowi juga belum tentu menjadi partai penguasa (<em>the ruling party</em>) seperti sekarang.</p>
<p>Kendati demikian, dalam realitasnya, hubungan antara PDIP dan Jokowi lebih menyerupai hubungan Mega dan Jokowi. Ini disebabkan posisi sentral Mega di tubuh partai berlogo banteng itu. Lantas, apa pentingnya &#8220;pembacaan&#8221; ini?</p>
<p>Sengaja membuat peta hubungan semacam itu agar lebih mudah memahami bagaimana peran penting Mega dalam konteks pengambilan keputusan Jokowi – yang dalam hal ini tidak hanya seorang “petugas partai”, tapi sekaligus juga kepala negara.</p>
<p>Seperti dalam analisis sosiologis-fungsionalis soal peran yang bergantung pada posisi seseorang dalam lingkungan (sosial) ia berada, di internal PDIP, boleh jadi Jokowi hanya seorang petugas partai biasa, yang bahkan tak punya jabatan struktural. Akan tetapi, dalam lingkup kenegaraan, Jokowi adalah seorang presiden republik Indonesia, yang berarti ia adalah seorang kepala negara dan kepala pemerintahan sekaligus.</p>
<p>Namun, seperti kebanyakan penilaian masyarakat, dalam konteks relasi Mega (ketum partai) dan Jokowi (Presiden), ada hal menarik yang mesti dicerna lebih dalam, teristimewa dalam konteks demokrasi di Indonesia.</p>
<p>Apa yang hendak dikatakan mengenai relasi tersebut, tak lain, soal peran sentral Mega yang selama ini diduga kuat memengaruhi hampir sebagian besar – kalau bukan semuanya –  aneka kebijakan strategis pada pemerintahan Jokowi.</p>
<p>Bertolak dari situasi itulah, Munafrizal Manan dalam <em>Mengikis Demokrasi Elitis </em>menyebut demokrasi Indonesia pasca tumbangnya rezim Soeharto belum beranjak dari demokrasi elitisme. Dalam konteks ini, keputusan pemerintah masih didominasi oleh kekuatan elite, dan bukan rakyat itu sendiri.</p>
<p>Timbul pertanyaan, bagaimana memaknai demokrasi elitisme di Indonesia pada era pemerintahan Jokowi?</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-72269" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega.jpg" alt="" width="1080" height="1222" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega-265x300.jpg 265w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega-768x869.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega-905x1024.jpg 905w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega-696x788.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega-1068x1208.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-dalam-Bayang-bayang-Mega-371x420.jpg 371w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<h4><strong>Memaknai Demokrasi Elitisme</strong></h4>
<p>William R. Nylen dalam <em>Participatory Democracy versus Elitist Democracy, Lessons from Brazil</em> menulis, dalam situasi di mana demokrasi dikendalikan oleh segelintir elite (<em>elitist democracy</em>), maka yang terjadi adalah pengekslusian mekanisme pengambilan keputusan dari yang seharusnya inklusif atau terbuka untuk lebih banyak orang.</p>
<p>Menurut Nylen, demokrasi elitisme merujuk pada situasi di mana orang-orang yang punya akses terhadap kekuasaan cenderung menyalahgunakan institusi demi memuluskan kepentingan kelompok mereka. Dengan begitu, kepentingan rakyat hanya tinggal slogan.</p>
<p>Jika ditarik pada konteks demokrasi Indonesia, maka apa yang diulas Nylen menemukan korelasi dalam praktik demokrasi yang tengah berjalan. Pasalnya, apa yang kini terjadi di Indonesia tak lebih menyerupai konsepsi demokrasi elitisme itu sendiri.</p>
<p>Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) dalam Catatan Awal Tahun Perludem berjudul <em>2019-2020: Demokrasi dalam Belenggu Pragmatisme Elite,</em> bahkan menyebut tahun 2019 merupakan tahun konsolidasi elite. Hal itu merujuk langsung pada dinamika politik dan demokrasi di tanah air yang nyaris didominasi oleh kekuatan elite.</p>
<p>Kuatnya dominasi elite berimplikasi pada tersisihnya peran publik dalam memengaruhi jalannya pengambilan kebijakan. Masyarakat hanya dijadikan tontonan di setiap pengambilan keputusan.</p>
<p>Bukti bahwa peran elite masih dominan di setiap perumusan kebijakan publik dapat dilihat dari minimnya pelibatan masyarakat dalam agenda pembahasan dan pengesahan revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maupun sejumlah produk legislasi lainnya.</p>
<p>Padahal, sejatinya dalam alam demokrasi, setiap keputusan yang berkaitan dengan kepentingan publik harus melibatkan masyarakat, minimal melalui diskursus publik – apa yang sering disebut demokrasi deliberatif. Hanya melalui diskursus publik, apa yang menjadi keputusan bersama (politis) memiliki legitimitas yang kuat.</p>
<p>Meniadakan partisipasi masyarakat dalam penetapan agenda publik tidak sekadar bermakna hilangnya ruh demokrasi, melainkan suatu pengkhianatan terhadap prinsip demokrasi itu sendiri yang menghendaki adanya keterlibatan warga di setiap proses pengambilan keputusan.</p>
<p>Pada era pemerintahan Jokowi, baik di periode pertama maupun kedua, bayang-bayang elite belum bisa dilepaskan seutuhnya. Sosok Mega yang berperan “senyap” di belakang Jokowi kerap dikaitkan sebagai penyebab kuatnya intervensi elite pada kepemimpinan Jokowi.</p>
<p>Menimbang kuatnya “aura” Mega di balik pemerintahan Jokowi, sampai-sampai Kornelius Purba dalam <em>How History will Eventually Write Megawati</em>, <strong><a href="https://www.pinterpolitik.com/mahfud-isyaratkan-kekuatan-politik-pdip/">menyebut</a></strong> Jokowi boleh jadi seorang presiden yang sah (<em>de jure</em>), namun tak bisa menolak kenyataan (<em>de facto</em>), bahwa Megawati-lah yang sebenarnya menjadi <strong><a href="https://www.thejakartapost.com/academia/2019/08/16/how-history-will-eventually-write-megawati.html">pemimpin</a></strong>.</p>
<p>Artinya, secara legal-formal, publik boleh jadi mengenal Jokowi sebagai seorang presiden sepanjang dua periode, namun dalam praktiknya pemegang kuasa ada pada tangan Mega. Lugasnya, Jokowi hanyalah perpanjangan tangan dari Mega.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-72015" src="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi.jpg" alt="" width="1080" height="1350" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Kritik-Rocky-Untuk-Jokowi-336x420.jpg 336w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<h4><strong>Mega di Balik Jokowi</strong></h4>
<p>Barangkali publik masih ingat pernyataan Mega terkait status Jokowi sebagai petugas partai yang sempat heboh. Betul, entah apa yang melintas di benak istri almarhum Taufieq Kiemas itu sehingga tiba-tiba mengeluarkan statemen yang membuat masyarakat terbelalak.</p>
<p>Publik tentu menimbang-nimbang, apakah konteks pernyataan tersebut harus dimaknai sebagai bentuk <strong><a href="https://www.cnnindonesia.com/nasional/20150721180244-32-67479/mega-tegaskan-status-presiden-jokowi-tetap-petugas-partai">penegasan</a></strong> dirinya selaku ketua partai, yang berarti perintahnya harus diindahkan oleh segenap anggota partai, termasuk presiden, dalam hal ini Jokowi.</p>
<p>Jika diberi tafsir yang lebih dalam, ungkapan Mega tak lain ingin mempertegas posisinya sebagai figur sentral di PDIP yang harus didengarkan oleh para kadernya, baik mereka yang berada di legislatif maupun di eksekutif.</p>
<p>Menimbang masih dominannya pengaruh Mega, menjadi masuk akal bahwa Jokowi yang tak punya basis politik, harus mengikuti keinginan Mega.</p>
<p>Terkait ketundukan Jokowi terhadap Mega sempat disorot Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, yang mengatakan kesulitan Jokowi <strong><a href="https://nasional.tempo.co/read/635857/dua-indikasi-presiden-jokowi-dipengaruhi-megawati/full&amp;view=ok">menghindar</a></strong> dari pengaruh Mega lantaran tak memiliki kekuatan politik.</p>
<p>Menurut Haris, sebagai presiden, Jokowi memang tengah menghadapi situasi sulit. Di satu sisi ia ingin lepas dari intervensi pimpinan partai yang mengusungnya, namun pada sisi lain ia tak bisa memungkiri kalau dirinya memang tak punya basis politik yang kuat.</p>
<p>Senada, Direktur Eksekutif Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik, Dedi Kurnia Syah Putra menilai ada dua hal yang <strong><a href="https://tirto.id/bayang-bayang-megawati-di-pemerintahan-jokowi-usai-kongres-pdip-egb9">membuat</a></strong> Jokowi tidak bisa menghindar dari intervensi Mega. <em>Pertama</em>, Mega adalah ketua parpol tempat Jokowi bernaung. <em>Kedua</em>, Jokowi berhutang budi terhadap PDIP yang sejauh ini berkontribusi besar mengantarkannya hingga menjadi orang nomor satu di Indonesia.</p>
<p>Lalu, sejauh mana ditemukan bukti adanya pengaruh Mega dalam keputusan yang diambil Jokowi selama kepemimpinannya?</p>
<p>Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia pernah merilis sebuah survei yang menyebutkan bahwa dari 1.183 responden, sebanyak 82,5 persen di antaranya menganggap bahwa Mega <strong><a href="https://nasional.kompas.com/read/2015/10/25/21165421/CSIS.Megawati.Dianggap.Dominan.Pengaruhi.Jalannya.Pemerintahan">memengaruhi</a> </strong>pemerintahan. Mega bahkan dianggap masih dominan dalam memengaruhi jalannya pemerintahan.</p>
<p>Salah satu fakta terkait intervensi Mega terhadap Jokowi dapat dilihat saat usul penyusunan menteri di kabinet jilid II Jokowi-Ma’ruf Amin. Ketika itu Mega sempat meminta Jokowi agar jumlah menteri dari kader PDIP diperbanyak. Menariknya, Jokowi mengatakan siap menyanggupinya. Dan benarlah, jumlah menteri dari unsur partai terbanyak diisi oleh kader PDIP, yakni sebanyak <strong><a href="https://katadata.co.id/berita/2019/10/23/jokowi-beri-jatah-parpol-17-menteri-pdip-terbanyak">5 menteri</a></strong>.</p>
<p>Fakta lain yang tak kalah menarik terjadi saat pengangkatan sosok kontroversial, Budi Gunawan sebagai calon Kapolri 2015 silam yang justru diduga tersandung kasus rekening gendut. Budi kemudian ditetapkan tersangka oleh KPK, meski akhirnya dinyatakan tak bersalah oleh hakim Pengadilan Jakarta Selatan.</p>
<p>Seperti diketahui, Mega merupakan sosok utama yang berperan besar di balik pencalonan Budi sebagai Kapolri. Hubungan Mega dan Budi memang setipis helai rambut. Budi diketahui pernah menjadi ajudan Mega saat putri Soekarno itu menjabat presiden pada 2000-2004. Dari sanalah kedekatan Mega dan Budi bermula hingga sekarang.</p>
<p>Derasnya penolakan publik membuat Budi gagal menjadi Kapolri. Sebagai pengganti, diangkatlah Badrodin Haiti. Budi sempat mencalonkan diri kembali usai Badrodin purna tugas, namun Jokowi lebih <strong><a href="https://nasional.kompas.com/read/2019/07/30/08325311/sosok-kontroversial-budi-gunawan-gagal-jadi-kapolri-hingga-juru-damai-jokowi?page=all">memilih</a> </strong>Tito Karnavian.</p>
<p>Kuatnya pengaruh Mega di belakang Jokowi menandakan iklim demokrasi di era pemerintahan Jokowi sarat demokrasi elitisme, yakni demokrasi yang dikendalikan oleh kekuatan elite tertentu. Dengan demikian perjalanan demokrasi Indonesia pasca runtuhnya rezim Soeharto belum menunjukkan adanya tanda-tanda menuju terwujudnya demokrasi konstitusional – demokrasi yang menempatkan rakyat sebagai subjek kedaulatan.</p>
<p>Hal ini persis seperti apa yang ditulis Indonesianis terkemuka asal Australia, Herbert Feith dalam bukunya <em>The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia,</em> bahwa sejarah implementasi demokrasi konstitusional di Indonesia hanya berlangsung dalam kurun waktu 1949 hingga 1957. Setelah itu, kondisi demokrasi Indonesia terus memburuk, bahkan sampai sekarang.</p>
<p>Melihat kenyataan ini penting untuk menyodorkan pertanyaan, sampai kapan republik ini akan terus terperangkap dalam demokrasi elitisme? (H57)</p>
<div class="youtube-embed" data-video_id="MhE8G70Be3w"><iframe title="Kenapa Parpol Harus Didanai Negara?" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/MhE8G70Be3w?start=85&#038;feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
<p>► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di <a href="http://bit.ly/PinterPolitik"><strong>bit.ly/PinterPolitik</strong></a></p>
<p>Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di <strong><a href="http://bit.ly/ruang-publik">bit.ly/ruang-publik</a></strong> untuk informasi lebih lanjut.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2020/01/Jokowi-Cium-Tangan-Megawati-1024x768.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Think Tank Para Mantan, Murnikah?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/in-depth/think-tank-para-mantan-murnikah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[H33]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Aug 2017 11:30:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Nalar Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Terkini]]></category>
		<category><![CDATA[Habibie Center]]></category>
		<category><![CDATA[Megawati Institute]]></category>
		<category><![CDATA[think tank]]></category>
		<category><![CDATA[Wahid Institute]]></category>
		<category><![CDATA[Yudhoyono Institute]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://pinterpolitik.com/?p=12818</guid>

					<description><![CDATA[Tak lagi menjabat, mantan-mantan presiden mendirikan lembaga-lembaga think tank sebagai langkah sumbangsih pasca tak berkuasa. Lembaga-lembaga kajian tersebut membawa isu-isu sosial tertentu sesuai dengan pemikiran tokoh yang menjadi tajuk lembaga. Tetapi murnikah niat pembentukan think tank tersebut? Ataukah hanya menjadi kendaraan politik belaka? PinterPolitik.com [dropcap size=big]P[/dropcap]ada tanggal 8 Agustus 2017, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h4>Tak lagi menjabat, mantan-mantan presiden mendirikan lembaga-lembaga think tank sebagai langkah sumbangsih pasca tak berkuasa. Lembaga-lembaga kajian tersebut membawa isu-isu sosial tertentu sesuai dengan pemikiran tokoh yang menjadi tajuk lembaga. Tetapi murnikah niat pembentukan think tank tersebut? Ataukah hanya menjadi kendaraan politik belaka?</h4>
<hr />
<p><span style="color: #cedb2a;"><strong>PinterPolitik.com</strong></span></p>
<p>[dropcap size=big]P[/dropcap]ada tanggal 8 Agustus 2017, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) resmi meluncurkan The Yudhoyono Institute di Djakarta Theatre, Jakarta Pusat. Berdirinya lembaga ini menambah daftar panjang mantan presiden yang mendirikan lembaga <i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;"> pasca tidak lagi berkuasa. Sebelumnya, presiden-presiden yang tidak lagi menjabat telah mendirikan lembaga </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;"> serupa di antaranya The Habibie Center, The Wahid Institute dan Megawati Institute.</span></p>
<figure id="attachment_12822" aria-describedby="caption-attachment-12822" style="width: 1280px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12822 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5.jpg" alt="" width="1280" height="742" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5.jpg 1280w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5-300x174.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5-768x445.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5-1024x594.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5-696x403.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5-1068x619.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/TYI5-725x420.jpg 725w" sizes="auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px" /><figcaption id="caption-attachment-12822" class="wp-caption-text">foto: theyudhoyonoinstitute.org</figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Praktik mendirikan lembaga kajian oleh bekas pimpinan eksekutif merupakan hal yang lazim. Hal ini dilakukan oleh pemimpin-pemimpin di berbagai belahan dunia. Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama memiliki The Obama Center. Hal yang serupa dilakukan oleh George W. Bush dengan Bush Foundation-nya. Pendahulu Bush yaitu Bill Clinton juga memiliki Clinton Foundation. Di negeri Ratu Elizabeth, mantan Perdana Menteri Tony Blair juga mendirikan Tony Blair Faith Foundation.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Umumnya lembaga-lembaga think tank ini didirikan dengan tujuan untuk menjadi sarana mantan orang berkuasa untuk memberikan sumbangsih buah pikir mereka di masa pasca berkuasa. Banyak dari lembaga ini juga menjadi lembaga kajian dan advokasi isu-isu tertentu seperti demokrasi dan toleransi. Selain itu, lembaga-lembaga ini juga kerap terlibat dalam pemberdayaan masyarakat seperti dengan memberikan beasiswa atau pelatihan kepemimpinan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Tetapi benarkah lembaga-lembaga tersebut benar-benar menjadi lembaga </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;"> secara murni? Adakah kaitan lembaga-lembaga tersebut dengan aktivitas politik para mantan tersebut?</span></p>
<figure id="attachment_12823" aria-describedby="caption-attachment-12823" style="width: 810px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12823 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111.png" alt="" width="810" height="600" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111.png 810w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111-300x222.png 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111-768x569.png 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111-80x60.png 80w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111-485x360.png 485w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111-696x516.png 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/gallery-111-567x420.png 567w" sizes="auto, (max-width: 810px) 100vw, 810px" /><figcaption id="caption-attachment-12823" class="wp-caption-text">foto: habibiecenter.or.id</figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah satu nama lembaga </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mengemuka adalah The Habibie Center. Lembaga ini memiliki visi untuk memajukan usaha modernisasi dan demokratisasi di Indonesia. The Habibie Center memiliki agenda khusus dalam demokratisasi dan hak asasi manusia, sumber daya manusia dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, media dan informasi, sumber daya kelautan, sosialisasi dan penyebaran teknologi, serta pembentukan jaringan dan kerjasama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Terdapat pula nama The Wahid Institute yang didirikan untuk mewujudkan prinsip dan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid. Lembaga ini memiliki tujuan untuk mendorong terciptanya demokrasi, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum muslim di Indonesia dan seluruh dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri juga tidak kalah dengan Megawati Institute-nya. Lembaga ini memiliki fokus pada pengembangan ideologi Pancasila. Lembaga ini juga memiliki titik tekan pada pemikiran-pemikiran pendiri bangsa terutama presiden pertama Soekarno. Meski memiliki afiliasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), lembaga ini tetap berusaha merangkul intelektual-intelektual lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Yang terbaru, </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang mengadopsi nama presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), The Yudhoyono Institute juga didirikan. Lembaga ini dipimpin langsung oleh putra pertama SBY yaitu AHY. Sebagai sebuah </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;">, lembaga ini bercita-cita menjadi pemimpin dalam pembahasan isu-isu baik nasional maupun regional, yang mencakup formulasi strategi dan implementasi sudut pandang dengan kepemimpinan sebagai fokus utama.<img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-12819 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33.jpg" alt="" width="1080" height="1350" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33-240x300.jpg 240w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33-768x960.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33-819x1024.jpg 819w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33-696x870.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33-1068x1335.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-1-H33-336x420.jpg 336w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></span></p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="aligncenter wp-image-12820 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33.jpg" alt="" width="1080" height="1080" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33.jpg 1080w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-135x135.jpg 135w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-150x150.jpg 150w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-300x300.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-768x768.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-1024x1024.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-696x696.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-1068x1068.jpg 1068w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/2017-08-16-INFOGRAFIS-think-tank-mantan-presiden-2-H33-420x420.jpg 420w" sizes="auto, (max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /></p>
<h4>Apakah Lembaga-lembaga Tersebut Benar-benar Berperan Sebagai <em>Think tank</em>?</h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan aktivitasnya, The Habibie Center cukup rajin dalam mendorong isu-isu demokratisasi dan modernisasi di Indonesia. </span><i><span style="font-weight: 400;">Think tank </span></i><span style="font-weight: 400;">yang saat ini dikomandoi oleh Rahimah Abdulrahim ini menerbitkan jurnal mengenai isu-isu HAM dan demokrasi. Lembaga ini juga getol membuat tulisan mengenai ASEAN melalui </span><i><span style="font-weight: 400;">ASEAN Brief</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang dikeluarkan oleh ASEAN Center lembaga tersebut. ASEAN Center lembaga ini juga kerap melakukan diskusi dengan mengundang narasumber dari berbagai belahan dunia. Di level kebijakan lembaga ini juga mencoba mengambil peran. Terakhir, The Habibie Center mendorong RUU Minyak Bumi dan Gas.</span></p>
<figure id="attachment_12821" aria-describedby="caption-attachment-12821" style="width: 1024px" class="wp-caption aligncenter"><img loading="lazy" decoding="async" class="wp-image-12821 size-full" src="https://pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/deklarasi-GKPB-2.jpg" alt="" width="1024" height="683" srcset="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/deklarasi-GKPB-2.jpg 1024w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/deklarasi-GKPB-2-300x200.jpg 300w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/deklarasi-GKPB-2-768x512.jpg 768w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/deklarasi-GKPB-2-696x464.jpg 696w, https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/deklarasi-GKPB-2-630x420.jpg 630w" sizes="auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /><figcaption id="caption-attachment-12821" class="wp-caption-text">foto: wahidinstitute.org</figcaption></figure>
<p><span style="font-weight: 400;">Serupa dengan The Habibie Center, Wahid Institute juga tergolong konsisten dalam memperjuangkan gagasan yang menjadi ruh lembaga tersebut. Dalam upayanya mewujudkan cita-cita Gus Dur, </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank </span></i><span style="font-weight: 400;">ini kerap melakukan berbagai diskusi mengenai isu-isu Islam dan keberagaman. Selain itu, lembaga ini juga tidak ragu untuk melakukan advokasi terhadap kelompok-kelompok minoritas yang termarjinalisasi. Lembaga ini juga merilis laporan mengenai Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) secara tahunan. Di tataran kebijakan, lembaga ini berupaya mendorong RUU Perlindungan Umat Beragama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di lain pihak, Megawati Institute juga terkenal cukup konsisten dengan nyawa dari lembaganya yaitu Pancasila dan pemikiran-pemikiran Soekarno. Dalam upayanya membumikan Pancasila dan pemikiran-pemikiran pendiri bangsa, lembaga ini kerap menyelenggarakan Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa. Program ini merupakan latihan kepemimpinan yang terbuka bagi anak muda dari berbagai kalangan. Di tahun 2017, Megawati Institute menerbitkan buku yang berisi kumpulan esai hasil karya peserta SPPB.</span></p>
<h4>Kaitan <em>Think Tank</em> dengan Aktivitas Politik Pendirinya</h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Di awal pendiriannya, The Habibie Center dituding akan menjadi kendaraan politik bagi BJ Habibie. Hal ini terkait dengan meredupnya pamor ICMI yang sempat dipimpinnya. Lembaga ini juga semula memperoleh pendanaan hanya dari kocek pribadi Habibie. Citra Habibie yang lekat dengan Golkar membuat lembaga ini dapat terlihat partisan. Akan tetapi, seiring dengan waktu The Habibie Center tidak menjadi sarana bagi presiden ketiga ini untuk merengkuh kembali kekuasaan. Melalui berbagai penelitian, diskusi dan aktivitas lainnya The Habibie Center mampu melepaskan label kendaraan politik dan menjadi lembaga think tank yang kredibel. Lembaga ini berhasil membuktikan bahwa aktivitasnya tidak terkait dengan ambisi politik pendirinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal serupa berlaku pada Wahid Institute. Saat didirikan, Gus Dur mengaku bahwa ia tidak terlibat dalam pembentukan lembaga ini. Ia menyebut bahwa Wahid Institute murni inisiatif putrinya, Yenny Wahid dengan maksud menyebarkan gagasan Islam yang moderat dan pluralisme. Seiring dengan waktu bayang-bayang ambisi politik Gus Dur memudar. Konsistensi lembaga ini dalam mendorong isu-isu toleransi dan keberagaman berhasil menjawab bahwa lembaga ini tidak ada kaitannya dengan aktivitas politik Gus Dur.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di lain pihak,  Megawati Institute tidak benar-benar murni dari aktivitas politik pendirinya. Lembaga ini memiliki peran merangkul pemikiran kaum cendekiawan, baik yang terafiliasi dengan PDI Perjuangan maupun kelompok cendekiawan independen. Susunan pengurusnya pun banyak diisi  kader dan fungsionaris PDI Perjuangan. Nama-nama seperti M. Prakosa, Arif Budimanta, Sony Keraf, hingga Hendrawan Supratikno menghiasi susunan kepengurusan lembaga ini. Selain itu, lembaga ini juga mengakui bahwa kajian-kajian yang dilakukan Megawati Institute banyak difokuskan untuk membantu PDI Perjuangan dalam merumuskan suatu kebijakan. Meski begitu, secara struktur Megawati Institute tidak terhubung secara langsung dengan PDI Perjuangan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sementara itu, The Yudhoyono Institute mengaku bahwa lembaga ini lembaga politik non-praktis. Meski begitu Partai Demokrat tidak menampik bahwa lembaga ini dibuat untuk mengembangkan dan menyiapkan AHY sebagai pemimpin di masa depan. Pilihan untuk menempatkan AHY sebagai pimpinan di The Yudhoyono Institute ketimbang di Partai Demokrat diakui sebagai kendaraan untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinannya. Jika kiprah AHY di lembaga ini cukup moncer di mata masyarakat, maka Partai Demokrat akan menerima anggapan masyarakat bahwa AHY adalah sosok pemimpin yang cukup kapabel.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Langkah para mantan dalam mendirikan lembaga think tank bukanlah hal yang teramat tabu. Beberapa telah membuktikan bahwa lembaga-lembaga tersebut tidak menjadi pemenuh syahwat politik semata. Buah pikir para pendirinya mampu memberikan sumbangsih sesuai dengan nyawa masing-masing lembaga. Kini tinggal </span><i><span style="font-weight: 400;">think tank</span></i><span style="font-weight: 400;"> teranyar, The Yudhoyono Institute yang perlu membuktikan. Apakah lembaga ini murni bekerja sebagai <em>think tank</em> ataukah untuk menjadi kendaraan politik pendirinya? (H33)</span></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2017/08/image-1024x739.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
