<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
>

<channel>
	<title>Masa Penjajahan Belanda &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<atom:link href="https://www.pinterpolitik.com/tag/masa-penjajahan-belanda/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<description>Suara Politik Milineal Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Dec 2022 11:53:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	

<image>
	<url>https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/06/favicon-pinpol-150x150.png</url>
	<title>Masa Penjajahan Belanda &#8211; PinterPolitik.com</title>
	<link>https://www.pinterpolitik.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Maaf Belanda Hanya Omong Kosong?</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/celoteh/maaf-belanda-hanya-omong-kosong/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[A43]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2022 12:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Celoteh]]></category>
		<category><![CDATA[Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Hindia Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Kolonial]]></category>
		<category><![CDATA[kolonialisme]]></category>
		<category><![CDATA[mark rutte]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Kolonial]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Penjajahan Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Penjajahan]]></category>
		<category><![CDATA[penjajahan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perbudakan]]></category>
		<category><![CDATA[Perdana Menteri Belanda]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=120901</guid>

					<description><![CDATA[PM Belanda Mark Rutte sampaikan permintaan maaf atas perbudakan di masa kolonial. Apakah maaf ini hanya berujung omong kosong?]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p class="wp-block-paragraph"><strong>Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte menyampaikan permohonan maaf atas peran Belanda dalam aktivitas perbudakan di masa kolonial. Mengapa permohonan maaf Belanda ini bisa jadi hanya berakhir omong kosong?</strong></p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<p class="wp-block-paragraph"><a href="https://www.pinterpolitik.com/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>PinterPolitik.com</strong></a></p>



<blockquote class="wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow">
<p class="wp-block-paragraph">“Oh, is it too late now to say sorry? Yeah, I know that I let you down. Is it too late to say I&#8217;m sorry now?” – Justin Bieber, “Sorry” (2015)</p>
</blockquote>



<p class="dropcapp2 wp-block-paragraph">Kata maaf adalah kata yang paling mudah digunakan ketika kita melakukan kesalahan. Saat seseorang selingkuh, misalnya, kata maaf seakan-akan menjadi obat ramuan yang bisa menghapuskan segala rasa sakit yang ada di dalam hati.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Ujung-ujungnya, si dia malah minta putus. “Maaf, perasaanku sudah berubah,” begitu katanya. Sederhana sekali, bukan? Padahal, perihnya hati sulit kita terima.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Gampangnya <em>sih</em>, si dia bisa langsung saja pergi tanpa harus membawa beban apapun. Terkadang, ini juga <em>sih</em> yang membuat kita akhirnya susah memaafkan dan merelakan kepergiannya.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, kata maaf yang ala kadarnya seperti ini <em>nggak</em> hanya terjadi ketika sebuah hubungan asmara berakhir, melainkan juga hubungan antarnegara – khususnya di antara negara eks-penjajah dan negara atau wilayah bekas jajahannya.&nbsp;</p>



<p class="wp-block-paragraph">Baru-baru ini, Perdana Menteri (PM) Belanda <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/mark-rutte/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Mark Rutte</strong></a>, mewakili pemerintah <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/belanda/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Belanda</strong></a>, menyampaikan permohonan maaf kepada negara bekas jajahan dan wilayah konstituennya – seperti Suriname, Aruba, Curaçao, hingga <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/indonesia/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>Indonesia</strong></a> – atas peran Belanda dalam aktivitas <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/perbudakan/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>perbudakan</strong></a> di <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/masa-kolonial/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>masa kolonial</strong></a> sebelum tahun 1863. </p>



<figure class="wp-block-image"><img decoding="async" src="https://lh5.googleusercontent.com/XsZHz8AFGgnscjLlB5HBq3C8jbrJ0c-Jgu5wcnYH341gv6BGesqHZJEGoDTqJqT_17G4kli-oYiSXoksGL69uRNi5dLKKKTiAf0s2jexJV1AH6Wbcqu-neOCCWbW27ihUsmTo0CSoEKc526tpKjvAyb7Q2_xfJexO04gwGupA9Fyf_Wpb7rhx16TmIAJekxS-Wtlz6fM9w" alt="Belanda Minta Maaf Perbudakan Tapi"/></figure>



<p class="wp-block-paragraph">Tapi <em>nih</em>, dalam permintaan maaf tersebut, Belanda tidak mengumumkan rencana reparasi kepada mereka yang terdampak – meskipun kabarnya pemerintah Belanda sudah menyiapkan sejumlah uang sebesar €200 juta (Rp3,1 triliun). Ya, ditunggu ya, Meneer Rutte. <em>Hehe</em>.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Soalnya <em>nih</em>, sejumlah pakar juga menilai kalau hanya kata maaf tidaklah cukup. Bahkan, uang sebesar €200 juta dinilai juga belum bisa menutupi <a href="https://www.pinterpolitik.com/tag/kolonialisme/" target="_blank" rel="noreferrer noopener"><strong>kolonialisme</strong></a> yang terjadi sekitar selama 400 tahun.</p>



<p class="wp-block-paragraph">Mengacu pada tulisan Borja Martinovic, Karen Freihorst, dan Magdalena Bobowik yang berjudul <em>To Apologize or to Compensate for Colonial Injustices?</em>, keluarga korban terdampak dari ketidakadilan kolonial bisa saja merasa tidak cukup hanya dengan permohonan maaf. Terkadang, reparasi – baik secara emosional maupun finansial – juga dibutuhkan.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Hmm</em>, kalau misalnya Meneer Rutte hanya meminta maaf, bukan <em>nggak</em> mungkin, Belanda ini jadi mirip dengan si dia yang hanya tinggal pergi dengan kata maaf saja. Padahal <em>nih</em>, ya, belum tentu, rasa sakit bisa hilang begitu saja dengan kata maaf.</p>



<p class="wp-block-paragraph"><em>Nah</em>, <em>tuh</em>, apakah cukup hanya dengan permohonan maaf dari pemerintah Belanda saja? Ataukah perlu reparasi lanjutan – misal dengan kompensasi kepada keluarga korban dan keturunannya? Tentunya, semua kembali kepada keinginan dan kerelaan korban terdampak. (A43)</p>



<hr class="wp-block-separator has-alpha-channel-opacity is-style-wide"/>



<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<div class="youtube-embed" data-video_id="SwYLR9xjX4I"><iframe title="Ini Yang Terjadi Jika Indonesia Tidak Pernah Dijajah" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/SwYLR9xjX4I?feature=oembed&#038;enablejsapi=1" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe></div>
</div></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2022/12/Maaf-Belanda-Hanya-Omong-Kosong.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Ini Yang Terjadi Jika Indonesia Dijajah Prancis</title>
		<link>https://www.pinterpolitik.com/pinpol-tv/ini-yang-terjadi-jika-indonesia-dijajah-prancis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Z70]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2021 03:00:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bebas Aktif]]></category>
		<category><![CDATA[PinPol TV]]></category>
		<category><![CDATA[Fracis]]></category>
		<category><![CDATA[Masa Penjajahan Belanda]]></category>
		<category><![CDATA[Napoleon Bonaparte]]></category>
		<category><![CDATA[On The Desk]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pinterpolitik.com/?p=89365</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure class="wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio"><div class="wp-block-embed__wrapper">
<iframe title="Ini Yang Terjadi Jika Indonesia Dijajah Prancis" width="696" height="392" src="https://www.youtube.com/embed/E5QgmPVtv9A?feature=oembed" frameborder="0" allow="accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture" allowfullscreen></iframe>
</div><figcaption>salah satu efek kebangkitan Prancis ini terasa juga di Indonesia. Lebih tepatnya kalau kita sebut sebagai Nusantara karena Indonesia tentu belum ada di tahun-tahun itu.<br><br>Kala itu, kita masih dijajah oleh Belanda dan faktanya negeri kincir angin itu sempat ditaklukkan oleh Prancis di bawah Napoleon Bonaparte.<br><br>Prancis memang mengukuhkan dominasinya atas Belanda. Dengan kata lain, antara tahun 1806 hingga 1811, Nusantara secara teknis bisa disebut dijajah oleh Prancis, kali ini kita akan bahas apa yang akan terjadi pada Nusantara atau Indonesia jika dijajah oleh Prancis dalam waktu yang lebih lama.<br><br>Hmm, seperti apa ya kira-kira? yuk simak videonya !</figcaption></figure>
]]></content:encoded>
					
		
		
			<media:content url="https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2021/09/maxresdefault-5-1024x576.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
